Lewati ke konten utama
LMS IIB DARMAJAYA
  • Beranda
  • Kalender
  • Kategori
    Ilmu Komputer Ekonomi & Bisnis Desain, Hukum & Pariwasata IBI Kemahasiswaan
  • Panduan Penggunaan
    Panduan Dosen Panduan Mahasiswa SK Rektor Prihal E-learning SK Senat Prihal E-learning
  • Bantuan
  • Jadwal UJIAN
    Jadwal UTS Jadwal UAS
  • Selengkapnya
Masuk
LMS IIB DARMAJAYA
Beranda Kalender Kategori Ciutkan Memperluas
Ilmu Komputer Ekonomi & Bisnis Desain, Hukum & Pariwasata IBI Kemahasiswaan
Panduan Penggunaan Ciutkan Memperluas
Panduan Dosen Panduan Mahasiswa SK Rektor Prihal E-learning SK Senat Prihal E-learning
Bantuan Jadwal UJIAN Ciutkan Memperluas
Jadwal UTS Jadwal UAS
  1. Dasbor
  2. 2024-2|Senin,13-14:30| F43 |Ekonomi Manajerial|2MA4|ANUAR SANUSI
  3. Topic 7
  4. ELASTISITA PERMINTAAN

ELASTISITA PERMINTAAN

You are not enrolled in this course.
Syarat penyelesaian
Dibuka: Senin, 21 April 2025, 13:00
Jatuh tempo: Senin, 21 April 2025, 14:40

Elastisitas permintaan adalah suatu pengukuran kuantitatif yang menunjukkan sampai di mana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan. Ketika harga sebuah barang naik, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya menurun sedangkan semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli.Elastisitas dapat dibagi menjadi lima kategori besar: elastis sempurna, elastis, tidak elastis sempurna, tidak elastis, dan uniter . Permintaan elastis atau penawaran elastis adalah permintaan yang elastisitasnya lebih besar dari satu, yang menunjukkan responsivitas yang tinggi terhadap perubahan harga.

Dalam ilmu ekonomi, elastisitas permintaan atau price elasticity of demand (PED) adalah ukuran perubahan jumlah permintaan barang (jumlah barang akan dibeli oleh pembeli) terhadap perubahan harga barang itu.[1] Pada umumnya, jika harga barang naik, kesediaan pembeli untuk membeli barang tersebut akan menurun. Namun, tingkat perubahan ini berbeda-beda: untuk barang tertentu, kenaikan harga yang kecil akan pengakibatkan permintaan turun dengan drastis, sedangkan untuk barang lain pembeli tetap bersedia membelinya sekalipun harganya naik dengan tajam. Dalam ilmu ekonomi, perbedaan ini diukur sebagai elastistias. Lebih gamblangnya, elastisitas permintaan menunjukkan persentase perubahan jumlah permintaan jika terjadi kenaikan harga 1% dan semua hal lain tetap sama.

Karena jumlah permintaan hampir selalu turun jika harga naik, elastisitas permintaan biasanya bernilai negatif, walaupun para praktisi kadang tidak menulis tanda negatif tersebut. Permintaan suatu barang dikatakan bersifat elastis jika elastisitasnya lebih besar dari 1, artinya kenaikan harga sebesar 1% menghasilkan penurunan permintaan yang lebih besar dari 1%. Sebaliknya, permintaan inelastis adalah permintaan dengan elastisitas lebih kecil dari 1. Selain itu, terdapat klasifikasi permintaan elastis sempurna memiliki elastisitas Γê₧ elastis uniter (elastitas 1), inelastis sempurna (0) dan elastis sempurna (Γê₧). Segelintir barang memiliki elastisitas positif, sehingga merupakan anomali hukum permintaan, misalnya barang-barang yang merupakan simbol status ("Barang Veblen") atau Barang Giffen.

Dalam teori ekonomi, pendapatan penjual mencapai titik maksimal saat harga diatur sedemikian rupa sehingga elastisitas permintaannya menjadi uniter (1). Elastisitas permintaan juga dapat digunakan untuk memprediksi efek atau beban yang ditimbulkan oleh pajak terhadap barang tersebut.[2] Terdapat beberapa metide untuk mengukur elastisitas permintaan di dunia nyata, termasuk analisis data rekaman penjualan, model-model yang dihasilkan oleh survei konsumen, serta analisis gabungan dari peringkat acuan konsumen.

Faktor penentu

[sunting | sunting sumber]

Faktor utama yang menentukan elastisitas permintaan adalah kemampuan dan kesediaan konsumen untuk menunda konsumsi atau mencari barang substitusi (pengganti) saat terjadi perubahan harga. Lebih lanjut lagi, kemampuan atau kesediaan ini dapat dianalisis menjadi beberapa faktor:[3]

Ketersediaan barang pengganti

Semakin banyak barang substitusi yang tersedia, permintaan akan cenderung semakin elastis, karena pembeli dapat membeli barang lain bahkan jika harga berubah sedikit saja.[3][4][5] Ini disebut efek substitusi dan pengaruhnya sangat besar kepada elastisitas.[6] Jika tidak ada pengganti yang cocok, efek substitusi menjadi mengecil dan permintaan menjadi cenderung inelastis.[6]

Persentase dari pendapatan pembeli

Semakin tinggi harga barang jika diukur sebagai persentase dari pendapatan pembeli, elastisitas cenderung lebih tinggi, karena pembeli akan lebih berhati-hati dalam membeli barang tersebut.[3][4] Efek ini disebut efek pendapatan dan pengaruhnya cukup besar.[7] Barang-barang yang merupakan pos pengeluaran kecil cendering memiliki permintaan inelastis.[7]

Kebutuhan

Semakin penting kebutuhan akan suatu barang, permintaan cenderung menjadi inelastis karena pembeli akan membelinya tanpa memperdulikan harga. Contohnya adalah obat insulin bagi mereka yang membutuhkan.[8][4]

Durasi

Umumnya, semakin lama perubahan harga barang bertahan, elastisitas akan semakin tinggi, karena konsumen memiliki waktu dan kesediaan untuk mengubah perilaku konsumsinya.[3][5] Sebagai contoh, jika harga bahan bakar minyak (BBM) naik, dalam jangka pendek konsumen akan tetap membutuhkannya dan membelinya dengan jumlah yang sama. Namun, jika harga yang tinggi bertahan lama, konsumen akan mencari cara untuk mengurangi kebutuhan BBM-nya, misalnya dengan menggunakan kendaraan umum, atau membeli kendaraan yang lebih hemat BBM.[4]

Loyalitas merek

Loyalitas terhadap suatu merek dapat mengurangi sensitivitas terhadap perubahan harga, sehingga permintaan menjadi inelastis. Loyalitas ini dapat terjadi karena kebiasaan atau karena adanya penghalang untuk berganti merek.[9][10]

Pembayar

Jika pembelian dibayar oleh pihak lain, permintaan menjadi cenderung inelastis, misalnya pengeluaran dinas yang ditanggung perusahaan atau negara.[10]

Barang yang adiktif

Barang-barang yang bersifat adiktif atau dapat menyebabkan kecanduan cenderung memiliki permintaan inelastis, karena konsumen yang sudah kecanduan akan "terpaksa" untuk membelinya sekalipun harganya berubah drastis. Contohnya adalah rokok, minuman keras, atau heroin.

Luasnya definisi barang yang diukur

Nilai elastisitas suatu barang tergantung kepada definisi barang yang diukur. Misalnya, suatu menu makanan di sebuah rumah makan (definisi sempit) memiliki elastisitas tinggi karena banyaknya substitusi (yaitu jenis makanan lain atau rumah makan lain), sedangkan jika yang diukur makanan secara umum (definisi luas), elastisitasnya kecil karena tidak ada penggantinya.[9]

Contoh elastisitas permintaan

[sunting | sunting sumber]

Elastisitas permintaan mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Ketika harga sebuah barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik. Semakin rendah harganya, semakin banyak barang itu dibeli. Elastisitas permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah permintaan dan persen perubahan harga.[1]

Ketika elastisitas permintaan suatu barang menunjukkan nilai lebih dari 1, maka permintaan terhadap barang tersebut dikatakan elastis di mana besarnya jumlah barang yang diminta sangat dipengaruhi oleh besar-kecilnya harga. Sementara itu, barang dengan nilai elastisitas kurang dari 1 disebut barang inelastis, yang berarti pengaruh besar-kecilnya harga terhadap jumlah-permintaan tidak terlalu besar.[1]

Sebagai contoh, jika sepeda motor memiliki elastisitas permintaan sebesar 2, maka sepeda motor tersebut dikelompokan sebagai barang elastis karena nilai elastisitasnya lebih dari 1. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah permintaan atas sepeda motor sangat dipengaruhi oleh besarnya harga yang ditawarkan. Contoh elastisitas permintaan dapat dilihat di tabel berikut.[1][11]

KoefisienElastisitasKeteranganContoh
n = 0Inelastis sempurnaWalaupun terjadi perubahan harga, perubahan barang yang diminta tetap sama (tidak berubah)Tanah, air
0 < n < 1InelastisKonsumen kurang peka terhadap perubahan harga sebesar 1%, sehingga terjadi perubahan barang yang diminta sebesar <1%Kebutuhan primer/pokok
n = 1Elastis uniterSetiap perubahan harga sebesar 1%, terjadi perubahan barang yang diminta sebesar 1%Kebutuhan sekunder
1 < n < ∞ElastisKonsumen peka terhadap perubahan harga sebesar 1%, sehingga terjadi perubahan barang yang diminta sebesar >1%Barang-barang elektronik dan mewah
n = ∞Elastis sempurnaWalaupun tidak terjadi perubahan harga, perubahan barang yang diminta selalu berubah-ubahBBM, Sembako

Untuk barang-barang normal, penurunan harga akan berakibat pada peningkatan jumlah permintaan. Permintaan terhadap sebuah barang dapat dikatakan inelastis bila jumlah barang yang diminta tidak dipengaruhi oleh perubahan harga. Barang dan jasa yang tidak memiliki substitusi biasanya tergolong inelastis. Permintaan terhadap antibiotik, misalnya, dikatakan sebagai permintaan inelastis karena tidak ada barang lain yang dapat menggantikannya. Daripada mati terinfeksi bakteri, pasien biasanya lebih memilih untuk membeli obat ini berapapun biayanya. Sementara itu, semakin banyak sebuah barang memiliki barang substitusi, semakin elastis barang tersebut.

Meskipun permintaan inelastis sering diasosiasikan dengan barang "kebutuhan," banyak juga barang yang bersifat inelastis meskipun konsumen mungkin tidak "membutuhkannya." Permintaan terhadap garam, misalnya, menjadi permintaan inelastis bukan karena konsumen sangat membutuhkannya, melainkan karena harganya yang sangat murah.



  • 3a) (21 April) Elasticity (13-14).ppt 3a) (21 April) Elasticity (13-14).ppt
    8 Mei 2025, 16:41

Made with ❤️ by ICT CENTER - IIB DARMAJAYA

Dapatkan aplikasi seluler