Garis besar topik
-
-
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Tabiik Puun…
Selamat datang Rekan Rekan Mahasiswa yang saya banggakan.
Dimanapun berada..., semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dalam Lindungan Allah SWT.Selamat datang di Mata kuliah Financial Technology (Fintech) pada SPADA (Sistem Pembelajaran Daring) PAscasarjana Magister Manajemen Teknologi (MMT) IBI Darmajaya. Mata kuliah ini ditujukan bagi peserta didik yang sedang mengambil program S2 Sarjana pada rumpun Ekonomi dan Bisnis, terutama terkait dengan bidang studi: Teknologi Keuangan,, Digital Banking, Accounting, Finance, Digital Payment, dan Blockchain
Mata Kuliah Fintech ini memiliki beban SKS sebesar 3 SKS, dengan kode Matakuliah : MMT223005
Selamat mengikuti perkuliahan ini dengan baik,
Salam hangat dan tetap semangat !!
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Dr. Faurani Santi Singagerda, SE, M.Sc, CFtP, CIQnR -
Fokus mata kuliah ini ada pada aspek bisnis dari teknologi finansial dan bagaimana disrupsinya pada sektor industri keuangan. Mahasiswa pertama-tama akan belajar tentang inovasi digital yang membentuk industri keuangan kita saat ini (bangkitnya pembayaran elektronik, munculnya internet banking, crowdfunding & crowdinvesting, blockchains & cryptocurrency), lalu berakhir dengan pembahasan studi kasus dan menganalisis dampak kemajuan teknologi finansial ini pada pola perilaku konsumen dan regulasi untuk industri keuangan di masa depan.
Mata kuliah Teknologi Finansial ini terbagi dalam 14 sesi pembelajaran di mana pada setiap sesi terbentuk pemahaman dan kompetensi yang kuat mengenai peluang bisnis dari teknolgi finansial. Mata kuliah ini juga dapat dipelajari dengan metode Self Paced.
-
- Mahasiswa mampu menguasai penerapan teknologi dalam industry keuangan dengan menerapkan logika berpikir kritis, inovatif, bermutu dan terukur dalam rangka membantu pengelolaan bisnis secara sistematis.
- Mahasiswa mampu mengimplementasikan teknologi yang sudah dipaparkan dalam industry keuangan saat ini dalam menjalankan fungsi keuangan secara terstruktur dan logis.
- Mahasiswa mampu memahami perkembangan landscape dan memprediksi arah pengembangan financial technology
Mahasiswa mampu memahami teknologi keuangan dalam kegiatan bisnis
Mahasiswa mampu menganalisis mekanisme dan cara kerja blockchain dalam Teknologi Keuangan
- Mahasiswa mampu menerapkan dan memanfaatkan layanan-layanan teknologi keuangan dalam aktivitasnya
-
-
1) Sikap : cara menyampaikan pendapat dalam diskusi, dan tanggungjawab dalam menyelesaikan tugas
2) Pengetahuan : penguasaan materi yang ditunjukkan dalam diskusi, presentasi, ujian tengah semester dan ujian akhir semester
3) Keterampilan : Diskusi, Gagasan dan Ide, Presentasi, Analisis
Butir Penilaian (bobot)
UAS : 30 %, UTS: 30%, Kehadiran: 10%, Keaktifan dan Partisipasi: 10%, Tugas: 20%
-
Buku Utama:
1. Desfiandi, A; Singagerda, F.S; Putri, Reisa (2022). Fintech dan Inovasi Keuangan. DJ Press. Lampung. Indonesia
Referensi Pendukung:
1. Amalia, F. (2016). The fintech book: The financial technology handbook for investors, entrepreneurs and visionaries. Journal of Indonesian Economy and Business, 31(3), 345-348.
2. King, B. (2018). Bank 4.0: Banking everywhere, never at a bank. John Wiley & Sons.Aslan, A. (2021). Financial economics of cryptocurrency markets (Doctoral dissertation, Bilkent University).
3. Hill, J. (2018). Fintech and the remaking of financial institutions. Academic Press.
4. Hua, X., & Zheng, Y. (2019). Financial technologies: Artificial intelligence, blockchain, and crowdfunding. London: Emerald Publishing Limited.
5. Lee, D. K. C., & Low, L. (2018). Inclusive fintech: blockchain, cryptocurrency and ICO. World Scientific.
6. Panova, G. S. (2019, April). CryptocurrencyΓÇôMoney of the Digital Economy. In International Scientific Conference ΓÇ£Digital Transformation of the Economy: Challenges, Trends, New OpportunitiesΓÇ¥ (pp. 604-612). Springer, Cham.
7. Oseni, U. A., & Ali, S. N. (Eds.). (2019). Fintech in Islamic finance: Theory and practice. Routledge.
-
E-Book : Fintech dan Inovasi Keuangan
Silahkan anda buku link sbb:
https://drive.google.com/file/d/1FsTgB-C2EOMsDq575w6IAEq0BupGXtnb/view?usp=sharing
-
-
-
Kemajuan dan inovasi teknologi telah merubah banyak model aktivitas disetiap bidang, dan telah menjadi tulang punggung bagi banyak sektor. Model bisnispun ikut mengalami pergeseran drastis ke arah model transaksi electronic, baik yang menggunakan web maupun melalui gadget smartphone. Sistem bisnis semakin tren menggunakan istilah e- commerce atau m-commerce yang berlangsung secara virtual melalui sejumlah aplikasi berbasis teknologi informasi. Terlebih saat pandemi COVID-19 yang makin memperkuat keberadaan aktivitas bisnis berbasis teknologi, melalui kegiatan bisnis yang dilakukan secara virtual atau online memastikan keberadaan teknologi mampu memenuhi tuntutan kebutuhan-kebutuhan manusia.
Seiring dengan menjamurnya model usaha virtual di dunia maya, maka mendorong semua pihak terkait (stakeholders) untuk juga memberlakukan sistem pembayaran secara elektronik. Transaksi pembayaran yang tadinya dilakukan secara konvensional bergeser ke sistem pembayaran secara digital. Maka, pada mode perdagangan elektronik (e-commerce, m- commerce), sistem pembayaran menggunakan teknologi informasi seperti e- wallet, e-payments, bahkan Financial Technology atau ΓÇòFintech
Keberadaan Fintech tidak saja mempengaruhi perubahan model bisnis saat ini, namun juga menjadi salah satu perhatian bagi pemangku kebijakan yang mengawasi sistem Perbankan dan stabilitas ekonomi yaitu Bank sentral, Salah satunya Bank Indonesia sebagai lembaga negara yang memegang kendali dalam menjaga stabilitas moneter dan ekonomi nasional. Bank Indonesia mendefinisikan Teknologi Finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran.
-
Pada pertemuan ini kita akan mempelejari bagaimana fintech dapat dihubungkan dengan dunia bisnis secara luas
Adapun materi kali ini meliputi:
1. Ruang Lingkup, manfaat, dan jenis financial technology (fintech) dan fintech Syariah
2. Jenis fintech
3. Fintech Syariah
-
Sejalan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan manusia, dan evolusi perdagangan ekonomi. Transkasi keuangan di dunia mengalami evolusi, adapun beberapa era yang dilalui oleh manusia. Beberapa fase perkembangan keuangan tersebut meiputi
1. Era 1.0 (barter, uang kartal & giral)
2. Era 2.0 (ATM, Kartu Kredit, RTGS, SWIFT Code,Pasar Saham)
3. Era 3.0 (QR Code, QRIS, E-commerce, PayPal)
4. Era 3.5 (Blockchain, Coin, Alt Coin, Stbel Coint, NFT, Crypto)
-
-
-
Perkembangan teknologi telah mengubah sebagian besar kehidupan manusia, termasuk bisnis. Inovasi teknologi finansial dimulai dari dunia perbankan dengan munculnya Core Banking System (CBS), aplikasi yang merupakan jantung dari system perbankan. Perkembangan teknologi finansial merambah kepada klien dengan munculnya perusahaan start-up dan high-tech yang menciptakan inovasi-inovasi teknologi finansial.
Merujuk kepada suatu fenomena keadaan dimana teknologi dan keuangan (finansial) semakin berkembang. Hal ini dapat merubah bisnis model dan melemahkan bisnis untuk masuk. Bisnis model mengalami perubahan seperti halnya yang terjadi pada pelayanan keuangan. Disisi lain, penghambat untuk masuk mulai menurun akibat bermunculannya pemikiran baru yang menggantikan institusi yang berjalan tradisional.
Di Indonesia pada saat ini perkembangan perusahaan fintech sudah semakin marak, namun perkembangan ini tak terlepas dari masalah-masalah keuangan, seperti rendahnya inklusi keuangan. Hal ini akan membuat fintech menjadi alternatif bagi masyarakat yang belum pernah menyentuh jasa keuangan. Kemudian, karena adanya financial gap pada kredit UMKM membuat para pengusaha UMKM mencari alternatif kredit melalui layanan fintech. Lalu bonus demografi unik di Indonesia juga membuat pertumbuhan perusahaan layanan fintech begitu pesat ditambah dengan bertambahnya infrastruktur internet yang begitu masif dalam lima tahun terakhir.
Semakin berkembangnya perusahaan ΓÇô perusahaan Financial Technology di Indonesia membuat OJK harus membentuk suatu peraturan yang khusus untuk mengatur kegiatan transaksi keuangan yang menggunakan financial technology. Pada tahun 2016, OJK mengeluarkan peraturan POJK No.77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Hal ini merupakan panduan pelaksanaan bisnis fintech P2P.
Pemerintah mengatur kegiatan usaha, pendaftaran perizinan, mitigasi risiko, pelaporan, dan tata kelola sistem teknologi informasi terkait dengan P2P. Peraturan ini berlaku untuk menjaga konsumen dan institusi keuangan. POJK berharap, pemegang saham termasuk pemerintah dan pihak yang terkait lainnya dapat menciptakan lingkungan fintech yang kondusif. Sementara itu, Bank Indonesia juga mengeluarkan peraturan No.18/40/PBI/2016 terhadap munculya proses transaksi pembayaran. Peraturan ini mengatur pembayaran transaksi e-commerce sehingga menjadi leih aman dan efisien. Peraturan ini juga mengatur, memberikan izin, dan mensupervisi penerapan pelayanan pembayaran yang dilakukan oleh principal, provider, pengakusisi, clearing house, penyedia penyelesaian akhir, dan penyedia transfer dana.
Berdasarkan jenis usahanya, fintech terdiri atas beberapa jenis yakni mulai dari payment atau pembayaran, peer to peer (P2P) lending, manajemen investasi hingga crowdfunding atau patungan dana. Dari keempat jenis fintech itu, P2P lending dan sistem payment paling dikenal seiring makin banyaknya masyarakat yang menggunakan layanan tersebut.
Dalam P2P lending, kegiatan dilakukan secara online melalui platform website dari berbagai perusahaan peer lending. Terdapat berbagai macam jenis platform, produk, dan teknologi untuk menganalisis kredit. Peminjam dan pendana tidak bertemu secara fisik dan seringkali tidak saling mengenal. P2P lending tidak sama dan tidak bisa dikategorikan dalam bentuk-bentuk institusi finansial tradisional seperti himpunan deposito, investasi, ataupun asuransi. Karena itu, P2P lending dikategorikan sebagai produk financial alternatif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir 2016 telah mengeluarkan peraturan POJK Nomor 77/POJK01/2016 mengenai tata cara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Data OJK menunjukkan, jumlah pinjaman yang disalurkan per Januari 2018 sudah mencapai Rp 3 triliun, atau naik 17,11% (year to date).
Sementara jumlah pelakunya mencapai 120 fintech. Rinciannya, 36 fintech terdaftar, 42 masih dalam proses mendaftar, dan 42 lainnya berminat untuk mendaftar. Meski dengan suku bunga pinjaman yang lumayan mahal, rata-rata di atas 19%, masyarakat bisa mudah mendapatkan uang tunai dari skema P2P lending.
Kemudahan mendapatkan dana tunai itulah yang menyebabkan aktivitas P2P lending terus meningkat. Namun kemudahan tersebut ternyata disertai risiko yang tinggi, baik peminjam maupun pemberi pinjaman. Dengan suku bunga tinggi, potensi gagal bayar (default) dari peminjam juga tinggi. Hal ini juga menjadi risiko bagi masyarakat yang menjadi pemberi pinjaman.
Sementara aturan meminjam juga tidak terlalu ketat. Dengan platform internet, maka peminjam bisa datang dari mana saja, sehingga sulit untuk melacak peminjam. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyatakan sudah ada 15 penyelenggara layanan keuangan berbasis teknologi (fintech) sistem pembayaran (payment) yang telah terdaftar di bank sentral. Setelah terdaftar, maka penyelenggara fintech tersebut harus masuk ke dalam uji coba regulatory sandbox. Dari 15 penyelenggara fintech tersebut, baru satu yang telah masuk ke dalam regulatory sandbox. Tahapan selanjutnya adalah proses perizinan.
Adapun regulatory sandbox adalah ruang uji coba terbatas yang aman untuk menguji penyelenggara fintech beserta produk, layanan, teknologi dan/atau model bisnis lainnya. Tujuannya adalah untuk memberi ruang bagi penyelenggara fintech untuk memastikan bahwa produk, layanan, teknologi dan/atau model bisnis telah memenuhi criteria fintech.
Fintech yang dapat diuji dalam regulatory sandbox merupakan fintech yang mengandung unsur yang dapat dikategorikan ke dalam sistem pembayaran, serta mengandung unsure inovasi, bermanfaat atau dapat memberi manfaat bagi konsumen dan perekonomian. Kemudian, bersifat non eksklusif, dapat digunakan secara massal, telah dilengkapi dengan identifikasi dan mitigasi risiko serta hal lain yang dianggap penting oleh BI.
Menyadari perkembangan fintech yang kian pesat itu, OJK sedang menyiapkan aturan baru untuk mendorong perkembangan fintech dan perlindungan konsumen. OJK menekankan penyelenggara fintech harus dalam koridor tata kelola yang berdasarkan asas TARIF (Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi dan Fairness) agar aspek perlindungan nasabah terpenuhi.
Aturan yang akan dikeluarkan OJK antara lain memuat pedoman (guiding principles) bagi penyelenggara layanan keuangan digital yang akan mencakup mekanisme pendaftaran dan perizinan serta penerapan regulatory sandbox dan kebijakan tentang crowdfunding.
Selain untuk melindungi konsumen yang menggunakan layanan fintech, aturan yang akan dikeluarkan oleh OJK juga bertujuan menghindari perusahaan fintech lepas tanggung jawab. OJK mendesak kepada perusahaan fintech skema P2P agar transparan terkait pengelolaan dana nasabah. Hal ini dilakukan agar menjamin konsumen yang ingin memanfaatkan layanan fintech tanpa dikhawatirkan dengan isu-isu saat melakukan transaksi.
Perkembangan fintech telah mengubah perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan. Karena itu, kehadiran perusahaan fintech dapat menjadi ancaman bagi lembaga keuangan konvensional, termasuk perbankan. OJK akan mengarahkan perbankan agar dapat meningkatkan sinergi dengan perusahaan fintech ataupun mendirikan lini usaha fintech.
Di era digital saat ini, kolaborasi antara perbankan dengan fintech tidak bisa dihindari. Hasil survei perbankan Indonesia 2018 yang dilakukan PwC Indonesia menyebutkan, perkembangan fintech menjadi salah satu risiko bagi industri perbankan nasional.
Dalam survei itu juga tercatat bahwa ponsel dan internet untuk pertama kalinya mengambil alih posisi puncak sebagai jalur transaksi nasabah setelah mengalahkan kontribusi transaksi konvensional. Tiga tahun lalu sebanyak 75% bankir yang disurvei memperkirakan bahwa lebih dari separuh transaksinya dilakukan melalui kantor cabang konvensional, tapi kini angka tersebut turun menjadi 34%. Sedangkan tren bertransaksi di jalur digital naik menjadi 35%.
Kemudahan transaksi fintech tidak saja mengubah perilaku masyarakat, tapi juga memberi kontribusi terhadap peningkatan inklusi keuangan dan perekonomian nasional. Karena itu, kita berharap regulasi yang akan dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan semakin mendukung kemajuan industri keuangan berbasis fintech dan kepentingan konsumen semakin terlindungi . (*)
Berbicara mengenai kegiatan transaksi keuangan dengan menggunakan financial technology sudah pasti trasnsaksi yang kita lakukan tersebut tidak terbebas dari segala permasalahan hukum. Kenyataannya financial technology yang semakin berkembang pesat justru membentuk suatu tantangan tersendiri pada bidang hukum dengan munculnya bentuk-bentuk tindak pelanggaran hukum terbaru di dalam penggunaan financial technology.
http:// -
-
Dalam artikel ini membahas mengenai perubahan potensial dalam regulasi yang diperlukan untuk mengakomodasi inovasi yang sedang berlangsung.
Silahkan anda analisis dari kasus tersebut, dan berikan tanggapan anda yang terkait dengan regulasi yang bisa diterapkan sesuai dengan perkembangan teknologi di industri keuangan akhir-akhir ini . Dan bagaimana tanggapan anda terkait dengan kasu-kasus Pinjol di Indonesia selama ini, haruskah ada regulasi yang lebih spesifik terkait dengan sistem penagihan kredit melalui pinjol. Jika iya, jelaskan analisa anda
-
Buatlah analisis mengenai kasus regulasi fintech di Cina seperti yang dijelaskan pada artikel yang berjudul "REGULATION OF DIGITAL FINANCIAL SERVICES IN CHINA: LAST MOVER ADVANTAGE?" .
Harap dikumpulkan sebelum tanggal 28 Oktober 2022 dengan mencantumkan Nama dan NPM, terima kasih
-
Kelas Fintech MMT Pertemuan ke-2
Friday, Oct 21 ΓÇó 7:00 ΓÇô 9:00 PM
Google Meet joining info
Video call link: https://meet.google.com/txu-vucg-gfk
-
-
-
Secara garis besar, aset digital adalah aset tidak berwujud (non-tangible) yang dibuat, diperdagangkan, dan disimpan dalam format digital. Dalam definisi yang lebih sederhana, aset digital mengacu pada representasi digital dari sesuatu yang bernilai.
Istilah aset digital telah dikenal sejak 1990-an. Pada saat itu, aset digital merujuk kepada barang-barang seperti video, gambar, audio, dan dokumentasi.
Namun, seiring kemajuan teknologiΓÇöterutama blockchain yang merupakan teknologi penyimpanan digital yang berbasis kriptografiΓÇöistilah aset digital menjadi semakin luas.
Dalam konteks blockchain, aset digital mencakup uang kripto dan token. Bahkan, penemuan kripto disebut menjadi bukti akan revolusi aset digital.
Dalam implementasinya, aset digital ini dapat digunakan sebagai media pertukaran yang dapat digunakan untuk memperoleh barang dan jasa. Atau, aset digital tersebut juga bisa hanya berfungsi sebagai representasi aset fisik dari dunia nyata dengan memiliki kode indentifikasi unik.
-
-
Untuk memahami bagaimana mengevaluasi kelayakan penerapan aplikasi blockchain terdesentralisasi yang ditentukan dalam platform blockchain yang sesuai dan bagaiamana merencanakan dan merancang desentralisasi aplikasi blockchain. Silahkan anda lihat pada materi sbb:
-
-
-
Pembayaran adalah bagian penting dari keuangan. Sejak industri FinTech menarik perhatian investor, pembayaran telah secara konsisten subsektor terbesar dalam hal investasi VC (Chishti & Barberis, 2016; Statista, 2020). Tidak hanya ini, tapi liputan media sering memberitakan dampak uang elektronik seperti misalnya di Afrika dengan M-Pesa dan Alipay di Cina (Hongkong University, 2022), dimana kedua contoh itu akan kita bahas lebih lanjut pada bagian ini.
Jika sebagian besar industri FinTech diwakili oleh perusahaan berbasis B2B, maka pembayaran merupakan pengecualian dalam banyak hal. Hal ini, disebabkan Industri ini memiliki banyak cara menerima pembayaran dari para pelanggan/konsumen serta pengguna, yang mana pada bagian ini akan mengungkapkan dan menjelaskan bagaimana masing-masing saling terkait serta bagaimana teknologi telah mengubah model operasi sebagian perusahaan-perusahaan tersebut.
Beberapa metode pembayaran yang dilakukan secara unik, bahkan di negara-negara Eropa sebagian besar orang sudah menggunakan kartu nirsentuh (contactless card) yang digunakan oleh sebagian masyarakat lebih dari 10 kali setiap harinya. Kondisi sosial ini juga mampu menggambarkan situasi perkembangan teknologi yang mampu mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan orang, misalnya di Cina dengan WeChat mampu menggntikan amplop merah yang menghubungkan interaksi keluarga yang terpisah ribuan mil ke fitur aplikasi tagihan Venmo yang dapat mengubah stigma masyarakat dalam meminta uang tunai. Namun, ada lebih dari yang bisa dilihat secara riil, bahwa pembayaran dapat berfungsi baik tergantung pada infrastruktur yang kompleks seperti halnya operator telekomunikasi, bank atau konsorsium internasional semacam SWIFT.
Pada bagian ini, kita akan melihat suatu pusat industri yang digambarkan sebagai lapisan-lapisan. Dimana, saat kita akan memasuki setiap lapisan satu per satu, yang mana pada lapisan awal menunjukkan kita kepada masa depan industri.
http:// -
Topic: Perkuliahan Fintech Dr. Faurani
Time: Nov 4, 2022 07:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/83958026596?pwd=WWJ2R3RocFBZcFpPeEg2QW14WG05Zz09
Meeting ID: 839 5802 6596
Passcode: 832026
-
-
-
Objective of Study
Menjelaskan model sistem sentralisasi dan desentralisasi dalam Teknologi KeuanganLearning Outcomes:
1. Memahami dan menjelaskan perbedaan antara sistem terdistribusi dan sistem desentralisasi;
2. Menguraikan , dan menganalisis keuntungan dan kerugian bagi pihak otorisasi yang mendapatkan kepercayaan dalam memproses dan menyimpan data transaksi dalam bentuk aplikasi;3. Menguraikan manfaat dan masalah-masalah yang dihadapi dalam sistem desentralisasi. -
Sistem Keamanan Jaringan
Centralized Finance (CeFi) dan Decentralized Finance (DeFi) memainkan peran penting di dunia aset kripto yang bertenaga blockchain, dewasa ini. Seperti namanya, CeFi adalah sistem keuangan terpusat (centralized). Kita mengenal itu dengan istilah lain, yakni fintech (financial technology). Lazimnya CeFi dikendalikan secara langsung oleh perusahaan aplikasi sehingga proses dan kinerjanya lebih dijamin oleh perusahaan itu sendiri. Nah, saat ini, kegiatan pinjam meminjam uang lewat beragam lembaga keuangan non-perbankan sudah sangat lazim.
Di Indonesia sendiri, aplikasi pinjam online (pinjol) sudah berjamur, karena telah menjadi pilihan mendapatkan dana segar selain dari bank. Ini masuk kategori CeFi tapi tidak dan belum memanfaatkan teknologi blockchain dan tidak ada unsur aset kripto. Namun, ada CeFi yang juga bertenaga blockchain dengan aset kripto sebagai objek nilai, karena dikelola langsung oleh perusahaan tertentu, salah satunya adalah PointPay: Perusahaan CeFi Terpercaya dan Teruji.
DeFi punya konsep berbeda dengan CeFi, walaupun sama-sama menggunakan teknologi blockchain yang bersifat decentralized. Hal yang paling membedakan antara keduanya adalah, DeFi masih memiliki celah yang sangat rentan untuk ditinggalkan karena beban komisi yang sangat tinggi, sehingga ini bisa menjadi beban tersendiri bagi pengguna, maupun untuk kelangsungan hidup DeFi itu sendiri di tengah-tengah masyarakat.
Sedangkan CeFi, mereka hadir dalam komisi yang sangat bersaing sehingga jika ditambah dengan fitur layaknya perbankan, maka perusahaan CeFi digadang akan lebih diminati di masa mendatang. DeFi sendiri disebut decentralized, karena transaksinya keuangannya berjalan secara langsung di blockchain antar pengguna. Tidak ada pihak ketiga sebagai perantara.
Dalam sistem CeFi dan DeFi beberapa hal yang harus diketahui terkait dengan sistem keamanan jaringan antara lain: CEX (Centralized Exchange) yang melibatkan perusahaan organisasi pusat yang bertindak sebagai orang ketiga untuk menyimpan aset, mengatur pertukaran, dan mengenakan biaya pertukaran. Sebaliknya, DEX (Decentralized Exchange) yang mengandalkan smart contract yang dijalankan sendiri untuk memfasilitasi trading crypto.
Berbagai pemanfaatn teknologi data dalam perkembangan sistem keuangan dan perbankan akhir-akhir ini sangat pesat terutama semenjak ditemukan dan dimanfaatkannya teknologi Bockchain (BTC) dalam penyimpanan data yang terbukti lebih aman dibandingkan dengan teknologi sebelumnya.
Untuk memahami secara menyeluruh silahkan anda lihat pada tayangan sebagai berikut:
-
-
-
-
Data adalah sekumpulan informasi atau keterangan dari suatu hal yang diperoleh dengan proses pengamatan dan pencarian dari beberapa sumber terkait. Data yang didapatkan bisa menjadi sebuah hipotesa atau fakta yang belum diuji ke absahannya. Data-data yang sudah diperoleh maka akan diolah dengan beberapa proses percobaan hingga kedalam bentuk yang lebih kompleks.
Secara harfiah, ΓÇ£dataΓÇ¥ berasal dari kata ΓÇ£datumΓÇ¥ yang diambil dari bahasa Romawi, artinya sebagai sesuatu yang diberikan. Dapat disimpulkan arti sesungguhnya dari data adalah ΓÇ£diberikanΓÇ¥ bukan ΓÇ£memberikanΓÇ¥. Istilah data memang lebih cendrung berkaitan dengan teknologi dan penelitian.
Dalam teknologi, Anda mungkin tidak asing dengan istilah database sebuah software tempat penyimpanan dan pengolahan data. Sedangkan dalam penelitian, data biasa digunakan sebagai bahan observasi, setelah didapat data-data yang diperlukan barulah dilakukan pengamatan hingga mendapatkan hasil yang diinginkan.
FUNGSI DATA
Berikut adalah fungsi data:
- Sebagai dasar membuat keputusan terbaik dalam memecahkan sebuah masalah.
- Sebagai dasar dalam perencanaan maupun penelitian.
- Sebagai acuan dalam implementasi suatu kegiatan atau aktivitas.
- Sebagai bahan evaluasi.
Jenis ΓÇô Jenis Data
Berikut ini adalah jenis-jenis data yang dikelompokan berdasarkan parameter yang ada seperti sifat data, sumber data hingga waktu pengambilan data:
1. Data Berdasarkan Sifat
Ada dua jenis data yang membedakan data ini yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Dua jenis data tersebut kerap dipergunakan dalam penelitian karena kedua data tersebut dapat saling melengkapi. Data kualitatif biasanya berbentuk pernyataan, gambar bahkan simbol. Sedangkan data kuantitatif lebih ke arah pernyataan dalam jumlah bilangan atau angka.
2. Data Berdasarkan Sumber
Anda pasti setuju bahwa data bisa bersumber dari mana saja. Faktanya, sumber data memang dapat dijadikan parameter dari jenis data. Jenis data berdasarkan sumber terbagi 2 yaitu data primer dan data sekunder. Data primer atau data asli adalah data langsung dari objek atau sumbernya. Sedangkan data sekunder atau data tambahan berasal dari sumber-sumber diluar objek seperti jurnal, buku, media dan masih banyak lagi.
3. Data Berdasarkan Waktu
Data berdasarkan waktu dibagi menjadi 2 yaitu data berkala dan data cross section. Ini diambil secara berkala di waktu yang telah di tetapkan seperti data closing supermarket, data survei penduduk dan masih banyak lagi. Sedangkan data cress section bisa diartikan data yang terkumpul dalam waktu tertentu seperti data hasil ujian masuk perguruan tinggi dan sejenisnya.
http:// -
Silahkan anda download materi sbb:
https://drive.google.com/file/d/1D9uS7fn2hMHHWj-Cea9FQyMkY99qXU3t/view?usp=share_link
-
-
-
Buatlah artikel jurnal ilmiah atau critical jurnal Ilmiah yang terkait dengan Industri Fintech (bisa dengan berbagai pendekatan seperti: Keuangan, Manajemen resiko, Regulasi, Blockchain, AI, Cloud computing, big data, data science, Marketing digital, Perbankan, Bisnis Internasional, Teknologi Industri, dan Ilmu bisnis serta komputer lainnya), dengan instruksi sbb:
1. Artikel maksimal 20 hal
2. Bahasa Inggris/Indonesia
3. Abstrak
4. Referensi
5. Font 11 Times New Romans
6. Kelompok (maksimal 3 orang)
6. Dikumpulkan paling lambat Jumat 02 Desember 2022 pukul 21.00 via LMS dan portal student dengan mencantumkan nama2 amggota beserta NPM
-
-
-
-
Blockchain adalah teknologi yang sangat kompleks dan terkadang membuatnya menjadi teknologi yang sangat sulit untuk dijelaskan. Jadi, beberapa orang masuk ke penjelasan teknis, menjelaskan kepada pengguna, ada infrastruktur buku besar yang didistribusikan saat informasi dibagikan. Tetapi ketika Anda berbicara dengan audiens yang besar, sebenarnya sulit bagi orang-orang untuk mulai membayangkan apa aliran informasi ini.
Jadi cara saya ingin menjelaskan, apa itu teknologi blockchain, sebenarnya adalah menjelaskan bahwa itu adalah teknologi tentang koordinasi yang membantu orang, membantu organisasi untuk mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang tidak dapat dipercaya. Dan jika Anda adalah orang teknis, kita dapat berbicara tentang buku besar, seperti cara informasi dienkripsi dan dibagikan di antara basis data yang berbeda. Tapi kesimpulan keseluruhan, ini adalah teknologi yang belum pernah ada sebelumnya, dan ini adalah teknologi yang tujuan utamanya adalah untuk membantu koordinasi.
-
Topic: Perkuliahan Fintech MMT Dr. Faurani
Time: Dec 02, 2022 06:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/8148554787?pwd=LI7sU3kowSlTe64eKnFCrXNxMqpSb2.1
Meeting ID: 814 855 4787
Passcode: HMM22
-
-
-
ICO (Initial Coin Offering) adalah suatu sarana dalam mengumpulkan dana melalui penawaran suatu jenis koin baru atau layanan cryptocurrency baru. Koin yang dimaksud ini adalah mata uang cryptocurrency.
Namun pada intinya, kegiatan tersebut dilakukan untuk menambah dana melalui penjualan crypto yang memiliki kegunaan terkait perusahaannya. Saat berpartisipasi dalam penjualan koin atau token di fase awal tersebut, umumnya investor ingin memiliki beberapa informasi sebelum membeli.
Informasi tersebut digunakan untuk memutuskan apakah proyek crypto tersebut layak untuk diinvestasikan atau tidak. Oleh karena itu, pemilik proyek umumnya memberikan informasi tersebut melalui jurnal publikasi atau yang sering disebut sebagai whitepaper. Tapi sebelumnya investor harus mengetahui apa itu whitepaper dan cara memahami serta membuatnya.
Know Your Customer atau KYC adalah suatu kebijakan yang diterapkan oleh instansi jasa keuangan atau bank untuk mengetahui identitas dan mengawasi aktivitas transaksi nasabah mereka.
Diterapkannya KYC adalah berperan penting dalam pendaftaran nasabah sebuah bank guna memastikan bahwa informasi yang ada di rekening mereka adalah benar dan asli. Seluruh proses pendaftaran nasabah di bank menggunakan teknologi keuangan KYC. Oleh karena itu, fungsi diterapkannya KYC adalah sebagai salah satu langkah dalam menghindari adanya korupsi, pencucian uang, dan aksi kejahatan lainnya serta menjaga keamanan rekening nasabah.
Jika suatu produk atau jasa teknologi keuangan tidak memanfaatkan fasilitas KYC, maka kemungkinan besar akan terjadi kerugian bagi nasabahnya. Hal itu dikarenakan terdapat oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang akan mengganggu keamanan transaksi mereka.
-
Silahkan anda kerjakan dalam bentuk kelompok . Analisa whitepaper dari startup fintech company (Domestik atau internasonal) berdasarkan prinsip-prinsip kelayakan dan sustainabilitas usaha nya.
-
-
-
Dokumen pemerintah umum yang memberikan informasi dan perincian tentang undang-undang yang tertunda, seperti yang didefinisikan oleh kamus Cambridge, adalah apa yang kami maksud dengan white paper.
Meskipun serupa, white paper dirancang untuk memberikan informasi latar belakang kepada calon investor tentang proyek fintech (biasanya dalam bentuk investasi crypto saat melakukan ICO) dengan menguraikan aspek teknis proyek, seperti aliran transaksi dan produk yang disertakan. Investor mempertimbangkan ini saat membuat pertimbangan investasi.
Dalam kebanyakan kasus, white paper akan menjelaskan tiga topik penting, seperti ini:- Masalah apa yang akan diselesaikan
- Bagaimana bisnis yang dijalankan bisa jadi solusi dari masalah tersebut
- Bagaimana potensi perkembangan bisnis di masa depan
Fungsi White Paper Crypto
Dokumen white paper ini mungkin memiliki banyak fungsi tergantung dari sudut mana kita melihatnya, perusahaan dari proyek ICO atau investor.
Fungsi dari Sisi Perusahaan
White paper dapat digunakan sebagai bahan promosi atau untuk menekankan manfaat dari solusi, produk, atau layanan yang saat ini ditawarkan atau akan di masa depan.
Jika diproduksi dengan tepat, dokumen ini dapat menjadi nilai tambah di mata calon investor, sehingga mereka tertarik untuk membelanjakan uangnya untuk berpartisipasi di perusahaan tersebut.
Sebagai perusahaan crypto, cobalah untuk memberikan detail yang merupakan keuntungan dari perusahaan. Seperti produk atau layanan yang ada, jenis teknologi apa yang digunakan dan metodologi apa yang digunakan.
Informasi ini perlu disampaikan dalam bahasa ilmiah, karena white paper ini tidak bersifat promosional seperti brosur, poster, dll.
Namun dengan memberikan fakta yang meyakinkan dan akurat maka akan tercipta citra yang baik terhadap suatu produk dari perusahaan tersebut, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor.
Fungsi dari Sisi Investor
Masuk akal bahwa seseorang akan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Terutama dalam hal investasi, investor akan mengkaji beberapa faktor agar uang yang dikeluarkannya tidak sia-sia. White paper dapat menjadi acuan yang digunakan oleh investor untuk menentukan aktivitasnya.
Informasi yang diberikan dalam dokumen tersebut sangat bermanfaat bagi mereka untuk mengkaji apakah suatu perusahaan memiliki potensi dan kompetensi untuk dipercayakan dengan sejumlah uang tertentu.
Investor dapat memperoleh pengetahuan tentang keyakinan dan tujuan perusahaan, serta kualitas teknologi dan metodologi perusahaan.
Cara Menulis White Paper Crypto
Seperti disebutkan sebelumnya, white paper biasanya ditulis sebagai publikasi penjualan dan pemasaran untuk meyakinkan calon konsumen agar mempelajari lebih lanjut atau bahkan memperoleh produk, layanan, teknologi, atau metodologi tertentu.
Saat memproduksi white paper, gunakan kesan bahwa dokumen tersebut harus digunakan sebagai alat pemasaran sebelum penjualan terjadi, bukan sebagai panduan pengguna atau buku pegangan yang dibuat untuk menawarkan petunjuk penggunaan produk setelah produk diperoleh.
Pemasaran bisnis-ke-bisnis, seperti antara produsen dan grosir atau grosir dan pengecer, terkadang mengharuskan penggunaan white paper.
Untuk penggunaan dalam bisnis Business to business (B2B), ada 3 jenis white paper yang sering digunakan karena tujuan yang berbeda, yaitu:
- Backgrounders, Jenis ini berfungsi menjelaskan fitur suatu produk secara teknis.
- Numbered list, meng-highlight tips dan poin-poin penting terkait produk yang ditawarkan.
- Problem/Solve, penawaran produk sebagai solusi dari permasalahan suatu bisnis.
Namun perlu disebutkan, white paper ini berbeda dengan produk pemasaran lainnya, seperti brosur. Jika brosur dan alat pemasaran lainnya sengaja dibuat mencolok dan menonjolkan promosi penjualan yang mencolok.
Tujuan dari white paper adalah untuk menunjukkan kepada klien potensial bahwa produk atau layanan yang ditawarkan adalah solusi untuk masalah mereka.
Secara umum, white paper umumnya memiliki panjang setidaknya 2.500 kata dan ditulis dengan cara yang lebih ilmiah dan teknis.
http:// -
Untuk mengetahui lebih jelas apa itu whitepaper, fungsi dan manfaat, cara menilai potensi dsb silahkan unduh materi sbb:
-
-
Topic: Perkuliahan Fintech MMT Dr. Faurani
Time: Dec 09, 2022 06:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/8148554787?pwd=LI7sU3kowSlTe64eKnFCrXNxMqpSb2.1
Meeting ID: 814 855 4787
Passcode: HMM22
-
-
-
Whitepaper adalah laporan persuasif, otoritatif, mendalam tentang topik tertentu yang menyajikan masalah dan memberikan solusi. Ibarat seperti halnya dengan katalog maupun brosur yang menjelaskan tentang gambaran secara holsitik dari berbagai aspek (teknologi, profitable, pasar/market, jaminan dan kelayakan).
Whitepaper sebagai promosi pasar dan produk.
Sebuah whitepaper sebagai "dokumen informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mempromosikan atau menyoroti fitur solusi, produk, atau layanan," diperingatkan bahwa secara terang-terangan menyiarkan barang Anda sendiri dapat mematikan pembaca Anda.
Tujuan dari whitepaper adalah untuk menginformasikan dan membujuk berdasarkan fakta dan bukti, bukan memberi tahu dunia mengapa orang perlu membeli produk Anda sekarang, atau mengapa investor harus berinvestasi.
Dalam whitepaper tidak saja menjelaskan product knowldege, dan pengembangan teknologi kedepan namun juga harus berisi prospek pasar, kemampuan valuasi perusahaan, assurance (jaminan) bahkan berisi dampak potensi penambahan penjualan produk yang bermuara pada profit perusahaan (baik yang menggunakan layanan maupun yang memberikan layanan).
Model Bisnis
Model bisnis ecommerce/e-transactions (B2B, B2C, C2C, C2B, B2G) semakin meroket di tahun 2021. Per Agustus 2020, bisnis ecommerce berhasil mencetak peningkatan transaksi sebesar 429 Triliun rupiah, jika dibandingkan dengan tahun 2019 (205,5 Triliun rupiah). Pada tahun 2020, transaksi dari sektor ini dikalkulasikan mencapai Rp 1.850 triliun atau naik 9 kali lipat dibanding transaksi e-commerce Indonesia pada 2015 yang nilainya Rp 200 triliun.
Layanan digital hadir dengan keunggulan yang sudah kita diketahui, yakni mempermudah segala sesuatu yang awalnya rumit dan membutuhkan banyak waktu. Bisnis ritel tidak luput dari internet. Bisnis ini beralih menjadi layanan digital yang kita kenal sebagai e-commerce. Konsumen bisa membeli sesuatu dalam jumlah banyak sekaligus tanpa harus melihat langsung, cukup dari komputer atau ponsel.
Laporan terbaru PPRO, perusahaan layanan pembayaran terkemuka di dunia tentang pembayaran dan perdagangan online tahun 2018, menyatakan Indonesia memiliki pertumbuhan tertinggi mencapai 78% per tahun. Negara lainnya untuk top five pertumbuhan pasar tertinggi adalah Meksiko 59%, Filipina 51%, Kolombia 45%, dan Uni Emirat Arab (UEA) 33%.
VALUASI dan NILAI PASAR
Valuasi adalah suatu proses yang dilakukan untuk menentukan nilai. Secara bahasa, valuasi berasal dari kata bahasa Inggris "value" yang artinya nilai. Nilai didefinisikan sebagai seseorang dalam memaknai objek pada waktu dan tempat tertentu.
Misalnya, dalam bisnis valuasi artinya proses analitis untuk mengetahui nilai suatu perusahaan. Berikut adalah penjelasan lengkap tentang valuasi, cara menghitung, faktor yang mempengaruhi valuasi, hingga contohnya.Nilai Pasar (Market value)
Nilai pasar atau market value biasanya digunakan untuk menggambarkan berapa nilai aset atau perusahaan di pasar keuangan. Ini ditentukan bersama oleh pelaku pasar dan digunakan secara bergantian untuk kapitalisasi pasar ketika berhadapan dengan aset dan perusahaan.
Hubungan antara Nilai Pasar dan Harga Pasar
Di sisi lain, harga pasar mengacu pada harga di mana pertukaran barang terjadi. Ini ditentukan murni oleh permintaan dan penawaran, yang berarti bahwa jumlah yang bersedia dibayar pembeli harus sama persis dengan apa yang bersedia diterima penjual.
-
-
Topic: Perkuliahan Teknologi Keuangan Dr. Faurani
Time: Dec 16, 2022 06:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/83958026596?pwd=WWJ2R3RocFBZcFpPeEg2QW14WG05Zz09
Meeting ID: 839 5802 6596
Passcode: 832026
Join by SIP
83958026596@zoomcrc.com
-
-
-
Analisis fundamental adalah metode yang intinya mengacu berdasarkan data laporan keuangan perusahaan. Dengan analisis ini, anda sebagai investor bisa mempertimbangkan banyak pengukuran bahkan sampai faktor makro dan mikro ekonomi. Sedangkan, analisis teknikal adalah metode analisis yang menggunakan data harga historis.
-
-
Topic: Perkuliahan Fintech Dr. Faurani
Time: Dec 23, 2022 05:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/8148554787?pwd=LI7sU3kowSlTe64eKnFCrXNxMqpSb2.1
Meeting ID: 814 855 4787
Passcode: HMM22
-
Topic: Perkuliahan Fintech Dr. Faurani
Time: Jan 06, 2023 06:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/8148554787?pwd=LI7sU3kowSlTe64eKnFCrXNxMqpSb2.1
Meeting ID: 814 855 4787
Passcode: HMM22
-
-
-
Web 3.0 merupakan internet generasi ketiga yang akan datang di mana situs web dan aplikasi akan dapat memproses informasi dengan cara yang cerdas melalui teknologi seperti machine learning, big data, teknologi buku besar terdesentralisasi (DLT), dll.
Web 3.0 awalnya disebut Web Semantik oleh penemu World Wide Web Tim Berners-Lee, dan ditujukan untuk menjadi internet yang lebih mandiri, cerdas, dan terbuka. Selain itu, definisi dari Web 3.0 dapat diperluas menjadi data akan saling berhubungan dengan cara yang terdesentralisasi di mana data sebagian besar disimpan dalam repositori terpusat.
Selanjutnya, pengguna dan mesin akan dapat berinteraksi dengan data. Namun agar hal ini terjadi, program perlu memahami informasi baik secara konseptual maupun kontekstual. Maka begitu, dua landasan utama Web 3.0 adalah web semantik dan kecerdasan buatan (AI).
Web 3.0, Mata Uang Kripto, dan Blockchain
Karena jaringan Web 3.0 akan beroperasi melalui protokol terdesentralisasi yakni blok yang mendirikan teknologi blockchain dan mata uang kripto, sangat besar kemungkinan akan ada hubungan yang kuat di antara ketiganya. Dan Kita dapat berharap untuk melihat pertemuan dan hubungan simbiosis antara ketiga teknologi ini dan bidang lainnya.
Teknologi Web 3.0
Web 3.0 sebenarnya bukanlah konsep baru di mana Jeffrey Zeldman, salah satu pengembang awal aplikasi Web 1.0 dan 2.0, telah menulis dalam sebuah blog yang menempatkan dukungannya di balik Web 3.0 pada tahun 2006.
Bahkan pembicaraan seputar topik ini telah dimulai sejak tahun 2001.
Web 3.0 nantinya akan lahir dari evolusi alami alat web generasi lama yang dikombinasikan dengan teknologi mutakhir seperti AI dan blockchain, serta interkoneksi antara pengguna dan peningkatan penggunaan internet.
Kesimpulannya Web 3.0 adalah peningkatan atau upgrade dari dua pendahulunya, web 1.0 dan 2.0.
Sejarah Web Era
Web 1.0 (1989-2005)
Web 1.0 atau juga yang disebut Web Statis, adalah internet pertama dan paling andal pada tahun 1990-an meskipun hanya menawarkan akses ke informasi terbatas dengan sedikit atau tanpa interaksi pengguna.
Web 1.0 tidak memiliki algoritme yang bisa menyaring halaman internet sehingga sangat sulit bagi pengguna untuk menemukan informasi yang relevan.
Sederhananya, generasi web lama tersebut layaknya jalan raya satu arah dengan jalan setapak sempit di mana kreasi konten dilakukan oleh beberapa orang terpilih dan informasi sebagian besar berasal dari direktori.
Web 2.0 (2005-sekarang)
Web Sosial, atau Web 2.0, membuat internet jauh lebih interaktif berkat kemajuan teknologi web seperti Javascript, HTML5, CSS3, dll, yang memungkinkan perusahaan rintisan untuk membangun platform web interaktif seperti YouTube, Facebook, Wikipedia, dan banyak lagi.
Perkembangan ini juga membuka jalan bagi jejaring sosial dan produksi konten buatan pengguna untuk berkembang karena data sekarang dapat didistribusikan dan dibagikan di antara berbagai platform dan aplikasi.
Web 3.0 (belum dimulai)
Web 3.0 adalah tahap selanjutnya dari evolusi web yang akan membuat internet lebih cerdas dengan memproses informasi dengan kecerdasan buatan atau AI. Melalui kekuatan sistem AI tersebut, nantinya akan dapat menjalankan program pintar yang bisa membantu pengguna.
Tim Berners-Lee telah berkata bahwa Web Semantik dimaksudkan untuk "secara otomatis" berinteraksi dengan sistem, orang, dan perangkat rumah. Dengan demikian, pembuatan konten dan proses pengambilan keputusan bakan melibatkan manusia dan mesin. Maka dari itu, kreasi dan distribusi cerdas atas konten akan sangat bisa disesuaikan langsung kepada setiap pengguna internet.
-
Perbedaan mendasar antara Web2 da Web3 terletak pada desentralisasi. Sistem yang terdesentralisasi memungkinkan kita sebagai user menggunakan aplikasi apapun dalam Web3 tanpa mengorbankan data pribadi kita. Hal ini dapat terjadi karena aplikasi berjalan dalam blockchain dan langsung terdesentralisasi, sehingga tidak ada campur tangan dari pihak lain.
ΓÇìSelain berbasis blockchain dan desentralisasi, ada juga komponen penting yang membuat Web3 semakin canggih yaitu composability. Kualitas komposisi atau composability memungkinkan Web3 dapat digunakan secara open-source dengan banyak orang dan mampu berkembang lebih cepat dibandingan sistem yang masih sentral.
-
Web 2.0 berfokus pada memungkinkan para pengguna untuk berinteraksi dengan konten internet. Di sisi lain, Web 3.0 mendorong pendalaman konten di internet dengan menjadi contributor aktif.
-
Konsep Decentralized Autonomous Organization (DAO) pertama kali diusulkan oleh pendiri BitShares, Steemit dan EOS (Block.one) dan Larmier pada tahun 2015. Kemudian pada tahun 2016, konsepnya disempurnakan oleh Vitalik Buterin dari Ethereum.
Decentralized Autonomous Organization sendiri dapat membantu menjaga suatu jaringan untuk tetap aman dan bisa optimal, tanpa memerlukan perantara manual dari anggotanya. Ide awal pembuatan DAO adalah untuk mendirikan suatu lembaga atau organisasi yang sepenuhnya berfungsi tanpa embel-embel tatanan manajerial yang biasanya ada di suatu organisasi. Adapun peran utamanya adalah untuk menyatukan orang-orang dengan minat yang sama untuk bekerja menuju tujuan bersama.
Decentralized Autonomous Organization berbeda dari organisasi tradisional yang dikelola oleh dewan, komite, maupun eksekutif. Sebaliknya, Decentralized Autonomous Organization menggunakan seperangkat aturan yang ditulis dalam kode digital dan ditegakkan oleh jaringan komputer yang menjalankan perangkat lunak bersama.
Sederhananya, DAO adalah sebuah lembaga atau organisasi yang dikelola oleh alogritma-algoritma komputer, sehingga tidak dikendalikan oleh manusia langsung. Dan untuk menjadi anggota organisasi ini, pengguna harus bergabung terlebih dahulu dengan cara memberi mata uang kriptonya. Dengan memiliki aset kripto DAO, pengguna secara otomatis mendapatkan kekuatan untuk memilih dalam proposal dan pembaruan.
Hal tersebut tentu disesuaikan dengan jumlah aset kripto DAO yang mereka dimiliki.
Cara Kerja DAO
Setelah mengetahui apa itu DAO (Decentralized Autonomous Organization), kita akan mengenal cara kerja organisasi satu ini.
DAO beroperasi pada seperangkat aturan dan regulasi yang ditetapkan melalui smart contract di blockchain. Smart contract merupakan program komputer yang dapat bekerja sendiri di atas sistem Ethereum. Meski begitu, secara bersamaan aturan itu masih membutuhkan peran pihak ketiga, dalam hal ini manusia, untuk memverifikasi seluruh kegiatan dan melakukan sejumlah tugas yang tidak dapat ia lakukan sendiri.
Setelah aturan ditetapkan, DAO kemudian memasuki tahapan pendanaan. Tahap pendanaan ini mencakup dua hal penting, yakni:
- DAO harus mempunyai token. Token ini digunakan oleh organisasi sebagai ΓÇ£pinjamanΓÇ¥ yang akan diberikan oleh debitur.
- DAO harus memastikan hak suara pengguna. Dengan berinvestasi di DAO, pengguna akan mendapatkan hak suara yang bisa digunakan untuk memvalidasi atau menolak segala pembiayaan atas proyek-proyek yang akan dibiayai organisasi ke depannya.
Ketika tahapan pendanaan sudah selesai dan Decentralized Autonomous Organization sudah bisa dijalankan, organisasi ini otomatis menjadi otonom dan independen dari pembuatnya. Nantinya, semua aturan dan transaksi keuangan akan dicatat secara mendetail dalam blockchain. Dengan begitu, catatan transaksi di DAO sepenuhnya transparan dan tidak dapat dikorupsi atau bahkan dihapus.
Jika DAO sudah resmi beroperasi, segala keputusan yang berkaitan dengan penggunaan dana dilakukan dengan cara membuat kesepakatan bersama. Nantinya setiap pemegang saham dapat membuat proposal yang berisi rencana masa depan organisasi.
Namun, guna mencegah membludaknya proposal yang masuk, tiap pemegang saham perlu deposit sejumlah uang. Hanya proposal yang mendapatkan persetujuan terbanyak dari para pemegang saham yang akan digunakan oleh DAO ke depannya.
DAO dan Keamanan
Aturan yang telah diberlakukan untuk mengatur DAO bisa menjadi sangat kompleks dan sangat sulit diubah. Mengapa sulit diubah? Karena nantinya setiap perubahan akan menjadi kewajiban penulis kode baru dan persetujuan jaringan berdasarkan konsensus.
Kekurangannya, ketidakmampuan untuk bereaksi cepat terhadap bug kode membuat organisasi ini sangat rentan terhadap serangan peretas yang dapat mengeksploitasi kelemahan dan keamanan serta mengurus dana kripto. Selain itu, ada pula kekhawatiran perihal bisa tidaknya organisasi ini dijalankan dalam dunia nyata. Maksudnya, kemungkinan diubahnya token-token Ethereum menjadi mata uang fiat.
Keuntungan DAO
Secara umum, organisasi ini menawarkankan keunikan untuk bisa diimplementasikan di dunia yang saat ini sudah modern. Berhubung tidak menganut sistem hirarki, Decentralized Autonomous Organization membuka peluang selebar-lebarnya bagi siapa pun di dalam organisasi untuk memberikan ide.
Adanya sistem pemungutan suara yang terbuka dan adil serta diberlakukannya peraturan yang sudah disepakati oleh para member juga dapat mengurangi terjadinya konflik dalam organisasi. Bukan hanya itu saja. Kesepakatan untuk deposit sejumlah uang sebelum membuat perubahan juga menjadikan setiap keputusan yang akan diambil dapat dievaluasi secara mendalam sehingga menghasilkan solusi yang efektif.
Poin penting lainnya adalah karena sistem DAO menggunakan jejaring blockchain, transparansinya jelas terjamin. Setiap anggota bakal dilibatkan dalam mengambil keputusan tentang bagaimana membelanjakan dana dan melacak dana yang dibelanjakan.
Apa Hubungan DAO dengan NFT?
Decentralized Autonomous Organization membawa banyak hal ke dunia NFT. Dari mulai kepemilikan kolektif NFT hingga tata kelola komunitas.
Berikut ini adalah penjelasan hubungan serta pengaruh DAO dengan NFT.
1. Kepemilikan Kolektif
Salah satu cara DAO membantu industri NFT adalah dalam kepemilikan kolektif atas suatu aset.
Biasanya, berinvestasi di NFT, terutama proyek blue-chip, membutuhkan modal yang signifikan. Sayangnya, tidak semua orang memiliki modal tersebut. Dengan demikian, beberapa DAO didirikan untuk memungkinkan sekelompok orang secara kolektif memiliki NFT yang bernilai tinggi tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Misalnya PleasrDAO, organisasi yang terdiri dari pemimpin DeFi, kolektor NFT awal, dan seniman digital yang mengumpulkan dana untuk NFT yang sangat berharga.
Menurut situs webnya, organisasi tersebut mengumpulkan seni digital yang mewakili dan mendanai gagasan, gerakan, dan sebuah tujuan penting. Untuk semua NFT yang dibeli, anggota PleasrDAO secara kolektif berbagi biaya dan kepemilikan aset.
DAO, yang awalnya didirikan untuk membeli NFT Uniswap V3, kini telah membeli NFT seperti NFT Edward Snowden ΓÇ£Stay FreeΓÇ¥. PleasrDAO membeli NFT Stay Free seharga 2.224 ETH atau sekitar 5,4 juta dolar AS kala itu.
2. Tata Kelola Komunitas (Community Governance)
Hubungan lainnya antara DAO dengan NFT adalah perihal community governance.
DAO adalah sarana yang tepat bagi penggemar dan pembuat proyek NFT untuk berkumpul serta memutuskan perencanaan atau langkah proyek di masa mendatang. Beberapa proyek NFT telah membentuk DAO mereka sendiri.
Koleksi NFT teratas, seperti Gutter Cat Gutter telah memiliki DAO Gutter Cat Gang. Organisasi tersebut, sesuai situs webnya, memiliki tujuan untuk membawa DAO Gutter Cat Gang melampaui komunitas atau klub NFT standar pada umumnya. Di sini, mereka yang memiliki NFT Gutter Cat dapat memberikan suara pada keputusan tertentu, seperti inisiatif proyek komunitas. Selain itu, DAO Gutter Cat Gang baru-baru ini juga menyelenggarakan pesta khusus untuk pemegang NFT di Las Vegas, Amerika Serikat. Biasanya, para artisnya harus menjual NFT mereka ke Decentralized Autonomous Organization dengan imbalan token DAO. NFT, dengan cara tertentu, berfungsi sebagai jaminan untuk token yang dikeluarkan dan memberikan nilai token.
Selain itu, pemegang token akan mendapatkan hak atas suara dalam organisasi. Contohnya adalah WHALE, token sosial yang didukung oleh The Vault koleksi seni NFT platform. DAO mengatur Vault, di mana para anggotanya memegang token WHALE dan bisa tetap berkontribusi pada pertumbuhan proyek.
3. Komunitas Kreator NFT
Komunitas yang kuat dan solid sangat penting untuk keberhasilan sebuah proyek NFT. Bagi artis, selebritas, dan seniman populer yang memang sudah memiliki basis penggemar atau pengikut yang banyak, mungkin akan mudah untuk membangun sebuah komunitas. Sayangnya, tidak demikian bagi artis atau seniman pendatang baru.
Nah, di sinilah kehadiran komunitas kreator NFT yang diatur oleh Decentralized Autonomous Organization terbentuk. Pada dasarnya, komunitas ini adalah kumpulan kreator NFT yang membantu mengumpulkan dana, membuat strategi pemasaran, pembangunan komunitas, dan masih banyak lainnya.
NFT DAO Populer
Seiring dengan meningkatkan tren NFT, kini sudah banyak NFT DAO populer yang bermunculan. Berikut ini adalah empat NFT DAO paling populer yang wajib kamu ketahui.
1. YGG DAO
Berbeda dengan beberapa karya NFT pada umumnya, YGG DAO berfokus pada aset gim dari blockchain dan NFT game. Tim YGG mengeluarkan ΓÇÿtoken YGGΓÇÖ untuk para anggotanya. Pemegang token YGG dapat memberikan suara pada setiap keputusan yang terkait dengan bisnis serta tata kelola dari guild dan juga bisa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lainnya yang terkait dengan Decentralized Autonomous Organization.
2. APE DAO
APE DAO dimulai oleh kolektor Bored Apes Kylo.eth. Mereka membagi 49 BAYC NFT dan CryptoPunk perempuan menjadi 1 juta token APED, untuk meluncurkan NFT DAO pada bulan Juni tahun 2022. Kehadiran organisasi ini membuat siapa pun dapat memiliki bagian dari NFT yang saat ini terbilang cukup populer. Momentum ini nyatanya berhasil menarik perhatian banyak pihak di ruang NFT dan DAO. Pasalnya DAO sukses besar, dengan token yang terjual habis hanya dalam waktu empat hari.
Segera setelah itu, anggota DAO menyumbangkan lebih banyak NFT, termasuk CyberKongz, Avastar, PunkΓÇÖs Comic, dan banyak lagi. Selanjutnya, komunitas mengatur DAO melalui pecahan $APED.
3. Jenny Metaverse DAO
Jenny Metaverse DAO, yang dibuat di platform Unicly, memperoleh NFT dan menyimpannya di brankas. Selain itu, token uJENNY asli mewakili NFT.
Seperti WHALE, token sosial yang didukung oleh The Vault, yaitu koleksi seni dari NFT platform. Siapa pun yang memegang token WHALE akan mendapatkan hak tata kelola dan dapat memberikan suara, seperti merilis NFT dari tempat penyimpanan, memperoleh NFT, dan beberapa perencanaan lainnya.
4. SharkDAO
Organisasi ini menyatukan sekelompok orang asing untuk mengumpulkan dana guna memperoleh NFT langka. Sejauh ini, SharkDAO elah berhasil memiliki 400 anggota (mereka menyebutnya dengan ΓÇÿsharkΓÇÿ), bersama-sama meningkatkan 1000 ETH.
Lebih jauh, anggota akan menerima token SHARK dengan imbalan ETH. Melalui token ini lah, anggota dapat memilih, mengarahkan misi dan memperdayakan sumber daya yang ada demi kemajuan proyek.
http:// -
Sebagai salah satu teknologi yang paling banyak digunakan saat ini, blockchain masih memiliki kekurangan dan permasalahan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh blockchain terdesentralisasi saat ini adalah blockchain trilemma. Tiap blockchain hanya dapat fokus pada 2 dari 3 keunggulan utama blockchain yaitu desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas. Pengembang harus mengorbankan satu dari tiga aspek blockchain tersebut.
Ada tiga aspek utama yang menjadi pertimbangan dalam pembangunan sebuah blockchain, yaitu desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas. Blockchain secara ideal harusnya bisa memaksimalkan kerja dari ketiga aspek tersebut. Tetapi, dalam praktik pengembangan blockchain, para pengembang harus memilih untuk mengorbankan salah satu dari ketiga aspek tersebut agar dua aspek lainnya bisa berjalan dengan maksimal.
Kondisi inilah yang disebut sebagai blockchain trilemma. Konsep ini dipopulerkan oleh Vitalik Buterin yang merupakan pendiri Ethereum.
Sumber: Vitalik Buterin
-
Topic: Perkuliahan Fintech Dr. Faurani
Time: Jan 13, 2023 06:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://csueb.zoom.us/j/8148554787?pwd=LI7sU3kowSlTe64eKnFCrXNxMqpSb2.1
Meeting ID: 814 855 4787
Passcode: HMM22
-
-
-
1. Jelaskan pendapat dan analisa anda mengenai perkembangan teknologi keuangan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dilihat dari aspek penggunannya pada sistem pembayaran dan investasi berdasarkan perilaku (behaviour) masyarakat
2. Tantangan dan Peluang Industri Fintech
Menurut data Statista tahun 2021, startup fintech global sudah mencapai 25.000. Bahkan, Sejak pandemi COVID-19, industri fintech mengalami investasi besar-besaran sebesar $134 miliar pada tahun 2021. Ini menunjukkan pertumbuhan 177% dari tahun ke tahun bahkan akan semakin meningkat dan diperkirakan akan mencapai Γé¼188 miliar pada tahun 2024.
Meski industrinya terus berkembang, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh perusahaan fintech. Salah satunya adalah pada cryptomarket dan equity crowdfunding. Jelaskan tantangan dan peluang apa saja yang akan dihadapi oleh perusahaan-perusahaan financial berbasis teknologi tersebut?
3. Teknologi Blockchain juga membantu memisahkan pembayaran dan membangun sistem perbankan dan keuangan yang lebih besar. Jelaskan pendapat anda berdasarkan asumsi dan konsep blockchain beserta karakteristiknya
4. Selama hampir 1 dekade ke belakang, telah terjadi lonjakan yang sangat signifikan pada industri keuangan global, terlebih dengan perkembangan teknologi digital yang berbasis data dan komputasi. Perkembangan industri teknologi keuangan yang ditandai dengan kehadiran pasar aset digital, dan perbankan digital yang menggeser trend transaksi keuangan yang bersifat central (CeFi) menjadi terdistribusi dan (DLT) dan desentralisasi (DeFi). Apabila di tahun 2022 ini dunia fintech telah menjadi dasar bagi terbentuknya tatanan baru di industri keuangan yang. Maka ditahun 2023 ini RegTech akan menjadi isu besar yang patut diperhitungkan.
Pertanyaan:
a. Seberapa pentingkah RegTech dalam industri teknologi keuangan
b. Setujukah anda apabila pemerintah ikut mengawasi dan mengatur kegiatan indusri fintech. Berikan alasan dari argumentasi anda tersebut
5. Bagaimana Analisa anda terkait perkembangan CDBC di Indonesia dan apakah berpotensi untuk menciptakan jenis fraud model baru di dunia perbankan?
INSTRUKSI:
1. Silahkan anda kerjakan pada lembar jawaban dengan mencantumkan nama lengkap, dan NPM
2. Anda diijinkan untuk membuka buku referensi sebagai dasar dalam memberikan argumentasi dan pendapat anda (mohon jawaban dan argumentasi tidak common sense)
3. Jawaban dikumpulkan paling lambat hari Sabtu tanggal 21 Januari 2023 pukul 19.00 melalui LMS dan lecture atau bisa melalui staff prodi (mb Ika) paling lambat hari Sabtu jam 15.00 tanggal 21 Januari 2023
-