Garis besar topik

  • Selamat Datang Dan Selamat Bergabung

    2023|KAMIS,10.30-12.00|1PA-1|1|T|PAR23201|EKONOMI PARIWISATA|Yusminar Wahyuningsih,SE,MM


    KATA SAMBUTAN 

    Assalamualaikum ..
    Tabik pun..

    Salam sejahtera buat kalian semua...

    Selamat datang Rekan Rekan Mahasiswa yang saya banggakan.
    Dimanapun berada..., semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dalam Lindungan Allah SWT.

    Selamat datang di Mata kuliah EKONOMI PARIWISATA  Daring SPADA (Sistem Pembelajaran Daring) Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Ilmu Komputer Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya Bandar Lampung. Mata kuliah ini ditujukan bagi peserta didik yang sedang mengambil program S1 Sarjana terkait dengan bidang studi: PARIWISATA.

    Mata kuliah EKONOMI PARIWISATA ini memiliki beban SKS sebesar 2 SKS, dengan kode Mata Kuliah PAR23201

    Selamat mengikuti perkuliahan ini dengan baik,
    Salam hangat dan tetap semangat !!

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb
    YUSMINAR WAHYUNINGSIH, SE.MM

    DESKRIPSI MATA KULIAH

    Mata kuliah Kewirausahaan merupakan mata kuliah yang membekali pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana membangung mindset seorang entrepreneur (entrepreneurial mindset). Kemampuan dan kepekaan melihat problem disekitar untuk menangkapnya menjadi peluang usaha melalui pencipataan ide bisnis yang inovatif.


    CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH

    1.     Kemampuan akhir yang diharapkan dari pembelajaran mata kuliah ini adalah pemahaman mengenai potensi dan peluang di industri pariwisata dalam menghadapi tantangan globalisasi yang menuju pada ketahanan ekonomi nasional pada khususnya.

    2.     Mahasiswa mampu memahami Dan menjelaskan konsep ekonomi makro dalam fenomena kepariwisataan baik nasional maupun internasional serta peranannya terhadap pembangunan.

    3.     Mahasiswa mampu menganalisis secara positif maupun normatif studi kasus yang berkaitan sebagai bekal menjadi praktisi ekonomi yang ahli bidang perencanaan pembangunan di pemerintahan.


    CAPAIAN PENGETAHUAN

    1.     Menguasai dan memahami tentang pentingnya peluang dan potensi industri pariwisata

    2.     Menguasai dan memahami tentang pengembangan sektor pariwisata menuju ketahanan ekonomi nasional

    3.     Menguasai dan memahami tentang pariwisata sebagai penggerak perekonomian dan pemberdayaan masyarakat

    4.     Mampu menganalisis strategi pemberdayaan potensi ekonomi pariwisata

    BOBOT PENILAIAN

    Peserta didik akan dievaluasi penguasaannya dan pemahamannya terhadap materi kuliah dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:

    Tugas     = 20 % 

    Etika       = 20 % 

    Presensi  = 20 % 

    UTS         = 20 %

    UAS        =  20 %

    PROFIL DIRI

    NAMA           = Yusminar wahyuningsih, SE.MM

    NIK                = 1112001

    AGAMA         = ISLAM

    EMAIL            = yusminar.darmajaya.co.id

    IG                   = kwu- kelas


  • Mahasiswa Mampu menjelaskan pentingnya Konsep Dasar Kepariwisataan dan Ekonomi Pariwisata.

    • Karakteristik Pemasaran Destinasi Pariwisata


      Dalam memasarkan destinasi pariwisata, para pemasar (marketers) harus memahami terlebih dahulu mengenai karakteristik pemasaran destinasi pariwisata itu sendiri. Karena dalam memasarkan suatu penawaran (offering), setiap industri memiliki keunikan tersendiri yang berbeda-beda.

      Contohnya strategi atau taktik yang tepat dapat digunakan di industri manufaktur belum tentu masih tepat dapat digunakan di industri jasa. Adapun keunikan pemasaran destinasi pariwisata tersebut secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga hal pokok yaitu dari sisi produk dan pasar serta keunikannya atau perbedaannya dibandingkan dengan jenis pemasaran yang lain.

      Karakteristik pemasaran destinasi pariwisata adalah tanda atau ciri-ciri khusus yang menjadi identitas tersendiri dari pemasaran destinasi pariwisata dibandingkan dengan pemasaran barang atau jasa lainnya.

      Karakteristik Produk Destinasi Pariwisata

      Karakteristik pemasaran destinasi pariwisata yang pertama adalah dari sisi produk. Adapun secara garis besar produk destinasi pariwisata termasuk ke dalam kategori produk jasa, dan produk jasa sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan produk manufaktur atau barang. Produk destinasi pariwisata sendiri terdiri dari berbagai produk wisata dan produk non wisata yang saling melengkapi dalam memberikan pelayanan pariwisata kepada para wisatawan.

      Sedangkan dari cara mengkonsumsinya, produk jasa secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu dikonsumsi di tempat penyedia jasa (provider) dan dikonsumsi di tempat pengguna jasa (consumer). Destinasi pariwisata sendiri termasuk kedalam jenis jasa, dimana pelanggannya harus datang ke tempat penyedia jasa. Sehingga produk destinasi pariwisata sangat terkait dengan industri jasa perjalanan (travel).

      Karena memiliki keunikan tersendiri, maka karakteristik produk destinasi pariwisata harus menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi para pemasar sebagai acuan dasar dalam merumuskan kebijakan pemasarannya. Karakteristik produk destinasi pariwisata tersebut dapat diuraikan kedalam beberapa hal sebagai berikut:

      1. Harus Dapat Dikunjungi atau Didatangi

      Produk destinasi pariwisata hanya dapat dikonsumsi jika konsumen mendatanginya atau dengan kata lain, jika ingin berwisata ke suatu destinasi, maka konsumen harus mendatangi destinasi tersebut, sehingga destinasi harus dapat dikunjungi oleh target pasarnya.

      Berdasarkan hal tersebut, maka komponen produk destinasi biasanya terdiri dari tiga komponen utama yaitu atraksi wisata dan daya tarik wisata, kemudahan pencapaian (aksesibilitas) dan fasilitas-fasilitas (amenitas).

      2. Berbentuk Pengalaman (Experiences)

      Karena destinasi pariwisata termasuk ke dalam kategori produk jasa, maka seperti halnya produk jasa yang lain, produk destinasi pariwisata diperoleh dari interaksi antara pelaku perjalanan wisata dengan berbagai elemen di destinasi pariwisata, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible), yang hasilnya berupa sebuah pengalaman berwisata, baik parsial maupun keseluruhan (bundle), dan baik eksplisit maupun implisit. 

      3. Rentan atau Tidak Dapat Disimpan

      Karena sifat dari produk destinasi yang intangible yang berupa pengalaman, maka produk destinasi tidak dapat disimpan, tidak seperti halnya barang yang jika setelah diproduksi kalau tidak laku dapat disimpan dahulu untuk selanjutnya dijual kembali. Oleh karena itu jika pada saat tersebut produk tidak dapat digunakan, maka tidak akan ada kesempatan lain untuk menggunakannya lagi.

      Contohnya kapasitas suatu pantai, dalam sehari dipersiapkan untuk dikunjungi oleh 100 orang, tetapi di suatu hari hanya dikunjungi oleh 50 orang. Maka pengelola pantai tersebut tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk mengembalikan biaya operasional pada hari itu sebesar 100 orang.

      4. Tidak Dapat Dipisahkan

      Karakteristik produk destinasi tidak dapat dipisahkan dikarenakan proses produksi dan konsumsi terjadi pada waktu yang bersamaan sehingga pengalaman wisata terjadi pada saat produksi dan konsumsi dilakukan. Tidak seperti produk barang, produk di produksi terlebih dahulu setelah jadi produk tersebut baru dapat dikonsumsi oleh konsumen. Oleh karena itu, produk destinasi memerlukan proses interaksi antara penyedia dan konsumen yang sering disebut sebagai co-creation atau co-production, atau dengan kata lain, proses produksi harus dilakukan oleh provider dan konsumen.

      5. Berbeda-beda

      Karena sifat tidak berwujud dan tidak dapat dipisahkan, maka produk destinasi pariwisata yang dihasilkan tidak akan pernah sama atau identik. Akan selalu ada perbedaan dalam hal mutu pengalaman. Hal tersebut dikarenakan oleh karakteristik produk destinasi yang tidak bisa diulang, karena perbedaan waktu produksi, perbedaan orang yang melayani, bahkan mood dari konsumen itu sendiri akan menyebabkan perbedaan kualitas dari mutu pengalaman yang dihasilkan.

      6. Tidak Tunggal/Saling Melengkapi

      Produk destinasi pariwisata terdiri dari berbagai produk tunggal yang saling melengkapi yang tidak dapat dihasilkan oleh satu penyedia tunggal. Hal tersebut disebabkan oleh komponen produk destinasi seperti atraksi, akses, dan fasilitas, menjadi sub-sub produk yang saling melengkapi dan tidak dapat dihasilkan oleh satu produk yang tunggal.

      Selain itu, produk destinasi pariwisata juga dihasilkan oleh para pemain kunci (key players) seperti diantaranya: pengusaha penyedia jasa (akomodasi, transportasi, makan/minum dll.), masyarakat setempat serta pemerintah yang membentuk suatu rantai nilai (value chain) dan ekosistem produk destinasi pariwisata. Oleh sebab itu dibutuhkan koordinasi dan kolaborasi diantara pihak-pihak tersebut secara kompak (cohesive collaboration).

      7. Biaya Tetap yang Tinggi

      Untuk menyediakan komponen-komponen tetap seperti atraksi, akses dan fasilitas-fasilitas, memerlukan biaya investasi yang cukup tinggi. Sementara tingkat pengembalian investasi dirasa cukup lama (slow yielding).

      Oleh karena itu industri ini pada masa yang lalu cenderung lamban sehingga banyak investor yang tidak tertarik. Tetapi dengan seiring perkembangan ekonomi dan bertambahnya permintaan, maka industri ini mulai memperlihatkan daya tarik yang cukup tinggi.

      Karakteristik Pasar Destinasi Pariwisata

      Seperti halnya produk, karakteristik pasar destinasi juga perlu dicermati oleh para pemasar destinasi. Mengetahui karakteristik pasar destinasi pariwisata akan sangat bermanfaat untuk dijadikan pegangan dasar dalam melakukan strategi dan taktik pemasaran. Karena pasar destinasi pariwisata juga memiliki keunikan yang khas dibandingkan dengan karakteristik pasar secara umum.

      Pengertian pasar disini adalah pelanggan dari destinasi itu sendiri. Adapun pelanggan destinasi menurut saya terbagi menjadi dua macam yaitu pelanggan akhir (end consumer) yang disebut sebagai pengunjung (visitor), dan pelanggan bisnis seperti agen perjalanan atau biro perjalanan wisata (BPW) yang biasa disebut dengan tour operator. Di bawah ini kami uraikan beberapa karakteristik dari pasar destinasi tersebut.

      1. Permintaan Dipengaruhi oleh Waktu Luang dan Kemampuan

      Pola permintaan sangat dipengaruhi oleh adanya waktu luang (leisure time) dan kemampuan untuk melakukan perjalanan itu sendiri seperti ketersediaan dana, fisik, kesehatan dan lain-lain. Jika hal-hal tersebut tidak dimiliki, kemungkinan untuk melakukan perjalanan wisata akan cukup sulit.

      2. Sensitif Terhadap Perubahan Lingkungan

      Elastisitas pasar terhadap produk destinasi memiliki reaksi yang cukup cepat terhadap kejadian dan perubahan dalam lingkungan seperti ancaman keamanan (perang, isu kesehatan, kejahatan, terorisme, dan lain-lain), perubahan ekonomi (nilai tukar, resesi, dan lain-lain) dan pola kunjungan yang berubah (Hasan, 2015).

      3. Musiman

      Terjadi pola kunjungan musiman, seperti musim kunjungan tinggi (peak season) dan musim kunjungan rendah (low season). Musim-musim kunjungan tersebut terjadi karena diakibatkan oleh perubahan situasi baik situasi di daerah asal pengunjung seperti hari-hari libur besar (holiday), liburan sekolah, serta situasi di destinasi seperti iklim, cuaca dan atau terdapat acara-acara atau kejadian tertentu (event).

      Keunikan Pemasaran Destinasi Pariwisata

      Karakteristik pemasaran destinasi pariwisata yang terakhir adalah mengenai keunikan pemasaran destinasi pariwisata dibandingkan dengan industri yang lain. Pemasaran destinasi pariwisata memiliki keunikan atau ke-khasan yang berbeda dengan pemasaran yang lainnya seperti pemasaran barang (consumer goods), usaha jasa pariwisata seperti hotel, perjalanan wisata dll.

      Keunikan tersebut salah satunya disebabkan oleh karakteristik destinasi yang bersifat sistem yang terbuka (open system). Morrison (2013) mengemukakan beberapa keunikan mengenai pemasaran dan pengelolaan destinasi pariwisata sebagai berikut:

      1. Kelemahan dalam mengendalikan kualitas dan kuantitas pelayanan

      Dalam banyak kasus, pengelola destinasi tidak bisa mengoperasikan komponen-komponen pembentuk produk, seperti fasilitas-fasilitas wisata atau pelayanan-pelayanan yang diperlukan oleh pasar seperti akomodasi, transportasi, makan-minum dll. Oleh sebab itu, pengelola destinasi tidak bisa secara langsung dapat mengendalikan kualitas dan kualitas pelayanan-pelayanan yang tersedia.

      2. Kelemahan dalam melakukan fungsi penetapan harga (pricing)

      Karena komponen-komponen pembentuk produk kebanyakan dioperasikan oleh penyedia jasa pariwisata, maka pengelola destinasi tidak bisa menetapkan harga secara sepihak. Sehingga hanya dapat mengendalikan harga-harga pada tataran makro atau melakukan standarisasi terhadap harga-harga yang ada.

      3. Kebutuhan untuk memuaskan semua pihak

      Pengelola destinasi memiliki berbagai konstituen atau pemangku kepentingan pariwisata (stakeholders) yang harus dilayani, mulai dari departemen-departemen dalam pemerintahan sampai berbagai pihak dalam industri (Buhalis dalam Morrison, 2013). Oleh sebab itu, pengelola destinasi harus dapat melayani dan memuaskan mereka secara seimbang, ditengah-tengah berbagai kepentingan yang ada.

      4. Kebutuhan untuk membangun konsensus antar pemangku kepentingan

      Karena karakteristik produk destinasi yang sifatnya saling melengkapi yang didalamnya berada berbagai pihak yang berbeda kepentingan, sehingga diperlukan suatu konsensus diantara para pemangku kepentingan agar berjalan bersama-sama dengan menyatukan visi, misi, tujuan dan sasaran destinasi serta semua komponen didalamnya.

      5. Kebutuhan untuk peka terhadap kepentingan penduduk lokal

      Pemasaran destinasi pariwisata pada akhirnya memiliki tujuan untuk mensejahterakan penduduk lokal. Untuk itu segala kebijakan dan strategi yang dilakukan pada akhirnya harus dikembalikan kepada pencapaian kesejahteraan penduduk lokal tersebut, sehingga pengelola destinasi harus peka terhadap kepentingan dari penduduk lokal.

      6. Kebutuhan untuk menunjukan dampak ekonomi secara makro

      Destinasi pariwisata sebagian besar dikelola oleh sektor publik atau pemerintah, sehingga tidak seperti swasta yang kinerjanya dapat diukur melalui tingkat keuntungannya (profitability) dan pertanggungjawabannya hanya sebatas kepada para pemilik atau pemegang saham.

      Pemasaran destinasi pariwisata diharuskan berdampak terhadapa sektor ekonomi secara makro dan kinerjanya dapat diukur melalui pengeluaran wisatawan atau meningkatnya lapangan pekerjaan.

      7. Sulit dalam mengukur kinerja

      Pengelola destinasi pariwisata tidak memiliki gambaran terhadap nilai atau jumlah penjualan karena pengelola destinasi tidak menjual produk secara langsung kepada pelanggan. Sehingga menurut McWilliam dan Crompton dalam Morrison (2013), pengelola destinasi pariwisata sulit mengukur efektivitas dari program pemasarannya.

  • Mahasiswa Mampu Mengetahui Konsep Sumber Daya Pariwisata.

    • SUMBER DAYA PARIWISATA


      Pengertian Objek Wisata, Daya Tarik Wisata, Wisata Alam, dan Definisi  Menurut Para Ahli | Diadona.id

       Sumber Daya Alam

      Menurut Damanik & Weber ( 2006:2), sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata alam adalah :

      1)      Keajaiban dan keindahan alam ( topografi )

      2)      Keajaiban flora

      3)      Keragaman fauna

      4)      Kehidupan satwa liar

      5)      Vegetasi alam

      6)      Ekosistem yang belum terjamah manusia

      7)      Rekreasi perairan ( danau,sungai,air terjun, pantai )

      8)      Lintas alam ( trekking, rafting,dll )

      9)      Objek megalitik

      10)   Suhu dan kelembaban udara yang nyaman

      11)   Curah hujan yang normal, dan sebagainya

      Menurut Fennel (1999:68), sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi sumber daya pariwisata diantaranya adalah sebagai berikut :

      1)      Lokasi Geografis

      2)      Iklim dan Cuaca

      3)      Topografi dan Landforms

      4)      Surface Materials

      5)      Air

      6)      Vegetasi

      7)      Fauna

      Sumber Daya Manusia


      Pariwisata (Pengertian, Unsur, Bentuk dan Jenis Wisata) - KajianPustaka

      McIntosh,et al.( 1995:56-65)

      Secara garis besar, karir yang dapat ditekuni di sector pariwisata adalah sebagai berikut :

      1)      Airlines (Maskapai Penerbangan ), merupakan salah satu industry perjalanan yang menyerap dan menggunakan SDM dalam jumlah paling besar. Bagi masyarakat lokal, Airlines menyediakan berbagai level pekerjaan, mulai dari level pemula sampai manager.

      Contohnya :

      Agen pemesanan tiket, awak pesawat, Pilot, Mekanik, Staff pemeliharaan, Penanganan bagasi,Pelayanan makan dan minum di pesawat(catering),Marketing, Ahli Komputer,Staff pelatihan, Dll.

      2)      Bus Companies, Memerlukan manager SDM, Agen tiket, Agen marketing, petugas informasi,staff pelatihan,administrator, Akuntan, dsb.

      3)      Cruise Companiese, Peluang karir terbukan untuk posisi kantor perwakilan dan penjualan,agen tiket, tenaga administrasi, peneliti pasar, direktur rekreasi,Akuntan, dsb.

      4)      Railroad, Diperlukan tenaga pelayanan penumpang, penjualan tiket, tenaga reservasi, Masinis, Petugas pengatur lalu lintas kereta, Mekanik, Manager Regional Wilayah, dsb.

      5)      Rental Car Companies, Agen penjualan/reservasi, Agen penyewaan, Mekanik, Driver, Administrator, Pelatihan, Manager Regional, dsb.

      6)      Hotel, Motel & Resort, Memerlukan tenaga General Manager,Resident Manager,Controler, Akuntan, Management Trainee, Marketing Directur,Front Office Manager, Housekeeper, Bell boy, Waiter/Waitress,Bartender, dsb.

      7)      Travel Agencies

      8)      Tour Companies

      9)      Food Service

      10)   Tourism Education

      11)   Tourism Research ( Tenaga analisis/riset pariwisata)

      12)   Travel Journalism

      13)   Recreation & Leisure

      14)   Attraction

      15)   Tourist Offices & Information Centre

      16)   Convention & Visitor Bureaus

      17)   Meeting Planners

      18)   Gaming

      19)   Other Opportunities

        Sumber Daya Budaya


      Festival Lamaholot Pesona Empat Teluk Sebagai Bentuk Optimalisasi Sumber  Daya Pariwisata - NTT Express

      Pariwisata budaya memberikan kesempatan kontak pribadi secara langsung dengan masyarakat local dan kepada individu yang memiliki pengetahuan khusus tentang suatu objek budaya. Tujuannya adalah memahami makna suatu budaya dibandingkan dengan sekedar mendeskripsikan atau melihat daftar fakta yang ada mengenai suatu budaya.

      Sumber daya budaya yang bisa dikembangkan menjadi Daya Tarik Wisata diantaranya adalah sebagai berikut :

      1)      Bangunan bersejarah, situs, monumen, museum, galeri seni, situs budaya kuno, dsb.

      2)      Seni & patung kontemporer, arsitektur, tekstil, pusat kerajinan tangan & seni, pusat design, studio artis, industri film & penerbit, dsb.

      3)      Seni pertunjukan, drama, sendratari, lagu daerah,teater jalanan, eksibisi foto, festifal, dan event khusus lainnya

      4)      Peninggalan keagamaan ( Pura, candi, masjid)

      5)      Kegiatan dan cara hidup masyarakat local, system pendidikan sanggar, teknologi tradisional, cara kerja dan system kehidupan setempat.

      6)      Perjalanan ( trekking ) ke tempat bersejarah menggunakan alat transportasi unik ( berkuda, dokar,cikar dsb )

      7)      Kuliner

      Sumber Daya Pariwisata Minat Khusus


      Mengulik Potensi Wisata Bahari Indonesia yang Sangat Kaya

      Jenis ΓÇô jenis sumber daya pariwisata minat khusus yang bias dijadikan atraksi wisata dapat diklasifikasikan sebagaimana dalam table berikut :

      (Richardson dan Fluker,1994:71 )

      No

      Klasifikasi

      Contoh

      1

      Active Adventure ( Petualangan Aktif )

      • Caving
      • Parachute Jumping
      • Trekking
      • Off- Road Adventure
      • Mountain Climbing

      2

      Nature and Wild Life

      • Birdwatching
      • Ecotourism
      • Geology
      • National Parks
      • Rainforest

       

      3

      Affinity

      • ArtistΓÇÖs Workshop
      • Senior Tour
      • Tour For The Handicapped

       

      4

      Romance

      • Honeymoon
      • Island Vocation
      • Nightlife
      • Single tour
      • Spa/ Hot spring

       

      5

      Family

      • Amusemen park
      • Camping
      • Shopping trips
      • Whalewatching

       

      6

      Soft Adventure

      • Backpacking
      • Bicycle touring
      • Canoing/ Kayaking
      • Scuba diving/ Snorkelling
      • Walking tours

       

      7

      History/ Culture

      • Agriculture
      • Art/ Architecture
      • Art Festival
      • Film/ Film history

       

      8

      Hobby

      • Antique
      • Beer festifal
      • Craft tour
      • Gambling
      • Videography tour

       

      9

      Spiritual

      • Pilgrimage/ Mytholigy
      • Religion/ Spiritual
      • Yiga and spiritual tours

       

      10

      Sports

      • Basketball
      • Car racing
      • Olympic games
      • Soccer

       

      Pengertian Pariwisata Menurut Para Ahli, Pahami Tujuan dan Manfaatnya -  Ragam Bola.com 


  • Mahasiswa Mampu Memahami Konsep Industri Pariwisata

    • Apa yang disebut industri pariwisata?

      Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai sehimpunan bidang usaha yang menghasilkan berbagai jasa dan barang yang dibutuhkan oleh mereka yang melakukan perjalanan wisata.

      Sejarah pariwisata di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak era penjajahan Belanda. Pada sekitar 1910- 1920, pemerintah Belanda membentuk Vereeneging Toesristen Verker (VTV) yang memfasilitasi orang- orang dari Benua Eropa yang ingin berwisata ke Indonesia.

      Pasca pendudukan Jepang dan setelah meraih kemerdekaan, pemerintah Indonesia mulai berjuang menghidupkan industri-industri yang mendukung perekonomian, salah satunya pariwisata.

      Pengelolaan sektor pariwisata mulai dikembangkan ke dalam struktur pemerintahan sejak tahun 1959 di bawah Kementerian Muda Perhubungan Darat, Pos, Telegraf dan Telepon yang dipimpin oleh Menteri Djatikusumo dalam Kabinet Kerja Soekarno. Djatikusumo menjabat hingga 1963.

      Selama kurang lebih tiga dekade, nama Lembaga yang bertugas menyelenggarakan hal-hal kepemerintahan di bidang pariwisata mengalami transformasi. Setelah Djatikusumo, tongkat estafet diteruskan oleh oleh sejumlah menteri lain di antaranya Hidajat Martaatmadja (1963-1966), Soerjadi Soerjadarma (1966), Hamengkubuwono IX (1966), dan S.H. Simatupang (1966).

      Perlahan namun pasti, selama itu pula industri pariwisata tanah air mulai berkembang dan jumlah wisatawan mancanegara yang berplesir ke Indonesia terus tumbuh.

      Tahun 1969, ketika jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 86.000 orang, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden RI No. 9 tentang Pedoman Pembinaan Pengembangan Kepariwisataan Nasional.

      Instruksi presiden ini sekaligus menandai bermulanya pengembangan pariwisata secara formal. Upaya- upaya pengembangan pariwisata disebutkan dalam pasal 4:

      • Memelihara/membina keindahan dan kekayaan alam serta kebudayaan masyarakat Indonesia sebagai daya tarik kepariwisataan
      • Menyediakan/membina fasilitas-fasilitas transportasi, akomodasi, entertainment dan pelayanan pariwisata lainnya yang diperlukan, termasuk pendidikan kader
      • Menyelenggarakan promosi kepariwisataan secara aktif dan efektif di dalam maupun di luar negeri
      • Mengusahakan kelancaran formalitas-formalitas perjalanan dan lalu-lintas para wisatawan dan demikian menghilangkan unsur-unsur yang menghambatnya
      • Mengarahkan kebijaksanaan dan kegiatan perhubungan, khususnya perhubungan udara, sebagai sarana utama guna memperbesar jumlah dan melancarkan arus wisatawan.

      Tahun berikutnya, 1970, pemerintah berusaha menggenjot sektor pariwisata dengan membentuk Bali Tourist Development Corporation (BDTC). Kala itu, Bali menjadi pilot project pengembangan pariwisata Indonesia sebab jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali melebihi wilayah Indonesia lainnya.

      Namun demikian, pemerintah sudah menyadari bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa hanya dilakukan di Pulau Bali. Oleh sebab itu, dalam kurun 1970 hingga 1980, promosi pariwisata Indonesia digaungkan dengan jargon-jargon seperti ΓÇ£Indonesia, there is more to it than BaliΓÇ¥, ΓÇ£Indonesia, Bali and BeyondΓÇ¥, serta ΓÇ£Indonesia, Bali plus NineΓÇ¥.


      Ruang Lingkup Industri Pariwisata

      Jenis-jenis Pekerjaan dalam Industri Pariwisata

      a. Akomodasi 
      Adalah tempat bagi seseorang untuk tinggal sementara, dapat berupa hotel, losmen, guest house, pondok, cottage inn, perkemahan, caravan, bag packer dan sebagainya.

      Saat ini telah berkembang lebih jauh kearah tuntutan pemenuhan kebutuhan manusia lainnya seperti makan, minum rekreasi, olah raga, konvensi, pertemuan-pertemuan profesi dan asosiasi perjamuan-perjamuan pernikahan dan lainnya. Oleh karena itu dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman juga dapat mempengaruhi jenis, macam dan banyaknya fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dan harus disediakan oleh pengusaha pada bidang akomodasi. 
       Hotel dan fasilitasnya

      b. Jasa Boga dan Restoran
      Adalah industri yang bergerak dalam bidang penyediaan makanan dan minuman, yang dikelola secara komersial. Jenis usaha ini dapat dibedakan dalam manajemennya, yaitu cara pengelolaannya, apakah dikelola secara mandiri maupun terkait dengan usaha lain. Industri yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman ini merupakan industri yang paling menjanjikan karena seperti dikatakan banyak orang dalam berwisata, orang boleh menahan diri untuk tidak membeli pakaian atau jenis sandang lainnya tetapi tidak ada wisatawan yang dapat menahan untuk mencicipi makanan dan miunuman. Di samping itu pula industri makanan dan minuman ini juga banyak dikonsumsi atau dibeli untuk kenangan sebagai oleh- oleh dan buah tangan menandakan telah melakukan wisata.
      Jasa boga dan Restoran

      c. Transportasi dan Jasa Angkutan
      Adalah bidang usaha jasa yang bergerak dalam bidang angkutan. Transportasi dapat dilakukan melalui darat, laut dan udara. Pengelolaan dapat dilakukan oleh Swasta maupun BUMN. Jasa angkutan dan transportasi ini juga sangat mempengaruhi industri pariwisata, terjadinya kemudahan jasa transportasi terutama udara, yang memberikan harga yang cukup terjangkau bagi seluruh kalangan membuat meningkatnya kegiatan berwisata dari satu tempat ke tempat atau daerah lainnya.  
      Bus Pariwisata sebagai contoh Transportasi dan Jasa Angkutan
      d. Tempat Penukaran Uang (Money Changer)
      Tempat penukaran mata uang asing (money changer) kini telah berkembang dengan pesat, penukaran uang tidak hanya dilakukan di bank, melainkan juga pada perusahaan-perusahaan money changer yang tersebar di tempat-tempat strategis, terutama dikota- kota besar.

      e. Atraksi Wisata
      Atraksi wisata dapat berupa pertunjukan tari, musik, upacara adat dll sesuai dengan budaya setempat. Pertunjukan ini dapat dilaksanakan secara tradisional maupun modern, melalui atraksi wisata ini dapat dilakukan salah satunya mengangkat keunggulan lokal setempat .
      Tarian Tor - tor
      f. Cindera Mata
      Adalah oleh-oleh atau kenang-kenangan yang dapat dibawa oleh wisatawan pada saat kembali ke tempat asalnya. Cindera mata ini biasanya berupa benda-benda kerajinan tangan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memberikan suatu keindahan seni dan sifatnya khas untuk tiap daerah. 
      g. Biro Perjalanan
      Adalah suatu badan usaha dimana operasionalnya meliputi pelayanan semua proses perjalanan dari seseorang sejak berangkat hingga kembali, sehingga mereka merasa nyaman selama perjalanan. 
      1. Jenis karir yang berkaitan langsung dengan industri pariwisata :

      No
      Bidang karir
      Ruang lingkup
      Jenis pekerjaan
      1
      Akomodasi
      Memberikan jasa akomodasi dari mulai kedatangan, sampai dengan keberangkatan para tamu (wisatawan)
      Doorman, bellboy, receptionist, reservationist, cashier, engineer, pay accountable, carpenter, cost controller , dan sebagainya.
      2
      Jasa boga dan Restoran
      Memberikan layanan makanan dan minuman, dan layanan hiburan, missal tari-tarian dan nyanyian
      Maitre dΓÇÖhotel, waiters, bartender, bar captain , chef, steward, wine maker, pattiser, baker, dan sebagainya.
      3
      Transportasi dan Jasa angkutan
      Memberikan jasa mengantarkan wisatawan dari satu negara ke negara lain, atau dari satu kota ke  kota  lain ditambah dengan layanan lainnya misal tour guide.
      Pramugari pesawat udara, Pramugari kereta api, tour guide, dan tour operator .
      4
      Objek wisata
      Penyedia tempat wisata, hiburan, dan lainnya
      Tourism planner, professional organizer, tourism organization, tourism operator, dan tour guide.
      5
      Meeting Incentive Convention Exhibition (MICE)
      Menyelenggarakan berbagai event baik untuk pertemuan, insentif, konvensi, pameran disuatu negara atau kota atau tempat tertentu
      Biro konvensi, meeing planner, PCO (professional congress organizer), exhibition organizer, destination manager, dan steering committee

      1. Jenis karir yang tidak berkaitan langsung dengan industri pariwisata :

      No
      Bidang karir
      Ruang lingkup
      Jenis pekerjaan
      1
      Airline
      Jasa
      Pilot dan co pilot
      2
      Souvenir
      Produk souvenir
      Pengrajin dan penjual
      3
      Artis
      Jasa hiburan
      Artis teater/ film
      4
      Pendidik
      Jasa pendidikan bagi tenaga kepariwisataan
      Guru, tutor
      5
      Dokter dan paramedis lainnya
      Memberikan jasa layanan kesehatan
      Dokter, perawat, tenaga medik

      file:///C:/Users/yuni%20yusminar/Downloads/31-Article%20Text-64-1-10-20180117.pdf
      HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DALAM INDUSTRI PARIWISATA Studi Kasus: Perlindungan Hukum Pemanfaatan Local Genius dalam Produk
      Pengusaha Lokal




  • Mahasiswa  Mampu Memahami Konsep Permintaan dan Penawaran Pariwisata.

    • Permintaan Pariwisata

       Sifat Permintaan Pariwisata
      Pariwisata dilihat sebagai suatu jenis usaha yang memiliki nilai ekonomi, maka pariwisata adalah sebagai suatu proses yang dapat menciptakan nilai tambahan terhadap barang dan jasa sebagai satu kesatuan produk yang nyata (real goods) ataupun yang berupa jasaΓÇôjasa (service) yang dihasilkan melalui proses produksi. Dimaksud dengan ΓÇ£productΓÇ¥ dalam ilmu ekonomi, adalah sesuatu yang dihasilkan melalui proses produksi. Dalam pengertian ini, ditekankan bahwa tujuan akhir dari suatu proses produksi tidak lain adalah suatu barang (product) yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan guna untuk memenuhi kebutuhan manusia.
      Aspek Permintaan Pariwisata Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto, 2005), faktor-faktor utamadan faktor lain yang mempengaruhi permintaan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:
      1.   Harga
      Harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata akan memberikan imbas atau timbal balik pada wisatawan yang akan bepergian, sehingga permintaan wisatapun akan berkurang begitu pula sebaliknya.
      2.   Pendapatan
      Apabila pendapatan suatu negara tinggi, kecendrungan untuk memilih daerah tujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin tinggi dan bisa jadi calon wisatawan membuat sebuah usaha pada daerah tujuan wisata jika dianggap menguntungkan.
      3.   Sosial Budaya
      Adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau berbeda dari apa yang ada di negara calon wisata berasal maka, peningkatan permintaan terhadap wisata akan tinggi hal ini akan membuat sebuah keingintahuan dan penggalian pengetahuan sebagai khasanah kekayaan pola piker budaya wisatawan.
      4.   Sosial dan Politik
      Dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan Daerah Tujuan Wisata dalamsituasi aman dan tenteram, tetapi apabila hal tersebut berseberangan dengan kenyataan, maka sospolakan sangat terasa dampak dan pengaruhnya dalam terjadinya permintaan.
      5.   Intensitas Keluarga
      Banyak atau sedikitnya keluarga juga berperan serta dalam permintaan wisata halini dapat diratifikasi, jumlah keluarga yang banyak maka keinginan untuk berlibur dari salah satukeluarga tersebut akan semakin besar, hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itu sendiri.
      6.   Harga Barang Substitusi
      Disamping kelima aspek di atas, harga barang pengganti juga termasuk dalam aspek permintaan, dimana barang-barang pengganti dimisalkan sebagai pengganti DTW yang dijadikan cadangan dalam berwisata seperti: Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia, akibat suatu dan lain hal Bali tidak dapat memberikan kemampuan dalam memenuhi syarat-syarat daerah tujuanwisata sehingga secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke daerah terdekat seperti Malaysia dan Singapura.
      7.   Harga Barang Komplementer
      Merupakan sebuah barang yang saling membantu atau dengan kata lain barang komplementer adalah barang yang saling melengkapi, dimana apabila dikaitkan dengan pariwisata barang komplementer ini sebagai objek wisata yang saling melengkapi dengan objek wisatalainnya.
      Sedangkan Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) melihat bahwa faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain,  jumlah penduduk (population size), kemampuan finansial masyarakat (financial means), waktu senggang yang dimiliki (leisure time), sistem transportasi, dan sistem pemasaran pariwisata yang ada.
      Sedangkan Gamal Suwanto (2004:48) berpendapat bahwa permintaan (demand) terhadap hasil atau produk pariwisata tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non-ekonomis. Terjadinya  kekacauan, peperangan atau bencana alam akan mengakibatkan permintaaan berkurang. Sebaliknya bilamana                  musim berlibur dengan kondisi normal, permintaan akan meningkat, sehingga kadang terjadi kekurangan dalam supply.
      2.2  Perilaku Konsumen dalam Pariwisata
      Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.
      Konsumen adalah seseorang yang menggunakan barang atau jasa. Konsumen diasumsikan memilikiin formasi atau pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya. Mereka tahu persis kualitas barang, kapasitas produksi, teknologi yang digunakan dan harga barang di pasar. Mereka mampu memprediksi julah penerimaan untuk suatu periode konsumsi.
      Berikut ini adalah wujud dari konsumen:
      1.     Personal Consumer
      Konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk penggunaannya sendiri.
      2.     Organizational Consumer
      Konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan organisasi tersebut.
      Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang harus dicermati olehseorang pengusaha, antar lain:
      1.   Faktor lingkungan yang melingkupi konsumen, baik lingkungan keluarga, pendidikan dan lingkungan sosial. Lingkungan adalah salah satu elemen yang mempunyai pengaruh besar bagi perilaku konsumen.Hal ini karena terkait dengan kebiasaan bangsa Indonesia yang dalam kehidupannya seringkali mengikuti tren kelompok. Ketika ramai tren pakaian yang ketat, maka semua orang akan berubah yang sama dengan mayoritas.
      2.   Perlunya pengusaha memperhatikan sumberdaya konsumen, seperti waktu luang yang dimiliki,perhatian terhadap produk yang beredar serta kekuatan daya beli masyarakat sasaran pasar. Faktor yang juga patut dijadikan pertimbangan adalah sikap dan gaya hidup dari konsumen yang ingin ditujupengusaha dalam memproduksi barang dan jasa.
      3.   Situasi psychologis yang melingkupi saat peluncuran produk dan jasa kepada costumer. Disinilah pentingnya pengusaha untuk mampu mengelola informasi yang komprehensif tentang perilaku konsumen beserta perubahan yang terjadi. Ini penting, jika costumer karena kondisi psychologisnya, seringkaliberubah sikap dan perilakunya dalam mengkonsumsi suatu produk dan jasa yang ditawarkan.
      4.   Faktor lainnya yang juga harus mendapat perhatian pengusaha adalah pandangan agama atasprodukdan jasa yang diluncurkan. Di Indonesia yang terkenal agamis, penting memperhatikan ini,karena kalau dalam pandangan agama terdapat kandungan yang dilarang dalam produk sudah pasti akanterjadi penolakan besar-besaran di masyarakat.
      Gaya hidup adalah gambaran hidup seseorang yang tercermin pada ekspresi di setiap aktivitas, hasratserta keingingan, dan pendapat-pendapat yang tercetus daripadanya. Gaya hidup atau lifestyle juga berdampak pada setiap aspek kehidupan manusia, nilai nilai hubungan sosial, kondisi ekonomi, bahkan juga berdampak pada faktor-faktor lingkungan.
      Pada konteks pariwisata, gaya hidup juga berhubungan dengan aktivitas, hobi, pendapat, yangmemainkan peranan penting pada perilaku konsumen. Perilaku konsumen pariwisata dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipologi sebagai dasar dari aspek sosilogi pengambilan keputusan oleh pelaku pariwisatauntuk memilah konsumennya agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan konsumen.
      Informasi tentang kebutuhan riil wisatawan sangat berhubungan dengan perilaku konsumen, danmerupakan informasi penting bagi pengelola pariwisata dalam melakukan pengembangan pariwisata agar sesuai dengan segmentasi wisatawan. Perilaku konsumen melekat pada tipologi konsumenpariwisata, dan juga adalah gambaran dari gaya hidup wisatawan yang berdampak pada aktivitas wisatawan pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya.
      2.3  Tipe variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan pariwisata
      1.   Aspek Penawaran Pariwisata
      Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikandalam penawaran pariwisata. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:
      a.   Attraction (daya tarik)
      Daerah tujuan wisata (selanjutnya disebut DTW) untuk menarik wisatawan pasti memiliki daya tarik, baik daya tarik berupa alam maupun masyarakat danbudayanya.
      b.   Accesable (transportasi)
      Accesable dimaksudkan agar wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata.
      c.   Amenities(fasilitas)
      Amenities memang menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata agarwisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di DTW.
      d.   Ancillary(kelembagaan)
      Adanya lembaga pariwisata wisatawan akan semakin sering mengunjungi dan mencari DTW apabila di daerah tersebut wisatawan dapat merasakan keamanan, (protection of tourism) dan terlindungi.
      Menurut Smith, 1988 (dalam Pitana, 2005) mengklasifikasikan berbagai barang dan jasa yang harusdisediakan oleh daerah tujuan wisata menjadi enam kelompok besar, yaitu:
      a.   Transportation
      b.   Travel services
      c.   Accommodation
      d.   Food service
      e.   Activities and attractions (recreation culture/entertainment)
      f.    Retail goods.
      Inti dari kedua pernyataan di atas adalah aspek penawaran harus dapat menjelaskan:
      a.   Apa yang akan ditawarkan.
      b.   Apa saja atraksi yang ditawarkan.
      c.   Apa saja jenis transportasi yang dapat digunakan.
      d.   Fasilitas apa saja yang tersedia di daerah tujuan wisata.
      e.   Siapa saja yang bisa dihubungi sebagai perantara pembelian paket wisata yang akan dibeli.
      2.   Aspek Permintaan Pariwisata
      Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto, 2005), faktor-faktor utama dan faktor lain yangmempengaruhi permintaan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:
      a.   Harga
      Harga yang tinggi pada suatu daerah tujuan wisata akan memberikan imbas atau timbalbalik pada wisatawan yang akan bepergian, sehingga permintaan wisatapun akan berkurangbegitu pula sebaliknya.
      b.   Pendapatan
      Apabila pendapatan suatu negara tinggi, kecendrungan untuk memilih daerahtujuan wisata sebagai tempat berlibur akan semakin tinggi dan bisa jadi calon wisatawanmembuat sebuah usaha pada Daerah Tujuan Wisata jika dianggap menguntungkan.
      c.   Sosial Budaya
      Dengan adanya sosial budaya yang unik dan bercirikan atau berbeda dari apayang ada di negara calon wisata berasal maka, peningkatan permintaan terhadap wisata akantinggi hal ini akan membuat sebuah keingintahuan dan penggalian pengetahuan sebagai khasanahkekayaan pola pikir budaya wisatawan.
      d.   Sospol (Sosial Politik)
      Dampak sosial politik belum terlihat apabila keadaan Daerah TujuanWisata dalam situasi aman dan tenteram, tetapi apabila hal tersebut berseberangan dengankenyataan, maka sospol akan sangat terasa dampak dan pengaruhnya dalam terjadinyapermintaan.
      e.   Intensitas Keluarga
      Banyak atau sedikitnya keluarga juga berperan serta dalam permintaan wisata hal ini dapat diratifikasi, jumlah keluarga yang banyak maka keinginan untuk berlibur darisalah satu keluarga tersebut akan semakin besar, hal ini dapat dilihat dari kepentingan wisata itusendiri.
      f.    Harga barang substitusi
      Disamping kelima aspek di atas, harga barang pengganti juga termasuk dalam aspek permintaan, dimana barang-barang pengganti dimisalkan sebagai pengganti daerah tujuan wisata yang dijadikan cadangan dalam berwisata, seperti: Bali sebagaitujuan wisata utama di Indonesia, akibat suatu dan lain hal Bali tidak dapat memberikan kemampuan dalam memenuhi syarat-syarat daerah tujuan wisata sehingga secara tidak langsung wisatawan akan mengubah tujuannya ke daerah terdekat seperti Malaysia dan Singapura.
      g.   Harga barang komplementer
      Harga barang komplementer merupakan sebuah barang yang saling membantu atau dengan kata lain barang komplementer adalah barang yang saling melengkapi, dimana apabila dikaitkan dengan pariwisata barang komplementer ini sebagai objek wisata yang saling melengkapi dengan objek wisata lainnya.
      Menurut Jackson, 1989 (dalam Pitana, 2005) melihat bahwa faktor penting yang menentukanpermintaan pariwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain:
      *  Jumlah penduduk (population size)
      *  Kemampuan finansial masyarakat (financial means)
      *  Waktu senggang yang dimiliki (leisure time)
      *  Sistem transportasi
      *  Sistem pemasaran pariwisata yang ada
      Dari kedua pendapat di atas, aspek permintaan pariwisata dapat diprediksi dari:
      v  Jumlah penduduk dari suatu negara asal wisatawan.
      v  Pendapatan perkapita dari suatu negara asal wisata.
      v  Lamanya waktu senggang yang dimiliki.Berhubungan dengan musim di suatu negara.
      v  Kemajuan teknologi informasi dan transportasi.
      v  Sistem pemasaran yang berkembang.
      v  Keamanan dunia.
      v  Sosial dan politik serta aspek lain.Berhubungan dengan aspek fisik dan non fisik wisatawan
      2.4  Batasan-batasan dalam permintaan pariwisata
      Hermann V. Schuralard (1910), yang dimaksud kepariwisataan disini adalah sejumlah kegiatan,terutama yang ada kaitannya dengan perekonomian yang secara langsung berhubungan dengan masuknya, adanya pendiaman dan bergeraknya orang-orang asing keluar masuk kota, daerah atau Negara.
      E. Guyer Freuler, merumuskan pengertian pariwisata dengan memberi batasan sebagai berikut: "Pariwisata dalam pengertian modern adalah merupakan fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan menumbuhkan (cinta) terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyarakat manusia sebagai hasil dari pada perkembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan dari pada alat-alat pengangkutan".
      Prof. K. Kraft (1942) mengemukakan batasan yang lebih bersifat teknis sebagai berikut: Keseluruhan dari pada gejala-gejala yang ditimbulkan oleh perjalanan dan pendiaman orang-orang asing serta penyediaan tempat tinggal sementara, asalkan pendiaman itu tidak tinggal menetap dan tidak memperolehpenghasilan dari aktifitas yang bersifat sementara itu.
      Dari beberapa batasan yang disebutkan diatas, tampak pada prinsipnya kepariwisataan mencakup semua macam perjalanan, asal saja perjalanan tersebut berhubungan dengan rekreasi danpertamasyaan. Ada beberapa faktor yang penting dalam pemberian batasan suatu definisi pariwisata,yaitu:
      ├╝  Perjalanan dilakukan sementara waktu
      ├╝  Perjalanan itu dilakukan dari satu tempat ke tempat lainnya
      ├╝  Perjalanan itu walaupun apa bentuknya, harus dikaitkan dengan pertamasyaan atau rekreasi
      ├╝  Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah ditempat yang dikunjunginya dansemata-mata sebagai konsumen ditempat tersebut.
      ( https://fekool.blogspot.com/2016/03/permintaan-pariwisata.html )

      1. https://www.kompasiana.com/image/ikacahyaningsih1002/63b528934addee52a0208a72/permintaan-wisatawan-pengertian-dan-jenis-jenisnya?page=1

      2. https://caretourism.wordpress.com/2012/07/27/aspek-permintaan-pariwisata-lanjutan/

      3. https://media.neliti.com/media/publications/214482-analisis-kesesuaian-permintaan-demand-wi.pdf


      Permintaan Pariwisata :
      Teori Permintaan
      Teori permintaan menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan dan harga. Berdasarkan ciri hubungan antara permintaan dan harga dapat dibuat grafik kurva permintaan. Analisis dalam bagian ini akan menerangkan ciri perhubungan antara permintaan dan harga dan pembentukan kurva permintaan.

      Beberapa Penentu Permintaan
      Sacara umum permintaan seseorang atau suatu masyarakat kepada suatu barang ditentukan oleh banyak faktor, seperti :
      ΓÇó Harga barang itu sendiri.
      ΓÇó Harga barang lain yang berkaitan erat dengan barang tersebut.
      ΓÇó Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat.
      ΓÇó Corak distribusi pendapatan dalam masyarakat
      ΓÇó Cita rasa masyarakat.
      ΓÇó Jumlah penduduk.
      ΓÇó Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang.
      Kemudian ahli ekonomi membuat analisis yang lebih sederhana, dalam analisis ekonomi dianggaap bahwa permintaan suatu barang terutama dipengarui oleh tingkat harganya.
      Hukum Permintaan
      Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan : makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut. Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka makin sedikit permintaan terhadap barang tersebut.
      Pendekatan Pendekatan Dalam Permintaan Pariwisata
      1. Pendekatan Verbal
      Ahli Ekonomi : sejumlah barang maupun jasa yang mau dibayar oleh konsumen
      pada berbagai harga selama waktu tertentu, dimana barang maupun jasa tersebut, yaitu :
      ΓÇó Barang mempunyai wujud nyata sedangkan jasa sifatnya abstrak
      ΓÇó Barang memberi peluang untuk disimpan artinya waktu produksi dan konsumsi dapat
      berbeda
      ΓÇó Barang terkadang dapat dipindahΓÇÉpindahkan sedangkan jasa tidak dapat dipindahΓÇÉ
      pindahkan
      ΓÇó Satuan waktu menunjukkan berapa lama pengukuran permintaan tersebut berlaku
      Menurut Mathieson & Wall dalam pendekatan verbal membagi jenis permintaan menjadi beberapa bentuk :
      ΓÇó Permintaan efektif (actual demand)
      ΓÇó Permintaan tertahan atau terselubung (suppressed demand)
      ΓÇó Tidak ada permintaan (no demand)
      ΓÇó Permintaan pariwisata pengganti (substitution demand) : terbatasnya penawaran di satu pihak & terjadinya kelebihan penawaran (excess of supply) di lain pihak.
      ΓÇó Permintaan pariwisata yang dialihkan (redirection of demand) : perubahan permintaansecara geografis; perjalanan wisata ke Singapura dialihkan ke Indonesia akibat
      penerbangan atau kamar hotel ke maupun di Singapura sudah penuh.

      Penawaran Pariwisata :
      Teori Penawaran
      Terdapatnya permintaan belum merupakan syarat yang cukup untuk mewujudkan transaksi dalam pasar. Maka diperlukan penawaran juga oleh para penjual.
      Penentu-Penentu Penawaran
      Keinginan para penjual dalam menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga ditentukan oleh beberapa faktor, yang terpenting ialah :
      ΓÇó Harga barang itu sendiri.
      ΓÇó Harga barang barang lain.
      ΓÇó Biaya produksi.
      ΓÇó Tujuan tujuan operasi perusahaan tersebut.
      ΓÇó Tingkat teknologi yang digunakan.
      Hukum Penawaran
      Hukum penawaran pada dasarnya menyatakan bahwa makin tinggi harga suatu barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan.
      Penawaran Pariwisata
      ΓÇó Sejumlah barang maupun jasa yang ditawarkan kepada wisatawan dengan harga
      tertentu.
      ΓÇó Meliputi semua daerah tujuan yang ditawarkan kepada wisatawan, baik wisatawan
      potensial maupun riil.
      ΓÇó Berupa daya tarik alam, hasil ciptaan manusia,barang dan jasa yang dapat mendorong orang-orang untuk berkunjung ke suatu DTW.
      Karakteristik Penawaran Pariwisata
      ΓÇó Tidak dapat ditimbun atau dipindah-pindahkan dan hanya dapat dikonsumsi di tempat
      jasa tersebut dihasilkan.
      ΓÇó Sifatnya sangat kaku (rigid) artinya sangat sulit untuk mengubah sasaran
      penggunaannya di luar pariwisata.
      ΓÇó Sangat tergantung pada persaingan dari barang-barang dan jasa-jasa lainnya,
      sehingga hukum substitusi sangat kuat berlaku.
      Unsur-Unsur Penawaran Pariwisata
      ΓÇó Benda-benda alam : iklim, pemandangan alam,hutan, flora dan fauna, dan pusat-pusat
      kesehatan yang dapat menyembuhkan jenis penyakit tertentu.
      ΓÇó Hasil ciptaan manusia (man-made supply) : bendabenda bersejarah,kebudayaan dan
      keagamaan, monumen-monumen bersejarah, museum, kesenian rakyat, acara-acara
      tradisional serta rumah-rumah ibadah.
      Usaha Pariwisata
      ΓÇó Usaha Jasa Pariwisata : penyediaan jasa perencanaan, jasa pelayanan, dan jasa
      penyelenggaraan pariwisata.
      ΓÇó Pengusahaan ODTW : kegiatan membangun dan mengelola objek dan daya tarik
      wisata besertaprasarana dan sarana yang diperlukanatau kegiatan mengelol objek dan daya tarik wisata yang telah ada.
      ΓÇó Usaha Sarana Pariwisata : meliputi kegiatan pembangunan, pengelolaan dan
      penyediaan fasilitas, serta pelayanan yang diperlukandalam penyelenggaraan pariwisata.
      Prasarana Kepariwisataan
      ΓÇó Prasarana Umum (General Infrastructure) :prasarana yang menyangkut kebutuhan
      umum bagi kelancaran perekonomian, seperti : air bersih, listrik, jalan raya,pelabuhan
      udara, telekomunikasi, dan sebagainya.
      ΓÇó Kebutuhan Masyarakat Banyak (Basic Need Of Civilized Life) : prasarana yang
      menyangkut kebutuhan masyarakat banyak, seperti : rumah sakit,apotik, bank, pompa bensin,dan sebagainya.
      Sarana Kepariwisataan
      ΓÇó Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Superstructure) : perusahaan-perusahaan yang hidupnya sangat tergantung pada lalu lintas wisatawan.
      ΓÇó Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Supplementing Tourism Superstructure) : fasilitas-fasilitas yang melengkapi sarana pokok untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama.
      ΓÇó Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Superstructure) : fasilitas
      yang diperlukan wisatawan, tidak hanya melengkapi sarana pokok dan sarana pelengkap, tetapi fungsinya agar wisatawan lebihbanyak membelanjakan uangnya.

      ( https://tugaspariwisata.blogspot.com/2010/06/permintaan-dan-penawaran-pariwisata.html )

  • Mahasiswa  Mampu Untuk Mendiskripsikan Konsep Gambaran Umum Destinasi Pariwisata.

    • https://e-journal.uajy.ac.id/18990/3/TS160042.pdf

      Destinasi Adalah: Beginilah Pandangan Menurut Para Ahli

      Pengertian Destinasi Pariwisata secara tradisional disebut sebagai wilayah geografis seperti negara, pulau, atau kota. (Burkart and Medlik, 1974; Davidson and Maitland, 1997; Hall, 2000). Sementara itu Tuohino & Konu (2014) menyatakan bahwa pengertian dari destinasi adalah area geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari berbagai produk wisata, sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk merealisasikannya. Sementara itu menurut Kim & Brown (2012) produk pariwisata sendiri terdiri dari sekelompok atraksi, fasilitas dan layanan kepada wisatawan.

      UNSUR PARIWISATA

       Unsur pariwisata terdiri dari  :

      1. Atraksi (Alam, Buatan, Budaya)
      2. Amenitas (Perhotelan dan restoran)
      3. Aksesbilitas (transportasi)

      WISATAWAN VACANSI DAN BISNIS

      Wisatawan Vacansi adalah adalah wisatawan yang memiliki tujuan untuk bersenang-senang, tema perjalanan bisa beragam mulai dari alam, budaya, hingga olahraga.

      Wisatawan Bisnis adalah wisatawan dengan tujuan bisnis dan profesional, tujuan perjalanan untuk rapat, kegiatan utamanya berkaitan dengan konvensi dan inspeksi sedangkan kegiatan pendukungnya adalah rekreasi, shopping, menikmati hiburan dan lain-lain.

      NoPertanyaanWisatawan VakansiWisatawan bisnisTetapi
      1.Siapa yang membiayai?WisatawanPerusahaan, asosiasi dan organisasiWirausahawan membayar sendiri perjalanan mereka
      2.Siapa yang menentukan?WisatawanPerusahaan dan pengelolaHarapan delegasi juga dipertimbangkan
      3.Kapan perjalanan dilakukan?Musim liburan dan akhir pekanHari kerja di sepanjang tahunMengindari Juni dan Agustus
      4.Kapan melakukan pemesanan?Beberapa bulan sebelumnya. Untuk liburan singkat, reservasi dilakukan beberapa hari sebelum keberangkatanDilakukan pada waktu singkatBeberapa perjalanan dianggarkan sebelumnya
      5.Berapa lama tinggal?Beragam, lebih dari 1 hari tetapi kurang dari 1 tahunSingkatBanyak perjalanan bisnis yang dikombinasikan dengan liburan
      6.Apa status sosial?SeluruhnyaMenengah ke atasSiapapun yang terkait
      7.Siapa yang berwisata?Siapapun yang memiliki waktu luang dan danaMereka yang ditugaskanSiapapun yang terlibat
      8.Apa yang dicari?Informasi, kenyamanan dan kepastianCepat dan pelayanan personal berkualitasKeduanya ΓÇÿvalue for moneyΓÇÖ
      9.Kemana destinasi pilihan?Kemanapun di duniaKota besarKota yang daya tarik wisata menjadi pilihan

      https://pascasarjanafe.untan.ac.id/wp-content/uploads/2022/05/36.pdf

      https://www.researchgate.net/profile/Fauziah-Eddyono/publication/350513025_Pengelolaan_Destinasi_Pariwisata/links/6063ec37a6fdccbfea1a5d3e/Pengelolaan-Destinasi-Pariwisata.pdf

      7 Desa Wisata yang Mengusung Konsep Sustainable Tourism

      Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mencanangkan pengembangan desa wisata merujuk pada konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

      Secara definisi, sustainable tourism adalah pariwisata yang memerhatikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

      Kemenparekraf/Baparekraf memberlakukan pedoman dalam pembangunan destinasi wisata berkelanjutan yang terdiri dari empat kategori, yaitu pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, serta pelestarian lingkungan.

      Di antara ribuan desa wisata di Indonesia, berikut tujuh desa wisata yang bisa menjadi percontohan keberhasilan dari konsep sustainable tourism:

      Desa Pujon Kidul (Malang)

      Terletak di Kecamatan Pujon desa wisata ini berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Malang. Lokasinya berada di dataran tinggi sehingga memiliki lingkungan sejuk dan masih asri.

      Desa Pujon Kidul mengandalkan kelestarian alam sebagai konsep sustainable tourism yang ditawarkan kepada wisatawan, yaitu sektor pertanian dan peternakan. Beberapa atraksi wisata yang bisa dilakukan di Desa Pujon Kidul antara lain menanam sayuran, memetik sayuran, hingga memerah susu sapi.

      Desa Pentingsari (Yogyakarta)

      Desa wisata Pentingsari telah dikenal internasional sebagai salah satu desa wisata dengan segudang penghargaan. Salah satu yang cukup menarik, Desa Pentingsari masuk dalam 100 besar destinasi berkelanjutan versi Global Green Destinations Days (GGDD).

      Desa wisata Pentingsari tergolong sebagai desa wisata dengan konsep sustainable tourism dari kategori pelestarian lingkungan. Keseharian masyarakat yang berdampingan dengan alam menjadi daya tarik desa wisata ini. Seperti membajak sawah, menanam padi, menangkap ikan, hingga belajar membuat tempe bisa kita coba lakukan di Desa Pentingsari.

      Desa Ponggok (Klaten)

      Potensi alam Desa Ponggok berasal dari 5 sumber mata air. Dulunya, air yang berlimpah hanya digunakan untuk irigasi sawah dan perkebunan saja. Namun kini masyarakat memanfaatkan sumber air tersebut sebagai destinasi wisata.

      Destinasi unggulan Desa Ponggok adalah Umbul Ponggok, yang sempat viral beberapa tahun lalu. Di sini wisatawan bisa berenang, snorkeling, latihan menyelam, hingga berswafoto di bawah air. Selain Umbul Ponggok, ada 4 sumber mata air lain yang juga menarik dikunjungi, yaitu Umbul Besuki, Umbul Sigedang, Umbul Kapilaler, dan Umbul Cokro.

      Menariknya, dengan memanfaatkan potensi alam yang dimilikinya, Desa Ponggok menjadi salah satu desa terkaya di Indonesia dengan penghasil desa per tahun mencapai Rp14 Miliar.

      Lanskap Desa Kete Kesu, Toraja. (Foto: Shutterstock/Januar.rahim)

      Desa Kete Kesu (Toraja)

      Kete Kesu merupakan desa adat yang mengusung konsep sustainable tourism dalam kategori pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung. Atraksi wisata yang paling ikonik dari Desa Kete Kesu adalah upacara adat rambu solo, dan kuburan di tebing batu yang ditaksir telah berusia 500 tahun.

      Selain itu, wisatawan juga bisa melihat rumah adat tongkonan yang berjajar rapi di Desa Kete Kesu. Konon, rumah-rumah adat ini telah berusia lebih dari 300 tahun. Selain dari segi peninggalan, desa ini juga terkenal sebagai penghasil kerajinan pahat hingga lukis.

      Desa Penglipuran (Bali)

      Selain Desa Pentingsari, Desa Penglipuran juga masuk dalam 100 besar Destinasi Berkelanjutan versi GGDD. Bahkan, desa wisata yang terletak di Bangli, Bali ini dinobatkan sebagai Desa Terbersih di dunia.

      Kesadaran menjaga kelestarian lingkungan di Desa Penglipuran lahir dari aturan adat desa. Salah satu aturan yang menarik adalah larangan menggunakan kendaraan bermotor pada area desa. Tujuannya adalah menjaga kebersihan udara di Desa Penglipuran sebagai bentuk pelestarian lingkungan.

      Selain itu, aturan adat juga mengatur soal tata ruang Desa Penglipuran, yaitu konsep Tri Mandala. Tata ruang adat ini membuat Desa Penglipuran tampak lebih rapi dan tertata.

      Kampung Blekok (Situbondo)

      Terpilih sebagai finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, nama Kampung Blekok kian ramai diperbincangkan. Selain menjadi rumah bagi penduduk, desa wisata ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis tanaman mangrove dan ribuan burung.

      Bertujuan untuk melestarikan burung blekok yang hampir punah, masyarakat setempat membuat penangkaran burung di desa wisata ini. Wisatawan yang berkunjung ke desa ini dapat ikut serta dalam kegiatan penangkaran, memberi makan burung, hingga merawat burung yang sedang sakit.

      Desa Umbulharjo (Yogyakarta)

      Dalam upaya pengembangan desa wisata peran generasi muda yang kreatif adalah salah satu kunci keberhasilan. Hal ini terbukti di Desa Umbulharjo, Yogyakarta. Berangkat dari keresahan pemuda karang taruna desa atas irigasi yang terkesan kumuh tercetus ide kreatif.

      Inovasi yang diberikan adalah mengubah irigasi desa menjadi tempat budidaya ikan nila. Selain bermanfaat untuk ketahanan pangan, budidaya ikan nila di saluran irigasi juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Desa Umbulharjo hingga viral di media sosial.

      Itulah tujuh desa wisata yang sukses berkembang dengan mengusung konsep sustainable tourism. Harapannya desa wisata tersebut bisa menjadi inspirasi bagi banyak desa wisata lain di Indonesia untuk terus berinovasi dalam pariwisata berkelanjutan.

      http://repository.radenintan.ac.id/1194/5/BAB_IV_2.pdf

  • Mahasiswa  Mampu Untuk Memahami Struktur Pasar Industri Pariwisata

    • Analisis Pasar Industri


      96-Article Text-344-1-10-20220416.pdf

      cc3b9b6947b3762f0093a47f93ecbb8c.pdf


      Karakteristik wisatawan mancanegara adalah sebagai berikut :
      1) Trip descriptor
      Wisatawan dalam trip descriptor bisa dibagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan jenis pejalanan yang dilakukan. Pada umumnya, jenis perjalanan dibedakan menjadi perjalanan rekreasi, mengunjungi teman atau keluarga, VFR atau Visiting friends and relatives, perjalanan bisnis dan kelompok perjalanan yang lain. Selain itu, bisa juga dengan menambah jenis perjalanan yang digunakan untuk kesehatan dan keagamaan tetapi diluar kelompok lain. Selanjutnya, jenis-jenis perjalanan ini juga bisa dibedakan berdasarkan lama perjalanan tau jarak yang ditempuh, waktu melakukan perjalanan tersebut, jenis akomodasi, alat transportasi yang digunakan dalam perjalanan, pengorganisasian perjalanan, dan besar pengeluaran yang dikeluarkan untuk berwisata.
      2) Tourist descriptor
      Merupakan karakter yang memfokuskan pada wisatawannya, biasanya digambarkan dengan "who, wants, what, why, when, where, and how much" Agar bisa menjelaskan hal-hal tersebut, bisa menggunakan beberapa karakteristik, diantaranya adalah sebagai berikut :
      ├╝ Karakteristik sosio-demografis : merupakan karakter yang digunakan untuk mencoba menjawab pertanyaan who, wants, dan what. Pembagian pertanyaan itu berdasar pada karakteristik yang paling sering dilakukan untuk kepentingan analisis pariwisata, perencanaan, dan pemasaran, karena hal itu sudah sangat jelas definisinya dan relatif mudah pembagiannya. Yang termasuk dalam karakteristik sosio-demografis diantaranya adalah jenis kelamin, umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, kelas sosial, ukuran keluarga, dan jumlah anggota keluarga yang dielaborasi dari karakteristik tersebut. Karakteristik sosio-demografis juga mempunyai kaitan satu dengan yang lain secara tidak langsung. Contohnya seperti tingkat pendidikan seseorang dengan pekerjaan dan tingkat pendapatannya.
      ├╝ Karakteristik geografis : Karakteristik geografis bisa membagi wisatawan berdasar pada lokasi tempat tinggalnya, biasanya hal itu dibedakan menjadi desa, kota, dan provinsi, atau dari negara asalnya. Pembagian yang seperti ini, bisa saja berlanjut juga dan dapat dikelompokan berdasar ukuran atau size kota tempat tinggal atau kota kecil, menengah, besar atau metropolitan, kepadatan dan penduduk di kota.
      ├╝ Karakteristik psikografis : Karakteristik psikografis bisa membagi wisatawan ke dalam kelompok-kelompok yang berdasar pada kelas sosial, life style, dan karakteristik personal.

      Sedangkan karakteristik wisatawan domestik ialah :
      a). Royal atau gemar belanja : wisatawan Indonesia memang dikenal sangat royal mengeluarkan uang ketika sedang melakukan perjalanan wisata. Ketika mereka pergi melakukan perjalanan wisata, wisatawan Indonesia selalu menyempatkan diri untuk berbelanja souvenir atau barang-barang yang menarik bagi mereka. Mereka mempunyai alasan, bahwa membeli oleh-oleh atau cendera mata cukup banyak bisa bermanfaat dan dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangganya yang ditempat asalnya. Wisatawan Indonesia juga cenderung mau dan bisa merepotkan diri dengan barang-barangnya belanjaannya yang banyak.
      b). Suka tour rombongan : Kebiasaan wisatawan domestik yang lain adalah menyukai kegiatan bepergian secara bersama dengan teman-teman pergaulan atau satu keluarga besar ikut semua. Mereka menyewa bus pariwisata atau mobil rental. Dengan tujuan agara biayanya lebih irit.
      c). Lebih menyukai tempat populer.
      d). Jarak tempat wisata dari rumah juga tidak begitu jauh.

      https://youtu.be/tnHdNxIY_1Q

      Potensi Industri Pariwisata

      Dalam kerangka pengembangan Industri Pariwisata, terdapat sejumlah potensi yang telah berkembang sebagai modal utama dalam mendorong akselerasi industri pariwisata, antara lain: 1). Pariwisata Menciptakan Rantai Nilai Usaha yang Luas dan Beragam, 2). Daya Saing Produk dan Kredibilitas Bisnis, dan 3). Tanggung Jawab Lingkungan yang Semakin Tinggi

      1). Pariwisata Menciptakan Rantai Nilai Usaha yang Luas dan Beragam

      Pariwisata merupakan sektor yang memiliki keterkaitan rantai nilai kegiatan yang luas dengan berbagai jenis usaha sehingga mampu menciptakan lapangan usaha yang luas bagi masyarakat. Keterkaitan dan sinergi antar mata rantai usaha kepariwisataan merupakan faktor kunci yang membuat industri pariwisata berjalan dengan baik dan mampu memenuhi harapan wisatawan selaku konsumen. Penguatan sinergitas antar mata rantai pembentuk industri pariwisata harus selalu dibangun dan dikembangkan agar seluruh komponen dan sistem kepariwisataan dapat bergerak dan memberikan kontribusi serta perannya masing-masing dalam menciptakan produk dan pelayanan yang berkualitas bagi wisatawan.

      Kompetisi sektor kepariwisatan menuntut kemampuan pelaku industri pariwisata untuk dapat mengembangkan dan menjaga kualitas produk serta kredibilitasnya sehingga memiliki daya saing dan memperoleh kerpercayaan dari kalangan konsumen/pasar.

      2). Daya Saing Produk dan Kredibilitas Bisnis

      Dalam penilaian tingkat daya saing kepariwisatan, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi daya saing sumber daya pariwisata serta daya saing harga. Keunggulan daya saing tersebut diharapkan akan menjadi modal untuk menggerakkan pilar-pilar lain sehingga memiliki daya saing yang lebih tinggi, khususnya dari sisi manajemen atraksi/ daya tarik wisata, fasilitas pariwisata maupun aksesibilitas pariwisata. Upaya peningkatan daya saing produk dan kredibilitas bisnis terus didorong oleh Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui berbagai bentuk bimbingan teknis dan kegiatan sertifikasi usaha pariwisata yang akan didorong secara lebih intensif kedepannya.

      3). Tanggung Jawab Lingkungan yang Semakin Tinggi

      Era Pariwisata hijau (green tourism) dan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism), telah menumbuhkan kesadaran yang luas dari berbagai pihak dan pemangku kepentingan untuk dapat mengelola dan memberikan perhatian pada aspek-aspek kelestarian lingkungan, melalui pengembangan paket-paket wisata yang mengandung unsur edukasi lingkungan (eco-tourism) maupun penerapan prinsip daur ulang terhadap material atau bahan pendukung operasional usaha pariwisata. Dari sisi pasar wisatawan juga semakin berkembang preferensi untuk memilih destinasi pariwisata yang lebih mengemban misi-misi pelestarian/ tanggung jawab lingkungan. Sehingga potensi tersebut memberi peluang bagi destinasi pariwisata di Indonesia untuk lebih mewujudkan pengelolaan daya tarik dan produk wisata yang berwawasan lingkungan.

      Sumber: Permenparekraf No. 12/2020 tentang Renstra Kemenparekraf 2020-2024

      Permasalahan Industri Pariwisata

      Dalam kerangka pengembangan industri pariwisata, terdapat beberapa masalah utama yang dihadapi dan menjadi kendala bagi tumbuhnya industri pariwisata, yaitu: 1). Sinergi Antar Mata Rantai Usaha Pariwisata yang Belum Optimal, 2). Daya Saing Produk Wisata yang Belum Optimal, 3). Kesenjangan Antara Tingkat Harga dengan Pengalaman Wisata, 4). Kemitraan Usaha Pariwisata yang Belum Optimal, 5). Pengembangan Tanggung Jawab Lingkungan Oleh Kalangan Usaha Pariwisata Masih Belum Optimal

      1). Sinergi antar Mata Rantai Usaha Pariwisata yang Belum Optimal

      Persoalan di lapangan menunjukkan bahwa belum semua destinasi pariwisata didukung oleh operasi dari berbagai jenis usaha kepariwisataan dan sinergi yang baik dalam menciptakan produk dan layanan yang berkualitas bagi wisatawan. Sehingga di satu sisi kualitas industri pariwisata belum bisa berkembang optimal, dan di sisi lain nilai manfaat ekonomi pariwisata juga belum mampu dikembangkan untuk menopang perekonomian daerah setempat.

      Dalam kerangka membangun struktur dan mata rantai industri pariwisata yang kokoh dan kondusif, maka diperlukan berbagai bentuk koordinasi yang intensif dan kerja sama/ kemitraan yang baik antar pelaku industri pariwisata dalam berbagai wadah organisasi yang telah dibentuk (GIPI, ASITA, PHRI, HPI, dan sebagainya).

      Penguatan struktur industri pariwisata akan semakin cepat dilaksanakan dengan implementasi peran dan tugas GIPI dalam menyusun kode etik usaha pariwisata Indonesia, menyalurkan aspirasi serta memelihara kerukunan dan kepentingan anggota dalam pengembangan industri pariwisata, meningkatkan kerja sama antara pengusaha pariwisata Indonesia dan pengusaha luar negeri dalam pembangunan kepariwisataan, mencegah persaingan usaha pariwisata yang tidak sehat, serta penyebarluasan kebijakan pemerintah di bidang pariwisata.

      Penguatan struktur Industri pariwisata juga dilaksanakan melalui peningkatan sinergi dan keadilan distribusi antar mata rantai pembentuk industri pariwisata, sehingga dapat terwujud persaingan usaha pariwisata yang sehat pada segala level.

      Permasalahan penguatan struktur Industri pariwisata, sinergi dan keadilan distribusi adalah kurangnya kerja sama dan jejaring antar pelaku usaha pariwisata dalam pengembangan industri pariwisata Indonesia serta tidak adanya database usaha pariwisata yang komprehensif.

      Sebagai rencana tindak prioritas untuk penyelesaian permasalahan tersebut adalah peningkatan daya saing industri pariwisata melalui fasilitasi sertifikasi kompetensi dan peningkatan nilai tambah usaha pariwisata skala mikro, kecil, menengah dan koperasi, serta implementasi sertifikasi usaha pariwisata skala besar nasional maupun internasional yang beroperasi di Indonesia.

      Selain itu diperlukan kontribusi dan dukungan dari pelaku industri pariwisata melalui optimalisasi peran dan tugas GIPI dalam pembangunan kepariwisataan Indonesia. Sedangkan dukungan dari pemerintah daerah adalah sinergi kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah dengan pelaku usaha pariwisata dan pemerintah.

      2). Daya Saing Produk Wisata yang Belum Optimal

      Peningkatan daya saing produk wisata, yang mencakup daya tarik wisata, fasilitas pariwisata dan aksesibilitas, berpotensi untuk meningkatkan daya saing usaha dan Industri pariwisata Indonesia. Sementara kondisi saat ini ketiga komponen tersebut masih dianggap kurang kecuali daya saing sumber daya budaya dan alam Indonesia yang sangat beragam, unik dan menarik.

      Daya saing fasilitas pariwisata Indonesia relatif masih kurang jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Daya saing usaha pariwisata Indonesia masih di bawah ketiga negara tersebut, di atas Philipina dan Brunei Darussalam namun bersaing dengan Vietnam. Keterbatasan jumlah dan ruang lingkup Lembaga Standar Usaha bidang pariwisata merupakan salah satu kendala dalam upaya peningkatan standar usaha pariwisata di Indonesia.

      Daya saing aksesibilitas Indonesia secara umum kurang, antara lain terlihat dari kecilnya frekuensi dan jumlah kapasitas tempat duduk penerbangan serta insfrasruktur jalan, pelabuhan dan bandara di berbagai destinasi wisata Indonesia yang terdapat fasilitas/usaha pariwisata. Selama ini, usaha pariwisata di berbagai destinasi wisata Indonesia kurang berkembang karena kurangnya wisatawan yang datang dan menggunakan fasilitas dan jasa usaha pariwisata walaupun mereka telah mempromosikan produk dan jasa usaha pariwisatanya baik yang dilaksanakan masing-masing maupun berkerja sama dengan pihak lain termasuk pemerintah daerah.

      Pengembangan Industri Pariwisata yang belum inline atau sesuai dengan pengembangan aksesibilitas telah berakibat pada kurangnya kemampuan usaha pariwisata untuk memenuhi permintaan pasar, yang pada akhirnya menyebabkan kurangnya daya saing fasilitas atau usaha pariwisata Indonesia.

      3). Kesenjangan Antara Tingkat Harga dengan Pengalaman Wisata

      Kesesuaian tingkat harga dengan kualitas pengalaman (Value for money) yang diperoleh wisatawan di sejumlah destinasi pariwisata seringkali masih menunjukkan adanya kesenjangan, yang mengakibatkan keluhan wisatawan. Dalam konteks kredibilitas bisnis, kondisi tersebut akan menjadi promosi negatif yangberdampak pada penurunan daya saing produk wisata yang kita miliki sehingga tidak mampu bersaing dengan produk sejenis yang dikembangkan oleh kompetitor.

      Disisi lain ketidaksesuaikan antara fitur yang dipromosikan dengan realitas yang dijumpai wisatawan/konsumen juga masih sering terjadi di lapangan. Dalam berbagai kasus dan tempat seringkali masih terjadi ketidaksesuaian antara apa yang dipromosikan dengan apa yang didapat dilapangan. Promosi semacam ini dapat dianggap sebagai promosi yang tidak bertanggung jawab, yang membuat kredibilitas produk menjadi diragukan.

      Untuk mengangkat daya saing produk, maka upaya promosi harus menerapkan dan menekankan prinsip- prinsip pemasaran pariwisata yang bertanggung jawab (responsible marketing), yang responsif terhadap hak-hak wisatawan, terhadap pelestarian lingkungan dan hak-hak sosial ekonomi masyarakat lokal.

      4). Kemitraan Usaha Pariwisata yang Belum Optimal

      Kemitraan usaha pariwisata antara industri pariwisata skala besar dengan usaha ΓÇôusaha ekonomi pariwisata skala Mikro, Kecil dan Menengah masih belum berjalan dengan maksimal. Pengembangan kemitraan usaha dimaksudkan agar peluang dan nilai manfaat berkembangnya kepariwisataan akan dapat dinikmati semua pihak dalam berbagai jenis dan skala usaha.

      Oleh karena itu, pola-pola kemitraan antar usaha pariwisata, maupun usaha pariwisata dengan pelaku usaha lainnya di berbagai destinasi pariwisata perlu didorong dan ditingkatkan. Contoh bentuk kemitraan yang dapat dilakukan antara lain adalah kerja sama dalam pengembangan daya tarik wisata, kerja sama promosi dan pemasaran, dll.

      Kesadaran untuk mengembangkan kemitraan usaha pariwisata dalam kerangka pemberdayaan masyarakat maupun mendorong tumbuhnya UMKM bidang pariwisata masih memerlukan dorongan dan peran aktif Pemerintah selaku fasilitator dan regulator, agar UMKM bidang pariwisata juga memiliki kemampuan, kapasitas dan akses untuk dapat mengembangkan usaha dan memperolah manfaat ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

      5). Pengembangan Tanggung Jawab Lingkungan Oleh Kalangan Usaha Pariwisata Masih Belum Optimal

      Pengembangan tanggung jawab lingkungan usaha pariwisata, baik lingkungan sosial, alam maupun budaya agar tetap berkelanjutan berpotensi untuk mengembangkan jejaring usaha pariwisata berkelanjutan yang dapat meningkatkan daya saing usaha pariwisata Indonesia.

      Permasalahannya adalah masih kecilnya jumlah usaha pariwisata yang memiliki komitmen terhadap tanggung jawab lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip berwawasan lingkungan walaupun permintaan pasar semakin kuat, kurangnya insentif terhadap usaha pariwisata yang menerapkan prinsip-prinsip pembangunan kepariwisataan berkelanjutan, kurangnya alokasi program corporate social responsibility (CSR) usaha pariwisata dan usaha non pariwisata untuk pengembangan pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.

      Mengenal Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP) Marketing

      STP atau Segmentation Targeting Positioning adalah salah satu pendekatan atau model yang digunakan untuk mengembangkan pesan dan strategi pemasaran yang sesuai pada segmentasi target audiens tertentu.
      Model pemasaran ini dikenal sebagai salah satu yang paling efektif dan populer digunakan hingga saat ini. Agar kamu lebih mengenal apa yang disebut sebagai STP marketing ini coba perhatikan ulasan berikut.

      Pengertian dan kelebihan Segmenting Targeting Position

      Pada dasarnya STP marketing atau Segmenting Targeting Position adalah salah satu model pemasaran yang penerapannya melibatkan tiga tahapan yaitu melakukan segmentasi pasar, menargetkan segmen yang diyakini paling menguntungkan dan memposisikan produk yang dijual dengan cara yang paling bernilai.
      Fokus utama dalam model pemasaran STP ini adalah pada pendekatan audiens, bukan produk. Model ini berfokus pada pemilihan segmen yang paling bernilai bagi bisnis pada saat merancang strategi pemasaran produk agar penyampaian pesan lebih relevan di setiap segmen audiens tersebut.
      STP marketing sendiri merupakan pendekatan atau model yang populer diterapkan banyak perusahaan dalam merancang strategi pemasaran. Beberapa kelebihan dari model Segmentation Targeting Positioning
       adalah:

      • Mengarahkan dan memberi fokus pada strategi pemasaran seperti dalam penerapan targeted advertising, pengembangan produk baru atau diferensiasi brand dengan mengalokasikan sumber daya untuk segmentasi target.
      • Mengidentifikasi peluang pertumbuhan pasar dengan melihat pelanggan baru dan penggunaan produk.
      • Mencocokan sumber daya perusahaan yang efektif dan efisien untuk menargetkan segmen pasar yang menjanjikan return on marketing investment yang lebih besar.
      • Meningkatkan posisi perusahaan menjadi lebih kompetitif.

      Cara menerapkan model Segmenting Targeting Positioning

      Seperti yang dijelaskan sebelumnya untuk menerapkan model STP marketing ini kamu harus melakukan 3 langkah, yaitu:

      1. Segmentasi pasar (Segmenting / Segmentation)

      Tahapan segmenting atau segmentation dilakukan dengan membagi pelanggan menjadi sekelompok orang dengan karakteristik dan kebutuhan yang sama.

      Langkah ini dilakukan agar kamu dapat menyesuaikan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing kelompok dengan cara yang lebih efektif dibanding hanya menggunakan satu pendekatan untuk semua pelanggan.

      Untuk melakukan segmentasi pasar, kamu bisa menggunakan pendekatan, seperti:

      ΓÇó Demografis. Mendasarkan pada atribut pribadi audiens seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan atau status perkawinan.

      ΓÇó Geografis. Mendasarkan segmentasi pelanggan berdasar negara, wilayah, kota atau lingkungan tertentu.

      ΓÇó Psikografis. Segmentasi yang didasarkan pada kepribadian, nilai-nilai, atau gaya hidup tertentu.

      ΓÇó Perilaku. Mendasarkan segmen pasar dengan mengelompokkan orang berdasarkan cara mereka menggunakan produk, loyalitas akan produk atau manfaat yang mereka cari.

      2. Menentukan target atau sasaran (Targeting)

      Tahapan kedua dalam model Segmenting Targeting Positioning adalah menentukan segmen mana yang akan menjadi target pemasaran.

      Untuk melakukan langkah ini kamu harus mampu berpikir secara realistis. Kamu harus mengevaluasi potensi dan daya tarik dari segi komersial pada masing-masing segmen yang telah dikelompokkan tadi. Dengan begitu kamu bisa melihat kesesuaian antara sumber daya yang dimiliki dengan target segmen yang dinilai paling potensial membawa keuntungan bagi brand dan perusahaan.

      Untuk mengevaluasi dan memilih target, ada beberapa hal yang harus kamu pertimbangkan, seperti:

      ΓÇó Ukuran. Seberapa besar segmentasi pasar tersebut dan potensinya untuk bertumbuh di masa depan

      ΓÇó Profitabilitas. Segmen mana yang memiliki potensi untuk menghasilkan keuntungan lebih tinggi bagi produk atau layanan kamu? Bagaimana dengan Lifetime Value Customer di segmen tersebut?

      ΓÇó Aksesibilitas. Seberapa mudah atau sulit bagi kamu mencapai segmen target market tersebut dengan pesan pemasaran yang kamu lakukan? Pertimbangkan segala hambatan yang ada ketika kamu harus mengomunikasikan pesan pemasaran ke segmen pasar yang ditargetkan.

      ΓÇó Fokus pada manfaat. Masing-masing segmen membutuhkan manfaat yang berbeda.

      ΓÇó Perbedaan. Harus ada perbedaan terukur antar segmen.

      3. Memposisikan produk (Positioning)

      Tahapan positioning dapat diartikan menentukan bagaimana produk atau brand kamu direpresentasikan dalam benak pelanggan potensial. Tujuannya tentu agar produk atau brand kamu dilihat lebih unggul dari kompetitor.

      Itu sebabnya pada langkah terakhir dalam model STP marketing ini kamu harus mengetahui bagaimana caranya agar dapat memposisikan produk kamu untuk target segmen pasar yang paling menarik dan memiliki potensi keuntungan yang lebih besar tadi.

      Untuk merumuskan positioning, perhatikan beberapa tips berikut:

      ΓÇó Tawarkan solusi. Periksa kembali kebutuhan dan potensi masalah atau hambatan dari masing-masing segmentasi target pasar kamu tadi. Dengan mengetahui hambatan atau potensi masalah yang dihadapi kamu pun bisa merancang pesan yang tepat tentang bagaimana produk atau layananmu dapat menyelesaikan masalah mereka secara lebih efektif.

      ΓÇó Identifikasi Unique Selling Proposition (USP). Temukan jawaban yang tepat dari pertanyaan mengapa pelanggan harus membeli dan menggunakan produk atau layanan kamu tersebut? Pikirkan penawaran yang bisa kamu berikan dan tidak dapat ditemukan pada kompetitor lain.

      ΓÇó Kembangkan kampanye pemasaran yang spesifik pada segmentasi target pasar. Pastikan kamu memberi penawaran menarik yang sulit untuk mereka tolak.

      Nah, kamu sudah semakin paham dengan model Segmenting Targeting Positioning atau yang biasa disebut STP Marketing ini, bukan?

      Pertimbangkanlah untuk memanfaatkan model ini ketika kamu hendak menyusun strategi pemasaran produk atau layanan demi mengembangkan brand dan bisnis perusahaan. Sebab, model STP marketing ini bisa membantumu mengenal target pasar dan pendekatan pemasaran yang lebih tepat dan efektif.

      Sumber:

      • smartinsights.com
      • mindtools.com
      • leadquizzes.com
      • devrix.com

      CORE STRATEGI CONTOH DALAM PARIWISATA,Segmenting, Targeting, Positioning
      SEGMENTASI
      Setelah meninjau data kondisi pasar wisatawan yang berkunjung ke Pantai Ora dalam
      beberapa tahun terakhir, selanjutnya kami membuat segmentasi pasar. Segmenting merupakan proses
      membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok konsumen yang sama. Dalam melakukan segmentasi,
      kami membagi pasar berdasarkan usia, tingkat pengeluaran, geografis, dan psikografis
      1. KIDS

      - KIDS 10 sampai 15

      - Early Adolescen 16 ΓÇô 20 tahun

      - Late Adolescent : 21 ΓÇô 24 tahun

      - Early Adult : 25 ΓÇô 35 tahun

      - Adult : 36 ΓÇô 45 tahun

      - Elderly : > 45 tahun

      2. TINGKAT PENGELUARAN

      - Poor : penduduk dengan pengeluaran di bawah $100,- per bulan

      - Aspirant : penduduk dengan pengeluaran antara Rp $100,- hingga $150,- per bulan.

      - Emerging Middle : penduduk dengan pengeluaran antara $150,- hingga $200,- bulan.

      - Middle : penduduk dengan pengeluaran antara $200,- hingga $300,- per bulan

      - Upper Middle : penduduk dengan pengeluaran antara $300,- hingga $500,- per bulan

      - Affluent : penduduk dengan pengeluaran antara $500,-hingga $750,- per bulan.

      - Elite : penduduk dengan pengeluaran di atas $ 750,- per bulan

      3. GEOGRAVIS

      - Wisatawan Domestik : wisatawan asli Indonesia

      - Wisatawan Mancanegara : wisatawan yang berasal dari luar negara Indonesia

      4. BEHAVIORAL ( TIPE TURIS )

      - Incentive tourists : Turis yang beruntung karena mendapat paket liburan gratis

      - Health or medical tourist : Turis yang pergi ke suatu tempat untuk melakukan special medical treatment.

      - Business tourist : Turis yang melakukan traveling karena keperluan bisnis

      - Education tourists : Turis yang pergi ke suatu tempat untuk keperluan pendidikan

      - Adventure tourists : Turis yang menyukai experience yang menantang

      Cultural tourist : Turis yang mengunjungi suatu tempat karena tertarik dengan

      kebudayaannya
      - Eco-tourists : Turis pecinta lingkungan yang sangat menjunjung go green
      Leisure tourist : Turis yang melakukan traveling untuk mencari kenyamanan, rileks,
      refreshing, dan berhenti sejenak dari kesibukan
      Religious tourist : Turis yang mengunjungi situs keagamaan atau melakukan
      perjalanan rohani
      -  Sport and recreation tourist : Turis yang ikut serta secara aktif dalam kegiatan olah
      raga atau sebagai penonton
      - Backpacking or youth tourist : Sekelompok turis berusia muda dengan budge terbatas, tetapi mereka sangat antusias dalam melakukan traveling dan
       petualangan

      5. PERJALANAN WISATA
      - Sendiri: Turis yang berkunjung dengan seorang diri.
      - Teman: Turis yang berkunjung bersama teman sepermainan secara berkelompok
      - Kolega: Turis yang berkunjung bersama rekan kerja dalam rangka pekerjaan
      - Keluarga: Turis yang berkunjung bersama baik keluarga inti yang terdiri dari anggota keluarga ayah, ibu, dan anak atau juga keluarga besar
      Pasangan: Turis pasangan suami istri yang berkunjung untuk tujuan honeymoon atau
      sekedar rekreasi

      TARGETING

      Berdasarkan segmentasi yang sudah dibuat, maka yang menjadi target market dari program
      - Kategori usia late adolescent, early adult, dan adult denganrentang usia dari 21-45 tahun
      Upper Middle dan Affluent type of spending
      - Kategori geografis yaitu domestik dan mancanegara
      Untuk wisatawan domestik targetnya yaitu wisatawan asal kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar,
      Palembang. Sedangkan turis mancanegara, targetnya adalah wisatawan asal Australia, Asia (ASEAN, Jepang, China, Arab,
      India), Eropa (Belanda,Jerman, Spanyol), Amerika (USA, Kanada, Argentina)
      Kategori behavioral yaitu adventure tourist, cultural tourist, eco-tourist, leisure tourist, sport and recreation tourist, dan backpacking
      or youth tourist, business tourist
      Kategori tipe perjalanan wisata sendiri, dan berkelompok baik
      bersama teman dan keluarga, pasanga

      POSITIONING
      Menjadi destinasi pariwisata bahari dan budaya Maluku Tengah yang menduniaΓÇ¥


  • Mahasiswa Mampu Menjelasakan Digitalisasi Industri Pariwisata

    • Digitalisasi Industri Pariwisata dengan Inovasi  Identitas Digital

      Digitalisasi Industri Pariwisata degan Inovasi Identitas Digital

      Manfaat Identitas Digital bagi Industri Pariwisata 

      Lantas, apa saja manfaat identitas digital untuk inovasi industri pariwisata? Berikut beberapa di antaranya: 

      1. Memungkinkan contactless travel

      Salah satu manfaat utama penerapan identitas digital bagi industri pariwisata adalah munculnya peluang untuk contactless travel atau perjalanan tanpa kontak langsung. 

      Artinya, keseluruhan proses seperti booking hingga check-in hotel dapat dilakukan dari jarak jauh. Praktik ini bahkan telah dilakukan oleh sejumlah penyedia layanan pariwisata di dunia, salah satunya adalah Best Western Hotels & Resorts Australasia

      Mereka menggunakan solusi identitas digital dan teknologi biometrik untuk memangkas proses booking hingga check-in hotel, terutama di tengah pandemi Covid-19.  

      Saat itu, banyak wisatawan merasa khawatir akan penyebaran virus. Namun, dengan adanya sistem contactless menggunakan identitas digital, wisatawan jadi lebih percaya diri untuk menginap di hotel. 

      2. Menawarkan pilihan baru

      Dalam upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, diperlukan penerapan strategi yang tepat bagi sektor akomodasi di Indonesia.  

      Identitas digital menawarkan banyak pilihan baru, salah satunya fasilitas WFH (Work From Hotel).  

      Salah satu strategi untuk membuat sektor akomodasi di tanah air dapat bertahan ini bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para pekerja profesional yang membutuhkan refreshing di tengah kesibukan pekerjaannya. 

      3. Kecepatan pemesanan

      Era digital memungkinkan proses aktivitas menjadi serba cepat dan serba tersedia. Contoh paling umumnya, tidak ada orang yang ingin menunggu lama untuk kegiatan pemesanan tiket pesawat atau hotel. 

      Identitas digital membantu sektor industri yang dituntut untuk menjadi serba cepat, mudah, dan aman sambil tetap menjaga kualitas layanan, termasuk soal pembayaran. 

      Kini, sudah banyak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang beralih ke sistem pembayaran cashless environment (pembayaran digital) menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

      Scan QR code di HP untuk pembayaran di cafe.

      Jumlah merchant yang telah terintegrasi dengan layanan QRIS juga tidak sedikit dengan angka yang mencapai 28,75 juta pengguna hingga Desember 2022.  

      Ke depannya, jumlah merchant yang terintegrasi dengan layanan QRIS akan terus meningkat sehingga memudahkan wisatawan melakukan transaksi cashless

      4. Informasi mengenai tempat wisata

      Sektor pariwisata bisa menggunakan platform media sosial untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia dengan membuat lokasi wisata yang Instagramable.  

      Strategi mempromosikan tempat wisata secara gratis ini dapat membantu meningkatkan jumlah  wisatawan. 

      5. Kemudahan akses akomodasi

      Sektor pariwisata yang menawarkan akses serba digital tentu harus dibarengi dengan kemudahan akses akomodasi lewat smartphone.  

      Hal ini pun memungkinkan wisatawan untuk melakukan check-in hotel secara contactless atau tak perlu bertemu langsung dengan pihak hotel, sehingga lebih cepat dan praktis.  

      Mudahnya akses akomodasi juga ditunjang oleh faktor keselamatan dan kenyamanan saat menginap oleh hotel yang dilengkapi dengan sertifikat CHSE (CleanlinessHealthySafetyand Environmental Sustainability). 

      Demikianlah informasi tentang inovasi industri pariwisata melalui pengaplikasian identitas digital.  


      Sisi Terang dan Gelap Digitalisasi pada Perkembangan Pariwisata Indonesia

      Selain meningkatkan kualitas terhadap destinasi wisata yang sudah ada, digitalisasi memiliki peran penting sebagai alat untuk menggali potensi daerah baru dan meningkatkan daya tarik destinasi tersebut. Mekanisme digitalisasi dalam penggalian potensi suatu daerah yakni sebagai berikut:

      1. Promosi Pariwisata: Digitalisasi memungkinkan destinasi pariwisata untuk mempromosikan diri mereka secara efektif melalui platform online. Dengan menggunakan media sosial, situs web, dan aplikasi pariwisata, destinasi dapat mengunggah informasi, foto, video, dan ulasan pengguna tentang daya tarik wisata, budaya, kuliner, dan aktivitas yang tersedia. Ini membantu destinasi pariwisata dalam menciptakan citra positif dan menarik minat wisatawan.
      2. Aksesibilitas Informasi: Digitalisasi memudahkan wisatawan untuk mengakses informasi tentang destinasi dengan mudah dan cepat. Informasi dapat diperoleh melalui situs web dan aplikasi pariwisata terkait informasi objek wisata, akomodasi, transportasi, dan layanan lainnya, sehingga wisatawan dapat mempersiapkan perjalanan mereka lebih baik.
      3. Pemasaran digital: Pemasaran digital yang efektif dapat membantu destinasi untuk menarik perhatian wisatawan potensial dan meningkatkan kunjungan ke daerah tersebut. Strategi pemasaran yang dapat diterapkan merupakan strategi yang terukur dan tersegmentasi sehingga pemasaran dapat mencapai audiens yang tepat dan relevan.
      4. Kemitraan dan kolaborasi: Melalui platform digital, destinasi dapat berinteraksi dengan pihak terkait seperti pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata lokal, komunitas, dan media. Kemitraan yang kuat dan kolaborasi yang efektif dapat membantu dalam menggali potensi daerah secara holistik dan berkelanjutan.

      Lalu apakah digitalisasi pada sektor pariwisata akan selalu memberikan dampak positif pada perkembangannya?

      Tentu saja tidak. Pada beberapa kondisi, mekanisme digitaliasi mempunyai dampak yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Beberapa dampak negatif digitalisasi terhadap perkembangan destinasi wisata beserta contohnya yaitu sebagai berikut:

      1. Overtourism: Kemampuan teknologi digital mempunyai kemampuan cepat berbagi informasi tentang destinasi wisata yang populer dapat menyebabkan ledakan kunjungan wisatawan ke suatu tempat. Jumlah wisatawan yang melebihi kapasitas lingkungan dan infrastruktur lokal dapat mengakibatkan kerusakan destinasi tersebut, kerusakan budaya, dan peningkatan konflik sosial dengan penduduk setempat. Overtourism juga disebabkan adanya kecenduran sifat FOMO (Fear of Missing Out) diantara sebagian masyarakat yang tidak mau ketinggalan akan suatu hal yang sedang ramai.
      2. Perubahan Perilaku Wisatawan: Munculnya kecenderungan wisatawan saat ini untuk mencari pengalaman yang ΓÇ£instagrammableΓÇ¥ pada suatu destinasi wisata seringkali mengubah motivasi perjalanan pengalaman budaya dan alam menjadi pencarian untuk mengambil foto yang populer di media sosial. Akibatnya, banyak wisatawan kurang peduli dengan dampak lingkungan dan budaya dari tindakan mereka.
      3. Kerusakan Lingkungan: Membludaknya pengunjung yang datang pada saat suatu destinasi viral meningkatkan tekanan pada lingkungan alam sekitar. Contohnya, banyak wisatawan yang mengunjungi tempat viral mengabaikan praktik berkelanjutan dengan benar seperti membuang sampah sembarangan, melanggar aturan pelestarian alam, dan mengganggu kehidupan satwa liar.
      4. Infrastruktur belum memadai: Kondisi viral yang diakibatkan oleh digitalisasi menyebabkan terjadinya poin pertama (overtourism) tanpa diikuti ketersediaan infrastruktur yang memadai untuk menampung wisatawan. Akibatnya lingkungan pariwisata akan semakin rusak dan bahkan dapat menurunkan kualitas hidup penduduk setempat.

      Berikut sebagian contoh destinasi wisata yang rusak setelah viral di media sosial

      Wisata Negeri Di Atas Awan Banten yang Rusak Setelah Viral di Media Sosial | Kompas Regional (https://regional.kompas.com)
      Halaman Rumah Abah Jajang Cianjur Rusak Setelah Viral di Media Sosial | https://www.inews.id/

      Bagaimana cara mengatasinya?

      Dampak negatif digitalisasi terhadap destinasi wisata baru di suatu daerah dapat diatasi dengan kerjasama yang baik dari pihak pemerintah daerah dan masyarakat sendiri sebagai wisatawan. Sebaiknya, pemerintah daerah harus selalu ΓÇ£mawasΓÇ¥ akan potensi daerah yang dimiliki sehingga pengelolaan wisata, pengaturan kuota kunjungan, pembangunan infrastruktur berkelanjutan, promosi pendidikan dan kesadaran lingkungan kepada wisatawan, serta implementasi praktik pariwisata yang bertanggungjawab secara sosial dan lingkungan mampu dilakukan dengan lebih optimal. Kita sebagai masyarakat juga perlu mendukung pariwisata berkelanjutan dengan mengkuti peraturan yang ada, tidak merusak lingkungan, mempromosikan praktik pariwisata yang bertanggungjawab dibarengi dengan pengembangan usaha yang mendukung pariwisata tersebut, serta mendorong partisipasi dan kolaborasi kelompok masyarakat untuk ikut serta menjaga dan mengembangkan wisata sebagai potensi daerah miliknya.

      Potensi Pengembangan Pariwisata Desa melalui Digitalisasi


      ariwisata desa adalah aset yang berharga. Melalui keindahan alam, budaya lokal yang kaya, serta tradisi autentik, pariwisata desa menawarkan pengalaman unik kepada wisatawan yang mencari petualangan dan kedamaian yang jarang ditemukan di kota-kota besar. Namun, hingga saat ini, potensi pariwisata desa belum sepenuhnya dieksplorasi dan dimanfaatkan. Inilah saatnya untuk melihat ke arah digitalisasi pariwisata desa sebagai langkah menuju kemajuan yang lebih besar.

      Pasalnya, digitalisasi telah mempermudah dan mempercepat proses yang ada di berbagai bidang. Digitalisasi pada sektor industri telah berkontribusi pada mudahnya akses informasi yang berimplikasi pada tingginya penjualan. Digitalisasi juga memudahkan dan mengefisiensikan sistem pada sektor pelayanan publik. Sedangkan di bidang kesehatan, digitalisasi dapat mengefektivitaskan sistem yang ada.

      Selain itu, penerapan teknologi dalam sektor pariwisata desa memiliki potensi besar dalam meningkatkan jumlah pengunjung. Digitalisasi pariwisata desa dapat digunakan sebagai sarana promosi untuk menampilkan keindahan dan keunikan yang ditawarkan. Penelitian oleh Bagus Putu Wahyu Nirmala dan rekan-rekannya pada tahun 2020 telah membuktikan bahwa promosi melalui website dan penggunaan teknologi khusus seperti augmented reality dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

      Berbagai penerapan teknologi yang dapat membantu pariwisata desa, di antaranya adalah website, rekomendasi kuliner, hingga penerapan augmented reality untuk pengalaman berwisata yang lebih mengasyikkan. Selain itu, digitalisasi juga dapat merambat pada sistem pembayaran, pendaftaran, dan pendataan pengunjung. Tak hanya itu, kini juga sedang marak penerapan cashless sebagai metode pembayaran di berbagai sektor.

      Digitalisasi pariwisata desa dalam jangka panjang akan berpengaruh pada perkembangan pariwisata desa. Hanya saja, beberapa hal perlu diperhatikan agar penerapannya dapat berjalan dengan lancar dan optimal. Hal-hal tersebut diantaranya adalah inisiasi yang baik untuk memulai digitalisasi pariwisata desa, pelatihan teknologi kepada para pengelola pariwisata, hingga ketersediaan dana untuk memulai digitalisasi ini sendiri. (*)


    • 1,UJIAN DALAM BENTUK KASUS

      2. KASUS DI KERJAKAN DALAM KELOMPOK TETAPI DENGAN PERAN MASING-MASING PEMBAGIAN TUGAS

      3. JAWABAN DALAM SOFT COPI DI KUMPULKAN DI WTHSP GRUP KELAS

      4. MAHASISWA WAJIIB DATANG UNTUK ABSENSI DI JADWAL UJIAN MASING MASING KELAS


  • Mahasiswa Mampu Menjabarkan Dan Mengidentifikasi Dan Menganalisis Peran Pariwisata dalam Pembangunan

    • Peran Industri Pariwisata dalam Pembangunan Pariwisata

      Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat

      Pariwisata merupakan industri perdagangan jasa yang memiliki mekanisme pengaturan yang kompleks karena mencakup pengaturan pergerakan wisatawan dari negara asalnya, di daerah tujuan wisata hingga kembali ke negara asalnya yang melibatkan berbagai hal seperti; transportasi, penginapan, restoran, pemandu wisata, dan lain-lain. Oleh karena itu, industri pariwisata memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata.

      Dalam menjalankan perannya, industri pariwisata harus menerapkan konsep dan peraturan serta panduan yang berlaku dalam pengembangan pariwisata agar mampu mempertahankan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang nantinya bermuara pada pemberian manfaat ekonomi bagi industri pariwisata dan masyarakat lokal. Industri-industri pariwisata yang sangat berperan dalam pengembangan pariwisata adalah: biro perjalanan wisata, hotel dan restoran. Selain itu juga didukung oleh industri-industri pendukung pariwisata lainnya.

      Biro perjalanan wisata merupakan jembatan penghubung antara wisatawan dengan penyedia jasa akomodasi, restoran, operator adventure tour, operator pariwisata dan lain-lain. Umumnya wisatawan menggunakan jasa biro perjalanan wisata dalam menentukan rencana perjalannya (tour itinerary), namun tidak tertutup kemungkinan wisatawan mengatur rencana perjalanannya sendiri. Dalam konteks pengembangan pariwisata, biro perjalanan wisata memiliki beberapa penting antara lain:

      a.mendatangkan wisatawan. Ketidaktahuan wisatawan terhadap destinasi yang akan dikunjungi merupakan faktor pendorong utama untuk menggunakan jasa biro perjalanan wisata sebagai pemandunya;

      b.meminimalisasi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh wisatawan. Biro perjalanan wisata harus memberikan informasi pra perjalanan (pre-tour information), literatur, atau buku panduan lainnya tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di destinasi pariwisata untuk menghindari munculnya dampak-dampak negatif terhadap lingkungan dan kehidupan sosial- budaya masyarakat. Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara menggunakan sistem pengaturan jumlah kunjungan wisatawan dalam skala kecil sehingga bisa mengurangi intensitas sentuhan langsung wisatawan dengan alam dan tidak melebihi daya tampung (over-visited) destinasi pariwisata;

      c.meminimalisasi dampak-dampak yang disebabkan oleh operator penjual produk pariwisata. Ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada para manajer, staf dan karyawan lainnya terhadap pentingnya pelestarian lingkungan dan sosial-budaya masyarakat;

      e.memberikan bantuan dana untuk konservasi alam yang dijadikan sebagai salah satu pruduk atau paket wisata;

      f.memberikan peluang kepada masyarakat lokal untuk bekerja sesuai dengan kompetensinya;

      g.menyediakan paket-paket wisata yang ramah lingkungan.

      Ada empat komponen yang terlibat sebagai penghubung antara wisatawan manca negara dengan obyek pariwisata yaitu; travel agent, outbound tour operator, inbound tour operator dan local service providers. Travel Agent merupakan agen perjalanan wisata yang menawarkan berbagai jenis pelayanan dan paket wisata domestik maupun internasional yang menjual langsung kepada calon wisatawan. Outbound Tour Operator merupakan operator perjalanan wisata yang secara khusus menjual paket wisata yang lengkap (complete tour package) ke luar negeri. Paket wisata, kegiatan wisata, dan jadwal keberangkatan dan kedatangannya sudah terprogram secara matang dan dibuat di dalam satu brosur, pamplet dan website yang berisi tentang semua informasi tentang paket tersebut. Outbound tour operator bekerjasama dengan inbound tour operator yang berada di 

      daerah tujuan wisata yang menangani wisatawan dan menyediakan semua pelayanan paket wisata yang dijualnya. Inbound tour operator merupakan operator tour internasional yang berada di daerah tujuan wisata yang menyediakan semua pelayanan kepada wisatawan mulai dari kedatangan di daerah tujuan wisata yang dikunjungi hingga keberangkatan ke negara asal wisatawan. Local Service Providers merupakan komponen lokal penyedia saranan penunjang pariwisata seperti; akomodasi, transportasi lokal, pemandu wisata lokal, toko kerajinan dan cindramata. Semua komponen lokal ini dikelola berbasiskan kemasyarakatan.

      KOLABORASI DAN SINERGITAS DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA LAMPUNG MENUJU  DESTINASI UNGGULAN


      Pengembangan Pariwisata Daerah | PPT

      Peran Golden Triangel dalam keberhasilan Pengembangan Desa Wisata |  Institut Pariwisata Trisakti

      Peranan Pariwisata dalam Bidang Sosial-Ekonomi (Modul 2) | PPT


      Sumber:
      Subadra, I Nengah. 2006. Ekowisata Hutan Mangrove dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

  • Memahami cara mengukur pendapatan nasional

    • http://repository.poltekparmakassar.ac.id/462/1/Book%20-%20Adaptasi%20Inovasi%20dan%20Kolaborasi.pdf

      https://www.researchgate.net/profile/Fauziah-Eddyono/publication/350513025_Pengelolaan_Destinasi_Pariwisata/links/6063ec37a6fdccbfea1a5d3e/Pengelolaan-Destinasi-Pariwisata.pdf

      http://repo.ppb.ac.id/297/1/Inovasi_Adaptasi_Kreasi_Kolaborasi_Bagi_Negeri.pdf


      Mengenal Fase-Fase Pengembangan Destinasi Melalui Tourist Area Life Cycle (TALC)

      Pengembangan Destinasi Melalui Tourist Area Life Cycle (TALC)

      ika ditilik secara mendalam, ilmu kepariwisataan dalam konteks pembangunan banyak beririsan dengan bidang ilmu lainnya. Terkadang dalam mengembangkan suatu destinasi wisata, banyak aspek yang harus diperhatikan mulai dari faktor sosial budaya masyarakat, dampak lingkungan ekologis, pemasaran destinasi, branding, infrastruktur dan tata wilayah, arsitektur, transportasi, pengelolaan sampah, teknologi, kebijakan, sampai ilmu hukum. Hal inilah yang menyebabkan pariwisata dianggap sebagai ilmu multi disiplin yang kompleks (Lihat Gambar 1). Terkadang dalam menyusun perencanaan masterplan dan rancangan induk pariwisata hanya dilihat dari satu sisi keilmuan saja, sehingga pada implementasi secara jangka panjang akan bermasalah. Pola pendekatan yang top-down dengan bidang keilmuan yang tidak menyeluruh cenderung sulit untuk merangkul masyarakat yang pada akhirnya malah membahayakan keberlanjutan dan eksistensi suatu destinasi.

      Tourism Studies 1


      Mungkin pertanyaan yang sering kali muncul adalah apakah suatu pola pendekatan pembangunan dapat diterapkan secara seragam di semua destinasi? Seringkali dikarenakan faktor target dan menjadi prioritas pemerintah pusat, pendekatan bottom-up yang menjadikan masyarakat aktor penting malah kurang dilibatkan dalam perencanaan destinasi. Sehingga hal ini malah menjadi potensi konflik baru yang dapat merugikan banyak pihak. Namun, ada juga di daerah tertentu yang malah pola pendekatan top-down manjadi solusi efektif. Hal ini akan erat kaitannya dengan posisi dan di fase mana destinasi tertentu berada yang dapat digambarkan dengan permodelan Tourist Area Life Cycle (TALC) yang diciptakan oleh Butler (1978) ΓÇô Lihat Gambar 2.

      TALC
      Gambar 2: Tourist Area Life Cycle (TALC) by Richard Butler (1978)

      Model fase TALC merupakan model yang dikembangkan dari keilmuan pemasaran dan bisnis melalui model Product Life Cycle (PLC)-nya yang sangat terkenal dikalangan product manager dan pemasar. Mungkin agak terkesan rumit, namun model TALC ini justru sangat membantu pengelola destinasi untuk mengetahui daerahnya di fase mana. TALC adalah model linear sederhana yang dikategorikan menjadi 6 fase, yaitu:

      1. Fase Explorasi (Exploration)

      Fase ini adalah fase dimana suatu daerah baru mulai akan mengembangkan daerahnya menjadi destinasi wisata. Jenis atraksinya mayoritas bertemakan alam dan budaya yang belum dikembangkan secara serius. Fase ini merupakan fase awal ketika pemerintah daerah dan masyarakatnya mulai memikirkan untuk mengembangkan pariwisata daerahnya, melihat potensi yang dimilikinya. Inilah waktu yang tepat dimana perencanaan visi pariwisata (tourism visioning) mulai dipikirkan. Contoh daerah yang masuk tahap ini adalah Kawasan Ekonomi Khusus yang baru ditetapkan oleh pemerintah seperti KEK Tanjung Gunung di Pulau Bangka.

      1. Fase Keterlibatan (Involvement)

      Fase ini merupakan fase dimana pengembangan destinasi wisata mulai serius dilakukan dan sektor pariwisata mulai dijadikan sebagai sumber pemasukan. Homestay mulai berkembang, investor mulai tertarik untuk berbisnis, pemerintah dituntut untuk mengembangkan infrastruktur dasar seperti jalan, bandara, fasilitas kesehatan, dan program pemberdayaan masyarakat. Pada fase ini juga sudah mulai terlihat musim kunjungan wisatawan. Selain itu sering terjadi kontak antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Contoh daerah yang termasuk fase ini adalah Kabupaten Kendal yang mulai mengembangkan pariwisatanya dibawah kepemimpinan Bupati baru.

      1. Fase Pengembangan (Development)

      Pada fase ini, pasar wisatawan sudah terdefinisi dengan baik. Kontrol dan keterlibatan masyarakat mulai berkurang akibat adanya campur tangan pemerintah pusat dalam pengembangan pariwisata dan infrastruktur. Atraksi utama mulai dikembangkan. Investor asing mulai masuk yang terdorong karena adanya pertumbuhan angka kunjungan wisatawan yang tinggi serta adanya potensi pasar wisatawan baru. Contoh destinasi yang masuk di fase ini adalah Mandalika, Lombok yang sedang mengembangkan Sports Tourism dengan sirkuit MotoGP Mandalika.

      1. Fase Konsolidasi (Consolidation)

      Saat fase konsolidasi, pertumbuhan pariwisata mulai melambat. Hal ini bisa berarti dua kemungkinan. Yang pertama perlambatan ini disengaja karena pengelola destinasi ingin membatasi kunjungan dengan memberlakukan carrying capacity untuk menekan dampak negatif bagi destinasi. Selain itu juga bisa jadi pengelola ingin merubah segmen pasar menjadi lebih eksklusif. Kemungkinan yang kedua perlambatan tersebut tidak disengaja dikarenakan kejenuhan pasar dan kurangnya inovasi produk. Contoh destinasi yang tergolong fase ini adalah Labuan Bajo dengan Komodonya. Pemerintah pusat mencanangkan destinasi ini menjadi super premium yang mana hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga kelestarian ekosistem dan kelangsungan hewan dilindungi Komodo agar terhindar dari arus pariwisata massal.

      1. Fase Stagnan (Stagnation)

      Fase stagnan ditujukan untuk destinasi yang berada pada titik jenuh. Dampak dari pariwisata massal sangat jelas terlihat seperti sampah, degradasi sosial budaya, dan juga kebocoran ekonomi (economic leakage) yang tinggi. Akibatnya destinasi wisata jika tidak melakukan inovasi atau memikirkan ulang terhadap pola pembangunannya, wisatawan loyal tidak akan berkunjung lagi dan berpotensi menyebabkan penurunan jumlah kunjungan atau fase decline. Contoh destinasinya yang sedikit banyak menunjukan gejala ini adalah Bali Selatan dengan Kuta dan Legian-nya.

      1. Fase Peremajaan (Rejuvenation) & Penurunan (Decline)

      Ada dua kemungkinan jika suatu destinasi sudah terjebak dalam fase stagnan. Pertama adalah terjadi penurunan atau declining dan yang kedua adalah melakukan inovasi dan berhasil masuk ke fase peremajaan. Peremajaan dan inovasi adalah fase yang dibutuhkan untuk dapat bertahan setelah fase stagnan. Hal ini sangat bergantung terhadap perencanaan yang matang dan rencana aksi yang syarat inovasi dan adaptif. Contoh yang dapat dilakukan oleh destinasi adalah pengembangan atraksi baru, pembangunan kepariwisataan berbasis pariwisata berkelanjutan, perubahan target pasar wisatawan, atau bisa juga dilakukan perubahan menengah dengan melakukan penyesuaian dan peningkatan terhadap fasilitas dan infrastruktur pariwisata.

      Maka dari itu, hal yang pertama harus dilakukan oleh pengelola destinasi baik swasta maupun pemerintah adalah mengenali terlebih dahulu dimana destinasi Anda berada. Selanjutnya adalah menentukan strategi dan rencana aksi yang disesuaikan dengan fasenya masing-masing. Wise Steps Consulting dalam menyusun strateginya selalu berkiblat kepada model TALC ini sehingga saran dan rekomendasinya dapat sesuai dengan kondisi klien kami.

      By: Mochamad Nalendra, S.E., MISTM



  • Mahasiswa Mampu Mengidentifikasi Dan Menganalisis Kebijakan dan Strategi Pembangunan Pariwisata

    • Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Parekraf

      Pengertian, Tujuan, dan Manfaat RIPPARDA untuk Pembangunan Pariwisata Daerah

      Tujuan akhir Kemenparekraf/Baparekraf adalah meningkatnya kontribusi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap ketahanan ekonomi nasional. Sektor ini diharapkan menjadi salah satu solusi cepat dalam meningkatkan ketahanan ekonomi nasional dalam mewujudkan Visi Presiden tahun 2024.

      Tujuan akhir tersebut dapat terwujud melalui pariwisata yang berkualitas (quality tourism experience), pariwisata yang berbasis ekonomi kreatif maupun pertumbuhan nilai tambah ekonomi kreatif yang diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi nasional.

      Hal ini dapat terwujud melalui pembangunan 5 pilar strategis pariwisata dan ekonomi kreatif, yaitu Pilar destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif, Pilar pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif, Pilar industri pariwisata dan ekonomi kreatif, Pilar SDM dan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif serta Pilar kreativitas. Untuk lebih jelasnya kelima pilar tersebut dapat diterangkan secara visual pada gambar berikut.


      Gambar: Kerangka Strategis Kemenparekraf 2020-2024


      Pilar pertama terkait destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif, dimana pilar ini menekankan pada pengembangan produk ekonomi kreatif berbasis Kawasan Ekonomi Kreatif dan Klaster Penguatan Ekonomi Kreatif. Pengembangan jumlah maupun jenis produk ekonomi kreatif akan mampu menggerakkan roda perekonomian nasional. Selain itu, pada pilar ini juga akan dilakukan pengembangan destinasi pariwisata berkualitas berdasarkan prioritas. Destinasi pariwisata berkualitas yang dimaksud adalah destinasi pariwisata yang mampu memenuhi unsur 3A, yaitu Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas yang saling terkait satu dengan yang lainnya.

      Pilar ini menegaskan pentingnya diversifikasi produk pariwisata untuk meningkatkan length of stay, dimana tidak hanya produk pariwisata baru yang dihasilkan, melainkan juga pasar baru yang belum disentuh selama ini melalui produk baru tersebut. Selain itu, pilar ini juga menekankan pentingnya untuk penerapan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan sebagai pedoman pengembangan Destinasi Pariwisata.

      Pilar kedua adalah pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemasaran merupakan salah satu komponen penting dimana upaya pemasaran dilakukan guna menciptakan kebutuhan pelanggan akan produk pariwisata dan ekonomi kreatif.

      Dalam konteks pariwisata, pemasaran dilakukan terhadap ceruk pasar (niche market) untuk wisatawan mancanegara premium, yaitu menargetkan segmen wisatawan dengan belanja atau pengeluaran yang besar. Hal ini dilakukan melalui pemasaran produk pariwisata MICE, yaitu Meeting, Incentives, Conferencing dan Exhibition maupun melalui wisata minat khusus seperti diving, trekking, river cruising, dll.

      Pembangunan citra pariwisata nasional sebagai salah satu destinasi wisata dunia juga penting mengingat citra menjadi faktor utama dalam menentukan wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Sedangkan dalam konteks ekonomi kreatif, paradigma pemasaran yang dilakukan adalah perluasan pangsa pasar produk ekonomi kreatif.

      Pengembangan pasar dari narrow market menjadi broader market akan dilakukan secara masif, baik melalui regulasi yang berpihak kepada masyarakat maupun melalui pemberdayaan masyarakat yang bergerak di bidang ekonomi kreatif.

      Pilar ketiga adalah industri pariwisata dan ekonomi kreatif, dimana pertumbuhan dan pengelolaan industri pariwisata dan ekonomi kreatif juga merupakan salah satu kunci penting dalam mewujudkan tujuan akhir Kemenparekraf/ Baparekraf. Pilar ini menitikberatkan pada pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif yang mencakup 13 bidang usaha pariwisata dan 17 sub sektor ekonomi kreatif.

      Tata kelola industri pariwisata dan ekonomi kreatif juga penting untuk dilakukan, khususnya dalam menciptakan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang kondusif dan sinergis.Selain itu, investasi pendanaan, dan akses pembiayaan industri pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan hal lain yang perlu diperhatikan dalam memperkuat ekosistem maupun pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

      Pilar keempat adalah SDM dan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif. SDM merupakan strategic weapon yang menentukan keberhasilan organisasi. Pengembangan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif dilakukan melalui optimasi pendidikan dan pelatihan vokasi untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

      Selain itu, sertifikasi profesional juga menjadi upaya lain dalam menjamin kualifikasi SDM pariwisata dan ekonomi kreatif secara kompetensi. Selain SDM, pengembangan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif juga penting dilakukan untuk meningkatkan partisipasi komunitas dalam menggembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif.

      Pilar terakhir adalah kreativitas, dimana terdapat 2 isu terkait pilar ini.

      Isu pertama adalah terkait perlindungan terhadap hasil kreativitas dan kekayaan intelektual di Indonesia. Pemerintah perlu turun tangan untuk memastikan jaminan perlindungan hukum atas hasil kreativitas dan kekayaan intelektual masyarakatnya sehingga menjadi pemicu untuk menumbuhkembangkan kreativitas. Selain itu, perlu dilakukan juga upaya dalam mendorong munculnya kreasi masyarakat dalam menciptakan nilai tambah ekonomi kreatif berbasis budaya dan IPTEK.

      Kelima pilar ini perlu dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan dalam mewujudkan tujuan pariwisata dan ekonomi kreatif nasional. Namun kelima pilar ini perlu ditopang oleh pondasi yang kuat, agar bisa berdiri dan terlaksana sesuai rencana. Pondasi tersebut adalah aspek manajerial dalam organisasi yang menjadi aset strategis Kemenparekraf/Baparekraf, yaitu:

      • Riset dan inovasi pariwisata dan ekonomi kreatif

      • Regulasi yang mendukung pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif nasional

      • Adopsi teknologi informasi dan komunikasi secara tepat guna

      • Reformasi Birokrasi Kemenparekraf/Baparekraf

      Arah Kebijakan dan Strategi

      Arah Kebijakan 1: Pengembangan destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif bernilai tambah dan berdaya saing

      Strategi yang dilakukan terkait arah kebijakan ini adalah:

      1. Strategi 1: Mengembangkan produk ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual pada Kawasan Ekonomi Kreatif dan Klaster Penguatan Ekonomi Kreatif.

      Strategi ini merupakan upaya dalam meningkatkan kualitas produk ekonomi kreatif melalui pengembangan produk ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual. Pengembangan produk dilakukan berbasis kekayaan intelektual pada Kawasan Ekonomi Kreatif maupun Klaster Penguatan Ekonomi Kreatif yang akan dibangun.

      2. Strategi 2: Meningkatkan kesiapan destinasi pariwisata berdasarkan Prioritas secara komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan

      Strategi ini menekankan kepada pengembangan dan pengelolaan destinasi pariwisata nasional dalam menarik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

      Pengembangan dan pengelolaan destinasi dilakukan secara komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan yang dilakukan berdasarkan prioritas sesuai permintaan pasar. Terlebih lagi dengan kondisi New Normal setelah Pandemi Covid-19, diperlukan kesiapan Destinasi untuk memperhatikan aspek kebersihan, keselamatan, dan keamanan, serta implementasi protokol kesehatan. Selain itu Visitor Management juga memainkan peranan penting dalam upaya pengelolaan destinasi pasca Covid19.


      3. Strategi 3: Diversifikasi produk pariwisata yang bernilai tambah tinggi

      Strategi ini menitikberatkan pada pengembangan produk pariwisata yang mempunyai nilai tambah tinggi serta unik, sehingga menarik minat wisatawan. Selain itu, pengembangan produk wisata tersebut harus mendukung pelestarian lingkungan, pelestarian budaya, serta melibatkan masyarakat lokal.

      Arah Kebijakan 2: Pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kemitraan strategis (strategic partnership)

      Strategi yang dilakukan terkait arah kebijakan ini adalah:

      1. Strategi 4: Pemasaran Pariwisata dan ekonomi kreatif berorientasi hasil dengan fokus pasar potensial

      Strategi pemasaran pariwisata yang digunakan adalah menggarap ceruk pasar (niche market) wisatawan mancanegara premium, yaitu wisatawan dengan pengeluaran yang tinggi selama berada di destinasi wisata. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan nilai transaksi wisatawan dibanding dengan volume atau jumlah wisatawan yang datang. Strategi ini dilakukan melalui promosi Meeting, Incentives, Conference and Exhibition (MICE) kepada wisatawan di dalam maupun di luar negeri. Selain itu strategi ini juga dilakukan dengan mengembangkan wisata minat khusus yang menarik wisatawan dengan spending yang besar seperti diving, trekking, river cruising dll.


      2. Strategi 5: Perluasan pangsa pasar produk ekonomi kreatif

      Strategi ini menekankan pada perluasan segmen pasar untuk produk-produk ekonomi kreatif.

      Perluasan pasar yang dilakukan tidak hanya pangsa pasar dalam negeri, namun juga pangsa pasar luar negeri. Perluasan pangsa pasar produk ekonomi kreatif diharapkan dapat meningkatkan jangkauan maupun transaksi produk ekonomi kreatif Indonesia sehingga mampu berkontribusi lebih dalam mewujudkan pondasi ketahanan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

      3. Strategi 6: Meningkatkan citra pariwisata Indonesia berdaya saing

      Strategi ini menitikberatkan pada pembangunan citra (branding) pariwisata nasional meliputi citra bangsa (national branding), citra daerah/wilayah di Indonesia (regional branding) maupun citra destinasi pariwisata Indonesia (destination branding). Pengembangan citra dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan, peningkatan awareness hingga citra pariwisata Indonesia menjadi top of mind tujuan pariwisata dunia. Tentunya tidak semua destinasi membutuhkan branding. Beberapa destinasi yang sudah menjadi branded destination hanya memerlukan pemeliharaan untuk menjaga agar citra tersebut tetap baik. Sedangkan beberapa destinasi yang belum dikenal, khususnya destinasi pariwisata baru, memerlukan upaya pencitraan yang lebih komprehensif sesuai segmen pasar yang ditargetkan.

      Dalam rangka memasarkan destinasi (destination marketing) dapat melalui penyelenggaraan event (baik event dalam negeri maupun event luar negeri) untuk membangun pasar dan meningkatkan daya saing suatu destinasi. Diharapkan citra suatu destinasi akan lebih baik dalam persepsi pengunjung melalui penyelenggaraan event.

      Pembangunan citra pariwisata yang dilaksanakan Kemenparekraf/Baparekraf merupakan bagian dari Kampanye Pencitraan Indonesia yang merupakan suatu upaya membangun gambaran atau citra positif Indonesia terhadap Barang dan/atau Jasa, Pariwisata, dan Penanaman Modal di dalam dan di luar negeri melalui single nation branding. Dengan adanya single nation branding yang kuat diharapkan akan dapat menarik wisatawan dan investasi asing.

      4. Strategi 7: Pemanfaatan teknologi dalam mendukung pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif

      Kehadiran teknologi berperan penting dalam mempermudah kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbagai hal, salah satunya sektor pariwisata.

      Perubahan perilaku wisatawan terlihat ketika search and share 70% sudah melalui perangkat digital.

      Terutama perilaku generasi Y dan Z yang semakin digital dalam kehidupan sehari-harinya yang dikenal dengan always connected travelers yang artinya dimanapun berada dan kapanpun bisa saling terkoneksi menggunakan device maupun mobile.

      Oleh karenanya, digital marketing akan digunakan dalam pemasaran pariwisata dengan berkolaborasi dengan konten creator dan influencer. Digital marketing akan dilaksanakan di paid media, owned media, social media dan endorser. Selain itu, promosi juga akan dilakukan dengan menggunakan film sebagai media promosi dengan bekerjasama dengan para film maker. Promosi pariwisata melalui film dapat memberikan dampak positif bagi destinasi wisata yang dimunculkan dalam film, antara lain adanya peningkatan yang signifikan dalam sektor pariwisata, mulai dari awareness masyarakat terhadap destinasi wisata, peningkatan popularitas, sampai pada peningkatan jumlah pengunjung wisata tersebut.

      Arah Kebijakan 3: Pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif terintegrasi

      Strategi yang dilakukan terkait Pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif terintegrasi adalah:

      1. Strategi 8: Mengembangkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif (13 bidang usaha pariwisata dan 17 sub sektor ekonomi kreatif).

      Strategi ini merupakan pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Pertumbuhan pariwisata dan ekonomi kreatif akan sulit terwujud jika industri tidak terbangun dan berdaya saing. Pertumbuhan industri pariwisata mencakup 13 bidang usaha pariwisata sedangkan industri ekonomi kreatif mencakup 17 sub sektor ekonomi kreatif, dimana paradigma pertumbuhan mengacu pada pengembangan industri 4.0 di Indonesia. Termasuk melakukan penyesuaian model bisnis pasca Covid19.

      2. Strategi 9: Meningkatkan tata kelola pariwisata dan ekonomi kreatif nasional

      Strategi ini merupakan upaya dalam mewujudkan tata kelola pariwisata maupun industri ekonomi kreatif sesuai kaidah tata kelola organisasi yang baik (good corporate governance).

      Strategi ini juga mencakup penciptaan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif agar i ntegrasi pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif dapat terwujud. Pembangunan tata kelola dimulai dengan awareness terhadap pentingnya tata kelola hingga memastikan kepatuhan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap tata kelola organisasi yang baik tersebut.

      3. Strategi 10: Mendorong peningkatan investasi, pendanaan, dan akses pembiayaan secara merata di industri pariwisata dan ekonomi kreatif

      Dalam pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, peran investasi, pendanaan maupun akses pembiayaan sangat penting khususnya dalam memulai usaha. Strategi ini fokus pada upaya mendapatkan investasi, baik dalam maupun luar negeri. Serta upaya mendapatkan pendanaan dan akses pembiayaan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif secara merata sehingga diharapkan dapat mendukung tercapainya pemerataan ekonomi.

      Arah Kebijakan 4: Pengelolaan SDM dan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif dalam mewujudkan SDM yang unggul dan berdaya saing

      Strategi yang dilakukan terkait arah kebijakan ini adalah:

      1. Strategi 11: Optimasi kelembagaan maupun kurikulum Pendidikan dan Pelatihan vokasi pariwisata dan ekonomi kreatif

      Pendidikan dan pelatihan vokasi yang dilakukan akan mampu menghasilkan SDM yang siap bekerja sesuai bidang keahliannya. Strategi ini menitikberatkan pada optimasi pendidikan dan pelatihan vokasi pariwisata dan ekonomi kreatif, baik kelembagaan pendidikan dan pelatihannya, maupun kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Sehingga diharapkan akan dihasilkan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif yang unggul dan berdaya saing.

      2. Strategi 12: Meningkatkan sertifikasi kompetensi SDM pariwisata dan ekonomi kreatif

      Dalam mewujudkan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif yang kompeten dan profesional, dibutuhkan sertifikasi kompetensi SDM yang dilakukan secara akuntabel dan sesuai kebutuhan.

      Strategi ini menekankan pada program sertifikasi SDM pariwisata dan ekonomi kreatif dalam mewujudkan SDM yang kompeten dan profesional tersebut. Strategi ini dilakukan melalui kolaborasi dengan instansi terkait sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

      3. Strategi 13: Melakukan penguatan komunitas dan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif

      Strategi ini fokus kepada penguatan komunitas maupun kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif. Peran masyarakat sangat penting dalam pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif. Berjalannya komunitas dan kelembagaan masyarakat di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif akan mampu mendorong pertumbuhan bidang ini secara signifikan, merata dan menyeluruh.

      Tentunya strategi ini tidak hanya mengupayakan pembentukan kelembagaan maupun komunitas baru, namun juga mengupayakan kelembagaan dan komunitas masyarakat tersebut aktif dan menjalankan peran penting dalam menumbuhkembangkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif nasional.

      Dalam pelaksanaannya penguatan komunitas dan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif mempertimbangkan pengarustamaan gender. Terutama dalam peningkatan kapasitas perempuan untuk terlibat dalam mata rantai usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

      Arah Kebijakan 5: Mewujudkan kreativitas anak bangsa dengan berorientasi kepada pergerakan ekonomi kerakyatan

      Strategi yang dilakukan terkait arah kebijakan ini adalah:

      1. Strategi 14: Meningkatkan perlindungan terhadap hasil kreativitas dan kekayaan intelektual

      Salah satu upaya untuk memastikan keberlanjutan hasil kreasi anak bangsa adalah melalui perlindungan terhadap hasil kreativitas dan kekayaan intelektual. Strategi ini merupakan strategi khusus sebagai upaya terintegrasi dalam melindungi hasil kreativitas maupun kekayaan intelektual yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia. Perlindungan dilakukan utamanya terhadap hasil kreativitas dan kekayaan intelektual yang memiliki nilai strategis dan ekonomis.

      2. Strategi 15: Mendorong kreasi dalam menciptakan nilai tambah ekonomi kreatif berbasis budaya dan IPTEK

      Strategi ini merupakan upaya dalam mendorong terciptanya kreasi anak bangsa untuk menciptakan nilai tambah ekonomi kreatif. Kreasi yang diciptakan merupakan ide atau gagasan orisinil buah hasil pemikiran yang dilandaskan pada budaya Indonesia maupun perkembangan IPTEK.

      Strategi ini merupakan upaya terintegrasi yang melibatkan instansi pemerintah lain, baik pusat maupun daerah, serta sektor private dan masyarakat.

      Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah daerah diharapkan membuat Roadmap Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah dengan memperhatikan potensi daerahnya.

      Arah Kebijakan 6: Mendorong riset, inovasi, adopsi teknologi, serta kebijakan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkualitas

      Strategi yang dilakukan terkait arah kebijakan ini adalah:

      1. Strategi 16. Mendorong riset dan inovasi terkait pengembangan destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah dan daya saing

      Strategi ini merupakan upaya dalam mendorong riset dan inovasi khususnya dalam pengembangan destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif. Riset dan inovasi dilakukan dengan terencana dalam mendukung keseluruhan pilar strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

      Orientasi utama riset dan inovasi adalah pemanfaatan hasil riset dan inovasi untuk pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pariwisata dan ekonomi kreatif.

      2. Strategi 17: Adopsi teknologi informasi dan komunikasi terkini secara efektif dan efisien.

      Salah satu pondasi yang penting dalam melaksanakan keseluruhan pilar strategis Kemenparekraf/Baparekraf adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Strategi ini menekankan pada adopsi dan pemanfaatan TIK terkini secara efektif dan efisien sebagai enabler pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Terutama di era digital ini, di mana semuanya saling terhubung (turis, hotel, mobil sewaan, restoran, reservasi atraksi, dll), teknologi baru dan analisis data akan sangat penting bagi pariwisata untuk beradaptasi dengan model konsumsi baru (new consumption models).

      Selain itu, pemanfaatan analisis Big Data dan Artificial Intelligent akan membantu Kemenparekraf/Baparekraf untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang pola perjalanan wisatawan, spending behavior, dll yang akan digunakan untuk penyusunan strategi pemasaran yang lebih efektif dan pengambilan kebijakan strategis lainnya

      3. Strategi 18: Mengelola kebijakan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis penelitian sesuai kebutuhan pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif nasional

      Pengelolaan kebijakan berbasis penelitian dan pengembangan merupakan upaya peningkatan kualitas perumusan dan penyusunan regulasi pariwisata dan ekonomi kreatif. Seringkali regulasi menjadi hambatan penyelenggaraan pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga pengelolaan regulasi berbasis penelitian dan pengembangan diharapkan dapat mendorong perumusan regulasi pariwisata dan ekonomi kreatif yang efektif dan efisien.

      Strategi ini dilakukan melalui perumusan grand design penelitian pariwisata dan ekonomi kreatif yang juga mencakup aspek regulasi. Selain itu, strategi ini juga dilakukan dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

      Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Manokwari  Selatan Tahun 2019-2033

      Pengembangan Pariwisata Daerah | PPT

      Pengembangan Pariwisata Daerah | PPT

      Pengembangan Pariwisata Daerah | PPT

      PEMBANGUNAN PARIWISATA - ppt download

      Sumber: Permenparekraf No. 12/2020 tentang Renstra Kemenparekraf 2020-2024

  • Mahasiswa Mampu Mengidentifikasi Dan Menganalisis Konsep Pemasaran Pariwisata

    • Strategi Pemasaran Pariwisata Agar Tempat Wisata Ramai Dikunjungi


      Pemasaran merupakan kegiatan untuk terjadinya proses transaksi antara pemilik jasa/barang dengan konsumen. Sedangkan pemasaran pariwisata diartikan sebagai suatu usaha untuk memudahkan terjadinya transaksi pariwisata bagi suatu golongan masyarakat yang berbeda-beda. Dalam hal ini, pemasaran juga dipandang sebagai proses manajemen suatu badan usaha kepariwisataan untuk mempengaruhi wisatawan agar mengunjungi tempat wisatanya.

      Tujuan pemasaran memiliki arti yang berbeda dengan target pasar. Hal ini karena tujuan pemasaran berfokus pada ungkapan filosofis yang ditegaskan oleh badan usaha tertentu. Sedangkan target pemasaran merupakan hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh badan usaha tersebut.

      Pentingnya Strategi Pemasaran Pariwisata

      Strategi pemasaran khususnya dalam bidang pariwisata  sangat perlu untuk dilakukan mengingat banyaknya pesaing yang ada. Salah satu strategi pemasaran yang dapat dilakukan dan dinilai sangat ampuh untuk dilakukan yaitu promosi. Dalam kegiatan promosi seperti pemasangan iklan dan promosi penjualan, suatu badan usaha dapat memperbesar daya tarik produknya kepada wisatawan.

      Dengan adanya strategi pemasaran maka para wisatawan akan tahu wisata baru apa yang sedang muncul dan populer. Selain itu, dengan strategi pemasaran yang benar, tempat wisata yang dipromosikan akan berkembang lebih baik dan lebih ramai lagi. Strategi ini membantu para wisatawan untuk mengetahui informasi detail tentang suatu tempat wisata.

      Terlepas dari beberapa hal di atas, strategi pemasaran bidang pariwisata membuat tempat wisata memiliki pengawasan yang lebih efektif. Hal ini karena pengelola wisata ingin terus mengembangkan tempat wisata sehingga pengawasan perlu ditingkatkan untuk menciptakan tempat wisata yang nyaman. Strategi pemasaran ini membuat target serta tujuan tempat wisata menjadi lebih terarah.

      Strategi Pemasaran Pariwisata

      Terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam menyusun strategi pemasaran suatu produk atau jasa. Hal ini berkaitan dengan strategi untuk membuat tempat wisata dapat dikunjungi oleh banyak orang sehingga pengelola tempat wisata memperoleh keuntungan. Berikut adalah strategi pemasaran dalam bidang pariwisata untuk membuat tempat wisata menjadi ramai dikunjungi wisatawan.

      1. Membangun Identitas Tempat Wisata

      Salah satu strategi pemasaran yang perlu dipersiapkan adalah membangun identitas tempat wisata. Dalam strategi ini, pengelola wisata dapat mengumpulkan informasi mengenai hal-hal apa saja yang akan ditawarkan kepada wisatawan. Selain itu, pengelola juga perlu menggali informasi mengenai hal yang membuat tempat wisatanya berbeda dengan tempat wisata lain.

      Dalam membangun identitas suatu tempat wisata diperlukan informasi yang mendetail mengenai sejarah dan alasan mengapa tempat wisata itu ada. Identitas tempat wisata ini dapat menarik para wisatawan untuk datang mengunjungi tempat wisata karena rasa penasaran akan sejarah tempat wisata tersebut.

      Dengan adanya identitas yang pasti tempat wisata itu menjadi terarah dalam hal siapa saja yang dapat mengunjungi tempat wisata tersebut. Selain itu, membangun identitas juga membuat tempat wisata menjadi jelas bagi para wisatawan untuk mengetahui mengapa mereka perlu mengunjunginya. Tempat wisata yang unik dan berbeda selalu menjadi incaran para wisatawan.

      2. Menentukan Target Pasar

      Strategi pemasaran pariwisata selanjutnya adalah menentukan target pasar. Penentuan ini membantu pengelola mengetahui kepada siapa mereka perlu memasarkan tempat wisatanya. Target pasar sangat berpengaruh bagi keberlangsungan suatu tempat wisata. Penentuan target pasar yang tepat sangat mempengaruhi banyak sedikitnya wisatawan yang datang.

      Selain itu, proses pemasaran serta promosi suatu tempat wisata juga tergantung pada siapa tempat wisata itu ditujukan. Target pasar yang jelas akan sangat membantu dalam proses pemasaran sehingga dapat menaikkan jumlah wisatawan. Kesalahan penentuan target pasar dapat berakibat fatal. Hal ini karena dapat membuat tempat wisata sepi pengunjung.

      Dalam penentuannya diharapkan pengelola dapat bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mengetahui target pasar yang sesuai dengan tempat wisatanya. Selain itu, pengelola juga dapat mengetahui pasaran yang ramai saat ini seperti apa dari mereka. Hal ini juga dapat memudahkan pengelola dalam menentukan target pasar.

      3. Menetapkan Harga

      Penetapan harga merupakan salah satu strategi pemasaran yang penting untuk dilakukan. Harga mencerminkan fasilitas apa saja yang diberikan kepada pengunjung serta pengunjung kalangan seperti apa yang dapat menikmati tempat wisata tersebut. Biaya yang perlu dikeluarkan oleh pengunjung ketika mengunjungi suatu tempat wisata menjadi perhatian tersendiri.

      Tidak semua wisatawan yang ingin berkunjung berasal dari keluarga mampu. Hal ini membuat harga menjadi hal penting untuk dipikirkan oleh pengelola. Ditambah lagi jika fasilitas yang ditawarkan oleh tempat wisata tidak sesuai dengan harga yang diberikan. Hal tersebut dapat membuat pengunjung kecewa dan tidak ingin berkunjung lagi.

      Oleh karena itu, dalam penentuan harga sebaiknya memperhatikan target pasar atau target pengunjung yang akan mengunjungi tempat wisata. Selain itu, perkirakan harga yang setidaknya mudah dijangkau oleh semua kalangan. Harga yang telah ditetapkan juga sudah menutupi fasilitas yang ditawarkan oleh tempat wisata. Adakanlah harga promosi sesekali untuk menarik wisatawan berkunjung.

      4. Merumuskan Unique Selling Proposition (USP)

      Unique Selling Point merupakan hal yang membedakan suatu usaha dengan badan usaha lainnya atau suatu produk/jasa dengan produk/jasa lainnya. Suatu badan usaha harus merumuskan USP dalam strategi pemasaran pariwisatanya. Hal ini supaya badan usaha tersebut mengetahui keunikan produk/jasanya, cara membujuk pelanggannya serta memiliki usulan agar diterima orang banyak.

      USP sendiri sangat diperlukan dalam bidang pariwisata karena dengan USP, pengelola tempat wisata mengetahui keunikan tempat wisatanya. Keunikan inilah yang akan menarik banyak pengunjung berdatangan. Selain itu, USP membuat pengelola tempat wisata mengetahui cara ampuh untuk membujuk para wisatawan agar berkunjung ke tempat wisatanya.

      Bujuk dan rayuan tersebut dapat dengan melebihkan keunikan tempat wisata tersebut serta harga terjangkau yang ditawarkan. Selain itu, pihak pengelola juga dapat menjelaskan tentang fasilitas apa saja yang ada di tempat wisata tersebut. Hal tersebut dapat membuat para wisatawan tertarik dan mengunjungi tempat wisata yang ditawarkan.

      5. Melakukan Pemasaran

      Pemasaran merupakan salah satu hal terpenting dalam strategi pemasaran pariwisata ini. Hal ini karena dengan adanya proses pemasaran yang tepat dengan target pasar yang jelas, tempat wisata akan ramai dikunjungi. Selain itu, proses pemasaran yang tepat juga dapat menjadikan tempat wisata yang dipasarkan menjadi ramai dikunjungi.

      Pemasaran tidak hanya dapat dilakukan melalui reklame yang ada di pinggir jalan. Pemasaran juga dapat dilakukan melalui sosial media seperti facebook, instagram dan lain sebagainya. Terkenalnya suatu tempat wisata dikalangan para wisatawan tergantung pada proses pemasarannya. Dalam pelaksanaannya, tunjukanlah pula kelebihan serta keunikan dari tempat wisata itu sendiri.

      Strategi ini sangat berkaitan erat dengan target pasar yang ada. Oleh karena itu dalam pelaksanaanya proses pemasaran ini disesuaikan dengan target pasar yang telah ditentukan sebelumnya.

      Demikian ulasan singkat mengenai strategi pemasaran pariwisata lengkap dengan pentingnya melakukan strategi pemasaran tersebut. Setiap poin strategi yang ada berkaitan satu dengan lainnya. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dalam penetapan dan perumusan tiap poinnya. Kesalahan dalam penentuan strategi pemasaran dapat berakibat pada sedikit atau hampir tidak adanya pengunjung tempat wisata.

      Analisis pasar dan pemasaran pariwisata | PPT

      STRATEGI PEMASARAN WISATA BAHARI DENGAN PENDEKATAN DOT, BAS DAN POS Sigit  Haryono Universitas Pembangunan Nasional ΓÇ£VeteranΓÇ¥

      STRATEGI PEMASARAN DESTINASI PARIWISATA


  • Mahasiswa Mampu Mengidentifikasi Dan Menganalisis Dampak Pariwisata

    • Dampak Pariwisata pada Perekonomian

      Dampak Pariwisata Pada Perekonomian

      Dampak Positif Pariwisata Pada Perekonomian

      Dampak positif:

      1. Pertumbuhan ekonomi: Pariwisata dapat menjadi salah satu sektor ekonomi utama suatu negara, menyumbang pendapatan nasional dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif.
      2. Penciptaan lapangan kerja: Industri pariwisata memberikan banyak peluang kerja bagi masyarakat setempat, baik langsung maupun tidak langsung. Ini termasuk pekerjaan di hotel, restoran, transportasi, pemandu wisata, toko suvenir, dan sektor terkait lainnya.
      3. Pemasukan devisa: Wisatawan yang datang ke suatu negara akan menghabiskan uang mereka untuk akomodasi, makanan, belanja, dan kegiatan wisata lainnya. Hal ini menyebabkan aliran devisa ke negara tersebut, yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan investasi lainnya.
      4. Stimulasi sektor terkait: Pariwisata juga merangsang pertumbuhan sektor terkait seperti pertanian, industri kreatif, kerajinan tangan, transportasi, dan jasa lainnya. Ini menciptakan peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat setempat.
      5. Pengembangan infrastruktur: Untuk mendukung industri pariwisata, sering kali diperlukan investasi dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandara, pelabuhan, dan sarana transportasi lainnya. Pembangunan ini tidak hanya bermanfaat bagi pariwisata, tetapi juga bagi sektor lain dan masyarakat umum.

      Dampak Negatif Pariwisata Pada Perekonomian

      1. Kerentanan terhadap fluktuasi ekonomi global: Industri pariwisata sangat dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi global. Perubahan dalam kondisi ekonomi global, seperti krisis keuangan atau perlambatan ekonomi di negara-negara utama penghasil wisatawan, dapat menyebabkan penurunan jumlah wisatawan dan pengeluaran mereka. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan pendapatan pariwisata, merugikan sektor terkait, dan mengganggu pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
      2. Ketergantungan yang tinggi pada pariwisata: Beberapa daerah atau negara yang sangat mengandalkan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama dapat mengalami kerentanan ekonomi yang tinggi. Jika ada perubahan mendadak dalam pola perjalanan atau ketidakstabilan di sektor pariwisata, perekonomian daerah tersebut dapat terguncang. Ketergantungan yang berlebihan pada pariwisata tanpa diversifikasi ekonomi yang memadai dapat membuat daerah rentan terhadap krisis ekonomi.
      3. Perubahan struktur ekonomi: Ketika pariwisata berkembang pesat, terkadang ada pergeseran dalam struktur ekonomi suatu daerah. Sumber daya yang sebelumnya digunakan untuk sektor lain dapat dialihkan ke sektor pariwisata, seperti tanah yang digunakan untuk pembangunan hotel atau restoran. Ini dapat mengakibatkan ketidakefisienan atau ketergantungan ekonomi yang lebih besar pada pariwisata, mengabaikan potensi sektor lain yang juga dapat memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan.
      4. Ketimpangan distribusi pendapatan: Meskipun pariwisata dapat menciptakan lapangan kerja dan memberikan kesempatan ekonomi, distribusi pendapatan yang tidak merata sering kali terjadi. Manfaat ekonomi dari pariwisata sering kali terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu dan perusahaan besar, sedangkan masyarakat lokal di daerah wisata yang kurang berkembang mungkin tidak mendapatkan manfaat yang signifikan. Hal ini dapat memperdalam kesenjangan sosial dan ekonomi antara daerah wisata dan daerah sekitarnya.
      5. Inflasi dan kenaikan harga: Peningkatan pariwisata dapat menyebabkan kenaikan harga dalam sektor-sektor tertentu seperti akomodasi, makanan, dan transportasi. Hal ini dapat mengakibatkan inflasi dan meningkatnya biaya hidup bagi penduduk setempat, terutama jika tidak ada langkah-langkah pengaturan yang tepat.
      6. Masalah tenaga kerja: Pertumbuhan pariwisata yang cepat sering kali membutuhkan tenaga kerja tambahan. Namun, kurangnya keterampilan yang sesuai dan persaingan untuk pekerjaan di sektor pariwisata dapat menciptakan masalah tenaga kerja. Terkadang, daerah wisata menghadapi kesulitan dalam memenuhi permintaan tenaga kerja yang tinggi, sementara di tempat lain mungkin terjadi pengangguran struktural karena terlalu bergantung pada pekerjaan pariwisata. Selain itu, sektor pariwisata cenderung memiliki musimanitas yang tinggi, yang berarti pekerja hanya memiliki pekerjaan sementara selama musim wisata tertentu dan menghadapi ketidakpastian penghasilan di luar musim tersebut.

      Solusi Dari Dampak Negatif

      Dalam menghadapi dampak negatif pariwisata pada perekonomian, penting untuk mengambil langkah-langkah pengelolaan yang tepat. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

      1. Diversifikasi ekonomi: Untuk mengurangi ketergantungan pada pariwisata, penting untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi lain yang memiliki potensi pertumbuhan. Ini dapat dilakukan melalui pengembangan industri lain, investasi dalam infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia dalam sektor-sektor yang beragam.
      2. Pengembangan pariwisata berkelanjutan: Mengadopsi pendekatan pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi adalah kunci untuk mengurangi dampak negatif pariwisata. Hal ini melibatkan pengelolaan yang baik terhadap lingkungan, pelestarian warisan budaya, partisipasi masyarakat setempat, dan pembagian manfaat yang adil kepada penduduk setempat.
      3. Pengaturan dan kebijakan yang tepat: Perlunya regulasi yang baik dan pengawasan ketat untuk mengatur pertumbuhan pariwisata. Kebijakan yang berfokus pada pelestarian lingkungan, pengelolaan ketimpangan distribusi pendapatan, dan perlindungan hak-hak pekerja dapat membantu mengurangi dampak negatif pada perekonomian.
      4. Pelatihan dan pengembangan tenaga kerja: Melakukan investasi dalam pelatihan dan pengembangan tenaga kerja lokal yang sesuai dengan kebutuhan industri pariwisata dapat membantu mengurangi masalah ketenagakerjaan. Ini juga dapat meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman wisatawan, yang pada gilirannya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

      Kesimpulan

      Pariwisata memiliki dampak yang signifikan pada perekonomian. Industri pariwisata dapat menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan sumber pendapatan yang penting bagi suatu negara. Selain itu, pariwisata juga berkontribusi pada pemasukan devisa, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan sektor-sektor terkait.

      Namun, pariwisata juga memiliki dampak negatif yang perlu diperhatikan. Kerentanan terhadap fluktuasi ekonomi global, ketergantungan yang tinggi pada pariwisata, perubahan struktur ekonomi, ketimpangan distribusi pendapatan, inflasi, masalah tenaga kerja, dan masalah sosial dan budaya adalah beberapa contoh dampak negatif tersebut.

      Untuk mengurangi dampak negatif pariwisata pada perekonomian, penting untuk mengadopsi pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Diversifikasi ekonomi, pengembangan pariwisata berkelanjutan, pengaturan dan kebijakan yang tepat, serta pelatihan dan pengembangan tenaga kerja lokal merupakan langkah-langkah yang dapat diambil.

      Dengan demikian, pariwisata memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi yang positif pada perekonomian, namun perlu diimbangi dengan pengelolaan yang bijaksana untuk mengurangi dampak negatif dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

      DAMPAK KEPARIWISATAAN - ppt download
      Dampak Pariwisata terhadap Distribusi Pendapatan Research Brief dan  Penurunan Kemisikinan di Indonesia No.2, Juli 2019

      Pengaruh Sektor Pariwisata terhadap Ekonomi Banyuwangi Halaman 1 -  Kompasiana.com
      DAMPAK EKONOMI PARIWISATA - ppt download
      Pemkab Bogor Gencarkan Promosi Wisata

  • Mahasiswa Mampu Memahami Dan Menganalisa Ekonomi Pariwisata dan Community Based Tourism (CBT).

    • Community based tourism merupakan konsep pariwisata yang berbasis masyarakat, dalam CBT masyarakat di berdayakan untuk mengelola objek wisatanya sendiri. salah satu bentuk dari CBT adalah pengembangan desa wisata.

      Mengenal Konsep Community Based Tourism

      Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata - Asosiasi Desa Wisata  Indonesia

      Community Based Tourism (CBT), biasa juga disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual, prinsip dasar CBT adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataa. Sehingga, manfaat kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat.

      Konsep CBT digunakan oleh para perancang, pegiat pembangunan pariwisata, strategi untuk memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan pariwisata. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial ekonomi komunitas dan meletakkan nilai lebih dalam pariwisata, khususnya kepada para wisatawan.

      Menurut Isnaini Mualissin (2007) Konsep Community Based Tourism memiliki beberapa prinsip-prinsip dasar yang dapat digunakan sebagai Tool Community Development bagi masyarakat lokal, yakni:

      • Mengakui, mendukung dan mempromosikan pariwisata yang dimiliki masyarakat
      • Melibatkan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek
      • Mempromosikan kebanggaan masyarakat
      • Meningkatkan kualitas hidup masyarakat
      • Memastikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam
      • Mempertahankan karakter dan budaya unik
      • Meningkatkan pembelajaran lintas budaya
      • Menghormati perbedaan-perbedaan kultural budaya dan martabat sebagai manusia
      • Membagikan manfaat keuntungan secara adil diantara anggota masyarakat
      • Memberikan kontribusi persentase pendapatan yang tetap terhadap proyek masyarakat
      Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata - Asosiasi Desa Wisata  Indonesia

      Selain itu, CBT akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan dan dalam perolehan bagian pendapatan terbesar secara langsung dari kehadiran para wisatawan. Dengan demikian akan dapat menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli desa. Dan pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata.

      Dapat dikatakan bahwa CBT merupakan konsep ekonomi kerakyatan yang riil, yang langsung dilaksanakan oleh masyarakat dan hasilnya langsung dinikmati oleh masyarakat. Konsep ini lebih mementingkan dampak pariwisata terhadap masyarakat dan sumber daya lingkungan. CBT muncul dari strategi pengembangan masyarakat, dengan menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat pedesaan yang mengelola sumber daya pariwisata dengan partisipasi masyarakat setempat.

      Meski muncul dari masyarakat, CBT tidak seutuhnya menjadi solusi yang sempurna untuk masalah masyarakat. Jika sembarangan diterapkan, CBT bisa menimbulkan masalah dan membawa bencana. Oleh karena itu, komunitas harus pandai-pandai dalam memilih dan berhati-hati. Selain itu, harus dipersiapkan semuanya secara memadai sebelum mengoperasikan CBT agar sesuai untuk pengembangan CBT. Yang lebih penting lagi, masyarakat harus memiliki kekuatan untuk memodifikasi atau menangguhkan CBT agar tidak melampaui kapasitas pengelolaan masyarakat atau membawa dampak negatif yang tidak terkendali

      Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata - Asosiasi Desa Wisata  Indonesia

      Konsep Community Based Tourism (CBT) untuk Pariwisata - Asosiasi Desa Wisata  Indonesia

      Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat


      PENGEMBANGAN COMMUNITY BASED TOURISM SEBAGAI STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI  MASYARAKAT DI KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIM


      Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism) di Desa Wisata -  Desa Adat Guliang Kangin


  • Mahasiswa Mampu Mendesain Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

    • Pembangunan Berkelanjutan Pariwisata
      Pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang mengundang semua pihak ΓÇô terutama anggota masyarakat ΓÇô untuk mengelola sumber daya dengan cara yang memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan estetika sambil memastikan keberlanjutan budaya lokal, habitat alam, keanekaragaman hayati, dan sistem pendukung penting lainnya.

      Definisi Pembangunan Berkelanjutan

      Dalam World Environment Protection Strategy tersebut, definisi pembangunan berkelanjutan sendiri disebutkan sebagai proses ΓÇ£pembangunan yang dilakukan tanpa menghabiskan dan merusak sumber dayaΓÇ¥. Sementara itu, definisi pembangunan berkelanjutan yang paling banyak disitasi saat ini adalah ΓÇ£pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiriΓÇ¥ (WCED, 1987).

      Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dapat dicapai dengan cara mengelola sumber daya agar dapat diperbarui atau dengan cara beralih dari penggunaan sumber daya yang sulit diperbarui ke sumber daya yang mudah untuk diperbarui.

      Oleh sebab itu, dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan ini, dapat memungkinkan penggunaan dan pemanfaatan sumber daya, yang pada akhirnya tidak hanya dapat digunakan oleh generasi saat ini, tetapi juga dapat digunakan oleh generasi yang akan datang.

      Deklarasi Den Haag tentang Pariwisata yang diadopsi oleh Inter Parliamentary Union (IPU) dan Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) pada tahun 1989 menunjukkan bahwa pariwisata dan alam sangat saling bergantung. Jadi, tindakan harus diambil untuk membantu perencanaan pembangunan pariwisata yang terintegrasi sesuai dengan konsep ΓÇ£pembangunan berkelanjutanΓÇ¥.

      Konsep tersebut disebutkan dalam Laporan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (Laporan Brundtland) dan dalam laporan ΓÇ¥ Environmental Perspective to the Year 2000 and BeyondΓÇ¥ yaitu suatu program dari United Nations Environment Program (UNEP) (Maksimeniuk & Timakova, 2020). Jadi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan itu selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan secara umum.

      Prinsip Dasar Pembangunan Berkelanjutan

      Pendekatan lain dari konsep pembangunan berkelanjutan yaitu dari sisi prinsip-prinsip atau pilar-pilar tujuan pembangunan yang harus dicapai, yaitu pendekatan keseimbangan pembangunan antara pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan alam dan pembangunan sosial-budaya atau biasa disebut dengan triple bottom lines pembangunan berkelanjutan.

      Ilustrasi pembangunan pariwisata berkelanjutan dalam keseimbangan pembangunan ekonomi, lingkungan alam dan sosial-budaya

      Aspek pembangunan ekonomi

      • Economic profitability (keuntungan ekonomi)
        Memastikan kelangsungan hidup dan daya saing destinasi dan bisnis untuk mencapai kelangsungan hidup secara jangka panjang;
      • Local prosperity (kemakmuran masyarakat setempat)
        Memaksimalkan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata bagi masyarakat setempat, termasuk pengeluaran wisatawan di destinasi tersebut;
      • Quality of employment (kualitas pekerjaan)
        Meningkatkan kuantitas dan kualitas pekerjaan di destinasi yang terkait dengan pariwisata, termasuk upah, lingkungan kerja dan kesempatan kerja tanpa diskriminasi;
      • Sosial equity (kesetaraan sosial)
        Memastikan distribusi manfaat sosial dan ekonomi yang adil dan merata yang berasal dari pariwisata.

      Aspek pembangunan lingkungan alam

      • Physical integrity (keutuhan lingkungan fisik)
        Menjaga dan membangun kualitas lanskap, baik di perkotaan maupun pedesaan dan mencegah pencemaran ekologi serta visual;
      • Biological diversity (keanekaragaman hayati)
        Mempromosikan dan melindungi lingkungan, habitat alam dan satwa liar, serta meminimalkan dampak pariwisata terhadap lingkungan alam;
      • Effective waste management (pengelolaan limbah yang efektif)
        Meminimalkan pemanfaatan sumber daya langka dan tidak terbarukan dalam pengembangan pariwisata;
      • Clean environment (kebersihan lingkungan alam)
        Meminimalkan pencemaran air, udara, tanah dan pengurangan limbah oleh wisatawan dan bisnis pariwisata.

      Aspek pembangunan sosial-budaya

      • Welfare of the community (kesejahteraan komunitas)
        Membangun kesejahteraan masyarakat termasuk infrastruktur sosial, akses sumber daya, kualitas lingkungan dan pencegahan korupsi sosial serta eksploitasi sumber daya;
      • Cultural wealth (kekayaan budaya)
        Memelihara dan mengembangkan warisan budaya lokal, adat istiadat, dan keunikan karakteristik atau sifat dari komunitas dan masyarakat setempat;
      • Meeting expectations of visitors (memenuhi ekspektasi pengunjung)
        Memberikan pengalaman wisata yang aman dan menyenangkan, yang dapat memenuhi kebutuhan dan harapan wisatawan;
      • Local control (pengendalian oleh masyarakat setempat)
        Pelibatan masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan pengelolaan destinasi pariwisata.

      Komponen Pembangunan Pariwisata Berkalanjutan

      Dari berbagai definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan berkelanjutan itu sangat memperhatikan keseimbangan, baik keseimbangan dari dimensi waktu yaitu waktu sekarang dan masa depan, maupun keseimbangan dari tujuan pembangunan atau dimensi kepentingan yaitu kepentingan keberlanjutan dari aspek ekonomi, lingkungan alam dan sosial-budaya. Oleh sebab itu, pembangunan pariwisata berkelanjutan juga harus menjalankan prinsip-prinsip keseimbangan tersebut.

      Jadi dapat disimpulkan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah upaya melakukan pengelolaan kepariwisataan dengan merealisasikan prinsip pembangunan berkelanjutan, agar sumberdaya pariwisata selalu bernilai dari generasi ke generasi dan keseimbangan antara manfaat ekonnomi, kelestarian lingkungan alam, dan nilai sosial-budaya selalu terjaga. 

      Ketiga prinsip dasar pariwisata berkelanjutan (triple bottom lines) di atas selanjutnya dikembangkan lagi menjadi 5 (lima) prinsip oleh UNWTO dengan mengacu pada Sustainable Development Goals (SDGs) dari UNDP di tahun 2015 yaitu prinsip keseimbangan antara People, Planet, Prosperity, Peace dan Partnership, yang sekarang dikenal dengan singkatan 5 Ps, dengan 17 indikator yang menyertainya. Berikut adalah penjabaran dari 5 Ps tersebut.

      • People: dalam SDGs, pembangunan di sektor apapun termasuk kepariwisataan harus bertujuan untuk menghentikan kemiskinan (poverty) dan kelaparan (hunger), dalam segala bentuk dan dimensi apapun, dan juga untuk memastikan bahwa semua manusia memiliki kesetaraan dalam martabat dan dalam lingkungan yang sehat.
      • Planet: dalam SDGs, pembangunan di sektor apapun termasuk kepariwisataan harus bertujuan untuk melindungi planet atau sumberdaya alam beserta iklim yang dapat selalu mendukung kebutuhan generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
      • Prosperity: dalam SDGs, pembangunan di sektor apapun termasuk kepariwisataan harus bertujuan untuk memastikan bahwa semua manusia dapat menikmati kehidupan yang sejahtera, kebutuhan hidup yang terpenuhi, serta memastikan kemajuan ekonomi, sosial dan teknologi berjalan selaras dengan alam.
      • Peace: dalam SDGs, pembangunan di sektor apapun termasuk kepariwisataan harus bertujuan untuk menumbuhkan masyarakat yang menjungjung kedamaian, keadilan, dan inklusifitas (tidak eksklusif).
      • Partnership: dalam SDGs, pembangunan di sektor apapun termasuk kepariwisataan harus bertujuan untuk menguatkan semangat solidaritas dan kolaborasi global, sehingga permasalahan lintas geografis dan lintas sektoral dapat ditanggulangi dengan baik.

      Indikator Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

      Indikator pembangunan pariwisata berkelanjutan merupakan metrik yang digunakan untuk mengukur tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam industri pariwisata. Indikator ini sangat berguna untuk dijadikan panduan oleh pengelola destinasi pariwisata baik di tingkat nasional, regional maupun lokal.

      Indikator yang sering digunakan oleh para pengelola destinasi pariwisata di dunia adalah indikator yang dikeluarkan oleh The Global Sustainable Tourism Council (GSTC) yang biasa disebut dengan kriteria GSTC-D.

      GSTC adalah organisasi internasional yang mengkampanyekan praktik pariwisata berkelanjutan di seluruh dunia. GSTC telah mengembangkan seperangkat kriteria destinasi untuk digunakan sebagai tolok ukur untuk mengukur kinerja keberlanjutan suatu destinasi.

      Kriteria ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai alat bagi destinasi untuk menilai kinerja keberlanjutannya, serta bagi konsumen dan para pemangku kepentingan pariwisata lainnya untuk mengevaluasi keberlanjutan suatu destinasi.

      Kriteria GSTC-D telah mengalami perbaikan, dan sekarang disebut dengan kriteria GSTC-D v2. GSTC-D v2 terdiri dari empat pilar yang berisi sub-sub pilar yaitu:

      1. Pengelolaan berkelanjutan, terdiri dari struktur dan kerangka pengelolaan, pelibatan pemangku kepentingan, mengelola tekanan dan perubahan.
      2. Kebrlanjutan sosial-ekonomi, terdiri dari manfaat ekonomi lokal, kesejahteraan dan dampak sosial.
      3. Keberlanjutan budaya, terdiri dari perlindungan warisan budaya dan mengunjungi situs budaya.
      4. Keberlanjutan lingkungan, terdiri dari konversi warisan alam, pengelolaan sumberdaya dan pengelolaan limbah dan emisi.

      Gambar Kriteria GSTC-D v2

      Gambar tentang indikator Kriteria GSTC-D v2
      Sumber: GSTC 2019

      Untuk lebih lengkapnya, Indikator pembangunan pariwisata berkelanjutan berdasarkan GSTC v2 dapat di download di sini.

      Jenis-jenis Pariwisata Berkelanjutan

      Dalam berbagai referensi, terdapat banyak bentuk kegiatan pariwisata yang menggunakan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan alam dan sosial-budaya. Bentuk-bentuk kegiatan pariwisata tersebut seperti:

      • Responsible Tourism (pariwisata bertanggung jawab: adalah kegiatan pariwisata yang intinya untuk membuat tempat yang lebih baik bagi orang untuk tinggal dan tempat yang lebih baik untuk dikunjungi orang. Pariwisata yang bertanggung jawab mensyaratkan bahwa operator, pelaku bisnis perhotelan, pemerintah, masyarakat lokal dan wisatawan dapat mengambil tanggung jawab serta mengambil tindakan untuk membuat kegiatan pariwisata lebih berkelanjutan (Harold Goodwin, 2014).
      • Nature Tourism: adalah bentuk kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab yang khusus dilakukan di alam, yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal (Texas Park & Wildlife, 2021)
      • Equitable Tourism (pariwisata berkeadilan): adalah salah satu bentuk kegiatan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk menerapkan prinsip-prinsip perdagangan yang berkeadilan di bidang pariwisata dengan memperhatikan serangkaian kriteria yang menitikberatkan pada penghormatan terhadap penduduk setempat dan gaya hidup mereka, serta keberlanjutan kemajuan pariwisata bagi masyarakat setempat. Secara umum istilah ΓÇ£pembangunan pariwisata berkeadilanΓÇ¥ berkaitan dengan distribusi kegiatan ekonomi dan akses ke destinasi lintas wilayah, bangsa atau wilayah regional-nasional (Patsy Healey, 2002 dalam Saravanan & Rao, 2012).
      • Accessible Tourism: adalah adalah upaya berkelanjutan untuk memastikan tujuan wisata, produk, dan layanan dapat diakses oleh semua orang, terlepas dari batasan fisik atau intelektual, disabilitas atau usia mereka (Departemen Ekonomi dan Sosial PBB, 2021).
      • Appropriate Tourism: adalah salah satu bentuk pariwisata yang tidak membahayakan masyarakat atau budaya, sepanjang tingkat pembangunan pariwisata ΓÇÿsesuaiΓÇÖ dengan kebutuhan suatu negara atau daerah (Singh, Theuns & Go, 1989).
      • Ecological Tourism: adalah pemanfaatan sumber daya alam sebagai produk pariwisata dengan menggunakan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan.
      • Ecotourism: adalah bentuk ecological tourism dengan tujuan utama untuk melestarikan alam atau berinteraksi dengan spesies langka. Kegiatan ekowisata melibatkan unsur edukasi dan interpretasi, serta dukungan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pelestarian sumberdaya alam dan budaya. Ekowisata harus memiliki konsekuensi minimal terhadap lingkungan dan juga harus berkontribusi kepada kesejahteraan penduduk setempat (Juganaru, Juganaru & Anghel, 2021)
      • Eco-Ethnotourism: adalah bentuk ecotourism yang lebih fokus terhadap hasil karya manusia daripada alam, dan berupaya memberikan pemahaman atau edukasi kepada wisatawan tentang gaya hidup masyarakat lokal.
      • Green Tourism atau Environmentally-friendly Tourism: adalah bentuk kegiatan pariwisata yang dilakukan dengan cara yang ramah terhadap lingkungan.
      • Soft Tourism: selain bertujuan untuk pelestarian lingkungan alam dan perlindungan kesehatan manusia, bentuk pariwisata ini memiliki tujuan lain yaitu untuk tujuan sosial (penghormatan terhadap adat istiadat, tradisi, sosial dan struktur keluarga penduduk setempat), dan untuk tujuan ekonomi (distribusi pendapatan yang adil dan diversifikasi penawaran pariwisata) (Juganaru, Juganaru & Anghel, 2021).
      • Rural Tourism: adalah bentuk pariwisata yang dilakukan di daerah perdesaan (desa wisata) yang bertujuan untuk mengharmoniskan kebutuhan pariwisata dan pelestarian lingkungan (alam dan sosial-budaya) dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
      • Community Tourism: adalah bentuk pembangunan pariwisata yang difokuskan pada pelibatan penduduk lokal dan ditujukan untuk kesejahteraan mereka. Penduduk lokal memiliki kendali penuh atas pendapatan yang dihasilkan dari pariwisata, sebagian besar pendapatan ditujukan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat, memberikan perhatian khusus terhadap lingkungan alam dan tradisi penduduk setempat. Bentuk pengembangan pariwisata ini seringkali dipadukan dengan pengembangan kegiatan produksi, seperti transformasi hasil pertanian atau workshop kerajinan, yang produknya terutama dijual kepada wisatawan (Juganaru, Juganaru & Anghel, 2021).
      • Pro-poor Tourism: adalah bentuk pariwisata yang menghasilkan keuntungan bersih untuk masyarakat miskin. Keuntungan tersebut dapat bersifat ekonomi, sosial, lingkungan atau budaya. Pariwisata yang berpihak pada kaum miskin tidak secara spesifik mengacu pada pariwisata budaya atau etnis (Bolnick, 2003).
      •  Agritourismadalah bentuk pariwisata yang memungkinkan interaksi antara wisatawan dengan pemilik atau pengelola pertanian di suatu daerah perdesaan dengan prinsip keberlanjutan. Interaksi tersebut menghasilkan suatu aktivitas wisata yang berbasis pertanian seperti perawatan hewan ternak, perawatan tanaman, kerajinan tangan, atau hiburan dan permainan.
      • dan lain-lain.

      Referensi

      Bolnick, Steven (2003). Promoting the Culture Sector through Job Creation and Small Enterprise Development in SADC Countries: The Ethno-tourism Industry. International Labour Organization

      Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan

      Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan


      World Tourism Organization (WTO) menyebutkan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah ΓÇ£tourism that takes full account of its current and future economic, social and environmental impacts, addressing the needs of visitors, the industry, the environment, and host communitiesΓÇ¥. Penjelasan tersebut dapat didefinisikan bahwa pariwisata berkelanjutan merupakan konsep pembangunan/pengembangan pariwisata yang memperhitungkan sepenuhnya dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini maupun masa depan.

      Melalui penjelasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pariwisata berkelanjutan merupakan suatu konsep yang dipraktikkan, baik oleh masyarakat, yang dalam hal ini tidak hanya penyedia layanan wisata saja, tetapi juga wisawatan serta komunitas tuan rumah maupun pemerintah setempat.

      WTO dan United Nations Environment Program (2005) juga telah merumuskan setidaknya terdapat 12 tujuan utama dari pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, yang di antaranya adalah sebagai berikut:

      1. Economic Viability, memastikan kelangsungan dan daya saing destinasi wisata sehingga mereka dapat menerima manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
      2. Local Prosperity, memaksimalkan kontribusi pariwisata terhadap ekonomi masyarakat lokal di lingkungan destinasi.
      3. Employment Quality, meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang bertugas/terlibat dalam kegiatan kepariwisataan, termasuk juga dalam hal penerimaan upah, kesetaraan gender maupun ras.
      4. Social Equity, memberikan distribusi yang luas dan adil dari manfaat ekonomi maupun sosial, termasuk juga meningkatkan peluang keterlibatan, pendapatan, dan layanan.
      5. Visitor Fulfillment, untuk memberikan pengalaman yang memuaskan bagi pengunjung, termasuk juga adanya pertukaran pengetahuan di dalam kegiatan wisata.
      6. Local Control, melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal dalam perencananaan maupun pengambilan keputusan mengenai pengelolaan atau pengembangan pariwisata.
      7. Community Wellbeing, menjaga dan memperkuat kualitas hidup masyarakat lokal, termasuk struktur sosial dan akses sumberdaya, fasilitas, dan sistem pendukung kehidupan.
      8. Cultural Richness, menghormati dan meningkatkan kepedulian akan warisan sejarah, budaya otentik, tradisi dan kekhasan dari komunitas tuan rumah di destinasi wisata.
      9. Physical Integrity, menjaga dan meningkatkan kualitas lanskap destinasi, baik perkotaan maupun pedesaan.
      10. Biological Diversity, mendukung segala bentuk sistem konservasi kawasan alam, habitat, dan margasatwa.
      11. Resource Efficiency, meminimalkan penggunaan sumberdaya yang langka dan tidak terbarukan dalam pengembangan maupun pengoperasian fasilitas pariwisata.
      12. Environmental Purity, meminimalkan pencemaran udara, air, dan tanah serta timbunan limbah oleh destinasi wisata dan wisatawan.

      Sementara itu, dalam Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, terdapat 4 (empat) pilar utama dalam pengembangan pariwisata. Pilar ini juga menjadi kriteria yang telah dirumuskan oleh Badan Pariwisata Berkelanjutan Dunia (Global Sustainable Tourism Council), yang mencakup:

      1. Pengelolaan destinasi parwisata berkelanjutan (Sustainability Management)
      2. Pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal (Social-Economy)
      3. Pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung (Culture)
      4. Pelestarian lingkungan (Environment)

      Empat pilar di atas sejatinya sudah disebutkan dengan jelas dalam Undang-Undang Kepariwisataan kita, di mana kinerja pembangunan pariwisata tidak hanya diukur dan dievaluasi berdasarkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga atas kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengurangan pengangguran dan kemiskinan, pelestarian sumber daya alam/lingkungan, pengembangan budaya, perbaikan atas citra bangsa serta identitas bangsa sehingga dapat mempererat kesatuan.

      Pilar Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

      Dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan, maka diperlukan perubahan pola pikir dan kesadaran dari seluruh pemangku kepentingan. Hal ini menjadi kunci penting untuk memperkuat dan meletakkan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan.

      Dengan perencanaan yang baik dan manajemen yang efektif, pariwisata dapat memberikan dampak yang positif bagi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Sebaliknya pun bisa terjadi jika perencanaan pembangunan disusun secara sembarangan dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan.  

      Adapun penjelasan dari 4 (empat) pilar pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah sebagai berikut.

      1. Pengelolaan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan

      Destinasi wisata diharapkan telah menyusun dan mengaplikasikan pengembangan strategi jangka panjang dengan mempertimbangkan isu lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, kualitas, kesehatan, keselamatan, dan estetika yang dikembangkan bersama dengan masyarakat.  Sistem pemantauan maupun evaluasi juga harus diterapkan guna meminimalisir segala dampak yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan kepariwisataan.

      Selain itu, destinasi pariwisata diharapkan memiliki organisasi, kelompok atau komite yang efektif, bertanggungjawab untuk melakukan koordinasi terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan melibatkan sektor swasta dan pemerintah. Organisasi ini juga berperan dalam memberikan pengawasan dan pelaporan kepada publik secara berkala.


      Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan


      Potensi bahari di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat sangat diminati wisatawan mancanegara

      2. Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal

      Pada pilar ini, pembangunan pariwisata berkelanjutan menuntut destinasi wisata agar menyediakan kesempatan kerja yang sama terhadap seluruh masyarakat. Organisasi pun harus memiki sistem yang mendorong partisipasi masyarakat dalam perencanaan tujuan serta pengambilan keputusan secara berkelanjutan.

      Pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal juga dapat ditunjukkan dengan adanya sistem yang mendukung masyarakat lokal maupun pengusaha kecil dan menengah untuk dapat mempromosikan serta mengembangkan produk lokalnya berkelanjutan. Adapun produk lokal yang dimaksud dapat berupa makanan dan minuman, kerajinan tangan, pertunjukan kesenian, produk pertanian, dan lainnya.


      3. Pelestarian Budaya bagi Masyarakat dan Pengunjung

      Nilai-nilai budaya yang menjadi warisan leluhur haruslah dilestarikan. Pelestarian budaya ini nantinya juga dapat menjadi suatu atraksi yang menarik bagi wisatawan sehingga menjadi sarana edukasi maupun transfer pengetahuan. Selain itu, dengan adanya atraksi wisata berupa kearifan lokal/budaya, maka akan membawa wisatawan untuk dapat menghormati dan menghargai budaya di setiap destinasi wisata yang dikunjunginya.

      Destinasi wisata juga diharapkan sudah memiliki sistem pengelolaan pengunjung, termasuk di dalamnya berupa tindakan untuk mempertahankan, melindungi, dan memperkuat aset sumber daya alam maupun budaya. Untuk mendukung sistem ini, destinasi wisata dapat menyediakan atau menerbitkan panduan perilaku pengunjung yang pantas pada situs-situs yang sensitif. Informasi dan panduan ini juga harus disesuaikan dengan budaya setempat yang dikembangkan melalui kolaborasi bersama masyarakat.

      Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan
      Pura Ulundanu, Beratan di Bali menjadi salah satu destinasi wisata favorit wisatawan domestik dan mancanegara.

      4. Pelestarian Lingkungan

      Pelestarian lingkungan dilakukan untuk mengurangi serta mencegah kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas kepariwisataan. Dalam hal ini, saat akan mengembangkan destinasi wisata, organisasi diharuskan mengidentifikasi risiko lingkungan beserta proses/sistem penanganannya.

      Selain itu, destinasi wisata wajib berperan untuk memberikan perlindungan alam liar, baik flora dan fauna dengan menyediakan sistem yang disesuaikan dengan hukum lokal, nasional, dan internasional.

      Empat poin yang telah disebutkan di atas tentunya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance) yang melibatkan partisipasi aktif dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

      Referensi:

      Making Tourism More Sustainable ΓÇô A Guide for Policy Makers. UNEP and UNWTO. 2005. p.11-12