Lewati ke konten utama

Garis besar topik

    • Setelah mengikuti mata kuliah Perilaku Organisasi diharapkan agar mahasiswa dapat menjelaskan pentingnya Perilaku Organisasi dalam suatu perusahaan, manfaat Perilaku Organisasi dan memiliki wawasan tentang isu-isu Perilaku Organisasi saat ini

    • SALAM PEMBUKA

      Assalamu'alaikum Wr. Wb

      12

      Welcome to my class, my beloved students
      Hoping you all are in good condition and always be happy....

      Welcome to my subject of Organizational Behavior, especially for the 6th semester students of Management Study Program

      This subject consists of 4 SKS and 30 meetings

      Enjoy your class and have a nice learning.... bye...bye

      Wassalamu'alaikum Wr. Wb
      Betty Magdalena



  • Assalamualaikum wr. wb

     Tabik pun

    Selamat Pagi semuanya. Apa Kabar? Miss harap semua sehat ya. Pagi ini kita akan memulai perkuliahan daring kita yaitu Mata Kuliah Perilaku Organisasi. Saya sudah share ke kalian PPT dan materi tenatng Arti Perilaku Organisasi dan sub bab yang membahas tentang Pengertian, Ruang lingkup dan sebagainya tentang Perilaku Organisasi. Ada bahan bacaan sebagai tambahan materi. Ada diskusi forum untuk kalian mengemukakan pendapat, komentar tentang materi pertama ini. Untuk buku pegangan kita adalah Buku Perilaku Organisasi karangan STEPHEN P. ROBBINS, TIMOTHY A. JUDGE. Silahkan untuk membaca dan menanggapi. 

    Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb 

     

    • Pengertian Organisasi

          Organisasi adalah bentuk formal dari sekelompok manusia dengan tujuan individualnya masing-masing (gaji, kepuasan kerja, dll) yang bekerjasama dalam suatu proses tertentu untuk mencapai tujuan bersama (tujuan organisasi). Agar tujuan organisasi dan tujuan individu dapat tercapai secara selaras dan harmonis maka diperlukan kerjasama dan usaha yang sungguh-sungguh dari kedua belah pihak (pengurus organisasi dan anggota organisasi) untuk bersama-sama berusaha saling memenuhi kewajiban masing-masing secara bertanggung jawab, sehingga pada saat masing-masing mendapatkan haknya dapat memenuhi rasa keadilan baik bagi anggota organisasi/pegawai maupun bagi pengurus organisasi/pejabat yang berwenang.

      2. Unsur-unsur Organisasi

      aSebagai Wadah Atau Tempat Untuk Bekerja Sama

      Organisasi adalah merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang dapat bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa adanya organisasi menjadi saat bagi orang-orang untuk melaksanakan suatu kerja sama, sebab setiap orang tidak mengetahui bagaimana cara bekerja sama tersebut akan dilaksanakan. Pengertian tempat di sini dalam arti yang konkrit, tetapi dalam arti yang abstrak, sehingga dengan demikian tempat sini adalah dalam arti fungsi yaitu menampung atau mewadai keinginan kerja sama beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian umum, maka organisasi dapat berubah wadah sekumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu misalnya organisasi buruh, organisasi wanita, organisasi mahasiswa dan sebagainya.

      bProses kerja sama sedikitnya antar dua orang

      Suatu organisasi, selain merupakan tempat kerja sama juga merupakan proses kerja sama sedikitnya antar dua orang. Dalam praktek, jika kerja sama tersebut di lakukan dengan banyak orang, maka organisasi itu di susun harus lebih sempurna dengan kata lain proses kerja sama di lakukan dalam suatu organisasi, mempunyai kemungkinan untuk di laksanakan dengan lebih baik hal ini berarti tanpa suatu organisasi maka proses sama itu hanya bersifat sementara, di mana hubungan antar kerja sama antara pihak-pihak bersangkutan kurang dapat diatur dengan sebaik-baiknya.

      cJelas tugas kedudukannya masing-masing
      Dengan adanya organisasi maka tugas dan kedudukan masing-masing orang atau pihak hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih jelas, dengan demikian kesimpulan dobel pekerjaan dan sebagainya akan dapat di hindarkan. Dengan kata lain tanpa orang yang baik mereka akan bingung tentang apa tugas-tugasnya dan bagaimana hubungan antara yang satu dengan yang lain.

      dAda tujuan tertentu
      Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi seorang manajer. Suatu perencana yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cenderung lebih baik hasilnya dari pada perencanaan yang baik tetapi tidak baik. Selain itu dengan cara mengorganisasi secara baik akan mendapat keuntungan antara lain sebagai berikut :
      - Pelaksanaan tugas pekerjaan mempunyai kemungkinan dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif

      3. Pengertian Perilaku Organisasi

      Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi). Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik,antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya manusia dan psikologi industri.
       
      4. Tujuan Mempelajari Perilaku Organisasi

       a.    Memahami perilaku yang terjadi dalam organisasi.
              Hal ini berarti Perilaku Organisasi diharapkan dapat mengerti segala perilaku-perilaku baik anggota               maupun dari organisasi itu sendiri
       b.    Dapat meramalkan kejadian-kejadian yang terjadi.
              Dalam hal ini Perilaku Organisasi berperan penting dalam memprediksi setiap peristiwa atau kejadian             yang terjadi dalam organisasi, apakah kejadian tersebut nantinya akan membuat organisasi tersebut               menjadi lebih baik atau tidak. 
        c.   Dapat mengendalikan perilaku-perilaku yang terjadi dalam organisasi.
              Hal ini berarti Perilaku Organisasi diharapkan dapat mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan yang             akan terjadi dari individu-individu dalam suatu organisasi. 

      5. Tingkat Analisis Dalam Perilaku Organisasi

      Kejadian-kejadian atau permasalahan yang terjadi dalam organisasi dapat dianalisis dari tiga tingkatan analisis, yaitu : tingkat individu, kelompok dan organisasi.
      a.       pada tingkat individu, kejadian yang terjadi dalam organisasi dianalisis dalam hubungannya dengan perilaku seseorang dan interaksi kepribadian dalam suatu situasi. Masing-masing orang dalam organisasi memiliki sikap, kepribadian, nilai dan pengalaman yang berbeda bedayang mempengaruhinya dalam berperilaku.
      b.      Pada tingkat kelompok, perilaku anggota kelompok dipengaruhi oleh dinamika anggota kelompok, aturan kelompok, aturan kelompok dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok.
      c.       Pada tingkat organisasi, kejadian-kejadian yang terjadi dalam kontek struktur organisasi, struktur dan posisi seseorang dalam organisasi membawa pengaruh pada setiap interaksi sosial dalam
      organisasi.

      6. Karakteristik Perilaku Organisasi

      a.       Perilaku, fokus dari perilaku keeorganisasian adalah perilaku individu dalam organisasi, oleh karenanya harus mampu memahami perilaku berbagai individu dan organisasi.
      b.      Struktur, Struktur berkaitan dengan hubungan yang bersifat tetap dalam organisasi, bagaimana pekerjaan dalam organisasi dirancang, dan bagaimana pekerjaan diatur. Struktur Organisasi berpengaruh besar terhadap perilaku individu atau orang dalam organisasi serta efektifitas organisasi.
      c.       Proses, proses organisasi berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara anggota organisasi. Proses organisasi meliputi : komunikasi, kepemimpinan, proses pengambilan keputusan dan kekuasaan. Salah satu pertimbangan utama dalam merancang struktur organisasi adalah agar
      berbagai proses tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien.


  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun.

    Selamat pagi. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap di rumah saja. Selamat datang di mata kuliah Perilaku Organisasi. Alhamdulilah kita ketemu di pertemuan ke 2. Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang Keragaman Dalam Organisasi. Silahkan kalian pelajari dahulu materi dan PPT yang saya sajikan. Ada video sebagai bahan tambahan tentang Keragaman Dalam Organisasi karyawan di perusahaan. Ada forum diskusi sebagai tempat kalau ada yang ingin mengomentari dan bertanyaa tentang materi kita pagi ini. Semoga tetap semangat ya... 

    Terima Kasih. 

    • -




    • Assalamualaikum.

       Hari ini kita akan berdiskusi menggunakan forum  Silahkan memberikan pendapatnya dalam forum ini.

    • 1. KERAGAMAN

      Keragaman dalam organisasi adalah suatu organisasi dimanamemiliki perbedaan individu seperti umur, jenis kelamin, ras, etnis dan lainsebagainya.Ada 2 Jenis Karakteristik : a.
       
      Karakteristik DemografisKarakteristik demografis adalah ilmu pengetahuansocial yang megkaji tentang penduduk baik itu desakecamatan kabupaten provinsi maupun Negara, karakteristikmempunyai ciri-ciri khusus penduduk yang mampumembedakan dengan penduduk lainnya.Seperti dimasa lalau buku teks perilaku organisasimencatat bahwa perubahan akan cepat terjadi seiringterbentuknya jalan manajerial tenaga kerja yang didominasipria ras kulit putih menjadi tenaga kerja multietnis yangseimbang secara gender, dibandingkan dengan tahun 1976
       
      3
      saat ini wanita semakain mungkin dipekerjakan penuh waktu,memiliki pendidikan yang lebih tinggi, dan mendapatkan gajiyang sebanding dengan pria, selain itu 50 tahun terakhirkesenjangan pendapatan antara kulit putih dan kelompok rasdan etnis lain menurun siginfikan, perbedaan masa laluantara kulit putih dan orang asia telagh menghilang ataumalah sebaliknya.pekerja diatas 55 tahun merupakan porsiyang meningkat tajam pada anghkatan kerja.b.
       
      Karakteristik Boigrafis
       
      Umur
      Pemberi kerja menunjukkan perasaan yang berbedamengenai pekerja yang lebih tua.Mereka melihat sejumlahkualitas positif yang dimiliki pekerja yang lebih tua terhadappekerjaannya, seperti pengalaman, penilaian, etika kerjayang lebih baik, dan komitmen terhadap kualitas.Tetapipekerja yang lebih tua juga dinilai kurang fleksibel dan sulitmenerima teknologi baru.Banyak yang percaya bahwaproduktivitas menurun sejalan dengan umur. Seringdiasumsikan bahwa keahlian seperti kecepatan, ketangkasan,kekuatan, dan koordinasi melemah sepanjang waktu dankebosanan atas pekerjaan serta kurangnya stimulasiintelektual berkontribusi terhadap penurunan produktivitas

  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun.

    Selamat pagi. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap di rumah saja. Selamat datang di mata kuliah Perilaku Organisasi. Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang materi Sikap dan Kepuasan Kerja. Silahkan kalian pelajari dahulu materi dan PPT yang saya sajikan. Ada video sebagai bahan tambahan tentang sikap dan perilaku karyawan di perusahaan. Ada forum diskusi sebagai temapat kalau ada yang ingin mengomentari dan bertanyaa tentang materi kita pagi ini. Semoga tetap semangat ya... 

    • Sikap dan Kepuasan Kerja



      1.     Sikap
      Sikap (attitude) adalah pernyataan-pernyataan evaluatif baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek,individu,ataupun peristiwa. Menurut G.W Alport dalam (Tri Rusmi Widayatun, 1999 :218) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak. Seiring dengan pendapat G.W. Alport di atas Tri Rusmi Widayatun memberikan pengertian sikap adalah ΓÇ£keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannyaΓÇ¥.
      Sedangkan Jalaluddin Rakhmat ( 1992 : 39 ) mengemukakan lima pengertian sikap, yaitu:
      A.   Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok.
      B.    Sikap mempunyai daya penolong atau motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu; menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan diinginkan; mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari.
      C.  Sikap lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami pembahan.
      D. Sikap mengandung aspek evaluatif: artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan.
      E.  Sikap timbul dari pengalaman: tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.
      Menurt La Pierre (dalam Azwar, 2003) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Sedangkan menurut Soetarno (1994), sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.

      2.      Apa saja komponen utama dari sikap?
      ┬╖         Kognitif (cognitive) merupakan aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia, berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. (segmen opini atau keyakinan dari sikap)
      ┬╖         Afektif (affective) merupakan aspek emosional dari faktor sosio psikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya, aspek ini menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu. (segmen emosional atau perasaan dari sikap)
      ┬╖         Konatif (conative) merupan komponen aspek vohsional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.
      Ketiga komponen tersebut sangat berkaitan. Secara khusus, dalam banyak cara antara kesadaran dan perasaan tidak dapat dipisahkan. Sebagai contoh, seorang karyawan tidak mendapatkan promosi yang menurutnya pantas ia dapatkan, tetapi yang malah mendapat promosi tersebut adalah rekan kerjanya. Sikap karyawan tersebut terhadap pengawasnya dapat diilustrasikan sebagai berikut : opini, (karyawan tersebut berpikir ia pantas mendapat promosi itu), perasaan (karyawan tersebut tidak menyukai pengawasnya), dan perilaku (karyawan tersebut mencari pekerjaan lain). Jadi, opini / kesadaran menimbulkan perasaan yang kemudian menghasilkan perilaku ,dan pada kenyataannya komponen-komponen ini berkaitan dan sulit untuk dipisahkan.
      Para peneliti telah berasumsi bahwa sikap mempunyai tiga komponen, yaitu kesadaran, perasaaan dan perilaku. Kesadaran merupakan sebuah keyakinan, keyakinan bahwa ΓÇ£diskriminasi itu salahΓÇ¥ merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam ini adalah komponen kognitif (cognitive component) dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap.
      Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti ΓÇ£saya tidak menyukai pengawas karena ia mendiskriminasi orang-orang minoritasΓÇ¥. Perasaan bisa menimbulkan hasil akhir perilakuKomponen perilaku (behavioral component) adalah niat untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu. Jadi, untuk meneruskan contoh diatas ΓÇ£saya mungkin memilih untuk menghindari pengawas dikarenakan perasaan saya tentang iaΓÇ¥.
      Perlu diingat bahwa komponen-komponen ini sangat berkaitan. Secara khusus, dalam banyak cara kesadaran dan perasaan tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan karena kesadaran akan menimbulkan perasaan yang kemudian akan menghasilkan perilaku. Gambar dibawah ini menunjukkan hubungan dari tiga komponen sikap. Dalam contoh ini, seorang karyawan tidak mendapatkan promosi yang menurutnya pantas ia dapatkan, tetapi malah didapat oleh seorang rekan kerjanya. Sikap karyawan tersebut terhadap pengawasnya diilustrasikan sebagai berikut : kesadaran (karyawan tersebut berpikir ia pantas mendapatkan promosi tersebut), perasaan (karyawan tersebut sangat tidak menyukai pengawasnya), dan perilaku (karyawan tersebut mencari pekerjaan lain).

    • Assalamulaikum wr.wb. 

      Silahkan untuk menanggapi atau bertanya tentang materi tentang Emosi dan Suasana Hati

      Boleh juga menanggapi video yang saya share.  Semua join yaa. Terima kasih.

    • Assalamulaikum wr.wb. 

    • Selamat Pagi. Apa kabar kalian semua. 

    • Pembelajaran on line kita di perpanjang ya... Semoga kalian semua tetap semangat. Jalani saja prosesnya ya... Sehat semua kan?? Di situasi seperti ini kita harus tetap ikuti aturan di rumah aja, belajar dari rumah. Baik....Pada pagi ini kita akan membahas tentang Emosi dan Suasana Hati. Silahkan pelajari dahulu dari bahan pembelajaran yang saya ambil dari sumber lain. Ada PPT tentang bahasan hari ini.  Ada video sebagai materi tambahan. Ada forum diskusi silahkan untuk menanggapi atau bertanya tentang materi Emosi dan Suasana Hati.

    • Terima Kasih 



    • Di sebuah kantor, terdapat dua proyek yang harus dikerjakan dalam waktu yang sama. Kepala Kantor yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek-proyek tersebut, membagi anak-anak buahnya ke dalam kedua proyek dengan berbagai pertimbangan. Kepala Kantor menimbang berdasarkan kemampuan dan kompetensi tiap karyawan dalam membagi-baginya.

      Andi, salah seorang karyawan kantor tersebut, dimasukkan oleh Kepala Kantor ke proyek A. Saat melihat keputusan tersebut, Andi merasa kecewa karena tidak ditempatkan bersama rekan-rekan yang memang sudah cocok dengannya. Selain itu Andi merasa tidak cocok dengan orang-orang pada proyek A dan pernah merasa jengkel dengan salah satu orang di dalamnya.

      Andi mengajukan diri kepada Kepala Kantor untuk dipindahkan ke proyek B. Menurut Andi, orang-orang di proyek B lebih cocok dengannya dan Andi akan dapat bekerja lebih baik dan bersemangat di proyek B. Setelah mempertimbangkan permintaan Andi, Kepala Kantor memindahkan Andi ke proyek B dengan harapan agar kedua proyek berjalan dengan baik dan mencapai tujuannya.

      Dalam kasus di atas terlihat bahwa ada keterlibatan emosi Andi dalam melaksanakan pekerjaan. Emosi yang muncul terdiri dari dua kategori, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif Andi terlihat pada kecenderungannya pada orang-orang di proyek B yang akan membuatnya lebih semangat bekerja. Sedangkan emosi negatif terlihat pada kerisauannya saat dimasukkan ke dalam proyek A, dan rasa ketidakcocokannya pada orang-orang di proyek A.

      Emosi-emosi seperti ini dapat selalu ditemukan di setiap tempat kerja. Emosi pada dasarnya adalah sebuah perasaan seorang manusia yang secara intens diarahkan pada seseorang atau sesuatu hal. Emosi terbagi menjadi dua kategori: emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif contohnya antara lain cinta/afeksi, penerimaan, pemujaan, kebahagiaan, kesukaan, ketertarikan, kegairahan, semangat, kekaguman, dan keingintahuan. Sedangkan kegelisahan, keprihatinan, kerisauan, kecemasan, ketakutan, kesedihan, kekecewaan, keputus-asaan, kekesalan, kemurkaan, permusuhan, penyesalan, dan penghinaan merupakan contoh dari emosi negatif. Untuk melihat emosi dari seseorang dapat kita perhatikan dari respon yang dia tampilkan pada orang-orang yang berbeda maupun topik-topik pembicaraan tertentu. Emosi memengaruhi suasana hati (moods) manusia.

      Oleh karena itu, sebuah organisasi yang terdiri dari sekumpulan manusia yang saling berinteraksi di dalamnya tidak luput dari emosi. Emosi sapat berasal dari masa lalu ataupun dari saat ini. Emosi yang muncul dalam suatu organisasi dapat mengganggu kestabilan dan kinerja organisasi, atau justru meningkatkan kinerja organisasi.

      Pengambilan keputusan manajerial pun seringkali dipengaruhi oleh emosi. Misalnya, atasan yang memiliki emosi negatif kepada salah satu stafnya, besar kemungkinan akan jarang memberikan kepercayaan atas suatu pekerjaan kepada staf tersebut. Walaupun sebenarnya, staf tersebut memiliki kemampuan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.

      Bagi karyawan, fluktuasi emosi dapat memengaruhi perhatian dalam bekerja dan produktivitas. Hal-hal yang mempengaruhi emosi dalam organisasi, dan secara otomatis memengaruhi suasana hati antara lain kepribadian, waktu (suasana hati para karyawan biasanya akan semakin baik menjelang akhir minggu), tekanan di kantor, istirahat yang cukup, olahraga, usia, dan jenis kelamin.

      Emosi dalam organisasi memiliki fungsi salah satunya untuk menjadi kritik atas pemikiran rasional. Seperti, pembagian proyek dalam kasus tadi. Walau Kepala Kantor telah membagi sesuai dengan kemampuan, namun apabila ada ketidakcocokan antar personal justru dapat berakibat buruk bagi proyek. Fungsi lainnya yaitu menjadi motivasi. Misal, emosi positif yang ditampilkan oleh seorang staf (bekerja dengan perasaan bahagia) akan memengaruhi staf lain untuk memiliki emosi positif itu juga.


  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun.

    Selamat pagi. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap di rumah saja. Selamat datang di mata kuliah Perilaku Organisasi. Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang materi Kepribadian dan Nilai Silahkan kalian pelajari dahulu materi dan PPT yang saya sajikan. Ada materi bahasan tentang materi iini dari sumber lain. Ada video sebagai bahan tambahan tentang Kepribadian dan Nilai. Ada forum diskusi sebagai tempat kalau ada yang ingin mengomentari dan bertanya tentang materi kita pagi ini. Semoga tetap semangat ya... 

    Terima Kasih


    • Definisi Kepribadian: 
      Menurut Allport (Pasaribu & Simandjuntak, 1984:95) Kepribadian didefinisikan sb: Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system that determine his unique adjustment to his environment. yang kurang lebih memiliki arti bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis pada individu di dalam system psychophysical yang menentukan keunikan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Psychophysical berarti bahwa kepribadian meliputi mental dan neural (susunan syaraf) atau keseluruhan fisik-psikologis yang dimiliki seseorang
      Kepribadian (Muchlas, 2005: 84) didefinisikan sebagai gabungan dari semua cara dimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang-orang lain, atau kadang-kadang didefenisikan sebagai organisasi internal dari proses psikologis dankecenderungan perilaku seseorang.
      Menururt Stephen dan Timothy, (2008:127), kepribadan juga merupakan organisasi yang dinamis dalam sistem psikofisiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik terhadap lingkungan, atau dengan kata lain kepribadian merupakan keseluruhan cara dimana seseorang individu berekasi dan berinteraksi dengan individu lain.

      3 (tiga) komponen utama dari sikap, antara lain:
      1. Kognitif atau evaluasi Kognitif atau evaluasi adalah segmen opini atau keyakinan dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap.
      2. Afektif atau perasaan, Perasaan adalah segmen emosional atau perasaaan dari sebuah sikap, yang menimbukan hasil akhir perilaku.
      3. Perilaku atau tindakan Perilaku atau tindakan adalah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap sesuatu atau seseorang.

      Pembentukan Sikap
      Proses pembentukan sikap berlangsung secara bertahap, dimulai dari proses belajar. Proses belajar ini dapat terjadi karena pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan objek tertentu, seperti orang, benda atau peristiwa,dengan cara menghubungkan objek tersebut dengan pengalaman-pengalaman lain dimana seseorang telah memiliki sikap tertentu terhadap pengalaman itu atau melalui proses belajar sosial dengan orang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah (Azwar:1995,30):
      1. Pengalaman Pribadi Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis yang akan membentuk sikap positif dan sikap negatif. Pembentukan tanggapan terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang bersangkutan, situasi di mana tanggapan itu terbentuk, dan ciri-ciri obyektif yang dimiliki oleh stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
      2. Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang-orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain.
      3. Pengaruh Kebudayaan Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita terutama kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan. Kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula-lah yang memberi corak pengalaman-pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakatnya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.4. Media Massa Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Sebagai tugas pokoknya dalam menyampaikan informasi, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap. Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya. 
      5. Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama Kedua lembaga di atas, mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajarannya. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat membentuk sistem kepercayaan maka tidak mengherankan kalau konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal. 
      6. Pengaruh Faktor Emosional Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap ini dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang. Akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang dapat bertahan lama.  

      Tipe Sikap 
      Ada 3 (tiga) tipikal sikap seseorang, antara lain: (Ardana, 2009: 22) 
      1. Kepuasan kerja, seseorang yang mempunyai tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan cenderung menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan, demikian sebaliknya. 
      2. Keterlibatan kerja, sampai sejauh mana seseorang memihak pada pekerjaannya, berpartisipasi aktif didalamnya serta menanggapi kinerjanya sangat penting bagi organisasi. 
      3. Komitmen pada organisasi, sampai tingkat mana seseorang pegawai memihak pada organisasinya dan bertekad setia didalamnya.  
      Faktor-faktor Penentu Kepribadian 
      Kepribadian seseorang dihasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan kondisi situasional (Stephen dan Timothy, 2008:127), antara lain: 
      1). Faktor Keturunan Faktor keturunan ditransimisikan melalui ΓÇ¥genΓÇ¥, yang berada dalam kromosom, yang menentukan keseimbangan hormon, bentuk fisik, dan menentukan atau membentuk kepribadian. Kepribadian tidak seluruhnya dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang. 
      2). Faktor Lingkungan Faktor lingkungan yang dapat memberikan tekanan kepada kepribadian seseorang adalah kultur masyarakat dimana seseorang dibesarkan, norma-norma keluarga, teman-teman dan kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Kultur akan membentuk norma, sikap, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke genarasi berikutnya yang terus menerus berlangsung secara konsisten.
      3). Kondisi Situasional Kondisi situsional dapat mempengaruhi efek dari faktor-faktor keturunan dan lingkungan terhadapa kepribadian. Kepribadian seseorang meskipun relatif stabil dan konsisten, namun dapat berubah pada situasi-situasi yang berbeda. Tuntutan yang berbeda pada situasi yang berbeda dapat menimbulkan reaksi dan aspek yang berbeda pada kepribadian seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya tidak melihat corak kepribadian secara terisolasi, tetapi juga mengetahui bahwa situasi-situasi tertentu lebih relevan dari situasi-situasi lain dalam mempengaruhi kepribadian sehingga dapat dilihat adanya perbedaan-perbedaan individual yang signifikan.

        NILAI
                  Nilai (value) menunjukan alasan danar bahwa ΓÇ£cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan. Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik, atau diinginkan. Nilai memiliki sifat isi dan intensitas. Sistem nilai(value system) adalah sebuah hierarki yang didasarkan pada penggolongan nilai-nilai seorang individu menurut intensitas mereka.

      9.      PENTINGNYA NILAI
      Nilai penting terhadap penelitian prilaku organisasi karena menjadi danar pemahaman sikap dan motivasi individu, dan karena hal tersebut berpengaruh terhadap persepsi kita. Individu memasuki suatu organisasi dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya terjadi. Secara umum, nilai mempengaruhi sikap dan perilaku.
        
      10.  JENIS-JENIS NILAI
      A.    Rokeach Value Survey
      RVS terdiri atas dua kumpulan nilai, dengan setiap kumpulan memuat 18 pokok nilai individual. Satu kumpulan, yang disebut nilai terminal (terminal value), merujuk pada keadaan-keadaan akhir yang diinginkan. Kumpulan lainnya, disebut dengan nilai instrumental (instrumental value), merujuk pada perilaku atau cara-cara yang lebih disukai untuk mencapai nilai terminal.
      Bebrapa penelitian menegaskan bahwa nilai RVS berubah-ubah diantara setiap kelompok. Individu dalam pekerjaan atau kategori yang sama (misalnya, manajer perusahaan, anggota serikat kerja, orang tua, dan siswa) cenderung memiliki sifat yang sama.
      B.     Kelompok Kerja Kontemporer
      Bebeapa keterbataan dari analisis ini. Pertama, kita tidak membuat asumsi bahwa kerangka ini bisa diterapkan secara universal di seluruh kultur. Kedua, hanya terdapat sengat sedikit penelitian yang tepat mengenai nilai generasional, sehingga kita harus mengandalkan kerangka intuitif. Terakhir, hal ini merupakan kategori-kategori yang tidak tepat. Selain keterbatasan-keterbatasan ini, nilai memang mengalami perubahan dari generasi ke genarasi, dan terdapat beberapa pengetahuan berguna yang bisa diperoleh dari analisis nilai melalui cara ini.
      NILAI, KESETIAAN, DAN PERILAKU ETIS
      Kelompok
      Memasuki angkatan kerja
      Rata-rata usia saat ini
      Nilai-nilai kerja yang dominan
      Veteran
      1950-an / awal 1960-an
      65+
      Kerja keras, konservatif, patuh, loyal terhadap organisasi
      Boomer
      1965-1985
      Awal 40-an ΓÇô 60-an
      Keberhasilan, pencapaian, ambisi, tidak menyukai otoritas, loyal terhadap pekerjaan
      Generasi X
      1985-2000
      Akhir 20-an ΓÇô awal 40-an
      Keseimbangan kerja/kehidupan, berorientasi tim, tidak menyukai peraturan, setia pada hubungan-hubungan
      Nexter
      2000 sampai saat ini
      Di bawah 30
      Percaya diri, keberhsilan finansial, percaya diri tetapi berorientasi tim, setia pada diri sendiri dan hubungan-hubungan

    • Kepribadian dan Nilai

      1. Kepribadian
      2. Model Kepribadian
      3. Dark Triad
      4. Nilai
      5. Hubungan kepribadian dan Nilai
      6. Nilai-nilai Internasional
      7. Implikasi untuk manajer

  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun.

    Selamat pagi. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap di rumah saja. Selamat datang di mata kuliah Perilaku Organisasi. Alhamdulilah kita ketemu di pertemuan ke 6.  Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu. Silahkan kalian pelajari dahulu materi dan PPT yang saya sajikan. Ada video sebagai bahan tambahan tentang Persepsi dan Pengambilan keputusan individu di perusahaan. Ada tugas tentang studi kasus silahkan submit di lms. Ada forum diskusi sebagai tempat kalau ada yang ingin mengomentari dan bertanyaa tentang materi kita pagi ini. Semoga tetap semangat ya... 

    Terima Kasih. 

    • Persepsi dan Pengambialan Keputusan Individu

      1.      Pengertian persepsi

      2.      Faktor-faktor persepsi

      3.      Penialain atas orang lain

      4.      Teori Atribusi

      5.      Hubungan persepsi dengan keputusan

      6.      Pengambilan keputusan dalam organisasi

      7.      Perbedaan individu dan batasan organisasi

      8.      Etika pengambilan keputusan

      9.      Kreativitas

      Inplikasi bagi manajer

    • Persepsi
      Konsep Dasar Persepsi
      Persepsi  adalah suatu proses dimana seseorang melakukan pemilihan, penerimaan, pengorganisasian, dan penginterpretasian atas informasi yang diterimanya dari lingkungan. Jadi persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya.
      Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan. Namun apa yang merupakan persepsi seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang objektif. Karena perilaku orang didasarkan pada persepsi mereka akan realitas, dan bukan pada realitas itu sendiri, maka persepsi sangat penting pula dipelajari dalam perilaku organisasi.
      Faktor yang mempengaruhi Persepsi
      a.    Pelaku persepsi (Characteristics of the perceiver)
      Pelaku persepsi adalah penafsiran seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan. Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan merangsang individu dan mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka. Contoh-contoh seperti seorang tukang rias akan lebih memperhatikan kesempurnaan riasan orang daripada seorang tukang masak, seorang yang disibukkan dengan masalah pribadi akan sulit mencurahkan perhatian untuk orang lain, dls, menunjukkan bahwa kita dipengaruhi oleh kepentingan/minat kita. Sama halnya dengan ketertarikan kita untuk memperhatikan hal-hal baru, dan persepsi kita mengenai orang-orang tanpa memperdulikan ciri-ciri mereka yang sebenarnya.
      b.    Target (Characteristics of the perceived)
      Target adalah gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari target akan membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja suatu gambar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda. Selain itu, objek yang berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula. Contohnya adalah kecelakaan dua kali dalam arena ice skating dalam seminggu dapat membuat kita mempersepsikan ice skating sebagai olah raga yang berbahaya. Contoh : lainnya adalah suku atau jenis kelamin yang sama, cenderung dipersepsikan memiliki karakteristik yang sama atau serupa.
      c.    Situasi ( Situation Context)
      Situasi juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya saja, seorang wanita yang berparas lumayan mungkin tidak akan terlalu ΓÇÿterlihatΓÇÖ oleh laki-laki bila ia berada di mall, namun jika ia berada dipasar, kemungkinannya sangat besar bahwa para lelaki akan memandangnya.
      Secara singkat, faktor yang mempengaruhi persepsi dapat dilihat pada gambar berikut:
      Tiap orang mempunyai persepsi sendiri-sendiri karena dipengaruhi oleh perbedaan kemampuan inderanya dalam menangkap stimulasi dan Perbedaan kemampuan dalam menafsirkan atau memberi arti pada stimulasi tersebut. Indera merupakan filter masuknya stimulasi dalam kognisinya, dan kemudian orang memberi perhatian terhadap stimulasi itu untuk diberi arti. Namun perhatian seseorang tidak dapat menyeluruh, melainkan hanya pada aspek tertentu saja yaitu yang dianggap penting bagi dirinya.
      d.   Persepsi terhadap Orang Lain
      Secara lebih spesifik, penyimpanan persepsi pada manusia dapat terjadi dalam beberapa bentuk yang, menurut Stephen P.Robbin terdiri dari :
      1.    Stereotyping, yaitu penilaian yang diberikan oleh seseorang ke orang lain berdasarkan ciri-ciri spesifik yang memiliki kelompok dimana orang tersebut berasal.
      2.    Hallo Effect, yaitu memberikan kesan umum untuk seseorang didasarkan pada satu ciri pribadi
      3.    Projection, yaitu menyimpulkan seseorang berdasarkan cirri yang dimiliki oleh orang yang mempersepsi
      4.    Selective Perseption, yaitu seseorang yang melihat sesuatu ,pada kepentingan, latar belakang, dan harapan-harapan.
      Penyimpangan Pesepsi
      Sebagaimana dijelaskan diatas, selain persepsi dapat mempengaruhi perilaku, ada juga kemungkinan terjadinya penyimpangan persepsi dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, di bawah ini ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk mengaasi penyimpangan persepsi.
      a.     Menyadari kapan faktor perceptual dapat mempengaruhi persepsi seseorang.
      b.    Mencari informasi lain untuk mengonfirmasi yang kita tangkap.
      c.    Melurusakan persepsi seseorang melalui meminta umpan balik ketika mereka mempersepsi suatu situasi yang menyimpang.
      d.   Menghindari penyimpangan-penyimpangan yang umum terjadi seperti stereotype, hallo effect, dan lain-lain.
      e.    Menghindari terjadinya pengatribusian yang salah dengan cara menganalisis berbagai faktor yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam pengatribusian.
      1.      Penerapan Persepsi dalam Organisasi
      Persepsi memiliki banyak konsekuensi bagi organisasi. Didalamnya orang-orang selalu saling menilai. Berikut ini adalah beberapa penerapannya yang lebih jelas :
      a.    Wawancara karyawan
      Bukti menunjukkan bahwa wawancara sering membuat penilaian perseptual yang tidak akurat. Pewawancara yang berlainan akan melihat hal-hal yang berlainan dalam diri seorang calon yang sama. Jika wawancara merupakan suatu masukan yang penting dalam keputusan mempekerjakan, perusahaan harus mengenali bahwa faktor-faktor perseptual mempengaruhi siapa yang dipekerjakan dan akhirnya mempengaruhi kualitas dari angkatan kerja suatu organisasi.
      b.    Pengharapan kinerja
      Bukti menunjukkan bahwa orang akan berupaya untuk mensahihkan persepsi mereka mengenai realitas, bahkan jika persepsi tersebut keliru. Pengharapan kita mengenai seseorang/sekelompok orang akan menentukan perilaku kita.. Misalnay manager memperkirakan orang akan berkinerja minimal, mereka akan cenderung berperilaku demikian untuk memenuhi ekspektasi rendah ini.
      c.    Evaluasi kinerja
      Penilaian kinerja seorang karyawan sangat bergantung pada  proses perseptual. Walaupun penilaian ini bisa objektif, namun banyak yang dievaluasi secara subjektif. Ukuran subjektif adalah berdasarkan pertimbangan, yaitu penilai membentuk suatu kesan umum mengenai karyawan. Semua persepsi dari penilai akan mempengaruhi hasil penilaian tersebut.
      d.   Upaya karyawan
      Dalam banyak organisasi, tingkat upaya seorang karyawan dinilai sangat penting, jadi bukan hanya kinerja saja. Namun penilaian terhadap upaya ini sering merupakan suatu pertimbangan subjektif yang rawan terhadap distorsi-distorsi dan prasangka (bias) perseptual.
      e.    Kesetiaan karyawan
      Pertimbangan lain yang sering dilakukan manager terhadap karyawan adalah apakah karyawan tersebut setia atau tidak kepada organisasi. Sayangnya, banyak dari penilaian kesetiaan tersebut bersifat pertimbangan. Misalnya saja individu yang melaporkan tindakan tak etis dari atasan dapat dilihat sebagai bertindak demi kesetiaan kepada organisasi ataupun sebagai pengacau.
      f.     Pembentukkan Profil
      Pembentukkan stereotip dimana satu kelompok individu dipilih biasanya berdasarkan ras atau etnis untuk penyelidikan intensif, inspeksi ketat atau investigasi
      Pengambilan Keputusan
      1.    Konsep Dasar Pengambilan Keputusan
      Keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui satu pemilihan alternatif dari berbagai alternatif. Pengambilan keputusan adalah suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari berbagai alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.
      2.    Proses Pengambilan Keputusan
      Pengambil keputusan yang optimal adalah rasional. Artinya dia membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten dalam batas-batas tertentu. Terdapat asumsi-asumsi khusus yang mendasari model ini. Asumsi tersebut yaitu :
      a.    Model Rasional
      Enam langkah dalam model pengambilan keputusan rasional diurutkan sebagai berikut:
      ┬╖      Tetapkan masalah
      ┬╖      Identifikasikan criteria keputusan
      ┬╖      Alokasikan bobot pada criteria
      ┬╖      Kembangkan Alternatif
      ┬╖      Evaluasi alternative
      ┬╖      Pilihlah alternatif terbaik
      b.    Asumsi Model
      Model pengambilan keputusan rasional yang baru saja digambarkan mengandung sejumlah asumsi sebagai berikut :
      ┬╖      Kejelasan masalah
      ┬╖      Pilihan-pilihan diketahui
      ┬╖      Pilihan yang jelas
      ┬╖      Pilihan yang konstan
      ┬╖      Tidak ada batasan waktu atau biaya
      ┬╖      Pelunasan maksimum
      3.    Meningkatkan Kreativitas Dalam Pengambilan Keputusan
      Kreativitas penting bagi pengambil keputusan, hal ini memungkinkan pengambil keputusan untuk lebih sepenuhnya menghargai dan memahami masalah, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak dapat dilihat orang lain.
      a.    Potensial Kreatif
      Kebanyakan orang mempunyai potensial kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah pengambilan keputusan. Namun untuk melepaskan potensial tersebut, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebanyakan dari kita terlibat di dalamnya dan belajar begaimana berpikir tentang satu maslah dengan cara yang berlainan.
      b.    Model Kreatifitas Tiga Komponen
      Model ini mengemukakan bahwa kreativitas individual pada hakikatnya menuntut keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi tugas intrinsic. Semakin tinggi tingkat dari masing-masing ketig kompoen ini semakin tinggi kretivitasnya. Keahlian adalah landasan bagi semua kerja kretif. Komponen kedua adalah keterampilan berpikir kreatif, sedangkan komponen terakhir dalah motivasi tugas intrinsic.
      4.    Etika Dalam Pengambilan Keputusan
      Pertimbangan etis merupakan suatu criteria yang penting dalam pengambilan keputusan organisasioanalTiga cara yang berlainan untuk embuat kerangka keputusan dan memeriksa factor-faktor yang membentuk perilaku pengambilan keputusan etis. Tiga criteria keputusan etis tersebut yaitu :
      a.    Kriteria Utilitarian, keputusan diambil semata-mata atas hasil atau konsekuensi mereka. Pada kriteria ini mendorong efisiensi dan produktivitas, tetapi dapat mengakibatkan pengabaian hak dari beberapa individu.
      b.    Kriteria menekankan pada hak, mempersilahkan individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendasar. Penggunaan hak sebagai kriteria dapat memberikan kebebasan dan perlindungan kepada individu, tetapi dapat merintangi efisiensi dan produktivitas.
      c.    Kriteria menekankan pada keadilan, mensyartkan individu untuk mengenakan dan memperkuat aturan-aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfaat dan biaya yang pantas. Melindungi kepentingan individu yang kurang terwakili dan yang kurang berkuasa, tetapi kriterian ini dapat mendorong kepemilikian yang akan mengurangi pengambilan risiko, inovasi, dan produktivitas.
      5.    Fungsi dan Tujuan Pengambilan Keputusan
      a.    Fungsi Pengambilan Keputusan
      Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut :
      1)   Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional.
      2)   Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya menyangkut dengan hari depan/masa yang akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
      b.    Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan atas dua yaitu :
      1)   Tujuan bersifat tunggal yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah artinya sekali diputuskan dan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain.
      2)   Tujuan bersifat ganda yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang bersifat kontradiktif atau bersifat tidak kontradiktif.
      6.    Langkah dalam Pengambilan Keputusan
      Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan terdiri dari :
      a.    Tahap Identifikasi
      adalah tahap pengenalan masalah atau kesempatan muncul dan diagnosis dibuat. Sebab tingkat diagnosis tergantung dari kompleksitas masalah yang dihadapi  .
      b.    Tahap Pengembangan
      adalah merupakan aktivitas pencarian prosedur atau solusi standar yang ada atau mendesain solusi yang baru. Proses desain ini merupakan proses pencarian dan percobaan di mana pembuat keputusan hanya mempunyai ide solusi ideal yang tidak jelas.
      c.    Tahap Seleksi
      Tahap ini pilihan solusi dibuat, dengan tiga cara pembentukan seleksi yakni dengan penilaian pembuat keputusan : berdasarkan pengalaman atau intuisi, bukan analisis logis, dengan analisis alternatif yang logis dan sistematis, dan dengantawar-menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan dan semua manuver politik yang ada. Kemudian keputusan diterima secara formal dan otorisasi dilakukan.
      7.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
      Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yaitu :
      a.    Internal Organisasi seperti ketersediaan dana, SDM, kelengkapan peralatan, teknologi dan sebagainya.
      b.    Eksternal Organisasi seperti keadaan sosial politik, ekonomi, hukum dan sebagainya.
      c.    Ketersediaan informasi yang diperlukan.
      d.   Kepribadian dan kecapakan pengambil keputusan
      8.    Gaya Pengembalian Keputusan
      Terdapat pendekatan lain untuk perilaku pengambilan keputusan berfokus pada gaya yang digunakan manajer dalam memilih alternatif . Ada empat gaya pengambilan keputusan yaitu
      a.    Gaya Direktif
      Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah terhadap ambiguitas dan berorientasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis, dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat.
      b.    Gaya Analitik
      Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif daripada pembuat keputusan direktif.
      c.    Gaya Konseptual
      Pembuat gaya konseptual mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan.
      d.   Gaya Perilaku
      Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Gaya ini cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat yakni cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat serta menyukai informasi verbal daripada tulisan.
      9.    Tanggung Jawab Pengambilan Keputusan
      Seorang pengambil keputusan (decision maker) harus memenuhi berbagai syarat, terutama syarat intelektual dan mental, untuk dapat mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Pertama ia harus dapat membedakan antara responsibility for desiding atau tanggung jawab untuk mengambil keputusan, dan responsibility for doing, atau tanggung jawab untuk melakukan.


    • Studi kasus
      Contoh kasus :
      Suatu perusahaan hendak merekrut karyawan baru sehingga Manager HRD perusahaan melakukan wawancara terhadap para pelamar. Ketika manager memanggil 2 orang sekaligus untuk diwawancarai, orang pertama  masuk dengan penampilan yang kurang baik seperti pakaian yang memiliki noda, tidak memakai jas, rambut panjang, sepatu yang sudah usam, Manager HRD langsung memberikan penilaian negatif kepada pelamar tersebut karena melihat penampilannya yang tidak layak untuk datang di dalam wawancara. Namun ketika orang kedua masuk dengan pakaian rapi,wajah yang serius, dan berkharisma Manager tersebut langsung memberikan penilaian positif kepada pelamar tersebut bahwa pelamar ini yang lebih layak untuk masuk ke dalam perusahaan. Namun selama wawancara berjalan ternyata pelamar dengan penampilan yang kurang baik tersebut memiliki suatu cara pandang unik yang berbeda dari pelamar yang berpakaian lebih rapi, dan cara berpikir pelamar tersebutlah yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan, sehingga manager tersebut mengabaikan penampilan pelamar tersebut dan menerima pelamar tersebut untuk bekerja di dalam perusahaan.

      Pertanyaan 

      1. Apa persepsi anda mengenai studi kasus diatas ?

      2. Bagaimana keputusan yang sebaiknya di lakukan jika melihat kasus diatas.

      Instruksi :

      1. Submit Jawaban kalian ke assignment lms.darmajaya sampai jam 13.00 wib hari ini. 

       

  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun.

    Selamat pagi. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap di rumah saja. Selamat datang di mata kuliah Perilaku Organisasi. Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang materi Konsep Motivasi. Silahkan kalian pelajari dahulu materi dan PPT yang saya sajikan. Ada materi bahasan tentang materi iini dari sumber lain. Ada video sebagai bahan tambahan tentang Konsep Motivasi. Ada forum diskusi sebagai tempat kalau ada yang ingin mengomentari dan bertanya tentang materi kita pagi ini. Semoga tetap semangat ya... 

    Terima Kasih banyak



    • Konsep Motivasi

      1.      Teori hirarkhi kebutuhan

      2.      Teori X dan Y

      3.      Teori Dua Faktor

      4.      Teori Kebutuhan Mc.Clelland

      5.      Teori-Teori Kontemporer

      6.      Integrasi Teori-teori Motivasi

      7.      Imlikasi bagi manajer

      Tinjauan akhir

    • KONSEP MOTIVASI

      A. Pengertian Motivasi

      Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003:64) bahwa ΓÇ£motivasi merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari berbagai tenaga pendorong yang berupa desakan, motif, kebutuhan dan keinginan.ΓÇ¥ Motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara jiwa, sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan dalam diri seseorang.

      Sumadi Suryabrata (2010:70) juga berpendapat bahwa ΓÇ£motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan.ΓÇ¥ Dengan kata lain, motivasi adalah keadaan jiwa dan sikap mental yang memberikan energi dan mendorong manusia untuk melakukan suatu kegiatan.

      Menurut Mc Donald (Abdul Hadis, 2008:29) ΓÇ£Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuanΓÇ¥. Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu :

      1. Bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia
      2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa atau feeling, afeksi seseorang.
      3. Motivasi akan dirangsang karena ada tujuan.

      Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Sama halnya dengan yang dikatakan Hamzah B. Uno (2009:5) bahwa ΓÇ£motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuanΓÇ¥. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti (1) keinginan yang hendak dipenuhinya; (2) tingkah laku; (3) tujuan; (4) umpan balik.

      B. Jenis-Jenis Motivasi

      Pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

      Jenis-jenis motivasi yang dikemukakan para ahli berbeda-beda. Adapun menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2009:63) motivasi berdasarkan sifatnya dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:

      1. Motivasi takut atau fear motivation, individu melakukan sesuatu karena
      2. Motivasi intensif atau intensive motivation, individu melakukan perbuatan untuk mendapat suatu insentif.
      3. Sikap atau attitude motivation atau self motivation. Motivasi ini lebih bersifat intrinsik, muncul dari dalam diri individu, berbeda dengan kedua motivasi sebelumnya yang bersifat ekstrinsik dan datang dari luar diri

      Sedangkan menurut Sardiman (2008:86), motivasi dapat dilihat dari dasar pembentukannya, yaitu:

      1. Motif-motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari, misalnya dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual.
      2. Motif-motif yang dipelajari adalah motif-motif yang timbul karena dipelajari, misalnya dorongan untuk belajar, dorongan untuk mengajar.

      Kemudian Hamzah Uno (2011:4) menyatakan bahwa ΓÇ£dari sudut sumber yang menimbulkannya motif dibedakan dua macam, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik.ΓÇ¥ Motif intrinsik merupakan motif yang timbul atas kesadaran diri individu dan tidak memerlukan rangsangan dari luar. Sedangkan motif ekstrinsik merupakan motif yang timbul karena adanya rangsangan dari luar, seperti suasana yang kondusif, penghargaan dan hukuman atau ganjaran.

      Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya labih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan.

      Dari uraian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa motivasi dapat timbul dari diri sendiri ataupun dari luar dirinya. Maka, di sini peran guru adalah bagaimana caranya supaya peserta didik dapat membangkitkan motivasi belajarnya.

      C. Teori-Teori Motivasi

      Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Maman Ukas (2006:320) memaparkan beberapa teori motivasi sebagai berikut:

      1. Teori Hirearkhi Kebutuhan dari Abraham Maaslow
      2. Teori Dua Faktor dari F. Herzberg
      3. Teori X dan Teori Y dari Douglas Mc. Gregor
      4. Teori Harapan dari Vroom
      5. Teori N. Ach/Prestasi dari Mc. Clelland

      Untuk lebih jelasnya akan dibahas beberapa teori motivasi, berikut adalah uraiannya.

      1. Teori Motivasi Abraham Maslow (1943-1970)

      Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting

      • Kebutuhan Fisiologis

      Kebutuhan yang harus dipuaskan untuk dapat tetap hidup, termasuk makanan, perumahan, pakaian, udara untuk bernafas, dan sebagainya.

      • Kebutuhan Rasa Aman

      Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah dipuaskan, perhatian dapat diarahkan kepada kebutuhan akan keselamatan. Keselamatan itu, termasuk merasa aman dari setiap jenis ancaman fisik atau kehilangan, serta merasa terjamin. Pada waktu seseorang telah mempunyai pendapatan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kejiwaan seperti, membeli makanan dan perumahan, perhatian diarahkan kepada menyediakan jaminan melalui pengambilan polis asuransi, mendaftarkan diri masuk perserikatan pekerja, dan sebagainya.

      • Kebutuhan Sosial

      Ketika seseorang telah memuaskan kebutuhan fisiologis dan rasa aman, kepentingan berikutnya adalah hubungan antarmanusia. Kebutuhan sosial yang diperlukan pada tingkat ini, mungkin disadari melalui hubungan-hubungan antarpribadi yang mendalam, tetapi juga yang dicerminkan dalam kebutuhan untuk menjadi bagian berbagai kelompok sosial.

      • Kebutuhan akan Penghargaan

      Percaya diri dan harga diri maupun kebutuhan akan pengakuan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan orang lain, ingin mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari yang lainnya.

      • Kebutuhan Perwujudan Diri

      Kebutuhan tersebut ditempatkan paling atas pada hierarki Maslow dan berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri. Ketika semua kebutuhan lain sudah dipuaskan, seseorang ingin mencapai secara penuh potensinya. Tahap terakhir itu mungkin tercapai hanya oleh beberapa orang.

      Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.

      2. Teori Motivasi Herzberg (1966)

      Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik). Sedangkan faktor motivator, memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah penghargaan, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).

      3. Teori Motivasi Douglas Mc Gregor

      Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori Y (positif), Menurut teori X, empat pengandaian yang dipegang manajer:

      • karyawan secara interen tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
      • karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
      • Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
      • Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua faktor yang dikaitkan dengan kerja.

      Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :

      • karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
      • Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
      • Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
      • Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.

      4. Teori Motivasi Vroom (1964)

      Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat ia inginkan. Menurut Vroom (1964), tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:

      • Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
      • Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
      • Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif. Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan. Motivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan.

      5. Teori Achievement Mc Clelland (1961)

      Yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:

      • Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
      • Need for afilliation (kebutuhan akan hubungan sosial)
      • Need for Power (kebutuhan akan dorongan untuk mengatur)

      Dari uraian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa para ahli teori motivasi pada umumnya mereka berusaha memikirkan bagaimana caranya agar manusia bekerja, dapat didorong dan dipacu sehingga mereka berprestasi untuk memenuhi kebutuhannya baik dalam keperluan organisasi maupun kepentingan dirinya. Teori-teori tersebut juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk mempelajari bagaimana cara memotivasi siswa dalam belajar.




    • Kerjakan tugas berikut ini

    • PERATURAN  MENGERJAKAN SOAL UTS :

      1. Tulis Nama, NPM dan Kelas pada lembar jawaban anda.

      2. Berdoalah sebelum mengerjakan soal

      3. Dilarang mengopy atau menyalin hasil jawaban teman atau copy paste dari google.

      4. Submit jawaban anda ke lms @darmajaya.ac.id

      Terima Kasih

  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun.

    Selamat pagi. Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat dan tetap di rumah saja. Selamat datang di mata kuliah Perilaku Organisasi. Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang Dasar-dasar Perilaku Organisasi. Silahkan kalian pelajari dahulu materi dan PPT yang saya sajikan. Ada materi bahasan tentang materi iini dari sumber lain. Ada video sebagai bahan tambahan tentang Dasar-dasar Organisasi.  Ada forum diskusi sebagai tempat kalau ada yang ingin mengomentari dan bertanya tentang materi kita pagi ini. Semoga tetap semangat ya... 

    Terima Kasih banyak



    • Dasar-dasar Perilaku Kelompok

      1.      Klasifikasi Kelompok

      2.      Tahap-tahap Pengembangan kelompok

      3.      Peranan Norma dan Status

      4.      Pengambilan keputusan kelompok

      5.      Implikasi perilaku kelompok untuk Organisasi

      Tinjauan akhir Bab

    • Dasar-dasar Perilaku kelompok

      A.      Definisi Kelompok

      Robbins (2009: 356) menyatakan bahwa kelompok (group) didefinisikan sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
      Menurut  Muzafer Sherif, kelompok  adalah kesatuan  yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
      Menurut De Vito (1997), kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apayang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya.
      Sementara Gibson (1995) memandang kelompok dari empat kelompok prespektif, diantaranya :

      1. Dari sisi persepsi, kelompok dipandang sebagai kumpulan sejumlah orang yang  saling                      berinteraksi satu sama lain, dimana masing-masing anggota menerima kesan atau persepsi dari          anggota lain.
      2.   Dari sisi organisasi, kelompok adalah suatu sistem terorganisasi yang terdiri dari dua atau lebih       individu yang saling berhubungan dengan sistem menunjukkan beberapa fungsi, mempunyai              standar dari peran hubungan di antara anggota.
      3.   Dari sisi motivasi, kelompok dipandang sebagai sekelompok individu yang keberadaannya                sebagai suatu kumpulam yang menghargai individu.
      4.   Dari sisi interaksi, menyatakan bahwa inti dari pengelompokkan adalah interaksi dalam bentuk          interpedensi.
      Dari beberapa pandangan tersebut, Gibson menyimpulkan bahwa yang disebut kelompok itu adalah kumpulan individu dimana perilaku dan atau kinerja satu anggota dipengaruhi oleh perilaku dan atau prestasi anggota yang lainnya.

      B.       Klasifikasi Kelompok
      Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri, kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.
      1.   Kelompok Formal
            Kelompok formal yaitu kelompok-kelompok yang didefinisikan oleh struktur organisasi, dengann        penentuan tugas berdasarkan penunjukan penugasan kerja.  Kebutuhan dan proses organisasi            menimbulkan formulasi tipe ΓÇô tipe kelompok yang berbedaΓÇôbeda. Khususnya ada dua tipe                   kelompok formal, di antaranya :
      a.    Kelompok Komando (Command Group)
             Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasi. Kelompok terdiri dari bawahan yang                 melapor langsung kepada seorang supervisor tertentu. Hubungan wewenang antara manajer               departemen dengan supervisor, atau antara seorang perawat senior dan bawahannya,                         merupakan kelompok komado.
      b.    Kelompok Tugas (Task Group)
            Kelompok tugas terdiri dari para karyawan yang bekerja ΓÇô sama untuk menyelesaikan suatu tugas        atau proyek tertentu. Misalnya, kegiatan para karyawan administrasi dalam perusahaan asuransi          pada waktu orang mengajukan tuntutan kecelakaan, merupakan tugas yang harus dilaksanakan

      2.    Kelompok Informal
      Kelompok informal yaitu perhimpunan yang tidak terstruktur secara formal maupun secara organisasional. Dengan perkataan lain, kelompok informal tidak muncul karena dibentuk dengan sengaja, tetapi muncul secara wajar.
      Orang mengenal dua macam kelompok informal khusus diantaranya:
      a.   Kelompok Kepentingan (Interest Group)
            Orang yang mungkin tidak merupakan anggota dari kelompok komando atau kelompok tugas             yang sama, mungkin bergabung untuk mencapai sesuatu sasaran bersama. Para karyawan yang          bersama ΓÇô sama bergabung dalam kelompok untuk membentuk front yang terpadu menghadapi        manajemen untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak dan pelayan wanita yang                          mengumpulkan uang persen mereka merupakan contoh dari kelompok kepentingan. Perlu                   diketahui juga tujuan kelompok semacam itu tidak berhubungan dengan tujuan organisasi,                 tetapi  tujuan itu bersifat khusus bagi tiap ΓÇô tiap kelompok.

      b.    Kelompok Persahabatan (Friendship Group)
             Banyak kelompok dibentuk karena para anggotanya mempunyai sesuatu kesamaan, misalnya               usia, kepercayaan politis, atau latar belakang etnis. Kelompok persahabatan ini seringkali                     melebarkan interaksi dan komunikasi mereka sampai pada kegiatan diluar pekerjaan.
             Jika Pola gabungan karyawan dicatat, maka akan segera menjadi jelas bahwa mereka termasuk          dalam berbagai macam kelompok yang sering bersamaan. Maka diadakan perbedaan diantara            dua klasifikasi kelompok yang luar:  kelompok formal dan informal. Perbedaan utama antara                 keduanya adalah bahwa kelompok formal (kelompok komando dan kelompok tugas) dibentuk             oleh organisasi formal dan merupakan alat untuk mencapai tujuan, sedangkan kelompok                     informal (kelompok kepentingan dan kelompok persahabatan) adalah penting untuk keperluan           mereka sendiri (artinya, mereka memenuhi kebutuhan pokok akan berkelompok).

      C.   Tahap-tahap Perkembangan Kelompok
            Kelompok biasanya berkembang melalui sebuah urutan berstandar dalam evolusi mereka. Urutan        ini dapat daisebut sebagai model lima tahap perkembangan kelompok. Meskipun riset                        mengindikasikan bahwa tidak semua kelompok mengikuti pola ini, model tersebut adalah sebuah        kerangka yang berguna untuk memahami perkembangan kelompok.
            Model lima tahap perkembangan kelompok (five-stage group ΓÇôdevelopment model) menyebutkan        karakteristik perkembangan kelompok dalam lima tahap yang berbeda: pembentukan, timbulnya        konflik, normalisasi, hasil berupa kinerja, dan pembubaran.

      1.      Tahap Pembentukan (forming)
      Memiliki karakteristik besarnya ketidakpastian atas tujuan, struktur, dan kepemimpinan kelompok tersebut. Para anggotanya ΓÇ£menguji kedalaman airΓÇ¥ untuk menentukan jenis-jenis perilaku yang dapat diterima. Tahap ini selesai ketika para anggotanya mulai menganggap diri mereka sebagai bagian dari kelompok.
      2.      Tahap Timbulanya Konflik (storming stage)
      Yaitu satu dari konflik intrakelompok. Para anggotanya menerima keberadaan kelompok tersebut tetapi terdapat penolakan terhadap batasan-batasan yang diterima kelompok tersebut terhadap setiap individu. Lebih jauh lagi, terdapat konflik atas siapa yang akan mengenalikan kelompok tersebut. Ketika tahap ini selesai terdapat sebuah hierarki yang relatif jelas atas kepemimpinan dalam kelompok tersebut.
      3.      Tahap Normalisasi (norming stage)
      Yaitu tahap di mana hubungan yang dekat terbentuk dan kelompok tersebut menunjukan kekohesifan. Terdapat sebuah rasa yang kuat akan identitas kelompok dan persahabatan. Tahap ini selesai ketika struktur kelompok tersebut menjadi solid dan kelompok telah mengasimilasi serangkaian ekspektasi umum definisi yang benar atas perilaku anggota.
      4.      Tahap Berkinerja (performing)
      Yaitu tahap ketika kelompok tersebut sepenuhnya fungsional dan diterima. Energi kelompok telah berpindah dan saling mengenal dan memahami menjadi mengerjakan tugas yang ada.
      5.      Tahap Pembubaran (adjourning stage)
      Yaitu tahap terakhir dalam perkembangan kelompok untuk kelompok-kelompok sementara, dikarakteristikan oleh perhatian untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas dibandingkan penampilan tugas.
      Kelompok-kelompok sementara dengan tenggat waktu tampaknya tidak mengikuti model sebelumnya. Model yang mereka pakai ialah Model Ekuilibrium tersebar (punctuated-equilibrium model), yang merupakan transisi kelompok-kelompok sementera yang melalui antara inersia dengan aktivitas. Berbagai penelitian mengindikasikan bahwa mereka memiliki urusan tindakan (atau tidak bertindak) mereka sendiri yang unik, antara lain:
      1.   Pertemuan pertama mereka menentukan arah kelompok tersebut
      2.   Fase pertama dari aktifitas kelompok ini adalah inersia (ketidakaktifan)
      3.   Sebuah transisi terjadi pada akhir fase pertama ini, tepat ketika kelompok tersebut menggunakan setengah dari waktu yang dimilikinya
      4.   Sebuah transisi yang mencetuskan perubahan besar
      5.   Sebuah fase kedua inersia mengikuti transisi oleh akselerasi aktivitas yang sangat mencolok
      Pertemuan terakhir kelompok tersebut dikarakteristikan oleh akselerasi aktivitas yang sangat mencolok.

      D.      Peran, Norma, Status, Ukuran dan Kekohesifan dalam Kelompok
      1.      Peran
      Istilah ini dimaksudkan sebagai serangkaian pola perilaku yang dikaitkan erat dengan seseorang yang menempati sebuah posisi tertentu dalam sebuah unit sosial. Pemahaman atas perilaku peran akan secara dramatis disederhanakan jika masing-masing dari kita memilih satuperan dan memainkannya secara teratur dan konsisten. Sayangnya, kita diharuskan memainkan sejumlah ragam peran, baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan kita. 
      2.      Norma
      Norma adalah standar-standar perilaku yang dapat diterima dalam sebuah kelompok yang dianut oleh para anggota kelompok. Norma memberi tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan di bawah keadaan-keadaan tertentu. Dari sudur seorang individu, norma-norma tersebut memberi tahu apa yang diharapkan dari seorang Anda dalam situasi-situasi tertentu. Ketika disetujui dan diterima oleh kelompok, norma berlaku sebagai cara untuk memengaruhi perlaku dari anggota kelompok dengan kontrol eksternal yang minimum. Norma berbeda antar kelompok, komunitas, dan  masyarakat, tetapi mereka semua memilikinya.
      3.      Status
      Status adalah sebuah posisi atau pangkat yang  didefinisikan secara sosial yang diberikan kepada kelompok atau anggota kelompok oleh orang lain-meresap  dalam setiap masyarakat. Meskipun telah ada banyak usaha, kita hanya mendapat sedikit kemajuan menuju sebuah masyarakat tanpa kelas. Bahkan kelompok yang paling kecil akan mengembangkan peran-peran, hak-hak, dan ritual-ritual untuk membedakan para anggotanya. Status adalah faktor penting dalam memahami perilaku manusia karena hal ini adalah sebuah motivator signifikan dan memiliki kensekuensi-konsekuensi perilaku besar ketika individu-individu menerima perbedaan antara apa yang mereka percaya sebagai status dna apa yang dirasakan oleh orang lain.
      4.      Ukuran
      Apakah ukuran dari sebuah kelompok memengaruhi perilaku kelompok secara keseluruhan? Jawaban atas pertanyaan ini pastinya adalah Ya, tetapi pengaruhnya bergantung pada variabel yang Anda lihat. Sebagai contoh, bukti yang ada mengindikasikan bahwa kelompok yang lebih kecil lebih cepat dalam menyelesaikan tugas daripada kelompok yang lebih besar, dan bahwa individu-individu berkinerja lebih baik dalam kelompok yang lebih kecil. Tetapi, jika kelompok tersebut terlibat dalam pemecahan masalah, kelompok besar secara konsisten mendapat nilai yang lebih baik dibandingkan yang lebih kecil.
      Salah satu penemuan paling penting yang berhubungan dengan ukuran sebuah kelompok telah diberi label kemalasan sosial (social loafing). Kemalasan sosial adalah sebuah kecenderungan para individu untuk mengeluarkan usaha yang lebih sedikit ketika bekerja secara kolektif daripada ketika bekerja secara individual. Hal tersebut secara langsung bertentangan dengan logika bahwa produktivitas dari sebuah kelompok sebagai keseluruhan setidaknya harus seimbang dengan jumlah produktivitas setiap individu dalam kelompok tersebut.
      5.      Kekohesifan
      Kelompok-kelompok berbeda dalam kekohesifan mereka, yaitu, tingkat di mana para anggotanya saling tertarik dan termotivasi untuk tinggal dalam kelompok tersebut. Misalnya, beberapa kelompok kerja menjadi  kohesif karena para anggotanya telah menghabiskan banyak waktu bersama, atau ukuran kelompok yang kecil memfasilitasi adanya interaksi yang tinggi, atau kelompok tersebut telah mengalami ancaman-ancaman eksternal yang menjadikan mereka lebih dekat. Kekohesifan penting karena berhubungan dengan produktivitas kelompok.
      Berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa hubungan kekohesifan dan produktivitas bergantung pada norma-norma terkait kinerja yang ditetapkan oleh kelompok. Jika norma-norma terkait kinerja tinggi, kelompok kohesif akan lebih produktif dibandingkan dengan kelompok yang kurang kohesif. Namun jika kekohesifan tinggi dan norma kinerja rendah, produktivitas akan rendah. Jika kekohesifan rendah dan norma kinerja tinggi, produktivitas meningkat, tetapi lebih sedikit bila dibandingkan pada situasi kekohesifan tinggi/norma tinggi.

      E.     Pengambilan Keputusan Kelompok
      1.      Pengertian keputusan
      Pengambilan keputusan sering dijelaskan sebagai tindakan memilih di antara beberapa kemungkinan. Pengambilan keputusan adalah suatu proses lebih pelik dari sekedar memilih di antara beberapa kemungkinan.
      Banyak perdebatan muncul saat menentukan efektivitas pengambilan keputusan secara individu atau kelompok. Secara kelompok biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai keputusan, tetapi dengan pengambilan keputusan kelompok dapat mengikut-sertakan spesialis dan ahli akan menguntungkan karena interaksi di antara mereka akan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Pada kenyataannya, banyak para peneliti menyatakan bahwa keputusan konsensus dengan lima atau lebih peserta akan lebih baik, karena akan mendapatkan pengumpulan suara terbanyak dan keputusan memimpin kelompok.
      Keputusan tertentu tampaknya memang menjadi lebih baik jika dibuat oleh kelompok, seperri Keputusan tidak terprogram lebih cocok jika dibuat oleh kelompok.
      2.      Hal yang harus di perhatikan proses kelompok dalam membuat keputusan tak terprogram
      Hal-hal berikut ini berhubungan dengan proses kelompok saat membuat keputusan tak terprogram, yaitu:
      a.  Penetapan tujuan: kelompok lebih unggul dibandingkan individu sebab kelompok memiliki pengetahuan lebih banyak dibandingkan individu.
      b.  Identifikasi alternatif: usaha individu sebagai bagian dari anggota kelompok akan merangsang pencarian lebih luas diberbagai area fungsional di organisasi.
      c.  Evaluasi alternatif: pertimbangan kolektif dari kelompok dengan berbagai sudut pandang lebih unggul dibanding individu.
      d.  Memilih alternatif: interaksi kelompok dan pencapaian konsensus biasanya menghasilkan penerimaan resiko lebih besar dibanding individu. Keputusan kelompok juga biasanya lebih dapat diterima sebagai hasil dari partisipasi bersama.
      e.  Implementasi keputusan: dibuat oleh kelompok atau tidak, penyelesaian biasanya dilakukan oleh seorang saja manajer. Individu bertanggungjawab untuk implementasi keputusan kelompok.
      3.      Teknik pengambilan keputusan kelompok
      Dalam pengabilan suatu keputusan, terdapat suatu teknik yang digunakan. Teknik tersebut antara lain:
      a.   Kelompok interaktif, yaitu anggota berinteraksi secara langsung dengan anggota lain.
      b.   Kelompok nominal , yaitu membatasi komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan keputusan , karena masing-masing individu mengemban tugas secara independen.
      4.      Bentuk teknik pengambilan keputusan kelompok
      Terdapat 3 bentuk teknik dalam pengambilan keputusan kelompok, antara lain:
      a.  Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok Delphi, umumnya digunakan untuk mengambil keputusan meramal masa depan yang diperhitungkan akan dihadapi organisasi. Teknik ini sangat sesuai untuk kelompok pengambil keputusan yang tidak berada di satu tempat. Pengambil keputusan menysun serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan suatu situasi peramalan dan menyampaikannya kepada sekelompok ahli. Para ahli tersebut ditugaskan untuk meramalkan, apakah suatu peristiwa dapat atau mungkin terjadi atau tidak.
      b.  Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok Nominal, adalah rapat kelompok yang terstruktur terdiri dari 7-10 individu duduk berkumpul tetapi tidak berbicara satu sama lainnya. Setiap orang menulis gagasannya di selembar kertas. Setelah 5 menit, dilakukan saling tukar pikiran yang terstruktur. Setiap orang mengajukan satu gagasan. Seseorang yang ditunjuk sebagai notulen mencatat seluruh gagasan itu di kertas di depan seluruh anggota kelompok.
      c.  Teknik Pengambilan Keputusan dengan Pertemuan Elektronik, Pendekatan yang terbaru untuk             pengambilan keputusan kelompok adalah mencampurkan teknik kelompok nominal dengan               teknologi komputer canggih. Bentuk ini disebut dengan pertemuan elektronik (electronic                     meeting). Jika tehnologi sudah dipakai, konsepnya sederhana saja. Sampai dengan lima puluh             orang duduk mengelilingi meja berbentuk U (tapal kuda) yang disana hanya ada seperangkat             terminal komputer. Masalah dipresentasikan kepada para peseta pertemuan dan meraka mengetik    tanggapan mereka ke layar komputer. Komentar individu, serta jumlah suara diperlihatkan di layar            proyeksi di ruangan tersebut.

      5.      Kelebihan pengambilan keputusan kelompok
      Menurut Mansoer (1989:69) ada beberapa kelebihan keputusan kelompok dibandingkan dengan keputusan individual, antara lain:
      a.  Informasi yang lengkap lebih mungkin diadakan. Dalam kelompok terhimpun banyak pengalaman       dan pandangan daripada seorang.
      b.  Banyak alternatif yang muncul, karena kelompok mempunyai informasi banyak dalam jumlah dan       ragamnya dan dapat mengidentifikasi lebih banyak kemungkinan. Lebih-lebih lagi kelompok itu           terdiri atas berbagai keahlian dan latar belakang pengalaman.
      c.  Keputusan kelompok lebih berterima. Hal ini disebabkan karena keputusan kelompok lebih                  menelaah banyak pandangan dan pendapat, sehingga keputusannya lebih besar kemungkinan            mendapat persetujuan lebih dari banyak orang.
      d.  Meningkatkan kesempatan terlaksananya hak orang banyak. Keputusan kelompok lebih sesuai             dengan hak demokrasi. Mengingat banyak kesempatan oleh manajer untuk mengambil                       keputusan    sendiri, maka mengambil kebijaksanaan untuk memberi kesempatan kepada orang         lain yang ahli untuk turut mengambil kebagian dalam pengambilan keputusan, adalah merupakan       upaya meningkatkan legistimasi orang lain.

        6.      Kekurangan pengambilan keputusan  kelompok
      Selain memiliki kelebihan, pengambilan keputusan secara kelompok juga tidak lepas dari beberapa kelemahan, di antaranya adalah:
      a.  Memakan waktu. Keputusan kelompok diperoleh dari hasil diskusi yang panjang, banyak waktu          dipakai untuk rapat-rapat, sedangkan pengambilan keputusan sendiri oleh manajer bisa diambil           dalam waktu singkat, tepat pada saat masalahnya timbul.
      b.  Dominasi minoritas. Tidak mungkin dalam satu kelompokterwakili semua kepentingan dalam               organissi dan seringkali hanya terdiri atas segelintir orang saja. Kesempatan ini oleh para anggota       kelompok sering digunakan untuk memenangkan kepentingan orang-orangtertentu dalam                 organisasinya yang sengaja atau tidak sengaja diwakilinya. Ada kecenderungan dia mendominasi         kepentingan orang terbanyak.
      c.   Tekanan untuk menyesuaikan. Dalam kelompok ada saja golongan yang mempunyai pengaruh            dan menekan kelompok untuk menyesuaikan diri dengan kehendaknya.
      d.  Tanggungjawab tersamar. Pada keputusan individual jelas siapa yang bertanggungjawab, tapi                keputusan kelompok dari mereka (para anggota) tidak bisa dimintai pertanggungjawaban                    perorangan. Tanggung jawab perorangan luluh dalam tanggungjawab bersama.

      7.      Perbandingan pengambilan keputusan individu dan kelompok
      Apabila dilihat keefektifan dan efisiensi antar pengambilan keputusan kelompok atau individu, maka hal tergantung kepada kriteria apa yang dipakai sebagai ukuran efektif. Bila diukur dengan derajat akurasi, barangkali keputusan kelompok lebih akurat. Fakta membuktikan keputusan kelompok lebih baik daripada keputusan individu. Tetapi tidak berarti bahwa secara bersama kelompok lebih bermutu dari perseorangan. Bila dimaksud dengan efektif adalah ukuran kecepatan maka keputusan individual jadi lebih efektif. Kalau kreativitas yang jadi ukuran keefektifan maka keputusan kelompok adalah lebih efektif. Ukuran keefektifan lain, mungkin dukungan persetujuan, maka keputusan kelompok jadi lebih efektif. Dalam kerja kelompok pengambil keputusan, telah teruji bahwa jumlah anggota 5 sampai 7 orang adalah  produktif dan efektif. Efektif tentu diacu juga dengan efisiensi. Keputusan kelompok bisa jadi tidak efisien dibandingkan dengan keputusan individual, bila diukur dari waktu yang dipakai untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan bentuk mana yang akan dipakai bergantung kepada aspek yang mana yang dipentingkan, efektivitas atau efisiensi.


    • Memahami Kerja Tim

      1.      Popularitas Tim

      2.      Perbedaan Kelompok dan Tim

      3.      Tipe Tim

      4.      Tim efektif

      5.      Individu pemain Tim

      6.      Implikasi bagi manajer

      Tinjauan akhir bab

    • Memahami Kerja Sama Tim

      Mengapa Tim menjadi begitu populer ?Tim biasanya bekerja lebih baik daripada individu ketika tugas-tugasnya yangdilakukan membutuhkan banyak keterampilan, pendapat, dan pengalaman.Tim lebih fleksibel dan responsif terhadap berbagai peristiwa yang selaluberubah daripada departemen-departemen tradisional atau bentuk-bentukpengelompokan permanen lainnya.Tim memiliki kecakapan untuk berkumpul, menyebarkan, berkumpul kembali,dan membubarkan diri dengan cepat.Tim memudahkan partisipasi karyawan dalam membuat berbagai keputusan.Sebagai contih, beberapa pekerja lini perakitan di John Deere merupakan bagian dari tim-tim penjualan yang membantu para pelanggan. Jadi penjelasanlain tim untuk popularitas tim adalah merupakan sebuah cara yang efektif bagimanajemen untuk mendemokratisasi organisasi mereka dan meningkatkan motivasi karyawan.∩é╖Perbedaan antara Kelompok dan TimKelompok dan tim bukanlah hal yang sama. Dalam bagian ini kita akanamembahas mengenai perbedaan antara kelompok kerja dan tim kerja.Kelompok kerja (work group) adalah kelompok yang berinteraksi terutamauntuk berbagi informasi dan membuat berbagai keputusan untuk membantusetiap anggota bekerja di dalam area tanggung jawabnya. Kelompok kerja tidakmempunyai kebutuhan atau kesempatan untuk terlibat dalam kerja kolektif yangmembutuhkan usaha bersama. Tim Kerja (work team) adalah menghasilkan sinergi positif melalui usaha yangterkoordinasi. Usaha-usaha individual mereka menghasilkan satu tingkat kinerjayang lebih tinggi daripada jumlah masukan individual. 
      hanya semata-mata menyebut sebuah kelompok sebagai timtidak otomatismeningkatkan kinerjanya. Seperti yang akan ditunjukkan dalam bab ini, tim yangefektif memiliki berbagai karakteristik umum.Jenis – jenis TimDalam bagian ini membahas empat jenis yang paling umumyang kemungkinanbesar akan temui dalam sebuah organisasi : tim penyelesai masalah, timkerja yang mengelola diri sendiri, tim lintas fungsional, dan tim virtual.

      1. Tim Pemecah MasalahTim ini terdiri dari 5 sampai 12 karyawan jam-jaman dari suatu departemen yang bertemu selama beberapa jam tiap pekan untuk membahas perbaikankualitas, efisiensi dan lingkungan kerja. Dalam tim pemecah masalah,anggota bernagi gagasan atau menawarkan saran mengenai bagaimana proses dan metode kerja dapat diperbaiki. Tetapi jarang tim-tim diberiwewenang untuk melaksanakan secara sepihak setiap tindakan mereka yang disarankan.
       
      Tim Kerja yang di kelola sendiri kelompok karyawan (biasanya 10 sampai 15 orang) yang memikul tanggung jawab dari mantan penyelia mereka. Tim ini mencakup kerja tentang perencanaan dan penjadwalan kerja, kontrol kolektif atas langkah kerja,membuat keputusan operasi dan mengambil tindakan atas permasalahan. Tim ini bahkan memilih anggotanya sendiri dan menyuruh anggota itu untuksaling menilai kinerja.

      3. Tim Fungsional Silangadalah tenaga kerja dari tingkat hirarki yang sama, tetapi dari tempat pekerjaan yang berbeda. Tim Fungsional Silang merupakan cara efektifyang memungkinkan orang-orang dari aneka bidang dalam suatu organisasi(atau bahkan antar organisasi) untuk bertukar informasi, mengembangkan
       

      gagasan baru dan memecahkan masalah, serta mengkoordinasikan proyekyang rumit.

      4. Tim Virtual adalah tim yang menggunakan teknologi komputer untuk mengikat secarafisik secara bersama membagi anggota untuk mencapai tujuan bersama. Mereka mengizinkan orang untuk bergabung secara langsung denganmenggunakan komunikasi langsung diantaranya seperti lokasi jaringankerja, video konfrensi dan e-mail. Tim virtual terdiri atas anggota anggota yang tersebar secara geografis dan organisasional yang terikat terutama olehkemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi. Tim virtual seringmeliputi para pekerja lepas, anggota organisasi rekanan, pelanggan, pemasok, konsultan, atau pihak  ΓÇô   pihak luar lainnya. Salah satu keuntunganutama tim virtual adalah kemampuan untuk dengan cepat mengumpulkankelompok orang yang paling tepat untuk menyelesaikan proyek yangkompleks, memecahkan masalah tertentu, atau mengekploitasi peluang strategis tertentu. 

      5. Sistem Multitim (Multiteam system )Suatu pengumpulan dua atau lebih tim yang saling bergantung yang berbagitujuan dari atasan. tim ini terdiri dari atas banyak tim.
      D. Menciptakan Tim-Tim yang Efektif
      Efektifitas tim kerja didasarkan pada dua Poin pertama tim berbeda dalam bentuk struktur. Untuk menggeneralisasikan seluruh varietas tim tetapimengihindar dengan ketat dalam prediksinya pada seluruh tim . Keduamengansumsikan kerja tim lebi disukai dengan kerja individu .Menciptakan tim yang efektif para individu dapat melakuakn pekerjaan yanglebih baik seperti memecahkan permasalahan dengan sempurna.Komponen utama tim efektif yaitu:1.
       
      Sumber daya dan pengaruh kontekstual yang membuat tim menjadi efektif.2.
       
      Terkait komposisi dari tim.3.
       
      Variabel proses adalah peristiwa tim yang memengaruhi efektivitas 

    • Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan submit ke assignment lms.

      1. Apakah perbedaan dari kelompok dan tim. Apakah ada persamaan antara kelompok dan tim. Jelaskan dengan jelas.

      2. Apakah lima tipe dari tim? Jelaskan satu persatu.

      3. Apakah yang di maksud dengan tim yang effektif. Jelaskan   

      4. Bagaimana membentuk tim yang effektif. Jelaskan.

      5. Kapan sebaikknya pekerjaan dilakukan oleh kelompok, kapan sebaiknya pekerjaan dilakukan oleh tim. Berikan contoh untuk jawaban kalian.

      Terima kasih

  • Assalamualikum wr. wb. Tabik pun. 

    Selamat datang di matakuliah Perilaku Organisasi pada pagi hari ini. Apa kabar kalian? Semoga selalu sehat ya. Tetap terus semangat dalam perkuliahan daring kita. Topik materi pembelajaran kita adalah Komunikasi. 

    Materi tentang Komunikasi dapat kalian baca dan kalian pahami dulu. Saya share PPT dan materi tentang Komunikasi. Saya juga tampilkan bacaan tentang Komunikasi dari sumber yang lain yang bisa menambah pengetahuan tentang materi Komunikasi. Ada pula video yang menginspirasi bagaimana berkomunikasi yang baik terutama di tempat kerja. Kalian dapat menyimak video tersebut. Ada forum diskusi yang membahas tentang komunikasi. Silahkan untuk menanggapi dan berkomentar tentang nateri ini. Terima kasih.

    Wassalamualikum. wr.wb

    • Komunikasi

      1.      Fungsi komunikasi

      2.      Proses komunikasi

      3.      Arah komunikasi

      4.      Komunikasi organisasi

      5.      Mode komunikasi

      6.      Saluran komunikasi

      7.      Komunikasi persuasif

      8.      Hambatan komunikasi

      Implikasi glob

    • Pengertian Komunikasi | Fungsi, Tujuan, Unsur-Unsur, dan Jenis-Jenisnya

      Pengertian komunikasi ΓÇô Komunikasi adalah pertukaran informasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan maksud dan tujuan tertentu. Kita tentu sering melakukan proses komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, saat berbicara dengan teman atau saat berkirim pesan teks. Meski begitu definisi komunikasi dapat diartikan lebih luas.

      Ada banyak jenis-jenis komunikasi yang ada, mulai dari komunikasi verbal dan non-verbal, komunikasi lisan dan tulisan, komunikasi satu arah dan dua arah, komunikasi langsung dan tidak langsung serta bentuk-bentuk komunikasi yang lainnya.

      Untuk itu arti komunikasi tidak hanya terbatas melalui komunikasi secara lisan. Faktanya tiap ahli juga memiliki teori dan pendapat masing-masing mengenai apa pengertian komunikasi yang benar dan tepat serta mencakup semua ciri-ciri, karakteristik dan unsur komunikasi itu sendiri.

      Definisi Komunikasi Secara Umum

      Pengertian komunikasi secara umum adalah proses pengiriman dan penerimaan informasi atau pesan antara dua individu atau lebih dengan efektif sehingga bisa dipahami dengan mudah. Komunikasi terjadi saat pesan disampaikan oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima pesan.

      Dalam komunikasi juga terdapat unsur-unsur komunikasi yang harus dipenuhi. Adapun komponen komunikasi meliputi komunikator atau pengirim pesan, komunikan atau penerima pesan, media atau perantara, pesan atau informasi, efek yang ditimbulkan serta umpan balik.

      Fungsi Komunikasi

      Ada beberapa fungsi dan tujuan komunikasi bagi keberlangsungan manusia sebagai makhluk sosial. Berikut merupakan beberapa fungsi komunikasi secara umum.

      • Memberikan informasi dan pengetahuan
      • Menyampaikan pikiran atau pendapat
      • Mendapatkan hiburan
      • Menjaga tali silaturrahmi
      • Melakukan interaksi dengan orang lain
      • Membujuk atau mensugesti orang lain
      • Mengenal diri sendiri
      • Mengisi waktu luang
      • Memotivasi orang lain
      • Mengambil keputusan yang tepat
      • Mengekspresikan emosi dalam jiwa
      • Menjaga hubungan baik
      • Menjaga diri agar tidak terisolasi di masyarakat

      Unsur-Unsur Komunikasi

      Dalam proses komunikasi, terdapat beberapa unsur yang selalu ada. Berikut merupakan 6 unsur-unsur komunikasi dan penjelasannya.

      1. Komunikator, yakni pihak pengirim pesan atau sender.
      2. Pesan/informasi, yakni keseluruhan apa yang disampaikan oleh komunikator.
      3. Sarana, yakni media perantara penyalur pesan.
      4. Komunikan, yakni pihak penerima pesan atau receiver.
      5. Umpan balik, yakni reaksi atau jawaban penerima pesan terhadap pesan yang ia terima (feed back).
      6. Dampak, yakni efek yang ditimbulkan berupa perbedaan yang dialami komunikan sebelum dan sesudah menerima pesan.

      Jenis-Jenis Komunikasi

      Komunikasi memiliki berbagai macam dan bentuk, tergantung indikator yang dijadikan faktor klasifikasi. Berikut merupakan beberapa jenis-jenis komunikasi secara umum.

      Menurut Cara Penyampaiannya

      • Komunikasi verbal, yakni jenis komunikasi secara umum lewat kata-kata lisan atau tulisan.
      • Komunikasi non-verbal, yakni jenis komunikasi lewat gestur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata dan bentuk non-verbal lainnya.

      Menurut Jenis Pesannya

      • Komunikasi lisan, yakni jenis komunikasi yang disampaikan lewat ucapan kata-kata.
      • Komunikasi tulisan, yakni jenis komunikasi lewat media tulisan secara tidak langsung.

      Menurut Kelangsungannya

      • Komunikasi langsung, yakni bentuk komunikasi yang disampaikan langsung dengan bertatap muka tanpa ada perantara.
      • Komunikasi tidak langsung, yakni bentuk komunikasi secara tidak langsung tanpa perlu bertatap muka, dengan menggunakan media atau perantara tertentu.

      Nah demikian referensi pengertian komunikasi menurut para ahli serta definisi komunikasi secara umum dijelaskan secara lengkap beserta fungsi, jenis-jenis dan unsur-unsurnya. Sebagai manusia kita tentu sering berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari baik saat berbicara secara lisan, berkirim pesan lewat handphone atau membaca info berita di media.



  • Assalamualikum wr. wb. 

    Apa kabar kalian semua? Semoga selalu sehat walau masih dalam kondisi yang belum stabil seperti saat ini. Selamat datang kembali di mata kuliah Perilaku Organisasi. 

    Pada pertemuan kita hari, topik yang akan di bahas adalah tentang Kepemimpinan. Materi dan ppt, tentang Kepemimpinan telah saya bagi di laman lms. Silahkan kalian pelajari dan baca tentang materi tersebut. Saya juga tampilkan bacaan lain yang berhubungan dengan materi Kepemimpinan dari sumber lain. Ada video yang dapat menambah pengetahuan tentang Kepemimpinan.

    Setelah itu kita dapat bergabung di diskusi forum dengan memberikan tanggapan dan komentar tentang pembelajaran kita hari ini. 

    Terima kasih. 

    Wassalamualaikum. wr. wr


    • Kepemimpinan

      1.      Teori Sifat

      2.      Teori-teori mengenai perilaku

      3.      Teori Kontingensi

      4.      Teori pertukaran Pemimpin dan Anggota

      5.      Kepemimpinan Khrismatik dan Transformasional

      6.      Kepemimpinan Autentik

      7.      Terdepan untuk masa Depan

      8.      Tantangan Membangun Kepemimpinan

      9.      Menciptakan Pemimpin yang Efektif

      10.  Implikasi untuk manajer.

       


    • PENGERTIAN KEPEMIMPINAN: Tujuan, Teori, Fungsi dan Contoh Leadership

      Pengertian Kepemimpinan ΓÇô Apa kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin? Apakah dia harus menjadi sosok manusia yang ditakuti banyak orang? Atau memberikan kesan bahwa dia adalah pahlawan super?

      Tidak semudah itu menjadi pemimpin. Bahkan, kepemimpinan punya seni dan caranya sendiri. Anda mungkin bisa menyuruh-nyuruh orang, tetapi itu tidak lantas menjadikan Anda pemimpin yang baik.

      Untuk itu, mari simak berbagai macam pengertian dan hal-hal penting lainnya terkait seni kepemimpinan, supaya dapat memahami bagaimana cara untuk membangun jiwa kepemimpinan dalam diri Anda.

      Daftar Isi Artikel [buka]

      Pengertian Kepemimpinan

      pengertian kepemimpinan
      via google images

      Pengertian Kepemimpinan secara umum adalah sebuah kemampuan yang terdapat di dalam diri seseorang untuk bisa memengaruhi orang lain atau memandu pihak tertentu untuk mencapai tujuan.

      Sementara itu, definisi pemimpin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang memimpin. Jadi, seorang pemimpin wajib memiliki kemampuan untuk memengaruhi atau memandu sekelompok orang/pihak.

       

      Pengertian Kepemimpinan Menurut Para Ahli

      • Menurut Stoner -> Kepemimpinan adalah Sebuah proses dalam mengarahkan atau memengaruhi kegiatan terkait sebuah organisasi atau kelompok demi mencapai tujuan tertentu.
      • Menurut Wahjosumidjo -> Kepemimpinan merupakan kemampuan dalam diri seseorang dan mencakup sifat-sifat, seperti kepribadian, kemampuan, dan kesanggupan. Kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari gaya, perilaku, dan kedudukan pemimpin bersangkutan dan interaksinya dengan para pengikut serta situasi.
      • Menurut Sondang P. Siagian -> Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang saat menjabat sebagai pimpinan organisasi tertentu dalam memengaruhi orang lain, khususnya bawahannya. Ini dilakukan supaya mereka mampu bertindak dan berpikir sesuai dengan arahan tertentu supaya tujuan dapat tercapai dengan mudah.
      • Menurut Hemhiel dan Coons -> Kepemimpinan adalah perilaku individu ketika memimpin aktivitas dalam kelompok atau organisasi untuk mencapai tujuan bersama atau shared goal.

      Ada berbagai macam definisi kepemimpinan, tetapi secara umum, semuanya merujuk pada tindakan untuk memengaruhi seseorang atau sekelompok orang.

      Teori Kepemimpinan

      Ada beberapa teori yang harus dipahami terkait kepemimpinan. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut

      1 .Teori Karakter

      Teori karakter merupakan sebuah teori yang menitikberatkan karakter-karakter tertentu yang mampu menyukseskan kepemimpinan. Contohnya, seperti karakter fisik, inteligensi, ketegasan, dan sebagainya.

      Teori ini dipercaya oleh banyak orang, tetapi tak jarang dihampiri kritik, salah satunya terkait karakteristik fisik. Dalam teori karakter, fisik yang terlihat tegap dan kuat dianggap sebagai karakter pemimpin terbaik.

      Tentu Anda tahu betul bahwa hal ini tidak sepenuhnya tepat. Pasalnya, belum tentu orang yang terlihat kuat punya jiwa kepemimpinan yang tinggi.

      2 .Teori Perilaku

      Dalam teori perilaku, dijelaskan mengenai beberapa perilaku yang mencerminkan karakter pemimpin. Perilaku tersebut terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah job centered dan yang kedua adalah employee centered.

      Job centered adalah sifat kepemimpinan yang berfokus pada pekerjaan. Sementara itu, employee centered berfokus pada kondisi para karyawan atau bawahan di sebuah proyek.

      3. Teori Kepemimpinan Situasional

      Teori yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard ini memiliki titik berat pada kematangan para pengikut atau bawahan.

      Kesuksesan suatu tujuan bergantung pada matang-tidaknya para bawahan, maka dari itu pemimpin diharapkan mampu menganalisis apakah para bawahannya sudah cukup matang atau belum.

      Dapat disimpulkan bahwa ada berbagai perbedaan pendapat terkait teori kepemimpinan. Namun, yang jelas, kepemimpinan yang sukses tidak hanya berlandaskan pada faktor pemimpin saja, tetapi juga para bawahan. 

      Hamdani Nawawi dalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan yang Efektif menjelaskan berbagai macam fungsi kepemimpinan sebagai berikut.

       1 .Fungsi Instruktif

      Fungsi ini menempatkan pemimpin sebagai pengambil keputusan dan pemberi tugas terhadap para bawahannya. Sementara itu, para bawahan bertugas untuk menjalankan segala instruksi yang diperintahkan oleh para pemimpin.

      2. Fungsi Konsultatif

      Berbeda dengan fungsi instruktif, fungsi konsultatif sifatnya dua arah. Bawahan dapat berkonsultasi pada pemimpin untuk mencari jalan terbaik dalam mencapai tujuan bersama.

      Pemimpin diharapkan cukup bijak dan punya pengetahuan terkait hal yang sedang dikerjakan supaya bisa mengarahkan bawahannya dengan baik.

      3. Fungsi Partisipasi

      Dalam fungsi ini, pemimpin mampu mengaktifkan partisipasi para pesertanya sehingga mereka juga turut berpartisipasi dan berinisiatif dalam suatu proyek. Para bawahan tidak hanya sekadar menjalankan perintah saja.

      pengertian pemimpin
      mujahiddakwah.com

      Ada beberapa teori yang harus dipahami terkait kepemimpinan. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut

      1 .Teori Karakter

      Teori karakter merupakan sebuah teori yang menitikberatkan karakter-karakter tertentu yang mampu menyukseskan kepemimpinan. Contohnya, seperti karakter fisik, inteligensi, ketegasan, dan sebagainya.

      Teori ini dipercaya oleh banyak orang, tetapi tak jarang dihampiri kritik, salah satunya terkait karakteristik fisik. Dalam teori karakter, fisik yang terlihat tegap dan kuat dianggap sebagai karakter pemimpin terbaik.

      Tentu Anda tahu betul bahwa hal ini tidak sepenuhnya tepat. Pasalnya, belum tentu orang yang terlihat kuat punya jiwa kepemimpinan yang tinggi.

      2 .Teori Perilaku

      Dalam teori perilaku, dijelaskan mengenai beberapa perilaku yang mencerminkan karakter pemimpin. Perilaku tersebut terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah job centered dan yang kedua adalah employee centered.

      Job centered adalah sifat kepemimpinan yang berfokus pada pekerjaan. Sementara itu, employee centered berfokus pada kondisi para karyawan atau bawahan di sebuah proyek.

      3. Teori Kepemimpinan Situasional

      Teori yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard ini memiliki titik berat pada kematangan para pengikut atau bawahan.

      Kesuksesan suatu tujuan bergantung pada matang-tidaknya para bawahan, maka dari itu pemimpin diharapkan mampu menganalisis apakah para bawahannya sudah cukup matang atau belum.

      Dapat disimpulkan bahwa ada berbagai perbedaan pendapat terkait teori kepemimpinan. Namun, yang jelas, kepemimpinan yang sukses tidak hanya berlandaskan pada faktor pemimpin saja, tetapi juga para bawahan. 

      Fungsi Kepemimpinan

      shiftindonesia.com

      Hamdani Nawawi dalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan yang Efektif menjelaskan berbagai macam fungsi kepemimpinan sebagai berikut.

       

      1 .Fungsi Instruktif

      Fungsi ini menempatkan pemimpin sebagai pengambil keputusan dan pemberi tugas terhadap para bawahannya. Sementara itu, para bawahan bertugas untuk menjalankan segala instruksi yang diperintahkan oleh para pemimpin.

      2. Fungsi Konsultatif

      Berbeda dengan fungsi instruktif, fungsi konsultatif sifatnya dua arah. Bawahan dapat berkonsultasi pada pemimpin untuk mencari jalan terbaik dalam mencapai tujuan bersama.

      Pemimpin diharapkan cukup bijak dan punya pengetahuan terkait hal yang sedang dikerjakan supaya bisa mengarahkan bawahannya dengan baik.

      3. Fungsi Partisipasi

      Dalam fungsi ini, pemimpin mampu mengaktifkan partisipasi para pesertanya sehingga mereka juga turut berpartisipasi dan berinisiatif dalam suatu proyek. Para bawahan tidak hanya sekadar menjalankan perintah saja.

      4. Fungsi Delegasi

      Dalam fungsi delegasi, pemimpin mampu untuk mendelegasikan suatu wewenang kepada orang lain yang memang sesuai dengan tugas tersebut.

      Bukan hanya mampu memerintah, ia juga harus mampu untuk mengetahui tugas-tugas yang cocok didelegasikan kepada bawahannya.

      5. Fungsi Pengendalian

      Fungsi pengendalian berarti pemimpin mampu untuk mengendalikan segala aktivitas bawahannya agar efektif bertugas untuk mencapai tujuan dan tidak keluar jalur.

      Dalam menjalankan fungsi ini, dibutuhkan pemimpin yang tegas dan juga pemimpin yang teliti dalam mengamati bawahannya.

      Tujuan Kepemimpinan

      rand.org

      Apa tujuan dari kepemimpinan di sebuah bawahan atau organisasi? Berikut tujuan-tujuan yang harus dipahami untuk menyukseskan proses ini.

       

      1. Mencapai Tujuan

      Kepemimpinan merupakan sebuah hal yang dibutuhkan dalam perusahaan/kelompok supaya tujuan dapat tercapai.

      Tanpa adanya satu pun pihak yang berjiwa pemimpin, tujuan sulit untuk dicapai karena tidak ada sosok yang bisa dijadikan pegangan.

      2. Memotivasi Orang Lain

      Tujuan lain dari kepemimpinan adalah untuk memotivasi orang lain agar bisa melakukan sebuah hal dengan baik dan memaksimalkan kemampuan.

      Bila tidak ada sosok pemimpin, banyak orang yang akan mengalami demotivasi karena mereka tidak terpacu akan sesuatu atau tidak merasa memiliki kewajiban untuk melakukan hal tertentu.

      Sifat Pemimpin

      guardian.ng

      Ada beberapa sifat yang mampu menjadikan seseorang sebagai pemimpin yang baik. Nah, apa sajakah sifat-sifat tersebut? Ini dia jawabannya.

      1 .Punya Pendirian

      Sebagai seorang pemimpin, Anda wajib untuk punya pendirian yang teguh. Pendirian kuat tidak akan membuat Anda mudah goyah dan juga membuat Anda konsisten dalam menjalankan sesuatu.

      Bayangkan apabila pendirian Anda mudah goyah. Sudah pasti Anda akan mudah untuk dipengaruhi orang lain dan tak dapat mendelegasikan tugas-tugas kepada bawahan dengan baik.

      2. Proaktif

      Pemimpin harus proaktif. Pemimpin tidak boleh pasif, karena apabila seorang pemimpin bersifat pasif, tujuan tidak akan kunjung tercapai, bahkan ini akan membuat bawahan tidak memiliki rasa hormat kepadanya.

      Seorang pemimpin yang baik punya inisiatif kuat akan berbagai hal sehingga bawahan pun dapat mengandalkannya dalam berbagai macam situasi.

      3. Jujur

      Kejujuran mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Sosok yang jujur adalah sosok yang dapat diandalkan dalam berbagai hal dan tidak akan menggagalkan suatu tujuan hanya untuk kepentingan pribadinya.

      Sosok pemimpin yang jujur tidak hanya dapat dipercaya. Dia juga dapat menjerumuskan bawahannya dan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan.

      4. Komunikatif

      Komunikatif artinya pemimpin mampu menyampaikan berbagai hal dengan jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Untuk bisa memiliki sifat ini, pemimpin harus tahu bagaimana metode komunikasi yang baik.

      Metode komunikasi yang baik artinya adalah komunikasi yang persuasif, yang mampu menarik orang untuk melakukan sesuatu tanpa paksaan. Selain itu, pemimpin yang baik juga semestinya terhindar dari kesalahan penyampaian pesan.

      5. Terbuka terhadap Pendapat

      Seseorang boleh menjadi cerdas, tetapi percuma apabila mereka tidak terbuka terhadap ilmu dan juga pendapat baru. Seorang pemimpin wajib terbuka terhadap setiap pendapat yang ada dan tidak boleh menutup diri.

      Apabila seorang pemimpin menutup diri dari pendapat dan wawasan, mereka tidak akan dapat menjadi orang yang lebih baik dan juga membuat tujuan tak kunjung tercapai.

      Pemimpin yang tertutup dengan pendapat atau wawasan juga tak akan mampu untuk menganalisa kelebihan dan potensi bawahannya.

      6. Tidak Mudah Iri

      Pada dasarnya, pemimpin memang seseorang yang lebih unggul daripada bawahan. Namun, bukan berarti pemimpin iri apabila bawahannya unggul dalam suatu hal dan justru berusaha untuk terlihat lebih baik.

      Pemimpin yang baik harus bisa mengarahkan bawahannya, tetapi juga tetap mampu mengapresiasi bawahannya atas sesuatu yang sukses mereka lakukan.

      7. Visioner

      Tentu kita tahu bahwa seorang pemimpin yang baik tak mungkin bisa meramal, tetapi setidaknya mereka punya kemampuan analisis kuat dan bisa merencanakan berbagai hal serta membuat perkiraan tentang apa yang terjadi berdasarkan data-data yang ada.

      8. Sabar

      Akan ada banyak cobaan yang didapatkan oleh seorang pemimpin. Kunci dari hal ini tentu adalah kesabaran yang besar. Tanpa adanya kesabaran, bagaimana mungkin pemimpin bisa menyelesaikan suatu masalah dengan kepala dingin?

      Pemimpin yang kurang sabar akan mudah menyerah bahkan sebelum ia mencapai tujuannya.

      Macam-Macam Gaya Kepemimpinan

      idgesg.net

      Mengingat jenis-jenis kepemimpinan ada banyak, ini berpengaruh pula kepada gaya kepemimpinan dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi. Berikut beberapa gaya kepemimpinan dan definisinya,

      1 .Kepemimpinan Otokratis

      Pemimpin dengan kepemimpinan otokratis merupakan pemimpin yang dominan dalam berbagai tindakan dan juga keputusan yang diambil. Kekuasaan pemimpin sangat mutlak dan hampir tidak ada celah untuk para bawahan memberikan masukan.

      Gaya kepemimpinan ini biasa hadir dalam organisasi militer di mana kekuasaan pemimpin amat mutlak serta adanya pemisahan tegas antara atasan dan juga bawahan.

      2. Kepemimpinan Birokrasi

      Kepemimpinan birokrasi biasa diterapkan dalam kantor pemerintahan atau perusahaan besar yang sudah memiliki budaya kuat mengakar sejak lama. Gaya kepemimpinan birokrasi mengatur berbagai macam hal secara sistematis.

      Ada aturan-aturan yang sudah ditetapkan untuk urusan-urusan tertentu, sehingga dalam konteks ini, bawahan tidak punya ruang untuk mendobraknya dan harus mengikuti regulasi yang ada.

      3. Kepemimpinan Partisipatif

      Gaya kepemimpinan yang satu ini memberikan ruang bagi bawahan untuk berpartisipasi lebih dalam pembuatan sebuah keputusan. Pendapat bawahan didengarkan tentu bila memberikan pandangan baru dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

      Hubungan yang terjalin antara atasan dan juga bawahan sangat bersahabat serta hangat dan tidak ada suasana otoriter. Gaya kepemimpinan yang satu ini sangat cocok diterapkan di perusahaan-perusahaan rintisan atau organisasi nirlaba.

      4. Kepemimpinan Delegatif

      Pada gaya kepemimpinan delegatif, para bawahan diberikan kebebasan oleh para pemimpin. Maka dari itu, bawahan punya ruang untuk melakukan hal-hal sesuai dengan keyakinan mereka dan mampu mengambil keputusan sendiri.

      Namun, kepemimpinan delegatif ini hanya bisa diterapkan apabila para bawahan sudah cukup matang dalam mengambil keputusan, karena jika tidak, para bawahan akan mengambil keputusan yang salah.


      Itulah berbagai macam hal yang bisa Anda ketahui terkait kepemimpinan. Pada dasarnya, kepemimpinan bukan sekadar bakat.

      Kepemimpinan adalah sebuah seni yang bisa dilatih dan apabila Anda mau mempelajarinya, dari waktu ke waktu Anda akan mampu menguasainya dengan baik.


    • Instruksi :

      1. Analisis video tentang Kepemimpinan. Sertakan argumen dan pendapat anda. 

      2. Di ketik yang rapih dan kirim ke lms Rabu tanggal 1 Juli 2020,  sampai jam 10.20.

      3. Hasil analisis tidak boleh sama dengan teman yang lain. 

      4. Tugas di ketik dalam bentuk pdf.

  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun...

    Selamat pagi semuanya. Apakabar kalian? Semoga selalu sehat dan tetap semangat.

    Selamat datang kembali di mata kuliah Perilaku Organisasi dengan materi bahasan Kekuasaan dan Politik

    Materi tentang Kekuasaan dan Politik terbagi menjadi beberapa sub pokok bahasan. Materi tambahan bisa kalian baca di laman lms ini.  Begitu juga video yang menyajikan sosok pemimpin yang sedang berkuasa atau menjabat di masanya.  Kalian harus menganalisis sosok pemimpin di video tersebut dan hubungkan dengan materi dan bahasan materi kita hari ini. Analisis kalian di tulis di forum diskusi saja. 

    Silahkan kalian pelajari dulu materi hari ini. Saya harap kalian dapat aktif di perkuliahan daring ini.

    Terima kasih. Wassalamualaikum.

    • Perilaku Organisasi - KEKUASAAN DAN POLITIK

      Ringkasan Buku Organizational Behavior - stephen P. Robbins

       

      Kekuasaan (power) mengacu pada kemampuan yang dimiliki A untuk mempengaruhi perilaku B sehingga B bertindak sesuai dengan keinginan A. Definisi ini mengimplikasikan sebuah potensi yang tidak perlu diaktualisasikan agar efektif dan sebuah hubungan ketergantungan. Kekuasaan merupakan suatu potensi atau kemampuan sehingga bisa saja seseorang mempunyai kekuasaan tapi tidak menjalanakannya. Aspek terpenting dari kekuasaan adalah fungsi ketergantungan (Dependency) artinya semakin besar ketergantungan B terhadap A maka besar pula kekuasaan A. Selain itu seseorang dapat memiliki kekuasaan atas diri Anda hanya jika ia mengendalikan sesuatu yang Anda inginkan.

      Membandingkan kepemimpinan dan kekuasaan

      Kedua konsep tersebut saling bertautan, para pimpinan menggunakan kekuasaan sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan kelompok. Sehingga kekuasaan adalah sarana untuk memudahkan usaha mereka mancapai tujuan.

      Salah satu perbedaan yang terkait adalah

      1. Kesesuaian tujuan, kekuasaan tidak mengisyaratkan kesesuaian tujuan tetapi hanya ketergantungan. Sebaliknya kepemimpinan mengisyaratkan keserasian antara tujuan pemimpin dan mereka yang dipimpin.

      2. Arah pengaruh, kekuasaan berfokus pada pengaruh ke bawah kepara para pengikutnya, sedang kepemimpinan meminimalkan pola-pola pengaruh kesamping dank ke atas.

      3. Penekanan Penelitian, penelitian akan kepemimpinan terletak pada gaya, sedangkan penelitian kekuasaan terletak pada sesuatu yang lebih luas dan berfokus pada taktik-taktik untuk memperoleh kepatuhan dari anak buah.

       

      Landasan Kekuasaan

      1. Kekuasaan Formal

      a. Kekuasaan koersif

      Landasan Kekuasaan koersif (Coersive power) adalah rasa takut. Kekuasaan koersif mengandalkan aplikasi, atau ancaman aplikasi, sangsi fisikyang menimbulkan rasa sakit, menimbulkan frustasi melalui pembatasan gerak atau pengendalian paksa terhadap kebutuhan dasar fisiologi atau keamanan.

      b. Kekuasaan Imbalan

      Kekuasaan imbalan (reward power), orang memenuhi keinginan atau arahan orang lain karena, dengan berbuat demikian, ia akan mendapatkan manfaat positif; serta mendapatkan imbalan atau penghargaan yang dipandang orang lain bernilai akan memiliki kekuasaan atas orang lain. Imbalan bisa bersifat financial atau non-finansial.

      c. Kekuasaan Legitimasi

      Kekuasaan lagitimasi (Legitimate power) adalah kekuasaan yang melambangkan kewenangan formal untuk mengendalikan dan memamfaatkan sumber-sumber daya organisasi misalnya posisi structural. Secara spesifik kekuasaan ini mencakup penerimaan wewenang suatu jabatan oleh anggota-anggota dalam suatu organisasi.

      2. Kekuasaan Pribadi

      a. Kekuasaan karena Keahlian

      Kekuasaan karena Keahlian (Expert power) adalah pengaruh yang diperoleh dari keahlian, ketrampilan khusus, pengetahuan. Keahlian telah menjadi salah satu sumber pengaruh yang paling kuat karena dunia sudah semakin berorientasi pada teknologi.

      b. Kekuasaan Rujukan

      Kekuasaan Rujukan (referent power) didasarkan pada identifikasi terhadap seseorang memiliki sumber daya atau sifat-sifat personal yang menyenangkan. Hal ini berkembang dari kekaguman terhadap orang lain dan hasrat untuk menjadi seperti orang lain. Karisma merupakan pengaruh yang cukup besar, walaupun tidak menduduki posisi kepeminpinan formal, mampu memanfaatkan pengaruhnya terhadap orang lain lantaran dinamisme kariskatik, rasa digemari, dan efek emosional mereka atas kita.

       

      Landasan Kekuasaan Manakah Yang Paling Efektif

      Dari semua landasan kekuasaan formal dan pribadi, yang paling menarik adalah penelitian secara cukup jelas menunjukkan bahwa sumber-sumber kekuasaan yang bersifat pribadilah yang paling efektif. Kekuasaan karena keahlian maupun rujukan secara positif berkaitan dengan kepuasan karyawan berhadap penyeliaan, komitmen keorganisasian mereka, dan kinerja, sedangkan kekuatan imbalan dan legitimasi tampak tidak terkait secara langsung hasil-hasil semacam ini.

      ΓÇâ

       

      Ketergantungan : Kunci Kenuju Kekuasaan

      Postulat umum tentang ketergantungan

      Postulat umum : semakin besar ketergantungan B terhadap A, semakin besar kekuasaan A atas B. jadi ketergantungan berbanding terbalik dengan sember-sumber panawaran alternative. Hal ini menjelaskan, misalnya, alasan berbagai organisasi menggunakan jasa banyak penyuplai alih-alih mempercayakan kepada satu pihak saja. Hal ini juga menjelaskan mengapa begitu banyak diantara kita berusaha mencapai kebebasan financial. Kebebasan financial mengurangi kekuasaan yang mungkin dimiliki orang laian atas diri kita.

      Apa yang menyebabkan ketergantungan ?

      1. Nilai penting. Untuk menciptakan ketergantungan, hal-hal yang anda control haruslah hal-hal yang dipandang penting. Banyak organisasi, misalnya, secara aktif berusaha menghidari ketidakpastian. Karenanya, kita akan menemukan bahwa individu atau kelompok dapat menghilangkan ketidakpastian suatu organisasi akan dipandang sebagai penguasa sumber daya yang penting.

      2. Kelangkaan. Suatu sumber daya harus bisa dilihat sebagai sesuatu yang langka guna menciptakan ketergantungan. Hubungan kelangkaan ΓÇô ketergantungan lebih jauh dapat dilihat dalam kekuasaan yang termasuk kategori jabatan. Individu-individu yang memiliki jabatan di mana persediaan personil relative rending dibandingkan dengan kebutuhannya dapat merundingkan paket-paket kompensasi dan tunjangan yang jauh lebih manarik disbanding bila jumlah calonnya banyak.

      3. Keadaan tidak tergantikan. Semakin sedikit pengganti yang tersedia bagi suatu sember daya, semakin besar kekuasaan yang diberikan oleh control atas sumber daya tersebut.

       

      Taktik Kekuasaan

      Taktik kekuasaan (power tactics). Dengan kata lain, pilihan-pilihan apa daya yang dimiliki seseorang untuk memengaruhi atasan, rekan kerja, atau karyawan mereka. Serta apalah pilihan-pilihan tersebut yang lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Ada 9 mengidentidifikasi macam taktik pengaruh :

      a. Legitimasi. Mengamdalkan posisi kewenagan seseorang atau menekankan bahwa sebuah permintaan selaras dengan kebijakan atau ketentuan dalam organisasi.

      b. Persuasi rasional. Menyajikan arguman-argumen yang logis dan berbagai bukti factual untuk memperlihatkan bahwa sebuah permintaan itu masuk akal.

      c. Seruan Inspirasional. Mengembangkan komitmen emosional dengan cara menyerukan nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan aspirasi subuah sasaran.

      d. Konsultasi. Meningkatkan motivasi dan dukungan dari pihak yang menjadi sasaran dengan cara melibatkannya dalam memutuskan bagaimana rencara atau perubahan akan dijalankan.

      e. Tukar pendapat. Memberi imbalan kepada target atau sasaran berupa uang atau penghargaan lain sebagai ganti karena mau menaati suatu permintaan.

      f. Seruan pribadi. Meminta kepatuhan berdasarkan persahatan atau kesetiaan.

      g. Menyenangkan orang lain. Menggunakan rayuan, pujian, atau perilaku bersahabat sebelum membuat permintaan.

      h. Tekanan. Menggunakan peringatan, tuntunan tegas, dan ancaman

      i. Koalisi. Meminta bantuna orang lain sebagai alasan agar si sasaran setuju.

      Beberapa taktik tersebut umumnya lebih efektif dari pada yang lain bergantung pada arah dari pengaruh. Bukti menunjukkan bahwa orang dinegara yang berbeda-beda cenderung lebih menyukai taktik kekuasaan yang berbeda pula.

       

      Kekuasaan Dalam Kelompok : Koalisi

      Mereka yang ΓÇ£berada di luar lingkaran kekuasaanΓÇ¥ dan berusaha ΓÇ£masukΓÇ¥ ke sana mula-mula akan mecoba memperbesar kekuasaan mereka secara individual. Tetapi, jika upaya ini berbukti tidak efektif, alternatifnya adalah membentuk sebuah koalisi (coalition) suatu kolompok informal yang diikat oleh satu isu perjuangan yang sama. Prediksi lain mengnai koalisi berkaitan dengan kadar kesalingtergantungan di dalam organisasi. Lebih banyak koalisi jika yang bisa tercipta bilamana terdapat banyak ketergantungan tugas dan sumber daya.

       

      Pelecahan Sexual : Ketidakseimbangan Kekuasaan di Tempat Kerja

      Pelecehan sexual (sexual harassment) didefinisikan sebagai segala aktivitas bersifat sexual yang tidak diinginkan dan memengaruhi pekerjaan seorang individu, serta menciptakan suasana kerja yang tidak nyaman. Kebanyakan studi menegaskan bahwa konsep kekuasaan sangat penting untuk memahami pelecehan sexual, pelecehan sexual lebih mungkin terjadi ketika ada kesenjangan kekuasaan yang besar. Meskipun tidak memiliki kekuasaan legitimasi, rekan kerja dapat memiliki pengaruh dan memanfaatkan pengaruh itu untuk melakukan pelecehan sexual kepada temannya. Malahan, walaupun pelecehan sexual sering dilakukan oleh rekan kerja tetapi tidak separah yang dilakukan Penyelia.

      Pelecehan sexual adalah masalah kekuasaan, yaitu seorang individu mencoba mengendalikan atau mengancam individu lainnya. Pelecahan sexual dapat menyebabkan kehancuran sebuah organisasi, tetapi tindakan tersebut dapat dihindarkan dengan cara antara lain :

      a. Patikan ada sebuah kebijakan yang dengan tepat mendefinisikan hal-hal yang merupakan pelecahan sexual, yang member tahu karyawan bahwa mereka dapat dipecat karena melakukan pelecehan sexual semacam ini kepada karyawan lain, dan menetapkan prosedur untuk menyampaikan keluhan.

      b. Yakinkan karyawan bahwa mereka tidak akan menghadapi balasan jika mereka menyampaikan keluhan mereka.

      c. Selidiki setiap keluhan dan ikut sertakan divisi legal dan sumber daya manusia perusahaan.

      d. Pastikan bahwa pelakunya terkena sanksi atau diberhentikan.

      e. Adakan seminar internal untuk membangkitkan kesadarann karyawan akan isu-isu seputar pelecehan sexual.

      Kesimpulan: adalah bahwa para manajer memiliki tanggung jawab untuk melindungi karyawan mereka dari lengkungan kerja yang tidak menyenangkan, tetapi mereka juga perlu melindungi diri mereka sendiri.

       

      Politik : kekuasaan yang Bermain

      Ketika orang-orang menyatu dalam kelompok, berlakulah hukum kekuasaan. Ketika para karyawan dalam suatu organisasi mulai memainkan kekuasaan yang ada pada mereka, kita melihatkan sebagai politik. Orang ΓÇô orang dengan Keterampikan politik yang baik memiliki kemampuan untuk menggunakan landasan-landasan kekuasaan yang mereka miliki secara afektif. Jadi definisi berfokus pada penggunaan kekuasaan untuk memengaruhi pengambilan keputusan dalam organisasi atau perilaku-perilaku anggota yang egois dan tidak melayani kebutuhan organisasi. Perilaku politik (political behavior) didefinisikan sebagai aktivitas yang tidak dianggap sebagai bagian dari peran formal seseorang dalam organisasi, tetapi yang memengaruhi, atau berusaha memengaruhi, distribusi keuntungan dan kerugian di dalam organisasi.

      Komentar terakhir berkaitan dengan apa yang disebut sebagai dimensi ΓÇ£sah ΓÇô tidak sahΓÇ¥ dalam perilaku politik.

      - Perilaku politik yang sah (Legitimate political behavior) mengacu pada politik sehari-hari yang wajar- menyampaikan keluhan kepada penyelia anda, memotong rantai komando, membangun koalisi, menentang kebijakan atau keputusan organisasi lewat pemogokan atau dengan terlalu berpegang ketat pada ketentuan yang ada.

      - Perilaku politik yang tidak sah (Ilegitimate political behavior) yang menyimpang dari aturan main yang digariskan. Misalnya sabotase, melaporkan kesalahan, dan protes-protes simbolik seperti memakai pakaian nyeleneh atau bros tanda protes dan beberapa karyawan tidak masuk kerja.

       

      Realitas Politik

      Politik adalah sebuah kenyataan realitas hidup dalam organisasi. Organisasi terbentuk dari individu dan kelompok dengan nilai, tujuan, dan kepentingan yang berbeda-beda. Fakta ini, mengandung potensi timbulnya konflik untuk memperebutkan sumber daya. Sumber daya yang dimiliki organisasi juga ada batasnya, sehingga potensi konflik berubah menjadi konflik nyata. Lebih jauh, entah benar atau salah, keuntungan satu orang atau kelompok seringkali dipahami akan diperoleh dengan mengurbankan orang-orang atau kelompok lain dalam organisasi. Barangkali, factor terpenting yang mendorong tumbuhnya politik di dalam organisasi adalah kesadaran bahwan sebagian besar ΓÇ£faktaΓÇ¥ yang digunakan untuk mendasarkan pengalokasian sumber daya yang terbatas itu terbuka untuk ditafsirkan secara beragam. Terakhir, karena sebagian besar keputusan harus dibuat dalam ambiguitas- di mana fakta jarang yang sepenuhnya objektif dan, karenanya, terbuka untuk diinterprestasikan ΓÇô orangΓÇôorang di dalam organisasi akan menggunakan pengaruh apa pun semampu mereka untuk menelikung kenyataan demi memperjuangkan tujuan dan kepentingan mereka. Hal ini memunculkan aktivitas yang kita kenal dengan Politisasi.

      Jadi untuk menjawab mengenai apakah mungkin bagi sebuah organisasi bebas dari politik bisa dijawab ΓÇ£YaΓÇ¥, jika semua anggota punya tujuan dan kepentingan yang sama, sumber daya tidak langka, serta kinerja benar-benar jelas dan objektif.

      Factor-faktor yang berkontribusi terhadap politik

      1. Factor individu. Para peneliti telah mengidentifikasi sifat-sifat keperibadian tertentu, kebutuhan, dan beberapa factor lain yang dapat dikaitkan dengan perilaku politik seseorang. Dalam hal sifat, kita menemukan bahwa para karyawan yang mempu merefleksi diri secara baik (high self-monitor), memiliki pusat kendali (locus of control) internal, dan memiliki kebutuhan yang tinggi akan kekuasaan punya kemungkinan lebih besar untuk terlibat dalam perilaku politik. Orang yang mampu merefleksi diri secara baik lebih sensitive terhadap berbagai tanda social, mampu menampilkan tingkat kecedasarn social, dan terampil dalam berperilaku politik daripada mereka yang kurang mampu merefleksi diri (low self monitor). Selain itu investasi seseorang dalam organisasi, alterbatir-alternatif yang diyakininya ada, dan harapan akan kesuksesan turut mempengaruhi sejauh mmama ia akan memanfaatkan sarana tindakan politik yang tidak sah.

      2. Factor-faktor Organisasi. Kegiatan politik kiranya lebih merupakan fungsi karakteristik organisasi ketimbang fungsi variable perbedaan individu. Tanpa menafikan peran yang mungkin dijalankan oleh perbedaan-perbedaan individual dalam menumbuhkembangkan prose politisasi, bukti menunjukkan bahwa situasi dan kultur tertentulah yang lebih mendukung politik. Selain itu, kultur yang tercirikan oleh tingkat kepercayaan yang rendah, ambiguitas peran, system evaluasi kinerja yang tidak jelas, praktik-praktik alokasi imalan zero-sum (perolehan hangus karena kurang memuaskan), pengambilan keputusan secara demikartis, tekanan yang tinggi atas kinerja, dan manajer-manajer senior yang egois menciptakan lahan pembiakan yang subur bagi politisasi.

      Bila kultur sebuah organisasi semakin menekankan pendekatan zero-sum atau menang-kalah dalam kebijakan alokasi imbalannya, karyawan akan semakin termotivasi untuk melibatkan diri dalam politisasi. Terakhir, ketika pada karyawan melihat orang-orang yang ada di puncak terlibat dalam perilaku politik, khususnya ketika mereka berhasil melakukannya dan mendapatkan imbalan atas keberhasilan itu, terceiptakan sebuah suasana yang mendukung politisasi. Politisasi dalam pengertian tertentu, membuka jalan bagi mereka yang memiliki kedudukan lebih rendah dalam organisasi untuk juga bermain politik sembari member kesan bahwa perilaku semacam ini dapat diterima dan wajar.

       

      Bagaimana orang Menanggapi Politik Organisasi

      Kita melihat hasil-hasil yang menguntungkan bagi mereka yang berhasil dalam perilaku politiknya tetapi sebagian besar orang yang keterampilan politiknya biasa-biasa saja atai tidak mau bermain politik hasilnya cenderung negative. Persepsi terhadap politik cenderung meningkatkan kecemasan dan stress kerja. Hal ini disebabkan oleh persepsi bahwa, dengan tidak terlibat dalam politik, seseorang bisa kehilangan pijakan kepada orang lain yang aktif bermain politik; atau sebaliknya. Lantaran ada tekanan tambahan yang dirasakan oleh individu-individu karena masuk ke dan bersaing dalam arena politik.

      Dari kesimpulan di atas penjelasan menarik telah disampaikan, antara lain :

      1. Hubungan politik ΓÇô kinerja tampaknya dimoderatkan oleh pemahaman individu tentang ΓÇ£bagaimanaΓÇ¥ dan ΓÇ£mengapaΓÇ¥ politik organisasi itu.

      2. Ketika politik dipandang sebagai ancaman dan senantiasa direspon secara defensive, akhirnya yang muncul adalah hasil yang negative.

      Manakala memandang politik sebagai ancaman alih-alih sebagai peluang, orang tak jarang akan meresponnya dengan perilaku defensif (defensive behavior) - perilaku reaktif dan protektif untuk menghindari aksi, disalahkan, atau perubahan.

       

      Mengelola Kesan

      Kita tahu bahwa orang senantiasa berkepentingan dengan bagaimana orang lain memamdang dan menilai mereka. Dipandang positif oleh orang lain akan bermanfaat bagi orang-orang di dalam organisasi. Dalam konteks politik, kesan yang bagus mungkin bisa membantu memengaruhi distribusi keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri. Proses yang digunakan individu untuk mengendalikan kesan yang dibentuk orang lain terhadap diri mereka disebut Pengelolaan atau Manajemen Kesan (impression management). Kebanyakan studi penelitian dilakukan menguji keefektifan teknik-teknik MK yaitu :

      1. Kesuksesan wawancara

      Ketika para peneliti mempertimbangkan kualifikasi para pelamar, mereka menyimpulkan bahwa teknik-teknik MK itu sendirilah yang mempengaruhi para pewawancara. Para peneliti telah membandingkan para pelamar yang menggunakan teknik-teknik MK yang terfokus pada promosi pencapaian seseorang (promosi diri) dengan para pelamar yang menggunakan teknik-teknik yang terfokus untuk menyenangkan pewawancara dan menemukan wilayah kesepakatan (menjilat). Menjilat juga berjalan dengan baik dalam wawancara, yang berarti bahwa para pelamar yang menyenangkan pewawancara, setuju dengan pendekatan-pendekatannya, dan menekankan hal-hal yang bersesuaian ternnyata lebih baik daripada mereka yang tidak.

      2. Evaluasi kinerja

      Dalam hal ini peringkat kinerja, gambarannya sangat berbeda. Menjilat dikaitkan secara positif dengan peringkat kinerja, yang berarti bahwa mereka yang menjlat para penyelia mendapatkan evaluasi kinerja yang lebih tinggi. Menjilat selalu berhasil karena setiap setiap orang senang diperlakukan dengan baik.

       

      Etika Berperilaku secara Politis

      Menyimpulkan pembahasan mengenai politik dengan memberikan beberapa panduan etis untuk berperilaku positif, meskipun tidak ada cara pasti untuk membedakan antara politik Etis dan tidak Etis. Terkadang secara tidak sadar kita terlibat dalam perilaku politik karena alasan kebil yang baik. Kebohongan yang terang-terangan bisa menjadi contoh yang ekstrem dari pengaturan kesan, tetapi banyak di antara kita telah mendistorsi informasi menjadi sebuah kesan yang menyenangkan.

      Pertanyaan terakhir yang perlu dijawab adalah apakah kegiatan politik selaras dengan standard kesetaraan dan keadilan. Terkadang sulit untuk menimbang biaya dan manfaat dari sebuah tindakan politik, tetapi keetisannya jelas. Adanya pandangan like and undislike terhadap penilaian hasil kinerja. Ketika dihadapkan pada dilemma etika menyangkut politik organisasi, cobalah pertimbangkan isu-isu yang pernah ada sebelumya (apakah bermain politik sepadan resikonya dan akankah membahayakan orang lain dalam prosesnya).

       

      Ringkasan dan Implikasi untuk Manajer.

      Jika ingin membuat segala sesuatu terlaksana dalam sebuah kelompok atau organisasi, ada baiknya Anda memiliki kekuasaan, yang ingin memaksimalkan kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaan adalah jalan dua arah. Anda tidak akan sendirian dalam upaya membangun basis kekuasaan anda. Orang lain, terutama teman sejawat dan karyawan, akan berusaha membuat anda tergantung kepada mereka. Hasilnya adalah sebuah pertempuran terus-menerus. Terdapat bukti bahwa orang merespon berbagai basis kekuasaan secara berbeda-beda. Kekuasaan seseorang yang memiliki keahlian dan menjadi rujukan berasal dari kualitas pribadinya. Kecakapan muncul terutama untuk menawarkan daya tarik yang luas, dan penggunnanya sebagai basis kekuasaan menghasilkan kinerja yang tinggi oleh para anggota kelompok.

      Kekuasaan atasan Anda mungkin juga memainkan peran dalam menentukan kepuasaan kerja Anda. ΓÇ£salah satu alasan mengapa kebanyakan dari kita senang bekerja untuk dan dengan orang-orang yang berkuasan adalah bahwa mereka umumnya lebih menyenangkan ΓÇô bukan karena sifat bawaan mereka, melainkan karena reputasi dan realitas sebagai orang yang berkuasa memungkinkan mereka lebih bebas memilih dan mampu mendelegasikan kepada orang lain.

      Manajer yang efektif menerima sifat politis organisasi. Dengan menilai perilaku dalam kerangka politik, anda dapat memprediksi secara lebih baik tindakan-tindakan orang lain dan menggunakan informasi ini untuk merumuskan strategi politik yang akan mendatangkan keuntungan bagi anda dan unit kerja anda.

      Sebagian orang secara signifikan lebih bersifat “cerdik dalam politik” dibandingkan sebagian lainnya, yang berarti mereka sadar akan politik yang mendasari dan dpat mengelola Kesa. Mereka yang pandai berpolitik diharapkan akan mendapat evaluasi kinerja yang lebih tinggi dan, karena itu, kenaikan gaji dan promosi daripada mereka yang naïf atau tidak cakap politik. Mereka yang cerdik politik juga menunjukkan kepuasan kerja yang lebih tinggi dan mampu menetralkan penyebab-penyebab stress kerja, begitu juga sebaliknya bagi karyawan yang memiliki ketrampilan politik rendah atau bahkan tidak menjalankan permainan p

  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun...

    Selamat pagi semuanya. Apakabar kalian? Semoga selalu sehat dan tetap semangat.

    Selamat datang kembali di mata kuliah Perilaku Organisasi dengan materi bahasan Konflik dan Negosiasi. Materi tentang Konflik dan Negosiasi terbagi menjadi beberapa sub pokok bahasan yang bisa kalian baca di power poinnya. Materi tambahan berupa penjelasan tentang Konflik dan Negosiasi bisa kalian baca di laman lms ini.  Begitu juga video yang menyajikan konflik yang bisa terjadi di suatu organisasi dan negosiasinya. Saya siapkan juga diskusi forum untuk tempat kalian memberikan tanggapan tentang video tersebut. 

    Silahkan kalian pelajari dahulu materinya dan saya harap kalian  aktif di perkuliahan daring hari ini.

    Terima kasih. Wassalamualaikum


    • Manajemen Konflik dan Negosiasi

      1.      Definisi konflik

      2.      Tipe dan Lokus Konflik

      3.      Proses konflik

      4.      Manfaat Konflik

      5.      Pengelolaan Konflik

      6.      Mengatasi Konflik

      7.      Negosiasi

      8.      Implikasi bagi Manajer

      9.     Tinjauan Akhir

    • Bab 14  Konflik & Negosiasi

      sumber: PERILAKU ORGANISASI ΓÇô STEPHEN P. ROBBINS & TIMOTHY A. JUDGE

      DEFINISI KONFLIK
      Konflik didefinisikan sebagai sebuah proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif, atau akan memengaruhi secara negative, sesuatu yang menjadi kepedulian atau kepentingan pihak pertama. Hal ini menggambarkan satu titik dalam kegiatan yang sedang berlangsung ketika sebuah interaksi ΓÇ£berubahΓÇ¥ menjadi suatu konflik antar pihak.

      PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TENTANG KONFLIK
      1.             PANDANGAN TRADISIONAL
      Berpandangan bahwa semua konflik itu berbahaya dan harus dihindari. Pandangan ini sejalan dengan sikap yang dianut banyak orang menyangkut perilaku kelompok tahun 1930-an dan 1940-an. Konflik dipandang sebagai akibat disfungsional dari komunikasi yang buruk, tidak adanya keterbukaan dan kepercayaan antar anggota, serta ketidakmampuan para manager untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan mereka.
      Ini merupakan pandangan sederhana. Karena semua konflik harus dihindari, kita hanya perlu mengarahkan perhatian pada sebab-sebab konflik serta mengkoreksi malfungsi ini untuk memperbaiki kinerja kelompok dan organisasi.

      2.      PANDANGAN HUBUNGAN MANUSIA
      Pandangan ini berpendapat bahwa konflik adalah kejadian alamiah dalam semua kelompok dan organisasi. Karena konflik tak terhindarkan, mazhab hubungan manusia mendorong kita untuk menerima keberadaan konflik.pandangan hubungan manusia ini mendominasi teori konflik dari akhir tahun 1940-an sampai pertengahan tahun 1970-an.

      3.      PANDANGAN INTERAKSIONIS
      Pandangan ini mendorong munculnya konflik dengan dasar pemikiran bahwa sebuah kelompok yang harmonis, damai, tenang, dan kooperatif biasanya menjadi statis, apatis, serta tidak tanggap terhadap perlunya perubahandan inovasi. Pandangan ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua konflik adalah baik. Terdapat dua kategori konflik, yaitu:
      ┬╖         Konflik fungsional, yaitu konflik yang mendukung tujuan kelompok dan meningkatkan kinerjanya.
      ┬╖         Konflik disfungsional, yaitu konflik yang menghambat kinerja kelompok.
      Secara spesifik, ada tiga tipe konflik:
      ┬╖         Konflik tugas, yaitu berhubungan dengan muatan dan tujuan pekerjaan.
      ┬╖         Konflik hubungan, yaitu berfokus pada hubungan antarpersonal.
      ┬╖         Konflik proses, berhubungan dengan bagaimana suatu pekerjaan dilaksanakan.

      PROSES KONFLIK
      Proses Konflik (conflict process) dapat dipahami sebagai sebuah proses yang terdiri atas lima tahapan: potensi pertentang atau ketidakselarasan, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku, dan akibat.

      TAHAP I: POTENSI PERTENTANGAN ATAU KETIDAKSELARASAN
      Tahap pertama dalam proses konflik adalah munculnya kondisi-kondisi yang menciptakan peluang bagi pecahnya konflik. Kondisi-kondisi tersebut tidak mesti mengarah langsung ke konflik, tetapi salah satu darinya diperlukan jika konflik hendak muncul. Secara sederhana, kondisi-kondisi tersebut (yang juga bisa dipandang sebagai sebab atau sumber konflik) dapat dipadatkan ke dalam tiga kategori umum: komunikasi, struktur, dan variable-variabel pribadi.

      KOMUNIKASI
      Hambatan dalam komunikasi bisa disebabkan oleh fakor visual, auditorial, sentuhan, bau, dan sikap. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konotasi kata dapat menimbulkan makna yang berbeda, jargon, pertukaran informasi yang tidak memadai, dan kegaduhan pada saluran komunikasi merupakan hambatan komunikasi dan kondisi potential pendahulu yang menimbulkan konflik. Bukti memperlihatkan bahwa kesulitan semantic muncul sebagai akibat dari perbedaan dalam pelatihan, persepsi selektif, dan informasi yang tidak memadai mengenai orang lain. penelitian lebih jauh telah memperlihatkan temuan yang mengejutkan. Potensi konflik meningkat ketika terjadi terlalu sedikit atau terlalu banyak komunikasi. Terlalu banyak dan juga terlalu sedikit komunikasi dapat menjadi dasar bagi timbulnya konflik.
      Lebih jauh, saluran yang dipilih untuk komunikasi bisa mempengaruhi tingkat potensi pertentangan. Proses penyaringan atau filterisasi yang terjadi ketika informasi disampaikan diantara para anggota dan penyimpangan komunikasi atau distorsi dari saluran-saluran formal atau yang dibangun sebelumnya juga membuka keran peluang munculnya konflik.

      ┬╖         STRUKTUR
      Istilah struktur digunakan untuk mencakup variabel-variabel seperti ukuran, kadar spesialisasi dalam tugas-tugas yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan yuridiksi, keserasian antara anggota dan tujuan, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan kadar ketergantungan antar kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran dan spesialisasi bertindak sebagai daya yang merangsang konflik. Semakin besar kelompok dan semakin terspesialisasi kegiatan-kegiatannya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik. Masa kerja dan konflik diketahui berkorelasi terbalik. Potensi konflik cenderung paling tinggi jika anggota-anggota kelompok lebih muda dan ketika tingkat perputaran karyawan tinggi. Semakin besar ambiguitas dalam mendefinisikan secara tepat di mana letak tanggung jawab atas tindakan, semakin besar potensi munculnya konflik. Ambiguitas yurusdiksional semacam ini meningkatkan potensi pertikaian antarkelompok untuk memperebutkan kendali atas sumber daya dan wilayah teritorial. Kelompok-kelompok dalam organisasi memiliki tujuan yang beragam. Beragamnya tujuan di antara kelompok-kelompok ini merupakan salah satu sumber utama konflik. Ketika kelompok-kelompok dalam sebuah organisasi mengejar tujuan yang beragam, yang sebagian saling bertentangan, peluang terjadinya konflik pun akan meningkat.

      Ada indikasi bahwa gaya kepemimpinan yang melekat meningkatkan potensi konflik, tetapi bukti pendukungnya tidak terlalu kuat. Terlalu mengandalkan partisipasi juga dapat merangsang konflik. Penelitian cenderung menemukan bahwa partisipasi dan konflik sangat berkorelasi, tentu karena partisipasi mendorong dipromosikannya perbedaan. Sistem imbalan juga diketahui menciptakan konflik ketika perolehan salah seorang anggota dipandang merugikan anggota lain. Terakhir, jika sebuah kelompok bergantung pada kelompok lain (berlawanan dengan dua kelompok yang saling mandiri) atau jika saling ketergantungan memungkinkan satu kelompok mendapat hasil sembari merugikan kelompok lain, daya konflik pun akan terangsang.

      ┬╖         VARIABEL - VARIABEL PRIBADI
      Variabel variable pribadi adalah variable variable yang meliputi kepribadian, emosi, dan nilai nilai. Bukti menunjukkan bahwa jenis kepribadian tertentu,misalnya, individu yang sangat otoriter dan dogmatis memiliki potensi memunculkan konflik. Emosi dapat juga menyebabkan konflik. Misalnya, seorang karyawan yang dating kerja dengan marah karena perjalanan paginya tidak mengenakkan dam mungkin membawa amarah itu ke dalam rapat dalam perusahaannya. Amarah itu dapat menjengkelkan kolega koleganya. Yang kemudian menyebabkan ketegangan dalam rapat. Nilai yang berbeda beda yang dianut tiap tiap anggota dapat menjelaskan munculny konflik. Perbedaan nilai, misalnya, merupakan penjelasan terbaik menyangkut beragam isu seperti prasangka, ketidaksepakatan atas kontribusi seorang terhadap kelompok dan imbalan yang layak diterima seseorang. Patut juga diperhatikan bahwa kultur dapat menjadi sumber nilai yang bertentangan. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa orang jepang dan amerika serikat memandang konflik secara berbeda. Dibandingkan dengan para negosiator jepang, orng amerika lebih mungkin untuk melihat tawaran dari mitra lawan mereka tidak layak dan lalu menolak tawaran mereka tersebut.

      TAHAP II : KOGNISI DAN PERSONALISASI
      Sebagaimana telah disinggung dalam definisi mengenai konflik, diisyaratkan adanya persepsi. Karena itu, salah satu pihak atau lebih haris menyadari adanya kondisi kondisi anteseden atau pendahulu. Namun, karena suatu konflik yang dispersepsi (perceived), tidak berarti bahwa konflim itu dipersonalisasi.

      Konflik dispersepsi adalah kesadaran oleh satu atau lebih pihak akan adanya kondisi kondisi yang menciptakan peluang munculnya konflik.
      Ingatlah akan 2 hal yaitu:
      Dalam Tahap II ini disinilah isu isu konflik biasanya didefinisikan. Pada tahapan proses inilah, para pihak memutuskan konflik itu tentang apa dan akan menentukan jalan panjang menuju akhir penyelesaian konflik.
      Bahwa emosi memainkan peranan utama dalam membangun persepsi

      TAHAP III : MAKSUD
      Maksud (intentions) mengintervensi antara persepsi serta emosi orang dan perilaku luaran mereka. Maksud adalah keputusan untuk bertindak dengan cara tertentu.
      Banyak konflik bertambah parah semata mata karena salah satu dari pihak salah dalam memahami maksud lain. Selain itu, biasanya perbedaan yang besar antara maksud dan perilaku, sehingga perilaku tidak selalu mencerminkan secara akurat maksud seseorang.

      5 Maksud penanganan konflik :
      BERSAING (COMPETING)
      Ketika seseorang brusaha memperjuangkan kepentingan sendiri, tanpa mempedulikan dampaknya atas pihak lain yang berkonflik.

      BEKERJA SAMA (COLLABORATING)
      ketika pihak yang berkonflik berkeinginan untuk bersama sama memperjuangkan kepentingan kedua belah pihak, dan mengupayakan hasil yang sama sama menguntungkan serta pencarian kesimpulan yang menyertakan wawasan yang valid dari kedua belah pihak.
      MENGHINDAR (AVAIDING)
      Hasrat untuk menarik diri dari atau menekan sebuah konflik. Contoh dari perilaku menghindar (avaiding) adalah mencoba mengabaikan suatu konflik dan menghindari orang lain yang tidak bersepakat dengan diri sendiri.

      AKOMODATIF (ACCOMODATING)
      Kesediaan salah satu pihak yang berkonflik untuk menempatkan kepentingan lawannya diatas kepentingannya sendiri. Contoh dari akomodatif (accommodating) adalah kesediaan untuk mengorbankan kepentingan diri sendiri sehingga tujuan pihak lain dapat tercapai, mendukung pendapat orang lain meskipun diri sendiri sebenarnya enggan, serta memaafkan seseorang atas suatu pelanggaran dan membuka pintu bagi pelanggaran selanjutnya.

      KOMPROMIS (COMPROMISING)  
      Suatu situasi dimana masing-masing pihak yang berkonflik bersedia mengalah dalam satu atau lain hal. Ketika masing-masing pihak yang berkonflik berusaha mengalah dalam satu atau lain hal, terjadilah tindakan berbagi yang mendatangkan kompromi. Ciri khas dari maksud kompromis adalah bahwa masing-masing pihak rela menyerahkan sesuatu atau mengalah. Contohnya yaitu kesediaan dalam menerima kenaikan gaji 2 dollar per jam  dan bukannya 3 dollar, untuk menerima kesepakatan parsial dengan sudut pandang tertentu, dan untuk mengaku turut bertanggung jawab atas sebuah pelanggaran.

      Dari maksud-maksud yang diuraikan diatas, dapat memberikan panduan umum bagi para pihak yang berada dalam situasi konflik dimana panduan tersebut menentukan tujuan dari masing-masing pihak. Akan tetapi, maksud orang tidak selalu sama. Selama konflik itu masih berjalan, maksud itu bisa saja berubah karena rekonseptualisasi atau reaksi emosional terhadap perilaku pihak lain. Jadi lebih tepat memandang memandang kelima maksud penanganan konflik itu relatif pasti daripada memandangnya sebagai sekumpulan pilihan untuk menyesuaikan dengan situasi yang semestinya. Artinya ketika berhadapan dengan konflik, sebagian orang ingin menanganinya apa pun bayarannya, sebagian ingin mencari solusi yang optimal, sebagian ingin ΓÇ£cuci tanganΓÇ¥, sebagian lainnya ingin membantu, dan sebagian lainnya ingin ΓÇ£berbagi perbedaanΓÇ¥.    

      TAHAP IV: PERILAKU
      Ketika berpikir tentang situasi konflik, maka sebagian besar orang akan cenderung memusatkan perhatian mereka pada Tahap IV yaitu perilaku. Tahap perilaku ini meliputi pernyataan, aksi, dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik. Perilaku konflik ini biasanya merupakan upaya kasat mata untuk mengoperasikan maksud dari masing-masing pihak. Tetapi perilaku ini memiliki kualitas stimulus yang berbeda dari maksud. Sebagai akibat dari salah perhitungan atau ketrampilan operasional yang rendah, perilaku yang tampak terkadang menyimpang dari maksud semula.

      Jika suatu konflik bersifat disfungsional, apa yang dapat dilakukan oleh para pihak untuk meredakannya? Atau, sebaliknya, pilihan apa yang tersedia jika konflik terlalu rendah dan perlu dieskalasi? Hal ini akan menuntun pada teknik-teknik manajemen konflik (conflict management). Manajemen konflik merupakan pemanfaatan dari teknik-teknik resolusi dan dorongan (stimulasi) untuk mencapai tingkat konflik yang diinginkan.

      Kontinum Intensitas Konflik
      Konflik Destruktif
      -       
      Upaya terang-terangan untuk menghancuran pihak lain
      -       
      Serangan fisik secara agresif
      -       
      Ancaman dan  ultimatum
      -       
      Serangan verbal secara kasar
      -       
      Terang-terangan mempertanyakan atau menentang orang lain
      -       
      Ketidaksepakatan atau kesalahpahaman kecil
      Tidak Ada Konflik
      -       

      Teknik-Teknik Penyelesaian Konflik
      Pemecahan Masalah
      Pertemuan tatap muka pihak-pihak yang berkonflik untuk mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya melalui diskusi terbuka.
      Tujuan Superordinat
      Menetapkan tujuan bersama yang tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dari setiap pihak yang berkonflik.
      Ekspansi Sumber Daya
      Ketika sebuah konflik timbul karena kelangkaan sumber daya-katakan uang, promosi, kesempatan ruang kantor-ekspansi sumber daya dapat menciptakan solusi yang saling menguntungkan.
      Penghindaran
      Penarikan diri dari, atau penyembunyian, konflik.
      Memperhalus
      Meminimalkan perbedaan sembari menekankan kepentingan bersama diantara pihak-pihak yang berkonflik.
      Berkompromi
      Masing-masing pihak yang berkonflik menyerahkan sesuatu yang bernilai.
      Perintah Otoritatif
      Manajemen menggunakan wewenang formalnya untuk menyelesaikan konflik dan kemudian menyampaikan keinginannya kepada pihak-pihak yang terlibat.
      Mengubah Variabel Manusia
      Menggunakan teknik-teknik perubahan perilaku seperti pelatihan hubungan insani untuk mengubah sikap dan perilaku yang menyebabkan konflik.
      Mengubah Variabel Struktural
      Mengubah struktur organisasi formal dan pola-pola interaksi dari pihak-pihak yang berkonflik melalui rancang ulang pekerjaan, pemindahan, penciptaan posisi koordinasi, dan sebagainya.
      Teknik-Teknik Stimulasi Konflik
      Komunikasi
      Menggunakan pesan-pesan ambigu atau yang sifatnya mengancam untuk menaikkan tingkat konflik.
      Memasukkan Orang Luar
      Menambahkan karyawan ke suatu kelompok dengan latar belakang, nilai-nilai, sikap, atau ,,,, manajerialnya berbeda dari anggota-anggota yang ada sekarang.
      Restrukturisasi Organisasi
      Menata ulang kelompok-kelompok kerja, mengubah aturan dan ketentuan, meningkatkan kesalingtergantungan, dan membuat perubahan struktural yang diperlukan untuk menggoyang status quo.
      Membuat Kambing Hitam
      Menunjuk seorang pengkritik untuk secara sengaja mendebat posisi mayoritas yang digenggam oleh kelompok.


      TAHAP V: AKIBAT
      Jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan konsekuensi. Akibat atau konsekuensi ini bisa bersifat fungsional dalam arti konflik tersebut menghasilkan perbaikan kinerja kelompok atau juga bisa bersifat disfungsional karena justru menghambat kinerja kelompok.

         AKIBAT FUNGSIONAL
      Konflik bersifat konstruktif ketika hal itu memperbaiki kualitas keputusan, merangsang kreativitas dan inovasi, mendorong minat dan keingintahuan diantara anggota kelompok, meyediakan media atasu sarana untuk mengungkapkan masalah dan menurunkan ketegangan serta mendorong evaluasi diri dan perubahan. Konflik menutup kemungkinan kelompok menjadi pasif dan sekedar menjadi ΓÇ£lembaga stempelΓÇ¥ terhadap berbagai keputusan yang didasarkan asumsi yg lembah dan pertimbangan yang kurang memadai terhadap alternatif yang relevan atau kelemahan kelemahan lain. Konflik dapat mendorong dikemukakannya ide-ide baru, peninjauan ulang tujuan dan kegiatan kelompok, serta meningkatan kemampuan kelompok menanggapi perubahan. Perbandingan enam keputusan yang dibuat oleh empat presiden Amerika menemukan bahwa konflik menurunkan peluang pemikiran kelompok menguasai keputusan kebijakan. Artinya kebijakan menjadi lebih baik. Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa konflik terkait positif dengan produktivitas dimana rata-rata perbaikan keputusan diantara kelompok-kelompok dengan tingkat konflik tinggi 73% lebih besar daripada perbaikan dari kelompok dengan tingkat konflik rendah.
      Meningkatnya keragaman kultur dari anggota dapat memberikan manfaat lebih besar bagi organisasi. Penelitian memperlihatkan bahwa heterogenitas antar anggota kelompok dan organisasi dapat meningkatkan kreativitas, memperbaiki kualitas keputusan dan memfasilitasi perubahan dengan cara meningkatkan fleksibilitas anggota.

      ┬╖         AKIBAT DISFUNGSIONAL
      Pertengkaran yang tak terkendali menumbuhkan rasa tidak senang, yang menyebabkan ikatan bersama renggang, dan pada akhirnya menuntun pada kehancuran kelompok. Diantara konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan tersebut, terdapat lambannya komunikasi, menurunnya kekompakan kelompok, dan subordinasi tujuan kelompok oleh dominasi perselisihan antar anggota bahkan bisa sampaik menghentikan kelompok yang sedang berjalan.

      MENCIPTAKAN KONFLIK FUNGSIONAL
      Dalam situasi persaingan global dewasa ini organisai yang tidak mendorong dan tidak mendukung pebedaan bisa terancam kelangsungan hidupnya. Yang menjadi pertanyaan bagi para manager adalah apa yang harus dilakukan untuk memunculkan dan memelihara konflik agar funsional. Salah satu cara organisasi menciptakan konflik fungsional adalah dengan memberi penghargaan kepada orang yang berbeda pendapat dan menghukum mereka yang suka menghindari konflik. Selanjutnya yang menjadi tantangan bagi para manajer adalah apakan mereka mau mendengar sesuatu tidak ingin mereka dengar. Mereka harus belajar menerima sesuatu tanpa menciptakan konfrontasi.

      Beberapa contoh pendekatan yang digunakan oleh organisasi untuk mendorong anggota- anggota mereka menantang sistem dan mengembangkan ide-ide baru nan segar:
      Hewlett- Packard
      Memberi penghargaan kepada dissenters (orang yang memiliki pendapat berbeda) dengan cara mengakui keberadaan dan kontribusi mereka dan kepada orang ΓÇô orang yang mempertahankan ide-ide mereka meskipun ide ΓÇô ide tersebut sudah berulang kali ditolak oleh management.
      Herman Miller Inc
      Memiliki system formal dimana karyawan dapat mengevaluasi dan mengkritik atasan mereka
      IBM
      Memiliki system formal yang mendorong perbedaan. Para karyawan berhak menilai dan mengkritik atasan mereka tanpa perlu takut kena hukuman.  Jika perbedaan tidak dapat terselesaikan, system tersebut memberi peluang kepada pihak ketiga untuk memberikan nasehat atau saran.
      Royal Dutch Shell Group, General Electric, Anheuser- Busch
      Memunculkan DevilΓÇÖs Advocates (lawan tanding yang tidak selalu mengiyakan apa yang diyakini bersama) di dalam proses pengambilan keputusan mereka.

      NEGOSIASI
      Negosiasi adalah sebuah proses dimana dua pihak atau lebih melakukan pertukaran barang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati nilai tukarnya.
      Terdapat 2 (dua) pendekatan umum terhadap negosiasi:
      TAWAR MENAWAR DISTRIBUTIF (DISTRIBUTIVE BARGAINING)
      Ciri yang paling jelas ditunjukan bahwa strategi ini berjalan dibawah zero-sum. Itu artinya, perolehan apapun yang saya dapatkan adalah dengan mengurbankan Anda, dan sebaliknya. Jadi hakikat tawar-menawar distributif adalah menegosiasikan siapa mendapat bagian apa dari sebuah kue yang besarnya sama dan tetap (fixed pie). Dengan kue itu, yang kami maksudkan adalah bahwa tiap-tiap pihak yang saling menawar meyakini hanya ada sejumlah barang atau jasa untuk dibagi. Karena itu, kue tetap adalah permainan zero-sum dalam arti bahwa setiap 1 dollar di saku salah satu pihak adalah 1 dollar yang keluar dari saku lawan tawar mereka. Ketika para pihak meyakini kuenya tetap maka cenderungan melakukan penawaran distributif. Contoh yang bisa diambil adalah negosiasi buruh ΓÇô manajemen mengenai upah. 

      TAWAR MENAWAR INTEGRATIF (INTEGRATIVE BARGAINING)
      Berkebalikan dengan tawar-menawar distributive, tawar-menawar integrative dilakukan atas dasar asumsi bahwa ada satu penyelesaian atau lebih, yang dapat menciptakan ΓÇ£winΓÇôwin solutionΓÇ¥ atau saling menguntungkan.
      Dalam lingkungan intraorganisasi, tawar-menawar integrative lebih dipilih daripada negosiasi distributive. Hal ini terjadi karena negosiasi integrative menjaga hubungan jangka panjang. Tawar-Menawar integrative mengikat para perunding sekaligus memungkinkan mereka untuk meninggalkan meja perundingan dengan perasaan kemenangan.
      Tawar-Menawar integratif jarang terlihat dalam sebuah organisasi karena terletak pada syarat-syarat yang dibutuhkan agar negosiasi semacam ini berjalan. Syarat-syarat tersebut meliputi :
      1.      Pihak-pihak yang terbuka pada informasi
      2.      Jujur dengan kepentingan mereka
      3.      Kepekaan kedua pihak terhadap kebutuhan pihak lain
      4.      Kemampuan untuk saling percaya,
      5.      Kesediaan kedua pihak menjaga fleksibilitas

      Negosiasi dalam sebuah organisasi biasanya berupa dinamika asal saya senang. Beberapa cara untuk mencapai hasil yang lebih integrative:
      Tawar-Menawar dalam Tim
      Semakin banyak orang yang duduk di meja perundingan semakin banyak ide yang muncul
      Mengajukan lebih banyak persoalan,
      Semakin banyak persoalan yang diajukan dalam negosiasi terselesaikan, semakin besar peluang untuk mencoba mencari solusi yang saling menguntungkan dalam berbagai persoalan lain yang mengandung perbedaan preferensi.

      Perlu disadari bahwa kompromi bisa menjadi musuh terburuk dalam menegosiasikan kesepakatan yang saling menguntungkan. Ini dikarenakan kompromi (mengalah) menurunkan tekanan untuk melakukan negosiasi secara integrative. Jika salah satu pihak mudah mengalah, tidak ada yang menjadi kreatif dalam usaha mencapai penyelesaian.

      Tabel Perbandingan Tawar-Menawar Distributif dengan
      Tawar-Menawar Integratif
      Karakteristik Tawar Menawar
      Tawar-Menawar Distributif
      Tawar-Menawar Integratif
      Tujuan
      Mendapatkan potongan kue sebanyak mungkin
      Memperbesar kue sehingga kedua belah pihak puas.
      Motivasi
      Menang ΓÇô Kalah
      Menang ΓÇô Menang
      Fokus
      Posisi (saya tidak dapat memberi lebih banyak daripada ini)
      Kepentingan (dapatkah anda jelaskan mengapa isu ini begitu penting bagi anda?)
      Kepentingan
      Berlawanan
      Selaras
      Tingkat Berbagi Informasi
      Rendah (berbagi informasi hanya akan memungkinkan pihak lain mengambil keuntungan kita)
      Tinggi (berbagi informasi akan memungkinkan masing-masing   pihak untuk menemukan cara yang akan memuaskan kepentingan kedua belah pihak)
      Lama hubungan
      Jangka Pendek
      Jangka Panjang

      PROSES NEGOSIASI
      Dalam pembahasan ini menyebutkan negosiasi tersusun atas lima tahap, yaitu :
      1.      Persiapan dan Perencanaan
      2.      Penentuan Aturan Dasar
      3.      Klarifikasi dan Justifikasi
      4.      Tawar Menawar dan Pemecahan Masalah
      5.      Penutupan dan Implementasi

      PERSIAPAN DAN PERENCANAAN
      Berisi tentang pertanyaan ΓÇô pertanyaan awal yang akan muncul dalam suatu tahap negosiasi diantaranya : apa hakikat, dan sejarahnya sehingga harus melakukan negosiasi, serta siapa yang akan terlibat dan bagaimana persepsi mereka tentang konflik tersebut. Dan apakah tujuan dan keinginan dalam negosiasi tersebut. Sebagai negosiator yang baik kita harus bisa memprediksi Alternatif Terbaik untuk Kesepakatan Negosiasi (Best Alternative To a Negoiated Agrement) yang di sebut juga dengan nama BATNA, yaitu alternatif terbaik bagi sebuah kesepakatan negosiasi, nilai terndah yang dpat di terimah bagi seorang individu untuk sebuah kesepakatan negosiasi.

      PENENTUAN ATURAN DASAR
      Setelah pertanyaan pada bagian pertama terselesaikan maka muncul lagi pertanyaan selanjutnya yaitu : siapa yang melakukan, dimana akan di lakukan, kendala apa yang akan muncul, batasan persoalan, dan prosedur yang akan di tempu jika terjadi kebuntuan negosiasi. Dalam fase ini, para pihak akan juga bertukar proposal atau tuntutan awal mereka.

      KLARIFIKASI DAN JUSTIFIKASI
      Inilah titik dimana kemungkinan perlu memberikan segala dokumen kepada pihak lain yang kiranya dapat membantu posisi kita dalam tahapan negosiasi tersebut ketika posisi awal saling di pertukarkan, dan kedua belah pihak akan memaparkan, menguatkan, mengkalrifikasi, memperthankan, dan menjustifikasi tuntutan awal.

      TAWAR MENAWAR DAN PENYELESAIAN MASALAH
      Hakikat proses negosiasi terletak pada tindakan memberi dan menerima yang sesungguhnya dalam rangka mencari suatu kesepakatan. Di sinilah konsensi tidak di ragukan lagi perlu di buat oleh kedua belah pihak.

      PENUTUPAN DAN IMPLEMENTASI
      Tahap akhir dalam proses negosiasi adalah memformalkan kesepakatan yang telah di buat serta menyusun prosedur yang di perlukan untuk implementasi dan pengawasan pelaksanaan. Dalam setiap kesepakatan negosiasi mensyaratkan tentang hal ΓÇô hal spesifik dalam hal kontrak formal, tapi dalam kebanyakan kasus proses kesepakatan hanya di tandai dengan sekedar berjabat tangan.

      ISU - ISU DALAM NEGOSIASI
      Peran Suasana Hati Dan Sifat Kepribadian Dalam Negosiasi
      Suasana hati penting dalam negosiasi. Para perunding yang suasana hatinya positif memperoleh hasil yang lebih baik daripada mereka yang suasana hatinya biasa-biasa saja. Hasil penelitian terhadap hubungan kepribadian-negosiasi menunjukkan bahwa sifat-sifat kepribadian tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap proses hasil negosiasi. Ego yang besar juga dapat mempengaruhi negosiasi. Individu-individu yang berpikir untuk menyelamatkan mukanya sendiri memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mencapai kesepakatan daripada mereka yang kurang peduli untuk sukses. Jadi, orang yang mampu melepas ego mereka sendiri mampu menegosiasikan kesepakatan secara lebih baik bagi mereka dan bagi pihak lain, baik situasi tawar menawarnya distributif dan integratif.
      Perbedaan Gender dalam Negosiasi
      Stereotip populer yang dianut banyak orang mengatakan bahwa kaum perempuan lebih kooperatif dan menyenangkan dalam negosiasi daripada kaum laki-laki. Namun laki-laki ditemukan mampu menegosiasikan hasil yang lebih baik daripada perempuan, meskipun perbedaanya relatif kecil. Keyakinan bahwa perempuan lebih menyenangkan daripada laki-laki dalam negosiasi barangkali karena persoalan gender yang membingungkan dan lebih rendahnya posisi yang dipegang kaum perempuan di kebanyakan organisasi besar. Sedangkan dalam situasi dimana perempuan dan laki-laki memiliki basis kekuasaan yang sama, rasanya tidak akan ada perbedaan yang signifikan dalam gaya negosiasi mereka.

      Konteks kultur dalam negosiasi
      Secara signifikan mempengaruhi jumlah dan jenis persiapan untuk tawar menawar, penekanan relative pada tugas dibanding hubungan antar personal, taktik yang digunakan, dan bahkan dimana negosiasi itu dilaksanakan. Sebagai ilustrasi mari kita perhatikan dua studi yang membandingkan pengaruh kultur terhadap negosiasi bisnis bisnis :
      1.      Studi pertama membandingkan orang Amerika Utara, Arab dan Rusia dalam factor gaya bernegosiasi, cara menghadapi argument lawan, pendekatan untuk menghasilkan konsensi dan negosiasi dengan waktu yang ditentukan.
      a.      Amerika Utara : mencoba membujuk dengan mengandalkan fakta dan logika, menangkis argument dengan fakta dan logika, membuat konsensi diawal negosiasi untuk membangun hubungan dan biasanya membalas konsensi lawan, dan tenggat waktu sangat penting.
      b.      Arab : membujuk lawan dengan emosi, menangkis argument lawan dengan perasaan subjektif, membuat konsensi sepanjang proses tawar menawar dan hampir selalu membalas konsensi lawan, dan memperlakukan tenggat waktu dengan santai.
      c.       Rusia : mendasarkan argument mereka pada standar yang tegas, membuat sedikit, bila ada, konsensi. Konsensi apapun yang ditawrkan lawan dipandang sebagai suatu kelemahan dan hamper tak pernah dibalas. Cenderung mengabaikan tenggat waktu.

      2.      Studi kedua mengamati taktik negosiasi verbal dan non verbal antara orang Amerika Utara, Jepang dan Brasil selama sesi perundingan berdurasi 30 menit.
      a.      Orang Brasil rata-rata mengatakan ΓÇÿtidakΓÇ¥ 83 kali dibandingkan Jepang 5 kali dan Amerika Utara 9 kali.
      b.      Jepang menampilkan sikap diam selama lebih dari 10 detik selama lebih dari 5 periode, Amerika Utara 3,5 kali, dan Brasil tidak sama sekali.
      c.       Jepang dan Amerika Utara mengintrupsi lawan mereka dengan frekuensi yang sama, tetapi Brasil mengintrupsi lawan mereka 2,5 sampai 3 kali lebih banyak.
      d.      Jepang dan Amerika Utara tidak mempunyai kontak fisik dengan lawan mereka selama negosiasi kecuali berjabat tangan, tapi orang Brasil saling menyentuh hampir 5 kali setiap setengah jam.

      NEGOSIASI PIHAK KETIGA
      Ada 4 peran pokok pihak ketiga yaitu :
      1.      Mediator
      Pihak ketiga yang bersikap netral yang memfasilitasi negosiasi solusi dengan menggunakan penalaran dan persuasi, menyodorkan alternative dan semacamnya. Mediator banyak digunakan dalam negosiasi buruh-manajemen dan dalam sengketa perdata.
      2.      Arbitrator
      Pihak ketiga yang memiliki wewenang untuk menentukan kesepakatan.  Arbitrase bisa bersifat sukarela (diminta) atau wajib (dipaksakan kepada para pihak berdasarkan undang-undang atau kontrak yang berlaku).  Kelebihannya dibanding mediasi adalah menghasilkan penyelesaian.
      3.      Konsiliator
      Pihak ketiga yang dipercaya untuk membangun relasi komunikasi informal antara perunding dan lawannya.
      4.      Konsultan
      Pihak ketiga yang terlatih dan tidak berpihak yang berupaya memfasilitasi pemecahan masalah melalui komunikasi, analisis, dengan dibantu pengetahuan mereka mengenai manajemen konflik.


  • Assalamualaikum wr. wb

    Tabik pun...

    Selamat pagi semuanya. Apakabar kalian? Semoga selalu sehat dan tetap semangat.

    Selamat datang kembali di mata kuliah Perilaku Organisasi, materi tentang Budaya Organisasi terbagi menjadi beberapa sub pokok bahasan yang bisa kalian baca di power poinnya. Materi tambahan berupa penjelasan tentang Budaya Organisasi bisa kalian baca di laman lms ini.  Begitu juga video tentang Budaya Organisasi.  Saya siapkan juga diskusi forum untuk tempat kalian memberikan tanggapan dan komentar tentang materi hari ini. 

    Silahkan kalian pelajari dahulu materinya dan saya harap kalian  aktif di perkuliahan daring hari ini.

    Terima kasih. Wassalamualaikum



    • Budaya Organisasi

      1.      Definisi budaya

      2.      Peran bdaya dalam organisasi

      3.      Menciptakan dan mempertahankan budaya

      4.      Mempelajari budaya

      5.      Budaya beretika

      6.      Budaya positif

      7.      Spiritualitas dan budaya organisasi

      8.      Implikasi budaya bagi organisasi


    • Apa itu budaya organisasi? Pengertian Budaya Organisasi adalah suatu karakteristik yang ada pada sebuah organisasi dan menjadi pedoman organisasi tersebut sehingga membedakannya dengan organisasi lainnya. Dengan kata lain, budaya organisasi adalah norma perilaku dan nilai-nilai yang dipahami dan diterima oleh semua anggota organisasi dan digunakan sebagai dasar dalam aturan perilaku dalam organisasi tersebut.

      Budaya organisasi secara sederhana dapat juga diartikan bagaimana segala sesuatu diselesaikan di tempat tersebut (Deal & Kennedy, 2000). Budaya dalam sebuah organisasi melibatkan sekumpulan pengalaman, filosofi, pengalaman, ekspektasi dan juga nilai yang terkandung di dalamnya yang nanti akan tercermin dalam perilaku anggota, mulai dari inner working,interaksi dengan lingkungan di luar organisasi, sampai ekpsktasi di masa depan.

      Ada juga yang menjabarkan budaya organisasi (baca: Pengertian Organisasi) berarti melibatkan peraturan tertulis dan tak tertulis, asumsi, kebiasaan, bahasa, simbol, norma, visi, sistem, kepercayaan dan nilai (Needle, 2004). Di sisi lain, beberapa pengertian budaya organisasi justru menekan dan membentuk tingkah laku karyawan dalam organisasi tersebut.

      Jadi mau tidak mau, ketika mereka masuk ke sana, mereka akan mengikuti kebiasaan dan budaya yang berlaku di sana.

      Pengertian Budaya Organisasi Menurut Para Ahli

      Beberapa ahli di bidang ilmu sosiologi pernah menjelaskan mengenai defenisi Budaya organisasi, diantaranya adalah:

      1. Susanto

      Menurut susanto, pengertian budaya organisasi adalah nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan usaha penyesuaian integrasi ke dalam organisasi, dengan begitu masing-masing anggota organisasi wajib memahami nilai-nilai yang ada dan sebagaimana mereka harus bertingkah laku atau berperilaku.

      2. Robbins

      Menurut Robbins pengertian budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh masing-masing anggota yang membedakan sebuah organisasi dengan organisasi yang lain.

      3. Gareth R. Jones

      Menurut Gareth R. Jones pengertian budaya organisasi adalah sebuah persepsi bersama yang dianut oleh masing-masing anggota organisasi, suatu sistem dari makna bersama.

      4. Walter R. Freytag

      Menurut Walter R. Freytag pengertian budaya organisasi adalah berbagai asumsi dan nilai yang disadari atau tidak disadari yang mampu mengikat kepaduan sebuah organisasi. Asumsi dan nilai tersebut menjadi penentu pola perilaku para anggota di dalam organisasi.

      5. Larissa A. Grunig

      Menurut Larissa A. Grunig arti budaya organisasi adalah totalitas nilai, simbol, makna, asumsi, dan harapan yang mampu mengorganisasikan sebuah kelompok yang bekerja secara bersama-sama.

      6. Lathans (1998)

      Menurut Lathans pengertian budaya organisasi adalah norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi. Semua anggota organisasi akan berperilaku sesuai dengan budaya yang berlaku agar diterima oleh lingkungannya.

      7. Sarpin (1995)

      Menurut Sarpin, pengertian budaya organisasi adalah suatu sistem nilai, kepercayaan, dan kebiasaan di dalam sebuah organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur system formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.

      8. Schein

      Menurut Schein pengertian budaya organisasi adalah sebuah pola dari berbagai asumsi dasar yang ditemukan, diciptakan, atau dikembangkan oleh sebuah kelompok dengan tujuan agar organisasi belajar mengatasi dan menganggulangi masalah-masalah yang timbul akibat adaptasi eksternal dan integrasi internal yang sudah berjalan dengan cukup baik.

      Dengan begitu, budaya organisasi harus diajarkan kepada semua anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami, memikirkan, dan merasakan berkenaan dengan masalah-masalah tersebut.

      9. Mondy dan Noe (1996)

      Menurut Mondy dan Noe pengertian Budaya Organisasi adalah sistem dari shared values, keyakinan, dan kebiasaan yang ada pada sebuah organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menciptakan norma-norma perilaku.

      10. Hodge, Anthony, dan Gales (1996)

      Menurut Hodge, Anthony, dan Gales pengertian budaya organisasi adalah konstruksi dari dua tingkat karakteristik, yaitu karakteristik organisasi yang kelihatan (observable)dan yang tidak kelihatan (unoservable).

      Baca juga: Pengertian Struktur Organisasi

      Fungsi / Peran Budaya Organisasi

      Seperti dijelaskan dalam pengertian budaya organisasi di atas, leader memberi peranan penting dalam membentuk budaya kerja pada organisasi. Sehingga, fungsi budaya organisasi secara umum terbagi dalam beberapa hal, meliputi:

      1. Menambahkan rasa kepemilikan dan menaikkan loyalitas karyawan dalam perusahaan
      2. Digunakan sebagai alat untuk mengorganisasikan anggota
      3. Memperkuat nilai organisasi
      4. Sebagai mekanisme untuk mengontrol perilaku di dalam lingkungan kerja
      5. Mendorong semua struktur untuk meningkatkan kinerja baik itu untuk jangka pendek atau jangka panjang
      6. Budaya organisasi juga berfungsi sebagai penentu arah, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.

      Jenis / Tipe Budaya Organisasi

      Dalam bukunya, Noe dan Mondy (1996:237) mengatakan ada dua tipe Budaya Organisasi, yaitu:

      1. Open and Participative Culture

      Budaya organisasi ini ditandai dengan pencapaian tujuan output yang tinggi dengan didukung adanya rasa percaya pada bawahan, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang supportif dan penuh perhatian, penyelesaian masalah secara tim, adanya otonomi pekerja, dan berbagi informasi.

      2. Closed and Autocratic Culture

      Budaya organisasi ini ditandai dengan pencapaian tujuan output yang tinggi, namun pencapaian tersebut mungkin lebih dinyatakan dan dipaksakan organisasi dengan pemimpin yang otokrasi dan kuat.

      Contoh Budaya Organisasi

      Setelah mengetahui pengertian budaya organisasi dan fungsinya, maka kita juga harus mengetahui apa saja contoh budaya organisasi tersebut. Berikut penjelasannya:

      1. Budaya Administrasi

      Budaya administrasi dalam organisasi sangat dibutuhkan misalnya dalam hal surat menyurat, keluar masuk barang, pendapatan pegawai dan lainnya untuk memperlancar kinerja perusahaan.

      2. Kedisiplinan

      Budaya organisasi bisa berupa kedisiplinan. Misalnya dalam hal ketepatan menyelesaikan order yang di minta, budaya ramah kepada customer, tidak telat datang ke kantor dan masih banyak lagi.

      3. Pembagian Wewenang yang Jelas

      Kemampuang organisasi dalam membagi wewenang adalah budaya organiasi yang menjadi kunci keberhasilan sebuah perusahaan. Tanpa pembagian wewenang yang jelas maka kinerja para anggota dalam organisasi tersebut tidak akan optimal karena kebingungan.

      4. Inovasi

      Inovasi adalah budaya organisasi yang mendorong para anggota untuk menciptakan atau mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif demi kemajuan organisasi tersebut.

      Karakteristik Budaya Organisasi

      Dari penjelasan beberapa ahli tentang budaya organisasi, kita dapat mengetahui beberapa ciri / karakteristik budaya organisasi, diantaranya:

       Innovation and Risk Taking

      Inovasi dan Pengambilan Resiko adalah sebuah tindakan melakukan inovasi dan berani mengambil resiko dalam proses inovasi tersebut.

      2. Attention to Detail

      Perhatian lebih hal-hal detail maksudnya adalah organisasi mengharapkan para pekerja untuk bekerja lebih detail, analisis, dan tepat sasaran.

      3. Outcome Orientation

      Orientasi pada manfaat artinya manajemen berorientasi/ fokus pada hasil/ manfaat dan tidak hanya pada proses untuk mendapatkan hasil tersebut.

      4. People Orientation

      Orientasi pada orang artinya manajemen sangat memperhatikan pengaruh atau manfaat dari sesuatu yang dihasilkan kepada orang-orang dalam organisasi.

      5. Team Orientation

      Orientasi pada tim adalah tindakan memprioritaskan aktivitas kerja dalam organisasi berdasarkan tim, bukan pada individu.

      6. Aggresiveness

      Agresivitas (Aggresiveness) adalah situasi dimana orang-orang cenderung lebih kompetitif dan agresif ketimbang easygoing.

      7. Stability

      Stabilitas (Stability) adalah situasi dimana aktivitas organisasi lebih menekankan pada menjaga status quo sebagai lawan daripada perkembangan.

      Bagaimana Budaya Organsasi dan Komunikasi Terbentuk?

      Budaya organisasi lebih banyak dipengaruhi oleh leader-leader soal komunikasi dan kreasi di dalam lingkungan kerja. Ketika para pemimpin ini adalah arsitek budaya organisasi, maka budaya yang sudah dibangun mempengaruhi gaya kepemimpinan (Schein, 2010). Sehingga seorang leader dalam membentuk budaya kerja nantinya akan membantu anggota mencapai tujuan yang ditetapkan bersama. Karena itu, budaya organisasi, kepuasan terhadap pekerjaan dan kepemimpinan sangat berhubungan.

      Dilansir dari Gotham Culture, seorang pemimpin bisa dipengaruhi atau mempengaruhi, membentuk atau dibentuk oleh berbagai budaya dalam berbagai lingkungan kerja. Kecuali beberapa hal berikut ini:

      1. Budaya Seseorang dan Budaya Pasar

      Aspek budaya pasar dan manusia dipengaruhi juga oleh bagaimana anggota organisasi membangun bisnis, memperlakukan konsumen dan komunitas yang lebih besar. Kebanyakan budaya orang yang memiliki struktur horizontal lebih mudah diaplikasikan dan lebih bernilai.

      Namun, tetap saja ini bisa merugikan dan membuat bisnis rugi karena kompetisi yang dilakukan oleh setiap orang dan priortasnya (Boundless,2015). Sementara itu, market culture lebih fokus pada hasil, kompetisi, prestasi dan bagaimana segalanya bisa diselesaikan (ARtsFWD, 2013).

      2. Budaya Adaptif dan Budaya Adhokrasi

      Budaya adaptif berarti berhubungan dengan pengambilan keputusan, perubahan nilai dan meningkatkan kemungkinan bertahan hidup (Costanza et al., 2015). (ArtsFWD, 2013) menjelaskan budaya adhokrasi lebih ke arah pengambilan resikp, inovasi dan priroritas.

      • Budaya Hirarki, Peran dan Kekuatan
      • Budaya Tugas dan Budaya Suku

      Baca juga: Pengertian Manajemen Produksi

      Kesimpulan:

      Memahami pengertian budaya organisasi sangatlah penting bagi pemilik bisnis atau pun karyawan yang baru saja yang diterima di perusahaan. Membentuk budaya yang baik di lingkungan kerja akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan bersama.


    • Silahkan untuk memberi tanggapan tentang materi atau video yang telah di sajikan.

      Terima kasih.

    • Instruksi :

      Apa yang ketahui tentang Budaya Organisasi di Kampus IIB Darmajaya yaitu THE BEST.

      Silahkan menjelaskan secara detail dan apa manfaatnya bagi civitas akademika IIB Darmajaya.

      Tulis jawaban anda dalam bentuk pdf dan submit ke assignment lms @darmajaya. ac.id. dengan 

      rentang waktu Rabu tgl 15 Juli 2020. sampai pukul 10.20 wib.

      Terima kasih

    • PERATURAN  MENGERJAKAN SOAL UAS

      1. Tulis Nama, NPM dan Kelas pada lembar jawaban anda.

      2. Berdoalah sebelum mengerjakan soal

      3. Dilarang mengopy atau menyalin hasil jawaban teman atau copy paste dari google.

      4. Ketik jawaban dalam bentuk pdf dan submit ke assignment  lms @darmajaya.ac.id

      Terima Kasih