Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

Jumlah balasan: 31

Sikap dan Kepuasan Kerja



1.     Sikap
Sikap (attitude) adalah pernyataan-pernyataan evaluatif baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek,individu,ataupun peristiwa. Menurut G.W Alport dalam (Tri Rusmi Widayatun, 1999 :218) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak. Seiring dengan pendapat G.W. Alport di atas Tri Rusmi Widayatun memberikan pengertian sikap adalah ΓÇ£keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannyaΓÇ¥.
Sedangkan Jalaluddin Rakhmat ( 1992 : 39 ) mengemukakan lima pengertian sikap, yaitu:
A.   Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok.
B.    Sikap mempunyai daya penolong atau motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu; menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan diinginkan; mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari.
C.  Sikap lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami pembahan.
D. Sikap mengandung aspek evaluatif: artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan.
E.  Sikap timbul dari pengalaman: tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.
Menurt La Pierre (dalam Azwar, 2003) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Sedangkan menurut Soetarno (1994), sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.

2.      Apa saja komponen utama dari sikap?
┬╖         Kognitif (cognitive) merupakan aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia, berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. (segmen opini atau keyakinan dari sikap)
┬╖         Afektif (affective) merupakan aspek emosional dari faktor sosio psikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya, aspek ini menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu. (segmen emosional atau perasaan dari sikap)
┬╖         Konatif (conative) merupan komponen aspek vohsional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.
Ketiga komponen tersebut sangat berkaitan. Secara khusus, dalam banyak cara antara kesadaran dan perasaan tidak dapat dipisahkan. Sebagai contoh, seorang karyawan tidak mendapatkan promosi yang menurutnya pantas ia dapatkan, tetapi yang malah mendapat promosi tersebut adalah rekan kerjanya. Sikap karyawan tersebut terhadap pengawasnya dapat diilustrasikan sebagai berikut : opini, (karyawan tersebut berpikir ia pantas mendapat promosi itu), perasaan (karyawan tersebut tidak menyukai pengawasnya), dan perilaku (karyawan tersebut mencari pekerjaan lain). Jadi, opini / kesadaran menimbulkan perasaan yang kemudian menghasilkan perilaku ,dan pada kenyataannya komponen-komponen ini berkaitan dan sulit untuk dipisahkan.
Para peneliti telah berasumsi bahwa sikap mempunyai tiga komponen, yaitu kesadaran, perasaaan dan perilaku. Kesadaran merupakan sebuah keyakinan, keyakinan bahwa ΓÇ£diskriminasi itu salahΓÇ¥ merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam ini adalah komponen kognitif (cognitive component) dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap.
Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti ΓÇ£saya tidak menyukai pengawas karena ia mendiskriminasi orang-orang minoritasΓÇ¥. Perasaan bisa menimbulkan hasil akhir perilakuKomponen perilaku (behavioral component) adalah niat untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu. Jadi, untuk meneruskan contoh diatas ΓÇ£saya mungkin memilih untuk menghindari pengawas dikarenakan perasaan saya tentang iaΓÇ¥.
Perlu diingat bahwa komponen-komponen ini sangat berkaitan. Secara khusus, dalam banyak cara kesadaran dan perasaan tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan karena kesadaran akan menimbulkan perasaan yang kemudian akan menghasilkan perilaku. Gambar dibawah ini menunjukkan hubungan dari tiga komponen sikap. Dalam contoh ini, seorang karyawan tidak mendapatkan promosi yang menurutnya pantas ia dapatkan, tetapi malah didapat oleh seorang rekan kerjanya. Sikap karyawan tersebut terhadap pengawasnya diilustrasikan sebagai berikut : kesadaran (karyawan tersebut berpikir ia pantas mendapatkan promosi tersebut), perasaan (karyawan tersebut sangat tidak menyukai pengawasnya), dan perilaku (karyawan tersebut mencari pekerjaan lain).

3.    Seberapa Konsistenkah Sikap Itu ?
          Pada umumnya, penelitian menyimpulkan bahwa individu mencari konsistensi diantara sikap mereka serta antara sikap dan perilaku mereka. Ini berarti bahwa individu berusaha untuk menetapkan sikap yang berbeda serta meluruskan sikap dan perilaku mereka sehingga mereka terlihat rasional dan konsisten. Ketika terdapat ketidakkonsistenan, timbullah dorongan untuk mengembalikan individu tersebut ke keadaan seimbang dimana sikap dan perilaku kembali konsisten. Ini bisa dilakukan dengan cara mengubah sikap maupun perilaku, atau dengan mengembangkan rasionalisasi untuk ketidaksesuaian. Pada akhir tahun 1950an, Leon Festinger mengemukakan teori ketidaksesuai   kognitif (cognitive dissoanance). Teori ini berusaha menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku. Ketidaksesuaian berarti ketidakkonsistenan. Ketidaksesuaian kognitif merujuk pada ketidaksesuaian yang dirasakan oleh seorang individu antar dua sikap atau lebih, atau antara perilaku dan sikap. Festinger berpendapat bahwa bentuk ketidakkonsistenan apa pun tidaklah menyenangkan dan bahwa individu akan berusaha mengurangi ketidaksesuaian dan, tentunya, ketidaknyamanan tersebut. Oleh karena itu, individu akan mencari keadaan yang stabil, dimana hanya ada sedikit ketidaksesuaian. Tentu saja, tidak ada individu yang bisa sepenuhnya menghindari ketidaksesuaian. Fistinger menduga bahwa keinginan untuk mengurangi ketidaksesuaian akan ditentukan oleh pentingnya elemen-elemen yang menciptakan ketidaksesuaian, tingkat pengaruh yang dimiliki oleh seorang individu terhadap elemen-elemen tersebut, dan penghargan yang mungkin terlibat dalam ketidaksesuaian. Apabila elemen-elemen yang menghasilkan ketiksesuaian relatif tidak penting, tekanan untuk memperbaiki ketidaksesuaian akan rendah. Tingkat pengaruh yang diyakini  seseorang terhadap elemen-elemen tersebut akan berpengaruh terhadap bagaimana mereka bereaksi atas ketidaksesuaian tersebut. Apabila merasa ketidaksesuaian tersebut disebabkan oleh suatu hal atas mana mereka tidak memiliki pilihan lain, kemungkinan besar mereka kurang menerima perubahan sikap. Sebagai contoh, apabila perilaku yang menghasilkan ketidaksesuaian dianggap sebagai hasil dari instruksi atasan, tekanan untuk mengurangi ketidaksesuaian akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan jika perilaku tersebut ditampilkan secara sukarela. Meskipun ada ketidaksesuaian, hal ini masuk akal dan dapat dijelaskan. Penghargaan juga memengaruhi tingkat sampai mana individu termotivasi untuk mengurangi ketidaksesuaian. Penghargaan tinggi yang menyertai ketidaksesuaian yang tinggi cenderung mengurangi ketegangan yang melekat pada ketidaksesuaian. Penghargaan berfungsi mengurangi ketidaksesuaian dengan cara meningkatkan sisi konsistensi dari neraca individu. Faktor-faktor ini menyatakan bahwa hanya karena individu mengalami ketidaksesuaian, mereka tidak harus bergerak langsung untuk menguranginya. Apabila persoalan yang mendasari ketidaksesuaian tersebut dibebankan secara eksternal dan pada dasarnya tidak bisa dikendalikan oleh mereka, atau apabila penghargaan-penghargaan tersebut cukup signifikan untuk mengimbangi ketidaksesuaian, individu tersebut tidak akan mengalami ketegangan hebat untuk mengurangi ketidaksesuaian. Implikasi organisasional dari teori ketidaksesuaian kognitif bisa membantu memprediksi kecenderungan untuk terlibat dalam perubahan sikap dan perilaku. Sebagai contoh, apabila tuntutan pekerjaan mengharuskan individu untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang berlawanan dengan sikap pribadi, mereka cenderung mengubah sikap mereka untuk membuatnya selaras dengan kesadaran akan apa yang telah mereka katakan atau lakukan. Selain itu, semakin besar ketidaksesuaian setelah ditinjau dari faktor kepentingan, pilihan, dan penghargaan semakin besar tekanan untuk menguranginya.
              4.    Apakah Perilaku Selalu Mengikuti Sikap ?
Penelitian yang sebelumnya telah menegaskan bahwa sikap mempengaruhi perilaku dan menganggap bahwa sikap mempunyai hubungan sebab akibat dengan perilaku, yaitu sikap yang dimiliki individu menentukan apa yang mereka lakukan. Akal sehat juga menyatakan sebuah hubungan. Namun, pada akhir ahun 1960an, hubungan yang diterima tentang sikap dan perilaku ditentang oleh sebuah tinjauan dari penelitian. Berdasarkan evaluasi sejumlah penelitian yang menyelidiki hubungan sikap-perilaku, peninjau menyimpulkan bahwa sikap tidak berhubungan dengan perilaku atau, paling banyak, hanya berhubungan sedikit. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa sikap memprediksi perilaku masa depan secara signifikan dan memperkuat keyakinan semula dari Festinger bahwa hubungan tersebut bisa ditingkatkan dengan memperhitungkan variabel-variabel pengait. Variabel pengait hubungan sikap-perilaku yang paling kuat adalah pentingnya sikap, kekhususannya, aksesibilitasnya, apakah ada tekanan-tekanan sosial, dan apakah seseorang mempunyai pengalaman langsung dengan sikap tersebut. Sikap yang penting adalah sikap yang mencerminkan nilai-nilai fundamental, minat diri, atau identifikasi dengan individu atau kelompok yang dihargai oleh seseorang. Sikap-sikap yang dianggap penting oleh individu cenderung menunjukkan hubungn yang kuat dengan perilaku. Semakin khusus sikap tersebut dan semakin khusus perilaku tersebut, semakin kuat hubungan antar keduanya.
Sikap yang mudah diingat cenderung lebih bisa digunakan untuk memprediksi perilaku bila dibandingkan sikap yang tidak bisa diakses dalam ingatan. Menariknya, Anda cenderung lebih mengingat sikap yang sering diungkapkan. Jadi, semakin sering Anda berbicara tentang sikap Anda mengenai suatu persoalan, semakin besar kemungkinan Anda untuk mengingatnya, dan semakin besar kemungkinan sikap ini membentuk perilaku Anda. Ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku kemungkian besar muncul ketika tekanan sosial untuk berperilaku dalam cara-cara tertentu memiliki kekuatan yang luar biasa. Akhirnya, hubungan sikap-perilaku mungkin sekali menjadi jauh lebih kuat apabila sebuah sikap merujuk pada sesuatu dengan mana individu tersebut mempunyai pengalaman pribadi secara langsung.
Teori persepsi (self-perception theory), telah menghasilkan beberapa penemuan dan membuktikan bahwa sikap digunakan, setelah melakukan sesuatu, untuk memahami suatu tindakan yang telah terjadi daripada sebagai alat yang mendahului dan memandu tindakan. Berlawanan dengan teori ketidaksesuaian kognitif, sikah hanyalah pernyataan verbal yang sederhana. Ketika individu ditanyai tentang sikap mereka dan mereka tidak mempunyai pendirian atau perasaan yang kuat, teori persepsi diri mengatakan bahwa mereka cenderung membuat jawaban yang masuk akal.
Sementara hubungan sikap-perilaku yang tradisional pada umumnya positif, hubungan perilaku-sikap sama kuatnya. Ini sangat benar ketika sikap yang ada tidak jelas dan ambigu. Ketika Anda mempunyai sedikit pengalaman terkait persoalan sikap atau memberikan sedikit pemikiran sebelumnya tentang hal tersebut, kemungkinan besar Anda akan menyimpulkan sikap Anda dari perilaku Anda. Namun, ketika sikap Anda telah terbentuk untuk sementara waktu dan didefinisikan dengan baik, sikap tersebut kemungkinan besar akan menuntun perilaku Anda.


Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Betty Magdalena -
KEPUASAN KERJA
Menurut (Newstrom) mengemukakan bahwa ΓÇ£job satisfaction is the favorableness or unfavorableness with employes view their workΓÇ¥. Kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami [pegawai] dalam bekerja. Menurut Wexley dan Yukl mengartikan kepuasan kerja sebagai ΓÇ£the way an employee feels about his or her jobΓÇ¥. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karier, hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan.
Menurut Taufik Noor Hidayat, kepuasaan kerja Keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini dampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.
Sedangkan menurut Stephen Robins, kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan pegawai; merupakan sikap umum yang dimiliki oleh Pegawai yang erat kaitannya dengan imbalan-imbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. Apabila dilihat dari pendapat Robin tersebut terkandung dua dimensi, pertama, kepuasan yang dirasakan individu yang titik beratnya individu anggota masyarakat, dimensi lain adalah kepuasan yang merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai.

9. Mengukur Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja yang merupakan sebagai suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang hasil dari sebuah evaluasi karateristiknya. Dimana setiap pekerjaan menuntut interaksi dalam rekan kerja dan atasan-atasan, mengikuti peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasional, memenuhi standar-standar kriteria, menerima kondisi-kondisi kerja yang kurang ideal dan lain-lain. Ini berarti bahwa penilaian seorang karyawan tentang seberapa puas atau tidak puas dengan pekerjaan.
Dua pendekatan yang paling digunakan adalah penilaian tunggal secara umum dan nilai penyajian akhir yang terdiri atas sejumlah aspek pekerjaan.
1.Pendekatan penilaian tunggal adalah meminta individu untuk merespon pertanyaan seperti mempertimbangkan seberapa puas dalam pekerjaan. Contoh metode penilaian tunggal adalah memberi kebebasan kepada manajer untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi pada perusahaan.
2. Pendekatan penyajian akhir aspek pekerjaan adalah elemen-elemen penting dalam suatu pekerjaan dan menanyakan perasan karyawan tentang setiap elemen. Faktor-faktor terdiri dari sifat pekerjaan, pengawasan, bayaran saat ini, peluang promosi, dan hubungan dengan rekan-rekan kerja. Faktor ini berdasarkan skala standar dan dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kepuasaan kerja secara keseluruhan. Contoh pendekatan penyajian akhir adalah memberikan solusi kepada manajer dalam menangani karyawan yang tidak bahagia dalam menyelesaikan masalah.

10. faktor yang mempengaruhi kepuasaan kerja
Menurut Burt (Anoraga, 1992) faktor yang menentukan terbentuknya kepuasan kerja adalah :
1. Lingkungan, terdiri dari tingkat pekerjaan, isi pekerjaan, pimpinan yang penuh perhatian, kesempatan promosi dan interaksi sosial dan bekerja dalam kelompok.
2. Faktor individual, terdiri dari jenis kelamin, lamanya bekerja dan tingkat pendidikan.
3. Rasa aman merupakan situasi tentram dalam kerja, rasa bebas dari tekanan kebijaksanaan, jaminan dan kelangsungan pekerjaan yang dirasakan pekerja.
4. Kondisi kerja merupakan kenyamanan ruang kerja yang dirasakan dapat mempengaruhi aktivitas kerja, luas sempitnya ruangan, prgantian udara, terbuka dan tertutupnya ruangan dan suasana ketenangan kerja.
5. Waktu istirahat, maksudnya adalah istirahat yang resmi diberikan perusahaan, yang tidak resmi yang dibutuhkan oleh pekerja.
AsΓÇÖad, (1992) mengemukakan faktor-faktor kepuasan kerja :
o Faktor pemimpin dan karyawan, faktor fisik dan kondisi kerja, hubungan sosial di antara karyawan, sugesti dari teman sekerja, emosi dan situasi kerja.
o Faktor individu, yaitu yang berhubungan dengan sikap orang terhadap pekerjaannya.
o Faktor luar, yaitu dukungan yang berasal dari luar diri individu misalnya keluarga.
Kepuasan kerja berhubungan erat dengan aspek seperti umur, tingkat pekerjaan dan ukuran organisasi perusahaan (Jewell dan Siegall, 1998).

a. Umur, ada kecenderungan karyawan yang lebih tua lebih merasa puas dari karyawan yang berumur relatif lebih muda. Hal ini diasumsikan bahwa karyawan yang lebih tua telah berpengalaman sehingga ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan, sedangkan karyawan usia muda biasanya mempunyai harapan yang ideal tentang dunia kerjanya, sehingga apabila harapannya dengan realita kerja terdapat kesenjangan, atau ketidakseimbangan dapat meyebabkan mereka menjadi tidak puas.
b. Tingkat pekerjaan, karyawan yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih tinggi cenderung lebih puas daripada karyawan yang tingkat pekerjaannya lebih rendah. Hal tersebut dapat terlihat pada karyawan yang tingkat pekerjaannya lebih tinggi menunjukkan kemampuan kerja yang baik dan aktif mengemukakan ide-ide serta kreatif dalam bekerja.
c. Ukuran organisasi perusahaan, ukuran organisasi perusahaan dapat mempengaruhi kepuasan karyawan. Hal ini karena besar kecil suatu perusahaan berhubungan pula dengan koordinasi, komunikasi dan partisipasi karyawan.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kepuasan kerja antara lain yaitu : pemimpin dan karyawan, jenis kelamin, lamanya bekerja dan tingkat pendidikan, lingkungan, rasa aman, kondisi kerja, umur, tingkat pekerjaan, lingkungan, waktu istirahat, dukungan yang berasal dari luar diri dan ukuran organisasi perusahaan.

11. Aspek Kepuasaan Kerja
Lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu:
Pekerjaan itu sendiri (Work It self),Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
Atasan(Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
Promosi(Promotion),Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selama bekerja.
Gaji/Upah(Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.
Aspek-aspek lain yang terdapat dalam kepuasan kerja :
Kerja yang secara mental menantang,Kebanyakan Karyawan menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan. Karakteristik ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi terlalu banyak menantang menciptakan frustasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan.
Ganjaran yang pantas, Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil,dan segaris dengan pengharapan mereka. Pemberian upah yang baik didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka.
Kondisi kerja yang mendukung,Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur (suhu), cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain seharusnya tidak esktrem (terlalu banyak atau sedikit).
Rekan kerja yang mendukung, Orang-orang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan sosial. Oleh karena itu bila mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenagkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang meningkat. Tetapi Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan.
Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan, Pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dan sebangun) dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan karena sukses ini, mempunyai kebolehjadian yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja mereka.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Mailan Azima -
Miss izin bertanya, dampak yang ditimbulkan dari ketidakpuasan dan kepuasan karyawan dalam bekerja pada suatu perusahaan itu bagaimana? dan pasti setiap karyawan memiliki keluhan yg mungkin sangat segan untuk disampaikan kepada pimpinannya, lalu bagaimana cara karyawan memberi tahu ketidakpuasan mereka kepada pimpinan nya tsb?
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Handini . -
ijin menjawab
dampak dariKetidak puasan kerja akan menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan tidak akan dapat tercapai tanpa adanya kepuasan kerja karyawan. Selain itu karyawan yang tidak mencapai tingkat kepuasan kerja tidak akan mencapai kematangan psikolois dalam dirinya. Mereka cenderung bermalas- malasan dalam bekerja. Kalau karyawan sudah bersikap demikian maka sulit bagi suatu perusahaan untuk mancapai tujuannya
Cara menunjukan ketidak puasan kerja:
1. Menyuarakan, karyawan akan konsultasi terlebih dahulu atas masalah yang dihadapi kemudian memberi saran.
2. Mengabaikan, karyawan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk dengan cara sering absen atau sering membuat kesalahan.
3. Kesetiaan, tipe ini cenderung untuk setia kepada perusahaan dan menunggu hingga keadaan membaik.
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Putri Syania AH -
Menurut saya dampak yang ditimbulkan dari ketidakpuasan karyawan dalam bekerja pada suatu perusahaan itu:
1. Keluar/ resign, karyawan memilih untuk bekerja ditempat lain. Jika traffic keluar-masuk karyawan terlalu banyak, akan berdampak pada performa kerja perusahaan. Karena karyawan belum bisa langsung bekerja secara normal, ada masa adaptasi dan probation.
2. Menyuarakan, karyawan akan konsultasi terlebih dahulu atas masalah yang dihadapi kemudian memberi saran.
3. Mengabaikan, karyawan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk dengan cara sering absen atau sering membuat kesalahan.
4. Kesetiaan, tipe ini cenderung untuk setia kepada perusahaan dan menunggu hingga keadaan membaik.
Dan cara karyawan memberi tahu ketidakpuasan mereka kepada pimpinan dengan cara setiap tahun pasti ada namanya penilaian evaluasi sehigga disana kita dapat memberi nilai dari ketidakpuasan tersebut.
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Deny Rhelipa Tanjung -
Ijin menjawab ya 🙏
Menurut saya dampak dari kepuasan yaitu semangat kerja tinggi ( turnover tinggi, tingkat absensi rendah, produktivitas tinggi )
Dampak dari ketidakpuasan yaitu semangat kerja rendah ( turnover rendah, tingkat absensi tinggi, produktivitas rendah }
Cara menyampaikan ketidakpuasan : saat perusahaan melakukan pengukuran kepuasan kerja baik dengan rating scale, interviews, critical incident. Disitu karyawan dapat menyapaikan ketidakpuasan kerja pada pimpinan perusahaan nya.
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Mailan Azima -
Lalu miss izin bertanya lagi, dari berbagai cara metode penilaian kepuasan apakah itu dipakai semuanya ? Atau dilakukan secara berkala ?
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Riski Afrianti -
izin menjawab
untuk memilih cara pengukuran kepuasan kerja tergantung dari kebutuhan perusahaan yang dianggap paling dibutuhkan, untuk mengenai yang paling efektif bisa dilakukan dengan melakukan interview karena langsung merujuk ke personal karyawan akan tetapi didampingi juga dengan rating svale untuk setiap pekerja, dan untuk proses penilaian dilakukan secara berkala dikarenakan tingkat kepuasan kerja tidak selalu sama tiap tahunnya sehingga perlu adanya penilaian secara berkala.
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Lysandra Leta Dila -
izin menjawab yaa, 

Menurut saya untuk memilih cara pengukuran kepuasan kerja tergantung dari kebutuhan perusahaan yang dianggap paling dibutuhkan, tentu yang paling efektif saja karena tingkat keepuasan kerja setiap orang itu berbeda-beda, ada karyawan yang sudah merasa puas jika hanya memiliki atasan yang peduli, memperhatikan serta mengarahkannya. Tetapi ada juga yang hanya merasa puas apabila diberi gaji yang besar atau setidaknya layak. Tetapi untuk mengukur kesamaan kepuasan pada karyawan, manajer membutuhkan indikator-indikator yang dapat mengukur kepuasan kerja para karyawan nya. 
Seperti contoh nya yaitu menggunakan Single Global Rating atau Summation Score yang mengidentifikasi factor lain seperti gaji, atasan, dan peluang promosi yang di berikan. Melalui alat ukur kepuasan itulah nanti nya dapat disimpulkan, apakah karyawan memiliki kepuasan dalam pekerjaan nya jadi perlu adanya penilaian secara berkala, yaa.
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Febri Yani -
Izin bertanya miss,Dalam dasar perilaku individu terdapat beberapa hal / variable yang mempengaruhi tingkat produktifitas maupun kepuasan karyawan,bagaimanakah hubungan Usia, Jenis Kelamin, Status dan Masa Kerja Karyawan terhadap kedua hal tersebut, ya miss?
Sebagai balasan Febri Yani

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh rohmatun nazila -
izin menjawab - USIA : kemungkianan besar hubungan antara usia dan kenerja merupakan isi yang makin penting selama dasa warsa yang akan datang.
-JENIS KELAMIN : beberapa isu yang sering diperdebatkan, kesalah pahaman, dan pendapat-pendapat anpa dukungan mengenai apakah kinerja wanita sama dengan kinerja pria ketika bekerja. untuk memulai analisa ini sebaiknya kita awali dengan dengan mengakui bahwa terdapat beberapa , jika ada perbedaan2 pening antara pria dan wanita yang mempengaruhi kinerja mereka
- STATUS : riset yang konsisten menunjukkan bahwa karyawan yang menikah lebih sedikit absensinya , mengalami pergantian yang lebih rendah, dan lebih puas dengan pekerjaan mereka daripada rekan kerjanya yang bujangan.
-MASA KERJA KARYAWAN :
Masa kerja didasarkan pada suatu pemikiran bahwa karyawan senior menunjukkan adanya kesetiaan yang tinggi dari karyawan yang bersangkutan pada organisasi dimana mereka bekerja. Masa kerja dihitung dari pertama kali tenaga kerja masuk kerja sampai dengan saat penerlitian dilakukan yang diukur dalam satuan tahun. Masa kerja juga dapat dilihat dari berapa lama tenaga kerja mengabdikan dirinya untuk perusahaan, dan bagaimana hubungan antara perusahaan dengan tenaga kerjanya. Dalam hubungan ini untuk menjalin kerjasama yang lebih serasi maka masing-masing pihak perlu untuk meningkatkan rasa tanggung jawab, rasa ikut memiliki, keberanian, dalam rangka kelangsungan perusahaan maka tenaga kerja dapat dengan tenang untuk berproduksi sehingga produktivitasnya tinggi.
Sebagai balasan Febri Yani

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Oswald Leonard Hamonangan -
Izin Menjawab,
- Kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan kebutuhan dan pengalaman masa
lalunya. Karakteristik yang dipunyai individu ini akan dibawanya manakala
memasuki lingkungan baru yaitu oraganisasi atau yg lainnya.
a. Umur : Dijelaskan secara empiris bahwa umur berpengaruh terhadap bagaimana perilaku seorang individu, termasuk bagaimana kemampuannya untuk bekerja, merespon stimulus yang dilancarkan oleh individu lainnya. Setidaknya ada tiga alasan yang menjadikan umur penting untuk dikaji. Pertama, adanya persepsi bahwa semakin tua seseorang maka prestasi kerjanya akan semaki merosot karena faktor biologis alamiah. Kedua, adanya realitas bahwa semua pekerja akan menua. Di Amerika Serikat tahun 1995-2005 sektor pekerja usia 50 tahun ke atas ternyata berkembang jauh lebih cepat dari generasi penggantinya. Ketiga, adanya ketentuan peraturan (di amerika serikat) pensiunan yang sifatnya perintah adalah melanggar hukum karena batasan pensiun bukanlah umur, melainkan ketika yang bersangkutan menyatakan tidak mampu lagi bekerja. Jika terlaksana demikian maka banyak pekerja usia 70 tahun belum akan pensiun.Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa absensi pegawai usia tua ternyata lebih baik, karena persoalan yang dihadapi orang tua yang menyebabkan mangkir relatif lebih sedikit dari orang muda. Namun karena alasan kesehatan akhirnya orang tua
lebih banyak absen pada usia lanjut.Orang tua cenderung semakin menyenangi
pekerjaannya, sehingga semakin tua, orang lebih enggan untuk berganti-ganti
pekerjaan dibandingkan orang muda yang selalu ingin tahu, mencoba, dan
membutuhkan pengalaman sehingga sering berganti-ganti pekerjaan.Dari segi
produktifitas, ternyata orang tua lebih produktif karena lebih berpengalaman,
sehingga terampil dan menguasai pekerjaan lebih baik dibbangingkan orang
yang lebih muda. Motivasi dan dedikasi kerja juga ternyata lebih tinggi.
Namun tidak dapat dihindari, pada usia 60 tahun kekuatan fisik tidak akan
menunjang semangat dan pengalaman gyang tinggi tersebut. Sehingga
produktifitas akan menurun pada usia tersebut.
b. Jenis Kelamin : Penelitian membuktikan bahwa sebenarnya kinerja pria dan wanita dalam menangani pekerjaan relatif sama. Keduanya hampir sama konsistensinya dalam memecahkan masalah, keterampilan analitis dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, dan kemampuan belajar. Pendekatan psikologi menyatakan bahwa wanita lebih patuh pada aturan dan otoritas. Sedangkan pria lebih agresif, sehingga lebih besar kemungkinan mencapai sukses walaupun perbedaan ini terbukti sangat kecil. Sehingga sebenarnya dalam pemberian
kesempatan kerja tidak perlu ada perbedaan karena tidak ada cukup bukti yang membedakan pria dan wanita dalam hal kepuasan kerja.Secara kodrati Tuhan menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari kapasitas fisik, peran, tugas, dan tanggung jawab dalam lingkungan keluarga.
c.     Status : Pemaknaan tentang pekerjaan akan berbeda antara karyawan yang single dengan karyawan yang sudah menikah. penelitian membuktikan bahwa orang yang telah berumah tangga relatif lebih baik dibandingkan dengan single baik ditinjau dari segi absensi.Keluar beralih kerja dan kepuasan kerja. Hal ini disebabkan karena oarng yang telah berkeluarga mempunyai rasa tanggung jawab dan membuat pekerjaan lebih tertib,dan mengganggap pekerjaan lebih berharga dan lebih penting.
d. Masa Kerja : Relevansi masa kerja adalah berkaitan langsung dengan senioritas dalam pekerjaan. Artinya tidak relevan membandingkan pria-wanita-tua-muda dan seterusnya karena penelitian menunjukkan bahwa belum tentu yang lebih lama pada pekerjaan memiliki produktifitas yang lebih tinggi. Karena bisa saja orang baru bekerja tetapi memiliki pengalaman yang lebih baik dari pekerjaan masa lalu.sehingga dapat disimpulkan bahwa pengalaman masa lalu merupakan penentu masa depan seseorang dalam pekerjaan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hubungan positif antara lama masa kerja dengan kepuasankerja, artinya semakin lama seorang karyawan bekerja, maka semakin rendah keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya
Sebagai balasan Mailan Azima

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Putri Sriwahyuni -
Ijin menjawab,
Perlu kita ketahui bahwa dalam pekerjaan pasti terdapat penilaian untuk menentukan kepuasan dalam bekerja. Nah pekerjaan juga pastinya terdapat ketidak puasan dalam bekerja yang akan Berdampak turunnya kinerja karyawan akibatnya perusahaan tidak akan dapat mencapai yang terbaik. Karyawan yang tidak mencapai tingkat kepuasan akan cenderung bermalas- malasan dalam bekerja. Karyawan dapat menunjukan ketidak puasan kerja dengan Cara :
1. Menyuarakan, disini karyawan akan konsultasi terlebih dahulu atas masalah yang dihadapi kemudian memberi saran.
2. Mengabaikan, karyawan akan sering membuat kesalahan dalam bekerja.
3. Kesetiaan, pada tipe ini karyawan cenderung untuk setia kepada perusahaan dan menunggu hingga keadaan akan membaik.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Handini . -
Menurut saya kepuasan kerja sangat penting bagi individu maupun organisasi. Karena kepuasan kerja tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan yang menyenangkan, namun juga berhubungan dengan kebahagiaan dan kesehatan. Kepuasan kerja pegawai berhubungan dengan produktivitas, perilaku kerja positif, mengendalikan turn over dan kinerja. Kerja baik dalam pendekatan transaksional maupun relasional melibatkan dua pihak yaitu pegawai dan organisasi, sehingga kepuasan kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor dari sisi pegawai dan organisasi. Upaya saling memahami menjadi penting untuk meraih kepuasan kerja yaitu bagaimana organisasi memahami kebutuhan, keinginan dan harapan pegawainya, serta bagaimana pegawai memahami tujuan bersama antara dirinya dengan organisasi. Komunikasi diperlukan sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman antara pegawai dan organisas. Dengan adanya kepuasan kerja dapat meningkatkan kinerja pegawai dalam perusahaan tidak akan dapat tercapai tanpa adanya kepuasan kerja pegawai. Selain itu pegawai yang tidak mencapai tingkat kepuasan kerja tidak akan mencapai kematangan psikolois dalam dirinya. Mereka cenderung bermalas- malasan dalam bekerja. Kalau pegawai sudah bersikap demikian maka sulit bagi suatu perusahaan untuk mancapai tujuannya.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh kenia khairunnisa -
miss apa yg harus kita lakukan jika bekerja tapi gajinya tidak sesuai dengan yg diharapkan, padahal atasannya sudah menjanjikan jumlah gaji tapi ternyata karyawan tidak mendapat sesuai yg dijanjikan, lalu apa yg harus kita lakukan miss jika berada di posisi tersebut , terimakasih miss
Sebagai balasan kenia khairunnisa

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Lysandra Leta Dila -
Izin menjawab yaa,

Untuk mengatasi situasi ini, kamu bisa mencoba menegosiasikan dirimu ke pihak perusahaan. Negosiasikan lah soal benefit apa saja yang bisa kamu terima dari perusahaan, selain dari gaji tidak sesuai yang kamu dapatkan. 
Ada beberapa benefit yang bisa kamu ajukan, yakni:
#Kesempatan untuk mendapatkan mentorship atau bahkan menjadi mentor itu sendiri.
#Kesempatan untuk mengikuti seminar atau konferensi yang berhubungan dengan industri atau profesimu.
#Pelatihan lintas profesi yang memungkinkanmu mendapatkan profesi impian.
#Fasilitas dan sarana yang menunjang pekerjaanmu.
 Seperti: laptop, Alat Tulis Kantor (ATK), atau coworking space yang biaya sewanya ditanggung oleh kantor.

Negosiasikanlah sejumlah benefit di atas hingga perusahaan mau untuk memberikannya padamu. Mendapatkan sejumlah benefit di atas akan membuatmu mendapatkan keuntungan lain dari perusahaan yang bisa menutupi gaji tidak sesuai usaha yang mereka berikan.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Dewa ayu Dwitirta devi -
Miss izin bertanya
Misal kita sebenarnya puas dengan kebijakan perusahaan , tetapi karna ada salah satu teman kita yang tidak suka dengan kita , akhirnya kita merasa tidak nyaman bekerjanya . bagaimana ya miss menurut miss , apakah kita harus memberitahu atasan atau bagaimana miss ?
Sebagai balasan Dewa ayu Dwitirta devi

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Riski Afrianti -
izin menjawab
menurut saya, jika salah satu teman kita sendiri atau pun rekan kerja tidak suka dengan kita. kita harus menyikapi nya dengan profesional jangan hiraukan, Stay Cool saja jangan ikut terbawa emosi dari pada kita harus memikirkan lebih baik buat introspeksi diri kita sendiri. jika mereka sudah keterlaluan bicakan baik-baik tanyakan langsung mengapa tidak menyukai saya.
pada dasarnya di kehidupan ada saja yang tidak suka dengan kita. mereka tidak peduli seberapa baik nya kamu tetap saja kita tidak bisa menyuruh mereka suka dengan kita. fokus saja dengan kehidupan kita masih banyak kok yang mendukung kita dan menyanyangi kita.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Cristianto Wicaksono -

Izin bertanya miss, jika sebuah perusahaan yang berjumlah 10 karyawan dan ada 1 karyawan yang tidak puas dengan kebijakan perusahaan, apakah itu memengaruhi kinerja sebuah perusahaan miss? Apa pengaruhnya sangat besar? 

Sebagai balasan Cristianto Wicaksono

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Riski Afrianti -
izin menjawab
menurut saya, iya berpengaruh dari salah satu karyawan yang ketidak puas dengan kebijakan perusahaan akan mempengaruhi karyawan lain. yang mengakibatkan hilangnya motivasi, kurangnya minat, frustrasi, produktivitas yang buruk, dan ketidak hadiran. itu sangat berpengaruh pada produktifitas perusahaan itu sendiri.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Septi cia -
NAMA : SEPTICIA
NPM : 1812110441

Miss izin bertanya,
Apa pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan?
Sebagai balasan Septi cia

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Nanda Amelia -
izin menjawab,
faktor pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan
1. Kesempatan untuk maju.
   Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan   kemampuan selama kerja.
2. Keamanan kerja.
    Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja.
3. Gaji.
   Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan kepuasan   kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.
4. Perusahaan dan manajemen.
    Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan.
5. Pengawasan (Supervise).
    Bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over.
6. Faktor Instrinsik dari Pekerjaan.
    Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
7. Kondisi kerja.
   Termasuk di sini adalah kondisi tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat parkir.
8. Aspek sosial dalam pekerjaan.
    Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
9. Komunikasi.
Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
10. Fasilitas.
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.

     jadi dapat disimpulkan bahwa, faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja,
1. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat, dan ketrampilan.
2. Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi social baik antara sesama karyawan, maupun dengan atasannya.
3. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.
4. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan sebagainya.
Sebagai balasan Septi cia

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Putri Damayanti -
saya putri damayanti akan mencoba untuk menanggapi pertanyaan dari septicia, kinerja karyawan dapat ditingkatkan setara dengan peningkatan kepuasan kerjanya. Bisa dibilang kepuasan kerja mungkin merupakan akibat dari kinerja atau sebaliknya. pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan dapat dijelaskan dengan beberapa faktor yaitu Mayoritas hasil menunjukkan skor tertinggi indikator kepuasan kerja terdapat pada indikator kepuasan terhadap gaji, Misalnya jika besaran gaji pokok yang akan diterima karyawan itu berdasarkan hitungan jumlah target kerja yang dapat diselesaikan oleh karyawan, maka mereka akan berusaha lebih keras untuk menunjukkan kinerja yang prima demi gaji yang lebih tinggi.
Sebagai balasan Septi cia

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh izatul laila -
Izin menjawab,
Pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan yaitu:
1. Kepuasan Terhadap Pekerjaannya Sendiri
Setiap jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh seorang karyawan tentunya akan menghasilkan motivasi dan prestasi kerja yang merupakan bagian dari kepuasan kerja karyawan. Seorang karyawan akan merasa puas akan pekerjaan yang dijalaninya apabila memenuhi hal berikut:

a. Pekerjaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang pentingm dan memiliki manfaat
b. Karyawan menyadari betul tugas dan tanggung jawabnya atas hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan.
c. Karyawan mampu memastikan bahwa hasil kerjanya tersebut mampu mencapai nilai kepuasan.
Karakteristik yang terdapat di dalam sebuah pekerjaan dapat menjadi faktor tepernuhinya rasa puas dalam bekerja. Karyawan melakukan pekerjaannya dengan perasaan senang jika pekerjaan tersebut dapat memberikan kesempatan bagi karyawan tersebut untuk memaksimalkan kemampuan dan kecakapannya, memberikan berbagai pilihan tugas yang ia senangi, dan memberikan feed back atau umpan balik yang sesuai dengan harapan karyawan tersebut.
2. Kepuasan Terhadap Pemberian Gaji
Kepuasan terhadap pemberian gaji ini tidak hanya mencakup nominal gaji yang didapatkan akan tetapi lebih kepada kepuasan seorang karyawan pada kebijakan administrasi penggajian, adanya berbagagai macam tunjangan, serta kepuasan terhadap tingkat kenaikan gaji.
3. Kepuasan Terhadap Promosi
Promosi merupakan salah satu jenis penghargaan yang mampu memberikan kepuasan kerja pada karyawan. Promosi bisa dianggap sebagai bentuk imbalan yang diberikan oleh perusahaan terhadap prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan tersebut.
4. Kepuasan Terhadap Atasan
yang memengaruhi kepuasan kerja karyawan adalah kepuasan terhadap atasan. Kepuasan terhadap gaya kepemimpinan atasan ini ternyata memberikan pengaruh yang cukup besat terhadap kepuasan kerja karyawan. Terdapat berbagai macam tipe gaya kepemimpinan atasan yang memengaruhi kepuasan kerja diantaranya atasan yang berorientasi terhadap kinerja karyawan dan atasan yang menguatamakan partisipasi karyawannya.
Gaya kepemimpinan atasan yang mengutamakan kinerja karyawannya akan sering memberikan perhatian pada karyawannya guna menciptakan hubungan kerja yang baik. Bentuk perhatian tersebut bisa berupa pengecekkan secara rutin terhadap kinerja karyawan serta memberikan arahan dan nasehat secara personal terhadap karyawan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan pekerjaannya. Sedangkan gaya kepemimpinan atasan yang mengutamakan partisipasi karyawan dapat digambarkan sebagai sikap terbuka yang diberikan oleh seorang atasan sehingga karyawannya tersebut dapat berpartisipasi langsung dalam mendiskusikan masalah pekerjaan yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
5 Kepuasan Terhadap Rekan Kerja
Rekan kerja merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan kerja karyawan. Komunikasi yang berjalan dengan baik antar sesama karyawan mampu meningkatkan kepuasan kerja dalam diri seorang karyawan, apalagi jika rekan kerjanya tersebut memiliki kesamaan dalam bersikap sehingga akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan membentuk tali persahabatan antar karyawan. Perasaan senang dan rasa persahabatan yang timbul tersebut sangat berkaitan dengan kepuasan kerja karyawan.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh rohmatun nazila -
Izin bertanya miss jika sesorang sudah mencapai kepuasan kerja maka akan timbul semangat kerja yang tentunya bisa membuat karyawan bekerja dengan baik. Namun ada kasus karyawan jepang miss yang bunuh diri padahal mereka sudah bekerja dengan baik dan sesuai point suatu perusahaan, selain mengalami stress karena pekerjaan adakah faktor lain miss ?Dan bagaimana cara menanggulanginya
Sebagai balasan rohmatun nazila

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Putri Damayanti -
saya putri damayanti izin menjawab pertanyaan dari rohmatun nazila. menurut saya, tidak semua dapat mengatakan karyawan tersebut bekerja dengan baik karena semangat kerja yang tinggi. diperusahaan jepang memberi tuntunan yang tinggi dalam hal pekerjaannya kepada setiap karyawannya. tuntunan dan tekanan memicu stres yang menyebabkan tekanan yang tinggi tentu bisa memicu strees yang menyebabkan karyawan tersebut memilih untuk bunuh diri. mungkin faktor lain yang memicu karyawan tersebut bunuh diri seperti hubungan keluarga yang tidak harmonis, kondisi finansial yang mengkhawatirkan . cara menangulanginya dengan cara , memberi kompensasi sesuai dengan beban pekerjaannya, memberikan tunjangan kepada karyawannya
Sebagai balasan Putri Damayanti

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Merlina Siahaan -
izin menjawab dari pertanyaan rohmatun nazila. jka terdapt seorang karyawan yang stress didalam pekerjaan yang dilakukan adalah, melalui pendekatan antara atasan dengan karyawan trsebut. apakah ada masalah diperusahaan yang membuat si karyawan stress atau ada masalah di keluarga. jika stress trsbt berasal dari perusahaan, maka baiknya atasan perlu untuk peduli masalah trsebut dan memberikan saran atau solusi untuk kembalinya mood baik bagi karyawan.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Selvia . -
Menurut saya, kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Kepuasan kerja mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan, artinya jika kepuasan diperoleh dari pekerjaan, maka kedisiplinan karyawan baik. Sebaliknya jika kepuasan kerja kurang tercapai dalam pekerjaannya maka kedisiplinan karyawan rendah.
Sebagai balasan Betty Magdalena

Re: Forum diskusi Sikap dan Kepuasan Kerja

oleh Asti Yudantisiwi -
menurut saya Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja ini nampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerajaan dan segala sesauatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.
Kepuasan kerja menggambarkan perasaan seorang individu terhadap pekerjaannya. Pekerjaan menuntut interaksi dengan rekan sekerja atau atasan, mengikuti aturan dan kebijakan organisasi serta memenuhi standar kerja. Sikap seseorang terhadap pekerjaan menggambarkan pengalaman yang menyenangkan dan juga tidak menyenangkan serta berhubungan juga dengan harapan di masa mendatang. Kepuasan kerja dari masing-masing individu berlainan, karena memang pada dasarnya kepuasan kerja bersifat individual dimana masing-masing individu akan memiliki tingkat kepuasan kerja yang berlainan sesuai dengan perasaan individu masing-masingKepuasan kerja adalah seberapa hasil yang didapatkan atau apakah hasil yang diperoleh sesuai dengan harapanKepuasan kerja menggambarkan pula perilaku Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukan sikap yang positif terhadap kerja itu, seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukan sikap yang negatif terhadap pekerjaan itu. Untuk mengukur kepuasan kerja ada dua pendekatan yang paling luas yaitu, penilaian tunggal secara umum dan nilai penyajian akhir yang terdiri atas sejumlah aspek pekerjaan. Metode penilaian tunggal secara umum sekedar meminta individu untuk merespon satu pertanyaan. Sementara pendekatan yang lain, penyajian akhir aspek pekerjaan lebih rumit. Pendekatan terhadap kariawan.