Garis besar topik

    • Selamat datang pada mata kuliah Metode Teori Ekonomi(MA20471). Selama satu semester anda akan belajar teori ekonomi baik teori mikro maupun makro yang fungsinya untuk membantu anda memahami konsep-konsep ekonomi.

      Mata Kuliah ini membekali mahasiswa dengan pengetahuan teoritis dan praktis tentang:

      1. Memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi, khususnya ekonomi makro dan ekonomi internasional 

      2 Memberikan pengetahuan untuk memahami kondisi perekonomian suatu negara dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

      Dan untuk mempermudah komunikasi silahkan anda membentuk wharsapp grup dengan meng-invite no saya di 081934190942, terima kasih

      Selamat belajar

      Dr. Faurani Santi Singagerda, 

      http://

    • Setelah menyelesaikan perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu: 

      1. Mahasiswa mengetahui dan memahami konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi, khususnya ekonomi makro dan ekonomi mikro

      2. Mahasiswa mampu melakukan analisis sederhana mengenai kondisi perekonomian suatu negara dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

    • Setelah Anda mempelajari materi ini, anda diharapkan dapat:

      1. Mendefinisikan ekonomi dan bedakan antara ekonomi mikro dan ekonomi makro

      2. Menjjelaskan dua pertanyaan besar ekonomi

      3. Menjelaskan ide-ide kunci yang menentukan cara berpikir ekonomi

      4. Menjelaskan bagaimana ekonom menjalankan pekerjaan mereka sebagai ilmuwan sosial dan penasihat kebijakan

    • Ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari pilihan yang diambil individu, bisnis, pemerintah, dan seluruh masyarakat saat mereka mengatasi kelangkaan dan insentif yang memengaruhi dan mendamaikan pilihan tersebut.

      Ilmu ekonomi terbagi menjadi dua bagian utama:

        1. Ekonomi mikro

        2. Makroekonomi

      (Parkin, 2011)

      http://

      http://


    • Ketika mendengar kata ekonomi, sering kali kita teringat dengan uang. Padahal, ekonomi tidak selalu identik dengan alat tukar. Pun demikian dengan ilmu ekonomi.

      Istilah ekonomi sendiri berasal dari kata dalam bahasa Yunani oikonomia yang terdiri dari kata oikos (rumah tangga) dan nomos (aturan). Jika dilihat dari etimologinya, ekonomi justru memiliki arti sebagai aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga.

      Kalau begitu, ilmu ekonomi mencakup apa saja sih? Yuk kita simak bersama-sama di artikel ini.

      Definisi Ekonomi

      Banyak definisi dari istilah ekonomi. KBBI menjelaskan bahwa ekonomi merupakan ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, serta pemakaian barang-barang juga kekayaan, seperti hal keuangan, perindustrian, dan perdagangan.

      Para ahli pun memiliki definisinya sendiri atas ekonomi. Penerima Nobel bidang ekonomi Paul A. Samuelson menyebut bahwa ilmu ekonomi adalah studi tentang membuat pilihan, dengan atau tanpa menggunakan uang, dalam menggunakan sumber daya produksi yang terbatas.

      Sementara itu, ahli ekonomi asal Kanada George Gartley Lipsey menjelaskan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi keinginan manusia yang bersifat tak terbatas.

      Profesor ekonomi di Harvard N. Gregory Mankiw menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat mengelola sumber daya alam yang langka.

      Hukum Ekonomi

      Dalam ilmu ekonomi, hukum ekonomi adalah suatu hubungan sebab-akibat atau pertalian peristiwa ekonomi yang saling berhubungan satu dengan yang lain dalam kehidupan ekonomi sehari-hari dalam masyarakat. Salah satu contoh hukum ekonomi adalah hukum permintaan dan penawaran.

      Teori dan Model Ekonomi

      Teori ekonomi adalah kumpulan asas dan hukum ekonomi yang digunakan sebagai dasar melaksanakan kebijakan ekonomi. Dari teori tersebut, digagaslah model ekonomi. Model ekonomi merupakan pernyataan formal sebuah teori ekonomi yang membantu teori ekonomi dalam menjelaskan suatu peristiwa ekonomi.

      Salah satu contoh model ekonomi adalah kurva kemungkinan produksi (production possibility frontier). Model ekonomi berbentuk grafik menunjukkan kemungkinan produksi 2 komoditas yang dihasilkan dengan menggunakan faktor produksi yang sama dan tetap. Kurva kemungkinan produksi menghasilkan konsep biaya peluang dan diminishing return dapat diterapkan.

      Metode Ekonomi

      Metode merupakan prosedur yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga dalam ilmu ekonomi, metode ekonomi digunakan untuk membahas/memecahkan permasalahan ekonomi yang didasarkan pada teori tertentu. Contohnya adalah metode pengambilan keputusan dengan metode deduktif dan induktif.

      Metode induktif adalah pengambilan keputusan berdasarkan data yang dikumpulkan dari realitas kehidupan manusia. Realitas tersebut dialami oleh keluarga, individu, dan masyarakat lokal. Realitas itu kemudian dipelajari untuk menemukan upaya pemenuhan kebutuhan.

      Sementara itu, metode deduktif bekerja atas dasar ketentuan, hukum, atau prinsip umum yang sudah diuji kebenarannya. Metode ini menetapkan cara pemecahan masalah sesuai dengan dasar, prinsip, hukum, dan ketentuan yang ada di dalam ilmu ekonomi.

      Tindakan, Motif, dan Prinsip Ekonomi

      Tindakan ekonomi merujuk kepada setiap langkah manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini termasuk produksi, konsumsi, dan distribusi.

      Motif ekonomi adalah daya yang menggerakkan orang untuk melakukan tindakan ekonomi.

      Terakhir, prinsip ekonomi adalah dasar berpikir untuk mencapai tujuan tertentu dengan pengorbanan seminimal mungkin.

      ASPEK KELANGKAAN DALAM ILMU EKONOMI 

      Tidak semua keinginan manusia dapat dipenuhi. Fakta ini berlaku untuk semua orang. Berkaitan dengan fakta tersebut, mikro ekonomi mengkaji tentang keterbatasan. Ketika individu menghadapi keterbatasan sumber daya, maka ia harus membuat pilihan ( choice) dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Apapun yang sekarang kita dapatkan dibatasi oleh waktu, pendapatan yang terbatas, dan oleh berbagai tingkat harga yang harus kita bayarkan. Ketidakmampuan orang untuk memenuhi apa yang inginkan disebut dengan kelangkaan ( scarcity ). Segala sesuatu yang diinginkan, tetapi sulit dicapai; maka hal itu akan memunculkan nilai ekonomi yang tinggi. Sebaliknya, segala sesuatu yang diinginkan dan hal itu mudah untuk didapatkan; maka hal itu akan memunculkan nilai ekonomi yang rendah.

      PERNYATAAN POSITIF DAN NORMATIF EKONOMI

      Pernyataan positif digunakan untuk memberikan penjelasan dan prediksi tentang gejala ekonomi, sedangkan pernyataan normatif akan menjelaskan tentang apa yang seharusnya terjadi pada sebuah gejala ekonomi.

      Misalnya; pemerintah menetapkan untuk menaikkan pajak 3 kendaraan bermotor. Apa pengaruh penetapan pajak tersebut terhadap volume penjualan, harga dan produksi kendaraan bermotor?. Pernyataan ini berkaitan dengan analisis positif, yaitu sebuah pernyataan yang menggambarkan keterkaitan antar variabel, sebab dan akibat. Pada saat yang lain, seringkali kita juga ingin memperoleh gambaran dan prediksi untuk menjawab pertanyaan: mana yang terbaik? Pernyataan ini merupakan bagian dari analisis normative, yang juga penting karena dapat digunakan perusahaan untuk membuat kebijakan internal perusahaan.

      PROBLEMATIKA EKONOMI 

      ∩âÿ Apa yang di produksi dan bagaimana? 

      ∩âÿ Apa yang dikonsumsi dan oleh siapa? 

      ∩âÿ Berapa besar tingkat pengangguran dan laju inflasi? 

       Apakah kapasitas produksi meningkat?

      Dari ke-empat masalah mayor dalam ekonomi adalah: BAGAIMANA KELANGKAAN (SCARCITY) BARANG/JASA YG TERSEDIA TERBATAS DAN TIDAK SEBANDING DENGAN KEBUTUHAN MANUSIA

      Sumber: 
      Mankiw, N. G. (2014). Principles of economics. Cengage Learning.
      Parkin, M. (2014). Economics. 12th Edition. Pearson


    • Adapun Tujuan dari Pembelajaran ini adalah:

      1. Untuk memahami bagaimana prinsip hukum permintaan dan penawaran 

      2. Mengidentifikasi permasalahan permintaan dan penawaran 

      3. Menganalisis perubahan harga dan kuantitas 

      Buku Referensi: Parkin, chapter 3

    • Dalam Teori Supply Demand, nantinya anda akan belajara mengenai:

      1. Pasar dan Harga

      2. Konsep Permintaan 

      3. Konsep Penawaran

      4. Keseimbangan Pasar

      5. Perubahan dalam harga dan Kuantitas Barang

    • 1. Pengertian Hukum Permintaan dan Penawaran

      Hukum penawaran dan permintaan adalah teori yang menjelaskan interaksi antara penjual sumber daya dan pembeli untuk sumber daya itu. Teori ini mendefinisikan apa pengaruh hubungan antara ketersediaan produk tertentu dan keinginan (atau permintaan) untuk produk tersebut terhadap harganya.

      Hukum penawaran dan permintaan, salah satu hukum ekonomi paling mendasar, mengikat hampir semua prinsip ekonomi dalam beberapa cara. Dalam praktiknya, penawaran dan permintaan saling berlawanan hingga pasar menemukan harga keseimbangan. Namun, banyak faktor dapat mempengaruhi penawaran dan permintaan, menyebabkan mereka meningkat atau menurun dengan berbagai cara.

      2. Empat  Hukum Dasar Permintaan dan Penawaran

      hukum penawaran dan permintaan

      Keterangan gambar diatas :

      • P ΓÇô harga
      • Q ΓÇô kuantitas atau jumalah barang
      • S ΓÇô pasokan
      • D ΓÇô permintaan

      3. Empat hukum dasar penawaran dan permintaan adalah:

      1. Jika permintaan meningkat dan penawaran tetap tidak berubah, maka itu mengarah pada harga keseimbangan yang lebih tinggi dan kuantitas yang lebih tinggi.
      2. Jika permintaan menurun dan penawaran tetap tidak berubah, maka itu mengarah pada harga keseimbangan yang lebih rendah dan kuantitas yang lebih rendah.
      3. Jika pasokan meningkat dan permintaan tetap tidak berubah, maka itu mengarah pada harga keseimbangan yang lebih rendah dan kuantitas yang lebih tinggi.
      4. Jika pasokan menurun dan permintaan tetap tidak berubah, maka itu mengarah pada harga keseimbangan yang lebih tinggi dan kuantitas yang lebih rendah

      4. Bagaimana Penawaran dan Permintaan Membuat Keseimbangan Harga?

      Keseimbangan harga adalah harga di mana produsen dapat menjual semua unit yang ingin diproduksi dan pembeli dapat membeli semua unit yang diinginkan.

      Pada suatu titik waktu tertentu, persediaan barang yang dibawa ke pasar adalah tetap. Dengan kata lain kurva penawaran dalam kasus ini adalah garis vertikal, sedangkan kurva permintaan selalu miring ke bawah karena hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang.

      Penjual tidak dapat membebankan biaya lebih dari yang akan ditanggung pasar berdasarkan permintaan konsumen pada saat itu. Namun seiring waktu, pemasok dapat menambah atau mengurangi jumlah yang mereka suplai ke pasar berdasarkan harga yang mereka perkirakan dapat dibebankan. Jadi seiring waktu kurva penawaran miring ke atas; semakin banyak pemasok berharap untuk dapat mengenakan biaya, semakin mereka akan mau memproduksi dan membawa ke pasar.

      Dengan kurva penawaran miring ke atas dan kurva permintaan miring ke bawah, mudah untuk membayangkan bahwa pada titik tertentu keduanya akan berpotongan. Pada titik ini, harga pasar cukup untuk mendorong pemasok untuk membawa ke pasar dengan jumlah barang yang sama yang bersedia dibayar oleh konsumen dengan harga itu. Penawaran dan permintaan seimbang, atau dalam keseimbangan.

      Harga dan kuantitas yang tepat di mana hal ini terjadi tergantung pada bentuk dan posisi masing-masing kurva penawaran dan permintaan, yang masing-masing dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

      5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran

      Kapasitas produksi, biaya produksi seperti tenaga kerja dan bahan, dan jumlah pesaing secara langsung mempengaruhi berapa banyak pasokan bisnis dapat dibuat. Faktor pendukung seperti ketersediaan bahan, cuaca, dan keandalan rantai pasokan juga dapat memengaruhi pasokan.

      6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan

      Jumlah pengganti yang tersedia, preferensi konsumen, dan perubahan harga produk pelengkap mempengaruhi permintaan. Misalnya, jika harga konsol video game turun, permintaan game untuk konsol itu dapat meningkat karena lebih banyak orang membeli konsol dan menginginkan game untuk itu.

      Contoh Hukum ini pada Kehidupan Nyata

      Bayangkan Anda adalah konsumen yang suka kue bolu. Apa yang akan terjadi jika harga bolu tiba-tiba naik dua kali lipat? Anda mungkin tidak akan membelinya sesering mungkin karena tentu itu akan memberatkan Anda. Sebagian besar, jika harga bolu meningkat, permintaan kue bolu akan menurun. Ini relevan dengan cara menunjukkan hubungan terbalik antara harga dan kuantitas dalam permintaan. (Hukum permintaan)

      Sekarang, bayangkan Anda produsen kue bolu? Jika Anda adalah manajer yang menjual bolu, apa yang akan Anda lakukan jika Anda menambah kuantitas? Anda akan berharap untuk menjualnya dengan harga yang lebih tinggi karena Anda ingin mendapatkan kembali sebagian uang yang digunakan untuk menghasilkan kelebihan dan lebih sebagai keuntungan.

      Dengan cara yang sama, jika harga bolu menurun, pemasok akan menjual lebih sedikit untuk mempertahankan persediaan mereka. Ini relevan dengan cara menunjukkan hubungan langsung antara harga dan jumlah penawaran

      7. Kesimpulan

      Hukum permintaan dan penawaran ini menjelaskan hubungan antara harga dan jumlah yang ditawarkan. Jika harga suatu benda di pasar meningkat, produsen akan bersedia untuk memasok lebih banyak produk. Jika harga objek di pasar menurun, mereka tidak bersedia untuk memasok banyak dan kuantitas berkurang.

      Hukum permintaan menjelaskan hubungan antara harga dan kuantitas yang diminta. Jika harga objek di pasar meningkat, lebih sedikit orang yang mau membelinya karena terlalu mahal. Jika harga objek di pasar menurun, lebih banyak orang akan mau membelinya karena harganya lebih murah.

      Kedua hukum ini membantu menentukan peran yang diambil oleh produsen dan konsumen dalam dunia ekonomi. Masih banyak yang harus dipelajari, tetapi hukum ini membantu memusatkan gagasan utama dalam penawaran dan permintaan yang membantu memahami hubungan antara perubahan harga dan perubahan kuantitas.

      Sumber: 

      Parkin, M,. (2016). Economics. 12th Edition. Pearson. Willey 

      https://cpssoft.com/blog/author/sugi/


    • Pembelajaran ini diharapkan mahasiswa dapat:

      1. menjelaskan bagaimana respon kuantitas yang diminta terhadap perubahan harga sendiri, pendapatan, dan harga barang lainnya. 

      2. Mespon kuantitas yang ditawarkan terhadap perubahan harganya sendiri

      3. Menganalisis mekanisme perubahan harga, pendapatan, dan kuantitas akibat adanya perubahan permintaan dan penawaran 

    • Hallo sobat kali ini kita akan bahas mengenai elastisitas (kepekaan) dari Permintaan dan Penawaran. 

      Mari kita lihat dulu tayangan video pengenalan mengenai konsep Elastisitas, yuk disimak...

      http://

      http://

      http://

      http://

    • Hii sobat ...

      Teori mengenai permintaan dan penawaran (supply and demand) merupakan hal yang penting untuk memahami ekonomi. Telah banyak pula pendapat yang menyatakan bahwa harga dan kuantitas produk yang diminta dan ditawarkan memiliki hubungan tertentu, sedangkan faktor ekonomi lainnya lebih cenderung konstan.

      Apa yang dimaksud dengan elastisitas?

      Elastisitas merujuk pada derajat respon permintaan atau penawaran yang berpengaruh pada perubahan harga. Derajat ini menunjukkan sejauh mana permintaan dan penawaran bereaksi atas perubahan harga suatu produk.

      Semakin elastis sebuah kurva, maka perubahan harga sekecil apapun akan menyebabkan perubahan besar terhadap kuantitas produk yang dibeli di pasaran. Sebaliknya, bila sebuah kurva tidak elastis, maka perlu perubahan harga yang lebih besar untuk memengaruhi perubahan kuantitas produk di pasaran.

      Bila digambarkan melalui grafis, elastisitas ini dapat ditunjukkan melalui kurva permintaan dan penawaran. Kurva yang lebih elastis akan berbentuk horizontal, sedangkan yang tidak elastis akan lebih miring atau cenderung vertikal.

      Saat berbicara soal elastisitas, istilah ΓÇ£datarΓÇ¥ atau flat merujuk pada kurva yang horizontal. Semakin datar elastisitas sebuah kurva, maka semakin dekat kurva tersebut pada bentuk horizontal. Kurva yang sangat elastis akan berbentuk horizontal, yang semakin tidak elastis akan berbentuk vertikal, namun kedua kondisi ini menunjukkan situasi yang ekstrem.

      Produk yang tidak elastis

      Elastisitas ini tentu bervariasi antara satu produk dan produk lainnya, karena sebuah produk bisa jadi lebih penting atau dibutuhkan oleh konsumen ketimbang produk yang lain. Permintaan akan produk yang dianggap sebagai kebutuhan cenderung kurang sensitif terhadap perubahan harga karena konsumen akan tetap membeli barang-barang tersebut meski harganya naik.

      Produk-produk tersebut dianggap sebagai tidak elastis. Misalnya barang untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan bakar kendaraan/bensin.

      Produk yang elastis

      Di sisi lain, kenaikan harga pada suatu produk (barang maupun jasa) yang bukan merupakan kebutuhan umum/pokok akan membuat konsumen menjauh karena opportunity cost untuk membeli produk tersebut akan menjadi terlalu tinggi.

      Produk seperti ini dianggap amat elastis dan biasanya mudah ditemukan; misalnya tersedia di supermarket, konsumen mungkin tidak selalu memerlukannya dalam kehidupan sehari-hari, serta produk tersebut dianggap memiliki subtitusi atau pengganti.

      Misalnya bila harga minuman berkarbonasi merek X mengalami kenaikan harga, orang akan berpindah haluan dan lebih memilih merek Y untuk memenuhi dahaga mereka.

      Rumus elastisitas

      Untuk menentukan elastisitas permintaan dan penawaran suatu produk, kita dapat menggunakan rumus sederhana berikut ini:

      Elastisitas = (% perubahan kuantitas : % perubahan harga)

      Bila angka elastisitas lebih atau sama dengan 1, maka kurvanya dianggap sebagai kurva yang elastis. Namun bila kurang dari dari 1, kurva tersebut dianggap sebagai tidak elastis.

      Elastisitas permintaan

      Hukum permintaan menyatakan bahwa bila faktor lain tetap stabil, maka semakin tinggi harga suatu barang, semakin rendah permintaan akan barang tersebut. Konsumen akan cenderung menjauhi produk tersebut, mereka akan cenderung mengalihkan konsumsi pada barang yang dianggap lebih penting. Sehingga kurva permintaan berbentuk downward slope alias miring menurun.

      Dengan kurva permintaan yang seperti itu, maka bila sebuah produk diturunkan ke pasaran sesuai dengan jumlah permintaan namun dibarengi dengan kenaikan harga sedikit saja, maka kurva permintaan akan nampak datar atau semakin horizontal. Artinya produk tersebut semakin elastis.

      Elastisitas penawaran

      Seperti hukum permintaan, hukum penawaran menunjukkan kuantitas yang akan dijual dengan harga tertentu. Namun tidak seperti hukum permintaan, kurva penawaran ini berbentuk miring ke atas atau upward slope, yang berarti semakin tinggi harga maka semakin banyak pula jumlah penawaran akan suatu produk. Produsen akan menyuplai barang lebih banyak dengan harga tinggi karena meningkatkan kuantitas produk saat harga naik akan meningkatkan pendapatan mereka.

      Namun elastisitas penawaran sama dengan elastisitas permintaan. Bila perubahan harga memengaruhi jumlah penawaran, maka kurva penawaran ini akan nampak datar dan dianggap elastis. Di sisi lain, bila perubahan harga hanya berdampak kecil pada kuantitas produk yang ditawarkan, maka kurva akan berbentuk lebih curam, yang berarti tidak elastis.

      Faktor yang memengaruhi elastisitas

      1. Adanya barang pengganti

      Pada umumnya semakin banyak barang pengganti yang tersedia di pasaran, maka permintaan akan barang tersebut semakin elastis. Misal bila harga secangkir kopi favorit konsumen naik, maka akan ada kecenderungan konsumen beralih pada merek atau secangkir minuman lain yang lebih murah.

      Namun bila kenaikan harga tersebut berasal dari harga bubuk/biji kopi yang memang naik, maka bisa jadi tidak ada perubahan terhadap penjualan kopi, karena konsumen akan kesulitan untuk mencari pengganti kafein.

      2. Kebutuhan

      Seperti yang telah kami bahas, bila suatu produk dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, konsumen akan tetap membelinya meski harganya naik. Misalnya bila seseorang perlu naik motor untuk berangkat ke kerja setiap hari, maka meski harga bahan bakar naik, ia akan tetap membelinya karena bahan bakar merupakan kebutuhan yang tidak dapat diganti.

      3. Waktu

      Kita ambil contoh seorang perokok berat yang dapat menghabiskan satu pak rokok setiap harinya. Meski harga rokok yang biasa mereka beli naik, mereka akan cenderung tetap membelinya sebagai konsumsi sehari-hari.

      Hal ini menunjukkan bahwa tembakau merupakan produk yang tidak elastis karena perubahan harganya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kuantitas permintaan. Namun bila perokok tadi merasa bahwa tidak mampu lagi bila harus mengeluarkan Rp20.000 setiap harinya untuk membeli satu pak rokok, maka bisa jadi ia akan mulai mengurangi konsumsi rokoknya seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga elastisitas harga rokok bagi konsumen tersebut menjadi elastis dalam jangka panjang.

      http://


    • Silahkan anda download materi ini terima kasih 

    • Elastisitas adalah pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang diminta atau yang ditawarkan. Dengan kata lain elastisitas adalah tingkat kepekaan (perubahan) suatu gejala ekonomi terhadap perubahan gejala ekonomi yang lain. 

      Elastisitas terbagi dalam tiga macam, yaitu sebagai berikut.

       a. Elastisitas harga (price elasticity) yaitu persentase perubahan jumlah barang yang diminta atau yang ditawarkan, yang disebabkan oleh persentase perubahan harga barang tersebut.

       b. Elastisitas silang (cross elasticity) adalah persentase perubahan jumlah barang x yang diminta, yang disebabkan oleh persentase perubahan harga barang lain (y). 

      c. Elastisitas pendapatan (income elasticity) yaitu persentase perubahan permintaan akan suatu barang yang diakibatkan oleh persentase perubahan pendapatan riil konsumen.

      Sedangkan secara umum Elastititas terdiiri dari: 

      1. elastisitas permintaan , yang merupakan perubahan harga akibat adanya perubahan permintaan baik itu permintaan barang sendiri, maupun permintaan barang lain , serta elasstistas permintaan akibat adanya perubhan pendapatan (elasticity of income)

      2. elastisitas penawaran , yang merupakan perubahan harga barang akibat adanya perubahan biaya produksi, maupun harga produk lain 

    • Hallo sobat, 

      untuk membantu kalian semua dalam memecahkan soal dan kasus-kasus soal yg terkait dengan elastisitas permintaan maupun penawaran 

      Mari kita lihat pada materi sbb:

    • Kali ini Anda bisa pelajari contoh soal kasus yg terkait dengan Elastisitas (permintaan dan Penawaran) 

      Elastisitas Permintaan 

      1. Permintaan Elastis (Ed > 1)

      Diketahui: 

      Toko Sepatu Sahabat pada akhir tahun melakukan cuci gudang untuk semua jenis sepatu, dari sepatu anak-anak sampai dewasa. Harga sepatu anak yang semula Rp20.000,00 turun menjadi Rp15.000,00. Akibat penurunan harga, jumlah permintaan sepatu anak-anak meningkat dari 1.000 menjadi 4.000. Jadi koefisien elastisitasnya bisa dihitung seperti berikut:

      contoh soal rumus permintaan elastis

      kurva permintaan elastis

      Bisa kita lihat bahwa hasil menunjukkan nilai negatif. Namun nilai negatif ini di abaikan dalam menghitung koefisien elastisitas. Nilai koefisien permintaan sepatu adalah 12. Artinya, perubahan harga sebanyak 1 % menyebabkan perubahan permintaan sebanyak 12 %.


      1. Permintaan Inelastis (Ed < 1)

      Diketahui:
       Di pasar tradisional, harga jeruk lokal mengalami kenaikan dari Rp6.000,00 menjadi Rp7.000,00 per kilogram. Kenaikan harga mengakibatkan permintaan jeruk lokal turun dari 700 kg menjadi 650 kg. perhitungan koefisien elastisitasnya yaitu:

      contoh soal rumus permintaan inelastis
      kurva permintaan inelastis

      1. Permintaan Elastis Uniter (Ed = 1)
      Diketahui: Harga sebuah Drone dari yang semula Rp700.000,00 turun menjadi Rp630.000,00, sehingga permintaan Drone naik menjadi 11.000 yang semula 10.000. Jadi perhitungan koefisien elastisitasnya adalah:

      contoh soal rumus permintaan elastis uniter

      kurva permintaan elastis uniter

      1. Permintaan Inelastis Sempurna (Ed = 0)
      Diketahui:

      Di pasar tradisional Kota Bandung mengalami perubahan harga setiap minggunya yaitu sekitar Rp4.000,00 sampai Rp6.000,00. Namun, permintaannya selalu sama yaitu berjumlah 1 ton setiap minggu. Perhitungan koefisien elastisitasnya adalah:

      contoh soal rumus permintaan inelastis sempurna

      kurva permintaan inelastis sempurna

      Elastisitas Penawaran 

      1. Penawaran Elastis (Es > 1)
      Toko Sepatu Sahabat mengalami kenaikan harga sepatu anak yang semula Rp15.000,00 turun menjadi Rp20.000,00. Akibat kenaikan harga, jumlah penawaran naik dari 1.000 menjadi 4.000. Jadi koefisien elastisitasnya bisa dihitung seperti berikut:

      contoh soal rumus penawaran elastis


      kurva penawaran elastis

      1. Penawaran Inelastis (Es < 1)

      Di pasar tradisional, harga jeruk lokal naik dari Rp6.000,00 menjadi Rp7.000,00 per kilogram. Kenaikan harga mengakibatkan permintaan jeruk lokal naik dari 6.500 kg menjadi 7.000 kg. perhitungan koefisien elastisitasnya yaitu:

      contoh soal rumus penawaran inelastis

      kurva penawaran inelastis

      1. Penawaran Elastis Uniter (Es = 1)

      Diketahui: 

      Awal mulanya, sepasang sandal berharga Rp20.000,00 dan naik menjadi Rp20.200,00, diiringi dengan jumlah penawaran yang naik dari yang semula 10.000 menjadi 10.100. Perhitungan koefisien elastisitasnya yaitu:

      contoh soal rumus penawaran elastis uniter

      kurva penawaran elastis uniter

      II. Contoh Soal 
      1. Diketahui : Fungsi permintaan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Q =50 ΓÇô┬╜P. Tentukan besar elastisitas dari permintaan pada tingkatharga P = 80 ?Jawab:
      Jika P = 80, maka Q = 50 ΓÇô 1/2 (80)Q = 50 ΓÇô 40Q = 10
      Jika Q=50−12P, Maka∆Q∆P=−12Jadi E=Q1xPQ=−12=−4(Elastisitas)

      2. Diketahui fungsi permintaan P = 100 ΓÇô 2Q. Hitung elastisitas daripermintaannya pada tingkat harga P = 50 ?
      JawabJika P = 50,maka 50 = 100 ΓÇô 2 Q2Q = 50Q = 25
      Jika P=100−2Q , Maka∆ P∆Q=P1=−2dan∆P∆Q=Q1=−12
      Jadi E=Q1xPQ=−12x5025=−1(Uniter)






    • Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan biasanya kita harus merelakan atau menyerahkan hal lain yang sesungguhnya juga bermanfaat bagi kita. Jika kita mempunyai banyak tujuan sebagian tujuan harus kita lepaskan demi mengejar tujuan tertentu yang paling kita inginkan. Pembuatan keputusan mengharuskan kita merelakan tujuan untuk memperoleh tujuan yang lain. Trade off yang harus dihadapi masyarkat dewasa ini adalah trade off antara efisiensi dan keadilan (equity). Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya kita mengetahui tentang perbedaan dari efisiensi dan kedilan itu sendiri.

      Lantas apakah pengertian dari efisiensi dan keadilan itu?

      Efisiensi berarti bahwa masyarakat memperoleh hasil yang paling banyak/baik dari sumber daya yang terbatas. Sedangkan Keadilan adalah kondisi ideal ketika kesejahteraan ekonomi terbagi atau terdistribusikan secara adil diantara segenap anggota masyarakat. Jika diibaratkan dengan sebuah kue jik ukuran kue semakin besar maka semakin efisien dan bagaimana membagi kue setiap orang mendapat ukuran yang sama disebut dengn keadilan.

      Jika diuraikan pengertianya satu per satu kedua hal tersebut tentu akan sangat diperlukan dalam sistem perekonomin suatu bangsa tetpi apisesungguhnya dari sudut pandang ekonomi, dua kata ini sulit sekali untuk digandengkan. Dalam kamus Efisiensi berarti: ΓÇ£when someone or something uses time and energy well, without wasting anyΓÇ¥, maka melihat berbagai permasalahan yang ada di sekitar kita efisiensi memang diperlukan. contohny bagaimana pengelolaan pelabuhan yang tidak efisien karena terlalu banyak biaya-biaya tidak resmi, atau penggunaan waktu dan standar operasional yang tidak sinkron antara satu bagian dengan bagian yang lain akan berakibat meningkatkan biaya penerimaan dan pengiriman barang, yang dampak selanjutnya adalah berkurangnya daya saing produk-produk dalam negeri dibandingkan dengan buatan luar negeri, misalnya. Tetapi bagaimana jika efisiensi menjadi satu konsep dengan keadilan, efisiensi berkeadilan, dan itu ada dalam ranah bangunan perekonomian nasional?  Tentu tidak semudah itu. banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan

      Banyak aspek yang sebenarnya terkait dengan konsep efisiensi dan konsep keadilan, dan juga problematika di antara keduanya, seperti yang dikatakan oleh Mathis, ada tiga kemungkinan ketika efisiensi dan keadilan yang keduanya mempunyai tujuannya masing-masing, disandingkan, yaitu (1) terjadi harmoni, (2) netral, dan (3) munculnya konflik diantara tujuan-tujuan keduanya. Hal ini ditegaskan oleh Mathis dengan mengutip pendapat Arthur M. Okun:

      [The] tradeoff […] between equality and efficiency […] is, in my view, our biggest socioeconomic tradeoff, and it plagues us in dozens of dimension of social policy. We can’t have our cake market efficiency and share it equally”

      Efisiensi terjadi ketika kondisi kesejahteraan tidak dapat ditingkatkan lagi tanpa mengorbankan tingkat kesejahteraan pihak lain (Pareto). Kalau dalam suatu komunitas ada A (50), B (100), dan C (1000) dengan angka di dalam kurung mewakili tingkat kesejahteraan hipotetis, maka menaikkan kesejahteraan A tanpa mengorbankan kesejahteraan B atau C adalah kondisi dimana terjadi perbaikan efisiensi (Pareto improvement); tetapi jika untuk menaikkan tingkat kesejahteraan salah satu anggota harus menurunkan kesejahteraan anggota lain, maka kondisi awal ini sudah menunjukkan Pareto efficient.

      Equity, dilain pihak adalah kondisi berkeadilan. Ini yang susah didefinisikan. Adil adalah suatu istilah yang batasannya tidak tegas dan sangat relatif. Adil bagi C belum tentu dianggap adil bagi A atau B. Kita tidak bisa memuaskan semua pihak sekaligus. Subsidi BBM secara massal tidak efisien karena memicu over-consumption dan dinikmati golongan yang tidak seharusnya menerima subsidi. Tetapi dengan struktur ekonomi dan bisnis kita yang memang tidak efisien, menghilangkan subsidi sekaligus akan membuat kehidupan lapisan miskin semakin menderita. Di sini kita lihat ada trade-off antara efficiency dan equity. Saya tidak hendak membahas mana yang terbaik tetapi hanya ingin menunjukkan bahwa dalam hampir semua hal efficiency itu bekerja berlawanan arah dengan equity.

      Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pada kenyataannya, efisiensi dan keadilan sering sekali tidak dapat sejalan.Percayalah  it is very difficult if not impossible to achieve. Untuk mencapai efisiensi maka harus mengorbankan keadilan, begitu pula sebaliknya. Kedilan dapat dicapai tetapi konsekuensinya adalah menurunnya efisiensi. First fundamental theorem of welfare economics menyatakan bahwa ekuilibrium yang kompetitif dapat mencapai pareto optimum dalam pasar yang sempurna. Dalam kenyataannya, terjadi kegagalan pasar (market failure), sehingga lahirlah second fundamental theorem of welfare economics yang menyatakan bahwa dalam konteks terjadi kegagalan pasar, ekuilibrium yang kompetitif dan memiliki properti pareto yang optimal dapat dicapai melalui lumpsum transfer. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar intervensi pemerintah untuk mengatasi trade-off antara efisiensi dan pemerataan melalui kebijakan redistribusi dalam bentuk pajak, subsidi, dan pengeluaran publik pemerintah.

      Jadi, satu hal yang harus kita pahami akan fakta adanya tradeoff yaitu bahwa dalam hidup terdapat banyak pilihan dan semuanya tidak bisa kita dapatkan secara bersamaan dengan sumber daya yang terbatas. Kita hanya akan dapat membuat keputusan-keputusan yang baik jika kita mengetahui berbagai kemungkinan/pilihan yang ada. Dalam keputusan publik, pemerintah suatu saat berhak memilih equity sebagai argumen keputusannya. Dalam hal ini tak usah teriak soal efisiensi, minimalkan saja inefisiensinya dan terimalah keputusan itu sebagai keputusan politis negara.


    • Haruskah kita mengambil uang dari orang kaya dan memberikannya kepada orang miskin? Bagaimana kita mengukur kemiskinan pada awalnya?

      Mari kita lihat video sbb:

      http://

      http://

    • Untuk menerapkan apa yang dipelajari mahasiswa tentang keseimbangan pasar dan efisiensi dengan intervensi pemerintah, adapun materi meliputi:

      ΓÇó Industri Perumahan 

      ΓÇó Pasar Tenaga Kerja dengan Upah Minimum

      ΓÇó Pajak

      ΓÇó Kuota Produksi dan Subsidi

      ΓÇó Pasar Barang Ilegal



    • Materi ini akan menjelaskan:

      1. bagaimana harga atap (ceiling price) dari biaya  sewa akan menciptakandampak kekurangan fasilitas perumahan 

      2. Menjelaskan bagaimana undang-undang upah minimum menciptakan pengangguran

      3. Menjelaskan pengaruh pajak

      4.  Menjelaskan pengaruh kuota produksi dan subsidi

      5.  bagaimana pasar untuk barang ilegal bekerja

      Pengertian Intervensi Pemerintah 

      Apa itu: Intervensi pemerintah (government intervention) merujuk pada tindakan disengaja oleh pemerintah untuk mempengaruhi alokasi sumber daya dan mekanisme pasar. Itu dapat mengambil beragam bentuk, mulai dari peraturan, pajak, subsidi, hingga kebijakan moneter dan fiskal. Dalam beberapa kasus, pemerintah juga menetapkan batas maksimum dan minimum harga di pasar.

      Intervensi dan sistem ekonomi

      Secara garis besar, signifikansi intervensi tergantung pada sistem ekonomi yang dianut oleh sebuah negara. 

      Di bawah sistem ekonomi komando, intervensi pemerintah sangat signifikan. Pemerintah menentukan apa yang terbaik bagi perekonomian dan masyarakat. Pemerintah mengalokasikan sumber daya dan menentukan produksi dan distribusi barang. 

      Peran swasta sangat minimal. Di bawah sistem ekonomi komando, mekanisme pasar tidak bekerja.

      Kebalikan ekonomi komando adalah ekonomi pasar bebas. Sistem ekonomi pasar mengedepankan pada minimalisasi intervensi. Swasta mengambil peran penting dalam alokasi sumber daya ekonomi

      Pasar beroperasi secara bebas melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Mekanisme tersebut mengarahkan alokasi sumber daya secara lebih efisien dibandingkan dengan sistem ekonomi komando. Di bawah sistem ini, peran pemerintah biasanya hanya sebatas penegakan aturan untuk mengakui dan melindungi kepemilikan properti pribadi. 

      Selanjutnya, di bawah sistem ekonomi campuran, intervensi lebih beragam dibandingkan dengan ekonomi pasar, tetapi tidak seekstrim ekonomi komando. Pemerintah memiliki peran, begitu juga swasta. 

      Signifikansi peran pemerintah dan swasta juga beragam antar negara. Beberapa negara, seperti China dan Kuba, lebih condong ke ekonomi komando, di mana pemerintah mengambil peran yang signifikan. Sementara, di negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, peran swasta lebih dominan dalam mengelola sumber daya ekonomi.

      Tujuan intervensi

      Pemerintah mengintervensi perekonomian dengan beberapa tujuan seperti:

      • Redistribusi pendapatan dan kekayaan. Misalnya, pemerintah meluncurkan berbagai program kesejahteraan seperti asuransi pengangguran, kesehatan dan pendidikan gratis. Itu menopang kualitas hidup mereka yang secara ekonomi tidak beruntung. Pengenaan pajak juga menjadi jalan lain untuk redistribusi pendapatan.
      • Menyediakan barang publik. Contoh barang publik adalah taman umum, infrastruktur dan pertahanan nasional. Swasta seringkali tidak mau menyediakan semacam itu karena tidak menguntungkan. Oleh karena itu, pemerintah mengambil peran.
      • Menyediakan lapangan persaingan yang adil. Melalui peraturan anti monopoli, pemerintah mencegah praktik persaingan tidak sehat seperti kolusi dan penetapan harga predatori. 
      • Mengamankan dan memacu perekonomian domestik. Sebagai contoh, pemerintah menetapkan pembatasan perdagangan untuk melindungi industri domestik dari persaingan produk impor. Harapannya, industri terus tumbuh dan menciptakan lebih banyak pekerjaan. 
      • Melindungi konsumen. Misalnya, pemerintah meluncurkan kebijakan perlindungan konsumen, persyaratan kualitas, keselamatan kerja dan lingkungan. 
      • Mengubah perilaku konsumen. Intervensi adalah salah satu jalan untuk mengurangi dampak dari eksternalitas negatif. Misalnya, pemerintah dapat menaikkan pajak untuk produk seperti minuman beralkohol dan tembakau. 
      • Melestarikan lingkungan. Tampa peraturan dan kebijakan pemerintah, perusahaan lebih cenderung untuk mengabaikan biaya eksternal terhadap lingkungan. Mereka mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan atau membiarkan limbah mengalir ke lingkungan tanpa pengolahan lebih lanjut. Praktik semacam itu tentu saja membahayakan kesinambungan perekonomian dalam jangka panjang.
      • Mencapai tujuan makroekonomi. Empat sasaran makroekonomi adalah pertumbuhan ekonomi berkesinambungan, lapangan kerja penuh, inflasi rendah, dan ekuilibrium neraca pembayaran. 

      Cara intervensi pemerintah

      Intervensi pemerintah mengambil beragam bentuk, mulai pada tingkat mikro hingga makro. Dalam artikel ini, saya mencoba mengelompokkannya menjadi kategori berikut: 


      1. Kebijakan ekonomi
      2. Peraturan 
      3. Pajak
      4. Kontrol harga
      5. Subsidi

      Kebijakan ekonomi

      Kebijakan ekonomi terdiri dari dua kategori utama: 

      • Kebijakan sisi penawaran (supply-side policy) 
      • Kebijakan sisi permintaan (demand-side policy)

      Kebijakan sisi penawaran

      Pemerintah merancang kebijakan sisi penawaran untuk mempengaruhi penawaran agregat di dalam perekonomian. Biasanya, kebijakan tersebut fokus untuk meningkatkan efisiensi produksi, baik di pasar produk atau pasar faktor (misalnya pasar tenaga kerja). 

      Sebagai contoh, di pasar produk, pemerintah mempromosikan persaingan dengan meluncurkan kebijakan anti-monopoli, deregulasi dan privatisasi. Persaingan memaksa produsen untuk lebih efisien dan inovatif agar bertahan di pasar dan meraih keuntungan.

      Selanjutnya, di pasar tenaga kerja, pemerintah berusaha meningkatkan mobilitas dan kualitas tenaga kerja. Itu melalui beragam program seperti pendidikan, pelatihan, dan pengurangan kekuatan serikat pekerja.

      Kebijakan sisi permintaan

      Kebijakan sisi permintaan terdiri dari kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Pemerintah bertanggung jawab atas kebijakan fiskal melalui perubahan belanja pemerintah dan pajak. Sedangkan, kebijakan moneter di bawah tanggung jawab bank sentral atau otoritas moneter dan berusaha mempengaruhi jumlah uang beredar di dalam perekonomian. Keduanya mempengaruhi perekonomian melalui efeknya terhadap permintaan agregat. 

      Untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, pemerintah dan bank sentral mengadopsi kebijakan ekspansioner. Itu biasanya selama ekonomi lemah seperti resesi ekonomi. Opsinya adalah dengan:

      • Menaikkan belanja pemerintah
      • Menurunkan pajak
      • Memangkas suku bunga kebijakan 
      • Operasi pasar terbuka melalui pembelian surat berharga pemerintah oleh bank sentral
      • Menurunkan rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio)

      Sementara itu, untuk menghindari tekanan tinggi inflasi, pemerintah dan bank sentral menjalankan kebijakan kontraksioner. Inflasi yang tinggi membahayakan stabilitas perekonomian dan dapat mengarah pada hiperinflasi. Diantara opsi untuk menjalankan kebijakan kontraksioner adalah:

      • Mengurangi belanja pemerintah
      • Menaikkan pajak
      • Menaikkan suku bunga kebijakan 
      • Operasi pasar terbuka melalui penjualan surat berharga pemerintah oleh bank sentral
      • Menaikkan rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio)

      Peraturan

      Pemerintah memastikan aktivitas perekonomian berjalan secara sehat. Beberapa peraturan bertujuan untuk mendorong aktivitas bisnis. Sementara yang lain, untuk mengontrol aktivitas bisnis dan menghindari hasil yang tidak diinginkan atau eksternalitas negatif. 

      Ada banyak variasi peraturan pemerintah dan masing-masing mempengaruhi aktivitas ekonomi dengan cara yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa kategori peraturan pemerintah:

      • Ketenagakerjaan. Pemerintah mengeluarkan aturan, regulasi dan hukum tentang upah, rekrutmen yang adil dan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja. 
      • Lingkungan. Misalnya, pemerintah meluncurkan berbagai peraturan mengenai dampak lingkungan operasi perusahaan terhadap lingkungan sekitar seperti standar keselamatan lingkungan dan pengelolaan limbah. 
      • Perlindungan konsumen. Fokus pemerintah adalah untuk melindungi konsumen dari praktik tidak adil yang berkaitan dengan produk seperti aturan harga, standar kesehatan dan keamanan, dan deskripsi produk.
      • Persaingan. Pemerintah berkepentingan untuk mempromosikan persaingan yang sehat dan adil. Jenis peraturan dan regulasi ini dapat mencakup peraturan anti monopoli dan merger dan pengambilalihan. Termasuk dalam kategori ini adalah deregulasi, yakni penghapusan peraturan atau larangan seperti batas kepemilikan saham oleh investor asing. 
      • Informasi dan pelaporan ΓÇô Contoh peraturan dan regulasi ini adalah standar akuntansi dan keamanan informasi pribadi konsumen.

      Pajak

      Pajak adalah sumber utama pendapatan pemerintah. Pemerintah menggunakannya untuk membiayai sejumlah program dan untuk melunasi utangnya. Selain untuk operasional pemerintah, pemerintah menggunakan pajak untuk meningkatkan modal ekonomi dengan menyediakan barang publik seperti jalan, jembatan, kereta api, pembangunan taman umum, dan pertahanan nasional. Modal ekonomi tersebut vital untuk meningkatkan kapasitas produksi perekonomian dalam jangka panjang.

      Pemerintah memungut pajak dari wajib pajak, yang mana berasal dari sektor rumah tangga maupun sektor bisnis. Pemerintah dapat mengenakannya secara langsung ke wajib pajak, seperti melalui pajak penghasilan dan pajak keuntungan. Atau, itu adalah secara tidak langsung seperti dalam pajak penjualan dan pajak pertambahan nilai.

      Pajak menjadi salah satu sarana redistribusi pendapatan. Selain itu, pajak mempengaruhi perilaku keuangan bisnis dan rumah tangga. Misalnya, kenaikan pajak mengurangi pendapatan disposabel rumah tangga. Oleh karena itu, rumah tangga cenderung akan mengurangi belanja barang dan jasa.

      Kontrol harga

      Di bawah kebijakan kontrol harga, pemerintah menetapkan batas harga untuk barang dan jasa tertentu. Dua bentuk kontrol harga adalah:

      • Plafon harga (price ceiling)
      • Harga dasar (price floor)

      Plafon harga

      Plafon harga membatasi harga maksimum untuk barang dan jasa. Pemasok tidak dapat mengenakan harga lebih tinggi dari harga tersebut. Tujuan plafon harga adalah untuk melindungi konsumen dengan memastikan terjangkau oleh sebanyak mungkin konsumen. Contohnya adalah harga sewa properti residensial. 

      Agar efektif, pemerintah menetapkan plafon harga di bawah harga ekuilibrium pasar bebas. 

      Penetapan plafon harga memiliki beberapa implikasi berikut:

      • Munculnya kelangkaan. Karena harga lebih rendah, lebih banyak konsumen meminta. Sebaliknya, harga lebih rendah membuat semakin sedikit produsen yang bersedia memasok. Oleh karena itu, pasar akan mengalami ekses permintaan (kelangkaan), di mana kuantitas yang diminta melebihi kuantitas yang dipasok. 
      • Kurang efisien dan surplus ekonomi menurun. Surplus ekonomi adalah penjumlahan dari surplus konsumen dan surplus produsen. Karena harga lebih rendah, surplus produsen akan berkurang. Mereka memperoleh keuntungan yang lebih sedikit. Sementara itu, meski konsumen memperoleh harga yang lebih rendah, namun, mereka menghadapi kelangkaan. Pasokan berkurang karena produsen memasok lebih sedikit barang.
      • Penjatahan (rationing). Karena lebih langka, konsumen lebih sulit menemukan barang. Jika itu berlangsung lama, pemerintah mungkin perlu menjatah barang untuk memastikan ketersediaan bagi sebanyak mungkin konsumen. 
      • Munculnya pasar gelap. Pasar gelap berkembang karena kelangkaan. Produsen mungkin secara diam-diam akan menjual harga lebih tinggi daripada plafon harga di pasar gelap. Demikian juga, beberapa konsumen yang telah memiliki barang akan menjual kembali ke konsumen lainnya dengan harga lebih tinggi untuk meraup keuntungan. 

      Harga dasar

      Harga dasar (price floor) adalah harga minimum yang dapat dikenakan untuk suatu produk atau layanan. Tujuannya adalah untuk melindungi pemasok barang atau jasa. 

      Contoh harga dasar yang paling banyak dikutip adalah upah minimum. Dalam hal ini, individu bertindak sebagai pemasok jasa tenaga kerja, sedangkan perusahaan adalah pembeli. Dengan upah minimum, pekerja menghasilkan cukup uang dari pekerjaan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

      Agar efektif, pemerintah menetapkan harga dasar di atas harga ekuilibrium. Karena harga lebih tinggi, semakin banyak pemasok bersedia memasok barang dan jasa. Di sisi lain, kuantitas yang diminta lebih sedikit karena harga menjadi lebih mahal bagi konsumen. Sebagai hasilnya, pasar akan mengalami ekses pasokan, di mana kuantitas yang dipasok melebihi kuantitas yang diminta.

      Subsidi

      Sama seperti pajak, pemerintah juga dapat memberikan subsidi kepada rumah tangga ataupun perusahaan. Contohnya seperti subsidi bahan bakar minyak, perawatan kesehatan masyarakat, pendidikan, penelitian dan pengembangan, pupuk, dan bahan baku. Pinjaman lunak juga masuk dalam kategori ini. 

      Pemberian subsidi mengurangi beban rumah tangga. Mereka mengeluarkan lebih sedikit uang untuk mendapatkan barang dan jasa tersebut, memungkinkan standar hidup yang lebih baik.

      Bagi perusahaan, pemberian subsidi mengurangi biaya produksi. Itu merangsang mereka untuk berproduksi lebih banyak. Selain itu, mereka dapat menjual pada harga yang lebih murah, membuat produk lebih lebih kompetitif di pasar.

      Perbedaan pendapat diantara ekonom

      Beberapa ekonom memandang intervensi pemerintah adalah perlu. Tapi, mereka masih berdebat tentang seberapa besar pemerintah harus campur tangan dan bagaimana mereka harus campur tangan.

      Perbedaan pendapat tersebut memunculkan dua aliran pemikiran dalam ekonomi. Yang satu berfokus pada aspek positif pasar, sementara yang lain berfokus pada ketidaksempurnaan pasar. Dalam makroekonomi, itu memunculkan mahzab pemikiran seperti ekonomi Keynesian dan ekonomi Neoklasik.

      Keynesian memandang pemerintah seharusnya campur tangan. Ketika terjadi disequilibrium, perekonomian tidak akan bergerak menuju ekuilibrium yang baru dengan sendirinya. 

      Ambil kasus ketika perekonomian sedang depresi. Diantara solusi untuk keluar dari depresi ekonomi adalah dengan merangsang belanja pemerintah, yang mana merupakan bagian dari permintaan agregat. 

      Sebagaimana kita tahu, permintaan agregat terdiri dari konsumsi rumah tangga, investasi bisnis, pengeluaran pemerintah dan ekspor neto. Ekspor neto berada diluar kendali perekonomian domestik karena tergantung pada kondisi perekonomian global. Sehingga, opsi utama untuk merangsang permintaan agregat adalah melalui konsumsi, investasi dan belanja pemerintah.

      Tapi, selama depresi ekonomi, keuntungan bisnis memburuk karena permintaan jatuh. Begitu juga, pendapatan rumah tangga jatuh karena tingginya tingkat pengangguran. Oleh karena itu, hampir mustahil untuk meningkatkan konsumsi dan investasi selama depresi. 

      Sehingga, opsi yang lebih masuk akal adalah melalui peningkatan belanja pemerintah. Anggaran belanja lebih tergantung pada kebijakan diskresi pemerintah alih-alih kondisi ekonomi

      Sebaliknya, ekonom Neoklasik memandang intervensi pemerintah seharusnya minimal. Mekanisme pasar akan bekerja dan mengarahkan perekonomian menuju ekuilibrium. Menurut ekonom Neoklasik, penawaran dan permintaan adalah faktor utama yang menentukan barang, output, dan pendapatan dalam perekonomian. Jadi, intervensi pemerintah hanya akan membuat perekonomian tidak lebih baik.

      Kerugian intervensi pemerintah dalam perekonomian

      Meski bertujuan positif untuk membangun perekonomian dan kemakmuran masyarakat, namun seringkali intervensi menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Berikut ini adalah sisi negatif intervensi pemerintah terhadap perekonomian:

      • Kegagalan pemerintah. Itu terjadi ketika intervensi tidak menciptakan hasil yang lebih baik. Pasar menjadi tidak efisien dalam mengalokasikan sumber daya. Pemerintah mungkin juga lebih mempertimbangkan efek jangka pendek daripada jangka panjang. Misalnya, hambatan perdagangan melindungi industri dalam negeri. Tapi, itu juga mendisinsentif produsen untuk lebih berinovasi dan lebih efisien. Begitu juga dalam kasus subsidi produksi.
      • Peningkatan biaya. Misalnyaperusahaan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi an standar keamanan dan kesehatan produk. Mereka juga menanggung biaya untuk mengolah lebih lanjut limbah produksi.
      • Lebih sedikit pilihan. Dalam kasus ekstrim adalah ekonomi komando. Pemerintah memutuskan apa yang akan diproduksi dan bagaimana mendistribusikannya. 
      • Diskriminatif. Intervensi mungkin menguntungkan bagi beberapa pihak, tapi merugikan bagi pihak lainnya. Ambil contoh kebijakan persaingan. Pemerintah mungkin lebih memihak perusahaan milik negara daripada perusahaan swasta. Begitu juga, dalam kasus bailout, pemerintah menggunakan pendapatan pajak untuk menyelamatkan bank-bank besar alih-alih semua bank.

    • Untuk memahami teori pilihan konsumen yang terkait dengan:

      ΓÇó Pilihan Konsumsi

      ΓÇó Pilihan yang Memaksimalkan Utilitas

      ΓÇó Produksi Teori Utilitas Marjinal

      ΓÇó Cara Baru Menjelaskan Pilihan Konsumen

    • Dalam perekonomian ada tiga pelaku penting, yaitu produsen, konsumen dan distributor. Namun dalam ulasan kali ini kita akan membahas tentang satu pelaku yang memiliki peran penting dalam jalannya perekonomian suatu negara yaitu konsumen. Konsumen adalah pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan konsumsi. Dimana mereka membeli atau menggunakan suatu produk baik barang ataupun jasa. Dalam melakukan kegiatan atau aktivitasnya pasti akan nampak tentang perilaku yang dilakukannya, perilaku ini lebih dikenal dengan perilaku konsumen.

      Perilaku konsumen adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang atau suatu organisasi berupa kegiatan mencari, membeli, menggunakan, menikmati, mengevaluasi serta melepas produk yang telah mereka pakai atau nikmati (dikonsumsi) untuk melakukan kegiatan konsumsi memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen berlaku pada beberapa tahap, yaitu pada tahap awal sebelum pembelian, saat pembelian dan setelah pembelian. Sebelum melakukan pembelian para konsumen menggali informasi tentang produk yang mereka inginkan.sedangkan pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan transaksi dengan produsen, membayar produknya. Dan pada tahap setelah pembelian, konsumen menggunakan dan menikmati produk yang dibelinya, melakukan evaluasi serta melepas atau membuang produknya ketika mereka sudah bosan.

      Dilihat dari pengkonsumsian suatu produk perilaku konsumen dibedakan menjadi dua, yaitu :

      1. Perilaku konsumen rasional

      Suatu kegiatan konsumsi bisa dikatakan rasional jika beberapa hal di bawah ini diperhatikan :

      • Produk tersebut bisa memberikan kepuasan dan nilai guna yang optimal
      • Produk tersebut memang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.
      • Kualitas atau mutu produk tersebut terjamin atau baik.
      • Harga suatu produk sesuai dan setara dengan kemampuan yang dimiliki oleh konsumen.
      1. Perilaku konsumen irasional

      Perilaku irasional adalah kebalikan dari perilaku rasional. Suatu perilaku yang dilakukan oleh konsumen bisa dikatakan irasional apabila konsumen melakukan pembelian produk tanpa memperkirakan kegunaan dari produk tersebut, contoh perilaku irasional antara lain :

      • Tertarik dan terpukau pada promosi dan iklan dari suatu produk baik melalui media cetak, elektronik atupun sosial.
      • Merk yang dimiliki hanya merk terkenal
      • Mengutamakan gengsi atau prestise

      Pendekatan Perilaku Konsumen

      Perilaku konsumen bisa dilihat dari beberapa pendekatan, dimana pendekatan tersebut akan memberi jawaban tentang maksud dari perilaku konsumen. Ada dua pendekatan terkait hal tersebut, yaitu pendekatan nilai guna (utility) kardinal dan pendekatan nilai guna (utility) ordinal.

      1. Pendekatan nilai guna kardinal

      Pendekatan kardinal adalah suatu daya guna atau nilai guna yang bisa diukur dengan satuan uang atau utilitas, nilai guna tersebut memiliki tingkatan yang sesuai dengan subjek yang menilainya. Pendekatan memiliki asumsi bahwa sebuah produk yang memiliki kegunaan lebih bagi konsumen maka itulah yang paling diminati. Untuk itu pendekatan ini sering disebut dengan pendekatan dengan penilaian yang subjektif.

      Dalam pendekatan kardinal terdapat satu landasan hukum yaitu hukum Gossen.

      • Hukum Gossen I : menyatakan bahwasannya kepuasan konsumen akan menurun ketika kebutuhan mereka dipenuhi terus-menerus.
      • Hukum Gossen II : menyatakan bahwasannya seorang konsumen akan terus menerus memnuhi kebutuhannya sampai mencapai intensitas yang sama. Maksud dari intensitas yang sama adalah rasio antara marginal utility dan harga dari produk yang satu dengan rasio marginal utility dan harga produk yang lainnya.

      Hipotesisi uatama dari pendekatan kardinal ini adalah nilai guna marginal yang semakin turun, menunjukkan bahwa nilai guna yang diperoleh oleh konsumen akan semakin menurun ketika mereka terus dan terus menambah konsumsinya atas produk tersebut. Berbicara tentang nilai guna marginal pasti ada kaitannya dengan bagimana pemaksimuman nilai guna ayang dirasakan oleh konsumen. Ada beberapa syarat pemaksimuman bisa terjadi yaitu ketika konsumen berada dalam keadaan-keadaan sebagai berikut :

      • Seorang konsumen akan memaksimalkan nilai guna dari produk yang dkonsumsinya jika perbandingan antara nilai guna marginal berbagai produk tersebut sama dengan perbandingan harga-harga produk tersebut.
      • Seorang konsumen akan memaksimalkan nilai guna dari produk yang mereka konsumsi jika terdapat kesamaan diantara setiap rupiah yang dikeluarkan dengan setiap produk yang dikonsumsi.

      Dalam pendekatan kardinal ini terdapat beberapa asumsi,antara lain :

      • Daya atau nilai guna diukuur dengan parameter satuan harga atau utilitas.
      • Konsumen bersifat rasional, dimana mereka akan memnuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan batas kemampuan pendapatannya.
      • Konsumen akan mengalami penurunan utilitas ketika terus menerus melakukan konsumsi terhadap produk tersebut (diminishing marginal utility).
      • Konsumen memiliki jumlah pendapatan yang tetap.
      • Daya atau nilai guna dari uang tetap atau konstan.
      • Total utility bisa bersifat melengkapi (additive) atau berdiri sendiri (independent).
      • Produk yang dikonsumsi normal dan periodenya konsumsinya berdekatan.

      Dengan berbagai asumsi tersebut pendekatan kardinal mampu menyusun sebuah formulasi fungsi permintaan secara baik. Namun meski begitu pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :

      • Daya guna yang dipandang hanya dari segi subjektif membuat tidak adanya alat ukur yang tepat dan sesuai dengannya.
      • Memiliki konsep constan marginal utility of money, yang membuat anggapan nilai uang akan menurun ketika jumlang uang semakin banyak.
      • Konsep diminishing marginal utility merupakan permasalah yang sangat sukar dari segi psikologis dan sulit diterima sebagai aksioma.
      1. Pendekatan nilai guna ordinal

      Berbeda dengan pendekatan karinal yang memfokuskan kajian pada daya atau nilai guna suatu barang, namun dalam pendektan ordinal daya guna tidak seratus persen diperhatikan cukup diketahui dan konsumen mampu menyusun urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh ketika mengkonsumsi sebuah produk. Dasar pemikiran dari pendekatan ini adalah semakin banyak produk yang dikonsumsi maka semakin besar kepuasan yang didapat oleh konsumen. Dalam menganalisa tingkat kepuasan pendekatan ini menggunakan kurva indefferen yang menunjukkan kombinasi atau campuran antar konsumsi dua macam produk yang memberikan tingkat kepuasaan yang sama dan garis anggaran yang menunjukkan kombinasi antara duua macam barang yang berbeda yang bisa dibeli oleh konsumen dengan pendapatan yang terbatas.

      Perpaduan antara dua kurva ini akan menunjukkan kepuasan yang dicapai oleh konsumen. Dengan demikian pemaksimuman kepuasan yang digambarkan adalah kepuasan yang maksimum dari melakukan konsumsi terhadap dua macam produk dengan tingkat pendapatan tertentu. Berbicara tentang pendekatan ordinal pasti tak terlepas dari kurva indeferens yang memiliki beberapa ciri diantaranya :

      • Memiliki garis miring yang negatif, artinya konsumen akan mengurangi jumlah konsumsinya terhadap suatu produk yang satu jika mereka melakukan konsumsi terhadap produk yang lainnya.
      • Kurva cenderung menuju ke arah titik origin, artinya hal ini menunjukkan adanya perbedaan proporsi jumlah yang harus ia keluarkan atau korbankan dalam upaya mengubah kombinasi antara jumlah masing-masing produk yang dikonsumsi.
      • Tidak akan ada saling berpotongan, sehingga konsumen tidak mungkin akan mendapatkan kepuasaan yang sama pada suatu kurva indeferens yang berbeda.

      Sama halnya dengan pendekatan kardinal, pendekatan ordinal juga memiliki beberapa asumsi penting di dalamnya, antara lain :

      • Konsumen yang bersifat rasional
      • Konsumen memiliki skala prioritas dalam menyusun produk yang akan dikonsumsi mulai dari yang memiliki daya guna kecil hingga pada yang memiliki daya guna tinggi.
      • Konsumen memiliki sejumlah uang
      • Konsumen selalu berupaya untuk mendapatkan kepuasan maksimal.
      • Konsumen selalu konsisten
      • Hukum yang berlaku adalah hukum transitif.

      Macam-macam Perilaku Ekonomi

      Selanjutnya kita akan membahas tentang macam-macam perilaku konsumen, kita ketahui bahwa perilaku yang ada pada konsumen sangat beranekaragam. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Macam-macam perilaku konsumen, antara lain :

      1. Teori ekonomi mikro

      Teori ekonomi mikro menganggap bahwa setiap konsumen akan selalu berupaya untuk memperoleh kepuasan yang maksimal. Dimana konsumen akan terus melakukan pembelian terhadap suatu produk yang bisa memberikannya tingkat kepuasan maksimum. Kepuasan disini diartikan sebagai kepuasan yang setara atau melebihi marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran atau konsumsi yang sama atas beberapa produk yang lainnya.

      1. Teori psikologis

      Dalam teori psikologis menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan faktor-faktor psikologis yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan disekitarnya. Dalam bidang psikologis pembahasan yang terjadi mengenai perilaku konsumen sangatlah komplek dan rumit, karena proses mental tidak bisa diamati dan dilihat secara langsung.

      1. Teori antropologis

      Fokus kajian dari teori antropologis seputar ruang lingkup pembelian atau konsumsi yang dilakukan oleh konsumen. Teori menekankan pada perilaku pembelian yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat terutama pada ruang lingkup yang luas. Misalkan kebudayaan, kelas-kelas sosial dan lain sebagainya.

      Prinsip dalam Analisa Perilaku Konsumen

      Setelah membahas tentang macam-macam perilaku konsumen, selanjutnya kita akan membahas tentang prinsip-prinsip dasar apa saja yang ada dalam analisis perilaku konsumen.

      1. Pendapatan terbatas dan kelangkaan

      Pendapatan yang terbatas dan kelangkaan merupakan suatu masalah yang harus disiasati dengan tepat oleh para konsumen. Dengan adanya dua masalah ini memaksa seorang konsumen untuk berfikir dua kali dalam menentukan pengeluaran atau konsumsi yang harus dilakukan namun tetap dalam anggaran yang telah diteteapkan sebelumnya. Harus adanya keseimbangan dalam mengkoinsumsi suatu produk. Jika ingin meningkatkan konsumsi terhadap suatu produk b aik barang atau jasa harus disertai dengan pengurangan konsumsi terhadap produk lainnya. (Baca juga : faktoor penyebab kelangkaan)

      1. Konsumen mampu membedakan antara biaya dan manfaat

      Biaya dan manfaat merupakan dua aspek yang selalu difikirkan oleh seorang konsumen dalam melakukan konsumsi. Jika dalam suatu kondisi dimana dua produk yang sama memberikan manfaat atau daya guna yang sama maka konsumen dengan otomatis akan melihat harga dan memlih yang lebih murah. Di sisi lain jika dalam kondisi dimana ada dua produk yang harganya sama, maka konsumen akan melihat dan memperhatikan manfaat serta nilai gunanya bagi masyarakat dan memilih yang memiliki manfaat lebih besar.

      1. Konsistensi konsumen dalam memperkirakan manfaat yang tepat

      Konsistensi seorang konsumen dipengaruhi oleh pengalaman dan orang sekitar. Konsistensi konsumen terhadap suatu produk akan mudah goyah ketika ada produk yang memiliki manfaat lebih baik dengan harga yang murah atau setara. Dengan begitu konsumen akan mampu memberikan suatu perkiraan terhadap produk yang akan dikonsumsi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa konsistensi konsumen akan tetap bertahan jika produk yang dikonsumsi telah memnuhi syarat dan memiliki nilai guna yang baik.

      1. Distribusi produk satu dengan yang lainnya.

      Distribsusi terhadap suatu produk dengan produk yang lainnya merupakan cara tepat untuk memnuhi segala kebutuhan dan keinginan konsumen yang tek pernah selesai. Selain itu dengan adanya distribusi ini konsumen akan lebih mudah mendapatkan kepuasan dari berbagai sisi.

      1. Konsumen patuh pada hukum berkurangnya tambahan kepuasan yang berlaku.

      Dalam hukum ini berlaku tentang semakin banyaknya jumlah barang yang dikonsumsi, maka semakin kecil kepuasan atau manfaat yang dihasilkan. Artinya dengan adanya tambahan biaya maka konsumen akan menghentikan konsumsinya terhadap barang tersebut.

      [accordion]
      [toggle title=ΓÇ¥Baca juga perilaku atau tindakan konsumen dalam ekonomi :ΓÇ¥]

      [/toggle]
      [/accordion]

      Dalam melakukan konsumsi pasti ada beberapa perilaku konsumen yang bisa dipantau dan di analisis tentu perilaku itu terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :

      • Faktor budaya

      Budaya memegang peranan penting dalam melakukan konsumsi. Tipe konsumsi dari konsumen menyesuaikan budayanya. Misalkan budaya barat dalam melakukan konsumsi tidak memperhatikan biaya yang penting puas.

      • Faktor sosial

      Kelas-kelas sosial yang ada dalam masyarakat mempengaruhi perilaku konsumen, konsumen yang berada dalam kelas sosial yang tinggi maka mereka tidak akan ragu dalam mengkonsumsi suatu produk yang penting kebutuhannya terpenuhi. Berbeda dengan kelas sosial rendah mereka harus memperhitungkan pengeluarannya dengan baik.

      • Faktor pribadi

      Baik buruknya perilaku konsumen dittentukan oleh masing-masing pribadi yang melakukan konsumsi tersebut.

      • Faktor psikologi

      Psikologis seseorang juga mempengaruhi dalam bertindak. Jika kondisi psikologis konsumen baiok maka mereka akan berperilaku dengan benar. Sedangkan jika kondisi psikologis seorang terganggu maka tindakannya juga akan mengalami gangguan.

      • Faktor marketing strategi

      Marketing strategi meliputi beberapa variabel, yaitu barang (produk), harga, periklanan, dan distribusi.

      Itulah beberapa informasi tentang teori perilaku konsumen. Pada dasarnya perilaku konsumen terjadi ketika mereka melakukan kegiatan konsumsi. Perilaku konsumen ditentukan oleh beberapa faktor di dalamnya seperti budaya, sosial, pribadi, psikologis dan marketing plan.

      Untuk lebih memahaminya silahkan anda unduh file sbb: 

      https://drive.google.com/file/d/1JbJlqPSJYHXvO5v6dG06kKx_2W7GOW2J/view?usp=sharing




    • Untuk memahami model yang menjelaskan pilihan yang kita buat di pasar, Pembelajaran meliputi:

      ΓÇó Kemungkinan konsumsi

      ΓÇó Preferensi dan Kurva Indiferen

      ΓÇó Memprediksi Pilihan Konsumen



    • Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang

      Teori perilaku konsumen yang berkembang sebelum periode tahun 1960-an didasarkan pada teori ekonomi, yakni yang menjelaskan bahwa seorang konsumen akan menetapkan kuantitas komoditas yang dikonsumsi dengan cara memaksimumkan kepuasan (utilitas).  Pada menentuan kuantitas tersebut, konsumen dihadapkan pada kendala pendapatan dan harga komoditas.  Sementara itu, preferensi dan variabel yang lain dianggap tetap atau konstan yang disebut dengan istilah ceteris paribus

      Schiffman dan Kanuk (1994 : 7) mendefinisikan sebagai berikut ;
      ΓÇ£ The term consumer behavior refers to the behavior that consumer display in searching for purchasing, using evaluating and disposing of product and services that they expect will satisfy their needsΓÇ¥

      Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut :
      Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain;
      Teori Psikologis. Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung;
      Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.

      Peran perilaku konsumen sangat beragam tergantung pada pemanfaat atau pengguna (stakeholder). Secara umum terdapat dua kelompok pemanfaat; yaitu kelompok peneliti (riset) dan kelompok yang berorientasi implementasi (Peter dan Olson, 1999). Pemanfaat yang tergolong dalam kelompok kedua meliputi: organisasi pemasaran (pemasar maupun produsen), lembaga pendidikan dan perlindungan konsumen, organisasi pemerintah dan politik, serta konsumen (Peter dan Olson, 1999 dan Sumarwan, 2004). 

      Peran perilaku konsumen bagi pemasar atau produsen adalah mampu :
      1. Membujuk konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan.
      2. Memahami konsumen dalam berperilaku, bertindak dan berfikir, agar pemasar atau produsen mampu memasarkan produknya dengan baik.
      3. Memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan, sehingga pemasar atau produsen dapat merancang strategi pemasaran dengan baik.


      A. Preferensi Konsumen

      1. Pengertian Preferensi Konsumen
      Preferensi konsumen dapat berarti kesukaan, pilihan atau sesuatu hal yang lebih disukai konsumen. Preferensi ini terbentuk dari persepsi konsumen terhadap produk (Munandar et al., 2012). Seseorang selalu dapat membuat atau menyusun rangking semua situasi/kondisi mulai dari yang paling disenangi hingga yang paling tidak disukai.

      2. Sifat Dasar Preferensi Konsumen
      Menurut Nicholson (1989), hubungan preferensi konsumen diasumsikan memiliki tiga sifat dasar, antara lain :

      3. Kelengkapan (Completeness)
      Jika A dan B merupakan dua kondisi/situasi, maka tiap orang selalu harus bisa menspesifikan apakah A lebih disukai daripada B, B lebih disukai daripada A atau A dan B sama-sama disukai. Dengan dasar ini tiap orang diasumsikan tidak pernah ragu dalam menentukan pilihan, sebab mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan dengan demikian selalu bisa menjatuhkan ilihan diantara dua alternatif.

      4. Transitivitas (Transitivity)
      Jika seseorang mengatakan ia lebih menyukai A daripada B, dan lebih menyukai A daripada C, maka ia harus lebih menyukai A daripada C. Dengan demikian seseorang tidak bisa mengartikulasikan preferensinya yang saling bertentangan.

      5. Kontinuitas (Continuity)
      Jika seseorang mengatakan ia lebih menyukai A daripada B, ini berarti segala kondisi di bawah A tersebut disukai daripada kondisi di bawah pilihan B.

      Menurut Jeremy Bentham dalam Nicholson (1989) mengatakan bahwa barang yang lebih diminati menyuguhkan kepuasan yang lebih besar daripada barang yang kurang diminati. Ukuran kepuasan ini dipengaruhi oleh bermacam faktor. Jadi kepuasan yang diterima tidak hanya ditentukan oleh bentuk atau jenis barang tersebut, tetapi juga oleh sikap psikologis (psychological attitudes), tekanan kelompok (group pressures), pengalaman pribadi dan lingkungan.

      Preferensi memiliki tujuan yang merupakan keputusan akhir dalam proses pembelian untuk dapat dinikmati oleh konsumen sehingga dapat mencapai kepuasan konsumen. Dengan preferensi dan anggaran yang tersedia, dapat diketahui bagaimana setiap konsumen memilih berapa banyak barang yang dibeli. Hal ini dapat diasumsikan bahwa konsumen dapat membuat pilihan secara rasional, mereka yang memilih barang untuk memaksimalkan kepuasan yang dapat mereka raih dengan anggaran terbatas yang mereka miliki (Pindyck dan Rubinfeld, 2012).

      Berikut ini adalah gambaran kepuasan konsumen dalam kurva indiferrens yang sesuai dengan anggaran (budget) yang ada.



      Gambar: Kurva Indifference dan Budget Line


      Keterangan:

      Pada gambar memperlihatkan tiga dari sekian banyak kurva indifferens seorang konsumen (U1, U2, dan U3). Kombinasi konsumsi barang X dan barang Y pada masing-masing kurva akan memberikan kepuasan yang sama. Seperti halnya pada titik A yang merupakan kombinasi konsumsi barang X dan barang Y pada kurva indifferens (U1). Karena setiap konsumen lebih senang jika dapat mengkonsumsi setiap barang lebih banyak, maka kurva indifferens yang lebih tinggi (U3) menggambarkan tingkat kepuasan yang lebih besar dan karenanya lebih disukai daripada kurva indifferens yang lebih rendah (U1) menggambarkan tingkat kepuasan yang lebih kecil. Slope kurva indifferens ini adalah negatif. Hal ini berarti jika seseorang menginginkan barang X lebih banyak, ia harus mengorbankan barang lain agar kepuasan yang diterima tetap sama.

      Namun, seorang konsumen dapat mengalokasikan penghasilannya yang jumlahnya terbatas untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar yang beragam jenisnya sehingga tingkat kepuasan yang diperolehnya dapat maksimum. Hal ini dapat dilihat dari titik singgung antara garis anggaran dengan kurva indifferens yang terjadi pada titik B. Jadi kepuasan maksimum yang bisa diperoleh dengan budget yang ada adalah dengan memilih kombinasi tersebut. Pada gambar tersebut terlihat utility yang diterima juga lebih tinggi (U2 > U1).

      B. Kendala Anggaran

      Kita mengenal istilah Garis Anggaran pada mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi, khususnya pada Bab Teori Pilihan Konsumen (The Theory of Consumer Choice).

      Lalu, apa yang dimaksud dengan Garis Anggaran tersebut??
      Menurut Mankiw (2012: 440) Garis Anggaran adalah ΓÇ£the limit on the consumption bundles that a consumer can affordΓÇ¥. Apabila diterjemahkan, kurang lebih: Garis Anggaran adalah berbagai kemungkinan kombinasi konsumsi yang mampu diperoleh konsumen dengan pendapatannya.

      Pada dasarnya setiap orang pasti menginginkan konsumsi yang banyak dan berkualitas tinggi, karena hal tersebut memang sudah menjadi sifat dasar manusia. Namun, keinginnya tersebut tidak akan selalu terpenuhi karena pengeluaran manusia dibatasi oleh anggaran yang dimiliki. Itulah sebabnya Garis Anggaran sering juga disebut dengan ΓÇ£Kendala AnggaranΓÇ¥.

      Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Mankiw (2012: 440) bahwa ΓÇ£most people would like to increase the quantity or quality of the goods they consumeΓÇöto take longer vacations, drive fancier cars, or eat at better restaurants. People consume less than they desire because their spending is constrained, or limited, by their incomeΓÇ¥.

      Contoh:
      Tabel 1. Berbagai Kombinasi yang Dapat dipilih Oleh Konsumen


      Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa terdapat 11 kombinasi konsumsi yang dapat dipilih oleh konsumen. Pada dasarnya konsumen pasti menginginkan semuanya maksimal (10 mangkuk mie ayam dan 10 gelas jus alpukat) tetapi manusia dibatasi oleh anggarannya yaitu sebesar Rp50.000,00 sehingga konsumen hanya mampu mengkonsumsi mie ayam dan jus alpukat sesuai 11 kombinasi pada tabel 1 di atas.

      Apabila tabel tersebut digambarkan dalam sebuah kurva, maka kurva tersebut akan mirip dengan kurva permintaan yang memiliki slope negatif. Berikut ini kurva Garis Anggaran tersebut:



      Berbagai titik pada garis anggaran mengindikasikan kombinasi konsumen atau trade-off antara dua barang (dalam hal ini adalah mie ayam dan jus alpukat). Ketika seorang konsumen meningkatkan jumlah mie ayam yang dibeli, konsumen tersebut harus mengurangi jumlah jus alpukat yang dibeli dan sebaliknya.


      C. Pilihan Konsumen

      Perilaku Konsumen menurut Schiffman, Kanuk (2004, p. 8) adalah perilaku yang ditunjukkan konsumen dalam pencarian akan pembelian, penggunaan, pengevaluasian, dan penggantian produk dan jasa yang diharapkan dapatmemuaskan kebutuhan konsumen.
      Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :

      1. Faktor Sosial
                  Group 
      Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).

      Family Influence
      Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).

      Roles and Status
      Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

      2. Faktor Personal
                  Economic Situation
      Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).

      Lifestyle
      Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138).

      Personality and Self Concept
      Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).

       Age and Life Cycle Stage
      Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)

      Occupation
      Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

      3. Faktor Psychological Motivation
      Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).

      Perception
      Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).

      Learning
      Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).

      Beliefs and Attitude
      Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

      4. Faktor Cultural
      Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
           
            Subculture
      Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).

      Social Class
      Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).

      Keputusan Pembelian
      Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :
      1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
      2. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk.
      3. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelian (Engel, F. James, et.al , 2001, pp.127-128).

    • Consumer choice theory atau teori pilihan konsumen adalah teori ekonomi mikro yang menghubungkan kurva permintaan konsumen dengan preferensi konsumen. Teori tersebut berusaha memahami sumber permintaan konsumen melalui teori konsumen. Teori ini memandang bahwa konsumen sepenuhnya memahami apa yang mereka pilih.

      http://

    • Kerjakan soal-soal ini, dan and diminta utk submit dalam bentuk file (word/Pdf version) dengan batas maksimal file kurang dari 500 Kb, 

      Batas waktu submit: Senin 23 November 2020 (pukul 08.50) sd kamis, 26 November 2020 (pukul 08.50)

      Adapun Pertanyaan sbb:

      1.      Bobot (20 persen)

      Pada saat harga buah mangga Rp 5.000 per kg jumlah buah mangga yang diminta sebanyak 1.000 kg. tetapi saat harga buah mangga Rp 7.000 per kg, banyaknya buah mangga yang diminta berubah menjadi 600 kg.

      1. Buatlah fungsi permintaan buah mangga.
      2. Hitunglah elastisitas permintaan buah mangga, termasuk pada kriteria barang apa ?
      3. Tentukan jumlah barang dan harga pada keseimbangan pasar komoditas sirup mangga, jika dari data yang ada ditemukan fungsi permintaan Qd = 10 ΓÇô 0,6Pd dan fungsi penawaran Qs = -20 + 0,4Ps.

       

      2. (Bobot 20 persen)

      Seorang individu mengalokasikan pendapatan yang diperoleh Rp 7 untuk membelanjakan barang X dan Y. Harga x Rp 1/unit dan harga Y Rp 1/unit dengan Marginal Utility yang diperoleh sebagai berikut :

      Mux

      38

      35

      32

      31

      25

      23

      19

      18

      MUy

      50

      45

      42

      38

      35

      34

      30

      25

      Q

      1

      2

      3

      4

      5

      6

      7

      8

      1. Berapakah jumlah barang X dan Y yang harus dikonsumsi agar konsumen tersebut memperoleh kepuasan maksimum?
      2. Berapa nilai batas guna maksimum dari barang X dan Y yang dikonsumsi setelah didapatkan keseimbangan !
      3. Bagaimana jika pendapatan Rp 15 dengan harga X Rp 1/unit dan harga Y Rp 2/unit?

       3. Apakah pasar kompetitif menggunakan sumber daya secara efisien? Jelaskan mengapa atau mengapa tidak. (Bobot 10 persen)

       4.   Gambar dibawah menunjukkan suatu pasar kompetitif untuk pasar ponsel. (bobot 25 %)

      a. Jelaskan bagaimana kondisi ekuilibrium dari gambar tersebut?

      b. Jelaskan kondisi surplus konsumen dan beri label.

      c. Jelaskan surplus produsen dan beri label.

      d. Hitung surplus total.

      e. Apakah menurut anda pasar ponsel yang kompetitif efisien? Jelaskan

       5. Studi Kasus (Bobot 25 persen)

       Kebijakan Pemerintah China dalam Menerapkan Subsidi Bijih Besi

      China mungkin akan memberlakukan subsidi nasional untuk produsen bijih besi lokal di tengah harga yang merosot. Banyak dari tambang bijih besi masif ini adalah milik negara dan tentu saja pemerintah akan mendukungnya. Namun pemberlakuan subsidi dapat semakin melukai harga yang jatuh ke level terendah 10 tahun minggu lalu.

      Sumber: Mail & Guardian, 10 April 2015

       a. Mengapa produsen bijih besi Cina disubsidi? Jelaskan

      b. Jelaskan bagaimana subsidi yang dibayarkan kepada produsen bijih besi Cina memengaruhi harga bijih besi dan biaya marjinal untuk memproduksinya.

      c. Di pasar bijih besi yang produsen bijinya disubsidi, menurut Anda apakah harga bijih besi akan turun? Menjelaskan. jelaskan


    • Untuk memahami pengorganisasian produksi dan bagaimana perusahaan membuat keputusan bisnis mereka?

      Sehingga mahaiswa dapat menjelaskan:

      ΓÇó Perusahaan dan Masalah Ekonominya

      ΓÇó Efisiensi Teknologi dan Ekonomi

      ΓÇó Informasi dan organisasi

      ΓÇó Pasar dan Lingkungan Kompetitif

      ΓÇó Menghasilkan atau Mengalihdayakan? Perusahaan dan Pasar



    • Teori produksi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat produksi dengan jumlah faktor-faktor produksi dan hasil penjualan outputnya. 

      Sedangkan faktor-faktor produksi adalah sebagai berikut : a. Tanah (Land) atau Sumber Daya Alam (Natural Resources) b. Tenaga kerja manusia (Labour) atau Sumber Daya Manusia (Human Resources) c. Modal (Capital) d. Keahlian keusahawanan (Enterpreneurship) 

      Di dalam menganalisis teori produksi, kita mengenal dua hal: 

      1. Produksi jangka pendek, yaitu bila sebagian faktor produksi jumlahnya tetap dan yang lainnya berubah (misalnya jumlah modal tetap, sedangkan tenaga kerja berubah). 

      2. Produksi jangka panjang, yaitu semua faktor produksi dapat berubah dan ditambah sesuai kebutuhan. Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. 

      Sedangkan Orang atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen.

      Untuk lebih jelas lagi silahkan anda unduh PPT sebagai berikut: 

      https://drive.google.com/file/d/1sYXx8QgwjLXzZ467xEZYJLcEWMh7vkgu/view?usp=sharing

      Adapun untuk penjelasannya dapat dilihat pada video sbb: 


      http://

      http://

    • Teori perilaku produsen ialah suatu teori yang menjelaskan tentang bagaimana tingkah laku/perilaku produsen dalam menghasilkan produk yang mencapai efesiensi dalam kegiatan produksinya.

      Kegiatan produksi meliputi sebagai berikut :

      -From Changing activitie, adalah kegiatan mengubah bentuk dari suatu barang.

      -Transportation, adalah kegiatan memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya.

      -Storage, adalah kegiatan menyimpan suatu barang yang akan digunakan di masa yang akan datang.

      -Merchandishing, adalah kegiatan memperdagangkan suatu barang agar sampai ke tangan konsumen yang membutuhkan.

      -Personal service, adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang orang lain mengakui keberadaannya.

      Berikut ini adalah beberapa contoh perilaku produsen:

      1. Mencari keuntungan dengan pemakaian modal seminimal mungkin tapi dengan hasil semaksimal mungkin.

      2. Mematok biaya produksi berdasarkan tingkat harga barang modal.

      3. Member potongan harga kepada konsumen yang membeli produk dalam jumlah banyak.

      4. Tidak hanya menghasilkan barang atau jasa yang sesuai kebutuhan, tetapi juga sesuai trend pasar saat ini.

      5. Member diskon besar-besaran untuk produksi yang sudah lama mereka produksi.

      6. Produsen juga mengadaptasi isu global atau keadaan sosial yang sedang terkenal saat itu untuk memasarkan barang atau jasa yang mereka jual.

      Perilaku produsen dalam kegiatan produksi :

      1. Perencanaan           : Faktual dan realistis, logis dan rasional, fleksibel, komitmen,komprehensi.

      2. Pengorganisasian   : Dalam pengorganisasian ini rencana dilakukan dalam sebuah dengan cara mengkoordinasi.

      3. Pengarahan             : Suatu cara agar produsen bisa melakukan rencana dengan baik atau rencana bsa terwujud.

      4. Pengendalian          : Proses pengontrolan yang dilakukan oleh produsen.



    • Berikut ini adalah contoh soal analisis produksi dan pembahasan 

    • Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor- faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut.

      Biaya produksi yang dikeluarkan dapat terbagi menjadi dua golongan yaitu :
      1.    biaya eksplisit :
             Pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang untuk mendapatkan       factor-faktor produksi dan bahan mentah yang dibutuhkan.
      2.    biaya implisit (  tersembunyi )
             Taksiran pengeluaran terhadap factor-faktor produksi  yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri
             Berdasarkan analisisperiode produksinya biaya produksi dibagi atas dua bagian yaitu :
      1.    Biaya produksi jangka pendek:
             Jangka waktu dimana sebagian factor produksi dapat berubah dan sebagian dan sebagian lainnya      tidak dapat diubah.
      2.    Biaya produksi jangka panjang :
             Jangka waktu di mana semua factor produksi yang ada dapat mengalami perubahan.
      Biaya Produksi Jangka Pendek :
             Berikut akan di jelaskan mengenai macam-macam  biaya yang termasuk dalam biaya produksi jangka pendek. Biaya produksi dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :

      1.    BIaya tetap (fixed cost)
             Biaya yang tidak tergantung atau tidak dipengaruhi oleh tingkat prduksi
             Simbol     : FC ( Fix Cost )
      2.    Biaya Variabel (variable cost )
             Biaya produksi yang berubah menurut tinggi rendahnya jumlah barang yang dihasillkan.
             Simbol     : VC ( Variabel Cost )
      3.    Biaya total
             Penjumlahan biaya tetap dengan biaya variabel
             Simbol      : TC
             Rumus      : TC = FC + VC
             BIaya  produksi total di dapat dari menjumlahkanbiaya tetap total (TFC=total fixed  cost ) dan biaya berubah total ( TVC=total variable cost )
             Rumus      : TC=TFC + TVC
      Kemudian dalam analisis biaya produksi perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
      a. Biaya Produksi Rata-rata :
             Biaya produksi rata-rata meliputi :
      ┬╖         BIaya tetap rata-rata
             Biaya tetap yang dibebankan kepada setiap unit output. Diberi simbol AFC ( Average Fix Cost )
             Rumus     : AFC = FC/Q

      ┬╖         Biaya variable rata-rata
             Biaya variabel yang dibebankan untuk setiap unit output. Diberi simbol AVC ( Average Variabel      Cost).
             Rumus     : AVC = VC/Q
      ┬╖         Biaya total rata-rata
             Biaya produksi yang dibebankan untuk setiap unit output. Diberi simbol ATC ( Average Total Cost )
             Rumus     : ATC = TC/Q

      b.    Biaya Produksi Marginal :
             Marjinal merupakan kenaikan biaya produksi yang di keluarkan untuk menambah produksi Tambahan atau kekurangannya biaya total karena bertambah atau berkurangnya satu unit output.   Diberi simbol MC
             Rumus     : MC = ΓêåTC/ΓêåQ atau ΓêåVC/ΓêåQ

      Contoh Soal 


      Biaya total produksi  atau lebih di kenal total cost (TC) merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen yang berkaitan dengan proses produksi, sebagai aktivitas utama untuk menghasilkan suatu produk. Dalam jangka pendek, total cost sangat di tentukan oleh input- input produksi baik secara kuantitas maupun kualitas. Dimana input ΓÇô input produksi tersebut dapat memberikan konsekuensi pembiayaaan bersifat tetap dan bersifat variabel.
      Pembiaayaan bersifat tetap di sebut biaya tetap atau total fixed cost (TFC) Biaya tetap total (total fixsed cost/TFC) dapat di katakan biaya yang sifatnya wajib di keluarkan oleh produsen dimana ada atau tidak ada aktivitas produksi. Jika biaya tetap tersebut  tidak di keluarkan, maka konsekuensinya dapat menghambat jalannya proses produksi yang lainnya. Membeli  mesin, mendirikan bangunan pabrik adalah contoh dari faktor produksi yang dianggap tidak mengalami perubahan dalam jangka pendek.
      Sedangkan biaya variabel (variable cost) merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan ketika ada aktivitas proses produksi. Oleh sebab itu biaya berubah biasanya merupakan perbelanjaan untuk membayar tenaga kerja yang digunakan. 
      Jadi besar kecilnya biaya veriabel yang dikeluarka produsen sesuai dan tergantung pada skala proses produksi yang di lakukan. Dengan kata lain semakin besar skala proses produksi, biaya variabel semakin besar. Tetapi jika skala proses produksi relatif kecil maka biaya varibel yang di keluarkan menjadi relatif kecil juga.
      a.    Biaya Rata-rata Dan Marjinal     
      -       Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost/AFC) biaya tetap yang dibelanjakan untuk menghasilkan setiap unit produksi
       AFC =
      -       Biaya berubah rata- rata (Average Variabel Cost/AVC) biaya variabel yang dibelanjakan untuk menghasilkan setiap unit produksi
      AVC =
      -       Biaya total rata-rata (Average Cost/AC) keseluruhan biaya yang digunakan untuk menghasilkan setiap unit produksi.
      ATC =  
      Q = total Output
      -       Biaya Marginal (Marginal Cost / MC) Kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk menambah satu unit output.
      MC= TCΓÇô TCn-1
      Dimana MCadalah biaya marjinal produksi ke-n;
      TCn  adalah biaya total pada waktu jumlah produksi n;
      TCn-1 adalah biayatotal pada waktu jumlah produksi n-1.
      Atau dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
      MCn =  ΓêåTC/ΓêåQ
      Dimana MCadalah biaya marjinal produksi ke-n;
      ΓêåTC adalah pertambahan jumlah biaya total;
      ΓêåQ adalah pertambahan jumlah produksi.
      Akan tetapi pada umumnya pertambahan satu unit faktor produksi akan menambah beberapa unit produksi, sebagai contoh, perhatikan tabel 1.2





      1.    Jangka Waktu Panjang
      Dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor produksi atau input yang akan digunakannya. Oleh karena itu, biaya produksi tidak perlu lagi dibedakan antara biaya tetap dan biaya berubah. Di dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap, semua jenis biaya yang dikeluarkan merupakan biaya berubah. Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan bukan saja dapat menambah tenaga kerja tetapi juga dapat menambah jumlah mesin dan peralatan produksi lainnya, luas tanah yang digunakan (terutama dalam kegiatan pertanian) dan luasnya bangunan/pabrik yang digunakan. Sebagai akibatnya, dalam jangka panjang terdapat banyak kurva jangka pendek yang dapat dilukiskan.
      Jangka waktu panjang merupakan segala faktor produksi yang masih dapat berubah ΓÇô ubah. Jadi dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor froduksi atau infut yang akan digunakannya.
      Teori ΓÇô teori biaya jangka panjang diantaranya ialah :
      a.       Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan seluruh output dan bersifat Variabel.
      Biaya total sama dengan perubahan biaya Variabel
      LTC=ΓêåLVC
      LTC= biaya total jangka panjang (Long Run Total Cost)
      ΓêåLVC= Perubahan Biaya Variabel jangka panjang
      b.      Biaya Marjinal jangka panjang 
      Tambahan biaya karena menambah produksi sebanyak 1 unit. Perubahan biaya total sama dengan perubahan biaya variable. Maka, LMC=ΓêåLTC/ΓêåQ
      Dengan LMC= Biaya marjinal jangka panjang (Long Run Marjinal Cost)
      ΓêåLTC= Perubahan Biaya Total jangka Panjang
      ΓêåQ= Perubahan Output
      c.       Biaya Rata ΓÇô rata 
      Biaya total dibagi Jumlah Output
      LRAC=LTC/Q
      Dengan LRAC=Biaya Rata ΓÇô Rata Jangka panjang (Long Run Average Cost)
      Q = Jumlah output

      1.    Faktor- faktor Produksi
      Faktor produksi adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa. Faktor produksi yang bisa digunakan dalam proses produksi yaitu :
      a.    Sumber Daya Alam
      Sumberdaya alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat dimanfaatkan manusia/ persahaan untuk memenuhi kebutuhannya. Sumberdaya alam di sini meliputi segala sesuatu yang ada di dalam bumi.
      b.    Sumber Daya Manusia (Tenaga Kerja Manusia)
      Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia baik jasmani maupun rohani yang dicurahkan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jas.
      c.    Sumber Daya Modal
      Modal menurut pengertian ekonomi adalah barang atau hasil produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih lanjut.
      d.   Sumberdaya Pengusaha
      Sumberdaya ini disebut juga kewirausahaan. Pengusaha berperan mengatur dan mengkombinasikan faktor-faktor produksi dalam rangka meningkatkan kegunaan barang atau jasa secara efektif dan efisien.
      Faktor yang akan menentukan kapasitas produksi yang digunaan adalah tingkat produksi yang ingin dicapai.


      2.    Cara Meminimumkan Biaya
      Dalam analisis ekonomi kapasitas pabrik digambarkan oleh kurva biaya total rata-rata atau Average Cost (AC). Peminimuman biaya jangka panjang tergantung kepada 2 faktor berikut :
      a.       Tingkat produksi yang ingin dicapai
      b.      Sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia
      Faktor yang akan menentukan kapasitas produksi yang digunaan adalah tingkat produksi yang ingin dicapai.

      Untuk Lebih jauh lagi silahkan anda buka Link (materi ajar buku Parkin)  sebagai berikut: 
      https://drive.google.com/file/d/1XOhfMBlp3ZxmydUzkuK8jyskAtmvu7v_/view?usp=sharing



    • Market structure atau struktur pasar mengacu pada karakteristik organisasi pasar yang menentukan perilaku perusahaan dalam suatu industri. Ini menentukan sifat persaingan dan harga dan memiliki implikasi terhadap pangsa pasar dan keuntungan yang didapat perusahaan.

      Struktur pasar penting karena mempengaruhi hasil pasar, terutama dalam hal keuntungan. Ini mempengaruhi peluang, motivasi, dan keputusan strategis pelaku ekonomi yang berpartisipasi di pasar. Perusahaan menganalisisnya untuk menjelaskan dan memprediksi hasil pasar, terutama laba. Bagi pemerintah, ia memberi tahu mereka cara mengatur pasar, memastikan persaingan yang adil, dan mengurangi dampak buruk persaingan tidak adil seperti kartel bagi perekonomian.

      Klasifikasi dan karakteristiknya

      Empat jenis struktur pasar adalah:

      1. Persaingan sempurna
      2. Persaingan monopolistik
      3. Oligopoli
      4. Monopoli

      Untuk klasifikasi yang lebih sempit, keempatnya digabungkan menjadi persaingan yang sempurna dan tidak sempurna. Persaingan yang tidak sempurna mencakup persaingan monopolistik, oligopolistik, dan monopolistik.

      Keempat pasar memiliki karakteristik yang berbeda dalam beberapa masalah, yaitu jumlah penjual, jenis produk, hambatan masuk dan keluar, dan harga.

      Pasar persaingan sempurna terdiri dari sejumlah besar pembeli dan penjual. Ukuran penjual relatif kecil dan sama, sehingga mereka tidak memiliki pengaruh di pasar. Mereka menawarkan produk yang homogen dan saling menggantikan dengan sempurna. Mereka juga mudah masuk dan keluar dari industri dalam menanggapi keuntungan industri.

      Penjual di pasar persaingan sempurna tidak memiliki kekuatan penetapan harga, sehingga tidak ada persaingan non-harga di pasar. Mereka menerima harga pasar sebagai harga jual produk mereka (price takers). Contoh yang mendekati persaingan sempurna adalah pasar valuta asing.

      Untuk lebih jelas lagi silahkan anda buka link sebagai berikut: 

      https://drive.google.com/file/d/0BwAKSbaq8okFTl8wSHNHNjdpYkE/view?usp=sharing

      Parkin (chapter 12-14) :

      1. Perfect Competition : https://drive.google.com/file/d/1j69o4GDJkHoMAdF2M1JScOex_RJHUhNe/view?usp=sharing

      2. Monopolihttps://drive.google.com/file/d/1lyRl_hytVlanHtYCVkHsDWjl0RJZ7FPT/view?usp=sharing

      3. Monopolistik : https://drive.google.com/file/d/1DmA0RYCWRPFZ-rLYz6Ih53V8xgzFHTpx/view?usp=sharing

      4. Oligopolihttps://drive.google.com/file/d/1r8lw2lEBJuKOPz7Y4zkcAWABhJegIWyM/view?usp=sharing


      Referensi:

      Keat, G. P., & Young, K. Ph.(2003). Managerial Economics.

      Parkin, M. (2016). Microeconomics (12th edn).

    • Untuk memahami konsep struktur pasar:

      1. Pasar Sempurna

      2. Pasar tidak sempurna: Monopoli, monopolistik, dan Oligopoli

    • 1. memahami konsep pasar persaingan sempurna dan bagaimana keuntungan dimaksimalkan

      2. mampu menjelaskan monopoli dan bagaimana ia menetapkan keluaran yang memaksimalkan keuntungannya; untuk mengukur dan menentukan sumber kekuatan monopoli

      3. memahami konsep persaingan monopolistik yang membantu kita untuk memahami persaingan dalam kehidupan efisiensi pasar sehari-hari

      4.  memahami konsep yang dapat menjelaskan persaingan ketika hanya dua atau segelintir perusahaan yang bersaing di pasar

    • Market structure atau struktur pasar mengacu pada karakteristik organisasi pasar yang menentukan perilaku perusahaan dalam suatu industri. Ini menentukan sifat persaingan dan harga dan memiliki implikasi terhadap pangsa pasar dan keuntungan yang didapat perusahaan.

      Struktur pasar penting karena mempengaruhi hasil pasar, terutama dalam hal keuntungan. Ini mempengaruhi peluang, motivasi, dan keputusan strategis pelaku ekonomi yang berpartisipasi di pasar. Perusahaan menganalisisnya untuk menjelaskan dan memprediksi hasil pasar, terutama laba. Bagi pemerintah, ia memberi tahu mereka cara mengatur pasar, memastikan persaingan yang adil, dan mengurangi dampak buruk persaingan tidak adil seperti kartel bagi perekonomian.

      Klasifikasi dan karakteristiknya

      Empat jenis struktur pasar adalah:

      1. Persaingan sempurna
      2. Persaingan monopolistik
      3. Oligopoli
      4. Monopoli

      Untuk klasifikasi yang lebih sempit, keempatnya digabungkan menjadi persaingan yang sempurna dan tidak sempurna. Persaingan yang tidak sempurna mencakup persaingan monopolistik, oligopolistik, dan monopolistik.

      Keempat pasar memiliki karakteristik yang berbeda dalam beberapa masalah, yaitu jumlah penjual, jenis produk, hambatan masuk dan keluar, dan harga.

      Pasar persaingan sempurna terdiri dari sejumlah besar pembeli dan penjual. Ukuran penjual relatif kecil dan sama, sehingga mereka tidak memiliki pengaruh di pasar. Mereka menawarkan produk yang homogen dan saling menggantikan dengan sempurna. Mereka juga mudah masuk dan keluar dari industri dalam menanggapi keuntungan industri.

      Penjual di pasar persaingan sempurna tidak memiliki kekuatan penetapan harga, sehingga tidak ada persaingan non-harga di pasar. Mereka menerima harga pasar sebagai harga jual produk mereka (price takers). Contoh yang mendekati persaingan sempurna adalah pasar valuta asing.

      Pasar persaingan monopolistik mirip dengan persaingan sempurna. Pasar terdiri dari sejumlah besar penjual dan pembeli. Hambatan untuk masuk dan keluar ada tetapi rendah. Yang membedakan persaingan sempurna dari persaingan monopolistik adalah jenis produk yang ditawarkan. Dalam persaingan monopolistik, setiap penjual menyediakan produk yang serupa, tetapi tidak identik. Perusahaan mencoba membedakan produk mereka dari pesaing melalui strategi non-harga seperti iklan. Oleh karena itu, produk-produk di pasar ini berfungsi sebagai pengganti yang dekat satu sama lain, tetapi bukan sebagai pengganti yang sempurna seperti dalam persaingan sempurna. Untuk alasan ini, perusahaan memiliki beberapa tingkat kekuatan harga dan bukan sebagai price taker.

      Dalam oligopoli, sejumlah kecil penjual beroperasi di pasar. Mereka bervariasi dalam ukuran dan mungkin menawarkan produk yang berbeda (misalnya, Apple dan Samsung) atau homogen (seperti minyak bumi). Biasanya, perusahaan membedakan produk mereka berdasarkan kualitas, fitur, pemasaran, dan strategi non-harga lainnya.

      Hambatan untuk masuk sangat tinggi, sehingga melindungi pasar dari tekanan persaingan. Penjual juga menikmati kekuatan pasar atas harga mereka sebagai akibat dari sedikit penjual dan hambatan masuk yang tinggi.

      Akhirnya, pasar monopoli terdiri dari satu penjual dan beberapa hingga banyak pembeli. Jika ada satu penjual dan satu pembeli, kita menyebutnya monopoli bilateral dan memiliki karakteristik yang berbeda dari monopoli.

      Seorang monopolis memiliki kekuatan harga yang besar karena tidak memiliki pengganti yang dekat dan hambatan masuk yang tinggi. Perusahaan juga menentukan jumlah output, harga, dan kualitas barang di pasar.

      Yang mana merupakan struktur pasar terbaik

      Secara teoritis, pasar persaingan sempurna adalah yang paling ideal. Itu karena hanya struktur pasar ini yang memungkinkan kita untuk mencapai alokasi ekonomi yang efisien. Pasar mengalokasikan sumber daya secara efisien. Semua produsen dan konsumen memiliki informasi lengkap dan simetris. Mereka berdagang tanpa menanggung biaya peralihan. 

      Namun, sulit untuk menemukan pasar yang benar-benar bersaing sempurna.

      Sebaliknya, monopoli dianggap sebagai pasar yang paling tidak ideal secara sosial, tetapi dalam beberapa kasus, itu dibutuhkan. Karena memiliki kekuatan pasar yang besar, perusahaan monopoli yang rasional akan memaksimalkan keuntungannya. Ia dapat membebankan harga tinggi dan menawarkan produk-produk berkualitas rendah (sehingga menghemat biaya produksi).

      Namun, monopoli diperlukan di beberapa pasar, seperti listrik dan utilitas. Biaya tetap yang sangat tinggi memerlukan output yang besar sehingga biaya rata-rata turun dan mencapai skala ekonomis. Itu, tentu saja, lebih cocok jika hanya ada satu produsen daripada beberapa produsen. Di pasar seperti ini, pemerintah biasanya mengintervensi dan mengaturnya, agar tidak merugikan konsumen dan produsen. Kita menyebut jenis monopoli ini sebagai monopoli alami.

      Bagaimana kita menentukan struktur pasar

      Kita perlu mempertimbangkan beberapa variabel untuk membedakan karakteristik dari empat struktur pasar di atas, termasuk:

      • Jumlah pembeli dan penjual
      • Jenis produk (homogen vs terdiferensiasi)
      • Tingkat substitusi produk
      • Hambatan untuk masuk dan keluar pasar
      • Harga
      • Biaya

      Mengamati pasar suatu produk dengan variabel-variabel itu membantu kita menentukan struktur pasar. Alat lain untuk mengidentifikasi pasar adalah dengan statistik:

      • Rasio konsentrasi pasar
      • Indeks Herfindahl ΓÇô Hirschman

      Kita menghitung rasio konsentrasi N-perusahaanN dengan menjumlahkan pangsa pasar perusahaan-perusahaan N terbesar di industri. Rasio konsentrasi 0% berarti persaingan sempurna, dan 100% menunjukkan monopoli (karena hanya ada satu perusahaan). Nilai 0% tidak mungkin; oleh karena itu, persaingan sempurna tidak mungkin terjadi di dunia nyata. 

      Rasio konsentrasi memiliki kerugian karena tidak memperhitungkan hambatan masuk. Itu juga tidak terpengaruh oleh merger di tingkat atas.

      Untuk mengatasi kelemahan dari efek merger, kita dapat menggunakan Indeks Herfindahl-Hirschman (HHI). Kita menghitung HHI dengan menambahkan kuadrat pangsa pasar dari masing-masing perusahaan di pasar. HHI sama dengan 1 untuk monopoli. Seperti rasio konsentrasi, HHI memiliki kelemahan karena tidak memperhitungkan hambatan masuk dan tidak mempertimbangkan elastisitas permintaan. Misalnya, ada lima perusahaan dalam suatu industri, masing-masing dengan pangsa pasar 30%, 25% , 20%, 15%, dan 10%. Kemudian rasio konsentrasi 4 perusahaan adalah 90% = 30% + 25% + 20% + 15%. Sementara itu, HHI adalah 2250 atau 22,5% = 30% 2 + 25% 2 + 20% 2 + 15% 2 + 10% 2 .



    • pasar persaingan sempurna adalah suatu pasar di mana jumlah penjual dan pembeli (konsumen) sangat banyak dan produk atau barang yang ditawarkan atau dijual sejenis atau serupa. Contoh barang yang dijual pada bentuk pasar ini adalah beras, gandum, batu bara dan kentang. Pasar persaingan sempurna merupakan pasar di mana penjual dan pembeli tidak dapat memengaruhi harga sehingga harga di pasar benar-benar merupakan hasil kesepakatan dan interaksi antara penawaran dan permintaan.

      Permintaan yang terbentuk mencerminkan keinginan konsumen, sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen. Dalam pasar persaingan sempurna, penjual dan pembeli sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memengaruhi harga pasar karena sudah ada ikatan batin bahwa antara penjual dan pembeli mengetahui struktur dan informasi yang ada di dalam pasar persaingan sempurna.

      Ciri-Ciri Pasar Persaingan Sempurna

      a. Banyak Penjual & Pembeli

      Adanya sifat ini, mengakibatkan perilaku penjual dan pembeli tidak dapat memengaruhi keadaan pasar, dengan kata lain mereka hanya sebagian kecil dari unsur pasar secara keseluruhan. Interaksi antara penjual dan pembeli dianggap sebagai pengikut harga (price taker) yang menyebabkan harga di pasar ini bersifat datum (harganya tetap berapapun jumlah barang yang dijual) karena mekanisme pasar yang menentukan harganya melalui interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran di masyarakat.

      b. Kebebasan untuk Membuka dan Menutup Perusahaan (Free Entry and Free Exit)

      Artinya adalah tidak terdapat suatu hambatan apabila suatu perusahaan ingin memulai sebuah bisnis baru jika dianggapnya menguntungkan dan menutup usahanya jika ternyata merugikan. Tidak seperti pasar lain yang mungkin ada keterikatan dalam membuka dan menutup pasar misalnya dengan adanya surat perjanjian. Dengan kata lain :

      • Perusahaan dapat keluar apabila mengalami kerugian pada saat produk yang dijual tidak dapat bersaing di dalam PPS atau tidak dapat memenuhi kriteria pasar.
      • Perusahaan dapat bertahan di pasar karena merasa mampu menjadi perusahaan penyedia produk dengan kualitas tinggi dengan harga yang sesuai pasar.

      c. Barang Bersifat Homogen

      Perusahaan menghasilkan barang di mana barang tersebut merupakan pengganti yang sempurna terhadap barang yang diproduksi oleh perusahaan lain dalam semua aspek sehingga produk identik sama atau tidak bisa dibedakan. Artinya sekalipun Anda membeli disatu perusahaan, kemungkinan besar kualitas dan kuantitasnya akan sama persis dengan perusahaan lain.

      d. Penjual & Pembeli Memiliki Pengetahuan yang Sempurna tentang Pasar

      Penjual dan pembeli sangat mengetahui betul tentang keadaan pasar dalam hal tingkat harga yang berlaku di pasar dan meliputi setiap perubahannya. Pengetahuan tentang keadaan ini yang mengakibatkan:

      • Semua sumber daya digunakan sepenuhnya untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal.
      • Tidak ada produsen yang menjual barang dangan harga yang lebih rendah dari harga pasar.
      • Tidak ada konsumen yang membeli barang dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar

      e. Mobilitas atau Perpindahan Sumber Ekonomi Cukup Sempurna

      Maksudnya adalah tidak ada kesulitan sedikit pun jika sumber daya atau faktor produksi ingin dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya karena pada dasarnya semua tempat produksi memiliki kesamaan baik dalam metode pembuatan hingga penjualannya kepada pembeli.

      f. Kebanyakan Perusahaan Kecil

      Pasar persaingan sempurna mengandung sebagian besar perusahaan kecil, relatif kecil dibandingkan dengan ukuran keseluruhan pasar. Hal Ini untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun perusahaan yang dapat melakukan kontrol pasar atas harga atau kuantitas. Jika satu perusahaan memutuskan untuk menggandakan outputnya atau berhenti memproduksi seluruhnya, pasar tidak terpengaruh. Harga tidak berubah dan tidak ada perubahan dalam kuantitas yang dipertukarkan.

      Kelebihan dari pasar persaingan sempurna adalah tidak adanya persaingan di dalam pasar karena barang yang dijual bersifat homogen. Hal ini juga berpengaruh dalam hal promosi. Penjual tidak perlu melakukan promosi yang besar-besaran karena barang yang dijual homogen. Selain itu, harga barang di dalam pasar persaingan sempurna juga cukup stabil. Tidak ada kenaikan ataupun penurunan drastis antara satu penjual dan penjual lain.

      Sayangnya pasar persaingan sempurna juga memiliki kekurangan. Pasar persaingan sempurna cukup minim inovasi. Selain itu karena barang yang dijual homogen, pembeli merasa kesulitan memilih barang atau jasa. Persaingan sempurna juga memberikan ongkos sosial dan distribusi pendapatan yang tidak merata.

      Pasar persaingan sempurna dapat menjadi wadah yang bagus bagi Anda yang memiliki bisnis produk atau jasa yang umum dilakukan oleh banyak orang. Kesuksesan bisnis dapat diperoleh di mana pun dan kapan pun asalkan Anda memiliki strategi yang matang, salah satunya dengan selalu melakukan pencatatan keuangan perusahaan di dalam laporan keuangan. Kini, Anda dapat membuat laporan keuangan dengan mudah menggunakan software akuntansi Jurnal. Jurnal adalah software akuntansi online yang dapat membantu Anda membuat laporan keuangan dengan mudah, cepat dan realtime. Temukan berbagai fitur menarik dari Jurnal di sini.

      Untuk lebih jelas anda bisa melihat pada PPT sebagai berikut:

      https://drive.google.com/file/d/1UXbDrJuaBTLU65YNTApVXrcFzTfs3Qk9/view?usp=sharing


      http://



    • Pasar monopoli adalah suatu bentuk pasar yang hanya memiliki satu penjual / produsen dengan banyak pembeli. Orang yang melakukan monopoli terhadap suatu pasar disebut sebagai monopolis. Karena hanya ada satu penjual di pasar maka monopolis bertindak sebagai penentu harga (price maker). Monopolis dapat menentukan harga dengan cara menambah atau mengurangi jumlah barang yang disediakan di pasar.

      Di Indonesia, contoh monopoli adalah perusahaan-perusahaan yang produksinya menguasai hajat hidup orang banyak, misalnya pertamina yang menguasai produksi dan distribusi minyak bumi, atau PLN yang merupakan penyedia listrik utama di negeri ini.

      contoh ciri ciri pasar monopoli


      Ciri-ciri pasar monopoli

      • Terdapat satu orang penjual dengan banyak pembeli di pasar. Karena sifatnya ini, pembeli tidak dapat beralih ke penjual lain meskipun merasa dirugikan dengan harga yang ditetapkan
      • Tidak terdapat barang pengganti yang dapat disediakan oleh pihak lain selain penjual yang ada di pasar tersebut
      • Terdapat hambatan dalam memasuki pasar bagi perusahaan baru. Hambatan yang ada dapat berupa undang-undang, teknologi mutakhir yang dimiliki, modal yang sangat besar dan lainnya
      • Penjual pada pasar monopoli dapat menentukan harga sesuai keinginannya karena tidak tersedianya barang substitusi dekat dari barang yang dijual
      • Kurva permintaan di pasar sama dengan kurva permintaan yang dihadapi perusahaan monopolis.

      Sumber monopoli

      Pasar monopoli dapat tercipta karena berbagai sebab, diantaranya:

      • Ditetapkan oleh hukum

      Di Indonesia, misalnya, telah diatur dalam undang-undang bahwa cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara.

      • Monopoli alamiah

      Monopoli yang tercipta dengan sendirinya, karena pasar yang ada tidak efisien untuk menampung lebih dari satu penjual

      • Monopoli dengan lisensi

      Tercipta karena adanya pihak yang mendaftarkan hak paten, hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual lainnya.

      Kelebihan pasar monopoli

      • Sifat barang yang tidak memiliki barang substitusi dekat membuat perusahaan monopolis tidak perlu menggelontorkan banyak uang untuk melakukan promosi dan iklan agar pembeli dapat membedakan produknya
      • Pada monopoli secara alamiah, tambahan penjual justru akan membuat produksi tidak dapat mencapai skala ekonomi (economies of scale) sehingga monopoli justru akan meningkatkan efisiensi dalam berproduksi.
      • Dengan monopoli pemerintah dapat menjaga sumber daya alam yang penting bagi masyarakat
      • Melindungi hak kekayaan individu sehingga semakin mendorong dilakukannya inovasi

      Kekurangan pasar monopoli

      • Karena produsen dapat menetapkan harga dengan mengurangi atau meningkatkan jumlah produksi, dimungkinkan produksi tidak dilakukan secara optimum dan efisien
      • Pembeli tidak dapat berpindah ke penjual lain meskipun harga yang ditetapkan dirasa mahal
      • Keuntungan terpusat di produsen karena konsumen tidak memiliki pilihan selain membeli dari produsen tersebut untuk memenuhi kebutuhannya

      Untuk lebih jelas lagi mari kita lihat pembahasan dalam PPT sebagai berikut: 

      https://drive.google.com/file/d/1lyRl_hytVlanHtYCVkHsDWjl0RJZ7FPT/view?usp=sharing

      http://

    • Pengertian pasar monopsoni adalah suatu kondisi yang mana suatu perusahaan atau bisnis atau individu menguasai penerimaan pasokan atau menjadi satu-satunya pembeli atas suatu produk barang atau jasa yang ada di suatu pasar komoditas.

      Pengertian lain dari pasar monopsoni adalah suatu bentuk pasar yang didalamnya hanya ada satu pembeli saja, yang biasanya berupa satu pelaku usaha, yang menjadi pembeli tunggal, sehingga mereka menguasai pasar komoditas.

      Pasar monopsoni adalah salah satu bentuk persaingan yang tidak sempurna, yang mana pasar tersebut belum terorganisir secara baik. Biasanya, kondisi pasar monopsoni ini terjadi di beberapa daerah perkebunan dan industri hewan potong ayam, sehingga posisi tawar menawar dalam harga bagi para petani sangatlah tidak wajar.

      Artinya, ada satu atau sekelompok pengusaha pada pasar ini yang menjadi pengendali pasar tersebut, yang membuat potensi persaingan menjadi kian tidak sehat.

      Karena pasar monopsoni hanya mempunyai satu pembeli dan beberapa penjual saja, maka para pedagang pada pasar tersebut hanya bisa bergantung pada satu pembeli tersebut. Hal ini terjadi karena beberapa alasan, seperti kondisi pasar yang kurang memadai, lokasi yang sulit dijangkau, tingginya biaya operasional, dll.

      Baca juga: Pengertian Ekspor dan Impor: Tujuan, Manfaat, dan Komoditasnya

      Faktor Terbentuknya Pasar Monopsoni

      Seperti yang sudah disinggung sedikit sebelumnya, bahwa pasar monopsoni biasa terjadi di daerah industri hewan potong atau perkebunan, yang mana para petani tidak memiliki hak dalam hal tawar menawar harga.

      Sementara itu, beberapa faktor yang bisa menyebabkan adanya pasar monopsoni adalah tidak adanya pembeli yang antusias di pasar tersebut, lokasi produsen yang sulit dijangkau, serta tingginya biaya operasional.

      Salah satu contoh dari adanya pasar monopsoni ini adalah pasar sayuran dan juga ternak sapi perah yang ada pada suatu daerah terpencil, dan juga sulit untuk disalurkan ke tempat lain untuk menjual produk tersebut ke konsumen. Sehingga membuat para petani dan peternak menjual produknya pada satu pembeli secara borongan atau dengan harga yang murah.

      Ciri-Ciri Pasar Monopsoni

      Seperti yang sudah sempat dibahas sebelumnya, bahwa pasar monopsoni adalah salah satu pasar persaingan yang tidak sempurna, yang mana di dalamnya belum bisa terorganisir secara baik. Ciri-ciri dari pasar ini adalah:

      1. Hanya Ada Satu Pembeli

      Karena hanya ada satu pembeli saja pada pasar monopsoni, maka pembeli tersebut pun memiliki keuntungan dari sisi harga dan juga kualitas produk

      Setiap produsen pada umumnya akan berada pada posisi menerima penawaran yang diajukan pembeli agar produknya tersebut bisa terjual, walau dengan harga yang cenderung murah. Para pembeli tersebut umumnya akan menjual kembali produk tersebut ke produsen dengan harga yang lebih mahal agar bisa mendapatkan keuntungan.

      2. Harga Ditentukan oleh Pembeli

      Pihak pembeli memiliki kuasa penuh atas harga yang ada di pasar tersebut. Sehingga, tidak jarang harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan apa yang para petani harapkan, namun mereka tetap akan menerimanya karena sulit untuk mendapatkan pembeli lain.

      Meskipun pembeli menguasai harga tersebut, namun tetap ada ketentuan dan juga aturan yang didalamnya harus bisa dipertimbangkan, seperti harus disesuaikan dengan harga pasaran yang ada.

      3. Produknya Adalah Bahan Mentah

      Umumnya, produk yang diperdagangkan pada pasar monopsoni adalah produk mentah yang mana pembeli tersebut nantinya akan menjual produk tersebut ke pihak lain.

      4. Pendapatan yang Tidak Merata

      Umumnya, pasar ini sering sekali tidak ada ketidakadilan, yang mana pihak produsen atau petani tidak mempunyai peran dalam hal menentukan harga dan akan sulit untuk berkembang karena produk yang mereka jual dibeli dengan harga murah.

      Sebaliknya, para pembeli akan mendapatkan keuntungan yang banyak dari kedua pihak, yaitu dari produsen atau petani dan dari konsumen yang membeli produk tersebut darinya.

      5. Sering Terjadi Perselisihan

      Perselisihan yang terjadi antara pihak pembeli dan penjual dalam pasar ini sudah dianggap hal yang biasa. Kondisi tersebut tentu saja terjadi karena harga yang diajukan oleh pihak pembeli sangat jauh dari harapan para penjual sehingga mereka merasa sangat dirugikan.

      Perselisihan juga bisa terjadi karena adanya pihak ketiga, seperti pihak pemerintah yang belum mengatur harga produk antar kedua belah pihak.

      Kelebihan dan Kekurangan Pasar Monopsoni

      Ada beberapa kelebihan dan kekurangan pasar monopsoni yang harus Anda ketahui, diantaranya adalah:

      1. Kelebihan Pasar Monopsoni

      • Kualitas Barang yang Terjamin

      Dalam pasar monopsoni, kekuasaan penuh dikendalikan oleh pihak pembeli. Untuk itu, para pedagang di dalamnya harus mampu memenuhi keperluan konsumen mereka, baik itu dari sisi kualitas ataupun dari harganya.

      Apabila kualitas produk yang pedangan jual ternyata rendah, maka pihak pembeli tidak akan mau membeli produk tersebut. Untuk itu, hal tersebut tentunya akan menimbulkan kerugian yang sangat besar untuk para pedagang, karena mereka akan kesulitan untuk menemukan pembeli lain.

      Pihak pembeli hanya akan mau mengambil produk barang yang berkualitas terbaik saja. Untuk itu, para pedagang harus bisa menjaga atau meningkatkan kualitas dari produknya.

      • Meningkatnya Kreativitas dan Adanya Inovasi Baru

      Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh pedagang jika ingin memperoleh keuntungan yang tinggi dengan biaya produksi yang rendah adalah dengan meningkatkan inovasinya pada bidang bisnis yang mereka kerjakan dan juga pada produk yang mereka mampu hasilkan.

      • Kemudahan Menentukan Harga

      Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan, yang menentukan harga produk pedagang adalah pihak pembeli. Untuk itu, para pembeli akan sangat mudah untuk menentukan harga di pasar monopsoni.

      Harga yang mereka tentukan juga tidak terikat oleh deflasi atau inflasi negara. Selain itu, para pembeli juga akan menetapkan harga yang sama untuk seluruh penjual di dalamnya.

      • Jalur Distribusi yang Lebih Lancar

      Pihak pembeli yang ada pada pasar monopsoni ini akan melakukan perdagangan dengan sistem borongan atau grosir. Untuk itu, jalur penjualan dalam hal perdagangan tidak akan bisa berkurang. Sementara itu, proses produksi akan terus berlangsung.

      2. Kelemahan Pasar Monopsoni

      • Tidak Adilnya Perilaku Pembeli

      Seringkali pihak pembeli mengajukan harga tanpa mempertimbangkan kondisi yang sedang dialami oleh pihak pedagang atau dalam kondisi ekonomi yang para pedagang alami.

      Hal tersebut terjadi karena mereka hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Contoh sederhananya, pembeli tidak ingin meningkatkan harga beli nya karena faktor inflasi, padahal proses produksi yang dilakukan penjual sangatlah mahal.

      • Pihak Pembeli Tidak Memperdulikan Penjual

      Kekuasaan yang sepenuhnya dipegang oleh pembeli seringkali mereka salah gunakan. Dengan adanya kekuasaan tersebut, mereka tidak wajib mendengarkan keluhan yang dialami oleh pihak pedagang, seperti dari sisi harga, proses produksi dan lamanya produksi.

      Hal tersebut pastinya akan merugikan pihak penjual, karena pembeli tersebut bersikap sangat egois saat membelanjakan keuntungan pribadinya.

      • Masalah Ekonomi Hanyalah Tanggungan Penjual Saja

      Pihak pembeli sangat jarang sekali mengalami masalah perekonomian dalam hal ini. Kenapa? Karena mereka mempunyai kemampuan untuk bisa membuat keputusan yang hanya menguntungkan dirinya saja.

      Itu artinya, pihak operator komersial yang ada di pasar ini harus mampu mengatasi berbagai kondisi ekonomi yang ada, seperti inflasi, deflasi, kekurangan bahan baku, kesulitan produksi, dan masalah lainnya.

      Larangan Kegiatan Pasar Monopsoni

      Larangan terkait kegiatan pasar monopsoni ini sebenarnya sudah diatur dalam UU Pasal 18 No. 5 Tahun 1999.

      Merujuk pada ayat 1 tersebut, apabila operator ekonomi atau kelompok operator ekonomi mempunyai 50% saham pada jenis tertentu pada produk barang atau layanan yang dikendalikan, maka operator tersebut harus dicurigai sebagai pemilik kendali atas tanda terima pengiriman atau menjadi satu-satunya pembeli pada pasar tersebut.

      Baca juga: Deregulasi Adalah : Pengertian, Alasan, Kelebihan dan Kekurangan Deregulasi

      Penutup

      Demikianlah penjelasan lengkap tentang pasar monopsoni. Berdasarkan penjelasan di atas, maka bisa kita simpulkan bahwa pasar monopsoni adalah pasar tidak sempurna yang memberikan paling banyak kerugian pada pihak penjual. Untuk itu, pihak pemerintah pun melarang adanya praktik pasar monopsoni ini di masyarakat.

      Nah, untuk itu, lakukanlah kegiatan jual beli di pasar sempurna, sehingga akan melahirkan keadilan bagi pihak pembeli dan penjual. Untuk Anda yang ingin lebih sukses melakukan kegiatan jual beli di pasar sempurna, Anda harus melakukan pencatatan keuangan yang lebih teratur dan tepat, agar manajemen keuangan Anda bisa tertata rapi.

      Untuk memahami lebih jauh silahkan anda unduh PPt sebagai berikut:

      https://drive.google.com/file/d/1DmA0RYCWRPFZ-rLYz6Ih53V8xgzFHTpx/view?usp=sharing

      http://


    • Pasar Oligopoli adalah pasar persaingan tidak sempurna. Disebut demikian karena di dalam pasar tersebut jumlah produsen dan pedagang tidak sebanding dengan jumlah pembeli atau konsumen.

      Untuk kelanggengan usaha pasar oligopoli aktivitas pemasaran dan promosi produk harus terus ditingkatkan. Ini untuk mencegah perpindahan konsumen ke produk yang lain yang bisa mengakibatkan omzet penjualan menurun.

      Salah satu bentuk produk yang masuk kategori pasar oligopoli adalah rokok. Di Indonesia, perokok aktif sangat banyak. Bahkan jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah perusahaan pembuat rokok yang ada.

      Karena itu, untuk menjaga agar konsumen tidak berpindah ke vapor atau produk lainnya, maka perusahaan rokok meningkatkan promosinya dalam bentuk melahirkan produk-produk rokok yang baru dengan harga dan rasa lebih disukai oleh konsumen.

      Jika dilihat dari pengertian ini, pasar jenis ini merupakan wadah transaksi jual beli produk yang memang tidak sempurna, tetapi persaingannya sangat ketat. Karena pihak produsen sama melancarkan tips dan trik untuk menjaga konsumen tetap bertahan. Termasuk dengan cara memainkan harga produk di pasaran.

      Baca juga : Mengetahui Pentingnya Pelatihan Karyawan dan 7 Tips Pelatihan Efektif

      Ciri-Ciri Pasar Oligopoli

      Pasar jenis ini memiliki karakteristik atau ciri-ciri tertentu. Ini yang membedakannya dengan jenis pasar yang lain. Berikut ciri-ciri pasar oligopoli yang dimaksud:

      1. Dijalankan Dua Produsen atau Lebih

      Ciri-ciri pasar oligopoli yang pertama adalah dijalankan dua produsen atau lebih. Sedangkan batas jumlahnya adalah kurang dari sepuluh produsen atau pihak penyedia barang.

      Karena ciri-ciri inilah pasar jenis ini disebut persaingan tidak sempurna disebabkan jumlah produsen yang menjual produk sangat sedikit. Tentu berbeda dengan produsen teknologi yang jumlahnya banyak sehingga persaingannya juga maksimal.

      Baca juga : Pasar Persaingan Sempurna

      2. Produk yang Dijual Homogen dan Saling Menggantikan

      Ciri-ciri pasar oligopoli yang kedua adalah produk yang dijual homogen dan bisa saling menggantikan. Salah satu contohnya adalah produk rokok. Yang mana produk yang dijual hanya satu rokok, tetapi variasi produknya banyak.

      Selain itu, rokok yang dianggap tidak laris di pasaran bisa digantikan oleh rokok yang lainnya. karena alasan inilah produk rokok disebut produk yang dipasarkan di pasar jenis ini.

      3. Kebijakan Produsen Utama Sebagai Acuan Produsen Lainnya

      Di dalam pasar oligopoli kebijakan produsen utama menjadi acuan produsen lainnya (produsen cabang). Oleh karena itu, pihak produsen cabang hanya menjalankan saja kebijakan tersebut.

      Yang termasuk ke dalam kebijakan produsen utama yang harus diikuti produsen lainnya adalah penarikan produk lama dan digantikan oleh produk yang baru. Termasuk juga pergantian fungsi, harga dan rasa dari produk.

      Baca juga : Bagaimana Cara Membangun Strategi Bisnis yang Benar dan Efektif?

      4. Harga Barang di Pasar Relatif Sama

      Ciri-ciri yang selanjutnya adalah harga barang di pasar relatif sama. Sekalipun ada perbedaan selisihnya tidak terlalu besar. Misal, harga sabun merek A di toko Intan harganya tidak akan jauh berbeda dengan harga sabun merek yang sama di Toko Barokah.

      Ini disebabkan oleh kebijakan naik turunnya harga ditentukan oleh produsen utama. Sehingga produsen yang di bawahnya akan menyesuaikan dengan harga-harga tersebut. Karena jumlah produsennya tidak terlalu banyak, tentu selisih harga yang muncul di pasaran juga tidak terlalu besar.

      5. Produsen Baru Kesulitan Masuk Pasar

      Produsen baru akan sangat kesulitan untuk memasuki pasar oligopoli. Karena produsen yang lama sudah eksis dengan cara memainkan harga agar konsumen tidak berpindah.

      Sedangkan produsen baru tentunya tidak akan bisa mengejar eksistensi tersebut. Memang perusahaan bisa memberikan harga murah, tetapi sebagai usaha baru tentu sangat riskan. Karena keuntungan yang didapatkan sangat kecil.

      Baca juga : Mengenal Lebih Jauh Berbagai Jenis Struktur Organisasi Perusahaan

      6. Membutuhkan Strategi Pemasaran yang Matang

      Ciri-ciri terakhir jenis pasar ini adalah membutuhkan strategi pemasaran yang matang. Karena produk yang dipasarkan homogen dengan jumlah produsen yang sedikit. Dikhawatirkan jika sosialisasi pasar tidak dilakukan dengan intensif, konsumen akan berpindah ke produk lain.

      Oleh sebab itu, promosi atau strategi marketing perlu untuk dijalankan dengan baik. Karena ini yang menentukan produk masih beredar atau malah tenggelam.

      Contoh-Contoh Pasar Oligopoli

      Setelah mengetahui pengertian dan ciri-ciri pasar oligopoli, maka berikut ini akan dijelaskan tentang contoh-contoh perusahaan yang bergerak di dalam jenis pasar ini yang semoga juga bisa menjadi pengetahuan.

      Sudah dijelaskan di muka kalau pasar jenis ini berisi produk homogen yang bisa saling menggantikan satu sama lain dan diproduksi secara besar-besaran oleh perusahaan yang jumlahnya tidak sampai 10 unit.

      Jika dilihat dari pengertian ini tentu contoh produk yang masuk kategori pasar jenis ini adalah perusahaan rokok. Ini dia contoh-contoh yang lainnya:

      1. Industri semen
      2. Industri kendaraan bermotor
      3. Rokok
      4. Layanan Telekomunikasi
      5. Jasa penerbangan

      Baca juga : Pasar Monopoli : Pengertian, Kelebihan, Kekurangan, Ciri, dan Contohnya

      Jenis-Jenis Pasar Oligopoli

      Selain memiliki ciri-ciri atau karakteristik tertentu pasar d juga terbagi menjadi beberapa jenis. Ini dia jenis-jenis pasar yang dimaksud:

      1. Pasar Oligopoli Murni (homogen)

      Jenis yang pertama adalah pasar  murni atau homogen. Maksudnya adalah produk yang dipasarkan hanya satu macam tetapi variasinya banyak alias beragam. Selain itu, jenis ini memiliki ciri-ciri perbedaan harga tidak terlalu signifikan.

      Oligopoli murni juga ada kecenderungan berpatokan pada satu produsen. Jika produsen ini menaikkan harga, maka produsen yang lainnya juga ikut melakukan hal yang sama.

      2. Pasar Oligopoli Terdiferensiasi

      Jenis yang selanjutnya adalah pasar terdiferensiasi. Ciri-cirinya adalah produsen tetap menjual produk homogen tetapi persoalan harganya tidak berpatokan kepada produsen yang lainnya.

      Sehingga ada kemungkinan produsen tidak menaikkan harga sekalipun produsen lain harga produknya sudah meningkat. Bisa juga sebaliknya, produsen menaikkan harga justru ketika produsen lain harganya masih stagnan.

      Baca juga : Manajemen Risiko: Pengertian, Komponen, Jenis, dan Contohnya pada Bisnis

      3. Pasar Oligopoli Non Kolusi

      Jenis yang ketiga adalah pasar  non kolusi. Jenis ini maksudnya adalah produsen yang akan memainkan harga tetapi dengan membaca perkembangan produsen lainnya sebagai pesaing usaha.

      Salah satu tujuan produsen mandiri semacam ini ialah, mencoba eksis dengan harga yang dimainkan sendiri setelah yakin produsen yang lain tidak akan mengikuti jejaknya. Biasanya produsen ini sudah mempelajari penyebab keputusan dinaikkannya harga produk atau sebaliknya.

      4. Pasar Oligopoli Kolusi

      Jenis pasar yang terakhir adalah pasar  kolusi. Maksudnya adalah kerjasama produsen dengan produsen lainnya untuk menaikkan harga bersama-sama atau membiarkannya stagnan.

      Ini merupakan kebalikan dari pasar oligopoli non kolusi yang mana setiap produsen mencari celah menaikkan atau menurunkan harga tanpa diketahui produsen yang lain.

      Kesimpulan

      Demikian penjelasan singkat tentang pengertian dan unsur lainnya terkait pasar oligopoli. Semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan untuk Anda semua. Jenis pasar ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Anda akan kesulitan untuk menembus pasar ini, namun jika Anda sudah masuk kedalam pasar ini maka Anda akan mendapat keuntungan besar dan stabil.

      Untuk Lebih jelas silahkan unduh PPT sbb: 

      https://drive.google.com/file/d/1r8lw2lEBJuKOPz7Y4zkcAWABhJegIWyM/view?usp=sharing


      http://

    • I. PPS 

      1. Dikethui Sebuah perusahaan monopoli menghadapi permintaan : Q = 18 - 2P dimana Q adalah jumlah barang yang diminta (unit). Monopolis memiliki biaya rata (AC) konstan   3 per unit.

      1)   Dari informasi di atas, turunkan persamaan-persamaan penerimaan rata (AR), penerimaan marjinal (MR) dan biaya marjinal (MC).

      2)   Berapa jumlah output yang harus diproduksi dan harga jual per unit untuk   mencapai laba maksimum. Hitung besarnya laba maksimum tersebut.

      3)   Berapa selisih harga dan output yang dihasilkan perusahaan dibanding dengan harga danoutput bila perusahaan beroperasi pada pasar persaingan sempurna.

                  Jawab

      1)  - Kurva penerimaan rata-rata perusahaan : sama dengan kurva permintaan perusahaan (AR=D).

      -   Kurva penerimaan marjinal (MR) :

      TR = P * Q                       MR = dTR/dQ            MR = 9 - Q

      Q = 18 ΓÇô 2P                      TR = (9 -1/2Q)*Q       AR = TR/Q

      P = 9 -1/2 Q                     TR = 9Q -1/2Q2              AR = 9Q ΓÇô 1/2Q2 = 9 ΓÇô 1/2Q

                                                                                                    Q

      Biaya Marginal (MC) = dTC/dQ

      Jika Biaya rata-rata (AC) = 3; maka TC = (AC)*Q = 3Q ├á MC = 3

      2)     Laba maks tercapai bila MR=MC maka 9 ΓÇô Q = 3 ├á Q = 6 (Jumlah output = 6 unit)

      Jika jumlah output 6, maka 6 = 18 ΓÇô 2P ├á P = 6 (harga jual per unit adalah 6)

      Besarnya laba maksimum = Q (P ΓÇô AC) = 6 (6 ΓÇô 3) = 18

      3)     Jika perusahaan beroperasi dalam pasar persaingan sempurna, laba maksimum tercapai bila D = AR = MC, atau 9 ΓÇô ┬╜ Q = 3 ├á ┬╜ Q = 6 ├á Q = 12 unit

      Jika Q = 12, maka 12 = 18 ΓÇô 2P ├á 2P = 6                              ├á P  = 3 / unit

      Jika perusahaan beroperasi dalam pasar persaingan sempurna:

      Output yang dihasilkan adalah 12 unit atau 2 kali jumlah yang dihasilkan bila per┬¡usahaan beroperasi dalam pasar monopoli.

      Harga jual per unit jika perusahaan beroperasi dalam persaingan sempurna (3/unit), jauh lebih murah dibanding harga jual per unit jika perusahaan beroperasi dalam pasar monopoli (6/unit), harga barang dalam pasar monopoli 2 kali lebih besar dari pasar persaingan sempurna.


      II. Monopoli 


      Price
      (dollars per pound)

      Quantity demanded
      (pounds per day)

      2,200

        5

      2,000

        6

      1,800

        7

      1,600

        8

      1,400

        9

      1,200

      10

      1.         Diketahui:

      1. Tabel dibawah menjelaskan skema permintaan untuk perusahaan berlian Dolly's Diamond Mines, sebuah monopoli harga tunggal.

      a. Hitunglah skema pendapatan total Dolly.

      b. Hitung jadwal pendapatan marjinalnya 

       

       

       

       

       

      Quantity produced
      (pounds per day)

      Total cost
      (dollars)

        5

        8,000

        6

        9,000

        7

      10,000

        8

      11,600

        9

      13,200

      10

      15,000

      2.         Diketahui Tambang Berlian Dolly dalam masalah 1 memiliki jadwal biaya total dalam tabel. Hitung tingkat yang memaksimalkan keuntungan dari

      a. Output

      b. Harga

      c. Keuntungan ekonomis

      d. Apakah DollyΓÇÖs Mines menggunakan sumber daya secara efisien? Jelaskan jawabanmu.




      Jawaban 

      Price
      (dollars
      per pound)

      Quantity demanded
      (pounds per day)

      Total revenue
      (dollars
      per day)

      Marginal revenue
      (dollars
      per pound)

      2,200

        5

      11,000

       

       

       

       

      1,000

      2,000

        6

      12,000

       

       

       

       

        600

      1,800

        7

      12,600

       

       

       

       

        200

      1,600

        8

      12,800

       

       

       

       

      −200

      1,400

        9

      12,600

       

       

       

       

      −600

      1,200

      10

      12,000

       

      1. a. Tabel di atas menunjukkan jadwal pendapatan total. Jadwal pendapatan total Dolly mencantumkan pendapatan total di setiap kuantitas yang terjual. Misalnya, Dolly's dapat menjual 10 pound seharga $ 1.200 per pon, yang memberikan pendapatan total $ 12.000 dengan kuantitas 10 pound.

      b. Tabel di atas menunjukkan jadwal pendapatan marjinal. Jadwal pendapatan marjinal Dolly mencantumkan pendapatan marjinal yang dihasilkan dari peningkatan jumlah yang terjual sebesar 1 pon. Misalnya, Dolly's dapat menjual 5 pound masing-masing seharga $ 2.200, yang merupakan pendapatan total $ 11.000 dengan jumlah 5 pound. Dolly's dapat menjual 6 pound masing-masing seharga $ 2.000, yang merupakan $ 12.000 dari total pendapatan dengan kuantitas 6 pound. Dengan meningkatkan kuantitas yang terjual dari 5 pound menjadi 6 pound, pendapatan marjinal adalah $ 1.000 per pound ($ 12.000 dikurangi $ 11.000).

      2. a. Output memaksimalkan keuntungan Dolly adalah 5,5 pound. Biaya marjinal untuk meningkatkan kuantitas dari 5 pound menjadi 6 pound adalah $ 1.000 per pon ($ 9.000 dikurangi $ 8.000). Artinya, biaya marjinal 5,5 pound adalah $ 1.000 per pon. Pendapatan marjinal dari peningkatan kuantitas yang terjual dari 5 pound menjadi 6 pound adalah $ 1.000 ($ 12.000 dikurangi $ 11.000). Jadi, pendapatan marjinal dari 5,5 pound adalah $ 1.000 per pon. Keuntungan dimaksimalkan ketika kuantitas yang diproduksi sedemikian rupa sehingga biaya marjinal sama dengan pendapatan marjinal. Output yang memaksimalkan keuntungan adalah 5,5 pound.

      b. Harga memaksimalkan keuntungan Dolly adalah $ 2.100 per pon. Harga yang memaksimalkan keuntungan adalah harga tertinggi yang dapat dijual Dolly's dengan output yang memaksimalkan keuntungan sebesar 5,5 pound. Dolly's dapat menjual 5 pound seharga $ 2.200 dan 6 pound seharga $ 2.000, sehingga dapat menjual 5,5 pound seharga $ 2.100 per pound.

      c. Keuntungan ekonomi sama dengan pendapatan total dikurangi biaya total. Pendapatan total sama dengan harga ($ 2.100 per pon) dikalikan dengan kuantitas (5,5 pound), yaitu $ 11.550. Total biaya produksi 5 pound adalah $ 8.000 dan total biaya produksi 6 pound adalah $ 9.000, jadi total biaya produksi 5,5 pound adalah $ 8.500. Jadi, keuntungan ekonomi Dolly sama dengan $ 11.550 dikurangi $ 8.500, yaitu $ 3.050.

      d. Dolly tidak efisien. Dolly's menetapkan harga $ 2.100 per pon, sehingga konsumen menerima keuntungan marjinal sebesar $ 2.100 per pon. Biaya marjinal Dolly adalah $ 1.000 per pon. Artinya, keuntungan marjinal sebesar $ 2.100 per pon melebihi biaya marjinal Dolly.


      III. OLOGOPOLI (Studi Kasus) 

      Boeing dan Airbus Memprediksi Lonjakan Penjualan di Asia

       Diketahui:

      Maskapai di wilayah Asia-Pasifik muncul sebagai pelanggan terbesar bagi pembuat pesawat Boeing dan Airbus. Kedua perusahaan memperkirakan bahwa selama 20 tahun ke depan, lebih dari 8.000 pesawat senilai hingga $ 1,2 triliun akan dijual di sana.

      Sumber: BBC News, 3 Februari 2010

      Pertanyaan: 

       a.  Jenis pasar apa pasar pesawat tersebut?

      Jawaban

      Hanya ada dua penjual pesawat besar, jadi pasar ini adalah oligopoli.

      b. Menganggap persaingan antara Boeing dan Airbus sebagai permainan, apa saja strategi dan imbalannya?

      Jawaban:

      Boeing dan Airbus sedang memainkan permainan duopoli. Mereka dapat menetapkan harga rendah atau harga tinggi. Jika Boeing dan Airbus menetapkan harga rendah, mereka berdua akan mendapat untung lebih kecil, bahkan mungkin untung ekonomi nol. Jika sama-sama mematok harga tinggi, maka keduanya akan menghasilkan keuntungan ekonomi yang besar. Namun jika yang satu menetapkan harga rendah dan yang lain menetapkan harga tinggi, maka yang satu menetapkan harga rendah akan mendapat untung ekonomi yang sangat besar dan yang harga tinggi akan mengalami kerugian ekonomi.

       c. Tetapkan matriks pembayaran hipotetis untuk game yang telah Anda jelaskan di bagian (b). Apa keseimbangan dari permainan tersebut?

      Jawaban:

       

       Gambar diatas menjelaskan Matriks pembayaran ada di sebelah kanan. Di dalamnya, keuntungannya mencapai jutaan dolar. Ekuilibrium adalah ekuilibrium dilema tahanan, yaitu, kedua perusahaan menetapkan harga rendah dan sama-sama menghasilkan keuntungan ekonomi nol.

       d. Menurut Anda, apakah pasar pesawat besar efisien? Jelaskan dan ilustrasikan jawaban Anda.

      Jawaban:

       

      Pasar pesawat besar mungkin tidak efisien. Efisien hanya jika Boeing dan Airbus bersaing satu sama lain seolah-olah mereka bersaing sempurna. Tetapi hasil ini tidak mungkin. Yang lebih mungkin adalah hasil di mana Boeing dan Airbus bersama-sama menjalankan monopoli atau, jika tidak tepat sebagai monopoli, mendekati status itu. Hasil ini sangat mungkin terjadi karena Boeing dan Airbus akan memainkan permainan berulang di mana mereka (berpotensi) bersaing satu sama lain selama lebih dari dua dekade. Dalam situasi tersebut, permainan yang berulang membuat mereka lebih mungkin mencapai ekuilibrium koperasi di mana mereka beroperasi bersama sebagai monopoli.

      Gambar 15.3 menunjukkan kisaran hasil. Jika kedua perusahaan bersaing satu sama lain, ekuilibriumnya adalah ekuilibrium kompetitif, di mana mereka menjual total 300 pesawat per tahun dengan harga $ 15 juta per pesawat. Hasil ini adalah hasil yang efisien. Namun jika Boeing dan Airbus mencapai keseimbangan kerja sama di mana mereka bertindak bersama untuk mencapai hasil monopoli, maka total 200 pesawat per tahun dijual dan harganya $ 20 juta per pesawat. Dalam hal ini hasilnya tidak efisien dan hasil kerugian bobot mati.

      IV. Monopolistik 


      Gambar 14.1 menunjukkan situasi yang dihadapi Well Done, Inc., seorang produsen saus steak. 

      a. Berapa kuantitas yang diproduksi dengan baik?

      b. Apa biayanya?

      c. Berapa keuntungan yang dihasilkan Well Done?

      d. Jika semua perusahaan saus steak memiliki kurva biaya yang identik dan menghadapi kurva permintaan yang identik, apa yang terjadi pada jumlah perusahaan di pasar dalam jangka panjang?

      e. Dalam jangka panjang, apakah harga saus steak akan naik, turun, atau tidak berubah?

       Solusi :

      a. Untuk memaksimalkan laba, Well Done menghasilkan kuantitas di mana pendapatan marjinal sama dengan biaya marjinal. Well Done menghasilkan 200 botol seminggu.

      b. Untuk memaksimalkan keuntungan, Well Done mengenakan harga tertinggi yang memungkinkannya menjual 200 botol saus steak yang diproduksi. Harga ini dibaca dari kurva permintaan dan menjadi $ 4 per botol.

      c. Keuntungan ekonomi sama dengan pendapatan total dikurangi biaya total. Harganya $ 4 dan jumlah yang terjual 200 botol, jadi total pendapatan $ 800. Biaya total rata-rata adalah $ 3, jadi biaya total sama dengan $ 600. Keuntungan ekonomi sama dengan $ 800 dikurangi $ 600, jadi Well Done menghasilkan keuntungan ekonomi $ 200 seminggu

      d. Perusahaan menghasilkan keuntungan ekonomi sehingga perusahaan baru akan memasuki pasar. Dalam jangka panjang jumlah perusahaan lebih banyak daripada jangka pendek.

      e. Dalam jangka panjang jumlah perusahaan meningkat sehingga permintaan masing-masing perusahaan lebih sedikit dibandingkan dalam jangka pendek. Dengan permintaan yang lebih rendah harga saus steak lebih rendah dalam jangka panjang.

    • Apa Itu Ekonomi Makro?

      Ekonomi makro adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Ilmu ekonomi yang satu ini khusus mempelajari ekonomi secara skala besar dan keseluruhan. Ekonomi makro sering digunakan untuk menganalisa dan merancang target-target kebijaksanaan yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi, tenaga kerja dan keseimbangan neraca pembayaran yang berkesinambungan.

      Dikutip dari buku Konsep Dasar Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi (2018) karya Thamrin, ekonomi makro adalah sebuah ilmu ekonomi yang mempelajari perekonomian sebuah negara secara komprehensif. Ekonomi jenis ini juga bisa menganalisis tentang produsen secara keseluruhan serta konsumen dalam pengalokasian pendapatan dalam membeli barang/jasa. 

      Baca juga: Apa Itu Kredit Mikro dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

      Tujuan Ekonomi Makro

      pahami lebih dalam tentang ekonomi makro

      Ekonomi makro memiliki beberapa tujuan yang juga berdampak untuk suatu negara. Setiap tujuan dimaksudkan untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam suatu negara. Berikut beberapa tujuannya:

      1. Menciptakan Lapangan Pekerjaan

      Angka pengangguran yang tinggi di sebuah negara akan berdampak buruk untuk negara tersebut. Pengangguran yang tinggi akan menjadi beban ekonomi negara. Kebijakan ekonomi makro mengatur agar lapangan pekerjaan tercipta sehingga mampu menekan angka pengangguran dalam suatu negara.

      2. Produksi dalam Negeri yang Tinggi

      Tinggi atau rendah suatu produksi dalam negeri tergantung ada investasi yang masuk ke dalam negara tersebut. Agar bisa meningkatkan produksi dalam negeri, suatu negara harus memiliki investasi yang tinggi serta meningkatkan produktivitas masyarakat. Dengan meningkatnya produktivitas, pendapatan juga akan meningkat dan produksi dalam negeri bisa ditingkatkan dengan baik.

      3. Ekonomi yang Stabil

      Perekonomian yang stabil dalam suatu negara termasuk dalam tingkat pendapatan, lapangan pekerjaan, dan juga kestabilan harga barang dalam negara tersebut. Ekonomu makro memiliki tujuan agar harga barang dan juga lapangan pekerjaan selalu stabil. Hal ini juga akan berdampak baik untuk suatu negara.

      4. Neraca Pembayaran Seimbang

      Setiap negara pasti melakukan transaksi dengan negara lain. Hal ini juga bisa mempengaruhi ekonomi suatu negara. Maka dari itu neraca pembayaran juga harus seimbang. Beberapa hal penting yang perlu diketahui dalam neraca pembayaran adalah neraca perdagangan, transaksi berjalan, dan lalu lintas moneter.

      5. Pendapatan Penduduk yang Merata

      Salah satu tujuan dari ekonomi makro adalah agar suatu negara memiliki pendapatan penduduk yang saling merata. Pendapatan tersebut didapat baik dari pengelolaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia dalam negara tersebut. Dengan pendapatan yang merata, maka kehidupan penduduk akan menjadi semakin baik. Sehingga kualitas manusia dalam suatu negara akan menjadi semakin baik juga.

      Ruang Lingkup Ekonomi Makro

      Terdapat 3 ruang lingkup ekonomi makro, yaitu:

      1. Penentuan Tingkat Kegiatan Perekonomian Negara

      Dalam ekonomi makro dijelaskan tentang seberapa jauh perekonomian suatu negara dapat menghasilkan suatu produk dan jasa. Ruang lingkup ekonomi makro ini memiliki beberapa jenis pengeluaran yaitu:
      ΓÇô pengeluaran konsumsi rumah tangga.
      ΓÇô pengeluaran pemerintah
      ΓÇô pengeluaran perusahaan atau investasi
      ΓÇô ekspor dan impor

      2. Kebijakan Pemerintah

      Ada 2 jenis kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan ekonomi makro, yaitu:
      ΓÇô kebijakan moneter
      Merupakan kebijakan pemerintah yang dilakukan untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar di masyarakat dalam suatu negara.
      ΓÇô kebijakan fiskal.
      Merupakan langkah pemerintah untuk mengubah struktur dan jumlah pajak yang bertujuan mempengaruhi kegiatan ekonomi suatu negara.

      3. Pengeluaran Agregat

      Jika pengeluaran agregat tidak mencapai tingkat yang ideal,berarti sedang terjadi permasalahan ekonomi dalam suatu negara. Untuk menstabilkan pengeluaran agregat, pemerintah bisa menekan laju inflasi dan menciptakan lapangan pekerjaan dalam suatu negara.

      Baca juga: 3 Permasalahan Ekonomi Modern untuk Peningkatan Bisnis

      Kebijakan dalam Ekonomi Makro

      Ekonomi makro membahas hal yang terkait dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, tingkat pengangguran dan hal yang terkait dengan inflasi dan deflasi. Ekonomi makro memiliki beberapa kebijakan dari yang diantaranya seperti:

      1.Kebijakan Fiskal

      Kebijakan fiskal mengatur pendapatan dan pengeluaran dari suatu negara. Pendapatan negara dapat dihasilkan dari pemungutan pajak yang dilakukan oleh setiap warga negara. Selain itu, pendapatan negara juga dapat dihasilkan dari hal diluar dari non-pajak seperti denda, lelang, gratifikasi dan pemberian dari negara lainnya.

      Sedangkan untuk pengeluaran biasanya mengenai kegiatan impor barang dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam negeri. Kebutuhan negeri yang dibutuhkan biasanya kebutuhan yang memang sulit untuk diproduksi oleh negara. Sehingga akhirnya negara tersebut melakukan impor barang.

      2. Kebijakan Moneter

      Kebijakan moneter adalah kebijakan yang menjadi pembeda dari ekonomi mikro dan makro. Kebijakan yang berfungsi mengukur sebanyak apa dana yang dikeluarkan oleh bank sentral yang ada di Indonesia terhadap masyarakat. Jika terjadi perputaran uang yang semakin banyak tentunya, akan mempengaruhi perputaran uang yang semakin banyak dan akan berpengaruh pada tingkat inflasi sehingga menyebabkan harga suatu produk menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, apabila perputaran uang semakin kecil maka harga dari suatu produk yang ditawarkan relatif lebih murah atau yang sering disebut dengan deflasi.

      Kebijakan inilah yang memiliki peranan cukup penting dalam kehidupan masyarakat untuk pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Karenanya, dengan mempelajari ilmu ekonomi tentu akan sangat membantu dalam kegiatan sehari-hari.

      3. Kebijakan Segi Penawaran

      Kebijakan segi penawaran berfungsi menyeimbangkan neraca keuangan dalam sebuah perusahaan maupun negara. Wajar jika banyak perusahaan membutuhkan orang yang ahli dalam bidang ilmu ekonomi. Dengan ilmu tersebut, diharapkan segala pengelolaan keuangan terutama yang berkaitan dengan produksi dapat ditekan seoptimal mungkin dan tetap dapat menyeimbangkan kualitas produk, sehingga produk yang dihasilkan dapat lebih berkualitas.

      http://
      http://
      http://

    • Pertumbuhan ekonomi adalah suatu keadaan adanya peningkatan pendapatan yang terjadi karena peningkatan produksi pada barang dan jasa. Adanya peningkatan pendapatan ini tidak berkaitan dengan adanya peningkatan jumlah penduduk, dan bisa dinilai dari peningkatan output, teknologi yang makin berkembang, dan inovasi pada bidang sosial.

      Pertumbuhan ekonomi juga memiliki arti suatu proses perubahan ekonomi yang terjadi pada perekonomian negara dalam kurun waktu tertentu menuju keadaan ekonomi yang lebih baik. Umumnya, pertumbuhan ekonomi ini identik dengan kenaikan kapasitas produksi yang direalisasikan dengan adanya kenaikan pendapatan nasional.

      Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi

      Jika sebelumnya kita sudah memahami pengertian pertumbuhan ekonomi, lengkap dengan ciri-cirinya, maka saat ini kita harus mengetahui apa saja faktor yang mampu mempengaruhinya. Setidaknya, terdapat lima faktor pertumbuhan ekonomi yang mampu mempengaruhi suatu bisnis, faktor-faktor tersebut adalah

      1. Sumber Daya Manusia

      Sumber Daya Manusia atau yang biasa disingkat menjadi SDM adalah suatu indikator perkembangan ekonomi pada suatu bangsa. Faktor SDM mampu mempercepat dan bahkan mampu memperlambat proses pertumbuhan ekonomi. Contohnya adalah saat suatu negara mempunyai jumlah pengangguran yang meningkat terhadap penduduknya, maka negara tersebut pun dinilai mengalami kemunduran.

      Adanya penurunan kualitas pada sumber daya manusia ini melahirkan peningkatan jumlah pengangguran yang kemudian diperburuk dengan semakin menurunnya jumlah lapangan pekerjaan. Peningkatan jumlah pengangguran ini mampu memicu tingginya angka kemiskinan di negara tersebut.

      Nantinya, hal ini akan berpengaruh pada permintaan masyarakat atas barang dan jasa dari suatu perusahaan. Umumnya, para masyarakat akan lebih menghemat pendapatannya dan hanya akan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja.

      2. Sumber Daya Alam

      Seperti yang sudah kita ketahui bahwa negara kita adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Meskipun begitu, kekayaan SDA yang kita miliki tidak diiringi dengan kualitas peningkatan SDM yang baik dalam mengelolanya. Hasilnya, negara kita menjadi sering melakukan ekspor barang mentah dan mengimpornya kembali dengan barang yang sudah jadi dengan harga yang lebih mahal.

      Adanya keterbatasan dalam mengelola sumber daya alam ini mewajibkan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolaan barang mentah kerap kali mengimpor bahan mentahnya dari luar negeri, sehingga membuat produk perusahaan menjadi lebih mahal daripada saat harus memperolehnya dari luar negeri.

      Kondisi inilah yang kerap kali menjadi dilema di negara Indonesia. Masih banyak produk-produk dalam negeri yang ternyata lebih mahal, sehingga membuat permintaannya menjadi menurun.

      3. Kemajuan IPTEK

      Suatu negara akan dinilai maju dalam hal ekonomi jika mengalami peningkatan terkait pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Hal yang sama berlaku untuk perusahaan yang mengutamakan teknologi untuk melahirkan barang atau jasa yang lebih efisien.

      Adanya pemanfaatan teknologi yang sudah maju dinilai bahwa perusahaan tersebut bisa melahirkan produk yang lebih cepat serta efisien. Contohnya saja teknologi dalam hal peralatan produksi, jika digunakan secara tepat, maka akan membantu mengurangi penyerapan tenaga kerja sehingga anggaran tenaga kerja bisa dipangkas dan digunakan untuk keperluan lain.

      Namun, penerapan teknologi ini tentunya masih jarang atau sulit diterapkan untuk perusahaan yang sedang berkembang, karena alat berteknologi tinggi tersebut umumnya sangat mahal dan harus diimpor dari luar negeri.

      4. Tingkat Inflasi

      Salah satu gejala yang mampu memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi adalah inflasi. Inflasi adalah suatu kondisi laju peredaran mata uang yang tidak terkendali.

      Terjadinya peningkatan harga sangat berdampak pada produktivitas bahan baku karena membuat peningkatan biaya operasional perusahaan dalam hal memasok bahan mentah. Selain itu, inflasi juga akan berdampak pada gaji karyawan.

      Setidaknya, terdapat dua jenis inflasi yang mampu memberikan dampak langsung pada bisnis suatu perusahaan, yaitu cost-push inflation dan demand-pull inflationCost-push inflation adalah adanya kenaikan pada harga produk karena adanya peningkatan permintaan, sedangkan demand-pull inflation adalah adanya kenaikan permintaan masyarakat yang membuat harga produk barang dan jasa menjadi naik.

      5. Tingkat Suku Bunga

      Tingkat suku bunga yang ada pada suatu negara juga mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan tersebut cenderung akan membuat tingkat suku bunga meningkat karena adanya peningkatan pendapatan yang terjadi di masyarakat.

      Suku bunga yang tinggi akan berpengaruh buruk pada suatu perusahaan yang biasanya digunakan untuk modal pinjaman dalam meningkatkan kualitas perusahaan.

      Selain itu, terjadinya suku bunga yang tinggi juga akan berpengaruh pada penurunan investasi, dan hal ini tentu akan berdampak buruk pada saham perusahaan. Kenapa? Karena umumnya pihak investor lebih menyukai tabungan konvensional daripada harus menginvestasikan uangnya ke perusahaan.

      Pengukuran Pertumbuhan Ekonomi

      Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi akan dinilai menggunakan perbandingan pada komponen yang mampu mewakili keadaan ekonomi suatu negara terhadap periode atau tahun sebelumnya. Terdapat dua komponen yang bisa dimanfaatkan untuk menilai atau mengukur pertumbuhan ekonomi pada suatu negara, yaitu:

      1. Produk Nasional Bruto (Gross National Product)

      Produk Nasional Bruto yang sering disingkat menjadi PNB atau dalam bahasa Inggris nya adalah Gross National Product yang disingkat GNP, adalah pendapatan yang diperoleh negara dalam kurun waktu tertentu berdasarkan pendapatan yang diperoleh oleh masyarakatnya.

      Cara menghitung pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan PNB adalah dengan melakukan perbandingan PNB pada periode berlangsung dengan periode sebelumnya.

      2. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)

      Cara perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) tentu berbeda dengan PNB. Jika PNB menghitung berdasarkan penghasilan yang diperoleh oleh masyarakat dimanapun mereka berada, maka perhitungan PDB diukur dari pendapatan negara berdasarkan teritorialnya.

      Rumus menghitung pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan PDB sama seperti PNB, yang mana membandingkan PDB pada periode berlangsung dengan periode sebelumnya.

      http://


      http://


    • Pendapatan per kapita atau Pendapatan Per Kapita (PPK) merupakan cara untuk mengetahui tingkat kesejahteraan penduduk di sebuah negara. Karena hal tersebut dihasilkan dari pendapatan nasional yang dibagi dengan jumlah penduduk.

      Maka dari itu, lewat artikel ini kami akan mengulas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pendapatan serta cara menghitungnya. Pada saat kamu mengetahui cara menghitung pendapatan per kapita, setidaknya kamu bisa melihat gambaran kondisi ekonomi di negara ini pada masa mendatang. 

      Pengertian 

      Pendapatan per kapita adalah standar untuk melihat kemakmuran di sebuah negara. Sering dikenal juga dengan sebutan pendapatan rata-rata penduduk di sebuah negara. Pendapatan rata-rata penduduk ini juga merupakan gambaran Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.

      Maka dari itu, antara pendapatan nasional suatu negara maupun per kapita keduanya mempunyai hubungan yang kuat. Produk Domestik Bruto juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mendapatkan pendapatan nasional.

      Dalam urusan ekonomi. Produk Domestik Bruto adalah nilai market seluruh barang serta jasa yang dibuat suatu negara pada kurun waktu tertentu. Dengan demikian, Produk Domestik Bruto juga mempunyai ikatan erat dengan pendapatan per kapita. 

      Mengapa Pendapatan Rata-rata Penduduk Perlu Dihitung? 

      Setelah kami jelaskan pengertiannya, kini kamu juga perlu mengetahui mengapa pendapatan rata-rata penduduk perlu dihitung. Alasan utamanya, karena hal itu memiliki peranan yang penting sebagai hitungan standar perekonomian. Tanpa mengetahui pendapatan rata-rata penduduk, maka sulit untuk dapat mengetahui tolak ukur perekonomian negara.

      Apabila telah mengetahui pendapatan rata-rata penduduk. Maka tolak ukur kesejahteraan dan pembangunan di suatu negara dapat diketahui. Dengan mengenal sistem menghitung pendapatan per kapita. Kamu bakal dapat menyaksikan gambaran pendapatan rata-rata yang didapat oleh tiap-tiap orang di sebuah negara.

      Hal tersebut tidak akan mempersulit proses persiapan. Terutama dalam bidang ekonomi serta membangun suatu negara untuk maju dan berkembang pesat. Selain itu, apabila suatu negara mempunyai angka pendapatan per kapita yang tinggi. Maka bakal dilihat sebagai negara yang sejahtera di mata negara-negara lain di dunia.

      Dengan demikian, hal itu bakal menaikkan rasa bangga suatu negara. Kebanggan tersebut bakal meningkatkan rasa bahagia yang bakal berimbas pada kemakmuran hidup warganya. Itulah sebabnya menghitung pendapatan rata-rata penduduk ini harus dilakukan. Khususnya untuk negara-negara berkembang. Supaya pertumbuhannya dapat terdeteksi dengan baik. 

      Dapat dibayangkan jika pertumbuhan ekonomi penduduk suatu negara tidak dapat termonitor dengan baik. Maka negara akan kesulitan untuk memajukan kesejahteraan warganya. Karena tidak dapat melihat pendapatan rata-rata penduduknya. 

      Setelah mengetahui betapa pentingnya menghitung pendapatan negara dengan jumlah penduduk rata-rata, maka kami akan menjelaskan cara menghitungnya. 

      Cara Menghitung

      Hal vital yang perlu kamu ketahui adalah pendapatan rata-rata penduduk tersebut dapat dihitung dengan 2 cara. Di bawah ini merupakan cara yang seringkali dipakai untuk menghitungnya. 

      1. Pertama, dari yang telah berlaku atau dikenal juga dengan pendapatan per kapita nominal.Kedua, dari harga tetap (konstan) yang diambil berdasarkan tahun acuan atau dikenal juga dengan pendapatan per kapita riil. 

      Sebelumnya sudah kita ketahui. Jika pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata dari penduduk. Pendapatan rata-rata tersebut dapat diketahui dengan cara membagi pendapatan nasional dengan jumlah penduduk di sebuah negara. 

      Pendapatan nasional yang diarahkan di sini yaitu Produk Nasional Bruto (PNB). PNB dikenal juga dengan Gross National Product (GNP). Produk Nasional Bruto ini tidak sama dengan Produk Domestik Bruto. 

      Perbedaannya, Produk Nasional Bruto menyertakan pendapatan komponen produksi dari luar negeri. Sementara itu, Produk Domestik Bruto cuma menghitung seluruh produksi suatu negara. Tanpa memperkirakan apakah produksi itu dijalankan dengan menggunakan elemen produksi dalam negeri atau tidak. 

      Produk Nasional Bruto adalah nilai produk dalam wujud barang atau jasa yang didapatkan oleh penduduk di sebuah negara (nasional). Dalam jangka waktu 1 tahun. Di antaranya hasil produksi barang dan jasa yang didapatkan oleh warga negara yang ada di luar negeri. Namun hasil produksi perusahaan asing yang berpraktik di area tersebut tidak termasuk.

      Penghitungan Nominal 

      Cara pertama dapat diketahui dari Produk Nasional Bruto berdasarkan harga yang tengah berlaku. Silahkan lihat contoh di bawah ini.

      Di suatu negara, angka Gross National Product (GNP) di tahun 2017 adalah sebesar 1.300.567 miliar, dengan jumlah penduduk pada tahun tersebut sejumlah 262.000.000 jiwa. Maka berapa banyak nilai pendapatan per kapita negara itu di tahun 2017?

      Penghitungannya adalah menggunakan rumus, Gross Domestic Product (GDP) harga yang sedang berlaku dibagi jumlah penduduk. Maka akan menghasilkan Pendapatan Per Kapita (PPK).

      Sehingga nilai pendapatan per kapita nominal di negara itu pada tahun 2017 hasilnya, PPK = 1.300.567 miliar dibagi dengan 262.000.000 jiwa. Maka hasilnya adalah 0.0049639961832061. Atau, Pendapatan Perkapita = 4.963.996 juta. 

      Penghitungan Riil

      Pada suatu negara, angka Gross National Product (GNP) di tahun dasar 2010 adalah sebesar 500.000 miliar. Sementara untuk angka Gross Domestic Product (GDP) untuk tahun 2019 adalah 1.200.567 miliar serta jumlah penduduk 362.000.000 jiwa. Maka nilai Pendapatan per kapita apabila dihitung berdasarkan harga konstannya berapa? 

      GDP tahun 2010 dapat digunakan karena dijadikan tahun dasar. Kamu dapat mengetahui pendapatan per kapita itu dari menggunakan rumus: Pendapatan Per Kapita (PPK) = Produk Nasional Bruto harga konstan : Jumlah penduduk.

      Sehingga negara tersebut memiliki nilai pendapatan per kapita nominal berdasarkan tahun dasar 2010 adalah: PPK = 500.000 miliar : 362.000.000 = 1.381.215 juta.

      Dengan penjelasan dan contoh-contoh di atas, apakah kamu sudah mengerti dan memahami mengenai pendapatan per kapita? Perlu diketahui bahwa usaha dan bisnis yang kita jalankan turut memberi pengaruh pendapatan per kapita di negara ini.

      Maka, dengan mengembangkan usahamu sebaik mungkin hingga maju, bukan hanya menolong diri kamu sendiri. Namun lebih dari itu, kamu sudah ikut mempengaruhi pendapatan per kapita di negara kita. Jika pendapatan per kapita negara mengalami peningkatan tiap tahun, maka negara akan menjadi makmur dan sejahtera. 

      Pendapatan per kapita Indonesia

      Menurut CNBC Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan bahwa Ondonesia memiliki tantangan besar dalam periode kerja lima tahun ke depan hingga 2024. Sesuai sasaran makro pembangunan 2020-2024, Ida menargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia bisa menembus angka US$5.780-6.160 atau setara Rp80-86 juta per kapita per tahun.

      Angka ini lebih besar juka dibanding pendapatan per kapita yang dicatat oleh , Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, di mana, angka pendapatan per kapita Indonesia sebesar US$ 3.927 atau sekitar Rp56 juta per kapita per tahun di 2018.


      http://


    • Apa itu pendapatan nasional? Pendapatan nasional dapat dipahami sebagai pendapatan rata-rata yang diterima seluruh rumah tangga keluarga (RTK) pada suatu negara selama satu tahun. Secara konsep, pendapatan nasional dapat dibedakan menjadi dua, yakni Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Nasional Bruto (PNB). Meski sekilas tampak mirip, namun keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. PDB mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan dari unit-unit produksi di dalam lingkup domestik atau batas wilayah negara selama satu tahun. Pendapatan nasional ini memperhitungkan pendapatan masyarakat dalam negeri ditambah pendapatan asing yang berada di dalam negeri. Sementara PNB mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara baik yang tinggal di dalam maupun di luar negeri selama satu tahun. Jadi, PNB memperhitungkan pendapatan seluruh masyarakat baik yang berada di dalam maupun luar negeri.

      Pentingnya pendapatan nasional

      Ekonomi begitu melekat erat dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Berkembang tidaknya suatu negara diukur dari pertumbuhan ekonominya. Sementara pertumbuhan ekonomi itu sendiri diukur dari pendapatan nasional riil yang dimiliki suatu negara. Tak heran jika ekonomi memiliki peranan penting bahkan menjadi salah satu pondasi bagi pembangunan negara dan kesejahteraan masyarakat.

      Pendapatan nasional menjadi isu yang harus selalu diperhatikan oleh pemerintahan suatu negara beserta jajarannya. Bagaimana tidak? Pendapatan nasional menjadi indikator bahkan tolok ukur keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtara secara merata di seluruh wilayahnya. Oleh sebab itu, pemerintah dituntut untuk mampu menggenjot tingkat produksi barang dan jasa agar pendapatan nasional meningkat sehingga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

      Pentingnya meningkatkan pendapatan nasional karena memiliki banyak manfaat terhadap perekonomian negara. Lebih detail setidaknya ada beberapa manfaat dari pendapatan nasional, yaitu:

      • Menilai prestasi atau keberhasilan negara di bidang ekonomi

      Besarnya pendapatan nasional yang dimiliki oleh suatu negara mengindikasikan bahwa masyarakat di negara tersebut memiliki kehidupan yang makmur dan sejahtera. Masyarakat yang sejahtera tentu memiliki kemandirian secara ekonomi, sehingga tingkat ketergantungan terhadap pemerintah terkait dengan subsidi dan bantuan ekonomi rendah. Di sinilah arti pentingnya pendapatan nasional sebagai ukuran prestasi atau keberhasilan negara di bidang ekonomi, yakni menyejahterakan masyarakat.

      • Menilai perkembangan dan pertumbuhan ekonomi negara dari tahun ke tahun

      Laju pertumbuhan ekonomi suatu negara, terutama yang berstatus sebagai negara berkembang cenderung fluktuatif, kadang naik kadang turun. Itulah pentingnya penghitungan pendapatan nasional, agar dapat mengukur perekonomian negara bertumbuh kembang atau tidak. Dalam satu periode, penting untuk diketahui penyebab adanya penurunan nilai pendapatan nasional. Hal ini dimaksudkan agar ke depannya dapat diambil tindakan antisipasi bahkan solusi agar setiap kesalahan yang terjadi pada periode yang telah lalu tidak terulang di periode mendatang.

      • Mempertegas struktur perekonomian negara

      Sebagai indikator atau tolok ukur pertumbuhan ekonomi, pendapatan nasional cukuplah kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhi besar kecilnya perolehan pendapatan nasional. Oleh sebab itu, perlunya dilakukan evaluasi secara intensif dan berkelanjutan guna mengetahui kendala dan juga kelemahan yang dapat memberikan pengaruh negatif terhadap perolehan pendapatan nasional. Dengan demikian, struktur ekonomi negara semakin kuat karena faktor-faktor yang berpotensi melemahkannya dapat dievaluasi dan diantisipasi secara berkesinambungan.

      • Bahan perbandingan dengan perekonomian negara lain

      Membandingkan kondisi perekonomian dengan negara lain hal yang lazim dilakukan. Hal ini untuk mengetahui kekuatan sekaligus kelemahan, peluang dan ancaman perekonomian dalam negeri dibandingkan dengan perekonomian negara lain, sehingga dapat dirumuskan strategi yang tepat guna meningkatkan kualitas perekonomian dalam negeri.

      • Menjadi dasar pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi

      Pendapatan nasional yang diperoleh suatu negara dari tahun ke tahun cukup merepresentasikan kondisi perekonomian dalam negeri terkini. Jika besar pendapatan nasional yang diperoleh tahun tertentu justru menurun dari tahun sebelumnya, maka pemerintah perlu mengevaluasi faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Demikian pula sebaliknya, meski besar pendapatan nasional semakin tinggi dari tahun ke tahun, pemerintah tetap perlu melakukan evaluasi agar faktor-faktor yang memberikan pengaruh positif tersebut senantiasa ditingkatkan. Berapa pun pendapatan nasional yang diperoleh, indikator ini dapat menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang menguntungkan berbagai pihak, utamanya rakyat kecil.

      Cara menghitung pendapatan nasional

      Sebagai jumlah dari keseluruhan barang dan jasa yang diproduksi, pendapatan nasional membutuhkan penghitungan yang tepat dan akurat, sehingga nilai yang diperoleh benar-benar sesuai dengan data yang ada, bukan sekadar pencitraan pemerintah saja. Bicara tentang cara menghitung pendapatan nasional, terdapat tiga pendekatan cara menghitung pendapatan nasional.

      1. Pendekatan pengeluaran

      Cara menghitung pendapatan nasional melalui pendekatan pengeluaran dilakukan dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran dari berbagai sektor ekonomi, seperti rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat luar negeri suatu negara selama satu tahun. Pengeluaran yang dimaksudkan dalam pendekatan ini mencakup konsumsi, investasi, pemerintah, ekspor, dan impor. Dari komponen pengeluaran tersebut, penghitungan pendapatan nasional dapat dirumuskan sebagai berikut.

      Y = C + I + G + (X ΓÇô M)

      Keterangan:

      Y = pendapatan nasional
      C = konsumsi rumah tangga
      I = investasi
      G = pengeluaran pemerintah
      X = ekspor
      M = impor

      2. Pendekatan produksi

      Produksi dapat dipahami sebagai kegiatan untuk menciptakan suatu barang atau jasa yang memiliki nilai tambah. Berkenaan dengan hal tersebut, penghitungan pendapatan nasional melalui pendekatan produksi dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah dari seluruh sektor produksi selama satu tahun. Cara ini dapat diformulasikan sebagai berikut.

      Y = {(P1 x Q1) + (P2 x Q2) + … + (Pn x Qn)}

      Keterangan:

      Y = pendapatan nasional
      P1 = harga barang ke-1
      P2 = harga barang ke-2
      Pn = harga barang ke-n
      Q1 = jenis barang ke-1
      Q2 = jenis barang ke-2
      Qn = jenis barang ke-n

      3. Pendekatan pendapatan

      Selain dengan pendekatan pengeluaran dan produksi, pendapatan nasional juga dapat dihitung dengan pendekatan pendapatan. Pada metode pendekatan ini, pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh seluruh pemilik faktor produksi selama satu tahun. Faktor produksi yang dimaksudkan mencakup tenaga kerja, modal, tanah, dan keterampilan atau keahlian atau kewirausahaan.

      Adapun pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi tersebut tidaklah sama. Pendapatan tenaga kerja berupa upah, pemilik modal berupa bunga, pemilik tanah berupa sewa, dan keterampilan atau keahlian berupa laba. Cara menghitung pendapatan nasional dengan pendekatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

      Y = r + w + i + p

      Keterangan:

      Y = pendapatan nasional
      r = pendapatan upah atau gaji
      w = pendapatan sewa
      i = pendapatan bunga
      p = pendapatan laba usaha

      Pencatatan laporan keuangan yang baik, tepat, dan terperinci akan sangat membantu memudahkan penghitungan pendapatan nasional dengan hasil yang akurat. Hasil penghitungan yang akurat tentu akan menjadi informasi yang bermanfaat baik bagi pemerintah dan semua pihak yang membutuhkan seperti pengusaha, investor, dan lainnya. Dengan demikian, upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui perekonomian yang senantiasa bertumbuh dan berkembang oleh pemerintah mendapat dukungan dari segenap elemen masyarakat.

      http://
      http://
      http://

    • Setelah mengikuti perkuliahaan mahasiswa dapat memahami:
      1. Mengukur tingkat aktivitas perekonomian 
      2. Mengukur biaya hidup IHK,
      3. Mengukur tingkat penganguran
      4.  Mengukur faktor produksi dan jasa dalam pendapatan nasional
      5. Menjelaskan Pendistribusian pendapatan nasional ke faktor produksi
      6. Menyeimbangkan permintaan dan penawaran barang dan jasa


    • Inflasi merupakan salah satu konsep dalam ekonomi makro yang mana memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat, dan kecenderungan masyarakat dalam berinvestasi. Dalam hal ini mahasiswa perlu memahami konsep inflasi sebelum memahami konsep-konsep ekonomi makro lainnya seperti pendapatan nasional, pengangguran, dan kemiskinan.


      Video ini menjadi suplemen pada mata kuliah  Konsep Ekonomi Makro pada Teori Ekonomi

      http://

      http://

      http://

    • Pendapatan nasional adalah ukuran nilai output berupa barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara dalam periode tertentu atau jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu Negara dalam satu tahun.

      Pendapatan nasional memiliki peran yang sangat vital bagi sebuah Negara, karena pendapatan nasional merupakan salah satu tolok ukur keberhas ilan perekonomian suatu Negara. Dengan pendapatan nasional, akan terlihat tingkat kemakmuran suatu Negara, semakin tinggi pendapatan nasional suatu Negara maka dapat dikatakan semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan rakyatnya.

      Tujuan dari perhitungan pendapatan nasional ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat ekonomi yang telah dicapai dan nilai output yang diproduksi, komposisi pembelanjaan agregat, sumbangan dari berbagai sektor perekonomian, serta tingkat kemakmuran yang dicapai. Selain itu, data pendapatan nasional yang telah dicapai dapat digunakan untuk membuat prediksi tentang perekonomian negara tersebut pada masa yang akan datang. Prediksi ini dapat digunakan oleh pelaku bisnis untuk merencanakan kegiatan ekonominya di masa depan, juga untuk merumuskan perencanaan ekonomi untuk mewujudkan pembangunan negara di masa mendatang.

      Pendapatan nasional dapat disebut juga sebagai ukuran nilai output berupa barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara dalam periode tertentu atau jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu Negara dalam satu tahun. Pendapatan nasional memiliki peran yang sangat vital bagi sebuah Negara, karena pendapatan nasional merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan perekonomian suatu Negara.


      Dengan pendapatan nasional, akan terlihat tingkat kemakmuran suatu Negara, semakin tinggi pendapatan nasional suatu Negara maka dapat dikatakan semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan rakyatnya. Namun, sesungguhnya pendapatan nasional suatu Negara tidak dapat sepenuhnya dijadikan sebagai indikator naiknya tingkat kesejahteraan rakyat di suatu Negara. Sebagai contoh, meskipun pendapatan nasional Indonesia pada tahun 2010 naik dari tahun sebelumnya, tetapi tetap saja masih (sangat) banyak rakyat Indonesia yang sampai saat ini hidup di bawah garis kemiskinan.

      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional

      Faktor-faktor yang memepengaruhi pendapatan nasional dibagi menjadi tiga aspek yaitu sebagai berikut:

      • Permintaan dan penawaran agregat

      Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu.


      Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.


      • Konsumsi dan tabungan

      Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.


      • Investasi

      Investasi adalah suatu pembelanjaaan pada suatu barang dan tambahan untuk persediaan. Pada dasarnya pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat. Contohnya : bangunan dan mesin baru yang dibeli perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.


      Manfaat Mempelajari Pendapatan Nasional

      Beberapa manfaat mempelajari pendapatan nasional suatu negara, yaitu sebagai berikut:

      1. Mengetahui tentang struktur perekonomian suatu Negara.
      2. Dapat membandingkan keadaan perekonomian dari waktu ke waktu antar daerah atau antar propinsi.
      3. Dapat membandingkan keadaan perekonomian antar Negara.
      4. Dapat membantu merumuskan kebijakan pemerintah.

      Untuk lebih jelas lagi silahkan anda lihatpada tayangan video sbb: 

      http://

      http://

    • Keseimbangan Umum terjadi pada waktu Pasar Barang  dan Jasa (IS) dengan Pasar Uang (LM)  berada dalam keseimbangan secara bersama-sama. Saat terjadi Keseimbangan Umum, besarnya pendapatan nasional (Y) dan tingkat bunga (i) mencerminkan pendapatan nasional dan tingkat bunga keseimbangan yang terjadi baik di Pasar Barang dan Jasa maupun di Pasar Uang. Untuk menentukan besarnya Pendapatan Nasional dan Tingkat Bunga Keseimbangan dapat dilakukan dengan pendekatan Grafis dan Matematis.

      Model Keseimbangan di Pasar Barang dan Jasa (kurva IS) dan Model Keseimbangan di Pasar Uang (kurva LM). Model Keseimbangan di Pasar Barang dan Jasa, serta Pasar Uang sekaligus disebut dengan Model Keseimbangan IS ΓÇô LM (dengan menggunakan titik potong kurva IS dan LM). Dalam Model Keseimbangan IS ΓÇô LM tersebut terjadi 

      Untuk lebih jelas lagi silahkan anda saksikan video sbb:

      http://

    • 1. Mahasiswa dapat memahami konsep dan pengertian mengenai permintaan dan penawaran agregat, investasi, uang dan moneter

      2. Mahaiswa mampu menjelaskan fungsi uang dan perbankan dalam suatu perekonomian negara 

      3. Mahaiswa mampu menjelaskan fungsi investasi dalam suatu perekonomian 

      4. Mahaiswa mampu menjelaskan aliran keuangan dalam struktur pasar uang nasional 

      5. Mahasiswa mampu menjelaskan peran kebijakan pemerintah dalam pasar uang dan perbankan 

    • Dalam mengelola perekonomian suatu Negara, pemerintah melakukan berbagai kebijakan ekonomi untuk mengarahkan perekonomian bangsa. Kebijakan ekonomi merupakan langkah-langkah pengendalian perekonomian secara keseluruhan yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah kebijakan atau ekonomi moneter.

      Dalam suatu keadaan tertentu, pemerintah mengeluarkan kebijakan, misalnya Bank Indonesia menjual sertifikat Bank Indonesia di pasar atau pemerintah menerbitkan obligasi baru.

      Terkadang untuk memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah mempermudah pengurusan izin, mempermudah tata cara perpajakan bahkan menurunkan tingkat pajak barang tertentu.

      Pengertian Ekonomi Moneter

      Sejatinya dalam ilmu ekonomi, kebijakan moneter merupakan sebuah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatur kestabilan keuangan suatu Negara.

      Keuangan yang sering kali berubah-ubah dengan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi membuat sebuah Negara mengatur hal tersebut dengan suatu kebijakan. Stabilitas finansial dibutuhkan setiap negara untuk menjaga harga, inflasi serta output dalam keadaan stabil.

      Kebijakan moneter juga merupakan usaha yang dilakukan untuk memperoleh peningkatan pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas harga pasar. 

      Agar hal ini bisa dicapai, Bank Sentral yang juga dikenal sebagai otoritas moneter mengeluarkan kebijakan untuk mengatur keuangan Negara agar lebih terkendali. Seperti ketersediaan uang, distribusi, kesempatan kerja serta laju inflasi yang terkendali.

      Perekonomian Negara selalu mendapatkan perhatian lebih karena sumbangsinya untuk Negara yang sangat besar. Pemerintah senantiasa mengamati pembangunan ekonomi, dan jika diperoleh keadaan yang menyimpang maka disinilah otoritas moneter mengambil tindakan.

      Pemerintah akan mengambil langkah kebijaksanaan untuk mengatasi masalah tersebut melalui otoritas moneter yakni kebijakan moneter.

      Tujuan Ekonomi Moneter

      Otoritas moneter dalam hal ini Bank Sentral memiliki tujuan tertentu dalam mewujudkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

      Tujuan dari otoritas moneter ini secara jelas tergambar dalam UU Nomor 3 tahun 2004, tepatnya pada pasal 7 yang membahas Bank Indonesia.  Dalam pasal tersebut tercantum kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai rupiah.

      Kestabilan nilai rupiah atau mata uang merupakan stabilitas harga barang atau jasa yang bisa dilihat dari tingkat inflasinya.

      Tercatat sejak tahun 2005, setelah diresmikannya undang-undang tersebut, Bank Indonesia telah melakukan usaha-usaha untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Kerangka yang diterapkan adalah ekonomi moneter yang menjadikan inflasi sebagai sasaran utamanya.

      Kebijakan yang disebut sebagai Inflation Targeting Framework ini menganut sistem free floating yang memiliki berperan dalam kestabilan harga dan financial Negara. Bank Indonesia hanya mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan pengurangan volatilitas nilai tukar rupiah yang berlebih tanpa mengarahkannya ke tingkat tertentu.

      Dalam operasionalnya, otoritas moneter dalam hal ini BI berwenang dalam menerapkan ekonomi moneter terhadap keuangan negara. Kebijakan ini nantinya akan diarahkan kepada sasaran-sasaran moneter yang ditetapkan sebelumnya seperti suku bunga bank. Semua ini dilakukan untuk mencapai laju inflasi yang seimbang melalui kebijakan pemerintah dengan instrument-instrumen khusus.

      Jenis-Jenis Ekonomi Moneter

      Tahun 1998 terjadi krisis moneter dan menyebabkan perekonomian Indonesia terguncang, belum lagi aksi protes dari berbagai pihak dengan segala tuntutannya. Untuk itu pemerintah mengambil kebijakan khusus yang digunakan untuk mengatur peredaran uang untuk menjaga stabilitas ekonomi. Beberapa jenis ekonomi moneter yang bisa diterapkan yakni:

      1. Monetary Expansive Policy (Kebijakan Moneter Ekspansif)

      Monetary Expansive Policy merupakan kebijakan pemerintah yang diluncurkan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Kebijakan ekspansif ini dilakukan dengan menurunkan jumlah suku bunga di bank, menurunkan persyaratan cadangan bank, dan membeli sirkuit pemerintah. Monetary expansive juga disebut sebagai kebijakan yang longgar karena tidak terlalu mengekang masyarakat.

      Kebijakan ini dapat mengurangi tingkat pengangguran dalam Negara dan merangsang pertumbuhan bisnis serta konsumsi masyarakat. Umumnya, kebijakan ini diterapkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada suatu Negara dengan risiko inflasi yang juga akan semakin meningkat. Kebijakan ekspansif dilakukan dengan meningkatkan peredaran uang dalam masyarakat sehingga daya beli masyarakat semakin meningkat.

      Baca juga: Mengetahui Tarif Pajak dan Pengelompokan Pajak di Indonesia

      2. Monetary Contractive Policy (Kebijakan Moneter Kontraktif)

      Monetary Contractive Policy merupakan kebijakan pemerintah yang diluncurkan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Hal ini berbanding terbalik dengan kebijakan moneter ekspansif yang justru menambah peredaran uang. Pengurangan peredaran jumlah uang ini juga dikenal dengan politik uang ketat (Tight Money Policy).

      Tujuan utama dari penerapan kebijakan ini adalah  untuk menurunkan tingkat inflasi yang dialami oleh Negara. Beberapa cara yang dilakukan pemerintah dalam penerapan kebijakan ini adalah meningkatkan jumlah suku bunga bank. Selain itu, penjualan obligasi atau surat berharga pemerintah dan meningkatkan persyaratan cadang bank juga termasuk cara mengurangi peredaran uang.

      Dalam penerapannya, pemerintah menggunakan beberapa langkah-langkah agar kebijakan ini bisa berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Beberapa instrumen yang digunakan Bank Sentral sebagai otoritas moneter dalam menerapkan kebijakan moneter adalah sebagai berikut.

      a. Open Marketing Operation Instrument

      Instrumen yang digunakan pemerintah dalam mencapai ekonomi moneter yang tepat adalah dengan melakukan operasi pasar terbuka. Instrumen ini merupakan usaha pemerintah dalam mengendalikan peredaran uang  dengan jalan melakukan penjualan atau pembelian terhadap government securities atau surat berharga pemerintah. 

      Jika ingin menambah peredaran jumlah uang, pemerintah akan membeli government securities yang beredar di pasar. Dengan kata lain, pemerintah menambah jumlah uang yang beredar di pasaran dengan pembayaran terhadap surat berharga tersebut. 

      Namun, jika ingin peredaran uang berkurang, pemerintah justru akan melakukan hal sebaliknya yakni menjual government securities (SBI dan SBPU) tersebut kepada masyarakat. Dengan demikian, uang yang ada di pasar akan diserap sehingga jumlahnya akan berkurang. 

      b. Fasilitas Diskonto

      Discount Rate adalah upaya pemerintah dalam mengatur tingkat suku bunga yang ada pada bank sentral maupun bank umum untuk mengatur peredaran rupiah. Penurunan suku bunga pada bank sentral merupakan usaha pemerintah menambah peredaran rupiah dalam Negara. Sebaliknya, jika pemerintah ingin mengurangi  peredaran rupiah maka menaikkan suku bunga adalah jalan yang harus ditempuh.

      c. Suku Cadangan Wajib

      Reserve Requirement Ratio adalah cara mengatur, baik menaikkan atau menurunkan jumlah suku cadang yang ada pada pengatur kebijakan. Menurunkan rasio cadangan wajib yang diberlakukan di bank merupakan usaha pemerintah meningkatkan peredaran rupiah. Hal ini berlaku sebaliknya saat pemerintah ingin menurunkan peredaran rupiah.

      d. Himbauan Moral

      Moral Persuasion adalah kebijakan oleh pemerintah  untuk mengatur peredaran jumlah uang di masyarakat melalui pemberian himbauan kepada pihak terkait. Himbauan ini seperti menghimbau pihak bank untuk selektif dalam mengeluarkan kredit untuk menekan peredaran jumlah uang. Hal ini juga berupa himbauan kepada bank melakukan pinjaman uang dalam jumlah besar ke bank sentral untuk memperbanyak peredaran rupiah. 

      e. Kebijakan Kredit Selektif

      Terakhir ada kebijakan kredit selektif yang juga diberlakukan Bank Sentral dalam hal ini Bank Indonesia. Bank Sentral memiliki kebijakan untuk menentukan jenis pinjaman yang boleh atau tidak, serta pinjaman yang perlu ditambah atau dikurangi.

      Contoh Penerapan Ekonomi Moneter

      Salah satu contoh penerapan ekonomi atau kebijakan moneter dapat dilihat saat terjadi inflasi pada perekonomian Negara. Pada kondisi ini, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral akan meningkatkan cadangan kas untuk mengurangi peredaran uang di masyarakat. Sedangkan jika kondisinya berbanding terbalik, maka pemerintah akan menurunkan cadangan kasnya.

      Peningkatan cadangan kas bank membuat masyarakat memilih untuk menabung uang di bank sehingga peredaran uang menurun. Sedangkan penurunan cadangan kas bank mendorong masyarakat untuk meminjam uang di bank sehingga tingkat konsumsi atau daya beli masyarakat semakin tinggi.

      http://

    • Definisi dan Fungsi Uang 

      Uang merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari denyut kehidupan ekonomi masyarakat. Stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh sejauh mana peranan uang dalam perekonomian oleh masyarakat dan otoritas moneter. 

      Definisi uang bisa dibagi dalam dua pengertian, yaitu: 

      1.  definisi uang menurut hukum (law) dan definisi uang menurut fungsi. 

      2. Definisi uang menurut hukum yaitu sesuatu yang ditetapkan oleh undang-undang sebagai uang dan sah untuk alat transaksi perdagangan. 

      Sedangkan definisi uang menurut fungsi, yaitu sesuatu yang secara umum dapat diterima dalam transaksi perdagangan serta untuk pembayaran hutang-piutang

      Uang dikenal mempunyai empat fungsi, dua diantaranya merupakan fungsi yang sangat mendasar sedangkan dua lainnya adalah fungsi tambahan. Dua fungsi dasar tersebut adalah peranan uang sebagai: 

      1. Alat tukar (means of exchange). 

      Peranan uang sebagai alat ukar mensyaratkan bahwa uang tersebut harus diterima oleh masyarakat sebagai alat pembayaran. Artinya, si penjual barang mau menerima uang sebagai pembayaran untuk barangnya karena ia percaya bahwa uang tersebut juga diterima oleh orang lain (masyarakat umum) sebagai alat pembayaran apabila ia nanti memerlukan untuk membeli suatu barang. 

      2. Alat penyimpan nilai/daya beli (store of value). 

      Terkait dengan sifat manusia sebagai pengumpul kekayaan. Pemegangan uang merupakan salah satu cara untuk menyimpan kekayaan. Kekayaan tersebut bisa dipegang dalam bentuk-bentuk lain, seperti tanah, kerbau, berlian, emas, saham, mobil dan sebagainya. Syarat utama untuk ini adalah bahwa uang harus bisa menyimpan daya beli atau nilai. Dua fungsi uang lainnya adalah sebagai berikut:

      1. Satuan hitung (unit of account). 

      Sebagai satuan hitung, uang juga mempermudah tukar-menukar. Dua barang yang secara fisik sangat berbeda, seperti misalnya kereta api dan apel, bisa menjadi seragam apabila masing-masing dinyatakan dalam bentuk uang.

      2. Ukuran untuk pembayaran masa depan (standard for deferred payments). 

      Sebagai ukuran bagi pembayaran masa depan, uang terkait dengan transaksi pinjam-meminjam atau transaksi kredit, artinya barang sekarang dibayar nanti atau uang sekarang dibayar dengan uang nanti. Dalam hubungan ini, uang merupakan salah satu cara menghitung pembayaran masa depan tersebut.

      Uang Beredar (Money Supply) 

      Di dalam membahas mengenai uang yang terdapat dalam perekonomian sangat penting untuk membedakan diantara mata uang dalam peredaran dan uang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah seluruh jumlah uang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut terdiri dari dua jenis yaitu uang logam dan uang kertas. Dengan demikian mata uang dalam peredaran sama dengan uang kartal. Sedangkan uang beredar adalah semua jenis uang yang ada di dalam perekonomian yaitu jumlah dari mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral dalam bank-bank umum. Uang beredar atau money supply dibedakan menjadi dua pengertian yaitu dalam arti sempit dan arti luas.

      Macam-macam Uang Beredar

      1. Uang Beredar Dalam Arti Sempit (M1) 

      Uang beredar dalam arti sempit (M1) didefinisikan sebagai uang kartal ditambah dengan uang giral (currency plus demand deposits).                   M1 = C + DD 

       Dimana: M1 = Jumlah uang beredar dalam arti sempit C = Currency (uang cartal) DD = Demand Deposits (uang giral) 

      Uang giral (DD) di sini hanya mencakup saldo rekening koran/ giro milik masyarakat umum yang disimpan di bank. Sedangkan saldo rekening koran milik bank pada bank lain atau bank sentral (Bank Indonesia) ataupun saldo rekening koran milik pemerintah pada bank atau bank sentral tidak dimasukan dalam definisi DD. Satu hal lagi yang penting untuk dicatat mengenai DD ini adalah bahwa yang dimaksud disini adalah saldo atau uang milik masyarakat yang masih ada di bank dan belum digunakan pemiliknya untuk membayar/ berbelanja. Pengertian jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) bahwa uang beredar adalah daya beli yang langsung bisa digunakan untuk pembayaran, bisa diperluas dan mencakup alat-alat pembayaran yang ΓÇ£mendekatiΓÇ¥ uang, misalnya deposito berjangka (time deposits) dan simpanan tabungan (saving deposits) pada bank-bank. Uang yang disimpan dalam bentuk deposito berjangka dan tabungan ini sebenarnya adalah juga adalah daya beli potensial bagi pemiliknya, meskipun tidak semudah uang tunai atau cek untuk menggunakannya. 

      2. Uang Beredar Dalam Arti Luas (M2). 

      Berdasarkan sistem moneter Indonesia, uang beredar M2 sering disebut juga dengan likuiditas perekonomian. M2 diartikan sebagai M1 plus deposito berjangka dan saldo tabungan milik masyarakat pada bank-bank, karena perkembangan M2 ini juga bisa mempengaruhi perkembangan harga, produksi dan keadaan ekonomi pada umumnya. 

                                 M2 = M1 + TD + SD 

       Dimana: TD = time deposits (deposito berjangka) SD = savings deposits (saldo tabungan) 

       Definisi M2 yang berlaku umum untuk semua negara tidak ada, karena halhal khas masing-masing negara perlu dipertimbangkan. Di Indonesia, M2 besarnya mencakup semua deposito berjangka dan saldo tabungan dalam rupiah pada bankbank dengan tidak tergantung besar kecilnya simpanan tetapi tidak mencakup deposito berjangka dan saldo tabungan dalam mata uang asing.

      3. Uang Beredar Dalam Arti Lebih Luas (M3). 

      Definisi uang beredar dalam arti lebih luas adalah M3, yang mencakup semua deposito berjangka (TD) dan saldo tabungan (SD), besar kecil, rupiah atau mata uang asing milik penduduk pada bank oleh lembaga keuangan non bank. Seluruh TD dan SD ini disebut uang kuasi atau quasi money. 

                  M3 = M2 + QM 

      Dimana : QM = quasi money 

      Di negara yang menganut sistem devisa bebas (artinya setiap orang boleh memiliki dan memperjualbelikan devisa secara bebas), seperti Indonesia, memang sedikit sekali perbedaan antara TD dan SD dalam rupiah dan TD dan SD dalam dollar. Setiap kali membutuhkan rupiah dollar bisa langsung menjualnya ke bank, atau sebaliknya. Dalam hal ini perbedaan antara M2 dan M3 menjadi tidak jelas. TD dan SD dollar milik bukan penduduk tidak termasuk dalam definisi uang kuasi.

      Teori Money Supply 

      1. Teori Kuantitas mengenai Uang (Quantity Teory of Money)

      Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan sekaligus penawaran akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah hubungan antara penawaran uang (jumlah uang beredar) dengan nilai uang (tingkat harga). Hubungan antara kedua variabel tersebut dijabarkan lewat konsepsi (teori) mereka mengenai permintaan akan uang. Perubahan jumlah uang beredar atau penawaran uang berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan nilai uang.

      2. Teori Cambridge (Marshall-Pigou) 

      Teori Cambridge, berpokok pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (mean of exchange). Karena itu, teori-teori Klasik melihat kebutuhan uang (permintaan akan uang) dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi. Teori Cambridge mengatakan bahwa kegunaan dari pemegangan kekayaan dalam bentuk uang adalah karena uang (berbeda dengan bentuk kekayaan lain) mempunyai sifat likuid sehingga dengan mudah bisa ditukarkan dengan barang lain. Uang dipegang atau diminta oleh seseorang karena sangat mempermudah transaksi atau kegiatan-kegiatan ekonomi lain dari orang tersebut (sering disebut sebagai faktor ΓÇ£convenienceΓÇÖ). 

       Teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan akan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncanakannnya. Teoritisi Cambridge mengatakan bahwa permintaan selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor-faktor kelembagaan, juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga masyarakat, dan ramalan/harapan (expectations) dari para warga masyarakat mengenai masa mendatang. Faktor-faktor lain ini mempengaruhi permintaan akan uang seseorang, dan demikian juga mempengaruhi permintaan akan uang dari masyarakat secara keseluruhan.

      3. Teori Keynes Teori uang Keynes adalah teori yang bersumber pada teori Cambridge, tetapi Keynes memang mengemukakan sesuatu yang betul-betul berbeda dengan teori moneter tradisi Klasik. Pada hakekatnya perbedaan ini terletak pada penekanan oleh Keynes pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of value dan bukan hanya sebagai means of exchange. 

      Teori ini kemudian terkenal dengan nama teori Liquidity Preference (Boediono, 1994:27). Menurut Keynes, ada tiga tujuan masyarakat memegang uang, yaitu: 

      1. Tujuan transaksi Keynes tetap menerima pendapat golongan Cambridge, bahwa orang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksi-transaksi yang dilakukan, dan permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin besar tingkat pendapatan nasional smakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan uang untuk memnuhi tujuan transaksi. Demikian pula Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang untuk tujuan transaksi inipun tidak merupakan sutu proporsi yang konstan, tetapi dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga.

      2. Tujuan berjaga-jaga 

      Keynes juga membedakan permintaan akan uang untuk tujuan melakukan pembayaran-pembayaran yang tidak reguler atau yang diluar rencana transaksi normal, misalnya untuk pembayaran keadaan-keadaan darurat seperti kecelakaan, sakit, dan pembayaran yang tak terduga lain. Permintaan uang seperti ini disebut dengan permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga (precautionary motive). Menurut Keynes permintaan akan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang utuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan tingkat bunga. 

      3. Tujuan spekulasi 

      Motif dari pemegangan uang untuk tujuan spekulasi adalah terutama bertujuan untuk memperoleh ΓÇ£keuntunganΓÇ¥ yang bisa diperoleh dari seandainya si pemegang uang tersebut meramal apa yang akan terjadi dengan betul.


      Permintaan Dan Penawaran Uang 

      Pengertian Permintaan Uang
      Adalah Untuk memperdalam wawasan tentang konsep permintaan uang, berikut kita akan membahas pengertian permintaan uang, faktor-faktor yang memengaruhi permintaan uang dan kurva permintaan uang.

      Apa yang dimaksud dengan permintaan uang? Menurut Sadono Sukirno dalam bukunya yang berjudul ΓÇ£Makro EkonomiΓÇ¥, yang dimaksud dengan permintaan uang adalah jumlah uang yang diperlukan masyarakat dalam suatu waktu tertentu. Uang memang sangat diperlukan masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan dengan berbagai tujuan. Dan umumnya, semakin maju perekonomian suatu negara, akan semakin tinggi permintaan uangnya.

      Pengertian Penawaran Uang
      Agar memperoleh pemahaman yang jelas tentang konsep penawaran uang, berikut kita akan membahas pengertian penawaran uang, faktor-faktor yang memengaruhi penawaran uang, hubungan penawaran uang dengan tingkat harga dan kurva penawaran uang.

      Apa yang dimaksud dengan penawaran uang? Menurut Sadono Sukirno dalam bukunya ΓÇ£Makro EkonomiΓÇ¥, yang dimaksud dengan penawaran uang secara umum adalah jumlah uang yang ada (beredar) dalam perekonomian pada suatu waktu tertentu. Dengan bahasa yang lebih singkat, penawaran uang bisa diartikan sebagai jumlah uang yang beredar.

      Selanjutnya, penawaran uang dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Arti penawaran uang secara sempit adalah jumlah uang kartal dan uang giral yang beredar pada suatu waktu tertentu. Adapun arti penawaran uang secara luas adalah jumlah uang kartal, uang giral dan uang kuasi yang beredar pada suatu waktu tertentu. Yang dimaksud uang kuasi adalah uang yang tersimpan di bank dalam bentuk tabungan, deposito berjangka dan tabungan valuta asing milik swasta domestik (swasta dalam negeri.

      Kemudian kita akan membahas beberapa istilah dalam penawaran uang. Dalam istilah ekonomi, penawaran uang atau money supply lebih sering disebut dengan istilah ΓÇ£uang beredarΓÇ¥. Jadi, jika kalian mendengar atau membaca di TV atau koran istilah ΓÇ£uang beredarΓÇ¥ maka itu sama artinya dengan ΓÇ£penawaran uangΓÇ¥ dan sama pula artinya dengan ΓÇ£jumlah uang yang beredarΓÇ¥.

      Pengertian penawaran uang atau uang beredar dalam arti sempit biasa dilambangkan dengan M1. Adapun pengertian penawaran uang atau uang beredar dalam arti luas biasa dilambangkan dengan M2. Berikut disajikan tabel mengenai uang beredar dalam pengertian sempit (M1) dan Pengertian luas (M2) di Indonesia.

      Pengertian Permintaan dan Penawaran Uang


      Dari 11.1 tersebut tampak bahwa uang kuasi memiliki perkembangan yang paling pesat dibandingkan dengan uang kartal dan uang giral. Pada tahun 1970 jumlah uang kuasi hanya 80 miliar rupiah, tetapi pada tahun 2002 jumlahnya telah mencapai hampir 692 triliun rupiah, yakni meningkat sebanyak 5536 kali lipat dibanding tahun 1970.

      Dalam mengamati dan menganalisis keadaan perekonomian suatu negara, jumlah uang kuasi sangat perlu diperhatikan. Karena jumlah uang kuasi menunjukkan sampai di mana masyarakat dapat menciptakan permintaan agregat. Dengan kata lain, uang kuasi dapat menunjukkan daya daya beli yang dimiliki masyarakarat yang dalam waktu singkat dapat diuangkan untuk membeli barang dan jasa.

      Mungkin di antara kalian ada yang bertanya, mengapa Pengertian penawaran uang atau uang beredar harus dibedakan dalam arti sempit dan dalam arti luas? Apa manfaatnya? Penggolongan uang beredar dalam arti sempit bermanfaat untuk mengetahui berapa jumlah uang yang dapat digunakan untuk melancarkan transaksi perdagangan. Adapun penggolongan uang beredar dalam arti luas selain bermanfaat untuk mengetahui berapa jumlah uang yang dapat digunakan untuk melancarkan transaksi perdagangan, juga bermanfaat untuk mengetahui berapa jumlah uang yang dalam waktu singkat dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa.

      Selanjutnya selain istilah ΓÇ£uang beredarΓÇ¥, terdapat juga istilah ΓÇ£mata uang dalam peredaranΓÇ¥. Keduanya memiliki arti yang berbeda. Jika ΓÇ£uang beredarΓÇ¥ sama artinya dengan ΓÇ£penawaran uangΓÇ¥, maka yang dimaksud dengan ΓÇ£mata uang dalam peredaranΓÇ¥ adalah jumlah uang kartal yang ada dalam peredaran. Dengan demikian, ΓÇ£mata uang dalam peredaranΓÇ¥ merupakan salah satu komponen dari ΓÇ£uang beredarΓÇ¥.
      http://

      http://

    • Inflasi

      Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi, yakni penurunan harga barang secara umum dan terus menerus.
       
      Perhitungan inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), link ke metadata SEKI-IHK. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.
       

      Pengukuran IHK

      Berdasarkan the Classification of Individual Consumption by Purpose (COICOP), IHK dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran, yaitu:
      1.  Bahan Makanan.
      2.  Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau.
      3.  Perumahan.
      4.  Sandang.
      5.  Kesehatan.
      6.  Pendidikan dan Olahraga.
      7.  Transportasi dan Komunikasi.
       
      Data pengelompokan tersebut didapatkan melalui Survei Biaya Hidup (SBH)
       

      Disagregasi Inflasi

      Di samping pengelompokan berdasarkan COICOP tersebut, BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan lainnya yang dinamakan disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.

      Di Indonesia, disagregasi inflasi IHK tersebut dikelompokan menjadi:
      1.  Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan ΓÇïinflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti:
      • Interaksi permintaan-penawaran.
      • Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang.
      • Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
      2.  Inflasi non-Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non-inti terdiri dari:
      • Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food): Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.
      • Inflasi Komponen Harga yang diatur oleh Pemerintah (Administered Prices): Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dll.

      Determinan Inflasi

      Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (Administered Price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

      Faktor penyebab demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut dapat bersifat adaptif atau forward looking

      Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum provinsi (UMP). Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat-saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari kondisi supply-demand tersebut. Demikian halnya pada saat penentuan UMP, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan.
       

      Pentingnya Kestabilan Harga

      ΓÇïInflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

      Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

      Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
      ΓÇï
      Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai Rupiah.
      Keempat, pentingnya kestabilan harga kaitannya dengan SSK (referensi).ΓÇï
      ΓÇïΓÇï

      ΓÇïSasaran InflasiΓÇïΓÇï

      ΓÇïMelalui amanat yang tercakup di Undang Undang tentang Bank Indonesia, tujuan Bank Indonesia yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah. Kestabilan nilai Rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barangΓÇï dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara lain.
       
      Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai oleh Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah. Dalam upaya pencapaian tujuannya, Bank Indonesia menyadari bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi perlu diselaraskan untuk mencapai hasil yang optimal dan berkesinambungan dalam jangka panjang.


      Pengendalian Inflasi

      ΓÇïKebijakan moneter Bank Indonesia ditujukan untuk mengelola tekanan harga yang berasal dari sisi permintaan agregat (demand management) relatif terhadap kondisi sisi penawaran. Kebijakan moneter tidak ditujukan untuk merespons kenaikan inflasi yang disebabkan oleh faktor yang bersifat kejutan dan bersifat sementara (temporer) yang akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.

      Sementara itu, inflasi juga dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari sisi penawaran ataupun yang bersifat kejutan (shocks) seperti kenaikan harga minyak dunia dan adanya gangguan panen atau banjir. Dari bobot dalam keranjang IHK, bobot inflasi yang dipengaruhi oleh faktor penawaran dan kejutan diwakili oleh kelompok volatile food dan administered prices yang mencakup kurang lebih 40% dari bobot IHK.

      Dengan demikian, kemampuan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi relatif terbatas apabila terdapat kejutan (shocks) yang sangat besar, seperti ketika terjadi kenaikan harga BBM di tahun 2005 dan 2008, sehingga menyebabkan adanya lonjakan inflasi.

      Dengan pertimbangan bahwa laju inflasi juga dipengaruhi oleh faktor yang bersifat kejutan tersebut maka pencapaian sasaran inflasi memerlukan kerjasama dan koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia melalui kebijakan makroekonomi yang terintegrasi baik dari kebijakan fiskal, moneter maupun sektoral. Lebih jauh, karakteristik inflasi Indonesia yang cukup rentan terhadap kejutan-kejutan (shocks) dari sisi penawaran memerlukan kebijakan-kebijakan khusus untuk permasalahan tersebut.

      Dalam tataran teknis, koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia telah diwujudkan dengan membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat sejak tahun 2005. Anggota TPI, terdiri dari Bank Indonesia dan kementerian teknis terkait di Pemerintah seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional,  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Sekretaris kabinet, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
      ΓÇï
      Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak tahun 2008, pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah. Ke depan, koordinasi antara Pemerintah dan BI diharapkan akan semakin efektif dengan dukungan forum TPI baik pusat maupun daerah sehingga dapat terwujud inflasi yang rendah dan stabil, yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan.


      Penetapan Target Inflasi

      Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.124/PMK.010/2017 tanggal 18 September 2017 tentang Sasaran Inflasi tahun 2019, tahun 2020, dan tahun 2021, sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2019 ΓÇô 2021, masing-masing sebesar 3,5%, 3%, dan 3%, dengan deviasi masing-masing ┬▒1%. 

       
      Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan, sehingga tingkat inflasi dapat dijaga pada tingkat yang rendah dan stabil. Salah satu upaya pengendalian inflasi menuju inflasi yang rendah dan stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat agar mengacu (anchor) pada sasaran inflasi yang telah ditetapkan (Lihat Peraturan Menteri Keuangan tentang sasaran inflasi 2016, 2017, dan 2018 dan Peraturan Menteri Keuangan tentang sasaran inflasi 2019, 2020, dan 2021).

      Angka target atau sasaran inflasi dapat dilihat pada situs Bank Indonesia atau situs instansi Pemerintah lainnya seperti Kementerian Keuangan, Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, atau Bappenas. Sebelum UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sementara setelah UU tersebut, dalam rangka meningkatkan kredibilitas Bank Indonesia maka sasaran inflasi ditetapkan oleh Pemerintah.



      Sumber: Bank Indonesia (2020)

    • Pengertian Nilai Tukar Perdagangan yang dilakukan antara dua negara tidaklah semudah yang dilakukan dalam satu negara, karena mesti memakai dua mata uang yang berbeda misalnya antara negara Indonesia dan Amerika Serikat. Pengimpor Amerika harus membeli rupiah untuk membeli barang-barang dari Indonesia. Sebaliknya pengimpor Indonesia harus membeli Dollar Amerika untuk menyelesaikan pembayaran terhadap barang yang dibelinya di Amerika. 

      Menurut Sadono Sukirno (2015) besarnya jumlah mata uang tertentu yang diperlukan untuk memperoleh satu unit valuta asing disebut dengan kurs mata uang asing. 

      Beberapa faktor penting yang mempunyai pengaruh atas perubahan kurs pertukaran adalah :

       1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat. Bila penduduk suatu negara lebih menyukai barang-barang dari negara lain maka nilai mata uang asing tersebut akan semakin naik. 

      2. Perubahan harga dari barang-barang ekspor. Semakin tinggi harga barang yang akan diekspor, semakin turun nilai mata uang pengekspor tersebut.

      3. Kenaikan harga-harga umum (inflasi). 

      Semakin tinggi tingkat inflasi negara pengeskpor semakin turun nilai mata uang negara tersebut. 

      4. Perubahan dalam tingkat bunga dan tingkat pengembalian investasi. 

      Semakin tinggi tingkat bunga investasi di negara tersebut semakin tinggi nilai mata uang negara tersebut. 

      5. Perkembangan ekonomi

      Semakin banyak nilai ekspor suatu negara semakin kuat nilai mata uang negara tersebut.

      Semakin banyak nilai ekspor suatu negara semakin kuat nilai mata uang negara tersebut. 

      Ada dua jenis nilai tukar, yaitu nilai tukar nominal (nominal exchange rate) dan nilai tukar rill (real exchange rate). 

      Nilai tukar nominal adalah suatu nilai di mana seseorang dapat memperdagangkan mata uang dari suatu negara dengan mata uang negara lain. Jika suatu mata uang mengalami apresiasi, dikatakan bahwa mata uang itu menguat, karena dapat membeli lebih banyak mata uang asing. Demikian pula ketika suatu mata uang mengalami depresiasi, dikatakan bahwa mata uang tersebut melemah. Sedangkan nilai tukar rill adalah suatu nilai di mana seseorang dapat memperdagangkan barang dan jasa dari suatu negara dengan barang dan jasa dari negara lain 

      Di Indonesia ada tiga sistem yang digunakan dalam kebijakan nilai tukar rupiah sejak tahun 1971 hingga sekarang. 

      a. Antara tahun 1971 hingga 1978 dianut sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate) dimana nilai rupiah secara langsung dikaitkan dengan dollar Amerika Serikat (USD). 

      b. Sejak 15 November 1978 sistem 28 nilai tukar diubah menjadi mengambang terkendali (managed floating exchange rate) dimana nilai rupiah tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan USD, namun terhadap sekeranjang valuta partner dagang utama. Maksud dari sistem nilai tukar tersebut adalah bahwa meskipun diarahkan ke sistem nilai tukar mengambang namun tetap menitikberatkan unsur pengendalian. 

      c. Kemudian terjadi perubahan mendasar dalam kebijakan mengambang terkendali terjadi pada tanggal 14 Agustus 1997, dimana jika sebelumnya Bank Indonesia menggunakan band sebagai guidance atas pergerakan nilai tukar, maka sejak saat itu tidak ada lagi band sebagai acuan nilai tukar. 

      Namun demikian cukup sulit menjawab apakah nilai tukar rupiah sepenuhnya dilepas ke pasar (free floating) atau masih akan dilakukan intervensi oleh Bank Indonesia. Dengan mengamati segala dampak dari sistem free floating serta dikaitkan dengan kondisi atau struktur perekonomian Indonesia selama ini nampaknya purely free floating sulit untuk dilakukan. Kemungkinannya adalah Bank Indonesia akan tetap mempertahankan managed floating dengan melakukan intervensi secara berkala, selektif dan pada timing yang tepat.

      http://

      http://

    • Suku Bunga (interest rate) adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan. 

      Suku bunga adalah tingkat bunga yang dinyatakan dalam persen, jangka waktu tertentu (perbulan atau pertahun). 

      Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur. Suku bunga juga berarti penghasilan yang diperoleh oleh orang-orang yang memberikan kelebihan uangnya atau surplus spending unit untuk digunakan sementara waktu oleh orang-orang yang membutuhkan dan menggunakan uang tersebut untuk menutupi kekurangannya atau deficitspending units. 

      Suku bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan untuk dana pinjaman tersebut (biasanya dinyatakan sebagai persentase per tahun) 

      Tingkat suku bunga merupakan salah satu indikator moneter yang mempunyai dampak dalam beberapa kegiatan perekonomian sebagai berikut: 

      a. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi keputusan untuk melakukan investasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi

      b. Tingkat suku bunga juga akan mempengaruhi pengambilan keputusanpemilik modal apakah ia akan berinvestasi pada real assets ataukahpada financial assets. 

      c. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi kelangsungan usaha pihakbank dan lembaga keuangan lainnya. 

      d. Tingkat suku bunga dapat mempengaruhi nilai uang beredar. 

      Adapun penerapan bunga yang terdapat pada bank konvensional dapat dipisahkan menjadi dua jenis, yaitu: 

      1. Bunga simpanan Bunga simpanan merupakan tingkat harga tertentu yang dibayarkan oleh bank kepada nasabah atas simpanan yang dilakukannya. Bunga simpanan ini, diberikan oleh bank untuk memberikan rangsangan kepada nasabah penyimpan dana agar menempatkan dananya di bank. Beberapa bank memberikan tambahan bunga kepada nasabah yang menempatkan dananya dalam bentuk deposito sejumlah tertentu. Hal ini dilakukan bank agar nasabah akan selalu meningkatkan simpanan dananya. 

      2. Bunga pinjaman Bunga pinjaman atau bunga kredit merupakan harga tertentu yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank atas pinjaman yang diperolehnya. Bagi bank, bunga pinjaman merupakan harga jual yang dibebankan kepada nasabah yang membutuhkan dana. Untuk memperoleh keuntungan, maka bank akan menjual dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan harga beli. Artinya, bunga kredit lebih tinggi dibanding bunga simpanan. 

      Bunga pinjaman dan simpanan merupakan pendapatan dan beban utama bagi bank. Bunga kredit merupakan komponen utama pendapatan yang diperoleh bank. Penyaluran dana dalam bentuk kredit yang dilakukan oleh bank menempati porsi terbesar dalam aktiva bank. Sementara itu, pada sisi pasiva, kewajiban yang berasal dari dana pihak ketiga merupakan sumber dana terbesar. Biaya yang berasal dari bunga simpanan dana pihak ketiga merupakan biaya yang paling besar yang ditanggung oleh bank. Bunga pinjaman dan simpanan akan mempunyai keterkaitan yang sangat erat. 

      Pada kondisi terdapat kenaikan suku bunga simpanan, maka kenaikan suku bunga simpanan akan berpengaruh pada kenaikan suku bunga kredit. Bunga simpanan dan kredit akan saling memengaruhi dalam industri perbankan. Suku bunga ditentukan dua kekuatan, yaitu: penawaran tabungan dan permintaan investasi modal (terutama dari sektor bisnis). Tabungan adalah selisih antara pendapatan dan konsumsi. 

      Bunga pada dasanya berperan sebagai pendorong utama agar masyarakat bersedia menabung. Jumlah tabungan akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, maka akan semakin tinggi pula minat nasabah untuk menabung, dan sebaliknya. Tinggi rendahnya penawaran dana investasi ditentukan oleh tinggi rendahnya suku bunga tabungan nasabah. 

      Tingkat bunga mempunyai beberapa fungsi atau peran penting dalam perekonomian yaitu: 

      1. Membantu mengalirnya tabungan berjalan ke arah investasi guna mendukung pertumbuhan perekonomian 

      2. Mendistribusikan jumlah kredit yang tersedia, pada umumnya memberikan dana kredit kepada proyek investasi yang menjanjikan hasil tertinggi. 

      3. Menyeimbangkan jumlah uang beredar dengan permintaan akan uang dari suatu negara. 

      4. Merupakan alat penting menyangkut kebijakan pemerintah melalui pengaruhnya terhadap jumlah tabungan dan investasi. Pada dasarnya suku bunga adalah memberikan sebuah keuntungan yang diperoleh dari sejumlah uang yang dipinjamkan kepada pihak lain atas dasar perhitungan waktu dan nilai ekonomis.

      Macam-Macam Suku Bunga (OJK, 2020)

      - Suku bunga tetap (fixed)

      Suku bunga yang bersifat tetap dan tidak berubah sampai jangka waktu atau sampai dengan tanggal jatuh tempo (selama jangka waktu kredit).

      - Suku bunga mengambang (floating)
      Suku bunga yang selalu berubah mengikuti suku bunga di pasaran. Jika suku bunga di pasaran naik, maka suku bunganya ikut naik, begitupun sebaliknya.

      - Suku bunga flat
      Suku bunga yang perhitungannya dihitung dari jumlah pokok pinjaman di awal untuk setiap periode cicilan.

      - Suku bunga efektif
      Suku bunga yang diperhitungkan dari sisa jumlah pokok pinjaman setiap bulan seiring dengan menyusutnya utang yang sudah dibayarkan. Artinya, semakin sedikit pokok pinjaman, semakin sedikit juga suku bunga yang harus dibayarkan.

      - Suku bunga anuitas
      Suku bunga efektif yang disesuaikan agar jumlah cicilan yang dibayarkan tiap bulan tetap atau tidak berubah agar nasabah tidak kebingungan dengan jumlah angsuran meskipun semakin menyusut setiap bulannya.

      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Suku Bunga?
      Menurut Kasmir (2010), terdapat 10 faktor--faktor yang mempengaruhi besar kecilnya penetapan tingkat suku bunga (pinjaman dan simpanan). Namun, kami akan membahas 5 di antaranya sebagai berikut:

      1. Kebutuhan dana. Apabila bank kekurangan dana sementara permohonan pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat terpenuhi dengan meningkat kan suku bunga simpanan.
      2. Target laba. Apabila dana yang ada dalam simpanan di bank banyak, sementara permohonan pinjaman sedikit, maka bunga simpanan akan turun karena hal ini merupakan beban.
      3. Kebijakan pemerintah. Dalam menentukan baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman bank tidak boleh melebihi batasan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
      4. Jangka waktu. Semakin panjang jangka waktu pinjaman, akan semakin tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko macet di masa mendatang.
      5. Persaingan. Dalam kondisi tidak stabil dan bank kekurangan dana, sementara tingkat persaingan dalam memperebutkan dana simpanan cukup ketat, maka bank harus bersaing keras dengan bank lainnya. Untuk bunga pinjaman, harus berada di bawah bunga pesaing agar dana yang menumpuk dapat tersalurkan, meskipun margin laba mengecil.

      Suku Bunga Indonesia

      Suku bunga di Indonesia mengacu pada BI Rate. BI Rate merupakan bunga yang ditetapkan setiap bulan melalui rapat anggota dewan gubernur dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian baik di Indonesia maupun situasi perekonomian global secara umum. Hasil rapat inilah yang diterjemahkan menjadi kebijakan moneter untuk penentuan suku bunga yang dipakai sebagai acuan bank-bank yang lainnya di Indonesia.

      Faktor penentu utama dari penetapan nilai BI Rate adalah inflasi di Indonesia. Inflasi dipengaruhi oleh banyaknya peredaran mata uang di dalam negeri dan jumlah produksi dan permintaan masyarakat yang berakibat pada naik-turunnya harga-harga. Jika inflasi naik maka BI Rate juga ikut naik, dan sebaliknya jika inflasi turun maka Bank Indonesia akan menurunkan besaran BI Rate. Imbas dari perubahan nilai BI Rate tidak hanya pada naik-turunya harga saja, melainkan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan negara secara global. Dengan cara ini, Pemerintah diharapkan dapat mengendalikan laju inflasi agar perekonomian negara tetap stabil.

      Dalam mencegah inflasi, BI Rate juga sangat penting untuk mengontrol uang yang beredar di masyarakat. Saat terjadi kenaikan inflasi, lembaga bank lebih suka menyimpan uangnya pada Bank Indonesia sehingga perlahan-lahan uang yang beredar akan berkurang. Jika BI Rate turun, bank yang lain tidak bisa langsung mendapatkan kembali uang yang disimpan di Bank Indonesia untuk diputarkan ke masyarakat dalam bentuk kredit. Bank-bank harus menunggu selama setahun untuk mengambil kembali simpanan dana tersebut sehingga peredaran uang di masyarakat tidak akan meningkat dalam hitungan hari atau bulan. Ada beberapa permasalahan yang timbul dari penerapan BI rate, seperti inflasi yang tidak langsung menurun ketika BI rate diturunkan. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi yang direncanakan oleh Bank Indonesia tidak terwujud dalam kurun waktu singkat. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka Bank Indonesia menerbitkan BI 7-Day (reverse) Repo Rate yang lebih singkat rentang waktunya. Melalui kebijakan ini, lembaga perbankan tidak perlu lagi menunggu hingga setahun untuk menarik kembali dana yang disimpan di Bank Indonesia. Dalam rentang 7 hari dan kelipatannya (14 hari, 21 hari, dst) Bank sudah bisa menarik uang tersebut beserta bunga terbaru yang ditetapkan pada saat penarikan uang. Penggunaan BI 7-Day Repo Rate sebagai suku bunga acuan berlaku mulai tanggal 19 Agustus 2016.

      Penerapan BI 7-Day (reverse) Repo Rate ini memberi dampak baik bagi
      perekonomian Indonesia. Adanya acuan ini membuat bank-bank lain menjadi lebih berani menurunkan suku bunga kredit ataupun menaikkan suku bunga deposito. Akibatnya, masyarakat menjadi terdorong untuk lebih yakin saat mengambil kredit jangka panjang dan tidak perlu khawatir lagi akan suku bunga fluktuatif yang bisa sangat berpengaruh pada cicilan bulanan. Naiknya bunga deposito juga memacu jumlah nasabah yang menyimpan uang di bank untuk jangka waktu tertentu. Banyaknya deposito yang masuk akan sangat berpengaruh pada perputaran uang di bank sehingga diharapkan akan menambah anggaran kredit untuk industri kecil dan menengah yang merupakan tiang perekonomian penting suatu negara.

      Tanggal |BI 7-Day

      19 Mei 2020 | 4.50 %

      14 April 2020 | 4.50 %
      19 Maret 2020 | 4.50 %
      20 Februari 2020 | 4.75 %

      23 Januari 2020 | 5.00 %
      19 Desember 2019 | 5.00 %
      21 Nopember 2019 | 5.00 %
      24 Oktober 2019 | 5.00 %
      19 September 2019 | 5.25 %
      22 Agustus 2019 | 5.50 %
      18 Juli 2019 | 5.75 %
      20 Juni 2019 | 6.00 %
      16 Mei 2019 6.00 %
      25 April 2019 6.00 %
      (sumber: www.bi.go.id)

      Data di atas menunjukkan suku bunga BI 7-Day (reverse) Repo Rate selama satu tahun terakhir. Dapat dilihat bahwa suku bunga Indonesia saat ini sedang menurun. BI 7-Day (reverse) Repo Rate sejak awal penerapannya tergolong stabil. Berikut adalah suku bunga di Indonesia jika dibandingkan bank sentral negara lain

      Bank Sentral | Suku Buga
      Bank Indonesia (BI) | 4,50%
      Federal Reserve (FED) | 0,00%-0,25%
      European Central Bank (ECB) | 0,00%
      Bank of England (BOE) | 0,10%
      Swiss National Bank (SNB) | -0,75%
      Reserve Bank of Australia (RBA) | 0,25%
      Bank of Canada (BOC) | 0,25%
      Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) | 0,25%
      Bank of Japan (BOJ) | -0,10%
      Bank Sentral Federasi Rusia (CBR) | 6,00%
      Reserve Bank of India (RBI) | 4,40%
      People's Bank of China (PBOC) | 4,35%

      (sumber:id.investing.com)

      Di tengah pandemi COVID-19 ini, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunganya. Namun, nilai ini masih cukup tinggi jika dibandingkan negara-negara lainnya. Hal ini menyebabkan resiko kredit tetap terjaga dan mendukung penawaran kredit. Suku bunga yang tinggi ini tetap menjamin investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia.


      Referensi:
      Data BI-7 Day Repo Rate. Bank Indonesia diakses pada 20 Mei 2020
      Nopirin. 1993 .Ekonomi Moneter. Edisi 4. Penerbit, BPFE, Yogyakarta.
      Kasmir.2010. Manajemen Perbankan. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada.
      Sappewali, Badriah.2001.Pengaruh Perubahan Tingkat Bunga terhadap Kredit Perbankan Sulawesi Selatan. Fakultas Ekonomi UNHAS:Makassar
      Suku Bunga Bank Sentral. ID Investing diakses pada 20 April 2020

      http://



    • Buatlah Rangkuman dari salah satu dari Materi pertemuan setelah UTS (Pertemuan ke-9 sd 13), ini dalam bentuk PPT animasi (bisa menggunakan aplikasi Powtoons/Kinemaster/lainnya) secara berkelompok (2-4 orang) 

      Dikumpulkan pada saat anda menyelesaikan UAS (bersamaan dengan  jadwal UAS) 

      File PPT animasinya berupa link Google Drive atau link Youtube yang nantinya link url (baik Google drvie/youtube) tersebut anda masukan submit di konten assignment ini, terima kasih 


      Sukses dan semangat selalu 

    • Mahasiswa mampu:

      1. Menjelaskan proses anggaran federal dan sejarah pengeluaran, penerimaan, defisit, dan hutang baru-baru ini

      2. Menjelaskan efek sisi penawaran dari kebijakan fiskal

      3. Menjelaskan bagaimana pilihan kebijakan fiskal mendistribusikan kembali manfaat dan biaya lintas generasi

      4. Menjelaskan bagaimana stimulus fiskal digunakan untuk melawan resesi

      5. Menjelaskan tentang Siklus Bisnis dan Pengaruhnya Terhadap Makro ekonomi 

      6. Menjelaskan Keterkaitan antara Kebijakan Fiskal dan Siklus Bisnis 

    • Perekonomian dalam suatu negara menjadi tolak ukur pasti dalam melihat seberapa sukses suatu negara. Oleh karena itu pemerintah senantiasa menjaga stabilitas ekonomi dalam negaranya melalui penetapan berbagai kebijakan diantaranya kebijakan fiskal dan moneter. Pengertian kebijakan fiskal adalah berkaitan dengan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dengan mengatur pemasukan dan pengeluaran negara.

    • Sebelum membahas lebih jauh mengenai kebijakan Fiskal mahaiswa harus mengetahui pengertian kebijakan fiskal secara mendalam terlebih dahulu.

      Fiskal sendiri digunakan untuk memberikan penjelasan mengenai bentuk pendapatan pemerintah yang berasal dari masyarakat. Pendapatan tersebut dianggap sebagai pendapatan yang digunakan sebagai pengeluaran negara untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negara.

      Kebijakan fiskal merupakan merupakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dengan cara meningkatkan atau menurunkan pendapatan atau anggaran negara. Pemerintah memiliki kewenangan untuk menentukan besaran anggaran atau pendapatan yang dikeluarkan pada program tertentu. 

      Kebijakan ini dibuat dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian dan menjaga keseimbangan ekonomi dalam negara. Pembuatan kebijakan ini tidak lain didasarkan pada teori John Maynard Keynes mengenai fungsi kebijakan fiskal. 

      Dalam teori ini Keynes meyakini bahwa peningkatan atau penurunan pendapatan dan pengeluaran dapat mempengaruhi perekonomian negara. Kebijakan ini bisa meningkatkan inflasi, aliran kas, dan mengatasi pengangguran dalam suatu negara.

      Melalui kebijakan ini pengeluaran agregat dapat ditingkatkan yang bisa berdampak pada pendapatan nasional dan tingkat penggunaan tenaga kerja. Selain itu permintaan agregat mengenai jumlah produksi barang dan jasa pada tingkat harga tertentu juga menjadi tolak ukur keberhasilan negara.


      Jenis Kebijakan Fiskal

      Setelah mengetahui pengertian kebijakan fiskal secara mendalam, pembahasan selanjutnya yang akan menjadi informasi penting adalah jenis-jenis kebijakan fiskal. Secara umum, kebijakan ini dibagi dalam 2 jenis yaitu kebijakan ekspansif dan kebijakan kontraksional yang dibahas lebih lanjut berikut ini.

      1. Ekspansif

      Kebijakan jenis ini biasa diterapkan saat negara mengalami resesi atau deflasi yang cukup serius untuk merangsang kembali pertumbuhan ekonomi. Melalui kebijakan ini, pemerintah akan melakukan penurunan pajak atau membelanjakan uang dalam jumlah besar atau bisa keduanya.

      Tujuan dilakukannya kebijakan ini adalah untuk membuat konsumen memegang lebih banyak uang. Saat masyarakat memegang uang lebih banyak, mereka akan membelanjakannya lebih banyak pula yang berguna untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

      2. Kontraksional

      Berbanding terbalik dengan jenis kebijakan sebelumnya, kebijakan konstruksional dilakukan untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Aneh memang jika kebijakan ini di terapkan karena laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa menguntungkan negara.

      Namun hal ini tidak berlaku bagi negara yang mengalami tingkat inflasi yang tinggi. Ternyata bukan hanya deflasi yang merugikan, namun inflasi yang terlalu tinggi juga dapat memberi dampak buruk bagi negara. Kebijakan kontraksioner dilakukan dengan memotong pengeluaran negara dan meningkatkan pajak.


      Komponen di Dalam Kebijakan Fiskal

      Pembahasan selanjutnya untuk melengkapi informasi seputar kebijakan fiskal adalah komponen-komponen yang terdapat di dalam kebijakan tersebut. Secara umum, fiscal policy memiliki 4 komponen utama yang terdiri dari kebijakan perpajakan, pengeluaran, investasi dan pengelolaan utang. Untuk memahami keempat komponen tersebut, simak selengkapnya berikut ini.

      1. Kebijakan Perpajakan

      Kebijakan perpajakan merupakan salah satu kebijakan yang diberlakukan dalam penentuan fiscal policy. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah yang terbesar baik dari pajak langsung maupun pajak tidak langsung. Penetapan kebijakan ini bertujuan menjaga pajak progresif melalui keputusan pemberlakuan pajak.

      Menaikkan tarif pajak dapat mengurangi daya beli masyarakat terhadap barang/jasa dan berimbas pada penurunan produksi dan investasi. Sebaliknya, jika tarif pajak diturunkan maka masyarakat memiliki kesempatan untuk membelanjakan uangnya untuk meningkatkan inflasi.

      2. Kebijakan Pengeluaran

      Kebijakan yang berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran modal dalam negara diatur dalam kebijakan pengeluaran. Pengeluaran modal dilakukan untuk berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya serta membayar kewajiban negara beserta bunga internal maupun eksternalnya.

      Anggaran pemerintah sangat penting untuk mewujudkan pengeluaran pemerintah yang efektif dalam suatu negara. Hal ini bisa digunakan sebagai pelunasan terhadap pembiayaan defisit dalam mengisi kesenjangan antara pendapatan dan belanja negara.

      3. Kebijakan Investasi dan Disinvestasi

      Agar pertumbuhan ekonomi berada dalam keseimbangan maka optimalisasi investasi harus ditingkatkan. Pada beberapa tahun belakangan ini, arus modal internasional semakin meningkat dan memberikan dampak yang cukup besar. Melalui Arus Modal Internasional ekonomi domestic dapat diintegrasikan secara baik dengan ekonomi global.

      4. Pengelolaan Utang atau Surplus

      Apabila pendapatan yang diterima oleh pemerintah lebih besar daripada anggaran yang dihabiskan maka negara tersebut mengalami surplus. Namun jika terjadi kondisi sebaliknya maka negara tersebut mengalami defisit atau kerugian. Pembiayaan terhadap defisit atau kerugian dilakukan dengan melakukan pinjaman dari pihak asing atau dengan mencetak uang.

      Dampak Kebijakan Fiskal dalam Bisnis

      Nah itulah informasi seputar informasi mendalam mengenai pengertian kebijakan fiskal, tujuan, jenis hingga komponennya yang menjadi pembahasan kali ini. Melalui tulisan ini, pembaca diharapkan bisa mengambil manfaat dan pengetahuan dari pembahasan kali ini.

      Kebijkan fiskal terkadang juga berdampak pada operasional bisnis yang sedang Anda bangun, misalnya dengan kebijakan peningkatan pajak. Untuk mengantisipasi dampak negatif dari kebijakan ini, ada baiknya Anda melakukan perencanaan finansial pada bisnis dengan pembukuan yang benar dan sesuai standar.

      Tujuan Kebijakan Fiskal

      Tujuan utama dikeluarkannya kebijakan fiskal adalah untuk menentukan arah, tujuan, sasaran, dan prioritas pembangunan nasional serta pertumbuhan perekonomian bangsa. Adapun tujuan-tujuan dikeluarkannya kebijakan fiskal secara rinci adalah sebagai berikut.

      • Mencapai kestabilan perekonomian nasional.
      • Memacu pertumbuhan ekonomi.
      • Mendorong laju investasi.
      • Membuka kesempatan kerja yang luas.
      • Mewujudkan keadilan sosial.
      • Sebagai wujud pemerataan dan pendistribusian pendapatan.
      • Mengurangi pengangguran.
      • Menjaga stabilitas harga barang dan jasa agar terhindar dari inflasi.

      Instrumen Kebijakan Fiskal 

      Adapun instrumen kebijakan fiskal, diantaranya adalah sebagai berikut:

      1. Anggaran belanja seimbang. Anggaran belanja menggunakan perpaduan antara anggaran defisit dan anggaran surplus, yaitu dengan memadukan antara konsep pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan dan juga menggunakan konsep pemasukan yang lebih banyak daripada pengeluarannya.
      2. Pembiayaan fungsional. Kebijakan fiskal fokus pada penyesuaian anggaran negara dengan menentukan biaya atau anggaran yang digunakan oleh pemerintah. Kebijakan pembiayaan fungsional ini bertujuan untuk menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja dengan membuka berbagai lapangan pekerjaan baru. Dalam kebijakan ini pula, pajak dan pengeluaran pemerintah ditempatkan atau diposisikan pada tempat yang berbeda.
      3. Anggaran defisit atau Kebijakan fiskal ekspansif, yang merupakan salah satu kebijakan pemerintah  bertujuan untuk memberikan stimulus pada sebuah perekonomian. Hal ini dilakukan dengan cara mengupayakan pengeluaran negara untuk belanja dan pembangunan lebih besar daripada pemasukan selama kurun waktu tertentu. Anggaran defisit dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Defisit konvensional, Defisit moneter, Defisit operasional, dan Defisit primer.
      4. Anggaran surplus atau kebijakan fiskal kontraktif. Kebijakan ini diberlakukan ketika situasi ekonomi pada kondisi yang ekspansi serta overheating. Hal ini hanya dilakukan untuk menurunkan tekanan dan desakan yang kian tinggi dari permintaan.
      5. Stabilitas anggaran otomatis, yang dapat diartikan sebagai upaya untuk tetap mempertahankan keadaan dan kondisi perekonomian yang sudah bagus dengan cara menyesuaikan anggaran yang dimiliki negara. Dengan memperhatikan penggunaan biaya atau dana, dalam kebijakan ini diusahakan untuk menekan pengeluaran negara dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan tentunya dengan biaya minimum namun bisa menghasilkan banyak hasil.
      6. Pengelolaan anggaran yang merupakan salah satu usaha dari pemerintah untuk menjaga sebuah kestabilan perekonomian negara. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan serta menggunakan hasil pajak atau pinjaman sebagai modal dasarnya.

      Fungsi Kebijakan Fiskal

      1. Mengoptimalkan penggunaan SDA dan SDM, karena sumber daya merupakan salah satu komponen penting yang harus ada dalam sebuah negara. Kebijakan fiskal berfungsi untuk menyeimbangkan antara sumber daya alam yang ada dengan sumber manusia yang ada.
      2. Mengoptimalkan kegiatan investasi. Investasi merupakan salah satu kegiatan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah dan negara. Kehadiran kebijakan fiskal berfungsi  untuk membuka seluas-luasnya peluang bagi para pemilik modal untuk menginvestasikan modalnya.

      http://

      http://

    • Efek kebijakan fiskal terhadap perekonomian dapat dilihat dari beberapa perspektif yang berbeda (Hemming, Kell, & Mahfouz, 2002), yaitu dari sisi permintaan (demand-side effects of fiscal policy), penawaran (supply-side effects of fiscal policy), dan kelembagaan (institutional aspects of fiscal policy). 

      1. Pengaruh Kebijakan Fiskal dari Sisi Permintaan 

      Pengaruh kebijakan fiskal dari sisi permintaan ini lebih lanjut diklasifikasikan berdasarkan perspektif mainstream utama dalam teori ekonomi, yaitu Keynesian dan Non-Keynesian. 

      a. Pendekatan Keynesian 

      Model Keynesian yang paling sederhana mengasumsikan adanya kekakuan harga (price rigidity) dan perekonomian mengalami kelebihan kapasitas (excess capacity), sehingga output ditentukan oleh permintaan agregat (aggregate demand). Dalam model ini, ekspansi fiskal mempunyai efek pengganda (multiplier effect) terhadap permintaan agregat dan output. 

      Ekspansi fiskal mendorong peningkatan permintaan agregat melalui salah satu dari dua saluran, yaitu : Pertama, apabila pemerintah meningkatkan belanja dan penerimaan pajak diasumsikan tetap sama, maka permintaan agregat akan bertambah secara langsung. Kedua, apabila pemerintah mengurangi pajak (tax cuts) atau menaikkan transfer payments, maka pendapatan masyarakat yang dapat dibelanjakan (disposable income) akan bertambah, dan masyarakat cenderung menambah konsumsi. Peningkatan konsumsi yang peka (responsiveness) terhadap perubahan pendapatan ini mempengaruhi pengganda Keynesian dengan nilai lebih besar dari satu, dan dengan kecenderungan meningkat. Nilai pengganda Keynesian lebih besar untuk peningkatan belanja dibandingkan untuk pemotongan pajak. Apabila peningkatan belanja diimbangi dengan peningkatan pajak, maka hasilnya adalah nilai pengganda anggaran berimbang (balanced budget multiplier) persis sama dengan satu. 

      Sementara itu, dalam model Keynesian yang diperluas (model IS-LM standar) dikemukakan bahwa kebijakan fiskal juga dapat mengubah komposisi permintaan agregat. Apabila pemerintah menjalankan defisit anggaran, sejumlah pembiayaan akan dipenuhi dengan menerbitkan obligasi, sehingga pemerintah berkompetisi dengan sektor swasta untuk mendapatkan dana masyarakat. Hal ini akan mendorong naiknya suku bunga dan memungkinkan terjadinya "crowding out" investasi swasta. 

      Dengan demikian, ekspansi fiskal yang dikompensasi dengan tambahan pinjaman menyebabkan suku bunga naik lebih tinggi dan selanjutnya mengurangi investasi . Crowding out mungkin menjadi lebih besar apabila investasi sensitif terhadap suku bunga. Namun demikian, apabila investasi merupakan fungsi dari pendapatan sekarang (current income)ΓÇösesuai konsep dalam model akselerator pengganda (multiplier-accelerator models)ΓÇöbisa menghasilkan pengganda fiskal yang cukup besar. Kemungkinan crowding out juga bisa terjadi melalui nilai tukar, terutama untuk perekonomian terbuka, sebagaimana dikemukakan dalam model IS-LM (Mundell-Fleming). Suku bunga yang lebih tinggi merangsang masuknya modal dari luar negeri (capital inflows) yang pada gilirannya menyebabkan nilai tukar mengalami apresiasi (penguatan). 

      Apresiasi ini menyebabkan barang-barang yang diimpor menjadi lebih murah dan ekspor menjadi lebih mahal. Implikasinya, karena terjadinya peningkatan permintaan domestik yang berasal dari ekspansi fiskal, maka kondisi neraca transaksi berjalan (current accounts) menjadi lebih buruk. Derajat crowding out juga dipengaruhi oleh fleksibilitas harga. Model Neo Keynesian menganggap bahwa harga yang fleksibel, walaupun dibatasi dalam jangka pendek, cenderung mempersempit rentang nilai yang ditimbulkan oleh pengganda fiskal, dan membatasi pengaruh rezim nilai tukar. Dalam perekonomian tertutup, ekspansi fiskal akan menyebabkan harga-harga lebih tinggi dan menghambat kenaikan permintaan agregat dalam jangka pendek, dengan mendorong crowding out melalui suku bunga yang terjadi dengan rijiditas harga. Dalam perekonomian terbuka dengan nilai tukar fleksibel, derajat crowding tergantung pada respon harga-harga domestik terhadap perubahan nilai tukar. Perubahan suku bunga, nilai tukar, dan harga-harga bisa mempengaruhi crowding out melalui efek kekayaan (wealth effects) terhadap permintaan agregat.

      b. Pendekatan Non-Keynesian 

       Pendekatan ini berasal dari model neo-klasik yang menyoroti kelemahankelemahan pendekatan Keynesian. Meskipun model neo-klasik memberikan penekanan pada efek kebijakan fiskal dari sisi penawaran (supply-side effects), namun ada beberapa karakteristik model ini yang memiliki implikasi terhadap permintaan. Menurut model neo-klasik, apabila konsumen berorientasi ke masa depan dan sangat sadar tentang konstrain anggaran antar waktu pemerintah (government's intertemporal budget constraint), maka konsumen beranggapan bahwa pemotongan pajak sekarang akan dibiayai melalui utang oleh pemerintah. Akibatnya dimasa yang akan datang pajak yang dikenakan lebih tinggi. Argumen ini dikenal dengan Ricardian equivalence (Barro, 1974). Dengan demikian, antara pajak dan utang memiliki Ricardian equivalence. Ricardian equivalence yang sempurna menunjukkan bahwa penurunan tabungan pemerintah akibat pemotongan pajak akan diimbangi dengan tabungan swasta yang lebih tinggi, dan permintaan agregat tidak terpengaruh. Pengganda fiskal dalam kasus ini adalah nol. 

      Fokus dalam Ricardian equivalence adalah pada efek pemotongan pajak lump-sum untuk arah belanja pemerintah tertentu. Dengan pajak proporsional atau progresif, pemotongan pajak akan mempengaruhi pendapatan permanen. Apabila ekspansi fiskal (peningkatan belanja pemerintah), maka dampaknya terhadap pendapatan permanen tergantung pada bagaimana ekspansi fiskal dibiayai dimasa yang akan datang. Peningkatan belanja pemerintah yang bersifat temporer tidak akan berpengaruh karena diimbangi dengan pemotongan belanja dimasa mendatang. Namun demikian, peningkatan belanja pemerintah yang dibiayai melalui pajak yang lebih tinggi dimasa mendatang akan menyebabkan penurunan pendapatan permanen dan konsumsi.

      2. Pengaruh Kebijakan Fiskal dari Sisi Penawaran 

      Disamping pengaruhnya terhadap permintaan agregat dan tabungan, kebijakan fiskal juga mempengaruhi perekonomian melalui perubahan insentif. Pengenaan tarif pajak marjinal yang tinggi atas pendapatan berpotensi mengurangi insentif untuk menghasilkan pendapatan. Para ekonom "supply-side" menyatakan bahwa pengurangan tarif pajak akan berpengaruh besar terhadap jumlah tenaga kerja yang ditawarkan, dan juga terhadap output. Pengaruh insentif terhadap pajak juga memainkan peranan pada sisi permintaan. Kebijakan kredit pajak investasi, misalnya, dapat mempengaruhi permintaan atas barang-barang modal. 

      Kebijakan yang hanya mempromosikan respon sisi penawaran bisa mengatasi konstrain kapasitas, dan dampaknya terutama dalam jangka panjang. Namun demikian, efek sisi penawaran dari kebijakan fiskal bisa memiliki konsekuensi pada sisi permintaan dalam jangka pendek karena ekspektasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih tinggi. Apabila ekspansi fiskal dilakukan melalui pemotongan pajak dan peningkatan belanja untuk sisi penawaran, hal ini akan cenderung meningkatkan pengganda fiskal. 

      Untuk menilai dampak kebijakan fiskal jangka pendek dari sisi penawaran yang harus diperhatikan adalah pengaruh perubahan pendapatan tenaga kerja terhadap penawaran tenaga kerja dan pengaruh perubahan pajak modal (capital taxes) terhadap tabungan dan investasi. Selain itu, pengaruh perubahan belanja terhadap produktivitas tenaga kerja dan modal juga harus mendapatkan perhatian, khususnya belanja pemerintah untuk barang-barang publik dan barang-barang lainnya dengan eksternalitas positif.

      http://

    • Apa itu siklus bisnis?

      Siklus bisnis disebut juga sebagai siklus ekonomi atau siklus perdagangan. Secara sederhana siklus bisnis dapat dimaknai sebagai rangkaian kondisi ekonomi yang terjadi secara berulang, konstan, dan teratur dalam periode tertentu. Meski berulang, namun panjang siklus bisnis tak bisa diprediksi atau ditentukan secara pasti. Variabel yang digunakan sebagai tolok ukur dari siklus bisnis adalah tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil.

      Fluktuasi perekonomian di setiap negara terjadi antara periode ekspansi dengan kontraksi. Perubahan kondisi ekonomi ini disebabkan oleh tingkat pekerjaan, produktivitas, dan permintaan terhadap pasokan barang dan jasa di suatu negara. Dalam jangka pendek, perubahan ini kurang berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, karena menyebabkan perekonomian negara memasuki periode ekspansi dan resesi. Namun dalam jangka panjang, ekonomi yang fluktuatif dapat memicu terjadinya pertumbuhan ekonomi, karena otoritas suatu negara dapat memiliki kesempatan untuk meningkatkan potensi output-nya dari waktu ke waktu.

      Siklus bisnis dapat dipahami pula sebagai jenis fluktuasi dalam aktivitas ekonomi agregat dari berbagai negara, yang terdiri dari ekspansi, resesi, kontraksi, dan kebangkitan ekonomi. Durasi terjadi siklus bisnis sangat bervariasi, dari yang terpendek lebih dari satu tahun hingga terpanjang sepuluh hingga dua belas tahun. Meski berfluktuasi, namun periode terjadinya tidak bisa diprediksi secara pasti. Artinya, meski siklus bisnis merupakan rangkaian kondisi ekonomi yang berulang, namun periode terjadi pengulangannya tidak dapat dipastikan dalam jangka waktu yang sama.

      Tahapan dalam siklus bisnis

      Siklus bisnis secara umum terdiri dari empat fase atau tahapan, yaitu kemakmuran (puncak siklus), kemerosotan (resesi ekonomi), palung perekonomian, dan pemulihan (ekspansi).

      • Kemakmuran

      Tahap kemakmuran ini merepresentasikan puncak siklus, di mana perekonomian suatu negara sedang dalam kondisi yang baik. Laju pertumbuhan ekonomi tinggi dan tingkat pengangguran rendah. Pada tahap ini, daya beli masyarakat meningkat seiring dengan naiknya pendapatan masyarakat. Berkenaan dengan hal ini, di tahap ini umumnya konsumen ingin memanfaatkan uang yang dimilikinya untuk mendapatkan tingkat kepuasan tertinggi atas barang dan jasa.

      Dari sudut pandang produsen, kondisi ekonomi pada tahap puncak siklus ini dimanfaatkan dengan melakukan ekspansi bisnis dan melakukan inovasi dengan memproduksi serta menawarkan produk-produk baru kepada konsumen. Selain itu, produsen juga melakukan diversifikasi produk.

      Sebagaimana berjalannya suatu siklus, pada tahap kemakmuran atau puncak siklus ini sekaligus menjadi titik balik di mana peningkatan output berangsur berhenti dan mulai mengalami penurunan.

      • Kemerosotan

      Dari tahap kemakmuran atau puncak siklus, kondisi ekonomi beranjak ke tahap kemerosotan yang ditandai dengan terjadinya resesi ekonomi. Perekonomian suatu negara dikatakan berada dalam tahap resesi apabila nilai PDB mengalami penurunan atau nilai pertumbuhan ekonomi riil negatif selama dua kuartal atau lebih dalam periode satu tahun.

      Akibatnya, output menurun dan pengangguran meningkat. Secara lebih lanjut kondisi ini berdampak pada tingginya tingkat pengangguran, karena banyak pekerja yang terpaksa harus kehilangan pekerjaannya akibat terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Resesi ekonomi tak ubahnya kelesuan ekonomi, di mana tingkat permintaan menurun yang berimbas pada volume produksi yang menurun pula. Kondisi ini jelas berpengaruh pada berkurangnya penerimaan perusahaan, sehingga mau tak mau harus dilakukan pengurangan pekerja. Pada tahap ini, perusahaan selaku produsen lebih memprioritaskan produksi barang-barang yang mampu memberikan nilai plus kepada konsumen.

      Pengurangan pekerja berakibat pada pemutusan hubungan kerja, sehingga angka pengangguran semakin meningkat. Dampak lebih lanjut tentu saja berkurangnya pendapatan masyarakat sehingga daya beli menurun. Masyarakat selaku konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, tak lagi loyal terhadap barang dan jasa. Sebab itulah tingkat permintaan menurun drastis.

      Resesi ekonomi terjadi umumnya disebabkan oleh pasokan persediaan barang yang berlebih, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan konsumsi, di mana konsumsi justru mengalami penurunan. Selain itu, resesi ekonomi juga dapat disebabkan oleh kurangnya inovasi.

      • Palung perekonomian

      Palung merupakan lekukan dalam pada tanah berisi air. Di laut, keberadaan palung ini membahayakan karena mampu menjebak di mana jika ada orang yang terjebak di dalamnya akan sulit keluar sehingga berisiko terseret ke laut lebih dalam bahkan sampai kehilangan nyawa. Sebagaimana yang digambarkan, palung dalam ekonomi juga memiliki makna yang membahayakan. Palung perekonomian dapat dimaknai sebagai kondisi resesi yang lebih parah dan mengarah pada depresi ekonomi. Suatu negara yang perekonomiannya mengalami tahap palung artinya harus merumuskan kebijakan baik moneter maupun fiskal guna menyelamatkan perekonomian negara.

      Di satu sisi, tahap palung ini menempatkan perekonomian suatu negara pada titik nadir. Pertumbuhan ekonomi jelas mengalami penurunan, bahkan bisa jadi negara mengalami defisit yang memaksa otoritas terkait melakukan pinjaman asing. Iklim investasi suram karena investor kehilangan kepercayaannya dan menarik dananya keluar. Meski ekonomi mengalami masa suram di tahap ini, namun perlahan akan menemukan cahaya terang. Tahap ini merupakan titik balik di mana resesi ekonomi mulai berakhir dan kegiatan produksi kembali menggeliat sehingga output mulai mengalami peningkatan.

      • Pemulihan

      Pada tahap pemulihan, geliat perekonomian kembali dapat dirasakan. Berangsur secara perlahan namun pasti, tingkat permintaan masyarakat akan barang dan jasa mulai naik. Hal ini tentu saja memicu produsen untuk meningkatkan volume produksi. Seiring volume produksi yang meningkat, angka penggangguran mulai dapat diatasi.

      Pemulihan merepresentasikan ekspansi, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi mulai meningkat mengikuti kontraksi dan palung dalam siklus bisnis. Kondisi ekonomi dikatakan memasuki tahap pemulihan apabila PDB riil kembali pada tingkat potensi jangka panjangnya. Di tahap pemulihan ini, perekonomian bergerak dari depresi dan resesi menuju kemakmuran di mana pertumbuhan ekonomi mulai merangkak naik dan stabil. Pergerakan ekonomi ini akan terus berlanjut hingga mencapai puncak siklus kembali (tahap kemakmuran).

      Dalam sejarah perekonomian dunia, siklus bisnis yang terjadi berlangsung antara 3 hingga 5 tahun dalam satu periode tahapan siklus. Pada periode siklus bisnis tersebut, durasi terjadinya resesi ekonomi sekitar 11 bulan. Perumusan dan implementasi kebijakan moneter dan fiskal yang tepat dapat memperpendek masa resesi ekonomi dan mempercepat terjadinya tahap pemulihan ekonomi.

      http://

      http://


    • Perilaku kebijakan fiskal dalam menghadapi siklus bisnis (business cycles) telah lama menjadi pembahasan di kalangan ekonom. Berdasarkan aliran pemikiran, terdapat dua kelompok utama yang mengemukakan pandangan mereka berkaitan dengan perilaku kebijakan fiskal dan siklus bisnis, yaitu ekonom pendukung Keynessian (counter-cyclical) dan ekonom pendukung hipotesis taxsmoothing. Pendukung Keynesian yang lebih menyukai kebijakan fiskal countercyclical menyatakan bahwa pemerintah harus meningkatkan belanja dan/atau menurunkan tarif pajak selama resesi untuk menstimulasi permintaan agregat dan secara parsial mencegah penggunaan sumber daya ekonomi yang tidak optimal (underemploying) dalam jangka waktu yang panjang. Sebaliknya, dalam periode ekspansi (booms) pemerintah harus melakukan pengurangan belanja dan/atau menaikkan tarif pajak untuk mendinginkan (cool off) perekonomian dan mengendalikan tekanan inflasi. 

      Menurut perspektif ini, pemerintah sebaiknya mengurangi belanja sebagai proporsi dari PDB selama periode booms, dan meningkatkannya selama masa resesi. Perspektif ini mengikuti hipotesis perataan konsumsi (consumptionsmoothing hypothesis) yang menyatakan bahwa fungsi belanja pemerintah sebaiknya menempati pendapatan permanen dasar, bukan pendapatan lancar (current income). Apabila pemerintah memperhatikan smoothing jalur produksi dan dianggap mampu menstabilisasi output, pemerintah dapat mengoperasikan kebijakan fiskal countercyclical. Idenya adalah bahwa goncangan negatif terhadap permintaan atas barang-barang domestik secara parsial bisa diimbangi dengan peningkatan permintaan pemerintah. Dengan cara yang sama, pemerintah dapat mengkontraksi kegiatannya selama periode boom, untuk menghindari memanasnya (overheating) perekonomian domestik. 

      Argumen lain adalah model tax-smoothing yang diperkenalkan oleh Barro (1979). Model ini menyatakan bahwa kebijakan sebaiknya tetap netral selama siklus bisnis dan hanya merespon perubahan-perubahan yang tidak diantisipasi yang mempengaruhi konstrain anggaran pemerintah (Talvi and Vegh, 2000). Barro menjelaskan bahwa biaya-biaya pajak yang distortif, disamping program yang countercyclical untuk belanja pemerintah sebagai rasio dari PDB, menimbulkan tax smoothing sebagai kebijakan fiskal optimal. Misalkan, dalam skenario Barro, pajak yang konstan dipilih3 (yang menghindari distorsi antar waktu yang terjadi jika tarif pajak berubah selama siklus ekonomi), sehingga anggaran secara rata-rata berimbang selama siklus ekonomi. Akibatnya, penerimaan pajak sebagai rasio terhadap PDB bersifat acyclical ΓÇô dengan tarif pajak konstan, penerimaan naik tajam selama boom dan turun selama resesi. Namun demikian, dengan jalur belanja pemerintah yang bersifat countercyclical dan rasio pajak terhadap PDB yang acyclical, defisit anggaran bersifat countercyclical. Berdasarkan argumen tersebut, pada satu sisi, apabila pengambil keputusan mengikuti aturan Keynesian, dapat dikatakan selama siklus bisnis korelasi positif antara tarif pajak dan output, dan korelasi negatif antara belanja pemerintah dan output.5 Pada sisi lain, jika pengambil keputusan mengikuti argumen Barro, korelasi tersebut sangat rendah, hampir mendekati nol.

      Dalam pada itu, Kaminsky, Reinhart dan V├⌐gh (KRV, 2004)ΓÇökarena alasan pentingnya peranan siklikal kebijakan untuk memahami kebijakan aktualΓÇö mendefinisikan siklikalitas (cyclicality) kebijakan fiskal berdasarkan instrumeninstrumen kebijakanΓÇöbelanja pemerintah (g) dan tarif pajak (∩ü┤ )ΓÇöbukan berdasarkan hasil (outcomes) kebijakan dalam artian keseimbangan fiskal atau penerimaan pajak. Berdasarkan definisi siklikalitas tersebut kemudian diuji implikasinya terhadap variabel-variabel endogen seperti keseimbangan fiskal primer (primary fiscal balance), penerimaan pajak, dan variabel fiskal lainnya sebagai proporsi terhadap PDB. Definisi siklikalitas kebijakan fiskal dimaksud dirangkum dalam Tabel 1, dengan penjelasan sebagai berikut : 

      i. Kebijakan fiskal dikatakan countercyclical karena cenderung menstabilisasi siklus bisnis (yaitu, kebijakan fiskal bersifat kontraktif pada waktu perekonomian mengalami ekspansi (good times) dan ekspansif pada waktu perekonomian mengalami kontraksi atau resesi (bad times). Kebijakan fiskal countercyclical ditandai dengan belanja pemerintah yang lebih rendah (lebih tinggi) dan tarif pajak lebih tinggi (lebih rendah) pada waktu ekonomi berekspansi (berkontraksi). 

      ii. Kebijakan fiskal dikatakan procyclical karena cenderung mendukung atau mengikuti siklus bisnis (yaitu, kebijakan fiskal bersifat ekspansif pada good times dan kontraktif pada bad times). Kebijakan fiskal procyclical ditandai dengan belanja pemerintah yang lebih tinggi (lebih rendah) dan tarif pajak lebih rendah (lebih tinggi) pada good (bad) times. 

      iii. Kebijakan fiskal dikatakan acyclical karena tidak mendukung atau menstabilisasi siklus bisnis. Kebijakan fiskal acyclical ditandai dengan belanja pemerintah dan tarif pajak yang tetap (konstan) selama siklus (atau lebih jelasnya belanja pemerintah dan tarif pajak tidak berubah secara sistematis seiring dengan siklus bisnis).

      Tabel 1. Indikator Fiskal : Korelasi Teoritis dengan Siklus Bisnis


      Untuk memahami implikasi teoritis dari siklus bisnis terhadap indikator fiskal, dapat diperhatikan uraian berikut ini : 

      - Misalkan kebijakan fiskal acyclical. 

      Karena tarif pajak konstan selama siklus dan basis pajak bertambah pada good times dan berkurang pada bad times, maka penerimaan pajak berkorelasi positif dengan siklus bisnis. Hal ini pada gilirannya berimplikasi pada keseimbangan primer yang juga berkorelasi positif dengan siklus. Rasio belanja pemerintah (neto dari pembayaran bunga) terhadap PDB berkorelasi negatif dengan siklus karena belanja pemerintah tidak berubah dan, menurut definisi, PDB tinggi (rendah) pada good (bad) times. Dengan penerimaan pajak yang lebih tinggi (rendah) pada good (bad) times, korelasi rasio penerimaan pajak terhadap PDB dengan siklus bersifat mendua atau ambiguous. (yaitu menjadi positif, nol, atau negatif sebagaimana ditunjukkan pada tabel 2.1 di atas). Akibatnya, korelasi keseimbangan primer sebagai proporsi dari PDB dengan siklus juga ambiguous. 

      - Misalkan kebijakan fiskal procyclical. 

      Karena menurut definisi, tarif pajak turun (naik) pada good (bad) times, namun basis pajak bergerak dengan arah yang berlawanan, maka korelasi penerimaan pajak dengan siklus ambiguous. Karena g naik pada good times, korelasi g/GDP pada prinsipnya bisa bernilai salah satu. Dengan perilaku siklikal penerimaan pajak yang ambiguous perilaku siklikal penerimaan pajak sebagai proporsi GDP juga ambiguous. Perilaku keseimbangan primer sebagai proporsi PDB juga menjadi ambiguous.

      - Misalkan kebijakan fiskal countercyclical. 

      Per definisi, tarif pajak tinggi pada good times dan rendah pada bad times, yang menunjukkan bahwa penerimaan pajak berubah secara positif (searah) dengan siklus. Hal yang sama juga berlaku bagi keseimbangan primer karena penerimaan pajak naik (turun) dan belanja pemerintah turun (naik) pada good (bad) times. Rasio g/GDP akan berubah secara negatif (berlawanan arah) dengan siklus karena g turun (naik) pada good (bad) times. Karena penerimaan pajak meningkat pada good times, perilaku penerimaan pajak sebagai proporsi PDB akan menjadi ambiguous dan, karena itu, perilaku keseimbangan primer sebagai proporsi dari PDB juga ambiguous.

      Untuk memahami keterkaitan antara Kebijakan Fiskal dan Siklus Bisnis, silahkan lihat pada tayangan sebagai berikut: 

      http://

    • Silahkan Kerjakan sbb: 

      1. STRUKTUR PASAR : (15 point)

      Diketahui perusahaan monopoli memiliki kurva permintaan dan biaya dengan fungsi sebagai berikut:

      QD = 1000 - 2P

      TC = 5.000 + 50Q

      a.  Tentukan kuantitas dan harga pemonopoli yang memaksimalkan keuntungan.

      b. Tentukan keuntungan perusahaan monopoli.

       

      2. Monopolistik dan Oligopoli (25 point)

      a. Bagaimana industri yang bersaing secara monopolistik seperti persaingan sempurna? Bagaimana rasanya monopoli? (5 point)

      b. Ford Motor Company saat ini mengambil pangsa pasar dari para pesaingnya dan berinovasi pada produk baru dengan fitur yang diinginkan konsumen. Namun di masa lalu, Ford terkenal kehilangan pangsa pasar karena saingannya ketika pendiri Henry Ford menolak untuk terlibat dalam diferensiasi produk, lebih memilih efisiensi produksi massal dari satu produk, dengan mengatakan bahwa pelanggan bisa mendapatkan Model T dalam warna apa pun, selama itu hitam. Apa keuntungan dan kerugian dari diferensiasi produk? Dapatkah pasar itu sendiri menentukan jumlah diferensiasi produk yang tepat dari waktu ke waktu, jelaskan dengan singkat? (25 point)

       

      3. Teori Produksi (20 point)

      Diketahui Suatu perusahaan ban dapat memproduksi sejumlah Q ban perhari dengan biaya          

      TC = 500 + 2Q + 0,5 Q┬▓ dengan harga ( P ) $70,- per ban

           a. Nyatakan penghasilan ( TR ) dan Laba ( ╧Ç ) sebagai fungsi dari Q.

                 b. Berapa Output(Q) yang menghasilkan Laba maximum dan berapa Laba max. tsb.

       

      4. Pertumbuhan Ekonomi (20 point)

      a. Dalam suatu perekonomian terbuka diketahui fungsi sebagai berikut:   Y = C + I + G + (X-M)

           Apabila  ΓÇó Fungsi konsumsi: C = 500 + 0,8Yd

                      ΓÇó Pajak adalah 25% dari pendapatan nasional

                      ΓÇó Investasi swasta bernilai 500, sedangkan pengeluaran pemerintah bernilai 1000

                      ΓÇó Ekspor negara tersebut bernilai 800, manakala impor adalah 10% dari pendapatan nasional.

                      ΓÇó tingkat kesempatan kerja penuh pada pendapatan nasional sebanyak 6.000.

       

      Pertanyaan:

      a. Tentukan fungsi konsumsi sebagai fungsi dari Y!

      b. Tentukan pendapatan nasional pada keseimbangan.

      c. Untuk mencapai kesempatan kerja penuh, perubahan yang bagaimanakah perlu dibuat apabila: 1) Pajak saja yang diturunkan (Berapa besar pajak harus diturunkan?).

       

      5.  The Economy in the Short Run: Theory of Aggregate Supply (20 Poin)

      Jika dalam teori ekonomi mikro ada kerangka teori Supply dan Demand, maka dalam ekonomi makro ada kerangka teori Aggregate Supply (AS) dan Aggregate Demand (AD).

      a. Ada perbedaan antara kurva Aggregate Supply jangka pendek dan jangka panjang dalam kerangka teori Aggregate Supply? Jelaskan jawaban anda lengkap dengan grafiknya. (5 poin)

      b. Mengapa supply shock sering disebut juga dengan price shock? Lengkapi jawaban Anda dengan memberikan setidaknya 3 contoh supply shock beserta pengaruhnya terhadap pembentukan harga dalam jangka pendek. Jelaskan dengan menggunakan grafik AD-AS. (5 poin)

      c. Jelaskan apa itu fenomena stagflation? Berikan contoh kasus kapan fenomena tersebut pernah terjadi suatu perekonomian (boleh kasus Indonesia atau negara lain). (5 poin)

      d. Dengan menggunakan kerangka teori AD-AS, secara teoritis, apa saja kebijakan yang dapat dilakukan untuk menstabilitasi kondisi perekonomian yang sedang mengalami stagflasi? (5 poin)

       Catatan: 

      1. Batas waktu pengumpulan tugas 1 minggu sejak tanggal 25 Januari 2020 pukul 08.50 (dateline 01 Februari 2020 jam 08.50)

      2. Cantumkan Nama Lengkap, Kelas, NPM kedalam file anda dengan format file (word, Pdf, atau JPEG/IMG) pada kolom submit dengan batas max file 500 Kb

      3. Jika ada kendala teknis dlm submit silahkan menghubungi dosen pengasuh MK

      Terima kasih 

       

      SELAMAT MENGERJAKAN