Melly Dwi Aryani

Melly Dwi Aryani

oleh melly dwi aryani -
Jumlah balasan: 0

Perkembangan teknologi digital dan media interaktif telah mengubah cara experiential marketing dijalankan. Jika sebelumnya pengalaman konsumen banyak terjadi secara fisik (offline), kini pengalaman tersebut meluas ke ruang digital melalui media sosial, aplikasi, hingga teknologi imersif. Dalam konteks ini, lima elemen SEMs (sense, feel, think, act, relate) tidak hilang, tetapi justru bertransformasi menjadi lebih personal, interaktif, dan real-time.

1. Sense (Indra/Rasa) : Dulu orang tertarik karena desain toko, aroma produk, rasa berbagai produk dengan melihat secara langsung, sekarang bisa tertarik hanya dari foto dan video yang menarik di media sosial.

Contoh: Minuman kopi dengan tampilan estetik yang viral di Instagram membuat orang ingin datang ke café tersebut.

2. Feel (Perasaan/Emosi) : Dulu feel ini diciptakan atas dasar pengalaman di toko, sekarang feel dibangun lewat konten yang menyentuh atau relatable. Banyak brand sering membuat cerita atau konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Contoh: Konten lucu atau cerita ΓÇ£pejuang tanggal tuaΓÇ¥ dari salah satu brand kopi membuat konsumen merasa ΓÇ£ini gue banget nihΓÇ¥.

3. Think (Pikiran) : Dulu pikiran ini dibangun dengan tenaga penjual yang menjelaskan suatu produk secara langsung ke konsumen, sekarang sudah dikembangkan lewat konten edukasi atau interaktif yang menarik konsumen untuk berfikir bukan hanya melihat.

Contoh: Video tentang cara memilih biji kopi yang baik atau proses roasting kopi sehingga menghasilkan minuman kopi yang nikmat membuat konsumen lebih paham dan tertarik.

4. Act (Tindakan/Perilaku) : Dulu konsumen datang ke toko secara langsung kemudian membeli produk, sekarang berubah menjadi tindakan yang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membuat konten dengan cara klik, like, share, atau review produk yg dibeli bahkan produk lain juga.

Contoh: orang ikut challenge di TikTok tentang minuman tertentu, lalu akhirnya membeli produk tersebut.

5. Relate (Hubungan Sosial) : Dulu hubungan sosial masih terbatas seperti kelompok pengajian, sekarang sudah banyak hubungan sosial atau komunitas yang terbentuk lewat media sosial.

Contoh: komunitas pecinta kopi yang sering berbagi pengalaman di media sosial atau mengikuti event café.


Di era digital, cara membangun loyalitas konsumen bukan lagi hanya dari kualitas produk, tetapi dari feel (perasaan/emosi), think (fikiran) dan relate (hubungan sosial) yang dibangun dengan konsumen. Dengan menggabungkan pelayanan yang cepat, konten yang menarik, rasa yang konsisten serta program loyalitas yang menarik, konsumen tidak hanya membeli sekali, tetapi akan kembali lagi dan bahkan merekomendasikan ke orang lain.