Garis besar topik

    • Buku Wajib baca Fandy Tjiptono . 2011. Manajemen dan Strategi Merek Penerbit Andi.

      Minggu depan tatap muka via zoom di jam sesuai dengan jadwal. baca bab 1 tentang ruang lingkup merek

    • Brand equity is a term used to describe the value of having a recognized brand, based on the idea that firmly established and reputable brands are more successful. More specifically, itΓÇÖs a set of brand assets and liabilities linked to a brand name and symbol, which add to or subtract from the value provided by a product or service.

      Connecting ΓÇ£brandΓÇ¥ to the concepts of ΓÇ£equityΓÇ¥ and ΓÇ£assetsΓÇ¥ radically changed the marketing function, enabling it to expand beyond strategic tactics and get a seat at the executive table.

      To help break down brand equity and provide details about how the term is used in the marketing industry, weΓÇÖve outlined how it all came into place, why itΓÇÖs so valuable and a roadmap for success.

      How Brand Equity Came Into Place

      In the late 1980s, brand equity was just emerging as an important idea. An avalanche of researchers, authors and executives who provided substance and momentum to this idea reframed marketing.

      In 1991, I published a book, Managing Brand Equity, which defines brand equity and describes how it generates value. This model provided one perspective on brand equity that is worth another look now more than twenty years later.

      Why Is Brand Equity So Valuable?

      Another aspect of the definition of brand equity that I presented in my book was the argument that brand equity is that is also provides value to customers. It enhances the customerΓÇÖs ability to interpret and process information, improves confidence in the purchase decision and affects the quality of the user experience.

      The fact that it provides value to customers makes it easier to justify in a brand-building budget. This model provides one perspective of brand equity as one of the major components of modern marketing alongside the marketing concept, segmentation, and several others.

      The Roadmap for Building & Managing Brand Equity

      Brand equity has four dimensionsΓÇöbrand loyalty, brand awareness, brand associations, and perceived quality, each providing value to a firm in numerous ways. Once a brand identifies the value of brand equity, they can follow this roadmap to build and manage that potential value.

      ┬╖      Brand Loyalty

      ┬╖      Reduced marketing costs

      ┬╖      Trade leverage

      ┬╖      Attracting new customers via awareness and reassurance

      ┬╖      Time to respond to competitive threats

      ┬╖      Brand Awareness

      ┬╖      Anchor to which other associations can be attached

      ┬╖      Familiarity which leads to liking

      ┬╖      Visibility that helps gain consideration

      ┬╖      Signal of substance/commitment

      ┬╖      Brand Associations (Including Perceived Quality)

      ┬╖      Help communicate information

      ┬╖      Differentiate/Position

      ┬╖      Reason-to-buy

      ┬╖      Create positive attitude/feelings

      ┬╖      Basis for extensions

      The introduction of brand loyalty to the model was and is still controversial, as other conceptualizations position brand loyalty as a result of brand equity, which consists of awareness and associations. But when you buy a brand or place a value on it, the loyalty of the customer base is often the asset most prized, so it makes financial sense to include it.

      And, when managing a brand, the inclusion of brand loyalty as a part of the brandΓÇÖs equity allows marketers to justify giving it priority in the brand-building budget. The strongest brands have that priority.

      Examples of Brand Equity

      Positive Brand Equity

      Amazon and Apple are classic examples of brands with positive brand equities. Both Amazon and Apple provide consistent customer experiences, are dependable, innovative, and purposeful, and are integral in peopleΓÇÖs day-to-day lives, making them indispensable.

      They also deliver on their promises to customersΓÇö Amazon provides convenience and industry-leading shipping options, while Apple prioritizes innovation and sleek design. All factors combined, these brands boast positive reputations, or brand equities.

      Negative Brand Equity

      When it comes to negative brand equity, Volkswagen is an example that can be learned from. In September 2015, the EPA issued a notice of violation stating that the brand had been falsifying emissions numbers. As the news spread, Volkswagen lost brand equity, since the public no longer viewed the brand as trustworthy, nor as adhering to their promises to be environmentally friendly.

      Final Thoughts

      Brand equity is a key factor in both marketing and business strategy thanks to the idea that brands are assets that drive business performance over time. The equity of a brand is not only a tactical aid to generate short-term sales, but also a strategic support to creating long-term value of an organization.


      http://

    • What is the difference between brand equity and brand valuation? Why is it that CEOs should focus on the movement of their brand equity? How reputation relates to brand - and what the factors are that build your reputation as a company You can't compensate for poor products! Learn what the 6 handles are for managing your brand.

    • Cari studi kasus yang berkaitan dengan Brand Equity di perusahaan, lalu silahkan di bahas studi kasus tersebut, pertemuan ke 5 akan dibahas di forum diskusi tentang studi kasus yang telah dibahas dan dicari. Studi kasus tidak boleh sama perusahaan dengan punya temannya. 

    • Simak Video ini kemudian Analisa dan simpulkan di forum diskusi pertemuan 4


      http://

    • Silahkan diskusi studi kasus yang telah dicari pada pertemuan 4 dengan masing-masing perusahaan berbeda dengan temannya. bagi yang tidak diskusi tidak mendapatkan nilai.

    • Bagaimana Cara Mengukur Brand Equity?

      Pemasaran ada di mana-mana baik itu formal maupun informal, semua orang dan organisasi terlibat dalam sejumlah kegiatan yang dapat disebut pemasaran. Pemasaran yang baik semakin menjadi unsure yang vital bagi keberhasilan sebuah bisnis. Pemasaran juga mempengaruhi hidup kita setiap hari, tertanam dalam setiap apa yang kita lakukan dari pakaian yang kita pakai, situs web yang kita klik, sampai ke iklan yang kita perhatikan.

      Menurut Asosiasi Pemasaran Amerika yang saya kutip dari buku Philip Kotler menawarkan definisi formal berikut : Pemasaran adalah salah satu fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dan mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan para pemilik sahamnya. Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menyerahkan dan mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.

      Di dalam manajemen pemasaran tidak akan lepas dari masalah merek dalam suatu produk. Merek merupakan salah satu kekuatan perusahaan untuk dapat meningkatkan penjualan terhadap produk yang diproduksi, sehingga tidak heran setiap perusahaan beramai-ramai melakukan promosi guna menanamkan brand image agar mudah dikenal oleh konsumen yang ingin mendapatkan barang yang diinginkan oleh mereka kata Handi Irawan yang juga pakar pemasaran(2003:14).   Dari merek ini kita akan mengenal tentang istilah Brand Equity. Menurut Koetler (2002:461) brand equity adalah perangkat aset yang melekat pada merek yaitu nama dan symbol, yang menambah atau mengurangi nilai suatu produk atau jasa bagi perusahaan atau pelanggan yang sangat berkaitan dengan merek yang diyakini, asosiasi mental dan emosional yang kuat, serta aktiva lain seperti hak paten, merek dagang dan hubungan saluran distribusi. Sehingga brand equity memiliki wujud secara emosional dan kekuatan jaringan yang dimiliki oleh sebuah merek.

      Brand Equity merupakan sebuah kekuatan dari perusahaan dalam meningkatkan kedekatan mereka dengan konsumen. Faquhar, P.H. (1989:24-33) mengatakan bahwa brand equity sebagai sebuah nilai tambah yang membantu kekuatan sebuah produk, nilai tambah tersebut dapat dilihat dari tiga perspektif yaitu perspektif perusahaan, perspektif perdagangan, dan perspektif konsumen. Dalam perspektif perusahaan brand equity dapat dijadikan kekuatan perusahaan dalam persaingan dengan keunggulan kompetitif perusahaan dimana merek yang kuat dapat melisensikan sebuah produk baru dan dapat membuat perusahaan tersebut menjadi dominan dengan kekuatan brand equity yang dapat menjadi sebuah barrier to entry pada beberapa pasar. Kelebihan brand equity dalam perspektif perdagangan yaitu dapat memberikan sebuah nilai yang membuat produk tersebut mudah untuk diterima sehingga memiliki distribusi yang luas dalam pasar. Dari perspektif konsumen brand equity dapat meningkatkan asosiasi yang positif dalam diri konsumen sehingga konsumen percaya akan produk dari merek perusahaan tersebut. Begitu bernilainya sebuah kesetiaan terhadap sebuah merek sehingga Aaker ( 1996 : 21 ) menyatakan bahwa kesetiaan pelanggan terhadap merek merupakan aset dari merek tersebut. Hal ini tentunya amat mahal nilainya kerena untuk membangun sebuah merek yang kuat banyak tantangan yang harus dihadapi serta membutuhkan waktu yang sangat lama. Menurut Aaker ( 1991 : 46 ) kesetiaan pelanggan memiliki nilai yang strategi terhadap perusahaan antara lain :

      1. Mengurangi biaya pemasaran : perusahaan yang memiliki pelanggan yang setia terhadap mereknya akan dapat mengurangi biaya pemasaran, menurut penelitian bahwa biaya yang diperlukan untuk mendapatkan pelanggan baru 6 kali lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk mempertahankan pelanggan. Iklan dan bentuk-bentuk promosi lainnya yang dikeluarkan dalam jumlah yang besar belum tentu dapat menarik pelanggan baru karena sangat sulit untuk membentuk sikap positif terhadap merek.
      2.  Trade Leverage : Kesetiaan konsumen terhadap merek tersebut akan memberikan trade leverage bagi perusahaan tersebut dimana merek tersebut dapat menarik para distributor untuk memberikan ruang yang lebih besar di toko mereka terhadap merek tersebut karena mereka tahu bahwa merek tersebut akan dipakai berulang-ulang oleh konsumen dan mereka dapat mengajak pelanggan lain agar menggunakan merek tersebut.
      3. Menarik pelanggan baru : ketika pelanggan puas dengan merek yang mereka pakai mereka akan mempengaruhi konsumen lain untuk menggunakan merek yang mereka pakai. Bixler dan Schererr ( 1996 : 19 ) menyatakan bahwa pelanggan yang tidak puas terhadap merek tersebut akan menyampaikan terhadap 8 sampai 10 orang dan sebaliknya jika mereka puas maka mereka akan menyamakan dan merekomendasikan orang lain agar menggunakan merek yang mereka pakai.
      4. Waktu untuk merespon ancaman dari pesaing : perusahaan yang memiliki merek yang telah kuat terhadap pelanggannya akan memilki waktu yang cukup untuk merespon tindakan yang dilakukan oleh pesaingnya. Apabila pesaingnya mengeluarkan produk yang superior maka perusahaan akan memilki waktu tertentu yang dapat membuat produk yang lebih baik lagi. Karena pentingnya kesetiaan pelanggan maka kesetiaan pelanggan terhadap merek merupakan aset perusahaan yang berdampak besar terhadap pangsa pasar serta profitability perusahaan.

      Untuk mengukur brand value (brand equity), proses pengidentifikasikan hingga decision dilakukan dengan penelitian di lapangan dengan menggunakan metode riset yang didesain dengan begitu baik dan terukur. Untuk penelitian lapangan, pengambilan sample dilakukan dengan asumsi populasinya infinite, jadi secara statistic, jika populasi melewati jumlah tertentu bias dianggap infinite atau tak terhingga, secara total setiap sample memiliki MOE 1,79%, dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengambilan sampling dalam pemilihan merek terbaik menggunakan metode multistage random sampling, yakni random sampling kaidah mutually exclusive weighting factors, sehingga hasilnya dapat digeneralisir.

      Dengan metode riset inilah pemilihan merek terbaik di Indonesia, mungkin juga di Negara-negara lain di dunia dilakukan dan metoda ini hingga saat ini tetap digunakan untuk menentukan merek-merek terbaik-terbaik di sebuah kawasan. Beberapa diantaranya telah memperoleh penghargaan beberapa kali karena mampu mempertahankan kinerja merek tersebut di mata pelanggan, di antara Garuda Indonesia untuk kategori penerbangan, Citibank untuk kategori kartu kredit, Kompas untuk kategori surat kabar, Kartini untuk kategori majalah, Electrolux untuk kategori elektronik, Coca-cola untuk kategori minuman, Philips untuk kategori lampu, Hawlet Packard untuk kategori computer, Canon untuk kategori printer, Sony untuk kategori kamera, Rinso untuk kategori detergen dan lain sebagainya.

      Menurut Soehadi (2005), kekuatan suatu merek (brand equity) dapat diukur

      berdasarkan 7 indikator, yaitu:

      1. Leadership: kemampuan untuk mempengaruhi pasar, baik harga maupun atribut non-harga.

      2.   Stability: kemampuan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

      3.   Market: kekuatan merek untuk meningkatkan kinerja toko atau distributor.

      4.   Internationality: kemampuan merek untuk keluar dari area geografisnya atau masuk ke negara atau daerah lain.

      5.   Trend: merek menjadi semakin penting dalam industri.

      6.   Support: besarnya dana yang dikeluarkan untuk mengkomunikasikan merek.

      7.   Protection: merek tersebut mempunyai legalitas (p. 147).

      Menurut Susanto dan Wijanarko (2004) yang mengadaptasi teori Aaker, brand equity dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori:

      a. Brand awareness

      Beberapa pengertian brand awareness adalah sebagai berikut:

      ┬░ Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori merek tertentu.

      ┬░ Menurut East (1997), ΓÇ£Brand awareness is the recognition and recall of a brand and its differentiation from other brands in the fieldΓÇ¥ (p. 29).

      Artinya brand awareness adalah pengakuan dan pengingatan dari sebuah merek dan pembedaan dari merek yang lain yang ada di lapangan. Jadi brand awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengingat suatu brand dan yang menjadikannya berbeda bila dibandingkan dengan brand

      lainnya.

      Ada 4 tingkatan brand awareness yaitu:

      1. Unaware of brand (tidak menyadari merek)

      Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek, dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.

      2. Brand recognition (pengenalan merek)

      Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat seorang pembeli memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian.

      3. Brand recall (pengingatan kembali terhadap merek)

      Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk. Hal ini diistilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan merek tersebut.

      4. Top of mind (puncak pikiran)

      Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan orang tersebut dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang paling banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada di dalam benak konsumen.

      Ada 4 indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh

      konsumen aware terhadap sebuah brand antara lain:

      1. Recall yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek apa saja yang diingat.

      2. Recognition yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merektersebut termasuk dalam kategori tertentu.

      3. Purchase yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan suatu merek ke dalam alternatif pilihan ketika akan membeli produk/layanan.

      4. Consumption yaitu seberapa jauh konsumen masih mengingat suatu merek ketika sedang menggunakan produk/layanan pesaing.

      b. Perceived quality

      Didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan maksud yang diharapkan.

      c. Brand association

      Adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai sebuah produk. Asosiasi ini tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan.Keterikatan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya.

      d. Brand loyalty

      Merupakan ukuran kesetiaan seorang pelanggan pada sebuah merek. Loyalitas memiliki tingkatan sebagaimana dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

      1. Tingkat loyalitas yang paling dasar adalah pembeli tidak loyal atau sama sekali tidak tertarik pada merek-merek apapun yang ditawarkan. Dengan demikian, merek memainkan peran yang kecil dalam keputusan pembelian. Pada umumnya, jenis konsumen seperti ini suka berpindah-pindah merek atau disebut tipe konsumen switcher atau price buyer (konsumen lebih memperhatikan harga di dalam melakukan pembelian).

      2. Tingkat kedua adalah para pembeli merasa puas dengan produk yang digunakan, atau minimal tidak mengalami kekecewaan. Pada dasarnya, tidak terdapat dimensi ketidakpuasan yang cukup memadai untuk mendorong suatu perubahan, terutama apabila pergantian ke merek lain memerlukan suatu tambahan biaya. Para pembeli tipe ini dapat disebut pembeli tipe kebiasaan (habitual buyer).

      3. Tingkat ketiga berisi orang-orang yang puas, namun memikul biaya peralihan (switching cost), baik dalam waktu, uang atau resiko sehubungan dengan upaya untuk melakukan pergantian ke merek lain. Kelompok ini biasanya disebut dengan konsumen loyal yang merasakan adanya suatu pengorbanan apabila melakukan penggantian ke merek lain. Para pembeli tipe ini disebut satisfied buyer.

      4. Tingkat keempat adalah konsumen benar-benar menyukai merek tersebut. Pilihan konsumen terhadap suatu merek dilandasi pada suatu asosiasi, seperti simbol, rangkaian pengalaman dalam menggunakannya, atau kesan kualitas yang tinggi. Para pembeli pada tingkat ini disebut sahabat merek, karena terdapat perasaan emosional dalam menyukai merek.

      5. Tingkat teratas adalah para pelanggan yang setia. Para pelanggan mempunyai suatu kebanggaan dalam menemukan atau menjadi pengguna suatu merek. Merek tersebut sangat penting bagi pelanggan baik dari segi fungsinya, maupun sebagai ekspresi mengenai siapa pelanggan sebenarnya(commited buyers).

      Beberapa variable yang diukur adalah :

      1. Brand equity asosiasi karakteristik, sebuah asosisasi yang bebas secara prosedur akan digunakan untuk menilai brand equity yang tertinggi hingga yang terendah dengan meneyeleksi tiga kategori produk printer yang telah familiar yaitu : Canon, Epson, Hawlett-Packard.

      2. Brand association diukur dengan dapat diukur dengan empat item dari aspek merek yang berupa : inovasi, nilai yang dapat dibeli dengan uang, manfaat yang didapat, kelas produknya.

      3. product association diukur berdasarkan 2 item yang mencerminkan functional attribute dan non functional attribute.

      4. Organizational association diukur dengan 2 item sebagai bagiannnya yaitu corporate ability dan corporate social responsibility.


      http://

    • Forum Diskusi antar mahasiswa dengan dosen.  Mengingatkan pertemuan ke 7 jangan lupa tugas nya dikumpul dan di bahas di forum diskusi pertemuan ke 7.

    • Model Pengukuran Brand Equity

      Dalam mengukur Brand equity terdapat beberapa tools yang dapat digunakan diantaranya CBBE, AAKER, BRANZ, BRAND ASSETS VALUATOR yang masing- masing memiliki karakteristik masing-masing. 

      CBBE (Customer Based Brand Equity
      Menurut Keller, K. L., model CBBE dibentuk untuk menjadi komprehensif, kohesif (terpadu), sistematis, up to date dan berorientasi aksi. Landasan dasar dari model ini ialah bahwa kekuatan dari suatu brand terletak pada apa yang telah dipelajari oleh konsumen, rasakan, lihat dan dengar mengenai brand tersebut selama ini. Kekuatan dari suatu brand ialah apa yang tersirat/tertinggal pada pikiran  konsumen. Metode CBBE merupakan penyempurnaan dari model sebelumnya yaitu model AAKER. 

      Dalam membangun brand yang kuat, menurut model CBBE, dapat digambarkan sebagai rangkaian dari beberapa langkah. Langkah pertama ialah untuk memastikan identifikasi dari sebuah brand oleh konsumen dan asosiasi terhadap sebuah brand dimata konsumen terhadap suatu produk brand atau terhadap kebutuhan konsumen. Langkah kedua ialah dengan konsisten membuat konsumen sadar(share of mind) akan arti brand tersebut. Langkah ketiga ialah untuk mendapatkan atau menciptakan respon dari konsumen terhadap brand identity dan brand meaning. Langkah terakhir ialah untuk mengubah respon terhadap brand untuk menciptakan intensitas, loyalitas hubungan antara konsumen dan brand. 

      1 Brand Identity 

      Untuk dapat membangun brand identity yang benar sebelumnya dibutuhkan pembuatan brand salience terhadap konsumen. Brand salience berhubungan dengan aspek brand awareness. Brand salience diartikan menjadi semudah apa konsumen dapat mendefinisikan brand tersebut dalam berbagai kondisi dan keadaan. Membangun brand awareness berarti meyakinkan konsumen akan sebuah brand dari kategorinya dimana terdapat kompetisi dan menciptakan identitas terhadap suatu produk dibawah brand tersebut. 
       
      2 Brand Association 
      Asosiasi dari merek adalah segala sesuatu yang terhubung kepada ingatan seseorang terhadap suatu brand. Suatu asosiasi dapat terkait dengan pandangan terhadap perceived quality dan positioning dari brand tersebut. 

      Sebelas tipe dari asosiasi terhadap suatu merek adalah atribut produk tersebut intangible, benefit, untuk pelanggan, harga yang relative terhadap pesaing, pemakai produk tersebut, celebrity, gaya hidup dan kepribadian, kelas dari produk, pesaing dan Negara atau area geografis 

      Asosiasi ini menjadi dasar dari keputusan beli dan loyalitas terhadap suatu  brand. Asosiasi ini menciptakan nilai tersendiri pada perusahaan melalui: 

      a. Membantu proses atau memanggil suatu informasi 
      Asosiasi yang tinggi akan membantu terutama pada saat pengambilan keputusan untuk membeli. Melalui asosiasi yang tinggi maka pelanggan dapat dengan mudah mengingat dan mengasosiasikan brand tersebut pada suatu kebutuhannya. 

      b. Membuat brand tersebut terdiferensiasikan. 

      Suatu asosiasi yang terdiferensiasikan akan menjadi suatu keunggulan kompetitif yang utama. Asosiasi yang tinggi akan menjadi suatu penghalang bagi pesaing untuk menyerang brand tersebut. 

      c. Membangun alasan untuk membeli. 

      Hadirnya brand association akan memberikan alasan yang kuat bagi pelanggan untuk mengkonsumsi produk tersebut. 

      d. Menciptakan perasaan atau emosi yang positif. 

      Asosiasi akan menstimulasi emosi yang positif antara pelanggan dengan brand tersebut. Melalui pengalaman yang diberikan setelah mengkonsumsi brand tersebut akan menambah kuat jalinan loyalitas pelanggan. 

      e. Menyediakan basis untuk melakukan eksistensi brand. 

      Melalui asosiasi yang kuat serta perceived quality yang kuat maka brand eksistensi dapat diakukan untuk memperkuat portfolio suatu perusahaan tanpa harus membuat dari awal. 

      3 Performa (performance). 

      Produk merupakan bagian terpenting dari brand equity. Produk merupakan bagian terpenting yang dapat mempengaruhi pengalaman konsumen, apa yang mereka dengar, dan tentang apa yang diberitahu produsen terhadap brand dari produk tersebut. 

      Brand performance merupakan metode dimana produk atau jasa dapat  memenuhi kebutukan konsumen secara fungsional. Terdapat 5 keuntungan dalam pemenuhan brand performance, yaitu : 

      a. Karakteristik pokok dan fitur tambahan 

      Konsumen dapat menyadari akan level dimana karakteristik utama dari produt tersebut beroperasi (rendah, medium, tinggi, sangat tinggi) 

      b. Reliabilitas, durabilitas dari produk dan layanannya. 

      Reliabilitas dapat diartikan sebagai konsistensi terhadap performance dari waktu ke waktu selama pembelian-pembelian. 

      c. Efektifitas, efisiensi dan empati. 

      Konsumen memiliki asosiasi terhadap performance berdasarkan layanan yang mereka dapatkan dari sebuah brand. Efektifitas dari servis berdasarkan pada sebesar apa sebuah brand memenuhi kebutuhan konsumen akan pelayanan sesuai dengan ekspektasinya. Efisiensi servis ialah mengenai bagaimana serivis itu diberikan secara cepat dan tanggung jawab. 

      d. Ciri khas dan desain. 

      Konsumen dapat memiliki asosiasi terhadap suatu produk diluar dari fungsi produk tersebut kearah aspek estetik seperti ukuran, bentuk, material, dan warna. Performance juga dipengaruhi oleh aspek-aspek visual seperti bentuk produk, kemasan, perasaan, bunyi ataupun bau. 

      e. Harga 

      Peraturan harga terhadap brand dapat menciptakan asosiasi dimata konsumen dengan harga harga yang relevan di kategori produknya(low,medium,premium) 

      Brand performance tidak hanya sekedar komposisi yang membangun produk atau jasa yang mencakup aspek dari brand.Beberapa perbedaan dari komposisi juga dapat mendiferensiasikan brand yang satu dengan yang lain. 

      4 Brand Imagery 

      Brand association juga meliputi brand imagery. Brand imagery berhubungan dengan faktor-faktor ekstrinsik dari produk atau jasa, termasuk bagaimana sebuah brand berperilaku menghadapi konsumen, lebi bersifat psikologis, dan kebutuhan sosial. Empat kategori dari brand imagery ialah : 

      1. Profil pemakai (User profiles) 
      2. Pembelian dan situasi pemakaian (Purchase and usage situation) 
      3. Sifat dan nilai (Personality and values) 
      4. Sejarah, keturunan, dan pengalaman( History, heritage, and experience) 

      5 Respon Terhadap Brand (Brand Response) 
      Untuk mengimplementasikan model CBBE, perusahaan harus memikirkan bagaimana konsumen menghormati sebuah brand. Respon terhadap brand dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu penilaian terhadap brand (Brand judgement) dan perasaan terhadap brand (Brand feeling). 

      Penilaian (Judgement) 
      Penilain terhadap brand difokuskan kepada pendapat konsumen terhadap bagaimana mereka memposisikan performance dan imagery.Berikut ialah empat tipe kesimpulan dari penilaian : 

      Kualitas (Quality) 
      Kredibilitas (Credibility) 
      Pertimbangan (Consideration) 
      Superioritas(Superiority) 
      Perasaan (Feelings) 

      Brand feeling ialah respon emosional dari pelanggan dan reaksi atas penghargaan terhadap suatu brand. Berikut ini ialah enam tipe utama dalam membangun brand feeling : 

      Hangat (Warmth) 
      Senang(Fun) 
      Ketertarikan(Exitement) 
      Keamanan(Security) 
      Dihargai(Social approval) 
      Menghormati diri sendiri (Self respect) 

      AAKER Model 

      David Aaker, melihat brand equity sebagai 5 set kategori dari brand aset dan kecenderungan dihubungkan kepada suatu brand yang mengambil untuk atau mengurangi dari nilai yang dihasilkan dari produk atau servis kepada suatu perusahaan dan/atau kepada suatu perusahaan pelanggan. 

      Kategori-kategori dari brand asset ini terdiri dari: 
      Brand loyalty. 
      Kesiagapan dari brand (Brand awareness). 
      Kualitas yang diterima (Perceived quality) 
      Asosiasi brand. 
      Dan, aset-aset pemilik seperti halnya paten, ciri khas, dan jalur-jalur hubungan. 

      Menurut dari Aaker, konsep utama yang terpenting untuk membangun brand equity ialah dengan identitas brand, yaitu jajaran keunikan dari suatu asosiasi brand yang menggambarkan apa yang dijanjikan dari brand tersebut kepada para konsumen. 

      Aaker melihat identitas suatu brand sebagaimana terdiri dari 12 dimensi  organisasi dari sekitar 4 persepsi, yang diantaranya yaitu: 

      ΓÇó Brand sebagai suatu produk (lingkup, atribut, nilai, kegunaan, pemakai, dan dari negara asal). 
      ΓÇó Brand sebagai suatu organisasi (atribut, lokal dengan global). 
      ΓÇó Brand sebagai suatu personalitas (personalitas brand dan brand sebagai hubungan pelanggan) 
      ΓÇó Brand sebagai simbol (penggambaran visual dan brand turunan) 

      Aaker juga mengkonsepkan identitas dari brand sebagai mencakupi suatu inti dan suatu perluasan identitas. Identitas dari utama-yang terpusat, kepentingan yang tidak terpakut waktu dari brand tersebut- yaitu seperti untuk tetap agar konstan dimana brand itu sendiri berjalan dari pasar atau produk-produk yang baru. 

      Identitas yang diperluas mencakupi identitas dari elemen-elemen brand, pengorganisasian menjadi pengorganisasian yang menjadi partikel-partikel yang berarti dan tersusun. Apabila kita melakukan pendekatan aplikasi menuju saturn, hal yang paling baru dari devisi mobil General Motors mungkin akan dibatasi dengan diikuti: 

      Identitas utama (Core identity), Sebuah mobil kelas dunia dengan para pekerja yang melayani peanggan dengan baik dan sopan. 

      Identitas tambahan (Extended Identity), 

      BRANZ 

      Para konsultan riset marketing dari Millward Brown dan WPP telah mengembangkan model BRANZ sebagai kekuatan dari brand, yang dimana terdapat dijantung yang terdapat dalam bentuk dinamic brand piramid. Menurut model ini, pembuatan dari brand diikuti oleh tahap-tahap yang berurutan, dimana setiap tahap kesatuan akan dilalui setelah pemenuhan dari tahap sebelumnya. 

      Tujuan dari masing-masing tahap, secara berurutan dari yang paling terkecil ke besar ialah sebagai berikut: 

      Kehadiran (Presence), 
      Apakah saya mengetahui mengenai itu? 
      Relevan (Relevance), 
      Apakah hal tersebut menawarkan sesuatu? 
      Performa (Perform), 
      Apakah hal tersebut dapat diantar? 
      Keuntungan (Advantages) 

      Apakah hal tersebut menawarkan sesuatu yang lebih baik dari yang lain? 

      Pengikatan (Bonding) 

      Tidak ada yang dapat mengalahkan keterikatan. 

      Riset telah menunjukan bahwa konsumen yang diikat berada pada level tertinggi dari piramid. Banyak konsumen ditemukan pada level yang lebih rendah.



    • forum diskusi antar mahasiswa dan dosen. silahkan paparkan hasil tugas yang telah anda buat di forum ini.

    • Silahkan kirim kesini tugas yang telah disuruh kerjakan pada pertemuan ke 3. dengan format word atau pdf

    • kerjakan soal dibawah ini dengan baik dan jujur, jika jawabannya sama persis dengan temannya maka lembar jawaban nya tidak akan dinilai. Kerjakan dengan ditulis tangan lalu kirim lg kesini dengan format pdf. 

    • PIONEER BRAND

      Definisi merek pionir menurut Buzzell dan Gale (1987) seperti yang dikutp oleh Tjiptono (2008:61) adalah ΓÇ£perusahaan yang pertama kali mengembangkan suatu produk atau jasaΓÇ¥. Definisi merek pionir menurut Schnaars (1994) seperti yang dikutip oleh Tjiptono (2008:61) adalah sebagai ΓÇ£perusahaan yang memperkenalkan suatu produk ke pasar dan pertama kali menjualnya dengan suksesΓÇ¥.  Berdasarkan kedua definisiini, dimungkinkan ada beberapa inventor atau penemu sebuah kategori produk, karena sebuah produk yang benar-benar baru bias saja direalisasikan menggunakan berbagai gagasan dan proses. Padahal belum tentu semua inventor tersebut memasarkan produknya pertama kali. Kriteria pionir lebih ditekankan pada keberhasilan suatu perusahaan dalam memasarkan suatu produk pertama kali ke pasar yang baru. 

      Keunggulan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan yang menjadi pionir menurut Brown (1997), DΓÇÖaveni (1994), Golder dan Tellis (1993), Jain (2000), Robinson (1988), Schnaas (1994) adalah sebagai berikut (Tjiptono, 2008):

      1. Response lags antar pionir yang pertama kali memasuki pasar dan perusahaan kedua yang memasuki pasar memberikan kesempatan kepada pionir untuk menjadi monopolis temporer dan meraup pendapatan substansial.  
      2. Pionir berkesempatan untuk mencapai skala ekonomis sebelum later entrants masuk. Ini dikarenakan pionir cenderung memiliki pasar yang dilayani lebih luas dibandingkan para pesaingnya.
      3. Pionir berpeluang membangun loyalitas merek dan switching cost (baik ekonomis maupun psikologis) terlebih dahulu, sehingga setiap pendatang baru harus bekerja keras guna menyakinkan pelanggan agar bersedia beralih ke produknya. Dengan demikian, pionir bisa mendapatkan loyalitas dari konsumen konsumen yang tergolong risk averse.
      4. Pionir berpeluang mendapatkan citra dan reputasi positif atas daya inovasi dan keprogresifannya dalam membuka pasar. 
      5. Terciptanya hambatan masuk bagi later entrants bila pionir mendapatkan hak paten. 
      6. Pionir berkesempatan mendominasi jaringan distribusi dan periklanan, sehingga hanya akan tersedia tempat terbatas bagi para pendatang berikutnya. 
      7. Pionir bisa menciptakan standar produk, standar industri, dan basis pelanggan yang berguna untuk mendukung penyempurnaan produk selanjutnya. 
      8. Pionir berpeluang untuk mempercepat proes belanjarnya dalam hal produksi dan teknologi dibandingkan para pesaingnya.  
      9. Pionir dapat mendominasi berbagai aset langka, seperti sumber daya alam, lokasi, dan rak pajang di gerai ritel. Implikasinya, pionir cenderung berhasil meraih pangsa pasar terbesar dalam industrinya. 

      http://

    • Forum diskusi antar mahasiswa dengan dosen

    • FOLLOWER CHANCE

      Setelah brand pioneer menenteng sederet keunggulan, mungkinkah itu menutup kesempatan bagi para free rider effect, sebutan bagi para later entrants (follower), untuk memenangkan persaingan? Jawabannya tidak! Betul kata Schnaars, yang pertama bisa jadi terakhir dan sebaliknya.

      Terang saja begitu, sebab follower juga menawarkan banyak kelebihan. 
      Kelebihan itu, antara lain:

      • Pertama, mereka bisa menghindari produk-produk yang tidak potensial.
      • Kedua, apabila produk itu punya risiko, risikonya sudah ditanggung oleh pionir. Ini yang membuat mereka selamat dari mara bahaya.
      • Ketiga, biaya research and development-nya lebih kecil dibandingkan dengan market leader. Sebab, follower masuk ke pasar belakangan di saat pasar itu sudah terbentuk.
      • Keempat, mereka punya peluang untuk mendapatkan market share darimarket leader. Kalau pasarnya lemah biasanya follower akan mudah menggerusnya.
      • Kelima, mereka sangat low cost of educating consumers. Mereka tidak terlalu dituntut banyak untuk mengedukasi konsumen, misalnya tentang manfaat produk yang dipasarkan. Karena, proses edukasi sebelumnya sudah dilakukan oleh market leader. Konsumen sudah mengerti apa benefit dari produk itu.
      Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa brand follower sebetulnya juga mengusung banyak keunggulan. Lalu, strategi apa saja yang digunakanfollower untuk menyerang market leader? Umumnya strategi yang digunakan ada tiga, yakni:

      • Cloner,
      • Immitator, dan
      • Adabtor.
      • Cloner berarti mengikuti produk, distribusi, iklan yang sama persis seperti pionir. Mereka meniru habis-habisan, hidup bak parasit dari investasi market leader. Perusahaan market follower berupaya meniru dan menyamai segmen pasar dan bauran pemasaran pemimpin pasar.Market Follower yang menerapkan strategi ini seringkali dianggap parasit karena sedikit sekali berbuat untuk menstimuli pasar. Dalam kasus yang ekstrim, beberapa perusahaan pengikut ada yang menjiplak atau bahkan ΓÇÿmemalsukanΓÇÖ produk-produk yang populer milik pemimpin pasar.
      Di Indonesia, banyak marketer yang bermental seperti ini. Ketika saya pergi ke Mangga Dua, di sana ada pulpen yang persis seperti Mont Blanck buatan setempat. Ada jeans buatan Tanah Abang dan sebagainya. Padahal, Mont Blanck dan jeans asli itu kita tahu dibuat di negara ΓÇ£BaratΓÇ¥ nan jauh di sana.

      • Immitator, mereka meniru beberapa hal dari pionir dan mencoba membedakan dalam hal kemasan, iklan, harga, dan sejenisnya. Dalam strategi ini, perusahaan market follower membuat beberapa diferensiasi, namun tetap meniru pemimpin pasar dalam hal pembahruan pasar dan bauran pemasaran. Perusahaan market follower yang menerapkan strategi ini bisa diterima oleh pemimpin pasar karena kegiatan pemasarannya tidak begitu terganggu dank arena pangsa pasar pengikut tersebut membantu pemimpin agar tidak dianggap sebagai monopolis.


      • Adapter, mereka mengikuti pionir lalu mengadaptasi serta memperbaiki apa yang menjadi kelemahan pionir itu. Ambil contoh, Wings Group termasuk satu anggota kelompok ini.
      Cirinya adalah mereka selalu melihat apa yang menjadi kelemahan market leader, dalam hal ini Unilever, misalnya, kemudian mencoba memperbaikinya. Contoh produknya, Smile Up mengikuti Close Up milik Unilever, Mi Sedaap mengikuti Indomie punya Indofood, Ale-Ale seperti Frutang, dan lain sebagai.

      Dari perusahaan lain, ada juga permen Kino (Kino Group) mengikuti Kopiko sehingga Kopiko sempat pontang-panting hingga kemudian terpaksa mengubah tagline-nya. Bahkan, follower yang sukses mengambil alih tampuk market leader ialah minuman energi Kuku Bima Energi. Merek besutan Sido Muncul ini berhasil melampaui penjualan Extra Joss yang pionir dan menguasai pasar sebelumnya.

      Selain itu, strategi yang mereka sodorkan antara lain:

      • Mereka bisa menawarkan harga yang lebih rendah. Mereka bermain divalue marketing. Contoh mudah yang pernah kita lihat adalah hadirnya rokok merek Star Mild ke pasar kala itu. Merek tersebut berhasil ΓÇ£merampokΓÇ¥ market share di kelas mild dengan persentase lumayan besar karena menawarkan harga produk lebih rendah daripada A Mild, merek yang lebih dahulu ada.
      • Mereka mempunyai kesempatan memperbaiki produk dengan cara menggunakan teknologi yang lebih canggih. Ketiga, ini yang paling banyak dilakukan oleh para follower di Tanah Air dan cukup berhasil, yaitu menggunakan market power. Ini seperti yang dilakukan Wings Food terhadap Indofood tadi dan sukses.
      Implikasi dari market power itu ialah the most effective where advertising and distribution are key. Iklan dan distribusi menjadi kekuatan utama dalam menghadapi market power. Karena pasarnya sudah ada dan besar, dua sisi itu telah terbukti paling efektif untuk meraih market share bagi follower.

      Apa yang diperoleh penrusahaan pengikut? Biasanya lebih rendah daripada pemimpin. Misalnya, penelitian atas sejumlah perusahaan pengolah makanan menunjukkan bahwa perusahaan terbesar memiliki ROI (Return Of Investment) rata-rata 16 persen; perusahaan nomor dua, 6 persen; perusahaan nomor tiga, -1 persen; dan perusahaan nomor empat, -6 persen. Dalam hal itu, hanya dua perusahaan yang memiliki laba. Strategi mengikut pemimpin tidak selalu merupakan jalan yang menguntungkan.

      The most powerful entry for follower, yaitu value leadership, real supperior product, dan full superior marketing effort.

      Perubahan dan persaingan merangkak seiring sejalan. Resesi finansial global sekarang ini juga memicu perubahan dan ketatnya persaingan. Di dalam perubahan dan persaingan itu terdapat kata menang dan kalah. Oleh karena itu, menyusun strategi dengan tepat dan smart adalah sangat penting, agar kemenangan ada di tangan merek kita. Jika follower, jadilahbrand follower yang sukses. Bukankah the last will be first?

    • forum diskusi pertemuan 11

    • Pada Tugas pertemuan ke 3 waktu Anda ditugaskan membuat sebuah merek, dengan merek yang sama tersebut Analisis siapa saja merek anda tersebut dari Pionir Brand, Late Entrants dan Brand Imitatornya. Apakah merek anda tersebut mampu bersaing di era saat masa pandemi seperti ini. dan Apa saja strategi yang harus dilakukan oleh Merek Anda agar dapat bersaing dengan pesaing yang ada saat ini?

    • Definition of 'Rebranding'


      Definition: Rebranding is the process of changing the corporate image of an organisation. It is a market strategy of giving a new name, symbol, or change in design for an already-established brand. The idea behind rebranding is to create a different identity for a brand, from its competitors, in the market.

      Description: There are several reasons for a company to go for rebranding. One prominent factor is to connect with customers. Rebranding is good for the business, but at the same time it may be risky. There is always a possibility that the consumers do not like the new brand.

      There are two types of rebranding: one is Proactive rebranding and the other is Reactive rebranding. Proactive rebranding is done when a company recognises that there is an opportunity to grow, innovate, tap into new businesses or customers, and to reconnect with its users.

      LetΓÇÖs understand with the help of an example ΓÇô Titan Industries rebranded itself in 2013 and changed the logo as well as the name to Titan Company. The new logo highlighted the companyΓÇÖs commitment to "create value, innovate, and maintain highest global standards".

      Reactive rebranding is done in a situation when the existing brand has be discontinued or changed. Possible reasons for such a action could be mergers & acquisitions, legal issues, negative publicity such as fraud, aiming to beat the competition, or create your own niche.

      LetΓÇÖs understand with the help of an example. Following the revelation of 2009 fraud, Satyam Computer Service was pushed to the brink of bankruptcy. The company was sold to Tech Mahindra. The whole process was overlooked by government authorities and Tech Mahindra then rebranded the company as ΓÇÿMahindra SatyamΓÇÖ and in the year 2013, it merged itself with Satyam Computer Services.


    • Kerjakan soal yang ada dalam materi PPT, dikumpul minggu depan langsung dijawab di forum diskusi pertemuan ke 15.

    • KERJAKAN SOAL UAS DIBAWAH INI DENGAN BAIK DAN BENAR DAN TULISAN BISA DIBACA DENGAN JELAS.

      DITULIS TANGAN DAN KIRIM DENGAN FORMAT PDF