Garis besar topik
-
Mata kuliah ini bertujuan membentuk mahasiswa dan mananamkan karakter kuat, berintegritas, profesional, bertanggung jawab, mandiri, adaptif, dan berorientasi pada mutu, serta mampu menjunjung tinggi nilai moral, etika, kejujuran, anti korupsi, kejujuran akademik, etika penelitian, penghargaan terhadap kekayaan intelektual, dan pencegahan plagiarisme dalam kehidupan akademik, sosial, dan profesional.
Mata kuliah Pendidikan Karakter dan Anti Korupsi membahas pembentukan karakter mahasiswa yang religius, berakhlak, berintegritas, jujur, bertanggung jawab, disiplin, mandiri, adaptif, profesional, dan berorientasi pada mutu. Mata kuliah ini menekankan pemahaman nilai-nilai moral, etika, kejujuran akademik, budaya anti korupsi, tanggung jawab sosial, serta sikap profesional dalam kehidupan akademik, sosial, dan dunia kerja. Mahasiswa diarahkan untuk mampu mengenali dan mengidentifikasi bentuk- bentuk perilaku koruptif, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, gratifikasi, plagiarisme, dan pelanggaran etika akademik maupun
profesional, serta mampu membangun komitmen pribadi untuk menerapkan nilai integritas dalam bidang sistem komputer dan kehidupan bermasyarakat.-
Karakter yang kuat akan menjadikan inovasi bernilai, dan kejujuran akan mengantarkan bangsa menuju masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Teknologi boleh maju, tetapi integritas harus selalu menjadi fondasi.
-
-
Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), media sosial, big data, dan ekonomi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa. Teknologi memberikan peluang untuk belajar, berinovasi, berwirausaha, dan berkontribusi kepada masyarakat. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan etika dan integritas baru, kondisi tersebut, pendidikan karakter antikorupsi menjadi semakin penting.
Maka dari itu mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kompetensi teknologi, tetapi juga harus memiliki integritas, tanggung jawab, kejujuran, sikap kritis, dan kesadaran etis agar teknologi digunakan untuk menciptakan perubahan yang positif. Pendidikan karakter antikorupsi di era perkembangan teknologi bukan sekadar pendidikan mengenai korupsi. Namun, merupakan proses mempersiapkan mahasiswa agar mampu menghadapi dilema etika, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menolak berbagai bentuk kecurangan.
-
-
9.9 MB · Diunggah 21/09/26, 01:55
-
-
-
Dibuka: Senin, 21 September 2026, 08:00Jatuh tempo: Senin, 21 September 2026, 20:00
Kerjakan Pre-test dengan dituliskan pada kertas folio bergari (tulis tangan)
Unggah hasil anda dalam bentuk PDF -
Lakukan pengamatan pad lingkungan anda tingaal dan lakukan refleksi pada diri anda dengan mengkorelakisan pembahasan pada materi berkaitan dengan karakter (pikiran, perkataan, tindakan, kebiasaan, karakter dan takdir).
-
Silahakn baca kembali materi berikut dan setelah anda baca dan pahami jawab pertanyaan pada ruang diskusi
4.4 MB · Diunggah 21/09/26, 16:05
-
-
manusia secara ontologis memiliki keunggulan komparatif dibanding makhluk lain melalui integrasi instrumen akal dan potensi nafsu di dalam dirinya. Keberadaan dualitas internal ini membentuk karakteristik manusia yang dinamis serta adaptif, sekaligus menempatkan mereka pada ruang dialektika moral yang konstan. Berdasarkan konsep antropologi teologis, eksistensi jiwa manusia senantunya diilhami oleh dua orientasi perilaku yang kontradiktif, yakni jalan keburukan (fujur) dan jalan kebaikan atau ketaatan (taqwa). Melalui perangkat kehendak bebas (free will) dan kapasitas rasionya, manusia diberikan otoritas penuh untuk menentukan eksistensi moral mereka sendiri; apakah akan mengoptimalkan akal demi mencapai derajat spiritualitas yang luhur, atau justru terdegradasi akibat dominasi dorongan hawa nafsu yang tidak terkedali. Kemampuan spiritual merupakan faktor terpentinga dalam membentuk diri, belajar dan mempelajari, hal ini dikarenakan akar dari Ilmu pengetahuan adalah Spiritualitas. Ilmu pengetahuan tidak selalu berawal dari rumus, teori, atau angka, namun muncul dari rasa takub, rasa ingin tahu, dan keberanian manusia untuk bertanya tentang kehidupan. Spiritualitas tadika menggantikan logika, tetapi untuk memberikan arah , agar ilmu yang kita miliki tidak hanya membuat kita semakin pintar namun juga semakin bijaksana, rendah hati, dan sadar akan dampak dari setiap tindakan.
-
Dibuka: Senin, 28 September 2026, 09:00Jatuh tempo: Senin, 28 September 2026, 12:00
Unggah Hasil pre test anda pada kolom berikut dan berikan identitas yang jelas.
"Kecedasan bukan sekedar tentang seberapa banyak yang kita tahu, tetapi juga untuk apa pengetahuan itu kita gunakan"
-
Dibuka: Senin, 28 September 2026, 10:00Jatuh tempo: Jumat, 2 Oktober 2026, 23:00
Baca kembali materi yang telah dibahas dikelas dan selesaikan tugas yang ada pada materi dan uggah sesuai waktu yang telah ditentukan.
-
-
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi, baik berasal dari dalam diri pelaku atau dari luar pelaku. Sebagaimana dikatakan Yamamah bahwa ketika perilaku materialistik dan konsumtif masyarakat serta sistem politik yang masih “mendewakan” materi maka dapat “memaksa” terjadinya permainan uang dan korupsi (Ansari Yamamah : 2009) “Dengan kondisi itu hampir dapat dipastikan seluruh pejabat kemudian `terpaksa` korupsi kalau sudah menjabat”. Nur Syam (2000) memberikan pandangan bahwa penyebab seseorang melakukan korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidakmampu ditahan sementara akses ke arah kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi, maka jadilah seseorang akan melakukan korupsi. Dengan demikian, jika menggunakan sudut pandang penyebab korupsi seperti ini, maka salah satu penyebab korupsi adalah cara pandang terhadap kekayaan.
-
Dibuka: Senin, 5 Oktober 2026, 08:00Jatuh tempo: Kamis, 8 Oktober 2026, 12:00
Silahkan unggah hasil Pre test di kolom berikut
-
-
-
Kemampuan untuk mengidentifikasi konflik kepentingan, menolak pemberian atau suap, menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab, serta berani menyuarakan dan melaporkan praktik yang tidak etis melalui mekanisme yang tepat, mesti dimiliki dan tertanam pada diri mahasiswa sebagai agen perubahan dimasa depan.
Memahami ragam korupsi penting bagi mahasiswa karena membantu mereka mengenali, mencegah, dan menolak perilaku koruptif sejak dini. Pengetahuan tersebut juga membentuk karakter jujur, bertanggung jawab, disiplin, adil, transparan, dan berintegritas, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap konsekuensi hukum dan sosial dari korupsi. Korupsi tidak hanya berupa pengambilan uang negara, tetapi juga dapat terjadi melalui gratifikasi, suap, konflik kepentingan, dan penyalahgunaan wewenang. Gratifikasi berkaitan dengan pemberian yang berhubungan dengan jabatan; suap berupa pemberian atau janji untuk memengaruhi keputusan atau tindakan; konflik kepentingan terjadi ketika kepentingan pribadi berpotensi memengaruhi objektivitas; sedangkan penyalahgunaan wewenang terjadi ketika kekuasaan atau kewenangan digunakan tidak sesuai tujuan dan ketentuan untuk memperoleh keuntungan tertentu.3.9 MB · Diubah 12/10/26, 12:01 -
Dibuka: Senin, 12 Oktober 2026, 13:00Jatuh tempo: Senin, 12 Oktober 2026, 23:59
Analsis berupa penilaian dan persepsi anda berkaitan dengan permasalahan yang terjadi pada Video (link pada materi ppt). dalam melakukan analisis mengacu pada nilai dan integritas para pemangku kepantingan atau pejabat. pada akhir pembahasan simpulkan pembelajaran yang dapat anda petik dari permasalahan tersebut, yang bisa dijadikan bekal dalam proses belajar dan dimasa depan anda.
Catatan: Tugas ini tidak untuk menentukan siapa yang benar atau salah berdasarkan opini, tetapi untuk melatih mahasiswa menganalisis bagaimana integritas, transparansi, akuntabilitas, konflik kepentingan, dan penyalahgunaan kewenangan dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.
-
-
Integritas akademik adalah komitmen untuk menjalankan kegiatan akademik secara jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain, dan berani mempertahankan nilai yang benar, termasuk ketika menghadapi tekanan atau tidak sedang diawasi. International Center for Academic Integrity (ICAI) merumuskan enam nilai fundamental integritas akademik, yaitu honesty (kejujuran), trust (kepercayaan), fairness (keadilan), respect (rasa hormat), responsibility (tanggung jawab), dan courage (keberanian). Dengan menerapkan nilai-nilai dasar ini, para pengajar, mahasiswa, staf, dan administrator menciptakan komunitas ilmiah yang efektif, di mana integritas menjadi tolok ukur utama. Tanpa nilai-nilai tersebut, karya para pengajar, pembelajar, dan peneliti akan kehilangan makna serta kredibilitasnya. Lebih dari sekadar prinsip-prinsip abstrak, nilai-nilai dasar ini berfungsi untuk mengarahkan dan meningkatkan kapasitas pengambilan keputusan etis serta perilaku. Nilai-nilai tersebut memampukan komunitas akademik untuk mewujudkan gagasan ideal ke dalam tindakan nyata.
-
Dibuka: Senin, 19 Oktober 2026, 07:00Jatuh tempo: Senin, 19 Oktober 2026, 11:00
Silahkan kerjakan studi analisis berikut.
Kerjakan secara kelompok (3 orang perkelompok)
hasil diskusi ditulikan pada kertas folio bergaris,scan dan unggah hasil dengan format PDF.
-