Riski Adi Saputra

Riski Adi Saputra

oleh Riski Adi Saputra -
Jumlah balasan: 0

Dalam konteks perubahan perilaku konsumen modern yang semakin dipengaruhi emosi dan pengalaman pribadi, experiential marketing tidak bisa sepenuhnya menggantikan traditional marketing, melainkan keduanya perlu diintegrasikan untuk hasil optimal. Experiential marketing unggul dalam membangun ikatan emosional melalui interaksi langsung, sementara traditional marketing tetap esensial untuk jangkauan massal dan awareness awal.

Mengapa integrasi diperlukan?

kombinasi keduanya menciptakan funnel lengkap artinya traditional untuk awareness, experiential untuk engagement dan loyalty. Konsumen modern butuh stimulus rasional (info produk) sekaligus emosional (pengalaman), sehingga integrasi tingkatkan ROI hingga 94% lebih baik daripada standalone. Strategi hibrida ini adaptif terhadap perilaku omnivore digital.

Contoh kasusnya

IKEA mengintegrasikan traditional ads untuk promosi ΓÇ£Sleepover ExperienceΓÇ¥ (iklan TV dan social media), lalu undang konsumen menginap di showroom dengan workshop dan bedding trial ciptakan buzz viral dan loyalty jangka panjang. Nike gabungkan iklan massal dengan phygital events seperti Nike Run Club, di mana peserta rasakan produk secara langsung. Hasilnya dwell time naik dan konversi 30% lebih tinggi. Salesforces Dreamforce pakai email blasts (traditional) untuk tarik 170.000 peserta ke event immersif dengan demo interaktif.