Garis besar topik
-
-
Mata kuliah ini memberikan penerapan umum konsep-konsep Ekonomi Mikro dalam pembuatan keputusan ekonomi manajerial.; menerapkan secara praktek kerangka pemikiran ekonomi mikro dalam bisnis. Mata kuliah ini menawarkan konsep-konsep seperti alokasi sumber daya, keputusan taktis dan strategis yang dilakukan oleh analis, manajer, konsultan dalam perusahaan swasta, perusahaan publik dan organisasi non-profit. Pembelajaran ini juga meliputi penggunaan tehnik-tehnik yang berguna untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan secara efisien, dengan kendala-kendala yang eksplisit maupun implisit.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hello everyone, selamat datang rekan-rekan Mahasiswa Akuntansi yang saya banggakan. Dimanapun anda berada, semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dalam Lindungan Allah SWT.
Selamat datang pada mata kuliah ΓÇ£EKONOMI MANAJERIAL KELAS 2MA4".
Mata kuliah ini ditujukan bagi peserta didik yang sedang mengambil program S1 Sarjana pada rumpun Ilmu Manajemen di Institut Informatika & Bisnis Darmajaya. Tujuan dari Matakuliah ini adalah
COURSE LEARNING OUTCOMES1. Mahasiswa mampu menguasai prinsip dan issue terkini dalam ekonomi, sosial, ekologi secara umum
2. Mampu memahami konsep dasar ilmu ekonomi dalam kegiatan perekonomian dalam sektor kebutuhan rumah tangga dan negara
IMPLEMENTATION STRUCTURENO
KETERANGAN
1
Mahasiswa wajib mengikuti (masuk) di setaip perkuliahan (Offline)
2
Mahasiswa diwajibkan membaca materi yang telah disediakan oleh Dosen pengampu Mata Kuliah
3
Mahasiswa dipersilahkan melakukan presensi perkuliahan di menu Presensi (Kelas Teori)
4
Mahasiswa diwajibkan aktif berpartisipasi pada Forum Diskusi di Eleraning atau Kuliah Tatap Muka
5
Mahasiswa mengerjakan tugas yang diberikan Dosen
6
Mengikuti Ujian Tengan Semester (UTS)
7
Mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS)
ASSESSMENT MODELKOMPONEN PENILAIAN
UTS
UAS
TUGAS
KEHADIRAN
ETIKA
20%
20%
20%
20%
20%
MEASUREMENT ASSESSMENTHURUF
NILAI
BOBOT
KRITERIA
A
80 ΓÇô 100
4
Sangat Baik
A-
75-79,5
3.75
Baik sekali
B+
70-74,5
3.5
Baik
B
65-67,5
3
baik
C
55-64,5
2
Cukup
D
30-54,5
1
Kurang
E
< 30
0
Tidak Lulus
REFERENCE- Keat Paul, Phlip Young & Stephen Erfle, 2014, Ekonomi Manajerial: Alat Ekonomi untuk Pengambil Keputusan Saat Ini, Edisi ke-7 Pearson International, Singapura.
-
-
ΓÇóCombines and organizes resources for the purpose of producing goods and/or services for sale.ΓÇóInternalizes transactions, reducing transactions costs.ΓÇóPrimary goal is to maximize the wealth or value of the firm.ΓÇóThe application of economic theory and the tools of decision science to examine how an organization can achieve its aims or objectives most efficiently.
-
The Basics of Demand, Supply, and Equilibrium:In economics, demand, supply, and equilibrium describe how prices and quantities of goods and services are determined in a market. Demand is what consumers are willing to buy at various prices, supply is what producers are willing to sell, and equilibrium is the point where these forces balance, establishing a market-clearing price.
ΓÇóChange in BuyersΓÇÖ TastesΓÇóChange in Buyers IncomesΓÇôNormal GoodsΓÇôInferior GoodsΓÇóChange in the Number of BuyersΓÇóChange in the Price of Related GoodsΓÇôSubstitute GoodsComplementary Goods -
The Basics of Demand,Supply, and Equilibrium
In economics, demand, supply, and equilibrium describe how prices and quantities of goods and services are determined in a market. Demand is what consumers are willing to buy at various prices, supply is what producers are willing to sell, and equilibrium is the point where these forces balance, establishing a market-clearing price.
-
-
-
Optimization Techniques and New Management Tools
Concept of the Derivative:
The derivative of Y with respect to X is equal to the limit of the ratio DY/DX as DX approaches zero
Power Function Rule: The derivative of a power function, where a and b are constants, is defined as follows
New Management Tools :
ΓÇóBenchmarkingΓÇóTotal Quality ManagementΓÇóReengineeringΓÇóThe Learning Organization"Other management tools" broadly refers to various software and techniques used for planning, organizing, and controlling resources to achieve specific goals. These tools can range from project management software to social media management platforms and beyond. Some common categories include project management, work management, social media management, and more -
Demand theory explores how consumer choices and behaviors are influenced by factors like price, income, and preferences, ultimately impacting the quantity of goods and services demanded. The core principle is that as the price of a good increases, the quantity demanded generally decreases, and vice versa, assuming all other factors remain constant, a relationship often depicted as a downward-sloping demand curve.here is an inverse relationship between the price of a good and the quantity of the good demanded per time period.ΓÇóSubstitution EffectΓÇóIncome Effect
-
-
-
OPTIMIZATION TECHNIQUES (TEKNIK OPTIMASI) DAN NEW MANAGEMENT TOOLS (ALAT MANAJEMEN BARU)ΓÇ¥.
Optimization Techniques (Teknik Optimasi)
Teknik optimasi adalah metode atau pendekatan yang digunakan untuk menemukan solusi terbaik dari suatu masalah dengan memaksimalkan atau meminimalkan suatu tujuan tertentu.OPTIMIZATION TECHNIQUES (TEKNIK OPTIMASI) DAN NEW MANAGEMENT TOOLS (ALAT MANAJEMEN BARU)ΓÇ¥.
Optimization Techniques (Teknik Optimasi)
Teknik optimasi adalah metode atau pendekatan yang digunakan untuk menemukan solusi terbaik dari suatu masalah dengan memaksimalkan atau meminimalkan suatu tujuan tertentuDalam konteks ekonomi dan manajerial, teknik optimasi sering digunakan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, atau memaksimalkan keuntungan. Beberapa contoh teknik optimasi meliputi:
Linear Programming (Pemrograman Linear):
Metode ini digunakan untuk mengoptimalkan fungsi linear dengan batasan-batasan tertentu. Contohnya, menentukan kombinasi produksi yang paling menguntungkan dengan sumber daya yang terbatas.
Non-linear Programming (Pemrograman Non-linear):
Digunakan ketika fungsi tujuan atau batasan tidak linear. Contohnya, optimasi dalam produksi dengan biaya yang tidak proporsional.
-
-
-
Pendekatan kardinal dalam perilaku konsumen adalah pendekatan yang mengukur tingkat kepuasan atau utilitas yang dirasakan konsumen secara kuantitatif, seperti unit, uang, atau jumlah. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dan dinyatakan dalam satuan utilitas, dan semakin banyak barang/jasa yang dikonsumsi, semakin besar utilitas yang diperoleh. Pendekatan kardinal adalah salah satu cara dalam menganalisis perilaku konsumen berdasarkan asumsi bahwa tingkat kepuasan pelanggan/konsumen dapat diukur dengan satuan nominal tertentu, seperti uang, jumlah, atau unit.Oleh karena itu, pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan kardinal (cardinal approach). Pendekatan ini juga mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka akan semakin diminati.Kata utilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu utility. Utilitas memiliki satuan yang disebut util. Utilitas yang diperoleh dari konsumen dalam mengonsumsi dapat berupa utilitas total (total utility) dan utilitas marjinal (marginal utility).
Teori utilitas menyatakan utilitas barang dan jasa tertentu tidak bisa diukur dengan skala objektif, konsumen berwenang dalam memberikan peringkat terhadap beberapa alternatif yang berbeda.
Ukuran Kepuasan Pendekatan Kardinal
Dari tadi kita bicara tentang kepuasan. Menurut pendekatan kardinal, nilai guna atau kepuasan atas suatu barang itu bisa diangkakan. Kamu tahu kan kepuasan itu abstrak? Namun uniknya, di pendekatan kardinal kepuasan dapat dinumerasi.
Satuan dari Kepuasan
Jika satuan dari berat adalah kilogram, gram, atau ons. Maka apa satuan kepuasan?
Satuan dari kepuasan adalah ΓÇ£utilΓÇ¥ (berasal dari kata ΓÇ£utilityΓÇ£).
Utility/utilitas/kepuasan/nilai guna adalah kepuasan yang diperoleh dalam mengonsumsi barang dan jasa. Maka dari itu, utilitas menunjukkan kepuasan relatif yang diperoleh seorang konsumen dari penggunaan berbagai barang.
Contohnya begini, kepuasaan kamu saat makan ayam geprek adalah 8 util. Sedangkan kepuasan memakan mangga asam adalah 3 util.
Dua Jenis Kepuasan dalam Pendekatan Kardinal
Nah, selanjutnya kamu perlu tahu dan bisa membedakan dua jenis kepuasan yang akan selalu kita bicarakan dalam pendekatan kardinal.
- Total utility. Ini adalah ukuran dari jumlah kepuasan total yang dirasakan dan diperoleh konsumen saat menggunakan produk dan jasa. Contoh total utility misalnya pembelian mangga arumanis oleh konsumen Superindo yang meningkat. Minggu pertama ludes 60 kuintal dan meningkat menjadi 90 kuintal di minggu kedua.
- Marginal utility. Ini adalah ukuran nilai kepuasan yang diperoleh konsumen saat memiliki lebih dari satu unit barang atau jasa. Contoh marginal utility misalnya ketika kamu memesan 3 loyang piza. Loyang pertama kamu puas dan merasa kenyang. Loyang kedua kamu sudah tak terlalu antusias dan di loyang ketiga kamu sudah ingin memuntahkannya.
-
Pendekatan ordinal dalam perilaku konsumen fokus pada perbandingan tingkat kepuasan konsumen, bukan pada pengukuran kuantitatifnya. Pendekatan ini menggunakan kurva indiferen untuk menggambarkan kombinasi barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama bagi konsumen.
Pendekatan Ordinal
Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (bertingkat) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Artinya, kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan angka, tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas, dan seterusnya1. Pendekatan ini juga mengasumsikan bahwa konsumen bersikap rasional, konsisten, dan tidak jenuh dalam membuat pilihan antara berbagai kombinasi barang dan jasa2.
Kurva Indiferen
Salah satu alat analisis yang digunakan dalam pendekatan ordinal adalah kurva indiferen (indifference curve). Kurva indiferen adalah kurva yang menggambarkan kombinasi konsumsi dua macam barang atau jasa yang menghasilkan tingkat kepuasan yang sama2. Setiap titik dalam kurva ini melambangkan tingkat kepuasan yang tidak berbeda (indiferen), meskipun kombinasi konsumsi barang atau jasanya berbeda-beda3.
Kurva indiferen memiliki beberapa sifat, antara lain:
- Kurva indiferen memiliki kemiringan negatif, artinya jika jumlah salah satu barang atau jasa meningkat, maka jumlah barang atau jasa lainnya harus berkurang agar tingkat kepuasan tetap sama.
- Kurva indiferen tidak dapat berpotongan satu sama lain, karena hal ini akan melanggar asumsi konsistensi dan transitivitas pilihan konsumen.
- Kurva indiferen bersifat cembung terhadap titik asal, artinya semakin jauh dari titik asal, semakin besar penurunan jumlah salah satu barang atau jasa yang harus dikompensasi dengan kenaikan jumlah barang atau jasa lainnya agar tingkat kepuasan tetap sama. Hal ini mencerminkan hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang (law of diminishing marginal utility).
Garis Anggaran
Selain kurva indiferen, alat analisis lain yang digunakan dalam pendekatan ordinal adalah garis anggaran (budget line). Garis anggaran adalah sebuah garis yang menggambarkan berbagai kombinasi barang atau jasa yang dapat dibeli oleh konsumen dengan sejumlah pendapatan tertentu2. Garis anggaran menunjukkan kendala atau batasan anggaran yang dihadapi oleh konsumen dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Garis anggaran memiliki beberapa sifat, antara lain:
- Garis anggaran memiliki kemiringan negatif, artinya jika jumlah salah satu barang atau jasa meningkat, maka jumlah barang atau jasa lainnya harus berkurang agar total pengeluaran tidak melebihi pendapatan.
- Garis anggaran dapat bergeser ke atas atau ke bawah akibat perubahan pendapatan atau harga barang atau jasa. Jika pendapatan meningkat atau harga menurun, maka garis anggaran akan bergeser ke atas, artinya konsumen dapat membeli lebih banyak barang atau jasa. Sebaliknya, jika pendapatan menurun atau harga meningkat, maka garis anggaran akan bergeser ke bawah, artinya konsumen harus membeli lebih sedikit barang atau jasa.
- Garis anggaran bersifat lurus jika harga barang atau jasa tetap konstan. Jika harga barang atau jasa berubah seiring dengan jumlah yang dibeli, maka garis anggaran akan bersifat melengkung.
Keseimbangan Konsumen
Keseimbangan konsumen adalah kondisi di mana konsumen telah memilih kombinasi barang atau jasa yang memberikan tingkat kepuasan maksimum dengan mempertimbangkan kendala anggarannya4. Keseimbangan konsumen dapat dicapai dengan menggunakan prinsip kondisi optimal, yaitu:
- Konsumen akan memilih kombinasi barang atau jasa yang berada pada titik sentuh antara kurva indiferen dan garis anggaran. Titik sentuh ini menunjukkan bahwa konsumen telah mengalokasikan pendapatannya secara efisien untuk memperoleh kepuasan maksimum.
- Pada titik sentuh tersebut, kemiringan kurva indiferen harus sama dengan kemiringan garis anggaran. Hal ini berarti bahwa laju pengorbanan konsumen untuk mendapatkan barang atau jasa tambahan (marginal rate of substitution) harus sama dengan perbandingan harga barang atau jasa tersebut (price ratio).
Kesimpulan
Teori perilaku konsumen pendekatan ordinal adalah teori yang menggunakan pengukuran bertingkat untuk menganalisis kepuasan konsumen. Teori ini mengasumsikan bahwa konsumen bersikap rasional, konsisten, dan tidak jenuh dalam membuat pilihan antara berbagai kombinasi barang atau jasa. Teori ini menggunakan kurva indiferen dan garis anggaran sebagai alat analisisnya. Keseimbangan konsumen dicapai dengan memilih kombinasi barang atau jasa yang berada pada titik sentuh antara kurva indiferen dan garis anggaran, di mana kemiringan keduanya sama.
Sumber:
(1) Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal dan Pendekatan Ordinal. https://buguruku.com/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-dan-pendekatan-ordinal/.
(2) Teori Perilaku Konsumen: Pendekatan Ordinal (Indifference Curve). https://jagoekonomi.com/2020/06/21/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-ordinal-indifference-curve/.
(3) PERILAKU KONSUMEN PENDEKATAN ORDINAL DAN KARDINAL. https://senjayakertiawan.wordpress.com/2012/12/05/perilaku-konsumen-pendekatan-ordinal-dan-kardinal/.
(4) Teori Perilaku Konsumen: Pendekatan Ordinal (Budget Line dan …. https://jagoekonomi.com/2020/07/03/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-ordinal-budget-line-dan-keseimbangan-konsumen/.
-
-
-
Chapter 5 Peramalan Permintaan (Demand Forecasting)
ΓÇóSurvey TechniquesΓÇôPlanned Plant and Equipment SpendingΓÇôExpected Sales and Inventory ChangesΓÇôConsumersΓÇÖ Expenditure PlansΓÇóOpinion PollsΓÇôBusiness ExecutivesΓÇôSales ForceΓÇôConsumer Intentions -
Pertemuan 5 Metode Peramalan (Forecasting Method)Forecasting : Pengertian, Fungsi, Metode dan Perbedaanya dengan Planning Forecasting adalah istilah yang sering muncul dalam kegiatan berbisnis baik dalam rencana bisnis baru maupun pebisnis yang sudah menjalankan bisnisnya. Forecasting atau peramalan memegang peran penting berhasil-tidaknya sebuah usaha atau bisnis dijalankan. Istilah peramalan juga sering disalah-artikan dengan istilah penganggaran atau budgeting. Lantas, apa sebenarnya forecasting? Kenapa aktivitas itu memegang peran penting suksestidaknya sebuah bisnis? Simak lengkap artikel ini! Pengertian Forecasting forecasting atau peramalan merupakan metode untuk memperkirakan informasi yang bersifat prediktif dalam menentukan arah di masa depan dengan menggunakan data historis sebagai acuan. Lebih lengkap, WIlliam Stevenson dalam bukunya Operation Management (2009) menjelaskan forecasting adalah dasar dalam menentukan arah keputusan perusahaan di masa depan. Lanjutnya, forecasting mampu memberikan informasi terkait permintaan di masa depan yang bertujuan untuk menentukan kapasitas produksi, persediaan, budgeting, pengadaan barang dan jasa hingga rantai pasok. Hal ini juga ditegaskan oleh Satinder Mullick, dkk dalam tulisannya di Harvard Business Review. Mereka menjelaskan forecasting merupakan alat untuk mengatasi segala jenis potensi masalah yang terjadi dari anomali permintaan baik musiman maupun perubahan ekonomi secara global. Tanpa peramalan, sulit bagi perusahaan untuk berkembang atau berhasil dalam menjalankan bisnis. Misalnya saja pandemi COVID-19 yang terjadi di akhir tahun 2019, perusahaa
-
Chapter 5: Appendix Input-Output Forecasting
Input-output forecasting is a method of forecasting that analyzes the interrelationships between different sectors of the economy to project future economic activity. It involves identifying the inputs required by each sector to produce its outputs and how these inputs, in turn, affect the production of other sectors. To perform any useful task, the microcomputer must interact with the outside world. The input-output (I/O) devices or peripherals provide the necessary data communications link between the microprocessor and its environment. Typically, information is accepted from the input devices, it is processed and the results of the data processing are then sent to one or more output devices. In a microcomputer system, the input-output operations are particularly important since, in the majority of applications, the microprocessor spends the greatest part of its time interacting with the I/O devices. The operation of the I/O devices is usually independent of that of the microprocessor, and a procedure must be adopted to synchronise program execution with their operation during data transmission. There are three basic types of input-output according to the method of controlling and synchronising data transfer: (i) Program-controlled I/O (ii) Interrupt-controlled I/O (iii) Direct-memory-access I/O. The type of input-output used in a particular application will depend on three main factors: (i) The rate at which data must be transmitted. (ii) The maximum time delay which can be accepted between the I/O device signalling its readiness to transmit or receive data and the data transfer actually taking place
-
-
-
Korelasi dan regresi linear berganda adalah dua konsep statistik yang terkait, tetapi memiliki tujuan yang berbeda. Korelasi mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua atau lebih variabel, sedangkan regresi linear berganda digunakan untuk memprediksi nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang sudah diketahui. Korelasi menunjukkan apakah ada hubungan, sedangkan regresi menjelaskan bagaimana hubungan tersebut dapat digunakan untuk memprediksi. Analisis regresi digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat. Apabila hanya terdapat satu variabel bebas dan satu variabel terikat, maka regresi tersebut dinamakan regresi linear sederhana (Juliandi, Irfan, & Manurung, 2014). Sebaliknya, apabila terdapat lebih dari satu variabel bebas atau variabel terikat, maka disebut regresi linear berganda. Regresi linear berganda merupakan model regresi yang melibatkan lebih dari satu variabel independen. Analisis regresi linear berganda dilakukan untuk mengetahui arah dan seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2018).
Dalam contoh penelitian ini uji regresi linear berganda dilakukan untuk mendapatkan gambaran bagaimana variabel independen yang meliputi CSR, likuiditas, capital intensity, dan inventory intensity mempengaruhi variabel dependen yaitu agresivitas pajak dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05 (Ghozali, 2018). Hasil dalam pengujian regresi linear berganda dalam table 1 sebagai berikut.
Tabel 1 : Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,220 ,022 10,160 ,000 CSR -,038 ,090 -,053 -,424 ,674 Likuditas -,004 ,001 -,315 -2,519 ,015 Capital Intensity ,070 ,021 ,539 3,352 ,002 Inventory Intensity ,097 ,034 ,459 2,832 ,007 a. Dependent Variable: Agresivitas Pajak Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS 25
Berdasarkan tabel 1, dapat diuraikan persamaan regresi berganda yaitu sebagai berikut:
Y = ╬▒ + ╬▓1X1 + ╬▓2X2 + ╬▓3X3 + ╬▓4X4 + e
Y = (0,220) ΓÇô 0,038X1 ΓÇô 0,004X2 + 0,070X3 + 0,097X4 + e
Dari persamaan regresi linear berganda di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Nilai konstanta (a) memiliki nilai positif sebesar 0,220. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel independen dan variabel dependen. Hal ini menunjukkan bahwa jika semua variabel independen yang meliputi CSR (X1), likuiditas (X2), capital intensity (X3), dan inventory intensity (X4) bernilai 0 persen atau tidak mengalami perubahan, maka nilai agresivitas pajak adalah 0,220.
- Nilai koefisien regresi untuk variabel CSR (X1) yaitu sebesar -0,038. Nilai tersebut menunjukkan pengaruh negatif (berlawanan arah) antara variabel CSR dan agresivitas pajak. Hal ini artinya jika variabel CSR mengalami kenaikan sebesar 1%, maka sebaliknya variabel agresivitas pajak akan mengalami penurunan sebesar 0,038. Dengan asumsi bahwa variabel lainnya tetap konstan.
- Nilai koefisien regresi untuk variabel likuiditas (X2) yaitu sebesar -0,004. Nilai tersebut menunjukkan pengaruh negatif (berlawanan arah) antara variabel likuiditas dan agresivitas pajak. Hal ini artinya jika variabel likuiditas mengalami kenaikan 1%, maka sebaliknya variabel agresivitas pajak akan mengalami penurunan sebesar 0,004. Dengan asumsi bahwa variabel lainnya dianggap konstan.
- Nilai koefisien regresi untuk variabel capital intensity (X3) memiliki nilai positif sebesar 0,070. Hal ini menunjukkan jika capital intensity mengalami kenaikan 1%, maka agresivitas pajak akan naik sebesar 0,070 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel independen dan variabel dependen.
- Nilai koefisien regresi untuk variabel inventory intensity (X4) memiliki nilai positif sebesar 0,097. Hal ini menunjukkan jika inventory intensity mengalami kenaikan 1%, maka agresivitas pajak akan naik sebesar 0,097 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel independen dan variabel dependen.
Referensi:
- Ghozali, Imam. 2018. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang.
-
The Nature and Scope of Managerial Economic (Sifat dan Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial). Demand Estimation:
Marketing Research Approaches.ΓÇóConsumer SurveysΓÇóObservational ResearchΓÇóConsumer ClinicsΓÇóMarket ExperimentsΓÇóVirtual ShoppingΓÇóVirtual Management
-
-
-
Elastisitas permintaan adalah suatu pengukuran kuantitatif yang menunjukkan sampai di mana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan. Ketika harga sebuah barang naik, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya menurun sedangkan semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli.Elastisitas dapat dibagi menjadi lima kategori besar: elastis sempurna, elastis, tidak elastis sempurna, tidak elastis, dan uniter . Permintaan elastis atau penawaran elastis adalah permintaan yang elastisitasnya lebih besar dari satu, yang menunjukkan responsivitas yang tinggi terhadap perubahan harga.
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas permintaan atau price elasticity of demand (PED) adalah ukuran perubahan jumlah permintaan barang (jumlah barang akan dibeli oleh pembeli) terhadap perubahan harga barang itu.[1] Pada umumnya, jika harga barang naik, kesediaan pembeli untuk membeli barang tersebut akan menurun. Namun, tingkat perubahan ini berbeda-beda: untuk barang tertentu, kenaikan harga yang kecil akan pengakibatkan permintaan turun dengan drastis, sedangkan untuk barang lain pembeli tetap bersedia membelinya sekalipun harganya naik dengan tajam. Dalam ilmu ekonomi, perbedaan ini diukur sebagai elastistias. Lebih gamblangnya, elastisitas permintaan menunjukkan persentase perubahan jumlah permintaan jika terjadi kenaikan harga 1% dan semua hal lain tetap sama.
Karena jumlah permintaan hampir selalu turun jika harga naik, elastisitas permintaan biasanya bernilai negatif, walaupun para praktisi kadang tidak menulis tanda negatif tersebut. Permintaan suatu barang dikatakan bersifat elastis jika elastisitasnya lebih besar dari 1, artinya kenaikan harga sebesar 1% menghasilkan penurunan permintaan yang lebih besar dari 1%. Sebaliknya, permintaan inelastis adalah permintaan dengan elastisitas lebih kecil dari 1. Selain itu, terdapat klasifikasi permintaan elastis sempurna memiliki elastisitas ∞ elastis uniter (elastitas 1), inelastis sempurna (0) dan elastis sempurna (∞). Segelintir barang memiliki elastisitas positif, sehingga merupakan anomali hukum permintaan, misalnya barang-barang yang merupakan simbol status ("Barang Veblen") atau Barang Giffen.
Dalam teori ekonomi, pendapatan penjual mencapai titik maksimal saat harga diatur sedemikian rupa sehingga elastisitas permintaannya menjadi uniter (1). Elastisitas permintaan juga dapat digunakan untuk memprediksi efek atau beban yang ditimbulkan oleh pajak terhadap barang tersebut.[2] Terdapat beberapa metide untuk mengukur elastisitas permintaan di dunia nyata, termasuk analisis data rekaman penjualan, model-model yang dihasilkan oleh survei konsumen, serta analisis gabungan dari peringkat acuan konsumen.
Faktor utama yang menentukan elastisitas permintaan adalah kemampuan dan kesediaan konsumen untuk menunda konsumsi atau mencari barang substitusi (pengganti) saat terjadi perubahan harga. Lebih lanjut lagi, kemampuan atau kesediaan ini dapat dianalisis menjadi beberapa faktor:[3]
- Ketersediaan barang pengganti
Semakin banyak barang substitusi yang tersedia, permintaan akan cenderung semakin elastis, karena pembeli dapat membeli barang lain bahkan jika harga berubah sedikit saja.[3][4][5] Ini disebut efek substitusi dan pengaruhnya sangat besar kepada elastisitas.[6] Jika tidak ada pengganti yang cocok, efek substitusi menjadi mengecil dan permintaan menjadi cenderung inelastis.[6]
- Persentase dari pendapatan pembeli
Semakin tinggi harga barang jika diukur sebagai persentase dari pendapatan pembeli, elastisitas cenderung lebih tinggi, karena pembeli akan lebih berhati-hati dalam membeli barang tersebut.[3][4] Efek ini disebut efek pendapatan dan pengaruhnya cukup besar.[7] Barang-barang yang merupakan pos pengeluaran kecil cendering memiliki permintaan inelastis.[7]
- Kebutuhan
Semakin penting kebutuhan akan suatu barang, permintaan cenderung menjadi inelastis karena pembeli akan membelinya tanpa memperdulikan harga. Contohnya adalah obat insulin bagi mereka yang membutuhkan.[8][4]
- Durasi
Umumnya, semakin lama perubahan harga barang bertahan, elastisitas akan semakin tinggi, karena konsumen memiliki waktu dan kesediaan untuk mengubah perilaku konsumsinya.[3][5] Sebagai contoh, jika harga bahan bakar minyak (BBM) naik, dalam jangka pendek konsumen akan tetap membutuhkannya dan membelinya dengan jumlah yang sama. Namun, jika harga yang tinggi bertahan lama, konsumen akan mencari cara untuk mengurangi kebutuhan BBM-nya, misalnya dengan menggunakan kendaraan umum, atau membeli kendaraan yang lebih hemat BBM.[4]
- Loyalitas merek
Loyalitas terhadap suatu merek dapat mengurangi sensitivitas terhadap perubahan harga, sehingga permintaan menjadi inelastis. Loyalitas ini dapat terjadi karena kebiasaan atau karena adanya penghalang untuk berganti merek.[9][10]
- Pembayar
Jika pembelian dibayar oleh pihak lain, permintaan menjadi cenderung inelastis, misalnya pengeluaran dinas yang ditanggung perusahaan atau negara.[10]
- Barang yang adiktif
Barang-barang yang bersifat adiktif atau dapat menyebabkan kecanduan cenderung memiliki permintaan inelastis, karena konsumen yang sudah kecanduan akan "terpaksa" untuk membelinya sekalipun harganya berubah drastis. Contohnya adalah rokok, minuman keras, atau heroin.
- Luasnya definisi barang yang diukur
Nilai elastisitas suatu barang tergantung kepada definisi barang yang diukur. Misalnya, suatu menu makanan di sebuah rumah makan (definisi sempit) memiliki elastisitas tinggi karena banyaknya substitusi (yaitu jenis makanan lain atau rumah makan lain), sedangkan jika yang diukur makanan secara umum (definisi luas), elastisitasnya kecil karena tidak ada penggantinya.[9]
Elastisitas permintaan mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Ketika harga sebuah barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik. Semakin rendah harganya, semakin banyak barang itu dibeli. Elastisitas permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah permintaan dan persen perubahan harga.[1]
Ketika elastisitas permintaan suatu barang menunjukkan nilai lebih dari 1, maka permintaan terhadap barang tersebut dikatakan elastis di mana besarnya jumlah barang yang diminta sangat dipengaruhi oleh besar-kecilnya harga. Sementara itu, barang dengan nilai elastisitas kurang dari 1 disebut barang inelastis, yang berarti pengaruh besar-kecilnya harga terhadap jumlah-permintaan tidak terlalu besar.[1]
Sebagai contoh, jika sepeda motor memiliki elastisitas permintaan sebesar 2, maka sepeda motor tersebut dikelompokan sebagai barang elastis karena nilai elastisitasnya lebih dari 1. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah permintaan atas sepeda motor sangat dipengaruhi oleh besarnya harga yang ditawarkan. Contoh elastisitas permintaan dapat dilihat di tabel berikut.[1][11]
Koefisien Elastisitas Keterangan Contoh n = 0 Inelastis sempurna Walaupun terjadi perubahan harga, perubahan barang yang diminta tetap sama (tidak berubah) Tanah, air 0 < n < 1 Inelastis Konsumen kurang peka terhadap perubahan harga sebesar 1%, sehingga terjadi perubahan barang yang diminta sebesar <1% Kebutuhan primer/pokok n = 1 Elastis uniter Setiap perubahan harga sebesar 1%, terjadi perubahan barang yang diminta sebesar 1% Kebutuhan sekunder 1 < n < ∞ Elastis Konsumen peka terhadap perubahan harga sebesar 1%, sehingga terjadi perubahan barang yang diminta sebesar >1% Barang-barang elektronik dan mewah n = ∞ Elastis sempurna Walaupun tidak terjadi perubahan harga, perubahan barang yang diminta selalu berubah-ubah BBM, Sembako Untuk barang-barang normal, penurunan harga akan berakibat pada peningkatan jumlah permintaan. Permintaan terhadap sebuah barang dapat dikatakan inelastis bila jumlah barang yang diminta tidak dipengaruhi oleh perubahan harga. Barang dan jasa yang tidak memiliki substitusi biasanya tergolong inelastis. Permintaan terhadap antibiotik, misalnya, dikatakan sebagai permintaan inelastis karena tidak ada barang lain yang dapat menggantikannya. Daripada mati terinfeksi bakteri, pasien biasanya lebih memilih untuk membeli obat ini berapapun biayanya. Sementara itu, semakin banyak sebuah barang memiliki barang substitusi, semakin elastis barang tersebut.
Meskipun permintaan inelastis sering diasosiasikan dengan barang "kebutuhan," banyak juga barang yang bersifat inelastis meskipun konsumen mungkin tidak "membutuhkannya." Permintaan terhadap garam, misalnya, menjadi permintaan inelastis bukan karena konsumen sangat membutuhkannya, melainkan karena harganya yang sangat murah.
-
Apa itu Elastisitas
Secara umum, elastisitas bisa diartikan sebagai pengaruh perubahan harga terhadap jumlah dari produk barang yang diminta atau ditawarkan. Bisa dikatakan bahwa elastisitas ini merupakan tingkat perubahan atau kepekaan dari satu gejala ekonomi atas perubahan gejala ekonomi yang lain.Elastisitas bisa dibedakan menjadi 3, yaitu elastisitas harga (price elasticity), elastisitas pendapatan (income elasticity) dan elastisitas silang (cross elasticity). Pada ketiga jenis elastisitas tersebut ada unsur penting yang mempengaruhi, yaitu elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran.Pengertian Elastisitas Permintaan dan PenawaranDari penjelasan tentang permintaan dan penawaran serta elastisitas di atas, apakah Sobat Pijar sudah mendapatkan gambaran mengenai elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran? Jika masih kurang paham, mari kita bahas satu per satu.
Sebelum memahami elastisitas permintaan dan penawaran, Sobat Pijar juga bisa menyimak pembahasan Pijar Belajar sebelumnya tentang teori permintaan dan penawaran, hukum permintaan dan penawaran, dan kurva permintaan dan penawaran berikut ini. Elastisitas Permintaan Elastisitas permintaan merupakan pengaruh dari perubahan harga terhadap jumlah produk barang yang diminta. Atau dengan kata lain elastisitas permintaan merupakan tingkat kepekaan dari perubahan jumlah barang yang diminta atas perubahan harganya.
Elastisitas Penawaran
Elastisitas penawaran merupakan pengaruh dari perubahan harga terhadap jumlah barang yang ditawarkan. Atau bisa dikatakan bahwa elastisitas penawaran merupakan tingkat kepekaan dari perubahan jumlah barang yang ditawarkan atas perubahan harganya.Jadi, perbedaan elastisitas permintaan dan penawaran terletak pada perubahan jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga (elastisitas permintaan) dan perubahan jumlah barang yang ditawarkan akibat adanya perubahan harga (elastisitas penawaran).
Koefisien Elastisitas PermintaanBerdasarkan konsep elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran yang telah dijelaskan di atas, maka untuk bisa mengetahui koefisien elastisitas diperlukan rumus elastisitas permintaan dan penawaran seperti di bawah ini:
Keterangan:
E : elastisitas permintaan atau penawaran
ΔQ : perubahan pada jumlah barang
ΔP : Perubahan pada harga barang
Q : Jumlah dari barang mula-mula
P : Harga dari barang mula-mula
Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Permintaan dan Penawaran
Elastisitas permintaan maupun penawaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah seperti berikut ini:
Jenis Elastisitas Permintaan dan Penawaran
Pada dasarnya elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran bisa dibedakan menjadi 5 jenis. Untuk penjelasannya secara lebih lanjut, langsung saja simak penjabaran yang ada di bawah ini:
1. Elastis (E>1)
Permintaan dan penawaran disebut elastis jika persentase perubahan jumlah barang yang diminta maupun yang ditawarkan lebih tinggi daripada persentase perubahan harganya, atau jika nilai koefisien elastisitasnya > 1.
Biasanya jenis elastisitas ini ditemukan pada produk yang memiliki banyak substitusi atau pengganti. Contoh elastisitas penawaran atau permintaan elastis ditemukan pada produk makanan, pakaian, dan lain sebagainya.
Jadi ketika harganya naik maka akan mudah bagi konsumen untuk mendapatkan barang penggantinya. Berikut ini adalah grafik elastisitas permintaan dan penawaran yang elastis:
2. Inelastis (E<1)
Disebut inelastis jika persentase dari jumlah barang yang diminta kurang dari persentase perubahan harga. Kondisi ini sering ditemukan pada barang kebutuhan sehari-hari seperti beras yang menjadi kebutuhan pokok. Meskipun harga naik, masyarakat akan tetap membeli.
3. Unitary (E=1)
Elastisitas permintaan dan penawaran disebut unitary atau uniter jika persentase dari jumlah barang yang diminta sama dengan persentase perubahan harganya. Hanya saja contoh dari barang yang memiliki elastisitas uniter ini tidak bisa disebutkan secara spesifik.
4. Elastis Sempurna (E= ~)
Elastis sempurna atau tidak terhingga bisa terjadi jika pada suatu harga yang ditawarkan bisa membeli atau menjual seluruh barang yang tersedia di pasar. Namun jika ada kenaikan sedikit saja maka jumlah permintaan akan jatuh menjadi nol (0).
Kondisi ini biasanya terjadi pada produk barang atau jasa yang memiliki sifat dan karakteristik sama meskipun berasal dari produsen yang berbeda dan dijual di tempat yang berbeda.
5. Inelastis Sempurna (E=0)
Kondisi permintaan atau penawaran inelastis sempurna bisa terjadi jika perubahan harga yang terjadi tidak berpengaruh pada jumlah permintaan barang. Jadi berapapun harganya jumlah produk barang atau jasa tidak berubah.
Salah satu contohnya adalah lukisan seniman terkenal yang sudah meninggal dunia. Meskipun harganya terus mengalami kenaikan tapi jumlah produk yang tersedia tetap atau tidak berubah.
6. Elastisitas Silang
Jenis elastisitas ini mengukur tingkat kepekaan pada perubahan jumlah produk tertentu yang diminta (misal produk X) akibat adanya perubahan harga pada produk lain (misal produk Y). Jenis elastisitas ini berlaku untuk jenis barang substitusi maupun komplementer.
Adapun rumusnya adalah:
Nilai elastisitas yang dihasilkan dari rumus perhitungan tersebut menunjukkan hubungan antara produk X dan Y. Sifat hubungannya bisa berupa komplementer atau substitusi (menggantikan) dan bisa juga netral atau tidak ada hubungan sama sekali.
Contoh hubungan produk barang komplementer atau melengkapi adalah kopi dengan gula. Contoh hubungan produk barang substitusi adalah kopi dengan teh. Sedangkan hubungan yang netral bisa terjadi antara air dengan ponsel.
Adapun rumus sifat dari elastisitas silang adalah:
- Exy>0 (barang substitusi), contohnya jika harga beras naik maka jumlah beras yang diminta akan turun dan gandum yang diminta akan naik.
- Exy<0 (barang komplementer), contohnya jika harga gula naik maka jumlah gula yang diminta akan turun dan jumlah kopi yang diminta juga akan turun.
- Exy=0 pada dua barang netral karena tidak memiliki hubungan antara keduanya.
Contoh Soal Elastisitas Permintaan dan Penawaran
Agar lebih memahami materi dan pembahasan tentang elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran, berikut ini contoh soal yang bisa dipelajari:
Toko Pakaian Elok pada bulan ini melakukan cuci gudang untuk semua produk pakaian, mulai dari pakaian anak hingga dewasa. Harga pakaian anak yang sebelumnya Rp20.000 diturunkan menjadi Rp15.000 saja.
Dengan adanya penurunan harga tersebut, terjadi peningkatan pada jumlah permintaan pakaian anak yang semula berjumlah 1.000 pcs naik menjadi 4.000 pcs. Berapakah koefisien elastisitasnya?
Diketahui:







Maka, Ed > 1.
Dari hasil perhitungan di atas dapat terlihat bahwa sebenarnya hasilnya adalah negatif. Namun hal itu bisa diabaikan saat menghitung koefisien elastisitas. Diketahui nilai dari koefisien permintaan pakaian anak sebesar 12. Artinya, jika akan perubahan harga naik 1% maka permintaan akan turun 12%.
Coba asah pemahamanmu lebih dalam lagi melalui berbagai latihan soal Pijar Belajar lainnya, yuk! Klik banner di bawah ini untuk mulai mengakses latihan soal lengkap dengan pembahasannya.
-
-
-
Fungsi produksi adalah fungsi matematika yang menunjukkan hubungan antara masukan (input) yang digunakan dalam proses produksi dengan keluaran (output) yang dihasilkan. Fungsi ini mengukur efisiensi produksi dan membantu menentukan jumlah output maksimum yang dapat diproduksi dengan sejumlah masukan tertentu
Pengertian Produksi
Secara umum, produksi bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan manusia untuk menambah nilai maupun menghasilkan suatu produk barang dan jasa dengan tujuan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan manusia.
Tanpa adanya produksi, maka manusia akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Contoh sederhananya adalah produksi pakaian yang mengubah kapas menjadi kain kemudian menjadi baju. Produksi alat transportasi seperti sepeda, sepeda motor, mobil, hingga pesawat.
Produksi sendiri tidak hanya terbatas menambah nilai dari suatu benda atau menghasilkan produk barang saja, tetapi juga bisa berupa produk jasa. Contohnya seperti jasa konsultan keuangan, jasa les privat dan lain sebagainya.
Proses Produksi
Dengan pengertian produksi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dalam kegiatan tersebut tentu membutuhkan suatu proses tertentu. Dalam kegiatan produksi ada beberapa tahap yang perlu dilalui untuk bisa mengolah bahan mentah menjadi sebuah produk barang jadi.
Dalam kegiatan produksi ada dua proses yang dilakukan, yaitu:
- Proses produksi kontinyu (continuous process)
Proses produksi ini berlangsung secara terus menerus, dengan barang yang diproduksi secara massal untuk dijual dan disimpan sebagai persediaan atau stok barang. Tujuan proses ini adalah agar bisa tetap memenuhi kebutuhan konsumen.
Ciri khas dari proses produksi ini adalah adanya aliran bahan baku yang tetap dengan pola yang sama. Biasanya dilakukan untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar. Salah satu contoh proses produksi kontinyu adalah industri produk makanan kemasan dan pabrik pupuk.
- Proses produksi intermitten (intermitten process)
Proses produksi selanjutnya adalah intermitten process, yaitu kegiatan produksi sesuai dengan permintaan konsumen. Biasanya produksi ini dilakukan oleh industri dengan skala kecil atau menengah.
Ciri khas dari proses produksi ini adalah aliran bahan baku yang tidak tetap dimana produksi yang dibuat tergantung pada pesanan (jumlah, harga, bentuk dan kualitas. Contohnya adalah produksi pakaian atau jasa jahit pakaian, perusahaan percetakan, dan usaha mebel.
Fungsi Produksi
Fungsi dari produksi merupakan fungsi matematika yang berguna untuk menghubungkan jumlah atau kuantitas output dengan input yang dipergunakan dalam proses produksi. Biasanya, para ekonom menganggap bahwa satu-satunya input produksi berupa modal dan tenaga kerja.
Fungsi dari produksi tersebut akan digunakan untuk menghitung berapa jumlah output yang dihasilkan berdasarkan proses produksi yang dilakukan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dalam proses produksi terdapat kegiatan pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi.
Rumus Fungsi Produksi
Secara matematis, rumus fungsi dari produksi adalah seperti berikut:
Keterangan:
- Q (Quantity) : Jumlah barang yang dihasilkan dalam produksi
- f (Fungsi) : Simbol dari persamaan fungsional
- C (Capital) : Modal ataupun sarana yang digunakan untuk produksi
- L (Labour) : Tenaga kerja
- R (Resource) : Sumber daya alam
- T (Technology) : Teknologi dan kewirausahaan
Berdasarkan persamaan tersebut maka dapat terlihat bahwa output atau hasil produksi merupakan fungsi dari input. Artinya adalah setiap barang yang dihasilkan dari proses produksi merupakan akibat dari input yang telah dimasukkan. Contoh sederhananya adalah seperti berikut:
Contoh Soal Fungsi Produksi
Berikut ini adalah contoh soal yang bisa kamu pelajari agar lebih paham dengan materi yang tengah dibahas. Kali ini kita akan mencari produk rata-rata (Average Produk/AP) adapun rumusnya adalah:
Keterangan:
- TP : total produk
- L : jumlah tenaga kerja
Jika diketahui L = 4 dan TP = 16 maka berapakah AP?
Jawab:
AP = 16/4
= 4
Hasil perhitungannya adalah 4. Itu artinya setiap tenaga kerja akan menghasilkan rata-rata 4 produk setiap kali melakukan produksi
The Law of Diminishing Returns
Pengertian The Law of Diminishing Return adalah berupa hukum hasil lebih yang semakin berkurang. Seperti yang diketahui, dalam proses produksi terdapat beberapa tahap yang harus dilalui agar bisa menghasilkan produk barang maupun jasa.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka diperlukan peningkatan produktivitas, yaitu dengan cara menambah faktor produksi. Namun hal itu tidak selalu memberikan hasil yang sesuai. Inilah yang kemudian dikenal dengan hukum hasil lebih yang semakin berkurang (The Law of Diminishing Returns).
Atau dengan kata lain, meskipun sudah dilakukan penambahan faktor produksi namun hasilnya tidak sebanding. Bahkan tambahan hasil mengalami penurunan meskipun ada penambahan faktor-faktor produksi.
The law of diminishing return sendiri menyatakan bahwa jika salah satu faktor produksi ditambah secara terus menerus maka total produksi akan mengalami pertambahan sampai pada total maksimum. Dan jika ditambah lagi maka hal itu akan menyebabkan produksi totalnya semakin berkurang.
Contoh sederhananya adalah seperti berikut:
Sebidang tanah pertanian yang diolah oleh 1 tenaga kerja dan satuan modal yang lain mampu menghasilkan 10 kwintal kedelai. Berikut adalah tabelnya:
Berdasarkan data tersebut maka dapat dilihat bagaimana penambahan tenaga kerja 2 ΓÇô 3 membuat hasil panen kedelai meningkat. Namun ketika penambahan tenaga kerja 4 dan seterusnya hal itu justru menunjukkan adanya penurunan hasil sehingga dalam hal ini hukum tersebut berlaku.
Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik The Law of Diminishing Return:
Dapat disimpulkan bahwa fungsi produksi merupakan merupakan hubungan antara input yang merupakan faktor produksi dengan output yang menjadi hasilnya. Fungsi tersebut digunakan untuk menghitung jumlah output sesuai dengan proses produksinya.
-
-
-
Pengertian Produksi
Secara umum, produksi bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan manusia untuk menambah nilai maupun menghasilkan suatu produk barang dan jasa dengan tujuan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan manusia.Tanpa adanya produksi, maka manusia akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Contoh sederhananya adalah produksi pakaian yang mengubah kapas menjadi kain kemudian menjadi baju. Produksi alat transportasi seperti sepeda, sepeda motor, mobil, hingga pesawat. Produksi sendiri tidak hanya terbatas menambah nilai dari suatu benda atau menghasilkan produk barang saja, tetapi juga bisa berupa produk jasa. Contohnya seperti jasa konsultan keuangan, jasa les privat dan lain sebagainya.Proses ProduksiDengan pengertian produksi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dalam kegiatan tersebut tentu membutuhkan suatu proses tertentu. Dalam kegiatan produksi ada beberapa tahap yang perlu dilalui untuk bisa mengolah bahan mentah menjadi sebuah produk barang jadi.Dalam kegiatan produksi ada dua proses yang dilakukan, yaitu:
- Proses produksi kontinyu (continuous process) Proses produksi ini berlangsung secara terus menerus, dengan barang yang diproduksi secara massal untuk dijual dan disimpan sebagai persediaan atau stok barang. Tujuan proses ini adalah agar bisa tetap memenuhi kebutuhan konsumen.
Ciri khas dari proses produksi ini adalah adanya aliran bahan baku yang tetap dengan pola yang sama. Biasanya dilakukan untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar. Salah satu contoh proses produksi kontinyu adalah industri produk makanan kemasan dan pabrik pupuk.
- Proses produksi intermitten (intermitten process) Proses produksi selanjutnya adalah intermitten process, yaitu kegiatan produksi sesuai dengan permintaan konsumen. Biasanya produksi ini dilakukan oleh industri dengan skala kecil atau menengah.
Ciri khas dari proses produksi ini adalah aliran bahan baku yang tidak tetap dimana produksi yang dibuat tergantung pada pesanan (jumlah, harga, bentuk dan kualitas. Contohnya adalah produksi pakaian atau jasa jahit pakaian, perusahaan percetakan, dan usaha mebel.
Fungsi ProduksiFungsi dari produksi merupakan fungsi matematika yang berguna untuk menghubungkan jumlah atau kuantitas output dengan input yang dipergunakan dalam proses produksi. Biasanya, para ekonom menganggap bahwa satu-satunya input produksi berupa modal dan tenaga kerja.Fungsi dari produksi tersebut akan digunakan untuk menghitung berapa jumlah output yang dihasilkan berdasarkan proses produksi yang dilakukan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dalam proses produksi terdapat kegiatan pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi.Rumus Fungsi ProduksiSecara matematis, rumus fungsi dari produksi adalah seperti berikut:
Keterangan:
- Q (Quantity) : Jumlah barang yang dihasilkan dalam produksi
- f (Fungsi) : Simbol dari persamaan fungsional
- C (Capital) : Modal ataupun sarana yang digunakan untuk produksi
- L (Labour) : Tenaga kerja
- R (Resource) : Sumber daya alam
- T (Technology) : Teknologi dan kewirausahaan
Berdasarkan persamaan tersebut maka dapat terlihat bahwa output atau hasil produksi merupakan fungsi dari input. Artinya adalah setiap barang yang dihasilkan dari proses produksi merupakan akibat dari input yang telah dimasukkan. Contoh sederhananya adalah seperti berikut:
Contoh Soal Fungsi Produksi
Berikut ini adalah contoh soal yang bisa kamu pelajari agar lebih paham dengan materi yang tengah dibahas. Kali ini kita akan mencari produk rata-rata (Average Produk/AP) adapun rumusnya adalah:
Keterangan:
- TP : total produk
- L : jumlah tenaga kerja
Jika diketahui L = 4 dan TP = 16 maka berapakah AP?
Jawab:
AP = 16/4
= 4
Hasil perhitungannya adalah 4. Itu artinya setiap tenaga kerja akan menghasilkan rata-rata 4 produk setiap kali melakukan produksi
The Law of Diminishing Returns
Pengertian The Law of Diminishing Return adalah berupa hukum hasil lebih yang semakin berkurang. Seperti yang diketahui, dalam proses produksi terdapat beberapa tahap yang harus dilalui agar bisa menghasilkan produk barang maupun jasa.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka diperlukan peningkatan produktivitas, yaitu dengan cara menambah faktor produksi. Namun hal itu tidak selalu memberikan hasil yang sesuai. Inilah yang kemudian dikenal dengan hukum hasil lebih yang semakin berkurang (The Law of Diminishing Returns).
Atau dengan kata lain, meskipun sudah dilakukan penambahan faktor produksi namun hasilnya tidak sebanding. Bahkan tambahan hasil mengalami penurunan meskipun ada penambahan faktor-faktor produksi.
The law of diminishing return sendiri menyatakan bahwa jika salah satu faktor produksi ditambah secara terus menerus maka total produksi akan mengalami pertambahan sampai pada total maksimum. Dan jika ditambah lagi maka hal itu akan menyebabkan produksi totalnya semakin berkurang.
Contoh sederhananya adalah seperti berikut:
Sebidang tanah pertanian yang diolah oleh 1 tenaga kerja dan satuan modal yang lain mampu menghasilkan 10 kwintal kedelai. Berikut adalah tabelnya:
Berdasarkan data tersebut maka dapat dilihat bagaimana penambahan tenaga kerja 2 ΓÇô 3 membuat hasil panen kedelai meningkat. Namun ketika penambahan tenaga kerja 4 dan seterusnya hal itu justru menunjukkan adanya penurunan hasil sehingga dalam hal ini hukum tersebut berlaku.Untuk lebih jelasnya, berikut adalah grafik The Law of Diminishing Return:
Dapat disimpulkan bahwa fungsi produksi merupakan merupakan hubungan antara input yang merupakan faktor produksi dengan output yang menjadi hasilnya. Fungsi tersebut digunakan untuk menghitung jumlah output sesuai dengan proses produksinya.
-