Garis besar topik

        • Assalamu'alaikum Wr. Wb

          Tabik pun.......

          Selamat datang Rekan Rekan Mahasiswa yang saya banggakan. Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dalam Lindungan Allah SWT.

          Selamat datang di mata kuliah Riset SDM, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis IIB Darmajaya. Mata kuliah ini ditujukan bagi peserta didik yang sedang mengambil program S1 Sarjana pada rumpun Ilmu Ekonomi dan Bisnis, terutama terkait dengan bidang Manajemen . 

          Mata kuliah Riset SDM merupakan mata kuliah wajib untuk mahasiswa semester 6.  Mata kuliah ini memiliki bobot 4sks dengan sifat pembelajaran adalah 2 SKS Teori dan 2 SKS Praktikum. Detail pembelajaran selama 1 semester dapat dilihat pada Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Mata kuliah Komunikasi Bisnis merupakan mata kuliah aplikatif.  Matakuliah ini mempelajari mengenai gambaran ringkas riset SDM, penetapan masalah dalam riset, teori dan hipotesis, rancangan penelitian, metode pengumpulan data, metode pengambilan sampel, variabel dan instrumen, analisis dan intepretasi data, serta laporan riset. Beserta latihan pengolahan data di lab. Adapun outpun yang diharapkan bahwa mahasiswa mampu membuat proposal skripsi BAB 123 sehingga dapat di presentasikan di seminar proposal. 

          Harapan saya semoga mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dengan baik, tetap semangat dan mendapatkan hasil yang memuaskan di matakuliah Riset SDM ini. Dan Allah SWT akan memberikan kemudahan dan kelancaran dalam proses belajar mengajar.... Amin

          Wassalamualaikum wr.wb

          beautiful photo


    • NAMA MATAKULIAH :  RISET SDM

      SEMESTER  : 6 (ENAM)

      SKS (T/P) : 4 / 2 sks teori dan 2 sks praktikum

      KODE MATAKULIAH : MAN2160

      1. Capaian Pembelajaran Matakuliah (CPMK) :

      Mahasiswa mampu untuk melakukan riset dibidang SDM dan membuat laporan riset

      2. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) 

      Sikap

      1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius

      2. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri

      Keterampilan Umum:

      3. Menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan/atau teknologi sesuai dengan bidang manajemen

      CP Keterampilan Khusus

      4. Menyusun rencana strategis pengelolaan SDM

      5. Mampu melakukan fungsi control dan evaluasi atas kegiatan operasional SDM

      CP Pengetahuan

      6. Mampu melakukan riset dibidang SDM

      2. Metode Pembelajaran

      Dilakukan secara ekspositori yaitu : Ceramah, Diskusi, Presentasi, Study Case, Presentasi, Tanya Jawab,  Tugas (mandiri dan kelompok)

      3. Aspek Penilaian

      Sikap : Cara menyampaikan pendapat dalam diskusi, keseriusan, tanggung jawab dan ketepatan waktu mengumpulkan tugas.

      Pengetahuan : Penguasaan materi yang di tunjukkan dalam proses tanya jawab, diskusi, presentasi, ujian tengah semester dan ujian akhir semester.

      Ketrampilan Mempunyai kreatifitas dalam menyusun tugas yang berhubungan topik atau materi pembelajaran.

      Capaian Pembelajaran Matakuliah (CPMK) : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan teori dan konsep Manajemen SDM dalam suatu organisasi    

      4. Teknik penilaian terdiri dari:

      1) observasi

      2) partisipasi

      3) unjuk kerja

      4) test tertulis

      5) test lisan

      Range Nilai Dan Komponen Penilaian

    • PETA PEMBELAJARAN :



    • https://lms.darmajaya.ac.id/pluginfile.php/476024/mod_resource/intro/RPS%20Riset%20SDM.pdf

    • Metode Penelitian Bisnis untuk Skripsi, Tesis & Disertasi

  • Gambaran Ringkas Riset SDM/

    a. Infromasi dan keputusan SDM

    b. Keunikan SDM

    c. Peranan informasi dalam pengambilan keputusan terkait SDM

    d. Pengertian riset sdm

    e. Peranan riset sdm

    f. Topik terkini riset SDM


          • Pengertian Riset SDM


            Menurut Agus Sunyoto (2008, h. 109) riset sumber daya manusia adalah penelitian sistematik sumber daya manusia sebuah perusahaan untuk tujuan memaksimalkan pencapaian tujuan organisasional dan pribadi
            Penerapan riset sumber daya manusia adalah banyak sekali dalam meningkatkan dengan cepat. Keuntungan riset dari SDM yang sehat juga banyak. Manajemen telah mulai menyadari signifikan dari komponen SDM terhadap kemampuan subuah organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya.
            Manajemen yang Efektif
            Hukum, peraturan pemerintah, dan keputusan-keputusan pengadilan telah mempertanyakan praktik MSDM di masa silam. Sekarang ini manajer mesti mampu membuktikan bahwa keputusan-keputusan kepegawaian mereka didasarkan pada persyaratan yang valid.
            Alasan lain meningkatnya kebutuhan akan riset sumber daya manusia bertalian dengan perubahan yang cepat dalam komposisi tenaga keja. Riset dibutuhkan bagaimana tujuan-tujuan anggota tenaga kerja yang baru dapat diintegrasikan dengan tenaga kerja lainnya dalam organisasi.
            Bentuk pekerjaan itu sendiri telah pula berubah dengan cepat. Hal ini telah menyebabkan perusahaan untuk secara berkesinambungan berjuang memuktahirkan tenaga kerja. salah satu tugas manajemen adalah membuat karyawan menerima perubahan teknologi. Penggunaan robot dalam pabrik perakitan otomotif telah menciptakan kebutuhan akan pelatihan ulang (retraining). Tidaklah mudah bagi orang-orang untuk menerima kenyataan bahwa keahlian mereka tidak lagi dibutuhkan dan mereka haruslah mempelajari keahlian-keahlian baru. Riset dapat menunjukan cara-cara dalam mana orang-orang menerima perubahan-perubahan secara lebih cepat dan dalam demikian tetap menjadi anggota organisasi yang produktif.
            Perencanaan, Rekrutmen, dan Seleksi SDM
            Rencana-rencana mestilah disusun untuk merekrut, menyeleksi dan menahan karyawan yang produktif. Setiap organisasi memiliki kepribadian yang berbeda seperti halnya seorang individu. Oleh karena itu, organisasi harus mencoba untuk mencari  kecocokan kebutuhan-kebutuhan mereka dan kebutuhan karyawan. Riset membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa sukses di suatu perusahaan tapi gagal di perusahaan yang lain, meskipun pekerjaannya serupa.
            Riset rekrutmen diarahkan pada penentuan bagaimana individu-individu dengan potensi tinggi dapat didorong untuk melamar pekerjaan. Perusahaan perlu menentukan sumber yang paling mungkin menyediakan kandidat yang berkualitas untuk pekerjaan-pekerjaan mereka. Hanya sedikit gunanya mengetahui kualitas-kualitas yang harus dimiliki oleh calon karyawan dan tidak mengetahui di mana dan bagaimana merekrut mereka.
            Tujuan riset seleksi sumber daya manusia menentukan calon karyawan dengan potensi paling besar untuk sukses. Definisi karyawan yang sukses berbeda dari satu organisasi yang lain. Riset-riset ini sering mencoba untuk menentukan faktor-faktor (seperti latar belakang, pengalaman, pendidikan, dan nilai tes) yang dapat digunakan untuk membedakan pelamar yang sukses dari yang kurang sukses.
            Pengembangan SDM
            Riset juga penting dalam bidang pengembangan SDM. Penelitian  dapat menetukan karyawan yang dapat memanfaatkan pelatihan. Sebagai contoh, tingkat kesalahan yang tinggi yang dihubungkan dengan karyawan tertentu dapat menunjukan kebutuhan untuk pelatihan tambahan.
            Riset dalam program pelatihan mungkin dibutuhkan: apakah karyawan dipersiapkan dengan lebih baik untuk melakukan pekerjaan mereka setelah pelatihan, atau apakah pelatihan merupakan suatu pelaksanaan yang sia-sia? Pelatihan dan pengembangan adalah mahal dan biaya-biayanya mestilah diberikan pembenaran. 
            Pendekatan Riset Audit SDM
            Menurut Veithzal Rivai (2008, h. 570) riset juga digunakan untuk mengaudit kegiatan SDM. Riset ini diarahkan untuk meningkatkan kinerja dari departemen tersebut. Beberapa alat pengumpul data dapat membantu dalam menghimpun data mengenai aktivitas SDM sebuah perusahaan. Setiap alat menyajikan pandangan yang berbeda mengenai aktivitas suatu perusahaan. Adapun alat-alat tersebut adalah sebagai berikut:
            1. Interview atau Wawancara
            Wawancara terhadap karyawan dan manajer memberikan auditor alat yang sangat kuat untuk mengumpulkan informasi tentang kegiatan SDM dan mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhakan perbaikan. Contohnya, ketika ada masalah pergantian karyawan katakanlah pada departemen loan officer di identifikasikan, kepada divisi SDM dan seorang konsultan mengadakan wawancara dengan manajer yang terkait untuk mempelajari masalah tersebut. Di sini kritik dan sasaran yang didapat dari wawancara dapat membantu menunjukan dengan tepat persepsi dan penyebab yang dapat menyusun dasar bagi tindakan-tindakan ke departemen tersebut. Demikian pula sasaran dari manajer-manajer lain dapat mengungkap cara untuk memberikan mereka pelayanan yang lebih baik. Ketika kritikan tersebut dinyatakan cukup valid, maka perubahan harus segera dilakukan. Melalui wawancara langsung dapat pula dilakukan dengan mempersilahkan karyawan mengungkapkan pandangan-pandangan mereka tentang pekerjaan dan perusahaannya, dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh auditor.  
            2.  Informasi eksternal
            Informasi sebagai alat utama auditor. Perbandingan dari luar memberikan auditor suatu perspektif dalam menghadapi kegiatan-kegiatan perusahaan yang dapat dinilai. Beberapa informasi yang dibutuhkan diperoleh dengan mudah, sementara data lain sulit diperoleh. Sumber informasi yang signifikan adalah dari pemerintah. Melalui departemen ini secara rutin mempublikasikan informasi tentang kesempatan kerja di masa mendatang, tingkat pergantian karyawan, proyeksi karyawan, survei upah dan gaji serta frekuensi kecelakaan kerja yang dapat dijalankan sebagai pedoman atau pembanding.
            3. Survei
            Untuk survei ini memakan waktu dan biaya yang relatif besar, sehingga dalam praktiknya dibatasi hanya pada beberapa orang saja, sehingga untuk ini banyak departemen SDM menggunakan kuesioner untuk memperluas ruang lingkup penelitian mereka. Kuesioner juga dapat memunculkan jawaban-jawaban yang lebih jujur dari pada wawancara langsung.
            4.  Eksperimen SDM
            Cara ini sebagai cara terakhir, terutama eksperimen lapangan, yang membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol di bawah kondisi nyata. Cara ini dipakai untuk penelitian ketidak hadiran, pergantian, kepuasan kerja, kompensasi, keselamatan kerja karyawan dan kegiatan lainnya.
            5.  Analisis Sejarah
            Terkadang informasi dapat berisi cacatan analisis yang seringkali dilakukan untuk memastikan kepatuhan pada aturan dan prosedur perusahaan, sebagai audit keselamatan kerja  di mana auditor harus mencari keterangan atau cacatan tentang semua pelanggaran keselamatan kerja dan kesehatan kerja.
            6.  Audit Internasional
            Audit internasional lebih kompleks dan lebih penting. Kompleksitasnya mengaudit kegiatan SDM lintas batas luar negeri dipersulit dengan perbedaan dalam hal hukum, budaya, tradisi, sikap dan harapan. kesulitan bagi auditor terletak pada masalah pengidentifikasian bidang-bidang yang berbeda dari praktik-praktik perusahaan yang tidak sesuai dengan keadaan negara asing. Di situ sisi fungsi SDM mencari kesefagaman pada praktik dan prosedur semua kegiatan untuk memastikan kepatuhan pada kebijakan perusahaan dan menjamin keseragaman budaya perusahaan. Di pihak lain, kometisi, hukum, kebudayaan dan kepuasan karyawan dapat menuntut perbedaan dari kebijakan, praktik dan prosedur perusahaan.
            Mengaudit SDM dengan riset, ada 6 pendekatan yang dapat diterapkan, yaitu:
            1.  Riset Terapan (Applied Research)
            Riset ini digunakan untuk mengevaluasi aktivitas-aktivitas SDM. Kadang kala risetnya mungkin canggih, tergantung pada desain dan statistik yang digunakan. Melalui riset ini berupaya untuk memperbaiki kinerja departemen.
            2.  Pendekatan Komparatif (Comparatif Approach)
            Bentuk riset ini adalah bentuk yang sederhana. Pendekatan ini menggunakan perusahaan lain sebagai model, setelah itu membandingkan hasil atau prosedur mereka dengan yang dari perusahaan lain tersebut. Pendekatan komparatif kerap digunakan untuk membandingkan masalah ketidakhadiran, perputaran karyawan, dan data gaji. Pendekatan ini dapat membantu dalam mendeteksi bidang-bidang yang memerlukan perbaikan.
            3.      Pendekatan otoritas pihak luar (Outside Authority Approach)
            4.      Pendekatan Statistik (Statistical Appoarch

    • buatlah Resume tentang video di atas

  • Penetapan Masalah Riset SDM

    a. Pengertian permasalahan riset 

    b. Sumber masalah dalam riset SDM 

    c. Menggali masalah terkait SDM

    d. Kualitas masalah riset 

    e. Praktik mencari sumber masalah dalam riset sdm

    • PENETAPAN MASALAH RISET SDM

      Penetapan masalah dalam riset SDM merupakan langkah yang pertama dan paling penting dalam riset SDM. Untuk menetapkan masalah riset dengan tepat, periset dapat menggunakan beberapa pedoman. Pertama, periset perlu menempatkan masalah sebagai titik awal proses riset SDM (Buttler, 1994). Proses Riset SDM harus dimulai dari masalah, bukan dari tahap ΓÇô tahap lain. Penetapan masalah yang dilakukan setelah riset dijalankan membawa dampak negative, sebab arah riset menjadi tidak jelas. Alhasil pelaksanaan riset tidak efektif dan efisien. sesuatu yang tampak sehingga mudah dikenali. Perlu kejelian dalam hal ini karena banyak manajer maupun periset yang terjebak hanya meneliti gejala. Padahal informasi yang perlu diketahui adalah sesuatu yang melandasi gejala. Gejala hanyalah kondisi yang mengindikasikan adanya masalah (Buttler, 1994). Gejala dalam SDM tentu tidak terbatas atau tidak bisa diseragamkan, sebab bersifat kasus per kasus unutk setiap perusahaan.
      Berikut beberapa contoh gejala yang biasanya menjadi keluhan para manajer SDM :
      ΓÇó        Prestasi kerja menurun
      ΓÇó        Jumlah keluhan meningkat
      ΓÇó        Jumlah ketidakhadiran karyawan tinggi
      ΓÇó        Jumlah keterlambata karyawan tinggi
      ΓÇó        Karyawan sering berdemo dan mogok kerja

      Disini tugas riset SDM adalah mengetahui lebih dalam masalah ΓÇô masalah sebenarnya dibalik munculnya gejala tersebut. Untuk bisa memahami alur dengan baik, periset harus mendapatkan informasi mendasar mengenai karyawan dengan teliti.

      PEDOMAN PENETAPAN MASALAH

      Periset perlu menetapkan masalah sebagai titik awal proses riset. Proses riset harus dimulai dari masalah, bukan dari tahap-tahap lain. Periset perlu mengikuti alur; gejala --- masalah --- keputusan.Periset perlu memperoleh pandangan dari pihak perusahaan dan pihak terkait di bidang SDMPeriset seharusnya juga mempertimbangkan sumber dan jenis informasi.

      Beberapa gejala yang biasanya menjadi keluhan manajer SDM :
      Gejala hanyalah kondisi yang mengindikasikan adanya masalah (Butler, 1994)Beberapa gejala yang biasanya menjadi keluhan manajer SDM :Prestasi kerja atau produktivitas karyawan menurunJumlah keluhan karyawan meningkatJumlah absensi/ketidakhadiran karyawan tinggiJumlah keterlambatan karyawan meningkatKaryawan seringkali berdemo atau melakukan tuntutan-tuntutan dan orasi Karyawan mogok kerja.

      Setelah di analisis maka seluruh informasi mengenai hasil riset dapat dilaporkan kepada manajer agar dapat ditentukan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya, untuk dapat mengatasi masalah yang sudah diteliti tersebut.
      Masalah
      MSDM
      Riset SDM
      Fokus
      Gejala yang tampak
      Contoh: produktivitaas kerja karyawan rendah, malas bekerja
      Faktoe penyebab
      Contoh: motivasi kerja
      Pertanyaan
      Apa keputusan yang perlu di ambil?
      Contoh: apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan
      Apa informasi yang dibutuhkan dan bagaimana mendapatakannya?
      Contoh: bagaimana keterampilan kerja karyawan? Apakah jumlah karyawan mencukupi?
      Orientasi
      Tindakan
      Contoh: perusahaan perlu memberikan training rutin kepada karyawan
      Informasi
      Contoh: motivasi kerja karyawan rendah


  • Perumusan Masalah Penelitian

    a. Merumuskan latar belakang 

    b. Perumusan masalah 

    c. Pembatasan Masalah 

    d. Tujuan Penelitian 

    e. Manfaat Penelitian 

    f. Praktik medesain perumusan masalah


    • Pengertian Rumusan Masalah

      Secara sederhana,  rumusan masalah terdiri dari beberapa komponen, dari mengapa hingga bagaimana, yang terkait dengan topik penelitian dan detail yang akan dibahas. Rumusan masalah adalah tujuan dari sebuah karya ilmiah untuk fokus membahas hal-hal tertentu. Rumusan masalah memudahkan penelitian si penulis karena poros penelitian telah menyempit, rumusan  masalah digunakan untuk menghindari poros penelitian yang dapat diperluas dan tidak sesuai dengan tujuan awal penelitian. 

      Definisi lain menunjukkan bagaimana merumuskan masalah dalam bentuk makalah pendek yang berisi pertanyaan tentang topik yang diangkat oleh penulis artikel atau karya ilmiah lainnya. Adanya rumusan suatu masalah memaksa penulis untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan, sehingga pencarian selanjutnya bersifat konklusif.

      Beberapa kata yang digunakan dalam  rumusan masalah, seperti mengapa dan bagaimana, kedua kata ini membuka kemungkinan untuk dilakukan penelitian yang mendalam. Rumusan masalah yang baik adalah rumusan masalah yang direncanakan secara efisien, dan memiliki karakteristik. Isu yang diangkat mencerminkan kebutuhan dan kekhawatiran yang dirasakan.

      Rumusan masalah juga dapat dipahami sebagai artikel pendek yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang topik yang diangkat oleh penulis, sehingga dengan rumusan tersebut, penulis akan berusaha mencari jawaban atau pemecahan masalah atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

      Pengertian Rumusan Masalah Menurut Para Ahli

      Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, rumusan masalah menjadi aspek penting dalam  tahapan penelitian, menempati tempat dan fungsi  penting baik dalam kegiatan penelitian maupun dalam penulisan artikel ilmiah. Rumusan masalah juga dapat dipahami sebagai  pernyataan yang didasarkan pada adanya suatu masalah.

      Definisi lain menunjukkan bagaimana merumuskan masalah dalam bentuk makalah pendek yang berisi pertanyaan tentang topik yang diangkat oleh penulis artikel atau karya ilmiah lainnya. Adanya rumusan suatu masalah memaksa penulis untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan, sehingga pencarian selanjutnya bersifat konklusif.

      Beberapa kata yang digunakan dalam  rumusan masalah, seperti mengapa dan bagaimana, kedua kata ini membuka kemungkinan untuk dilakukan penelitian yang mendalam. Rumusan masalah yang baik adalah rumusan masalah yang direncanakan secara efisien, dan memiliki karakteristik. Isu yang diangkat mencerminkan kebutuhan dan kekhawatiran yang dirasakan.

      Rumusan masalah juga dapat dipahami sebagai artikel pendek yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang topik yang diangkat oleh penulis, sehingga dengan rumusan tersebut, penulis akan berusaha mencari jawaban atau pemecahan masalah atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

      Kemudian, dari susunan pernyataan-pernyataan tersebut akan dicari jawaban melalui metode pengumpulan data yang berlangsung atau campur tangan dalam suatu proses penelitian. Untuk dapat menjawab formasi masalah ini, peneliti harus merumuskan pertanyaan dari masalah yang muncul. Masalah yang berbeda ini akan menyebabkan masalah yang ada yang perlu dipecahkan.

      1. Sugiyono

      Menurut Ahli Sugiyono, pengertian rumusan masalah adalah  pertanyaan yang mencari  jawaban melalui pengumpulan dan kajian data. Dimana pencarian dapat dilakukan berdasarkan tingkat interpretasi. Secara umum, konstruksi topik memainkan peran penting. Antara lain, membantu peneliti mengejar penelitian mereka sambil menghormati koridor atau jalur penelitian. Selain itu, rumusan masalah merupakan cara bagi peneliti untuk mengatasi masalah yang dihadapi saat melakukan penelitian.

      2. Yenrizal

      Menurut Yenrizal, rumusan masalah sangat penting dalam melakukan suatu penelitian. Rumusan masalah sebagai salah satu elemen dasar dari penelitian itu sendiri. Peran rumusan masalah merupakan faktor penentu bagi pembahasan yang akan penulis sajikan. Lebih lanjut Yenrizal menyatakan bahwa rumusan masalah ini adalah sebuah pertanyaan, yang  kemudian akan coba dijawab dengan penelitian yang terstruktur atau dilakukan secara sistematis dan objektif. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa rumusan masalah menjadi dasar untuk menentukan arah penelitian.

      3.  Arikunto

      Arikunto mengungkapkan pemahamannya bahwa perumusan masalah dapat dilakukan dengan  merancang sebuah judul  lengkap yang dapat dihadirkan sebagai sebuah judul. Meskipun isi  rumusan masalah sudah jelas, namun dapat ditafsirkan secara berbeda oleh orang lain, sehingga peran rumusan masalah dapat dimainkan sesuai dengan itu.

      Menurut Arikunto, peneliti dapat menyamakan temuan penelitian dengan pendapat pembaca melalui rumusan masalah ini. Karena menurutnya rumusan masalah dilakukan dalam bentuk pertanyaan dan dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan di lapangan.

      Ciri-Ciri Rumusan Masalah

      Setelah memahami  pengertian rumusan masalah dan perbedaan pendapat para ahli tentang pengertian rumusan masalah, berikut beberapa ciri atau ciri rumusan masalah yang  membedakan rumus pemecahan masalah dengan unsur penulisan ilmiah lainnya.

      1. Rumus masalah dibuat dalam bentuk pertanyaan.
      2. Rumusan masalah meliputi pertanyaan  singkat, padat dan jelas.
      3. Rumusan masalah mengarah pada cara berpikir tentang subjek yang sedang ditangani.  Rumusan masalah mengandung nilai penelitian.
      4. Rumusan masalah ditetapkan sesuai dengan kemampuan peneliti.
      5. Rumusan masalah dapat memberikan pedoman dalam melakukan kegiatan penelitian,  sehingga peneliti dapat menemukan jawabannya.

      Cara Membuat Rumusan Masalah

      Untuk dapat merumuskan suatu masalah, tentunya perlu diketahui secara jelas dan tepat bagaimana cara mengorganisasikan atau merumuskan suatu masalah. Berikut adalah panduan tentang cara membuat rumusan masalah yang bagus dan realistis.

      1. Disusun Secara Spesifik

      Hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat rumus masalah adalah membuat rumusan masalah yang spesifik, dimana cara penulisan rumus masalah ini harus dipahami, yaitu tidak perlu menulis kata-kata yang panjang. Rumusan masalah yang panjang  justru akan menghilangkan esensi dari apa yang ingin Anda sampaikan.

      Agar rumusan soal ini berbentuk pertanyaan, disusunlah secara singkat, padat, dan jelas sehingga mudah dipahami.

      2. Menentukan Metode Penelitian yang Sesuai

      Setelah dapat mengkonkretkan rumusan masalah, maka diperlukan metode penelitian yang tepat untuk menyusun rumusan masalah. Dengan kata lain, Anda harus terlebih dahulu menentukan metode pencarian yang sesuai dengan topik yang ingin di cari.

      Umumnya, dua jenis metode penelitian  dipilih atau digunakan untuk melakukan penelitian. Antara menggunakan metode penelitian kualitatif atau  menggunakan metode penelitian kuantitatif.

      3. Mencari Teori yang Mendukung Metode Penelitian

      Setelah menemukan metode penelitian yang tepat, sebaiknya Anda meneliti berbagai informasi tentang berbagai teori yang dapat mendukung penelitian dan metode penelitian yang dipilih. Jangan  salah  urutan karena akan menyebabkan kesalahan tindakan.

      Jadi tetap berpegang pada aturan yang telah ditetapkan seperti ini karena dengan mengutak-atik setiap langkah penelitian akan berjalan dengan baik. Penting juga untuk dicatat bahwa teori pendukung ini dapat dikumpulkan dari berbagai pengetahuan, data, atau bahkan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan untuk mendukung metode penelitian yang dipilih.

      4. Melihat Fenomena Sekeliling

      Sebagai seorang penulis, Anda harus penuh perhatian dan  kreatif menyadari fenomena yang terjadi di sekitar Anda. Kedengarannya mudah, tetapi sebenarnya cukup sulit, kecuali jika Anda terbiasa berpikir dan mencari solusi dari masalah.

      Ada banyak  masalah praktis di sekitar Anda, Anda hanya perlu tajam dalam penargetan Anda dan tidak  terlalu jauh dalam interpretasi Anda. Mulailah dengan kasus-kasus kecil di sekitar Anda atau situasi yang sering Anda temui dalam kehidupan sehari-hari.

      5. Menggunakan 5W + 1H

      Satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah penyusunan kaidah bahasa harus sistematis, jelas, mudah dipahami dan juga harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Karena rumusan masalah adalah pertanyaan jawaban masalah, Anda harus menggunakan rumus 5W 1H untuk menentukan topik penelitian dan juga membuat pertanyaan itu menarik.

      Dengan mengikuti metode perumusan masalah di atas, Anda seharusnya dapat merumuskan masalah yang baik, tergantung pada penelitian dan topik yang akan dilakukan dalam sebuah karya ilmiah

      Contoh Rumusan Masalah

      Untuk lebih memahami jika  ingin merumuskan rumusan masalah, berikut adalah contoh rumusan masalah dari beberapa karya ilmiah.

      Contoh 1

      Diambil dari penelitian yang berjudul ΓÇ£Analisis Elemen Realisme Magis dalam Cerpen Kumpulan Budak Setan Karya Eka KurniawanΓÇ¥ dari Universitas Nasional yang dibuat pada tahun 2022, berikut adalah contoh rumusan masalah dari penelitian tersebut:

      Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

      1. Bagaimanakah bentuk karakteristik elemen yang tak tereduksi pada cerpen ΓÇ£Kumpulan Budak SetanΓÇ¥ karya Eka Kurniawan
      2. Bagaimanakah bentuk karakteristik fenomena dunia atau latar belakang sejarah pada cerpen ΓÇ£Kumpulan Budak SetanΓÇ¥ karya Eka Kurniawan
      3. Bagaimanakah bentuk karakteristik atau elemen keraguan yang meresahkan pada cerpen ΓÇ£Kumpulan Budak SetanΓÇ¥ karya Eka Kurniawan. 

      Contoh 2

      Contoh kedua diambil dari tesis Ahmad Addib Qonumi dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim berjudul ΓÇ£Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga Terhadap Kemandirian dan Keberhasilan SekolahΓÇ¥ Himpunan Siswa Madya XI IPS 1 Sampai MAN 1 Bojonegoro.

      Rumusan Masalah

      1. Apakah status sosial ekonomi keluarga berpengaruh signifikan terhadap kemandirian siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Bojonegoro?
      2. Apakah status sosial ekonomi keluarga berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan siswa kelas XI IPS 1 MAN 1 Bojonegoro? 

  • Telaah Pustaka dan Hipotesis

    a. Pengertian teori

    b. Teori dan penelitian

    c. Tujuan dan manfaat telaah pustaka

    d. Langkah membuat telaah pustaka

    e. Teori-teori dalam riset sdm

    • Kajian Pustaka: Pengertian, Jenis, Cara Menulis, dan Contoh Lengkap


      Pengertian Kajian Pustaka Menurut Para Ahli


      1. Muh Fitrah, M,PS & Dr. Lutfhiyah, M.Ag

      Menurut Muh Fitrah, M,PS & Dr. Lutfhiyah, M.Ag dalam buku yang berjudul Metodologi Penelitian; Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas & Studi Kasus menuturkan bahwa kajian pustaka adalah tindakan mencermati, mendalami, dan menelaah pengetahuan.

      2. Pohan (2007)

      Pohan mengungkapkan bahwa kajian pustaka merupakan kegiatan penyusunan kajian pustaka yang memiliki tujuan mengumpulkan data dan informasi ilmiah, berupa teori-teori, metode, atau pendekatan yang pernah berkembang dan telah didokumentasikan dalam bentuk buku, jurnal, naskah, catatan, rekaman sejarah, dokumen-dokumen, dan lain-lain yang terdapat di perpustakaan. 

      Selain itu, kajian ini dilakukan dengan tujuan menghindarkan terjadinya pengulangan, peniruan, plagiat, termasuk swaplagiat.

      3. Nyoman Kutha Ratna (2010)

      Selain itu, Nyoman Kutha Ratna memiliki tiga pandangan yang berbeda tentang kajian pustaka:

      ΓÇô Pertama, kajian pustaka merupakan seluruh bahan bacaan yang mungkin pernah dibaca dan dianalisis, baik yang sudah dipublikasikan maupun hanya sebagai koleksi pribadi.

      ΓÇô Kedua, kajian tersebut sering dikaitkan dengan kerangka teori atau landasan teori, yaitu berisi teori-teori yang digunakan untuk menganalisis objek penelitian. Oleh sebab itu, sebagian peneliti melakukan kegiatan menggabungkan kajian pustaka dan kerangka teori.

      ΓÇô Terakhir, kajian tersebut sebagai bahan-bahan yang secara khusus memiliki kaitan dengan objek penelitian yang sedang dikaji.

      4. Nazir (2005)

      Sementara itu, Naizr menyatakan bahwa studi kepustakaan atau studi literatur selain dari mencari sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai ke mana ilmu yang berhubungan dengan penelitian tersebut berkembang dan sampai mana ada kesimpulan dan generalisasi yang pernah dibuat, sehingga situasi yang diperlukan diperoleh.

      Manfaat Kajian Pustaka

      Adanya kajian pustaka di dalam karya ilmiah tentu saja memiliki beberapa manfaat. Tapi sebelum membahas bagaimana manfaat atau fungsi dari kajian pustaka, perlu diketahui bahwa sebelum menulis karya ilmiah, penulis harus membaca beberapa literatur dan referensi dengan tujuan sebagai berikut:


      ΓÇô Sudah mengetahui topik apa yang ingin diteliti dari literatur atau referensi.

      ΓÇô Perlu mengetahui konsep dan juga teori yang sudah pernah diaplikasikan ke dalam pokok bahasan topik penelitian yang juga relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis.

      ΓÇô Bisa menentukan kira-kira metode penelitian apa yang sudah pernah diterapkan dalam mengkaji topik yang ingin diteliti.

      ΓÇô Mengetahui apa saja kontroversi yang berkaitan dengan topik dan tentang bagaimana hasil studi yang muncul tersebut.

      ΓÇô Jika menemukan temuan penelitian yang saling bertolak belakang, maka harus tahu bagaimana harus bersikap.

      ΓÇô Mengetahui siapa saja peneliti yang telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan topik yang akan diteliti.

      Sementara itu, berikut ini adalah beberapa manfaat dan fungsi dari dibuatnya kajian pustaka saat menulis karya tulis.

      1. Sebagai Solusi

      Dengan dibuatnya kajian yang berisi pustaka tentang referensi atau literasi, maka kerangka berpikir dalam penelitian jelas sehingga dapat menemukan solusi dari berbagai permasalahan yang berhasil ditemukan berdasarkan dari berbagai pengkajian dari berbagai literatur.

      2. Landasan Pengembangan Instrumen

      Selain itu, kajian pustaka juga bisa dijadikan sebagai landasan pengembangan untuk menemukan solusi berupa teori selanjutnya yang disusun berdasarkan indikator-indikator yang berangkat dari solusi tersebut. Kemudian indikator tersebutlah yang kemudian akan dijadikan instrumen di dalam penelitian.

      3. Membuat atau Menentukan Kriteria

      Dengan adanya kajian yang berisi tentang referensi atau literasi, maka dalam pembuatannya penting untuk membuat dan menentukan kriteria terlebih dahulu dan bisa dimulai dari pembentukan pernyataan. Kriteria yang dimaksud di sini misalnya adanya keberhasilan atau kegagalan, saran bagi penelitian tersebut, bagaimana identifikasinya, dan terakhir membuat kesimpulan.

      4. Untuk Melakukan Verifikasi Hasil Penelitian

      Terakhir, fungsi dan manfaat dibuatnya kajian pustaka adalah sebagai perbandingan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dengan berbagai penelitian sebelumnya, sehingga kemudian didapatlah berbagai kesimpulan yang kemudian dikumpulkan menjadi hasil dari verifikasi tersebut.

      Jenis Kajian Pustaka

      Meskipun maksud dan tujuan serta isinya sama, akan tetapi kajian pustaka memiliki beberapa macam atau jenis yang dibedakan berdasarkan teori dan juga jenis penelitiannya. Berikut ini adalah berbagai macam-macam atau jenis kajian yang berisi tentang pustaka.

      1. Kajian Pustaka Penelitian Kuantitatif

      Kajian ini merupakan kajian yang digunakan pada penelitian yang memiliki teori penelitian kuantitatif atau theory in quantitative research. Kajian dengan teori ini diartikan sebagai seperangkat gagasan konstruk atau variabel yang saling berhubungan satu sama lain yang kemudian berasosiasi dengan proposisi atau hipotesis yang memberi perincian hubungan antarvariabel.

      Fungsi dari jenis kajian ini adalah sebagai argumentasi, pembahasan, atau juga bisa menjadi alasan yang kuat. Dalam teori ini, peneliti bisa memberi penegasan teorinya dalam berbagai bentuk, yaitu:

      ΓÇô peneliti menegaskan teori dalam bentuk pernyataan dari berbagai hipotesis yang saling berhubungan,

      ΓÇô peneliti mampu menyatakan teori dalam bentuk pernyataan yaitu ΓÇ£jika-makaΓÇ¥ untuk menunjukkan mengapa seseorang harus berharap pada variabel bebas agar bisa memengaruhi variabel terikat,

      ΓÇô peneliti mampu menyajikan teori dalam bentuk visual yang penting untuk menerjemahkan berbagai variabel ke dalam gambar visual.

      2. Kajian Pustaka Penelitian Kualitatif

      Jenis kajian yang kedua adalah kajian pustaka kualitatif. Kajian pustaka jenis ini biasanya digunakan untuk penelitian kualitatif, yang mana para peneliti menggunakan teori di dalam penelitian dengan berbagai macam tujuan, yaitu:

      ΓÇô pada penelitian kualitatif, teori yang digunakan biasanya bertujuan untuk menjelaskan perilaku atau sikap tertentu yang kemudian akan menjadi sempurna ketika dilengkapi dengan variabel, konstruk, dan hipotesis penelitian,

      ΓÇô para peneliti pada penelitian kualitatif biasanya menggunakan perspektif teoretis sebagai pedoman umumnya untuk meneliti berbagai hal, misalnya gender, kelas, dan juga ras atau berbagai masalah lain mengenai kelompok marginal,

      ΓÇô selain itu, di dalam penelitian kualitatif biasanya menggunakan teori yang dijadikan sebagai poin akhir penelitian yang mana artinya peneliti menerapkan proses penelitiannya secara induktif yang berlangsung dari data menuju ke tema-tema umum, lalu menuju teori atau model tertentu.

      3. Kajian Pustaka Penelitian Campuran

      Jenis kajian ini digunakan pada teori penelitian yang menggunakan metode campuran yang biasa diterapkan secara deduktif, misalnya dengan melakukan pengujian atau melakukan verifikasi terhadap teori kuantitatif atau secara induktif, misalnya dengan memunculkan teori atau pola kuantitatif.

      Meski demikian, ada beberapa cara unik yang dilakukan untuk memasukkan teori ke dalam penelitian metode campuran, yang mana peneliti akan mengumpulkan, menganalisis, dan menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan rancangan metode campuran yang berbeda.

      4. Kajian Pustaka Teori Normatif

      Jenis kajian terakhir adalah yang digunakan untuk teori penelitian yakni teori normatif. Kajian ini sangat cocok untuk penelitian ilmu sosial yang dapat diuji secara empiris dan berbagai hal lainnya yang memuat berbagai pertanyaan penting tentang politik yang berada di luar cakupan. Hal ini karena teori ini menjadi sentral bagi ilmu politik atau filsafat politik yang juga disebut teori normatif.

      Cara Menulis Kajian Pustaka

      Setelah memahami berbagai hal tentang kajian pustaka, selanjutnya penulis harus mengetahui bagaimana cara menulis kajian pustaka yang tepat agar dalam penerapannya tidak mengalami kebingungan dan dapat menyajikan kajian pustaka dengan benar. Berikut adalah caranya.

      1. Mengidentifikasi

      Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menulis kajian yang berisi pustaka adalah mengidentifikasi berbagai faktor yang harus termuat di dalamnya, salah satunya yakni kata kunci. Kata kunci yang kemudian menjadi topik penelitian harus dikaji dengan tepat agar pemilihan literatur atau referensinya juga sesuai.

      2. Membaca Penelitian yang Relevan

      Penulis juga harus rajin membaca bagian abstrak dari berbagai hasil laporan penelitian yang pernah berlangsung dan harus relevan dengan topik yang akan dibahas. Berbagai laporan tersebut bisa dibaca misalnya dari yang bersumber dari jurnal, buku, prosiding, dan lain sebagainya.

      3. Mencatat

      Setelah membaca bagian abstrak dari berbagai penelitian, peneliti juga harus membuat catatan hasil bacaannya yang berisi peta literatur urutan dan juga berbagai temuan tentang keterkaitan topik penelitian serta berbagai referensi bibliografi.

      4. Membuat Ringkasan

      Langkah selanjutnya setelah mencatat yaitu membuat ringkasan dari berbagai literatur dengan lengkap berdasarkan dengan peta literatur yang sudah dibuat sebelumnya dan harus menyesuaikan urutan dan juga keterkaitan topik pada setiap variabel.

      5. Membuat Kajian Pustaka

      Kemudian penulis mulai membuat kajian pustaka dan menyusun kajian tersebut secara sistematis berdasarkan dengan teori dan konsep penting yang berhubungan dengan topik dan variabel penelitian.

      6. Menulis Pandangan Umum

      Terakhir, penulis bisa menulis literature review yang berisi tentang pandangan umum terkait dengan topik yang akan diangkat berdasarkan literatur yang telah dipilih. Jelaskan juga aspek orisinalitas dan juga adanya berbagai kepentingan pada topik penelitian yang sudah dipilih dan akan dilakukan. 

    • Buatlah resume dari video yang disajikan tentang kajian teori

  • Telaah Pustaka dan Hipotesis

    a. Proposisi dan hipotesis 

    b. Jenis hipotesis 

    c. Manfaat hipotesis 

    d. Dasar pengembangan hipotesis 

    e. Hipotesis dalam riset SDM 

    f. Praktik membuat pengembangan hipotesis


        • Hipotesis Penelitian : Pengertian, Jenis, dan Cara Penyusunannya

          Pengertian Hipotesis
          Hipotesis pada umumnya diartikan sebagai jawaban (dugaan) sementara dari masalah suatu penelitian. Hipotesis hanya disusun dalam jenis penelitian inferensial, yakni jenis penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menguji. Pengujian suatu hipotesis selalu melalui teknik analisis statistik inferensial, sedangkan penelitian deskriptif tidak memerlukan secara eksplisit rumusan hipotesis.

          Hipotesis dapat disusun oleh peneliti berdasarkan landasan teori yang kuat dan didukung hasil-hasil penelitian yang relevan. Peneliti harus memahami tentang isi dan bagaimana langkah-langkah dalam merumuskan suatu hipotesis penelitian.

          Rumusan hipotesis memiliki persyaratan atau ciri-ciri yang harus dipenuhi oleh peneliti. Adapun beberapa ciri-ciri rumusan hipotesis, menurut Soesilo (2015) sebagai berikut:

          • Hipotesis dinyatakan dalam kalimat pernyataan (declarative statement), bukan kalimat tanya. Pernyataan tersebut sebagai pandangan peneliti berdasar hasil kajian teori yang digunakan.
          • Peneliti harus konsisten (tidak berubah-ubah) mengenai isi hipotesisnya. Oleh karena itu, peneliti perlu melakukan kajian yang mendalam tentang teori yang digunakan dalam menyusun hipotesisnya.
          • Dalam penelitian eksperimen hipotesis berisi pernyataan mengenai efektivitas, perbedaan, atau pengaruh dari suatu variabel ke variabel yang lain. Dalam hipotesis sedikitnya ada dua variabel yang diteliti.
          • Hipotesis harus dapat diuji (testable). Selain menjelaskan tentang cara (teknik) pengukuran masing-masing variabel yang akan diteliti, dalam bagian metodologi penelitian juga harus menjelaskan teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.
          • Cara Menyusun Hipotesis

            Perlu dipahami bahwa rumusan hipotesis penelitian tidak ΓÇ£jatuh dari langitΓÇ¥ atau muncul secara tiba-tiba tanpa dilandasi suatu teori atau kajian ilmiah. Hipotesis penelitian tidak dirumuskan hanya sekedar mengikuti dugaan atau asumsi peneliti saja, meskipun dugaan peneliti dapat menjadi titik tolak dalam telaah teori dan prediksi hasil penelitiannya kelak. Jadi, hipotesis dirumuskan tidak sekedar mengikuti dugaan atau asumsi peneliti, tetapi berasal dari penguraian landasan teori yang disusun sebelumnya.

            Teori tersebut mengkaitkan keberadaan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Oleh karena itu, telaah teoritik dan temuan penelitian yang relevan berfungsi menjelaskan permasalahan dan menegakkan prediksi akan jawaban terhadap pertanyaan penelitian.

            Seperti yang dinyatakan oleh Azwar (1999), bahwa dalam merumuskan suatu hipotesis, terdapat dua cara. Cara pertama, adalah dengan membaca dan menelaah ulang (mereview) teori atau konsep-konsep yang membahas mengenai variabel-variabel penelitian beserta hubungan dari variabel-variabel tersebut. Cara ini sering disebut sebagai proses berpikir deduktif. Cara kedua adalah dengan membaca dan mereviu hasil atau temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan penelitian.

            Hal ini yang disebut sebagai proses berpikir induktif. Setelah menelaah teori-teori maupun temuan-temuan hasil penelitian, peneliti dapat merumuskan hipotesis penelitiannya. Hasil kajian teori maupun temuan hasil penelitian tersebut merupakan bekal (landasan) penting bagi peneliti dalam menyusun hipotesisnya. Oleh karena itu, pada umumnya hipotesis diletakkan setelah peneliti menelaah teori, konsep maupun temuan hasil penelitian, yakni pada bagian akhir bab II dari suatu laporan penelitian.

            Hipotesis harus diuji kebenarannya melalui uji statistik dengan menggunakan teknik analisis yang tepat. Hipotesis yang telah disusun perlu dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan teknik analisis statistik lanjut. Pemilihan teknik analisis statistik tersebut tergantung dari beberapa hal, yakni jenis penelitian, tujuan penelitian dan jenis skala data pada masing-masing variabel.

            Dalam perumusan hipotesis secara statistik dinyatakan melalui simbol-simbol. Terdapat dua macam hipotesis yakni
            hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha), yang ditulis selalu berpasangan. Jika salah satu ditolak, yang lain pasti diterima, sehingga dapat dibuat keputusan yang tegas, yaitu kalau H0 ditolak pasti Ha diterima. Dengan dipasangkan itu, dapat dibuat keputusan yang tegas, mana yang diterima dan mana yang ditolak.

            Di bawah ini merupakan contoh pernyataan yang dapat dirumuskan sebagai hipotesis statistiknya:

            1. Dalam suatu penelitian eksperimen yang berjudul ΓÇ£Pengaruh model pembelajaran tradisional terhadap kemampuan pro-sosial siswaΓÇ¥, rumusan hipotesis statistiknya disusun sebagai berikut:
              Ho : Tidak ada pengaruh model pembelajaran tradisional terhadap kemampuan pro-sosial siswa
              Ha : Ada pengaruh model pembelajaran tradisional terhadap kemampuan pro-sosial siswa
            2. Dalam peneltian eksperimen yang berjudul ΓÇ£Efektivitas Layanan BK terhadap peningkatan Percaya Diri SiswaΓÇ¥, rumusan hipotesis statistiknya disusun sebagai berikut:
              Ho : Layanan BK tidak efektif dalam peningkatan Percaya Diri Siswa
              Ha : Layanan BK efektif dalam peningkatan Percaya Diri Siswa 



    • Jawablah pertanyaan berikut : 

      1. Apa yang dimaksud dengan Hipotesis Penelitian?

      2. Apa fungsi hipotesis dalam penelitian?

      3. Sebutkan jenis-jenis hipotesis dari video yang disajikan ? dan jelaskan. 

      4. Apa saja yang termasuk karakteristik hipotesis yang baik? Jelaskan 

      5.  Bagaimana merumuskan Hipotesis yang baik? Jelaskan 


  • Jenis Penelitian

    a. Eksplorasi Ilmu

    b. Eksplanasi Ilmu

    c. Metode Penemuan Ilmu


      • Jenis-Jenis Penelitian Lengkap, Contoh dan Penjelasannya

        Penelitian yang dilakukan dengan proses yang kurang tepat maka hasilnya juga tidak akan bisa dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, ciri-ciri dari penelitian biasanya bersifat ilmiah, berkesinambungan dari peneliti terdahulu ke peneliti baru, memberi kontribusi atau nilai tambah, dan penelitian memiliki sifat analitis. 

        Jenis-Jenis Penelitian 

        Setelah memahami pengertian, proses, dan juga ciri-ciri dari berbagai jenis penelitian secara umum, kini kita akan mempelajari tentang jenis-jenis penelitian. Secara umum, jenis-jenis penelitian dibagi menjadi 2 jenis yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif.

        Berdasarkan metodenya, penelitian dibagi menjadi 6 jenis, diantaranya penelitian kualitatif, penelitian kuantitatif, penelitian eksperimen, penelitian deskriptif.

        1. Penelitian Kualitatif

        Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis yang mendalam. Proses dan makna yang ditonjolkan dalam penelitian kualitatif ini memiliki landasan teori yang dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan.

        Jenis penelitian ini melibatkan peneliti di dalam peristiwa atau situasi yang sedang diteliti. Oleh sebab itu, diperlukan kedalaman analisis oleh peneliti ketika melakukan riset dan proses menemukan hasil penelitian. Karena secara umum, penelitian kualitatif ini nantinya bertujuan memeroleh data utama dari wawancara dan observasi.

        Penelitian kualitatif merupakan filsafat postpositivisme, di mana peneliti akan meneliti suatu kondisi objek yang alamiah dan peneliti menjadi instrumen kuncinya. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian kualitatif dilakukan secara triangulasi atau gabungan dan analisis datanya bersifat induktif atau kualitatif.

        Penelitian kualitatif juga masih dibagi menjadi 5 jenis penelitian, yaitu fenomenologi, penelitian grounded theory, penelitian etnografi. Ini detail dan penjelasan lengkapnya!

        a. Fenomenologi. Penelitian fenomenologi ini artinya peneliti yang melakukan penelitian akan melakukan pengumpulan data melalui observasi partisipan untuk dapat mengetahui fenomena esensial partisipan apa yang ada di dalam hidupnya atau sepanjang pengalaman hidupnya.

        b. Penelitian Grounded Theory. Jenis penelitian selanjutnya adalah penelitian grounded theory yang mana peneliti dapat menggeneralisasi apa saja yang ia amati atau ia analisis secara induktif. Teori abstrak mengenai proses, tindakan, atau interaksi dapat dilakukan dan didapat berdasarkan pandangan partisipan yang diteliti.

        c. Penelitian EtnografiDi dalam jenis-jenis penelitian etnografi, peneliti akan melakukan studi terhadap budaya suatu kelompok dalam kondisi yang alamiah dan dilakukan melalui proses observasi dan atau wawancara.

        d. Penelitian Studi Kasus. Penelitian studi kasus akan mengenal lebih dalam atau memahami secara mendalam mengenai alasan suatu fenomena atau kasus tersebut bisa terjadi. Kemudian dari situ akan dikembangkan menjadi riset selanjutnya. Jenis penelitian ini nantinya akan dijadikan bahan untuk menguji hipotesis.

        e. Penelitian Narrative Research. Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan sebuah studi terhadap seseorang individu atau lebih untuk dapat mendapatkan data mengenai sejarah perjalanan kehidupannya yang kemudian disusun menjadi laporan naratif yang kronologis.

        Biasanya, penelitian ini mengangkat pola mengenai bagaimana situasi atau kondisi tersebut bisa terjadi dan bagaimana upaya untuk menjaga atau memperbaiki situasi yang terjadi tersebut dengan data yang valid dan disusun secara ilmiah.

        2. Penelitian Kuantitatif

        Jenis-jenis penelitian yang selanjutnya adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang merupakan investasi sistematis mengenai sebuah fenomena atau situasi dengan mengumpulkan data yang dapat diukur menggunakan teknik statistik, matematika, atau komputasi.

        Pada jenis-jenis penelitian kuantitatif, peneliti memiliki tujuan untuk mengembangkan dan menggunakan berbagai model sistematis, berbagai teori, dan hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam yang sedang terjadi. Pada intinya, penelitian kuantitatif merupakan suatu proses pengukuran.

        Proses pengukuran yang dilakukan dapat memberikan hubungan antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari adanya hubungan-hubungan kuantitatif. Biasanya penelitian kuantitatif ini digunakan dan diterapkan baik dalam ilmu alam maupun ilmu fisika.

        Berbeda dengan penelitian kualitatif yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, penelitian kuantitatif ini berlandaskan filsafat positivisme yang dipakai untuk meneliti sekumpulan populasi atau sampel tertentu. Pengumpulan data yang dilakukan biasanya menggunakan alat ukur atau instrumen penelitian dan analisis data yang bersifat kuantitatif atau statistik.

        Tujuan dilakukannya jenis-jenis penelitian kuantitatif ini adalah agar peneliti dapat menguji dan membuktikan hipotesis yang telah dibuat atau ditetapkan.

        Sama halnya seperti penelitian kualitatif, penelitian kuantitatif juga dibagi menjadi beberapa jenis-jenis penelitian, yaitu metode survei dan metode eksperimen.

        a. Metode Survei. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode penelitian survei yang artinya metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan suatu data yang terjadi, baik pada masa lampau atau saat ini mengenai keyakinan, pendapat, karakteristik, dan hubungan variabel yang dapat digunakan untuk menguji beberapa hipotesis.

        Biasanya, hipotesis yang diuji bisa berupa variabel sosiologis dan atau psikologis dari sampel yang diambil dari populasi tertentu.Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui pengamatan yang diambil dari wawancara atau kuesioner dan dari hasil penelitian yang cenderung digeneralisasikan.

        b. Metode Eksperimen. Jenis-jenis penelitian di dalam penelitian kuantitatif selanjutnya adalah metode eksperimen. Di dalam metode eksperimen, metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen yang berupa treatment atau perlakuan terhadap hasil atau variabel dependen dan kondisi yang tak terkendalikan.

        Agar kondisi hasil atau variabel dependen dapat dikendalikan, maka di dalam penelitian eksperimen bisa menggunakan kelompok kontrol. Salah satu cara yang sering dilakukan pada metode eksperimen ini adalah melakukan penelitian di laboratorium.

        3. Penelitian Eksperimen

        Penelitian eksperimen adalah suatu kegiatan pengumpulan data, pengolahan data, analisis, dan penyajian yang dilakukan dengan metode percobaan yang bersistem dan terencana untuk membuktikan kebenaran suatu teori dan lain sebagainya. Tujuan dilakukannya penelitian eksperimen ini adalah untuk mengetahui sebab-akibat yang tercipta antarvariabel.

        Pada proses penelitian eksperimen, peneliti akan meneliti mengenai bagaimana pengaruh suatu perlakuan terhadap sebuah variabel dan kemudian akan dibandingkan dengan variabel yang lain dengan perlakuan yang berbeda. Ada empat faktor utama di dalam penelitian eksperimen, yaitu hipotesis, variabel independen, variabel dependen, dan subjek.

        Sementara itu, hipotesis di dalam penelitian eksperimen merupakan keputusan pertama yang ditetapkan oleh peneliti yang sudah diuji. Kemudian berdasarkan hipotesis itu, selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan variabel independen dan variabel dependen serta menentukan subjek yang digunakan untuk penelitian.

        Penelitian eksperimen yang mungkin dilakukan, misalnya penelitian yang dilakukan pada bidang pendidikan yang biasanya memiliki tujuan menilai sesuatu atau membuktikan mengenai pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa dengan metode baru, dibandingkan dengan metode tradisional.

        4. Penelitian Deskriptif

        Jenis-jenis penelitian selanjutnya yakni penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif dilakukan menggunakan metode penelitian yang dalam proses pengumpulan datanya memungkinkan peneliti untuk dapat menghasilkan deskripsi mengenai fenomena sosial yang diteliti. Selanjutnya, melalui data deskriptif yang didapat, peneliti dapat mengidentifikasi bagaimana fenomena tersebut terjadi.

        Tujuan utama dilakukannya jenis-jenis penelitian deskriptif ini sebenarnya ada tiga, yang pertama adalah mendeskripsikan, kemudian menjelaskan, dan memvalidasi data atau temuan dari penelitian. Meskipun di dalam penelitian deskriptif ini memungkinkan untuk melibatkan berbagai variabel, tetapi hanya ada satu variabel yang digunakan untuk menjelaskan masalah.

        Ciri-ciri penelitian deskriptif ini di antaranya adalah memiliki metode penelitian yang berupa mendeskripsikan suatu variabel, memiliki hubungan sebab-akibat, hasil penelitiannya disajikan sesuai data, kemudian data tersebut dapat dikumpulkan pada periode tertentu, dan penelitian memiliki wilayah yang fleksibel atau bisa dilakukan di manapun.

        Sementara itu, jenis-jenis penelitian deskriptif ini memiliki kriteria tersendiri yang membedakan dengan jenis-jenis penelitian yang lain. Kriteria penelitian deskriptif diantaranya:

        1. Jenis masalah yang dirumuskan harus layak.
        2. Tujuan dilakukannya penelitian tidak boleh terlalu luas, harus benar-benar terfokus.
        3. Data yang disajikan di dalam penelitian merupakan data berdasarkan fakta yang diambil melalui referensi atau hasil observasi.
        4. Jenis-jenis penelitian deskriptif ini harus memiliki pembanding untuk melakukan validasi data.
        5. Tempat dan waktu dilakukannya penelitian deskriptif harus jelas.
        6. Hasil penelitian pada penelitian deskriptif harus dijelaskan dan disajikan secara mendetail dan harus disajikan dalam gambaran mengenai objek penelitian.

        Contoh yang biasa dilakukan pada penelitian deskriptif ini misalnya, pada penelitian mengenai bagaimana motivasi perilaku membuat insta stories di Instagram. Di dalam penelitian ini, peneliti bisa merancang berbagai variabel, tetapi hanya satu variabel saja yang digunakan untuk melakukan penelitian, yaitu mengenai motivasi.

        5. Penelitian Campuran

        Penelitian campuran menggunakan dua jenis penelitian. Jenis penelitian yang biasanya digunakan adalah penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Kedua penelitian tersebut digunakan di dalam satu penelitian.

        Penggunaan dua jenis penelitian ini dianggap akan mendapatkan hasil pemahaman yang lebih lengkap dan mendetail mengenai sebuah masalah yang akan diteliti oleh peneliti. Jenis penelitian ini juga biasanya melibatkan berbagai asumsi filosofis, asumsi mengenai aplikasi pendekatan-pendekatan kualitatif dan kuantitatif, serta pencampuran kedua pendekatan tersebut.

        Tercampurnya pendekatan atau penelitian kualitatif dan kuantitatif di dalam satu penelitian akan menjadi lebih kompleks daripada hanya sekadar mengumpulkan suatu data, karena kemudian, hasil analisis akan mengumpulkan dan menganalisis dua jenis data.

        Dilakukannya penelitian campuran yang mengolaborasikan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif ini berfungsi untuk mengeksplorasi pandangan partisipan melalui penelitian kualitatif yang kemudian digunakan untuk menganalisis suatu sampel yang luas dengan penelitian kuantitatif.

        Biasanya langkah pertama yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Setelah melakukan penelitian kuantitatif, akan didapatkan data seputar interpersonal difficulties. Selanjutnya dilanjutkan dengan langkah kedua yang menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk dapat memberi validasi mengenai penelitian kuantitatif yang dilakukan.

        Langkah atau fase terakhir yang dilakukan pada penelitian campuran ini adalah kembali menggunakan penelitian kuantitatif agar dapat memberikan pengembangan hipotesis bagi penelitian kualitatif lebih lanjut.

        Penelitian campuran atau yang juga disebut penelitian gabungan atau mixed methods ini pada dasarnya terdiri atas penggabungan, perpaduan, hubungan, dan kelekatan dari kedua penelitian yang digunakan. Penelitian ini jika dilihat dari sejarahnya sudah mulai dikenal sejak tahun 1950-an ketika Campbell dan Fiske menggunakan metode multimethods.

        Alasan dilakukan jenis penelitian campuran ini diantaranya:

        1. Untuk dapat lebih memahami berbagai masalah penelitian dengan mentriangulasi data kuantitatif yang berupa angka-angka dan data kualitatif yang berupa perincian-perincian deskriptif.
        2. Jenis penelitian campuran atau penelitian gabungan ini dilakukan untuk mengeksplorasi suatu pandangan partisipan secara kualitatif dan kemudian dapat dianalisis kembali berdasarkan sampel yang luas yakni secara kuantitatif
        3. Agar hasil yang didapatkan kompleks, maka untuk memeroleh hasil-hasil statistik yang kuantitatif dalam suatu sampel diperlukan tindak lanjut dengan melakukan metode wawancara atau melakukan observasi terhadap sejumlah individu agar dapat membantu menjelaskan lebih jauh mengenai hasil statistik yang sudah diperoleh.
        4. Terakhir, dilakukannya penelitian campuran atau penelitian gabungan ini guna untuk mengungkap berbagai kecenderungan dan hak-hak dari suatu kelompok atau individu-individu yang tertindas.

        Sementara itu, tujuan keseluruhan penelitian campuran atau penelitian gabungan yang terdapat pada jenis-jenis penelitian ini adalah meneliti secara keseluruhan mengenai informasi yang meliputi berbagai unsur penelitian, baik kualitatif dan kuantitatif dan ada alasan rasional mengapa dilakukan penelitian campuran seperti yang sudah dijelaskan di atas.

        Untuk membedakan jenis-jenis penelitian campuran dengan jenis-jenis penelitian yang lain, maka diperlukan karakteristik atau ciri-ciri seperti di bawah ini.

        • Peneliti harus mengungkapkan atau memberi kerangka dan alasan yang jelas mengapa memilih desain penelitian campuran atau penelitian gabungan.
        • Metode penelitian menggabungkan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif sehingga datanya disajikan berupa data numerik dan data berupa teks atau kata-kata dan gambar.
        • Penentuan prioritas pada penelitian ini tergantung pada tujuan penelitian yang akan dilakukan.
        • Penggunaan jenis-jenis penelitian di dalam jenis-jenis penelitian campuran ini memungkinkan adanya data pengurutan di dalam penggunaan kedua jenis data.

        6. Penelitian Empiris

        Jenis penelitian yang terakhir adalah penelitian empiris. Penelitian empiris merupakan metode penelitian atau pengumpulan data yang dilakukan dengan proses logis untuk dapat mendapatkan jawaban dari pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pengertian empiris sendiri merupakan suatu istilah dalam filsafat untuk menjelaskan mengenai pengalaman atau sumber pengetahuan.

        Artinya, penelitian empiris yaitu jenis penelitian yang pengumpulan datanya diambil dari data-data lapangan sebagai sumber data utama, seperti  hasil wawancara dan juga hasil observasi. Penelitian empiris ini digunakan untuk menganalisis perilaku masyarakat yang berpola dalam kehidupan sosial masyarakat yang selalu berinteraksi dan berhubungan dengan masyarakat.

        Selain itu, penelitian empiris ini juga digunakan untuk mengamati hasil dari perilaku manusia yang berupa peninggalan baik peninggalan fisik maupun arsip. Penelitian empiris ini juga biasanya menjelaskan tentang sebuah penelitian hukum yang berfungsi dalam melihat hukum sebagai arti yang nyata dan meneliti cara kerja di lingkungan masyarakat.

        Biasanya, jenis penelitian empiris ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara dalam. Sehingga tak heran jika banyak orang menyebutnya sebagai hukum sosiologis. Penelitian empiris ini juga biasanya diambil dari berbagai fakta yang ada di masyarakat, badan pemerintah, dan di instansi lainnya.

        Untuk mengumpulkan data pada jenis penelitian empiris, bisa dilakukan dengan tiga teknik yang bisa dilakukan sendiri-sendiri maupun dilakukan bersamaan sekaligus. Ketiga teknik pengumpulan data yang bisa dilakukan adalah melalui wawancara, angket atau kuesioner, atau observasi. 

    • Buatlah hasil resume dari video diatas.

  • Desain Penelitian 

    a. Pengertian desain penelitian

    b. Perspektif desain penelitian

    c. Strategi desain penelitian

    d. Desain dalam riset SDM

    e. Praktik membuat proposal penelitian bab 1 dan bab 2 terkait msdm


      • Desain Penelitian: Pengertian, Fungsi, Klasifikasi, dan Bentuknya

        Apa Itu Desain Penelitian?

        adalah kerangka kerja atau rencana yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menjawab pertanyaan penelitian. Desain ini mencakup metode pengumpulan data, analisis, dan interpretasi hasil penelitian.

        Fungsinya :

        1. Menentukan langkah-langkah sistematis untuk penelitian.
        2. Memastikan data yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan penelitian.
        3. Meningkatkan validitas hasil penelitian.

        Macam-Macam Desain Penelitian

        Mancamnya Dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan pendekatan dan tujuan penelitian.

        1. Desain Pada Penelitian Kuantitatif

        Desain di penelitian kuantitatif berfokus pada pengumpulan dan analisis data numerik untuk mengidentifikasi pola atau hubungan antarvariabel.

        • Contoh: Penelitian tentang pengaruh media sosial terhadap prestasi akademik siswa.
        • Ciri-Ciri:
          • Menggunakan data numerik.
          • Menggunakan metode statistik untuk analisis.
          • Menggunakan instrumen terstandar seperti kuesioner.

        2. Desain Pada Penelitian Kualitatif

        Desain di penelitian kualitatif berfokus pada eksplorasi mendalam tentang fenomena atau pengalaman manusia untuk memahami makna atau perspektif.

        • Contoh: Studi tentang pengalaman pasien dalam menerima layanan kesehatan.
        • Ciri-Ciri:
          • Menggunakan data deskriptif seperti wawancara atau observasi.
          • Fokus pada makna dan interpretasi.
          • Menggunakan pendekatan fleksibel.

        3. Desain Pada Penelitian Eksperimen

        Desain di penelitian eksperimen digunakan untuk menguji hubungan sebab-akibat antara dua atau lebih variabel dengan mengontrol variabel lain.

        • Contoh: Penelitian tentang efek metode pembelajaran baru terhadap hasil belajar siswa.
        • Ciri-Ciri:
          • Melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
          • Menggunakan manipulasi variabel independen.
          • Dilakukan dalam kondisi yang terkendali.

        4. Desain Pada Penelitian Campuran (Mixed Methods)

        Menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.

        • Contoh: Penelitian tentang efektivitas pelatihan kerja menggunakan data kualitatif (wawancara) dan kuantitatif (survei).

        Apa Saja Desain Pada Penelitian?

        Berikut adalah macam-macam desain yang sering digunakan:

        1. Desain Deskriptif:
          Bertujuan untuk menggambarkan karakteristik atau fenomena tertentu tanpa mencari hubungan antarvariabel.
          • Contoh: Penelitian tentang tingkat literasi di daerah tertentu.
        2. Desain Korelasional:
          Bertujuan untuk melihat hubungan atau asosiasi antara dua variabel atau lebih tanpa manipulasi.
          • Contoh: Hubungan antara kebiasaan belajar dan nilai akademik.
        3. Desain Eksperimen:
          Bertujuan untuk menguji hubungan sebab-akibat dengan manipulasi variabel independen.
          • Contoh: Pengaruh jenis pupuk terhadap pertumbuhan tanaman.
        4. Desain Longitudinal:
          Mengamati variabel atau fenomena yang sama selama periode waktu tertentu.
          • Contoh: Studi perkembangan anak dari usia 5 hingga 15 tahun.
        5. Desain Studi Kasus:
          Menganalisis secara mendalam tentang suatu kasus atau fenomena tertentu.
          • Contoh: Studi tentang keberhasilan program pendidikan di daerah terpencil.

        Contoh Desain Penelitian

        1. Desain dengan Penelitian Kuantitatif

        Judul: "Hubungan Antara Durasi Belajar dan Prestasi Akademik Siswa"

        • Metode: Survei dengan kuesioner.
        • Analisis Data: Statistik deskriptif dan regresi linier.

        2. Desain dengan Penelitian Kualitatif

        Judul: "Pengalaman Pasien dalam Mendapatkan Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit"

        • Metode: Wawancara mendalam dan observasi.
        • Analisis Data: Analisis tematik.

        3. Desain dengan Penelitian Eksperimen

        Judul: "Pengaruh Metode Belajar Interaktif terhadap Pemahaman Konsep Matematika"

        • Metode: Kelompok eksperimen menggunakan metode interaktif, kelompok kontrol menggunakan metode tradisional.
        • Analisis Data: Uji t untuk membandingkan hasil belajar.

        Kesimpulan

        Desain adalah elemen penting dalam proses penelitian yang menentukan metode pengumpulan dan analisis data. Dengan memilih desain dalam penelitian yang sesuaiΓÇöseperti kuantitatif, kualitatif, atau eksperimenΓÇöpeneliti dapat menjawab pertanyaan penelitian dengan lebih efektif dan valid.  

  • Sumber dan Metode Pengumpulan Data

    a. Pengertian Data

    b. Jenis Data

    c. Metode Pengumpulan Data

    d. Praktik review artikel terkait metode pengumpulan data

    • Sumber Data Penelitian: Jenis, Bentuk, Metode Pengumpulan

      sumber data penelitian

      Apa Itu Sumber Data dalam Penelitian?

      Hal pertama untuk dibahas adalah dari aspek definisi. Dikutip melalui laman JOPGlass, dijelaskan bahwa sumber data penelitian adalah subjek dari mana data didapatkan. Sumber data disini adalah sebuah subjek yang bisa berupa manusia, baik individu maupun kelompok. 

      Kemudian bisa juga dalam bentuk kondisi wilayah, kondisi suatu benda, laporan tahunan suatu lembaga, dan lain sebagainya. Sumber data ini pada intinya memiliki data yang penting dan relevan dengan penelitian yang dilakukan. 

      Penentuan sumber data akan disesuaikan dengan topik penelitian dan kemudian mencari wilayah penelitian yang sesuai. Individu, kondisi wilayah, dan benda di lokasi penelitian bisa menjadi sumber data. 

      Sumber data kemudian terbagi menjadi dua secara garis besar, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder. Peneliti memiliki kebebasan untuk memilih jenis dan sumber data mana saja yang sekiranya mendukung kegiatan penelitian yang dilakukan. 

      Jenis Sumber Data Penelitian

      Data sendiri memiliki definisi umum sebagai sebuah keterangan yang mengumpulkan berbagai informasi yang bisa berupa grafik, tabel, gambar, kata, huruf, video, angka, suara, simbol, lambang, sebuah situasi, dan lain sebagainya. 

      Data didapatkan dari suatu sumber dan sumber data penelitian ini memiliki jenis yang cukup beragam. Dikutip melalui Repository Universitas Diponegoro (Undip), berikut adalah jenis-jenis sumber data penelitian: 

      1. Sumber Data Primer 

      Sumber data primer adalah  data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya. Sehingga sumber data disini adalah sumber yang paham suatu fenomena secara langsung, dimana fenomena ini diteliti. 

      Misalnya pada saat melakukan penelitian di area perpustakaan, maka sumber data primer disini bisa dari petugas perpustakaan atau pustakawan. Sebab yang paham betul kondisi perpustakaan di lapangan maupun secara laporan tertulis.  

      2. Sumber Data Sekunder 

      Jenis sumber data yang kedua adalah sumber data sekunder, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertama. Artinya, sumber bukan sumber data primer akan tetapi bisa menunjang. 

      Data sekunder dalam penelitian sering dijadikan sebagai alternatif ketika tidak lagi didapatkan data primer. Sebab kredibilitas sumber sangat penting untuk menunjang kredibilitas data penelitian. Maka sumber data primer menjadi prioritas utama. 

      Sumber data primer dan sekunder digunakan untuk kegiatan penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Adapun yang menjadi pembeda adalah metode pengumpulan data di masing-masing metode. Rinciannya akan dijelaskan di bawah. 

      Bentuk Sumber Data 

      Bicara mengenai sumber data penelitian, selain terbagi menjadi dua jenis utama, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder. Ternyata bentuk sumber data juga cukup beragam, berikut penjelasan detailnya: 

      1. Narasumber atau Responden  

      Bentuk sumber data dalam penelitian yang pertama adalah narasumber atau responden. Sumber data ini didapatkan dari manusia, baik secara individu maupun dalam bentuk kelompok. Misalnya kelompok mahasiswa, kelompok warga, dll. 

      Dalam penelitian kualitatif, sumber data individu dilakukan dengan teknik wawancara. Sumber data ini disebut dengan istilah narasumber, sebab menjadi sumber informasi berbentuk abstrak dan disampaikan langsung oleh individu tersebut. 

      Sementara pada penelitian kuantitatif, biasanya data didapatkan dengan menyusun angket atau kuesioner. Seluruh sumber data yang melakukan pengisian disebut dengan istilah responden. 

      Sebab sumber data tersebut adalah pihak yang merespon angket yang dibagikan dan menjawab sejumlah pertanyaan yang sudah disiapkan peneliti. Jadi, jika metode pengumpulan data berbeda maka nama sumber data juga berbeda. 

      2. Fenomena/ Peristiwa/ Aktivitas

      Sumber data penelitian yang kedua berbentuk fenomena atau sebuah peristiwa dan sebuah aktivitas. Jika peneliti melakukan proses pengumpulan data dengan observasi atau pengamatan langsung di lapangan. 

      Maka umumnya akan mengamati sumber data berbentuk fenomena, peristiwa, dan aktivitas tersebut. Misalnya peneliti ingin memahami budaya masyarakat di pedalaman daerah X. 

      Maka saat melakukan observasi, salah satu data penelitian tersebut adalah ragam aktivitas yang dilakukan anggota suku di masyarakat pedalaman daerah X tersebut. Sehingga data didapatkan dengan mengamati bukan dengan wawancara atau pengisian angket. 

      3. Tempat atau Lokasi 

      Bentuk sumber data penelitian yang ketiga adalah berupa tempat atau lokasi dimana penelitian dilakukan. Artinya, pada beberapa penelitian, subjek penelitian tersebut adalah suatu tempat atau suatu lokasi. Baik di perkotaan, pedesaan, maupun pedalaman. 

      Suatu wilayah atau tempat bisa menjadi sumber data ketika memang relevan dengan topik penelitian yang dilakukan. Selain itu, wilayah ini dijadikan subjek penelitian seperti yang dijelaskan sebelumnya. 

      Contohnya adalah penelitian untuk mengetahui karakteristik tanah di daerah Y. Maka peneliti akan ke daerah Y dan memeriksa serta mengamati maupun melihat data laporan berkaitan dengan kondisi tanah di daerah Y tersebut. 

      4. Dokumen atau Arsip 

      Bentuk keempat dari sumber data penelitian adalah dokumen atau arsip. Secara umum, dokumen adalah benda cetak yang memuat informasi tertulis yang sifatnya penting. 

      Pada kegiatan penelitian, sangat mungkin peneliti mendapatkan data dari suatu laporan berkala. Misalnya data sensus penduduk di tahun 2023, data angka kelahiran di desa S selama 5 tahun terakhir, dan lain sebagainya. 

      Jika penelitian yang dilakukan memang membutuhkan data statistik, maka biasanya sumber data akan berbentuk dokumen atau arsip. Dalam memilih dokumen sebagai sumber data, isinya wajib sesuai dengan topik penelitian agar relevan dan bisa menjad data penelitian. 

      Metode Pengumpulan Data Penelitian 

      Seperti yang sudah dijelaskan, dalam metode penelitian kuantitatif maupun kualitatif sama-sama bisa menggunakan sumber data primer maupun sekunder. Hal yang menjadi pembeda adalah metode pengumpulan data tersebut. 

      Secara umum, penelitian kuantitatif menggunakan metode pengumpulan data dengan survei, observasi, dan eksperimen. Sementara pada penelitian kualitatif dengan metode wawancara, diskusi grup terfokus, dan teknik proyeksi. Berikut penjelasan lengkapnya: 

      1. Wawancara 

      Metode pengumpulan data penelitian yang pertama adalah dengan teknik wawancara. Secara umum, wawancara adalah perbincangan dua orang atau lebih secara tatap muka antara narasumber dengan pewawancara/peneliti.

      Dulu, kegiatan wawancara hanya bisa dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Namun dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, wawancara bisa dilakukan jarak jauh. Misalnya dengan telepon, chat di WhatsApp, dll. 

      Misalnya karena terbentuk kesibukan yang terlalu padat dari narasumber, jarak lokasi yang cukup jauh bahkan lintas negara, dll yang tidak memungkinkan dilakukan wawancara langsung. 

      2. Diskusi Grup Terfokus 

      Metode pengumpulan data yang kedua dari sumber data penelitian adalah diskusi grup terfokus atau Focus Group Discussion (FGD). FGD sendiri merupakan proses mendapatkan data penelitian dengan melakukan diskusi kelompok yang fokus membahas satu topik (permasalahan) yang sama. 

      Lewat metode ini, peneliti bisa mendapatkan data yang kaya. Alasannya karena peneliti bisa mendapat data dari berbagai pengalaman sosial dari interaksi para individu yang berada dalam suatu kelompok diskusi.

      3. Teknik Proyeksi 

      Teknik proyeksi dalam penelitian adalah metode mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan kepada sumber data agar didapatkan pendapat mereka tanpa mereka menyadarinya. 

      Sehingga ada beberapa pertanyaan dalam angket misalnya, disusun sedemikian rupa untuk mendapat pendapat jujur responden. Namun pertanyaan ini dibuat tersirat tidak tersurat, sehingga pendapat tersebut jujur dan apa adanya. 

      Pertanyaan ini bisa dalam bentuk soal isian yang diminta untuk dijawab responden dengan kalimat singkat atau dijelaskan sedemikian rupa. Sehingga peneliti bisa mengetahui pendapat dan pandangan jujur responden. Contoh pertanyaannya: 

      • Pantai adalahΓǪ 
      • Hidup dikatakan mewah jikaΓǪ 
      • Anak dikatakan cerdas apabilaΓǪ 

      4. Survei 

      Metode pengumpulan data berikutnya adalah dengan survei. Survei sendiri adalah  metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. Contohnya dengan membagikan angket atau kuesioner. 

      Metode ini tentu cukup populer, karena umum digunakan dalam penelitian kuantitatif. Selain itu juga dipahami menjadi metode yang cepat karena bisa mengandalkan media sosial untuk membagikan angket dan memperoleh responden sesuai kriteria dalam jumlah banyak tetapi dalam tempo singkat. 

      5. Observasi 

      Selanjutnya adalah dengan metode observasi atau pengamatan, yaitu kegiatan mendapatkan data penelitian dengan cara melakukan kegiatan pemantauan, pengawasan dan pengamatan terhadap subjek penelitian. 

      Dalam hal ini, peneliti wajib turun langsung ke lapangan dan melakukan pengamatan. Apapun hasil pengamatan tersebut, maka akan menjadi data penelitian yang valid dan menjadi sumber data penelitian primer. 

      6. Eksperimen 

      Metode yang terakhir adalah eksperimen, yaitu teknik pengambilan data penelitian dengan melakukan kegiatan eksperimen. Eksperimen sendiri adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (treatment/perlakuan) terhadap variabel dependen (hasil) dalam kondisi yang terkendalikan.

      Sehingga peneliti akan menciptakan suatu kondisi yang sudah ditentukan pada subjek penelitian dan melakukan pengamatan untuk mendapat data. Misalnya penelitian pada perkembangan larva nyamuk, maka akan diamati perkembangannya di dua tabung dengan kondisi berbeda. Baik dari segi ukuran, jumlah air, udara, dll. 

    • Buatlah rangkuman tentang video yang di share

  • Sampling

    a. Alasan Perlunya Sampel

    b. Penentuan Ukuran Sampel

    c. Teknik Pengambilan Sampel

    d. Praktik menentukan jumlah sampel berdasarkan case study

    • Populasi dan Sampel: Pengertian, Perbedaan, dan Contoh

      populasi dan sampel

      Pengertian Populasi Menurut Para Ahli

      1. Netra 

      Pendapat yang pertama datang dari Netra. Menurut Netra, populasi adalah keseluruhan individu yang bersifat general atau umum yang mempunyai karakteristik yang cenderung sama. Sehingga, saat menjumpai individu dengan sifat umum atau sama satu sama lain, maka bisa dijadikan populasi dalam sebuah penelitian. 

      2. Sugiyono 

      Pendapat kedua disampaikan oleh Sugiyono. Sugiyono berpendapat bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

      Sehingga dalam melakukan penelitian, seorang peneliti perlu menentukan karakteristik dari objek penelitian. Baru kemudian mencari populasi atau objek penelitian yang secara keseluruhan memenuhi kriteria tersebut. 

      3. Hadari Nawawi 

      Selanjutnya adalah pendapat yang disampaikan oleh Hadari Nawawi. Menurut Nawawi, populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri atas manusia, hewan, benda-benda, tumbuh, peristiwa, gejala, ataupun nilai tes sebagai sumber data yang mempunyai karakteristik tertentu dalam suatu penelitian yang dilakukan.

      4. Bugin 

      Bugin juga menyampaikan pendapatnya terkait pengertian populasi. Menurut Bugin, populasi adalah keseluruhan (universum) dari objek penelitian berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya sehingga objek ini dapat menjadi sumber data penelitian.

      5. Nursalam 

      Berikutnya adalah pendapat yang disampaikan oleh Nursalam. Nursalam menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. Sehingga selama suatu variabel masih memiliki hubungan dengan topik yang diteliti maka termasuk ke dalam populasi penelitian. 

      Pengertian Sampel Menurut Para Ahli

      Jika pengertian populasi sudah dijelaskan di atas, lalu apa pengertian dari sampel? Sampel secara sederhana bisa diartikan sebagai sebagian kecil dari objek penelitian yang dipilih oleh peneliti. Sehingga dari keseluruhan objek penelitian yang disebut dengan istilah ΓÇ£populasiΓÇ¥ kemudian diambil beberapa saja, objek yang diambil ini disebut ΓÇ£sampelΓÇ¥. 


      Sama seperti populasi, pengertian dari sampel juga dikemukakan oleh sejumlah ahli. Berikut beberapa diantaranya: 

      1. Sugiyono 

      Oleh Sugiyono, sampel didefinisikan sebagai bagian dari keseluruhan serta karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi. Dijelaskan pula pengambilan sampel dilakukan peneliti karena beberapa kondisi. Pertama, karena jumlah suatu objek penelitian sangat besar dan peneliti tidak mungkin meneliti objek satu per satu secara keseluruhan. 

      Kedua, bertujuan untuk mempelajari objek penelitian dalam skala kecil yang kemudian diberlakukan kepada keseluruhan objek penelitian. Sehingga bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena tidak perlu meneliti objek yang jumlahnya terlalu banyak dan karakternya terlalu beragam. 

      2. Arikunto 

      Menurut pendapat Arikunto, sampel adalah sebagian atau sebagai wakil populasi yang akan diteliti. Jika penelitian yang dilakukan sebagian dari populasi maka bisa dikatakan bahwa penelitian tersebut adalah penelitian sampel. Sebab peneliti dijamin akan mengambil beberapa populasi saja untuk diteliti secara mendalam. 

      3. Nana Sudjana 

      Terakhir adalah pendapat dari Nana Sudjana. Menurut Sudjana, sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat dijangkau serta memiliki sifat yang sama dengan populasi yang diambil sampelnya tersebut. 

      Sehingga peneliti dalam mengambil sampel mengutamakan bagian dari populasi yang masih bisa dijangkau atau yang sangat mungkin lebih mudah untuk dijangkau. Misalnya saja perlu melakukan wawancara terhadap populasi, maka peneliti bisa memilih objek yang bisa diwawancara karena tidak terlalu sibuk dengan aktivitas lain. 

      Jadi, apa itu populasi dan sampel dalam penelitian? Populasi adalah keseluruhan individu yang mempunyai karakteristik tertentu yang cenderung sama. Sedangkan sampel adalah bagian dari keseluruhan sebuah populasi yang mewakili karakteristik tertentu tersebut.

        Perbedaan Antara Populasi dan Sampel 

        Selain membahas tentang pengertian masing-masing, saat mempelajari populasi dan sampel perlu juga mengetahui perbedaan antara keduanya. Mengingat antara populasi maupuns ampel ini memang saling berhubungan dan bahkan membahas objek yang sama, yaitu satu kesatuan dari objek penelitian, maka banyak yang memberi definisi sama. 

        Lalu, apa perbedaan populasi dan sampel beserta contohnya?

        Perbedaan populasi dan sampel terletak pada segi jumlah. Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian sedangkan sampel adalah sebagian kecil atau separuh dari objek penelitian tersebut. Contohnya: peneliti perlu melakukan survei di desa A tentang tingkat kepuasan terhadap layanan perusahaan X. Berhubung jumlah masyarakat di desa tersebut mencapai 500 orang (jumlah populasi). Maka peneliti mencoba melakukan efisiensi waktu dan tenaga dengan mengambil sampel sebanyak 10 orang atau lebih dan bisa juga kurang. 

        Angka 500 dari contoh ini adalah populasi, sedangkan angka 10 adalah sampel. Lalu, bagaimana peneliti bisa mengambil kesimpulan? Saat mengumpulkan data dari sampel maka hasilnya mewakili keseluruhan populasi tersebut. Supaya akurat, kebanyakan peneliti mengambil sampel acak dengan menggunakan rumus 10:100.000. 

        Pentingnya Menggunakan Sampel 

        Kegiatan penelitian pada dasarnya tidak selalu membutuhkan sampel, sebab peneliti bisa melakukan survei dan mendapatkan data dari keseluruhan objek penelitian (populasi). Hanya saja ada beberapa kondisi yang membuat penelitian perlu mengambil sampel dari keseluruhan populasi tadi. Kondisi tersebut antara lain: 

        1. Ukuran Populasi Terlalu Besar 

        Kondisi yang pertama adalah karena ukuran dari populasi yang terlalu besar. Misalnya dari jumlah masyarakat di sebuah desa yang dijadikan objek penelitian. Jika jumlahnya sampai ratusan bahkan ribuan, maka tidak mungkin peneliti melakukan penelitian ke ribuan penduduk tersebut. 

        Sampel kemudian diambil dan nantinya akan mewakili keseluruhan populasi. Data yang didapatkan tetap akurat, karena memang penentuan objek penelitian sejak awal disesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Sehingga data tidak harus didpatkan dari keseluruhan populasi, melainkan sebagian kecilnya saja. 

        2. Efisiensi dari Segi Biaya 

        Dalam kondisi aktual di lapangan, menggunakan populasi dan sampel tentu lebih efisien sampel dari segi biaya. Sampel membuat kegiatan penelitian hanya membutuhkan dana lebih sedikit. Sehingga peneliti bisa mengalokasikan dana yang tersedia kepada kebutuhan lain. 

        Jika memaksakan diri meneliti keseluruhan populasi maka biaya yang dikeluarkan bisa sangat tinggi. Oleh sebab itu, pengambilan sampel dari populasi menjadi langkah terbaik agar biaya penelitian tersebut lebih mudah untuk dikontrol. Bisa juga bertujuan untuk membuat biaya sesuai dengan anggaran yang tersedia. 

        3. Efisiensi dari Segi Waktu 

        Menggunakan populasi dan sampel pada sebuah penelitian, akan jauh lebih hemat waktu jika menggunakan sampel saja. Sebab peneliti hanya perlu melakukan pemeriksaan dan pengumpulan data dari jumlah objek penelitian yang terbatas. Sehingga proses penyajian data menjadi lebih cepat dan juga dijamin tepat. 

        4. Sumber Daya Menjadi Lebih Efisien 

        Jika suatu penelitian memberdayakan SDM (Sumber Daya Manusia) dalam jumlah yang minim. Maka sudah sangat ideal jika penelitian meneliti sampel saja bukan populasi. Sehingga pengaturan SDM menjadi lebih mudah, karena meneliti sampel membutuhkan jumlah SDM lebih sedikit dibanding meneliti populasi. 

        5. Penelitian Tidak Mungkin Menggunakan Populasi 

        Tidak semua penelitian membutuhkan populasi, sehingga sampel menjadi pilihan yang diambil dalam kondisi tersebut. Populasi ini bisa dalam bentuk sesuatu atau objek penelitian yang tidak mungkin diambil keseluruhan untuk diteliti. Misalnya saja penelitian mengenai warna darah pada tubuh manusia. 

        Sangat tidak mungkin peneliti mengambil semua darah dari objek penelitian (seseorang) untuk diteliti. Sebab jika darah diambil sama artinya menghilangkan nyawa dari objek penelitian tersebut. Maka peneliti mengambil sampel, yakni dengan mengambil beberapa tetes atau beberapa mili dari darah objek penelitian. 

          Dalam pengambilan sampel pada penelitian kuantitatif maupun kualitatif, sampe wajib memenuhi sejumlah syarat diantaranya mewakili populasi, mudah dilaksanakan, memberi keterangan, dan harus tepat dan presisi. Berikut penjelasannya:

          • Mewakili populasi, syarat pertama adalah sampel tersebut mampu mewakili populasi yang diteliti. Yakni sama-sama memenuhi karakter penelitian yang sudah ditentukan oleh peneliti. Misalnya saja harus bersekolah di SMA Y karena akan meneliti SMA tersebut. 

          Maka bisa diambil dari kelas manapun asalkan bersekolah di SMA Y. Kesesuaian ini penting agar data yang didapatkan dari sampel memang mewakili data dari keseluruhan populasi penelitian. 

          Siswa yang bersekolah di sekolah yang sama meskipun beda kelas bisa mengetahui kondisi lingkungan, kebijakan sekolah, dan lain-lain. Sehingga data yang didapat dari sampel maupun dari keseluruhan siswa dijamin sama. Maka data dari sampel ini mampu mewakili keseluruhan populasi. 

          • Mudah dilaksanakan, syarat berikutnya adalah mudah untuk dilaksanakan dimana data bisa diambil sewaktu-waktu dan semua pihak yang terlibat bisa menyamakan waktu tersebut. Sehingga pengambilan data penelitian dijamin lancar dan sesuai dengan kebutuhan peneliti. 
          • Harus tepat dan presisi, dimana sampel harus dapat menentukan presisi, ketepatan, dan kesalahan baku yang ditentukan dan diperoleh dari populasi penelitian. Secara sederhana sampel ini harus memiliki lebih banyak kemiripan dan mewakili keseluruhan populasi, sehingga data yang didapatkan akurat. 
          • Memberi keterangan, sampel yang dipilih peneliti harus bisa memberi keterangan dalam artian memberi data penelitian. Selain itu sampel yang dipilih secara acak ini juga harus mampu menekan biaya seminimal mungkin. Sebab salah satu tujuan dilakukan pengambilan sampel adalah untuk efisiensi waktu, tenaga, dan juga biaya. 

          Contoh Populasi dan Sampel 

          Berikut adalah beberapa contoh populasi dan sampel baik terhadap penelitian kualitatif maupun kuantitatif: 

          1. Contoh 1 

          Penelitian dilakukan terhadap siswa SD kelas VI di Kabupaten Pati. Jumlah Sekolah Dasar di Kabupaten Pati ada 10. Lokasi yang berjauhan antara satu SD dengan SD yang lain membuat peneliti hanya meneliti sampel yang diambil dari 3 SD di Kabupaten Pati tersebut. 

          Dari kalimat di atas, maka contoh populasi sampel penelitian tersebut adalah:

          Contoh populasi : seluruh siswa SD kelas VI dari 10 SD di Kabupaten Pati

          Contoh sampel : siswa kelas VI dari 3 SD di Kabupaten Pati

          2. Contoh 2 

          Penelitian tentang kualitas beras di desa Pringapus, Yogyakarta. Jumlah beras di satu desa ini tentu sangat banyak. Bisa dari jumlah dalam bentuk kilogram sampai dari segi jenis beras yang tersedia. 

          Saking banyaknya jenis beras yang akan diteliti, maka peneliti mengambil sampel dari beberapa jenis beras yang paling mudah didapatkan. Hasil penelitian terhadap sampel beras ini kemudian dianggap mewakili hasil penelitian semua beras di desa Pringapus. 

          Dari kalimat di atas, maka contoh populasi sampel penelitian tersebut adalah:

          Contoh populasi: Semua jenis beras yang ada di desa Pringapus, Yogyakarta

          Contoh sampel: Beberapa jenis beras yang ada di desa Pringapus, Yogyakarta

          3. Contoh 3 

          Penelitian dilakukan di PGRI Semarang untuk mengetahui jumlah mahasiswa yang masuk ke jurusan PGSD. Diketahui jumlah mahasiswa di PGSD Ini sangat banyak sampai ribuan. Maka peneliti kemudian mengambil sampel, beberapa mahasiswa saja. Katakanlah hanya melakukan penelitian terhadap 25 atau 50 mahasiswa PGSD. 

          Dari kalimat di atas, maka contoh populasi sampel penelitian tersebut adalah:

          Contoh populasinya adalah seluruh mahasiswa PGSD di PGRI Semarang. Sementara contoh sampelnya adalah 25 atau 50 mahasiswa PGSD di PGSD di PGRI Semarang.

          4. Contoh 4 

          Penelitian dilakukan untuk mengetahui jumlah kambing dan sapi qurban di kota Semarang. Jumlahnya tentu sangat banyak, apalagi di kota Semarang sendiri ada beberapa peternak kambing maupun sapi. Meneliti semuanya tentu akan sulit dan sekalipun bisa akan memakan waktu yang lama dan biaya tidak sedikit. 

          Maka diambil sampel, misalnya hanya meneliti jumlah kambing di 5 kecamatan di kota Semarang. Dari lima kecamatan ini kemudian akan didapatkan total jumlah kambing dan kemudian dibuat rata-rata dan dikalikan dengan jumlah kecamatan di kota Semarang. 

          5. Contoh 5 

          Peneliti melakukan penelitian dengan objek siswa SMP di seluruh SMP swasta di kota Malang. Jumlah SMP swasta ini katakanlah ada 25 sekolah, dengan jumlah siswa mencapai puluhan ribu. Maka peneliti akan mengambil sampel hanya 5 sekolah dan bisa juga dari 5 sekolah tersebut hanya meneliti kelas VII saja. 

          Jadi, populasi penelitian nya adalah semua siswa SMP di seluruh SMP swasta di kota Malang dan contoh sampel nya adalah siswa kelas VII dari 5 SMP Swasta di kota Malang.

          6. Contoh 6 

          Penelitian dilakukan di perusahaan A untuk mengetahui suatu hal dari perusahaan tersebut. Jumlah karyawan di perusahaan A ada 300 orang dan akan membutuhkan waktu lama jika melakukan wawancara ke semua karyawan. Maka diambil sampel, hanya melakukan wawancara kepada 10 karyawan atau mungkin sampai 50 karyawan. 

          Penjelasan detail mengenai populasi dan sampel di atas tentunya bisa memberi informasi mendetail tentang keduanya. Sehingga bisa menentukan populasi maupun sampel dengan tepat dan terasa jauh lebih mudah dari sebelumnya. 

          Maka, contoh populasi = 300 atau seluruh karyawan perusahaan A; contoh sampel = 10-50 karawan di perusahaan A

          Pertanyaan Seputar Populasi dan Sampel:

          Apa contoh dari populasi dan sampel?

          Penelitian dilakukan di perusahaan A untuk mengetahui pengaruh sistem work from home terhadap produktivitas kerja para karyawan. Jumlah karyawan di perusahaan A ada 300 orang dan peneliti hanya akan melakukan wawancara pada 50 karyawan yang telah dipilih secara acak. Populasi penelitian tersebut adalah karyawan perusahaan A yang berjumlah 300 orang. Sampel penelitian tersebut adalah 50 karyawan yang akan diwawancara.

          Apa perbedaan populasi dan sampel dan berikan contohnya?

          Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian sedangkan sampel adalah sebagian kecil atau separuh dari objek penelitian tersebut. Secara jumlah, maka bisa dipastikan jumlah populasi jauh lebih banyak dibandingkan dengan sampel. 

          Apa yang dimaksud dengan sampel dan contohnya?

          Menurut Sugiyono, sampel diartikan sebagai bagian dari keseluruhan serta karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi.
          Contoh sampel yang ada dalam penelitian:
          Penelitian dilakukan di perusahaan A untuk mengetahui pengaruh sistem work from home terhadap produktivitas kerja para karyawan. Jumlah karyawan di perusahaan A ada 300 orang dan akan membutuhkan waktu lama jika melakukan wawancara ke semua karyawan. Maka peneliti dapat mengambil sampel untuk mewakili populasi atau total karyawan yang ada. Sampel penelitian tersebut dapat sejumlah 50 karyawan yang dipilih secara acak. 


        • Buatlah penjelasan tentang populasi dan sampel dari teori pakar yang anda gunakan sebagai referensi metodologi penelitian. 

          Dan tentukan jumlah populasi, jumlah sampel (responden) serta teknik pengambilan sampelnya untuk penelitian anda. 

          Buatlah populasi dan sampel serta teknik pengambilan sampel dari jurnal yang anda gunakan.

      • Variabel Penelitian dan Pengukuran

        a. Pengertian dan Jenis Variabel

        b. Jenis-Jenis Variabel

        Pengukuran Variabel

        c. Skala Pengukuran

        d. Definisi Operasional

        e. Praktik merancang definisi operasional

        • Variabel: Pengertian, Jenis, dan Contoh pada Penelitian


          variabel adalah

          Melansir laman Research Connections, variabel merujuk pada atribut atau karakteristik seseorang, kelompok, atau objek yang dapat diukur dan bervariasi dalam sampel yang diselidiki (misalnya usia, berat badan, IQ).

          Pada dasarnya tujuan dari semua penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan varians di dunia. Oleh karenanya, varians hanyalah perbedaan, yaitu variasi yang terjadi secara alami di dunia atau perubahan yang kita ciptakan sebagai akibat manipulasi.

          Jenis Variabel Penelitian

          Ada dua jenis utama variabel penelitian, yakni variabel independen dan dependen.

          1. Variabel Bebas (Independent Variable)

          Merupakan variabel yang diubah atau dimanipulasi oleh peneliti dalam rangka mengamati pengaruhnya terhadap variabel lain. Disebut independen karena tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam penelitian.

          Variabel bebas adalah penyebab atau faktor yang diperiksa dalam penelitian.

          2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

          Merupakan variabel yang diukur atau diamati dalam penelitian untuk melihat bagaimana perubahannya dipengaruhi oleh variabel bebas. Ini adalah hasil yang ingin Anda ukur, dan itu bergantung pada variabel independen Anda.

          Baca juga: Outlier Adalah: Definisi, Contoh, Pentingnya Menemukan Otulier

          Contoh Variabel Penelitian

          contoh variabel penelitian
          Source: Freepik

          Judul Penelitian: Pengaruh Iklan Online terhadap Penjualan Serum Wajah

          Variabel Independen: Jumlah Pengeluaran untuk Iklan Online

          Variabel independen dalam penelitian ini adalah ΓÇ£Jumlah Pengeluaran untuk Iklan Online.ΓÇ¥ Ini adalah variabel yang dapat diubah oleh peneliti untuk mengamati bagaimana perubahannya dapat memengaruhi variabel dependen.

          Peneliti dapat memvariasikan jumlah pengeluaran untuk iklan online dalam kelompok-kelompok yang berbeda dalam rangka mengamati bagaimana hal ini memengaruhi penjualan serum wajah.

          Variabel Dependen: Jumlah Penjualan Serum Wajah

          Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ΓÇ£Jumlah Penjualan Serum Wajah.ΓÇ¥ Ini adalah variabel yang diukur atau diamati untuk melihat bagaimana perubahannya berkaitan dengan variabel independen.

          Peneliti akan mengukur jumlah penjualan serum wajah pada setiap tingkat pengeluaran iklan online dan melihat apakah terdapat pola atau korelasi antara jumlah pengeluaran iklan online dan penjualan produk.

          Dalam penelitian pasar seperti ini, tujuan utama adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pengeluaran iklan online dan penjualan produk.

          Dengan mengamati perubahan dalam variabel independen dan bagaimana hal itu memengaruhi variabel dependen, peneliti dapat menyimpulkan apakah iklan online memiliki pengaruh positif, negatif, atau tidak signifikan terhadap penjualan produk serum wajah. 

      • Uji Validitas dan Reabilitas

        a. Alasan perlunya uji validitas dan reabilitas

        b. Uji Validitas

        c. Uji Reabilitas

        d. Praktik Uji Validitas dan Reabilitas


          • Uji Validitas dan Reliabilitas: Pengertian, Langkah, dan Rumus

            Dalam dunia penelitian, pengumpulan data yang valid dan dapat diandalkan adalah kunci untuk mendapatkan hasil yang kredibel. Dua konsep penting yang memastikan kualitas data adalah validitas dan reliabilitas. Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk mengevaluasi instrumen penelitian, seperti kuesioner, agar data yang dihasilkan sesuai dengan tujuan penelitian. Artikel ini akan menjelaskan pengertian, perbedaan, langkah-langkah, dan rumusnya, dilengkapi dengan pandangan dari para ahli.

            Apa yang Dimaksud dengan Uji Validitas dan Reliabilitas?

            1. Uji Validitas:
              Uji validitas digunakan untuk menentukan sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang valid akan menghasilkan data yang sesuai dengan realitas.
            2. Uji Reliabilitas:
              Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi atau keandalan instrumen penelitian dalam menghasilkan data yang sama pada pengukuran yang berbeda.

            Uji Validitas dan Reliabilitas Menurut Para Ahli

            1. Uji Validitas:
              Menurut Para Ahli:
            • Sugiyono (2018): Validitas adalah tingkat keakuratan antara data yang terkumpul dengan realitas yang terjadi pada objek penelitian.
            • Azwar (2015): Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur mampu mengukur konsep yang ingin diukur.
            1. Uji Reliabilitas:

            Menurut Para Ahli:

            • Arikunto (2010): Reliabilitas adalah tingkat kestabilan hasil pengukuran bila dilakukan pengukuran ulang pada waktu yang berbeda.
            • Nunnally (1978): Reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu instrumen memberikan hasil yang konsisten.
               

            Perbedaan Uji Validitas dan Reliabilitas

            Aspek

            Uji Validitas

            Uji Reliabilitas

            Tujuan

            Menilai apakah instrumen mengukur variabel yang dimaksudMengukur konsistensi hasil pengukuran

            Fokus

            Ketepatan dan kecocokanStabilitas dan keandalan

            Hasil

            Data yang sesuai dengan konsep yang diukurData yang konsisten pada pengukuran ulang


             

            Langkah-Langkah Uji Validitas

            1. Tentukan Variabel yang Akan Diuji: Identifikasi variabel yang akan diukur dengan instrumen.
            2. Susun Instrumen Penelitian: Buat kuesioner atau alat ukur yang relevan dengan variabel.
            3. Uji Coba Instrumen: Lakukan pengujian pada sekelompok responden.
            4. Analisis Statistik: Gunakan metode statistik, seperti korelasi Pearson, untuk mengukur validitas.
            5. Evaluasi Hasil: Instrumen dianggap valid jika koefisien validitas lebih besar dari nilai kritis tertentu (misalnya, 0,3).

            Langkah-Langkah Uji Reliabilitas

            1. Tentukan Metode Pengujian: Pilih metode seperti Cronbach's Alpha, Split-Half, atau Test-Retest.
            2. Lakukan Pengukuran Ulang: Gunakan instrumen yang sama pada waktu yang berbeda atau dengan pembagian subkelompok.
            3. Analisis Data: Gunakan perangkat lunak statistik untuk menghitung nilai reliabilitas.
            4. Evaluasi Konsistensi: Instrumen dianggap reliabel jika nilai reliabilitas (Cronbach's Alpha) lebih besar dari 0,7.

            Rumus Uji Validitas dan Reliabilitas

            Uji Validitas (Korelasi Pearson):


            Uji Reliabilitas (Cronbach's Alpha):

            Uji Validitas Digunakan untuk Menguji Apa?

            Uji validitas digunakan untuk memastikan bahwa alat ukur benar-benar mengukur variabel yang ingin diukur dan bukan variabel lain. Misalnya, kuesioner tentang kepuasan pelanggan harus mengukur tingkat kepuasan, bukan preferensi merek.

            Uji Reliabilitas Menggunakan Metode Apa Saja?

            1. Cronbach's Alpha: Mengukur konsistensi internal antaritem dalam instrumen.
            2. Test-Retest: Membandingkan hasil pengukuran pada waktu yang berbeda.
            3. Split-Half: Membagi instrumen menjadi dua bagian dan membandingkan hasilnya.
            4. Inter-Rater Reliability: Mengukur konsistensi hasil antarpenilai.

            Contoh Penerapannya

            1. Uji Validitas:
              Sebuah kuesioner untuk mengukur kepuasan pelanggan diuji menggunakan korelasi Pearson. Jika nilai rrr setiap item lebih besar dari 0,3, maka kuesioner dianggap valid.
            2. Uji Reliabilitas:
              Dalam survei motivasi kerja, nilai Cronbach's Alpha dihitung untuk mengukur konsistensi internal antarpertanyaan. Jika nilai ╬▒\alpha╬▒ adalah 0,8, maka instrumen dinyatakan reliabel.

            Kesimpulan

            Uji pada validitas dan reliabilitas adalah langkah penting dalam penelitian untuk memastikan instrumen yang digunakan menghasilkan data yang valid dan konsisten. Dengan memahami perbedaan, langkah-langkah, dan metode pengujian, peneliti dapat meningkatkan kredibilitas hasil penelitian mereka. Gunakan pendekatan statistik yang tepat untuk mendapatkan data yang dapat diandalkan dan relevan dengan tujuan penelitian.  

      • Analisis Data dan Pembahasn

        a. Tahapan proses analisis data

        b. Analisis Data

        c. Pembahasan hasil penelitian

        d. Praktik analisis data dengan alat regresi linear berganda

          • Analisis Data: Metode, Contoh, Tujuan, dan Jenisnya

            Apa Itu Analisis Data?

            Analisis data adalah proses komprehensif untuk memeriksa, memilah, mengubah, dan menyajikakan informasi yang berguna untuk mendukung pengambilan keputusan.

            Manfaat Melakukan Analisis Data

            Prosedur analisis data membawa berbagai manfaat untuk menunjang performa kerjamu. Berikut ini beberapa manfaat analisis data:

            1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas

            Melalui proses analisis data, kamu bisa mengolah data dalam volume besar sekaligus menggunakan teknologi seperti artificial intelligence (AI). Hal ini bisa meningkatkan efisiensi kerja karena lebih hemat waktu dan tenaga. Ketika efisiensi kerja meningkat, produktivitas kerjamu juga akan meningkat.

            2. Memperkuat pengambilan keputusan

            Hasil analisis data bisa kamu gunakan sebagai bahan untuk mengambil keputusan terkait bisnis. Sebab, data-data tersebut bersifat akurat. Dengan begitu, keputusan yang kamu ambil akan sesuai dengan kondisi terkini di lapangan.

            3. Meningkatkan pemahaman pelanggan

            Analisis data bisa membantu kamu mengembangkan produk dan layanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. 

            4. Mengidentifikasi peluang baru

            Bisnis yang baik adalah bisnis yang tumbuh secara berkelanjutan. Wujudkan hal tersebut dengan mengidentifikasi peluang-peluang baru. Nah, supaya tidak salah langkah, lakukan analisis data terlebih dulu untuk mempelajari segmen atau tren pasar.

            5. Mengurangi risiko dan kesalahan

            Setiap keputusan pasti memiliki risiko. Namun, kamu bisa mengurangi risiko tersebut dengan menggunakan analisis data.

            ΓüáTujuan Proses Analisis Data

            Seorang karyawan sedang melakukan analisis data di tempat kerja. (Image by  our-team on Freepik)

            Selain untuk merasakan berbagai manfaat di atas, ada beberapa alasan lain yang membuat perusahaan melakukan analisis data. Berikut adalah tujuan proses analisis data:

            1. Memahami data

            Salah satu tujuan analisis data adalah memahami suatu data. Proses analisis dapat mengubah data kompleks menjadi lebih sederhana.

            Apalagi, biasanya hasil analisis data juga disajikan dalam bentuk grafik, diagram, atau lainnya. Hal ini dapat memudahkan kamu untuk memahami data.

            2. Menemukan pola dan tren

            Pada umumnya, analisis data melibatkan data historis dalam volume besar. Kumpulan data tersebut biasanya memiliki pola atau tren tertentu. Nah, data analisis adalah prosedur yang dapat membantumu menemukan pola dan tren yang sesuai dengan kebutuhanmu.

            3. Membuat prediksi

            Berdasarkan pola dan tren yang muncul dari analisis data, kamu bisa membuat prediksi bisnis. Misalnya, pola data menunjukkan bahwa penjualan meningkat sejak tiga bulan terakhir. Jadi, pada bulan berikutnya, kamu bisa menambah produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan.

            4. Merumuskan kesimpulan

            Terakhir, tujuan analisis data adalah untuk merumuskan kesimpulan. Proses analisis data yang tepat dapat mendeskripsikan data agar lebih mudah dipahami. Jadi, kamu bisa mendapatkan insight yang dibutuhkan untuk mengambil kesimpulan terkait topik tertentu.

            Nah, agar bisa mencapai berbagai tujuan tersebut secara maksimal, pastikan kamu menerapkan metode analisis data yang tepat. Memangnya, ada jenis analisis data apa saja?

            ΓüáJenis-jenis Metode Analisis Data

            Secara umum, jenis-jenis analisis data terbagi metode kualitatif dan kuantitatif. Berikut penjelasannya:

            1. Teknik analisis data kualitatif

            Jika memilih teknik analisis data kualitatif, kamu bisa melakukan wawancara, partisipasi, serta kajian pustaka. Analisis data kualitatif biasanya melibatkan teknik-teknik berikut ini:

            • Analisis wacana: Proses mengkaji tulisan, bahasa, tuturan, percakapan, dan lain-lain.
            • Analisis konten: Mengumpulkan data dengan cara merekam dan menyusun transkrip dari materi audio atau video.
            • Analisis data naratif: menganalisis gabungan kumpulan deskripsi peristiwan dan fenomena.

            2. Teknik analisis data kuantitatif

            Sementara itu, analisis data kuantitatif fokus menganalisis data yang bersifat statistik dan numerik. Jadi, proses datanya pun membutuhkan model statistika atau matematika. Dengan demikian, hasil analisisnya juga sering kali berupa angka.

            Umumnya, analisis data kuantitatif menggunakan teknik analisis deskriptif dan inferensial. Apa maksudnya? Berikut penjelasannya:

            • Teknik deskriptif: Biasanya bertujuan untuk mendeskripsikan data bervolume besar, seperti data sensus penduduk.
            • Teknik inferensial: Mencari tahu apakah suatu data mewakili populasi kelompok tertentu.

            Setelah menentukan jenis metode, kamu bisa mulai prosedur analisis data. Agar proses dan hasilnya efektif, pastikan kamu melakukan langka-langkah yang tepat.

            ΓüáLangkah dalam Proses Analisis Data

            Baik analisis data kualitatif dan kuantitatif memang memiliki prosedur tersendiri. Namun, langkah analisis data umumnya cenderung sama, yakni:

            1. Menentukan data

            Sebelum memulai proses analisis data, kamu harus menentukan tujuannya terlebih dahulu agar data yang kamu kumpulkan dan proses bisa akurat.

            Agar lebih mudah, kamu juga bisa menentukan metode analisis yang akan digunakan. Pasalnya, jenis data untuk analisis kuantitatif dan kualitatif pasti berbeda.

            2. Mengumpulkan data

            Selanjutnya, kumpulkan data sesuai dengan jenis yang telah kamu tentukan. Kamu bisa mendapatkannya dari berbagai sumber. Kamu bisa mengumpulkan data dari laporan keuangan pada periode sebelumnya, observasi, survei, eksperimen, wawancara, dan sebagainya.

            3. Membersihkan data

            Setelah memiliki data, kamu harus memilah berbagai data yang sudah terkumpul. Kamu bisa memperbaiki data yang tidak akurat, melengkapi data yang hilang, dan lainnya.

            Langkah analisis data ini disebut juga dengan data cleaning. Tujuannya agar hasil analisismu lebih akurat.

            4. Analisis data

            Setelah itu, mulailah menganalisis data dengan memahami pola, distribusi, atau hubungan antar-variabel data. Lalu, terapkan metode analisis sesuai tujuan dan jenis datamu.

            Kamu bisa memilih metode analisis, seperti teknik analisis deskriptif, analisis wacana, analisis konten, dan lainnya.

            5. Menginterpretasikan data

            Setelah analisis selesai, interpretasikan hasil data yang kamu dapatkan. Langkah ini membantumu untuk memahami temuan, pola, atau tren yang muncul dari analisis data. Kemudian, hubungkan hasilnya dengan tujuan atau target analisismu.

            6. Memvisualisasikan data

            Setelah selesai mengolah data, kini saatnya kamu menyajikan analisis tersebut. Kamu bisa menggunakan format visual seperti grafik, tabel, atau diagram, agar hasil analasis kamu lebih mudah dipahami.

            Menyajikan data dalam bentuk diagram atau tabel juga akan memudahkanmu untuk menyampaikan hasil analisis kepada manajemen secara efektif.  


      • Menyusun Laporan Penelitian/

        a. Kriteria laporan penelitian

        b. Bagian laporan penelitian

        c. Tata naskah laporan penelitian

        • Laporan Penelitian: Sistematika, Struktur, Manfaat dan Contoh


          laporan penelitian

          Pengertian Laporan Penelitian

          Apa itu laporan penelitian? Laporan penelitian adalah tahap akhir dari sebuah proses penelitian dan dibuat dalam bentuk dokumen yang dapat diakses dan dibaca secara luas. Dalam membuat laporan penelitian, seorang peneliti tidak dapat membuatnya secara sembarangan. Sebab, sebuah laporan penelitian harus dibuat secara ilmiah, objektif, sistematis, serta tepat pada waktunya.

          Sebuah laporan penelitian dapat juga dikatakan sebagai sarana berkomunikasi antara peneliti dengan pembacanya, baik itu target utama dari penelitian maupun masyarakat secara luas. Maka dari itu, sebuah penelitian menjadi sumber terpercaya untuk menceritakan atau memberitahukan sebuah peristiwa, fenomena, maupun bencana alam yang sudah diteliti oleh peneliti.

          Manfaat Laporan Penelitian

          Sebagai bentuk tertulis dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, laporan penelitian memiliki berbagai manfaat yang penting bagi orang yang membacanya. Ada empat manfaat laporan penelitian yang bisa didapatkan, yaitu:

          1. Penyampai Informasi

          Manfaat pertama dari laporan penelitian adalah sebagai penyampai informasi. Informasi yang dimaksud adalah hasil dari penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti. Informasi ini nantinya dapat berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun inovasi baru.

          2. Mempermudah Komunikasi

          Laporan penelitian juga bermanfaat sebagai sarana untuk mempermudah komunikasi antara peneliti dengan masyarakat luas yang mengalami masalah sosial atau masalah yang diangkat dalam penelitian tersebut.

          3. Media Pengaplikasian Ilmu

          Sebuah penelitian dianalisis dengan menggunakan teori-teori tertentu yang tepat dan bisa menjawab pertanyaannya. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah laporan penelitian juga bermanfaat sebagai media pengaplikasian ilmu.

          4. Sarana Mengetahui Permasalahan dan Menemukan Solusinya

          Dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat, sebuah fenomena sosial atau sebuah permasalahan kadang tidak terlihat dan banyak yang menganggap bahwa hal itu merupakan suatu masalah.

          Namun dengan dilakukannya penelitian, maka dapat diketahui adanya sebuah fenomena atau permasalahan yang terjadi. Laporan penelitian berguna untuk membantu mengetahui permasalahan serta menemukan solusi atas masalah tersebut.

          Sistematika Laporan Penelitian

          Sebuah laporan penelitian harus ditulis secara sistematis atau sesuai struktur. Tujuannya adalah agar pembaca dapat memahami laporan penelitian dengan baik. Untuk membuat sebuah laporan penelitian, sistematika atau struktur yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:

          1. Pendahuluan

          Bagian pertama dari sebuah laporan penelitian adalah pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar isi laporan. Pendahuluan kemudian terbagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

          1. Latar belakang, adalah penjelasan mengenai mengapa masalah yang diangkat dianggap penting dari berbagai segi. Selain itu, latar belakang masalah juga berisi alasan pemilihan judul, pemilihan masalah, serta alasan dilakukannya penelitian.
          2. Identifikasi masalah, berisi mengenai kajian pada berbagai permasalahan yang muncul. Permasalahan ini kemudian dipilih lagi berdasarkan maksud, tujuan, dan ruang lingkup penelitiannya. Identifikasi masalah adalah hal lanjutan yang dilakukan oleh peneliti setelah ia menentukan topik penelitian.
          3. Pembatasan masalah, merupakan pembatasan ruang lingkup masalah pokok yang akan diteliti.
          4. Rumusan masalah, adalah pertanyaan yang sudah dirumuskan untuk menjawab masalah dari penelitian yang dilakukan.
          5. Tujuan penelitian, merupakan pemaparan tujuan dan target yang ingin dicapai dari penelitian yang dilakukan.

          Dapatkan buku tentang penelitian di Buku Penelitian Murah

          2. Tinjauan Pustaka

          Pada bagian ini berisi berbagai kajian teori maupun kerangka teori, serta prinsip teoritis yang dapat memengaruhi pembahasan masalah dalam laporan penelitian.

          Berbagai prinsip teori ini berguna dalam memberikan gambaran serta arah kerja penelitian. Selain itu, tinjauan pustaka juga berisi tinjauan dari penelitian terdahulu yang memiliki kemiripan.

          3. Metode Penelitian

          Adalah bagian yang berisi metode atau teknik penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Metode merupakan cara, strategi, atau langkah yang dilakukan secara sistematis pada sebuah penelitian.

          Bagian ini juga berisi tentang variabel penelitian, populasi, sampel, teknik sampling, teknik pengumpulan, instrumen penelitian, dan teknik analisis data.

          4. Laporan Penelitian dan Pembahasan

          Bagian laporan penelitian dan pembahasan merupakan bagian inti dan bagian terpenting dari sebuah laporan penelitian. Sebab pada bagian ini berisi pembahasan masalah yang dikaitkan menggunakan berbagai teori yang tepat. 

          Pada bagian ini juga akan tertera jawaban dari pertanyaan yang sudah dituliskan dalam rumusan masalah pada bab sebelumnya. Analisis data yang ada pada bagian ini dilakukan dengan metode penelitian yang sudah dituliskan.

          5. Kesimpulan dan Saran

          Hasil analisa yang sudah dituliskan pada bagian laporan penelitian dan pembahasan kemudian disimpulkan sesuai dengan relevansinya dari hipotesis yang sudah dibuat, menjadi sebuah kesimpulan akhir.

          Selain kesimpulan, pada bab ini juga dituliskan saran, yaitu masukan atau solusi yang diberikan oleh peneliti mengenai masalah yang ada pada topik penelitian.

          6. Daftar Pustaka

          Pada bagian daftar pustaka, berisi daftar rujukan yang digunakan oleh peneliti. Rujukan ini dapat berupa buku, artikel, jurnal penelitian, maupun situs tertentu. Untuk penulisan daftar pustaka dapat dibuat sesuai dengan format tertentu.

          7. Lampiran

          Bagian lampiran berisi mengenai berbagai keterangan data yang dianggap penting dalam penelitian yang dilakukan. Keterangan data ini dilampirkan salah satu fungsinya adalah untuk membuktikan kebenaran dari laporan yang dibuat.


      • Praktik membuat proposal penelitian terkait manajemen sumber daya manusia

      • UJian Akhir Semester Genap 2024-2025
        Matakuliah : Riset SDM
        Kelas : 6MA2