Garis besar topik

      1. Strategy and   the Environment
      2. Functional-Level Strategy
      3. Business ΓÇô    Level Strategy
      4. Corporate-Level Strategy
      5. Implementing Strategy across Countries
    • baca

    • baca Organizational Design and Strategy in a Changing Global Environment

    • Organizational Design and Strategy in a Changing Global Environment

    • Bahas Materi

    • Kerja tugas

    • Sumber Bacaan :

      Organizational Design and Strategy in a Changing Global Environment, dengan gap riset, konteks kekinian :


      1. Strategy and the Environment

      Strategi organisasi modern harus responsif terhadap dinamika lingkungan eksternal, seperti politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum (PESTEL). Perubahan global yang cepat menuntut adaptasi strategis melalui alat bantu seperti SWOT, PESTEL, dan PorterΓÇÖs Five Forces (Porter, 2008). Dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), organisasi yang tidak mampu membaca perubahan lingkungan berisiko mengalami stagnasi atau kegagalan strategi.

      Gap Riset: Masih terbatas riset longitudinal yang menguji efektivitas adaptasi strategi organisasi terhadap dinamika geopolitik dan perubahan iklim global secara simultan (Ghemawat, 2021).

      Konteks Kekinian: Pandemi COVID-19, krisis energi, dan konflik global menunjukkan bahwa ketahanan strategi berbasis analisis lingkungan eksternal menjadi kebutuhan utama organisasi abad ke-21.

      Referensi:

      • Porter, M.E. (2008). The Five Competitive Forces That Shape Strategy. Harvard Business Review.

      • Ghemawat, P. (2021). Redefining Global Strategy: Crossing Borders in a World Where Differences Still Matter. Harvard Business Press.


      2. Functional-Level Strategy

      Strategi tingkat fungsional fokus pada efisiensi dan efektivitas operasional dalam tiap unit seperti pemasaran, SDM, keuangan, dan produksi. Contohnya termasuk strategi digital marketing, otomatisasi HR, dan penggunaan big data dalam pengambilan keputusan keuangan (Kotler & Keller, 2019). Strategi ini mendukung strategi bisnis dan korporat agar terimplementasi secara optimal.

      Gap Riset: Kurangnya studi integratif tentang bagaimana strategi fungsional saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap keunggulan kompetitif organisasi secara agregat (Grant, 2019).

      Konteks Kekinian: Transformasi digital mendorong peran strategi fungsional menjadi lebih data-driven dan adaptif terhadap teknologi seperti AI dan machine learning dalam operasional harian.

      Referensi:

      • Kotler, P., & Keller, K. L. (2019). Marketing Management (15th ed.). Pearson.

      • Grant, R.M. (2019). Contemporary Strategy Analysis. Wiley.


      3. Business-Level Strategy

      Strategi pada level bisnis bertujuan memenangkan persaingan di unit bisnis tertentu melalui diferensiasi, fokus, atau biaya rendah (Porter, 1985). Contohnya adalah penyediaan layanan premium dalam industri perhotelan atau inovasi produk pada sektor fintech. Strategi ini menentukan positioning dan keunikan organisasi di pasar.

      Gap Riset: Masih sedikit riset tentang dinamika switching strategy antara cost leadership ke differentiation dalam sektor yang mengalami disrupsi digital (Barney, 2020).

      Konteks Kekinian: Persaingan yang makin sengit dan pergeseran perilaku konsumen akibat digitalisasi menuntut strategi yang fleksibel dan customer-centric.

      Referensi:

      • Porter, M.E. (1985). Competitive Advantage. Free Press.

      • Barney, J.B. (2020). Gaining and Sustaining Competitive Advantage. Pearson.


      4. Corporate-Level Strategy

      Strategi tingkat korporat mencakup keputusan jangka panjang seperti diversifikasi, integrasi vertikal, dan ekspansi internasional. Strategi ini memerlukan penyesuaian desain organisasi dan manajemen SDM untuk mengelola kompleksitas global (Chandler, 1962).

      Gap Riset: Terdapat kekurangan penelitian mengenai korelasi antara strategi diversifikasi dan keberhasilan ekspansi di pasar negara berkembang yang volatil (Hill et al., 2021).

      Konteks Kekinian: Globalisasi dan digitalisasi menciptakan peluang dan risiko baru, memaksa organisasi untuk merancang struktur yang fleksibel dan agile dalam skala multinasional.

      Referensi:

      • Chandler, A.D. (1962). Strategy and Structure: Chapters in the History of the American Industrial Enterprise. MIT Press.

      • Hill, C.W.L., Jones, G.R., & Schilling, M.A. (2021). Strategic Management: Theory: An Integrated Approach. Cengage Learning.


      5. Implementing Strategy across Countries

      Implementasi strategi global harus mempertimbangkan perbedaan budaya, hukum, dan struktur pasar lokal. HRM berperan penting melalui pelatihan lintas budaya, adaptasi kebijakan lokal, dan manajemen talenta global (Tung, 2016). Strategi yang tidak peka budaya akan berisiko gagal.

      Gap Riset: Minimnya studi komparatif tentang model adaptasi strategi global di negara berkembang vs negara maju, khususnya dalam aspek HRM lintas budaya (Harzing & Pinnington, 2015).

      Konteks Kekinian: Meningkatnya tekanan glokalisasi (global + lokal) mengharuskan organisasi untuk memiliki pendekatan hybrid dalam perumusan dan pelaksanaan strategi lintas negara.

      Referensi:

      • Tung, R.L. (2016). New perspectives on human resource management in a global context. Journal of World Business.

      • Harzing, A.W., & Pinnington, A.H. (2015). International Human Resource Management. Sage.


    • Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan topik Organizational Design and Strategy in a Changing Global Environment :


      1. Strategi dan Lingkungan (Strategy and the Environment)

      Penelitian:

      • Daft, R.L., & Weick, K.E. (1984) membahas pentingnya persepsi manajerial dalam membaca lingkungan dan implikasinya terhadap pengambilan keputusan strategis. Mereka menekankan bahwa ketidakpastian lingkungan harus direspons melalui sistem informasi yang adaptif dan desain organisasi yang fleksibel.

      Penjelasan:
      Organisasi yang gagal mengenali perubahan lingkungan seperti digitalisasi atau gejolak politik cenderung kalah bersaing. Studi ini menjadi dasar bagi pengembangan model adaptasi strategis berbasis lingkungan.

      Referensi:
      Daft, R.L., & Weick, K.E. (1984). Toward a Model of Organizations as Interpretation Systems. Academy of Management Review, 9(2), 284ΓÇô295.


      2. Strategi Tingkat Fungsional (Functional-Level Strategy)

      Penelitian:

      • Venkatraman, N. (1994) meneliti integrasi teknologi informasi dalam strategi operasional. Penelitiannya menunjukkan bahwa efisiensi fungsi meningkat signifikan ketika strategi fungsional sejalan dengan teknologi.

      Penjelasan:
      Fungsi seperti pemasaran, HR, dan keuangan harus menyesuaikan dengan strategi digital untuk mencapai keunggulan operasional.

      Referensi:
      Venkatraman, N. (1994). IT-Enabled Business Transformation: From Automation to Business Scope Redefinition. Sloan Management Review, 35(2), 73ΓÇô87.


      3. Strategi Tingkat Bisnis (Business-Level Strategy)

      Penelitian:

      • Kim, W.C., & Mauborgne, R. (2005) mengembangkan konsep Blue Ocean Strategy, yang menunjukkan bahwa strategi diferensiasi dan inovasi nilai dapat menciptakan ruang pasar baru dan menghindari persaingan langsung.

      Penjelasan:
      Studi ini membuktikan bahwa strategi bisnis tidak harus terjebak dalam persaingan biaya rendah atau diferensiasi saja, melainkan bisa menciptakan pasar baru yang belum tergarap.

      Referensi:
      Kim, W.C., & Mauborgne, R. (2005). Blue Ocean Strategy. Harvard Business Press.


      4. Strategi Tingkat Korporat (Corporate-Level Strategy)

      Penelitian:

      • Rumelt, R.P. (1982) melakukan studi klasik tentang strategi diversifikasi dan menemukan bahwa perusahaan dengan strategi terkait (related diversification) memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan yang tidak terkait.

      Penjelasan:
      Hasil penelitiannya menjadi acuan penting dalam penentuan arah strategi korporat jangka panjang, khususnya untuk perusahaan multibisnis.

      Referensi:
      Rumelt, R.P. (1982). Diversification Strategy and Profitability. Strategic Management Journal, 3(4), 359ΓÇô369.


      5. Implementasi Strategi Lintas Negara (Implementing Strategy across Countries)

      Penelitian:

      • Bartlett, C.A., & Ghoshal, S. (1989) memperkenalkan model Transnational Strategy, yang menggabungkan efisiensi global dan adaptasi lokal. Studi ini menjadi pijakan penting dalam implementasi strategi global yang fleksibel.

      Penjelasan:
      Model transnasional menekankan pentingnya struktur organisasi dan HRM yang mendukung koordinasi lintas negara tanpa mengabaikan lokalitas.

      Referensi:
      Bartlett, C.A., & Ghoshal, S. (1989). Managing Across Borders: The Transnational Solution. Harvard Business School Press.