Nama : siti patimah
Npm :1812120159
Jawaban
1.  Menurut Sukrisno Agoes ( 2004 ), auditing adalah “suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.
Audit merupakan pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi yang digunakan untuk melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi yang didapat dengan kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. Orang yang melakukan tugas audit dalam perusahaan atau organisasi disebut dengan auditor. Auditor nantinya akan bertugas mengaudit sebuah laporan keuangan baik dalam sebuah organisasi maupun dalam perusahaan. Auditor akan mengaudit informasi yang dapat diukur seperti laporan keuangan, SPT pajak penghasilan perorangan, efektivitas sistem komputer dan efisiensi operasi manufaktur.
Seorang auditor harus memiliki sifat yang independen dan objektif dalam menjalankan tugasnya agar kualitas audit yang dihasilkan baik. Menurut The Auditing Practice Commite, auditor memiliki tanggung jawab untuk melakukan perencanaan, pengendalian dan pencatatan pekerjaan, mengetahui sistem akuntansi dalam sebuah laporan keuangan, mengumpulkan bukti audit, melakukan pengendalian intern dan meninjau ulang laporan keuangan yang relevan.
https://www-hestanto-web-id.cdn.ampproject.org/v/s/www.hestanto.web.id/auditing-menurut-para-cendekiawan/amp/?amp_js_v=a6&_gsa=1&usqp
2. PERBEDAAN AKUNTANSI DAN Accounting
Akuntansi yaitu pencatatan, pengklasifikasian dan peringkasan kejadian ekonomi yang terjadi untuk tujuan menyediakan keuangan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya manusia mudah lupa susah ingat dan mustahil bagi kita semua untuk mengingat apa yang sudah dilakukan 100%. Terutama jika hal ini menyangkut masalah laporan dan keuangan.
Auditing yaitu menentukan apakah informasi yang dicatat dengan benar mencerminkan peristiwa ekonomi yang terjadi selama periode akuntansi.
Akuntansi meliputi: TransaksiΓÇô>JurnalΓÇô>Buku BesarΓÇô>Laporan Keuangan
Auditing memiliki siklus kebalikan dari Akuntansi : Laporan Keuangan–>Buku Besar–>Transaksi.
Metode akuntansi mencakup kegiatan mengidentifikasi bukti dan transaksi yang dapat mempengaruhi perusahaan atau pemerintah. Setelah diidentifikasi, maka bukti dan transaksi diukur, dicatat, diklasifikasikan, serta dibuat ringkasan/ikhtisar dalam catatan-catatan akuntansi. Hasil proses ini adalah penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Tujuan akhir akuntansi adalah komunikasi data yang relevan dan andal, sehingga dapat berguna bagi pengambilan keputusan. Para karyawan perusahaan atau pegawai pemerintah terlibat dalam proses akuntansi ini, sedangkan tanggung jawab akhir laporan keuangan terletak pada manajemen perusahaan atau pemerintah.
Auditing laporan keuangan terdiri dari upaya memahami bisnis dan industri klien serta memperoleh dan menilai bukti yang berkaitan dengan laporan keuangan, sehingga memungkinkan auditor meneliti apakah pada kenyataannya laporan keuangan tersebut telah menyajikan laporan keuangan secara wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU). Auditor bertanggung jawab untuk mematuhi standar auditing  yang diterima umum (Generally Accepted Auditing Standard / GAAS) dalam mengumpulkan dan menilai bukti, serta dalam menerbitkan laporan uang memuat kesimpulan auditor yang dinyatakan dalam bentuk pendapat (opini) atas laporan keuangan.
Perbedaan antara Auditing dengan Akuntansi
1.Keterangan Auditing dan Akuntansi
2. Metode = a. Memperoleh dan menilai atau mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan laporan keuangan yang disusun oleh manajemen. (Auditing)
b. Mengidentifikasi kejadian-kejadian dan kemudian mengukur, mencatat, mengklasifikasikan dan meringkasnya dalam catatan-catatan akuntansi. (Akuntansi)
3. Tujuan = a. Menyatakan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan.
b. Menyusun dan mendistribusikan laporan keuangan.
4. Pihak yang bertanggung jawab=  a. Laporan auditing (audit report) tanggung jawab auditor (auditing).
b. Laporan keuangan tanggung jawab manajemen.(akuntansi)
5. Kriteria = Akuntansi dan Auditing
6. Arti = a. Pencatatan secara sistematis dari rekening suatu organsiasi dan penyusunan laporan keuangan pada akhir tahun (akuntansi)
B. pemeriksaan atas pembukuan dan laporan keuangan suatu organisasi (auditing)
7. Peraturan = a. Mengikuti aturan accounting standards (akuntansi)
B. Mengikuti aturan standard on auditing (auditing)
8.Pekerjaan Dilakukan oleh
a. Akuntan ( akuntansi ) b. Auditor (auditing)
http://mayhavelyasiregar.blogspot.co.id/2013/05/perbedaan-akuntansi-dan-auditing.html
http://www.belajarakuntansionline.com/perbedaan-akuntansi-dan-auditing/
3. Prinsip integritas yaitu Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
https://www-jurnal-id.cdn.ampproject.org/v/s/www.jurnal.id/id/blog/prinsip-dasar-etika-profesi-akuntansi.
4. 1. Relevansi
Relevansi mengacu pada seberapa membantu informasi akuntansi tersebut untuk proses pengambilan keputusan keuangan. Kualitas informasi akuntansi menjadi relevan jika memenuhi unsur :
Predictive Value : membantu memprediksi hasil-hasil yang akan diperoleh di masa-masa yang akan datang.
Confirmatory Value : membantu mengkonfirmasi kebenaran ekpektasi sebelumnya.
Informasi akuntansi akan menjadi relevan jika dapat memberikan informasi yang bermanfaat tentang peristiwa di masa lalu dan membantu memprediksi peristiwa masa depan Hal ini penting dalam mengambil tindakan untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Sebagai contoh, perusahaan yang mengalami penjualan yang besar dalam kuartal pertama dan menyajikan laporan ini kepada kreditur. Laporan yang relevan membantu pengambilan keputusan para kreditur untuk memperbesar nilai kredit bagi perusahaan.
2. Dapat diuji (Realibilitas)
Realibilitas, juga dikenal sebagai keandalan. Hal ini menunjukan sejauh mana informasi secara akurat mencerminkan sumber daya perusahaan, perputaran modal, transaksi, dan lain-lain.  Faktor ini adalah untuk membantu memberikan gambaran nyata atau realita yang tersaji dalam informasi akuntansi. Kualitas informasi akuntansi menjadi reability jika memenuhi unsur :l (Completeness) – Laporan keuangan tidak boleh mengecualikan transaksi apa pun dan semua informasi yang penting tersaji sesuai kriteria penyajian secara wajar
Netral (Neutrality) – Informasi laporan keuangan tidak dibuat atas dasar kepentingan salah satu pihak. Baik eksternal maupun Internal
Bebas dari kesalahan (Free from error) – Sejauh mana informasi bebas dari kesalahan.
5. Tanggung jawab Akuntan Publik
A. ATESTASI
Atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan. Standar atestasi ini terbagi menjadi tiga tipe perikatan atestasi yakni pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures). Salah satu tipe pemeriksaan adalah audit alas laporan keuangan historis yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini diatur berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Tipe pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif, diatur berdasarkan pedoman yang lebih bersifat umum dalam standar. Perikatan atestasi adalah perikatan yang di dalamnya praktisi mengadakan perikatan untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu simpulan tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain.
B. AUDIT
Pengauditan adalah suatu proses sistimatis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi secara obyektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Audit pada umunya dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Audit Laporan Keuangan
   Audit laporan keuangan dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan sebagai keseluruhan dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu yang telah ditetapkan.
2. Audit Kesesuaian
  Tujuan audit kesesuaian adalah untuk menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
3. Audit Operasional
   Audit operasional adalah pengkajian atas setiap bagian dari prosedur dan metode yang diterapkan suatu organisasi dengan tujuan untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas. Hasil akhir dari suatu audit operasional biasanya berupa rekomendasi kepada manajemen untuk perbaikan operasi.
Pihak yang melakukan audit disebut sebagai auditor. Auditor dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.   Auditor Pemerintah
       Auditor pemerintah adalah auditor yang bertugas melakukan audit atas keuangan negara pada instansi-instansi pemerintah. Di Indonesia, audit ini dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK merupakan badan yang tidak tunduk kepada pemerintah sehingga diharapkan dapat melakukan audit secara independen, namun demikian badan ini bukanlah badan yang berdiri di atas pemerintah. Hasil audit BPK disampaikan depada Dewan Perwakilah Rakyat sebagai alat kontrol atas pelaksanaan keuangan negara.
2.   Auditor Intern
      Auditor intern adalah auditor yang bekerja pada suatu perusahaan dan oleh karenanya berstatus sebagai pegawai pada perusahaan tersebut. Tugas audit yang dilakukannya terutama membantu manajemen perusahaan tempat dimana bekerja.
  3.    Auditor Independen atau Akuntan Publik
   Tanggungjawab utama auditor independen atau lebih umum disebut akuntan publik adalah melakukan fungsi pengauditan  atas laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan. Pengauditan ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan terbuka.
https://sharedsains.blogspot.com/2017/12/fungsi-dan-tanggung-jawab-akuntan-publik.html?m=1
6. Ancaman kode etik profesi akuntan publik
1. Kepentingan diri (self-interest)
Kepentingan Diri adalah wujud sifat yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau keluarga dibandingkan dengan kepentingan publik yang lebih luas. Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan publik, antara lain:
1. Kepentingan keuangan dalam perusaahan klien, atau kepentingan keuangan bersama pada suatu perusaah klien.
2. Kekhawatiran berlebiahan bila kehilangan suatu klien.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan bisnis, antara lain:
1. Perjanjian kompensasi insentif.
2. Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat.
3.Tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan.
2. Review diri (Self-review)
Ancaman yang disebabkan oleh ketidaktepatan akuntan dalam mengevaluasi hasil pertimbangan.             Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan publik antara lain:
1. Temuan kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang.
2.Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan dan implementasi sistem tersebut.
Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan bisnis, yaitu keputusan bisnis atau data yang sedang ditinjau oleh akuntan frofesional yang sama yang membuat keputusan bisnis atau penyiapan data tersebut.
3. Advokasi (Advocacy)
Ancaman Advokasi dapat timbul bila akuntan profesional endukung suatu posisi atau pendapat sampai titik dimana objektivitas dapat dikompromikan. Contoh langsung ancaman untuk akuntan publik antara lain :
1. Mempromosikan saham perusahaan publik dari klien, dimana perusahaan tersebut merupakan klien audit.
2. Bertindak sebagai pengacara (penasihat hukum) untuk klien penjaminan dalam suatu litigasi atau perkara perselisihan dengan pihak ketiga.
4. Kekerabatan (Familiarity)
Ancaman kekerabatan timbul dari kedekatan hubungan sehingga akuntan profesional menjadi terlalu bersimpati terhadap kepentingan orang lain yang mempunyai hubungan dekat dengan akuntan tersebut.  Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan publik, antara lain:
1. Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang direktur atau pejabat perusahaan klien.
2. Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang karyawan klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan segnifikan terhadap pokok dari penugasan.
Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan bisnis, antara lain:
1. Hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai pengaruh pada keputusan bisnis.
2. Penerimaan hadiah atau perlakuan khusus, kecuali nilainya tidak segnifikan.
5. Intimidasi (Intimidation)
Ancaman Intimidasi dapat timbul jika akuntan profesional dihalang untuk bertindak objektif, baik secara nyata maupun dipersepsikan. Contoh Ancaman Intimidasi untuk Akuntan Publik, antara lain:
1. Diancam dipecat atau diganti dalam hubungannya dengan penugasan klien.
2. Diancam dengan tuntutan hukum.
Ditekan secara tidak wajar untuk mengurangi ruang lingkup pekerjaan dengan maksud untuk mengurangi fee
https://www.kompasiana.com/cahyomanungga/596e9f882bbb134a904c0193/ancaman-ancaman-atas-prinsip-dasar-etika-audit?page=3
7. Laporan keuangan perlu diaudit untuk memberikan informasi tentang perusahaan. Untuk memenuhi kebutuhan informasi berbagai pihak akan informasi keuangan, yang dibutuhkan pengujian kesesuaian antara praktek akuntansi dalam laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Proses tersebut dikenal dengan istilah audit yang dilakukan oleh akuntan publik sebagai pihak yang independen.
Kewajiban untuk menyerahkan laporan kepada pengawasan keuangan ekstern dibenarkan dengan asumsi bahwa kepercayaan masyarakat tidak boleh dikecewakan. Jika tidak diaudit maka ada kemungkinan laporan keuangan tersebut mengandung kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, oleh karena itu laporan keuangan yang belum di audit kurang percaya kewajarannya oleh pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut.
http://ketentuan.pajak.go.id/index.php?r=aturan/rinci&idcrypt=oJamop0%3D
8. Manajeman audit  manajemen merupakan audit terhadap manajemen suatu organisasi secara keseluruhan untuk menilai unsur-unsur manajemen suatu organisasi tersebut apakah telah direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan .
Audit kepatuhan merupakan suatu tinjauan atas catatan keuangan organisasi untuk menentukan apakah organisasi tersebut telah melaksanakan prosedur ΓÇôprosedur, kebijakan-kebijakan, atau peraturan yang telah dibuat oleh otoritas yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, tujuan audit kepatuhan sudah tentu menentukan apakah klien telah mengikuti prosedur, tata cara, serta peraturan yang dibuat oleh otoritas yang lebih tinggi tersebut. Temuan audit kepatuhan biasanya disampaikan pada seseorang di dalam unit organisasi yang diaudit dan menyampaikan kepada pihak-pihak diluar organisasi yang sifatnya lebih luas. Manajemen adalah pihak pertama atau utama yang menaruh perhatian prosedur-prosedur dan peraturan yang berlaku. Audit jenis ini sebagian besar dilaksanakan oleh auditor yang dipekerjakan pada unit organisasi itu sendiri.
http://spi.uin-alauddin.ac.id/index.php/2016/11/14/audit-compliance/#:~:text=Audit%20Compliance%20(Kepatuhan)%20adalah%20program,yang%20ditetapkan%20oleh%20yang%20berwenang.&text=Audit%20kepatuhan%20seringkali%20dinamakan%20sebagai%20audit%20aktivitas.
9. Sebutkan 5 komponen pengendalian internal  COSO ... jelaskan
1. Suasana atau lingkungan pengendalian (control environment)
Lingkungan pengendalian mencakup standar, proses, dan struktur yang menjadi landasan terselenggaranya pengendalian internal di dalam organisasi secara menyeluruh. Lingkungan pengendalian tercermin dari suasana dan kesan yang diciptakan dewan komisaris dan manajemen puncak mengenai pentingnya pengendalian internal dan standar perilaku yang diharapkan. Managemen mempertegas harapan atau ekspektasi itu pada berbagai tingkatan organisasi. Sub-komponen lingkungan pengendalian mencakup integritas dan nilai etika yang dianut organisasi; parameter-parameter yang menjadikan dewan komisaris mampu melaksanakan tanggung jawab tata kelola; struktur organisasi serta pembagian wewenang dan tanggung jawab; proses untuk menarik, mengembangkan, dan mempertahankan individu yang kompeten; serta kejelasan ukuran kinerja, insentif, dan imbalan untuk mendorong akuntabilitas kinerja. Lingkungan pengendalian berdampak luas terhadap sistem pengendalian internal secara keseluruhan.
2. Penilaian risiko (risk assessment)
COSO merumuskan definisi risiko sebagai kemungkinan terjadinya suatu kejadian yang akan berdampak merugikan bagi pencapaian tujuan. Risiko yang dihadapi organisasi bisa bersifat internal (berasal dari dalam) ataupun eksternal (bersumber dari luar). Penilaian risiko adalah proses dinamis dan berulang (iteratif) untuk mengenali (identifikasi) dan menilai (analisis) risiko atas pencapaian tujuan. Risiko yang teridentifikasi selanjutnya dibandingkan dengan tingkat toleransi risiko yang telah ditetapkan. Dengan demikian, penilaian risiko menjadi landasan bagi pengelolaan atau manajemen risiko. Salah satu prakondisi bagi penilaian risik0 adalah penetapan tujuan-tujuan yang saling terkait pada berbagai tingkatan entitas. Manajemen harus menetapkan tujuan dalam kategori operasi, pelaporan keuangan, dan kepatuhan dengan jelas sehingga risko-risiko terkait bisa diidentifikasi dan dianalisis. Manajemen juga harus mempertimbangkan kesesuaian tujuan dengan entitas. Penilaian risiko mengharuskan manajemen untuk mempertimbangkan dampak perubahan lingkungan eksternal serta perubahan model bisnis entitas itu sendiri yang berpotensi mengakibatkan pengendalian internal yang ada tidak efektif lagi.
3. ktivitas pengendalian (control activities)
Aktivitas-aktivitas pengendalian mencakup tindakan-tindakan yang ditetapkan melalui satu set kebijakan dan prosedur (misalnya prosedur operasi standar atau SOP) untuk membantu memastikan dilaksanakannya arahan manajemen dalam rangka meminimalkan risiko atas pencapaian tujuan. Aktivitas-aktivitas pengendalian dilaksanakan pada semua tingkatan entitas, pada berbagai tahap proses bisnis, dan dalam setting atau konteks teknologi yang digunakan. Aktivitas pengendalian ada yang bersifat preventif atau detektif, Aktivitas pengendalian juga bisa manual atau otomatis, contohnya adalah aktivitas otorisasi dan persetujuan, verifikasi, rekonsiliasi, dan evaluasi kinerja. Pembagian tugas harus erat terkait dengan dengan proses pemilihan dan pengembangan aktivitas pengendalian. Jika pembagian tugas dianggap tidak praktis, manajemen harus memilih dan mengembangkan alternatif aktivitas pengendalian.
4. nformasi dan komunikasi (information and communication)
Entitas memerlukan informasi demi terselenggaranya tanggung jawab pengendalian internal yang mendukung pencapaian tujuan. Manajemen harus memperoleh, menghasilkan, dan menggunakan informasi yang relevan dan berkualitas, baik yang berasal dari sumber internal maupun eksternal, untuk mendukung komponen-komponen pengendalian internal lainnya berfungsi sebagaimana mestinya. Komunikasi sebagaimana yang dimaksud dalam kerangka pengendalian internal COSO adalah proses iteratif dan berkelanjutan untuk memperoleh, membagikan, dan menyediakan informasi. Komunikasi internal harus menjadi sarana diseminasi informasi di dalam organisasi, baik dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, maupun lintas fungsi.
5. Pemantauan (monitoring)
Pemantauan mencakup evaluasi berkelanjutan, evaluasi terpisah, atau kombinasi dari keduanya yang dimaksudkan untuk memastikan tiap-tiap komponen pengendalian internal ada dan berfungsi sebagaimana mestinya.
https://www.warsidi.com/2016/03/pengendalian-internal-intern-control-definisi-komponen-prinsip-coso-arti-pengertian-apa-yang-dimaksud.html?m=1
10. Opini wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor jika auditor tidak menemukan kesalahan yang material secara keseluruhan dari laporan keuangan dan laporan keuangan dibuat sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku (SAK). Dengan kata lain, laporan keuangan akan mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian jika memenuhi kondisi seperti berikut:
Laporan keuangan lengkap
Bukti audit yang dibutuhkan lengkap
Ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam perikatan kerja
Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku dan konsisten
Tidak terdapat ketidakpastian yang cukup berarti mengenai perkembangan di masa depan (going concern)
Opini wajar tanpa pengecualian dapat dimodifikasi menjadi opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan (modified unqualified opinion) ketika auditor harus menambah suatu paragraf penjelasan dalam laporan auditnya. Keadaan yang membuat modifikasi ini, apabila terjadi seperti:
1. Ada keraguan dari auditor atas konsep going concern perusahaan / entitas.
2. Kurang konsisten perusahaan dalam menerapkan prinsip atau standar akuntansi yang digunakan.
3. Auditor ingin menekankan suatu hal.
https://www-jurnal-id.cdn.ampproject.org/v/s/www.jurnal.id/id/blog/jenis-opini-audit-laporan-keuangan/?amp_js_v=a6&_gsa=1&usqp