Nama : MasΓÇÖud Rifai
NPM : 1922311016
A.
KESIMPULAN UNTUK MATERI LINGKUNGAN SOSIAL
Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau homo sapiens, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing dalam menunjang sistem kehidupan. Hidup ditandai dengan ΓÇ£eksistensi vitalΓÇ¥, yaitu dimulai dengan proses metabolisme, kemudian pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, dan adaptasi internal, sampai berakhirnya segenap proses itu bagi suatu ΓÇ£individuΓÇ¥ (Soerjani, 1988: 4)
Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya. Menurut Stroz (1987) lingkungan sosial meliputi ΓÇ£semua kondisi-kondisi dalam dunia yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkahlaku seseorang, termasuk pertumbuhan dan perkembangan atau life process, yang dapat pula dipandang sebagai penyiapan lingkungan (to provide environment) bagi generasi yang lainΓÇ£. Sedangkan menurut Menurut Amsyari (1986: 12) lingkungan sosial merupakan ΓÇ£manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya seperti tetangga-tetangga, teman-teman, bahkan juga orang lain di sekitarnya yang belum dikenalΓÇ¥.
Dari kedua pengertian ini kita mendapatkan bahwa lingkungan sosial sangat penting untuk diperhatikan bagi entitas bisnis. Manusia secara biologis akan mencoba memenuhi segala kebutuhannya menyangkut kehidupan dirinya dan berlangsungnya keturunannya. Sedangkan secara sosial manusia akan membentuk budaya, dari pembentukan budaya ini kebutuhan manusia akan memiliki variasi sesuai pola interkasi yang dibangun antar manusia nya. Sebagai contoh untuk konsumsi makanan saja ada penduduk yang menggunakan nasi/beras sebagai bahan konsumsi utama ada juga yang bukan. Untuk transportasi ada yang cenderung menggunakan kendaraan mobil atau motor atau perahu tergantung budaya dan kondisi yang membentuk masyarakatnya. Karakteristik ini lah yang harus di perhatikan dalam lingkungan bisnis sehingga bisnis dapat berjalan seiring dengan kebutuhan lingkungan sosial nya. Dengan seperti ini keberlanjutan entitas Bisnis akan terus dapat dipertahankan.
B. TANGGAPAN DAMPAK PANDEMIC COVID-19 TERHADAP LINGKUNGAN SOSIAL
Ancaman Pandemic Covid telah melanda ke seluruh negara, akibat yang ditimbulkan oleh pandemic ini sangat luar biasa yaitu kematian. WHO mencatat per 1 Mei 2020 jumlah penduduk yang terkena virus covid-19 sebanyak 3.181.642 orang dengan jumlah yang meninggal sebanyak 224.301 orang. Jumlah orang meninggal akibat virus ini terbesar berada di negara Amerika Serikat sebanyak 55.337 orang, Itali sebanyak 27.967 orang, dan Inggris sebanyak 26.771 (WHO, 2020). Di Indonesia sendiri BNPB mencatat per tanggal 1 Mei 2020 jumlah orang yang terkena virus Covid-19 sebanyak 10.551 orang dengan jumlah penduduk yang sembuh sebanyak 1.591 orang dan yang meninggal sebanyak 800 orang atau 7,5 % dan (BNPB, 2020). Ketiga negara yang paling besar penduduknya meninggal merupakan negara yang masuk kategori negara maju. Dimana pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan mereka lebih baik dibanding negara lainnya. Fakta ini membuka mata semua negara bahwa pandemic ini sangat berbahaya. Oleh karena itu masing-masing negara membuat kebijakan untuk mengurangi kematian akibat pandemic. Saat ini di Indonesia, kebijakan penyelamatan terhadap pandemic covid dilakukan dengan social distancing dan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB).
Kebijakan ini tentu berdampak banyak terhadap perubahan lingkungan sosial penduduk. Berdasarkan hasil survei snapshot Lippi (2020). Pandemic covid menyebabkan 17% penduduk kehilangan pekerjaannya, 65 % bekerja di rumah, hanya 18 persen yang merasa tidak berdampak. Lebih dalam lagi apabila diamati ke pendapatan yang diterima Lippi juga menemukan bahwa 53 persen penduduk pendaptannya menurun. Selain itu menurut survei yang dilakukan lembaga survei AC Nielsen adanya wabah pandemic juga mengubah perilaku konsumsi penduduk. Dalam rilisnya Nielsen mengatakan sejak diberlakukannya imbauan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19, sekitar 30% konsumen merencanakan untuk lebih sering berbelanja secara daring (online). Kebijakan ini juga mempengaruhi kepemirsaan televisi yang mencatat peningkatan rating dari 2,6% pada 8 Maret 2020 menjadi 13,6% pada 15 Maret. Peningkatan rating tertinggi terjadi pada segmen pemirsa berusia lebih muda yaitu 5-9 tahun yang meningkat 23 % dan segmen pemirsa usia 15-19 tahun yang meningkat 22%. Baca Juga: Ini strategi bertahan bagi pelaku UKM di tengah penjualan tertekan corona. Dari sisi konsumsi, sebanyak 49% konsumen menjadi lebih sering memasak di rumah. Tak pelak hal ini mendorong kenaikan pertumbuhan penjualan bahan pokok seperti telur yang naik 26%, daging yang mengalami kenaikan penjualan 19%, permintaan daging unggas naik 25%, serta penjualan buah dan sayur yang meningkat 8%. Kategori produk seperti bumbu masak dan farmasi menunjukkan pertumbuhan penjualan tertinggi di segmen ritel masing-masing 44% dan 48%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan kategori produk lainnya. Nielsen juga mengungkapkan, akibat Covid-19 masyarakat Indonesia jadi lebih cenderung berbelanja di pasar modern. Kemudian Nielsen juga menemukan bahwa secara nasional, konsumen kelas atas menjadi lebih banyak berbelanja di hypermarket/supermarket. Sementara tren di wilayah Jakarta dan sekitarnya berbeda, dimana tidak hanya dari kelas atas, tapi konsumen dari kelas menengah dan bawah juga lebih banyak berbelanja di hypermarket/supermarket, (di Kutip dari harian Kontan 8 April 2020).
Dari fakta-fakta ini pandemic sangat berpengaruh merubah lingkungan sosial penduduk ke New Normal baru, yaitu pola kehidupan pada masa pandemic. Bukan hanya pola hubungan sosialnya yang berubah, termasuk barang yang dikonsumsinya juga berubah. Perubahan New Normal ini harus disikapi cepat oleh entitas bisnis agar bisnisnya dapat beratahan pada masa pandemic ini. Baik dengan membentuk new produk atau merubah cara memasarkan produk. Ada peluang disetiap tantangan.
Daftar Referensi
1. https://covid19.who.int/
2. https://covid19.go.id/p/berita/infografis-covid-19-1-mei-2020
3. https://nasional.kontan.co.id/news/ini-perubahan-perilaku-konsumen-indonesia-saat-pandemi-corona 8 April 2020
4. LIPPI-LD UI-ΓÇ£Dampak Darurat Virus Corona terhadap buruh dan KaryawanΓÇ¥, 2020
5. Masgawati, Desti Irja, Widiastuti, FAKTOR ORANG TUA TIDAK MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEJENJANG YANG LEBIH TINGGI DI DESA BINUANG KECAMATAN BANGKINANG, Jurnal Online Mahasiswa Vol 4, No. 2 Tahun 2017