Pengertian Komunikasi Bisnis Lintas Budaya Bagi para pelaku bisnis, pemahaman yang baik terhadap budaya di suatu daerah,wilayah, atau negara menjadi sangat penting artinya bagi pencapaian tujuan organisasi bisnis. Secara sederhana, komunikasi bisnis lintas budaya adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis baik komunikasi verbal maupun nonverbal dengan memperhatikan faktor faktor budaya di suatu daerah, wilayah, atau negara. Pengertian lintas budaya dalam hal ini bukanlah semata-mata budaya asing (internasional), tetapi juga budaya yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah dalam wilayah suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara yang sangat kaya dengan aneka macam budaya rnerupakan salah satu contoh yang sangat berharga bagi para pelaku bisnis dalam menerapkan komunikasi bisnis lintas budaya.
Sebagaimana diketahui, setiap daerah yang ada
di Indonesia ini memiliki kekhasan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya, seperti
bagaimana seseorang berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana seseorang rnenghargai
orang lain, bagaimana mereka memanfaatkan waktu yang ada, bagaimana mereka bekerja,
bagaimana mereka rneyakini atau mempercayai sesuatu yang sudah turun-temurun dari nenek
moyang mereka, bagaimana rnereka berpakaian, dan bagaimana mereka memperlakukan
suatu produk.
Apabila para pelaku bisnis akan melakukan ekspansi bisnisnya ke daerah lain atau ke
negara lain, pemahaman budaya di suatu daerah atau negara tersebut rnenjadi sangat penting
artinya, termasuk bagaimana memahami produk-produk musiman disuatu negara. Hal ini
dimaksudkan agar jangan sampai terjadi kesalahan fatal yang dapat mengakibatkan kegagalan
bisnis. Sebagai contoh, seorang pelaku bisnis ingin memasarkan produk baru ke negara lain
pada saat musim salju. Produk apa saja yang sebaiknya dipasarkan pada musim seperti itu?
Pemahaman yang baik terhadap bagaimana masyarakat suatu negara bersikap dan berperilaku
dalam kehidupan sehari-hari mereka di musim-musim tertentu sangatlah diperlukan, apalagi
bagipara pelaku bisnis.
Pada umumnya, masyarakat di suatu negara yang memiliki musim salju akan
mempersiapkan berbagai kebutuhan hidupnya sesuai dengan cuaca yang sangat dingin
dengan suhu di bawah nol derajat. Pada saat musim salju tiba, mereka memerlukan berbagai
macam produk yang sesuai dengan musimnya, misalnya produk jaket, sweter, alat
penghangat ruangan, sepatu untuk salju, sarung tangan untuk salju, dan sejenisnya. Oleh
karena produk-produk tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat, wajar apabila harganya.
Sebaliknya, harganya diluar musim salju cenderung
murah karena dijual dengan harga diskon atau obral.
Pentingnya Komunikasi BisnisLintas Budaya
Sudah saatnya para pengambil keputusan, khususnya manajemen puncak,
mengantisipasi era perdagangan bebas dan globalisasi sejak dini. Era yang ditandai semakin
meluasnya berbagai produk dan jasa termasuk teknologi komunikasi ini, menyebabkan
pertukaran informasi dari suatu negara ke negara lain semakin leluasa, sehingga seolah dunia
ini tidak lagi terikat dengan sekat-sekat yang membatasi wilayah suatu negara.
Tanpa harus rnengamati secara jeli, orang awam pun mengetahui bahwa sudah lama
Indonesia memasuki era globalisasi. Contoh sederhananya adalah masuknya produk dan jasa
dari luar negeri yang dapat dikonsumsi oleh konsumen di tanah air, seperti makanan cepat
saji, minuman ringan, mainan anak-anak, perlengkapan komunikasi, komputer personal,
produk elektronik (audio visual) dan pekerja asing dalam berbagai bidang keahliannya.
Dalam menyikapi era perdagangan bebas dan globalisasi, perusahaan-perusahaan
melakukan bisnis secara global. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di
tanah air baik di bidang manufaktur, eksplorasi, maupun menggunakan beberapa konsultan
asing untuk rmembantu mengembangkan mereka. Begitu pula sebaliknya, perusahaanperusahaan besar di tanah air juga ada yang mengembangkan bisnisnya ke berbagai negara
Dengan melihat perkembangan atau tren yang ada saat ini, komunikasi bisnis lintas
budaya menjadi sangat penting artinya bagi terjalinnya harmonisasi bisnis mereka.
Bagaimanapun diperlukan suatu pemahaman bersama antara dua orang atau lebih dalam
melakukan komunikasi lintas budaya, baik melalui tulisan (termasuk komunikasi lewat
internet) maupun lisan (bertatap muka langsung).
Semakin banyaknya pola kerja sama maupun kesepakatan ekonomi di berbagai dunia
saat ini akan menjadikan komunikasi bisnis lintas budaya semakin penting. Saat ini ada
beberapa pola kerja sama ekonomi di berbagai kawasan dunia, seperti kawasan ASEAN
(AFTA/ASEAN Free Trade Area), kawasan Asia Pasifik (APEC), kawasan Amerika Utara
(NAFTA/North American Free Trade Area), kawasan Kanada (CFTA/Canada Free Trade
Area), kawasan Eropa Tengah (CEFTA/European Free Trade Agreement), kawasan Eropa
(EFTA/European FreeArea), dan kawasan Amerika Latin (LAFTA/Latin American Free
Trade Association)
Pendek kata, dengan semakin terbukanya peluang perusahaan multinasional ke
wilayah suatu negara dan didorong dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi, maka pada saat itulah kebutuhan komunikasi bisnis lintas budaya
menjadi semakin penting artinya.
Berdasarkan beberapa pengertian budaya tersebut, ada beberapa hal panting yang perlu
diperhatikan, antara lain bahwa budaya mencakup sekumpulan pengalaman hidup,
pemrograman kolektif, system sharing, dan tipikal karakteristik perilaku setiap individu yang
ada dalam suatu masyarakat, termasuk di dalamnya tentang bagaimana sistem nilai, norma,
simbol-simbol dan kepercayaan atau keyakinan mereka masing-masing.
Komponen Budaya
Budaya mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, terutama yang berkaitan dengan
dimensi hubungan antar manusia, meskipun bentuk dari setiap komponen budaya dapat
berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Menurut Lehman, Himstreet dan Baty, setiap elemen terbangun oleh beberapa
komponen utamanya, yaitu: nilai-nilai (baik atau buruk, diterima atau ditolak), norma-norma
(tertulis dan tidak tertulis), simbol-simbol (warna logo suatu perusahaan), bahasa, dan
pengetahuan.
Menurut Mitchell, komponen budaya mencakup antara lain: bahasa, kepercayaan/keyakinan, sopan santun, adat istiadat, seni, pendidikan, humor, dan organisasi
sosial.
Sementara itu menurut Cateora, budaya memiliki beberapa elemen, yaitu material,
lembaga sosial, sistem kepercayaan, estetika, dan bahasa.
Budaya material (material culture) dibedakan ke dalam dua bagian, yaitu teknologi dan
ekonomi. Teknologi mencakup teknik atau cara yang digunakan untuk mengubah atau
membentuk material menjadi suatu produk yang dapat berguna bagi masyarakat pada
umumnya. Penduduk di negara-negara yang sudah maju dan mempunyai tingkat teknologi
tinggi seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman, akan lebih mudah mengadopsi teknologi
baru daripada penduduk di negara dengan tingkat teknologi yang rendah.
Ekonomi dalam hal ini dimaksudkan sebagai suatu cara orang menggunakan
kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang
lain. Termasuk di dalamnya adalah segala bentuk kegiatan yang menghasilkan barang dan
jasa, distribusi, konsumsi, cara pertukaran, dan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan
kreasi.
Organisasi sosial (social institution) dan pendidikan adalah suatu lembaga yang
berkaitan dengan cara bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain,
mengorganisasikan kegiatan mereka untuk dapat hidup secara harmonis dengan yang lain,
dan mengajar perilaku yang dapat diterima oleh generasi berikutnya. Kedudukan pria dan
wanita dalam suatu masyarakat, keluarga, kelas sosial, dan kelompok umur dapat ditafsirkan
secara berbeda/berlainan dalam setiap budaya. Pada masa lalu dalam masyarakat tertentu,
kaum wanita cenderung memiliki posisiyang relatif lema
Komunikasi dengan Orang Berbudaya Asing
Belajar tentang Budaya
Ketika merencanakan untuk melakukan bisnis dengan orang yang memiliki budaya
berbeda, seseorang akan dapat berkomunikasi secara efektif bila ia telah mempelajari
budayanya. Lagi pula, ketika merencanakan untuk tinggal di negara lain, ia tentunya juga
sudah mempersiapkan bahasa yang harus dikuasainya.
Di samping itu, ketika tinggal di negara lain alangkah baiknya orang tersebut juga sedikit
banyak mengenal budaya maupun adat istiadat yang berlaku di negara tersebut. Bahasa asing tentunya tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Namun demikian, memulai mengenal
beberapa kata bahasa asing untuk suatu pergaulan di lingkungan bisnis merupakan langkah
baik yang senantiasa perlu dikembangkan. Kalau perlu, dalam suatu pertemuan tertentu yang
bersifat informal bisa juga disisipkan kata-kata bahasa asing yang telah dipahami.
Di samping belajar bahasa, Anda juga harus membaca buku dan artikel tentang budaya
asing tersebut, dan selanjutnya menanyakan secara langsung kepada mitra bisnis Anda.
Usahakan agar Anda berkonsentrasi belajar pada masalah-masalah yang berkaitan dengan
sejarah budaya, agama, politik, nilai-nilai, dan adat istiadat.
Berikut ini adalah contoh komunikasi lintas budaya ketika melakukan perjalanan ke suatu
negara:
Di Spanyol, orang berjabat tangan paling lama antara lima sampai dengan tujuh ayunan;
melepas jabat tangan segera dapat diartikan sebagai suatu bentuk penolakan. Di Prancis,
orang berjabat tangan cukup dengan hanya sekali ayunan atau gerakan.
Jangan memberi hadiah minuman-minuman beralkohol di negara-negara Arab.
Di Pakistan atau negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, jangan heran kalau
di tengah-tengah suatu pertemuan bisnis mereka minta izin keluar untuk menunaikan
ibadah sholat karena setiap Muslim wajib sholat lima kali sehari.
Anda dianggap menghina tuan rumah jika Anda menolak tawaran makanan, minuman
atau setiap bentuk kebaikan di negara-negara Arab. Namun, Anda juga jangan cepat-cepat
rnenerima segala bentuk tawaran tersebut. Kalau mau menolak suatu tawaran, tolaklah
dengan cara-cara yang sopan.
Tekankan usia perusahaan Anda ketika berhubungan bisnis dengan pengusaha di Jerman,
Belanda, dan Swiss.
Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Lintas Budaya
Mempelajari apa yang dapat dilakukan oleh seseorang tentang budaya tertentu
sebenarnya merupakan suatu cara yang baik untuk menemukan bagaimana mengirim dan
menerima pesan-pesan lintas budaya secara efektif. Namun, perlu diingat dua hal penting,
yaitu pertama, jangan terlalu yakin bahwa seseorang akan dapat memahami budaya orang lain secara utuh atau sempurna. Kedua, jangan mudah terbawa kepadaa pola generalisasi
(Jawa: nggebyah uyah) terhadap perilaku seseorang dari budaya yang berbeda.
Mempelajari keterampilan komunikasi lintas budaya pada umurnnya akan membantu
seseorang beradaptasi dalam setiap budaya, khususnya jika seseorang berhubungan dengan
orang lain yang memiliki budaya berbeda.
Negosiasi Lintas Budaya
Apakah Anda sedang mencoba membeli, menjual perusahaan, atau menyewa kantor,