DISKUSI

DISKUSI

Jumlah balasan: 6

Apabila Indonesia anda terpuruk dalam hal pengelolaan garam, dan mengharuskan Indonesia harus meng-impor garam dari luar negeri.

Bagaimana sikap anda sebagai mahasiswa, Pemuda Indonesia yang kreatif agar Indonesia bisa kembali menjadi surplus garam di negeri sendiri ?

Silahkan diskusikan !

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI

oleh Agam Wisnu Pratama -
Pemerintah memutuskan untuk mengimpor garam karena terjadi ketimpangan jumlah produksi dan konsumsi garam secara nasional. Itu artinya, kebutuhan garam masyarakat Indonesia jauh-jauh lebih besar daripada jumlah garam yang dapat dihasilkan oleh petani garam.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI

oleh Ahmad Arif Riukari -
Ahmad Arif Riukari
1811050030

Menurut saya, dengan cara mendukung para petani garam dan menggunakan produk garam lokal Indonesia, dengan membeli dan menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan untuk usaha kecil menengah (UKM). Dengan kata lain bisa mengurangi impor garam dari luar negeri dan Penggunaan produk lokal perlahan juga membantu mendongkrak nilai mata uang Rupiah.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI

oleh aries yachya -
lebih baik impor garam karena rantai pasokannya ringkas. Kalau membeli produk garam lokal, ada tujuh mata rantai dan tiap mata rantai ada biayanya sehingga ketika sampai ke level konsumen jadi lebih mahal.
pemerintah harus punya skema yang jelas agar swasembada garam dapat terwujud.
Anomali cuaca itu bukan tahun ini saja, sudah lima tahun cuaca tidak begitu bagus. Jadi ada banyak hal yang harus direncanakan jauh hari, harus ada roadmap yang jelas soal garam. Bagaimanapun juga garam tetap penting.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI

oleh yogi pedliyansah -
Nama: Yogi pedliyansah
Npm: 1811050035

Menurut saya,lebih baik ngeimpor gara supaya kebutuhan pasokan dalam negeri itu terpenuhi untuk kebutuhan saat ini serta lebih mendukung lagi petani lokar agar bisa menghasilkan garam yang berkualitas sehingga dapat memenuhi garam di dalam negeri
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI

oleh Kelvin Chen -
KELVIN CHEN
1811050020
Pengamat dari lembaga Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira, mendorong pemerintah untuk berpihak kepada petambak garam. Menurutnya, impor tidak bisa terus dijadikan jalan pintas tanpa solusi jangka panjang.

"Keberpihakan pemerintah kepada petani garam kelihatannya belum menjadi prioritas utama," ujar Bhima.

Dia mengakui pemerintah memiliki Pugar, program untuk garam rakyat.

"Sangat disayangkan bahwa, dari jumlah peningkatan produksi, Pugar ini hanya mencapai target sebesar 50%. Realisasi bantuan kepada petambak garam juga tidak pernah mencapai 100%. Lalu tidak ada bantuan teknologi," katanya.

garam
SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Keterangan gambar,
Seorang petambak garam di Madura, Jawa Timur, menggunakan pengeruk kayu.

Bhima menyoroti rantai penyediaan garam begitu panjang sehingga petambak garam tidak pernah merasakan keuntungan besar ketika harga garam naik.

Dia lalu merujuk data KIARA (koalisi rakyat untuk keadilan perikanan) dalam lima tahun terakhir.

Data itu menyebutkan jumlah petani tambak garam di Indonesia menurun drastis, yakni dari 30.668 jiwa pada tahun 2012 menjadi 21.050 jiwa di 2016. Artinya, ada sekitar 8.400 petani garam yang alih profesi.

Sebagian besar menjadi buruh kasar atau pekerjaan informal lainnya dan berkontribusi terhadap fenomena migrasi kemiskinan dari desa ke kota.

"Dari perspektif industri, lebih baik impor garam karena rantai pasokannya ringkas. Kalau membeli produk garam lokal, ada tujuh mata rantai dan tiap mata rantai ada biayanya sehingga ketika sampai ke level konsumen jadi lebih mahal," katanya.

Karena itu, menurut Bhima, pemerintah harus punya skema yang jelas agar swasembada garam dapat terwujud.

"Anomali cuaca itu bukan tahun ini saja kok, sudah lima tahun cuaca tidak begitu bagus. Jadi ada banyak hal yang harus direncanakan jauh hari, harus ada roadmap yang jelas soal garam. Bagaimanapun juga garam tetap penting," tutup Bhima.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI

oleh Sindang Iwari fasa -
Keberpihakan pemerintah kepada petani garam kelihatannya belum menjadi prioritas utama. mengakui pemerintah memiliki Pugar, program untuk garam rakyat. Sangat disayangkan bahwa, dari jumlah peningkatan produksi, Pugar ini hanya mencapai target sebesar 50%. Realisasi bantuan kepada petambak garam juga tidak pernah mencapai 100%. Lalu tidak ada bantuan teknologi. Dari perspektif industri, lebih baik impor garam karena rantai pasokannya ringkas. Kalau membeli produk garam lokal, ada tujuh mata rantai dan tiap mata rantai ada biayanya sehingga ketika sampai ke level konsumen jadi lebih mahal. Karena itu, menurut saya pemerintah harus punya skema yang jelas agar swasembada garam dapat terwujud.