Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek dengan kualitas dan karakteristik tertentu. Sedangkan sampel adalah sebagian obyek untuk diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti.
Dikutip dari "Hasil Penelitian: Populasi dan Sampel Penelitian" dalam Jurnal UNISIA (1993) karya Supardi, populasi adalah semua nilai yang diperoleh dari hasil perhitungan, maupun pengukuran. Populasi dapat digunakan dalam penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Populasi yang dipakai memiliki karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap, dan jelas.
Kebalikan dari Teknik pengambilan sampel secara acak, teknik non probability sampling peneliti memilih anggota untuk penelitian secara acak. Metode pengambilan sampel ini bukan proses seleksi tetap atau standar. Dalam teknik yang satu ini, tidak semua elemen populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dimasukkan dalam sampel.
Terdapat beberapa jenis Teknik pengambilan sampel tidak acak.
Dalam teknik ini, seorang peneliti bisa memberikan penilaian terhadap siapa yang sebaiknya berpartisipasi di dalam sebuah penelitian. Seorang peneliti dapat secara tersirat memilih subjek yang dianggap representatif terhadap suatu populasi.
Teknik pengambilan sampel jenis ini umumnya digunakan oleh media ketika akan meminta pendapat dari publik mengenai suatu hal. Media tersebut akan memilih siapa subjek yang dianggap dapat mewakili publik.
Kelebihan dari purposive sampling yaitu waktu dan juga biaya yang digunakan lebih efektif. Sedangkan, kelemahannya ketika seorang peneliti salah memilih subjek yang representatif.
Snowball sampling adalah metode pengambilan sampel yang peneliti terapkan ketika subjek sulit dilacak. Misalnya, akan sangat menantang untuk mensurvei orang-orang yang tidak memiliki perlindungan atau imigran ilegal. Dalam kasus seperti itu, menggunakan teori bola salju, peneliti dapat melacak beberapa kategori untuk mewawancarai dan mendapatkan hasil.
Peneliti juga menerapkan metode pengambilan sampel ini dalam situasi di mana topiknya sangat sensitif dan tidak didiskusikan secara terbuka. Hal ini dilakukan secara terus-menerus sampai dengan terpenuhinya jumlah anggota sampel yang diingini oleh peneliti.
Kelebihan dari pengambilan beruntun ini adalah bisa mendapatkan responden yang kredibel di bidangnya. Sementara kekurangan adalah memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu mewakili keseluruhan variasi yang ada.
3. Accidental Sampling
Teknik pengambilan sampel ini ini bergantung pada kemudahan akses ke subjek seperti survei pelanggan di mal atau orang yang lewat di jalan yang sibuk. Biasanya disebut sebagai convenience sampling, karena kemudahan peneliti dalam melakukan dan berhubungan dengan subjek. Peneliti hampir tidak memiliki kewenangan untuk memilih elemen sampel, dan ini murni dilakukan berdasarkan kedekatan dan bukan keterwakilan.
Metode pengambilan sampel non-probabilitas ini digunakan ketika ada batasan waktu dan biaya dalam mengumpulkan umpan balik. Dalam situasi dimana terdapat keterbatasan sumber daya seperti pada tahap awal penelitian, digunakan convenience sampling.
Kelebihan dari teknik sampling ini adalah karena pengambilan sesaat sehingga memudahkan pemilihan anggota sampel. Kekurangan teknik ini adalah belum tentu responden memiliki karakteristik yang dicari oleh peneliti.
Apabila ingin menggunakan metode quota sampling, maka seorang peneliti harus menetapkan standard sebelumnya. Sehingga ia bisa memilih sampel yang akan digunakan untuk merepresentasikan populasi. Proporsi dari karakteristik yang ada dalam sampel harus sama dengan populasi yang ada.
Kelebihan dari pengambilan menurut jumlah ini adalah praktis karena jumlah sudah ditentukan dari awal. Sementara kekurangan dari teknik ini adalah bias, belum tentu mewakili seluruh anggota populasi.
Teknik sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sampling Jenuh berbeda dengan sensus karena sensus populasinya besar sedangkan sampling jenuh menggunakan populasi yang relatif kecil meskipun keduanya sama sama menggunakan seluruh populasi untuk dijadikan sample.
Kelebihan dari Teknik sampling jenuh adalah mudah, praktis, murah dan tidak memerlukan waktu untuk pengumpulan data sampel. Sementara kelemahan dari Teknik sampel jenuh adalah tidak cocok untuk populasi dengan anggotanya yang besar sehingga hanya cocok untuk kelompok populasi kecil.
Contoh Teknik sampel jenuh:
Misalnya akan diteliti sebuah kinerja guru di salah satu sekolah swasta di Yogtakarta. Karena jumlah guru hanya ada 35 maka seluruh guru dijadikan sample.
Teknik sampling sistematis merupakan teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contohnya dengan mengambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini diurutkan dari 1ΓÇô125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap 2, 4, 6, dan seterusnya atau nomor ganjil 1, 2, 3, dan seterusnya, atau bisa juga mengambil nomor kelipatan 2, 4, 8, 16, dan seterusnya.
Dalam menentukan sampel diperlukan tahapan penetapan sampel. Tahapan yang perlu dilakukan dalam pengambilan sampel, yaitu:
Teknik sampel yang digunakan akan berhubungan dengan cara-cara dari pengambilan suatu sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan beberapa tujuan, diantaranya yaitu:
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa teknik sampling dibentuk sebagai cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data penelitian. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar nantinya bisa mendapatkan sampel yang representatif untuk penelitian lebih lanjut.
Kriteria Sampel Dikutip dari buku berjudul Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Tindakan Kelas dalam Pendidikan Olahraga (2020) terbitan Program Studi Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, terdapat dua kriteria sampel. Dua kriteria tersebut adalah inklusi, dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi diartikan sebagai karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi dengan target yang terjangkau untuk diteliti. Sementara kriteria eksklusi dipahami sebagai keputusan peneliti untuk menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab. Sebab-sebab yang menjadi pertimbangan dalam menentukan kriteria eksklusi yaitu: Subjek membatalkan kesediannya untuk menjadi responden penelitian. Subjek berhalangan hadir atau tidak di tempat ketika pengumpulan data dilakukan.