Penjelasan tentang Konsep Motivasi

Jumlah balasan: 4

KONSEP MOTIVASI

A. Pengertian Motivasi

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003:64) bahwa ΓÇ£motivasi merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari berbagai tenaga pendorong yang berupa desakan, motif, kebutuhan dan keinginan.ΓÇ¥ Motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara jiwa, sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan dalam diri seseorang.

Sumadi Suryabrata (2010:70) juga berpendapat bahwa ΓÇ£motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan.ΓÇ¥ Dengan kata lain, motivasi adalah keadaan jiwa dan sikap mental yang memberikan energi dan mendorong manusia untuk melakukan suatu kegiatan.

Menurut Mc Donald (Abdul Hadis, 2008:29) ΓÇ£Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuanΓÇ¥. Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu :

  1. Bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia
  2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa atau feeling, afeksi seseorang.
  3. Motivasi akan dirangsang karena ada tujuan.

Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Sama halnya dengan yang dikatakan Hamzah B. Uno (2009:5) bahwa ΓÇ£motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuanΓÇ¥. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti (1) keinginan yang hendak dipenuhinya; (2) tingkah laku; (3) tujuan; (4) umpan balik.

B. Jenis-Jenis Motivasi

Pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Jenis-jenis motivasi yang dikemukakan para ahli berbeda-beda. Adapun menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2009:63) motivasi berdasarkan sifatnya dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:

  1. Motivasi takut atau fear motivation, individu melakukan sesuatu karena
  2. Motivasi intensif atau intensive motivation, individu melakukan perbuatan untuk mendapat suatu insentif.
  3. Sikap atau attitude motivation atau self motivation. Motivasi ini lebih bersifat intrinsik, muncul dari dalam diri individu, berbeda dengan kedua motivasi sebelumnya yang bersifat ekstrinsik dan datang dari luar diri

Sedangkan menurut Sardiman (2008:86), motivasi dapat dilihat dari dasar pembentukannya, yaitu:

  1. Motif-motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari, misalnya dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual.
  2. Motif-motif yang dipelajari adalah motif-motif yang timbul karena dipelajari, misalnya dorongan untuk belajar, dorongan untuk mengajar.

Kemudian Hamzah Uno (2011:4) menyatakan bahwa ΓÇ£dari sudut sumber yang menimbulkannya motif dibedakan dua macam, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik.ΓÇ¥ Motif intrinsik merupakan motif yang timbul atas kesadaran diri individu dan tidak memerlukan rangsangan dari luar. Sedangkan motif ekstrinsik merupakan motif yang timbul karena adanya rangsangan dari luar, seperti suasana yang kondusif, penghargaan dan hukuman atau ganjaran.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya labih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan.

Dari uraian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa motivasi dapat timbul dari diri sendiri ataupun dari luar dirinya. Maka, di sini peran guru adalah bagaimana caranya supaya peserta didik dapat membangkitkan motivasi belajarnya.

C. Teori-Teori Motivasi

Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Maman Ukas (2006:320) memaparkan beberapa teori motivasi sebagai berikut:

  1. Teori Hirearkhi Kebutuhan dari Abraham Maaslow
  2. Teori Dua Faktor dari F. Herzberg
  3. Teori X dan Teori Y dari Douglas Mc. Gregor
  4. Teori Harapan dari Vroom
  5. Teori N. Ach/Prestasi dari Mc. Clelland

Untuk lebih jelasnya akan dibahas beberapa teori motivasi, berikut adalah uraiannya.

1. Teori Motivasi Abraham Maslow (1943-1970)

Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting

  • Kebutuhan Fisiologis

Kebutuhan yang harus dipuaskan untuk dapat tetap hidup, termasuk makanan, perumahan, pakaian, udara untuk bernafas, dan sebagainya.

  • Kebutuhan Rasa Aman

Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah dipuaskan, perhatian dapat diarahkan kepada kebutuhan akan keselamatan. Keselamatan itu, termasuk merasa aman dari setiap jenis ancaman fisik atau kehilangan, serta merasa terjamin. Pada waktu seseorang telah mempunyai pendapatan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kejiwaan seperti, membeli makanan dan perumahan, perhatian diarahkan kepada menyediakan jaminan melalui pengambilan polis asuransi, mendaftarkan diri masuk perserikatan pekerja, dan sebagainya.

  • Kebutuhan Sosial

Ketika seseorang telah memuaskan kebutuhan fisiologis dan rasa aman, kepentingan berikutnya adalah hubungan antarmanusia. Kebutuhan sosial yang diperlukan pada tingkat ini, mungkin disadari melalui hubungan-hubungan antarpribadi yang mendalam, tetapi juga yang dicerminkan dalam kebutuhan untuk menjadi bagian berbagai kelompok sosial.

  • Kebutuhan akan Penghargaan

Percaya diri dan harga diri maupun kebutuhan akan pengakuan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan orang lain, ingin mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari yang lainnya.

  • Kebutuhan Perwujudan Diri

Kebutuhan tersebut ditempatkan paling atas pada hierarki Maslow dan berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri. Ketika semua kebutuhan lain sudah dipuaskan, seseorang ingin mencapai secara penuh potensinya. Tahap terakhir itu mungkin tercapai hanya oleh beberapa orang.

Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.

2. Teori Motivasi Herzberg (1966)

Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik). Sedangkan faktor motivator, memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah penghargaan, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).

3. Teori Motivasi Douglas Mc Gregor

Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori Y (positif), Menurut teori X, empat pengandaian yang dipegang manajer:

  • karyawan secara interen tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
  • karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
  • Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
  • Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua faktor yang dikaitkan dengan kerja.

Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :

  • karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
  • Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
  • Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
  • Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.

4. Teori Motivasi Vroom (1964)

Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat ia inginkan. Menurut Vroom (1964), tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:

  • Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
  • Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
  • Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif. Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan. Motivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan.

5. Teori Achievement Mc Clelland (1961)

Yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:

  • Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
  • Need for afilliation (kebutuhan akan hubungan sosial)
  • Need for Power (kebutuhan akan dorongan untuk mengatur)

Dari uraian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa para ahli teori motivasi pada umumnya mereka berusaha memikirkan bagaimana caranya agar manusia bekerja, dapat didorong dan dipacu sehingga mereka berprestasi untuk memenuhi kebutuhannya baik dalam keperluan organisasi maupun kepentingan dirinya. Teori-teori tersebut juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk mempelajari bagaimana cara memotivasi siswa dalam belajar.




Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Penjelasan tentang Konsep Motivasi

oleh Putri ulil azmi -
Selamat pagi miss, izin menanggapi..

Motivasi sesungguhnya sebagai sumber inspirasi, mengingat motivasi yang bersumber dari dalam diri, yakni dalam bentuk inspirasi diri. Proses inspirasi ini dipelihara sehingga menjadi penggerak bagi seseorang untuk tujuan mereka. Bahkan Murray mengatakan bahwa "motivasi adalah inti dari bisnis dan motivasi selalu mengacu pada sesuatu dalam organismeΓÇ¥.[1] Motivasi begitu penting selain sebagai sumber inspirasi bagi setiap individu, menjadi penggerak individu, dan inti dari setiap individu dalam mencapai tujuan dan bisnisnya.
A. Pengertian Motivasi
Motivasi kata yang sering kita dengar tetapi tidak mudah untuk membuat kesepakatan dalam mendefinisikan motivasi, lebih dari seratus definisi tentang motivasi yang berbeda, diantaranya, DwightD. Eisenhower mengatakan motivasi adalah seni membuat orang melakukan apa yang ingin mereka lakukan, karena mereka ingin melakukannya.[2]Motivasi juga didefinisikan sebagai kekuatan di dalam diri seseorang yang mempengaruhi arah perilaku, intensitas, dan ketekunan secara sukarela.[3] Golembiewski mengatakan motivasi dimaksudkan sejauh mana seseorang digerakkan atau dibangkitkan untuk mengeluarkan usaha dalam mencapai suatu tujuan dan Motivasi kerja mengacu pada berapa banyak orang mencoba untuk bekerja keras dan baik dengan gairah, arah, dan ketekunan dalam pengaturan kerja.[4] Luthan mendefinisikan motivasi sebagai faktor internal dan eksternal yang menyebabkan seorang individu terlibat dalam perilaku terkait pencapaian tujuan. Motivasi dapat mempengaruhi intensitas, arah, dan ketekunan seseorang dalam bekerja menuju Intensitas goal.
Motivasi sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.[5] Motivasi juga berarti sebagai faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan mengarahkan prilakunya untuk memenuhi tujuan tertentu.[6] Dalam buku lain juga disebutkan Motivasi adalah kesediaan untuk melakukan tingkat usaha yang tinggi guna mencapai sasaran-sasaran organisasi sebagaimana dipersyaratkan oleh kemampuan usaha tersebut untuk memuaskan sejumlah kebutuhan individu.[7] Motivasi juga merupakan salah satu topik yang paling sering diteliti dalam Prilaku Organisasi, juga sebagai proses yang ikut menentukan intensitas, arah, dan ketekunan individu dalam usaha mencapai sasaran.[8] Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi adalah suatu potensi pengerak internal dan eksternal dengan intensitas, arah, dan ketekunan dalam diri seseorang secara sukarela sehingga mengarahkan perilaku seseorang tersebut pada pencapaian tujuan.
B. Memahami Kebutuhan Individu
Memahami jenis dan derajat motivasi seseorang juga harus mencoba untuk meningkatkan tingkat motivasi yang ditunjukkan seseorang dalam keberagaman dan dalam banyak haltak terduga. Bila motivasi sebagai bentuk kesediaan segala upaya untuk suatu tujuan organisasi dengan mengkondisikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan individu. Kebutuhan dapat dimaknai sebagai suatu keadaan internal yang menyebabkan hasil-hasil tertentu tampak menarik. Gibson dkk mengatakan Kebutuhan adalah kurangnya sesuatu yang bernilai dalam diri individu pada titik waktu tertentu. Kekurangan bisa dalam bentuk; kekurangan fisiologis (misalnya, kebutuhan untuk makanan), psikologis (misalnya, kebutuhan untuk harga diri), atau sosiologis (misalnya, kebutuhan untuk interaksi sosial). Kebutuhan sebagai energi atau pemicu yang memanifestasikan perilaku, dengan implikasinya adalah bahwa ketika kebutuhan (kekurangan) terjadi pada individu, maka individu akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan lebih mudah terhadap upaya motivasi.
Kebutuhan sebagai kekuatan yang diarahkan pada tujuan yang mengerakkan orang. Kebutuhan adalah kekuatan motivasi emosi yang disalurkan menuju tujuan tertentu untuk memperbaiki kekurangan atau ketidak seimbangan.[9] Kebutuhan merupakan salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) bagi setiap individu untuk berusaha. Seseorang (manusia) bekerja pada dasarnya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan untuk mencapai tujuan, demikian juga kebutuhan manusia sehari-hari selama hidupnya menjadi faktor penggerak untuk mencapainya.
Pemenuhan kebutuhan seseorang menjadi faktor penggerak (drive) menghasilkan emosi, dan dasar kebutuhan pengalaman emosional yang disalurkan menuju tujuan yang diinginkan untuk mengatasi sumber emosi. Drive sebagai kebutuhan karakteristik bawaan yang mengarahkan pada kekurangan atau mempertahankan keseimbangan internal dengan menghasilkan emosi yang memberi energi bagi individu, drive sebagai penggerak utama perilaku karena drive menghasilkan emosi, yang menempatkan seseorang dalam kondisi siap untuk bertindak atas lingkungan mereka, karena itu drive memainkan peran sentral dalam motivasi.
Dengan demikian dapat dimaknai seseorang yang termotivasi sesungguhnya dalam keadaan tegang, untuk mengembalikan dalam kondisi normal, seseorang harus mengeluarkan upaya. Semakin tegang seseorang akan semakin tinggi upayanya, jika upaya yang dilakukan berhasil maka upaya itu menghantarkan pada pemenuhan kebutuhan, bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan ketegangan akan menurun. Perlu diingat semua orang memiliki drive yang sama, tetapi mereka tidak memiliki emosi yang sama, seperti dalam merasakan kesepian, rasa ingin tahu, atau kemarahan, juga kebutuhan dalam situasi yang sama akan berbeda.
Konsep diri (kepribadian dan nilai-nilai), norma sosial, dan pengalaman masa lalu dapat memperkuat gerakan atau menekan emosi, sehingga dapat memberikan kekuatan dan menurunkan kebutuhan. Misalnya mereka yang biasanya sangat ramah memiliki pengalaman kebutuhan yang kuat untuk berinteraksi sosial, sedangkan orang-orang yang beranggapan kurang bersosialisasiakan mengalami kebutuhan yang kurang intens untuk bersosialisasi selama waktu itu. Kedua drive tersebut sesungguhnya dapat dipelajari sehingga akan mandapatkan konsep diri yang lebih kuat dan memperbaiki kebutuhan interaksi sosial, prestasi, dan sebagainya.
Konsep diri, norma-norma sosial, dan pengalaman masa lalu yang mampu memberi warna pada emosi akan menghasilkan kekuatan (drive) yang membanagun. Secara skematik dapat digambarkan sebagai berikut:
Bangunan diatas berkenaan dengan konsep diri, norma-norma sosial, dan pengalaman masa lalu, yang berkontribusi pada kekuatan drive (kebutuhan primer) dan emosi dalam pemenuhan kebutuhan (sekunder), dan pengambilan keputusan dan perilaku. Atau siklus kebutuhan seseorang dapat dimulai dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, kebutuhan yang tidak terpenuhi menyebabkan ketegangan, karena ketegangan memecu proses mencari cara untuk mengurangi penyebab ketegangan, proses pencarian ini memunculkan sebuah tindakan yang dipilih, dan perilaku yang diarahkan pada pencapaian tujuan, kemudian tindakan dan perilaku akan di evaluasi untuk mendapatkan hasil berupa imbalan atau hukuman, hasil tersebut dinilai apakah dapat mengurangi akan rasa kebutuhan atau belum, hasil penilaian akan memicu proses untuk memulai lagi ketegangan pemenuhan kebutuhan, demikian seterusnya.

C. Teori motivasi
Teori-teori motivasi secara umum berbicara tentang motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik berasal dari luar orang dan mencakup hal-hal seperti gaji, bonus, dan manfaat nyata lainnya. Motivasi intrinsik berasal dari seseorang intern keinginan untuk melakukan sesuatu, termotivasi oleh hal-hal seperti kepentingan (interest), tantangan, dan kepuasan pribadi. Individu secara intrinsik termotivasi ketika mereka benar-benar peduli tentang pekerjaan (aktivitas) mereka, mencari cara yang lebih baik untuk melakukannya, dan menggunakan energi secara maksimal. Dengan kebahagian kerja, kepuasan kerja maka imbalan instrinsik didapatkan seseorang.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Penjelasan tentang Konsep Motivasi

oleh Kurnia Indah Damayanti -
Selamat pagi miss, izin menanggapi
Menurut saya ΓÇ£motivasi merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari berbagai tenaga pendorong yang berupa desakan, motif, kebutuhan dan keinginan.ΓÇ¥ Motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara jiwa, sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan dalam diri seseorang.
dan ada 3 elemen penting di dalamnya
Bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia
Motivasi ditandai dengan munculnya rasa atau feeling, afeksi seseorang.
Motivasi akan dirangsang karena ada tujuan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Penjelasan tentang Konsep Motivasi

oleh Wulandari . -
Menurut rangkuman saya
Motivasi adalah kunci utama dari setiap dorongan, perilaku dan perbuatan seseorang terhadap lingkungan maupun pada diri sendiri.

Motivasi di dukung faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
Faktor intrinsik di dukung oleh dalam diri seseorang muncul ide secara otomatis oleh otak dan di ambil alih oleh tubuh untuk melakukan apa yang telah dipikirkan oleh otak.
Sedangkan Faktor Ekstrinsik didukung oleh lingkungan dengan terjadinya respon luar atas perbuatan seseorang lalu menimbulkan keinginan dalam diri untuk melakukan sesuatu atas respon luar yang mungkin positif ataupun negatif terhadap diri sendiri.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Penjelasan tentang Konsep Motivasi

oleh Mastiur Sinaga -
Selamat pagi miss izin menanggapi
Menurut saya motivasi merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari berbagai tenaga pendorong yang berupa desakan, motif, kebutuhan dan keinginan. Motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara jiwa, sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan dalam diri seseorang.
A. Pengertian Motivasi
Motivasi kata yang sering kita dengar tetapi tidak mudah untuk membuat kesepakatan dalam mendefinisikan motivasi, lebih dari seratus definisi tentang motivasi yang berbeda, diantaranya, DwightD. Eisenhower mengatakan motivasi adalah seni membuat orang melakukan apa yang ingin mereka lakukan, karena mereka ingin melakukannya.[2]Motivasi juga didefinisikan sebagai kekuatan di dalam diri seseorang yang mempengaruhi arah perilaku, intensitas, dan ketekunan secara sukarela.[3] Golembiewski mengatakan motivasi dimaksudkan sejauh mana seseorang digerakkan atau dibangkitkan untuk mengeluarkan usaha dalam mencapai suatu tujuan dan Motivasi kerja mengacu pada berapa banyak orang mencoba untuk bekerja keras dan baik dengan gairah, arah, dan ketekunan dalam pengaturan kerja.[4] Luthan mendefinisikan motivasi sebagai faktor internal dan eksternal yang menyebabkan seorang individu terlibat dalam perilaku terkait pencapaian tujuan. Motivasi dapat mempengaruhi intensitas, arah, dan ketekunan seseorang dalam bekerja menuju Intensitas goal.
Motivasi sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.