Garis besar topik
-
PROFIL MATAKULIAH
SALAM PEMBUKA
AssalamuΓÇÖalaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat datang di pertemuan perdana mata kuliah Perencanaan Pembelajaran. Semoga kita semua senantiasa dalam kesehatan dan lindungan-Nya.
Mata kuliah ini membahas perencanaan pembelajaran mendalam dengan bobot 2 SKS. Semoga proses belajar kita penuh manfaat dan keberkahan. Salam hangat dan tetap semangat!
WassalamuΓÇÖalaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam hangat dan tetap semangat buat kita semua.
-
Berita dan pengumuman:Perencanaan pembelajaran mendalam (Deep Learning) adalah rancangan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep holistik, penerapan pengetahuan dalam konteks nyata, dan pengembangan kompetensi siswa secara utuh (kognitif, afektif, psikomotorik) melalui pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan menyenangkan (Meaningful, Mindful, Joyful Learning), bukan sekadar hafalan. Ini melibatkan identifikasi tujuan yang jelas (dari CP/ATP), aktivitas berbasis masalah/proyek, metode interaktif, dan komponen pendukung seperti lingkungan, teknologi, serta kemitraan, untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif, reflektif, dan aplikatif bagi mahasiswa
-
Perencanaan pembelajaran mendalam (Deep Learning) adalah rancangan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep holistik, penerapan pengetahuan dalam konteks nyata, dan pengembangan kompetensi siswa secara utuh (kognitif, afektif, psikomotorik) melalui pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan menyenangkan (Meaningful, Mindful, Joyful Learning), bukan sekadar hafalan. Ini melibatkan identifikasi tujuan yang jelas (dari CP/ATP), aktivitas berbasis masalah/proyek, metode interaktif, dan komponen pendukung seperti lingkungan, teknologi, serta kemitraan, untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif, reflektif, dan aplikatif bagi siswa.
-
Perencanaan pembelajaran mendalam (Deep Learning) adalah rancangan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep holistik, penerapan pengetahuan dalam konteks nyata, dan pengembangan kompetensi siswa secara utuh (kognitif, afektif, psikomotorik) melalui pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan menyenangkan (Meaningful, Mindful, Joyful Learning), bukan sekadar hafalan. Ini melibatkan identifikasi tujuan yang jelas (dari CP/ATP), aktivitas berbasis masalah/proyek, metode interaktif, dan komponen pendukung seperti lingkungan, teknologi, serta kemitraan, untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif, reflektif, dan aplikatif bagi siswa.
-
-
-
Ruang Lingku PBM:Pendahuluan; Pengertian pembelajaran mendalam, Kerangka pembelajaran, dan Implementasi pembelajaran mendalam.
Ruang lingkup Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) mencakup pendahuluan konsep, pengertian (berkesadaran, bermakna, menggembirakan), kerangka kerja (6 Kompetensi Global dan 4 Praktik Pembelajaran), serta implementasi praktisnya yang terintegrasi dalam pendidikan abad ke-21 untuk membentuk siswa yang berintegritas, empati, dan terampil, bukan hanya cerdas akademik, dengan fokus pada pemahaman konseptual mendalam dan penerapan di dunia nyata.1. Pendahuluan- Tujuan: Meningkatkan mutu pendidikan dengan membentuk individu yang utuh, memiliki keterampilan abad 21, karakter kuat (integritas, empati), dan kemampuan berpikir kritis.
- Fokus: Menggeser pembelajaran dari hafalan fakta ke pemahaman konsep yang mendalam dan relevan dengan kehidupan nyata.
- Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning): Proses belajar dengan kesadaran penuh terhadap tujuan, alur, fokus, dan konsentrasi, melibatkan siswa dalam menentukan strategi belajar.
- Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada, serta memahami mengapa suatu konsep bekerja, bukan hanya bagaimana mengerjakannya.
- Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning): Menciptakan suasana yang menyenangkan, nyaman, dan memotivasi siswa untuk bereksplorasi.
3. Kerangka Pembelajaran- Inti (6 Kompetensi Global/6C): Karakter, Kewarganegaraan, Kolaborasi, Komunikasi, Kreativitas, dan Berpikir Kritis.
- Praktik Pembelajaran (4 Elemen): Kemitraan, Lingkungan Belajar, Pemanfaatan Teknologi, dan Praktik Pedagogis Inovatif.
- Kondisi Sistemik: Dukungan sistem pendidikan secara keseluruhan (termasuk kebijakan, kurikulum, dll).
4. Implementasi- Peran Guru: Berubah dari pengajar menjadi fasilitator yang membimbing siswa berpikir kritis dan memecahkan masalah.
- Strategi: Menggunakan metode pedagogis inovatif, memanfaatkan teknologi, membangun kemitraan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan interaktif.
- Fokus Penerapan: Mendorong siswa untuk memahami konsep secara mendalam (mengapa) dan menerapkannya dalam konteks kehidupan nyata, bukan sekadar menyelesaikan soal.
-
Pembelajaran mendalam adalah kerangka yang bertujuan mengembangkan kompetensi holistik siswa dengan fokus pada pemahaman dan penerapan pengetahuan. Lulusan diharapkan memiliki enam dimensi profil utama, termasuk karakter, kolaborasi, dan berpikir kritis. Kerangka ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian yang terintegrasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna.
-
-
-
Pembelajaran mendalam adalah kerangka yang bertujuan mengembangkan kompetensi holistik siswa dengan fokus pada pemahaman dan penerapan pengetahuan. Lulusan diharapkan memiliki enam dimensi profil utama, termasuk karakter, kolaborasi, dan berpikir kritis. Kerangka ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian yang terintegrasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna:
- Pendekatan yang menekankan pemahaman, penerapan, dan refleksi, bukan hanya kognitif, untuk menciptakan siswa yang utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual.
- Materi dihubungkan dengan konteks nyata dan relevan dalam kehidupan siswa.
Pendekatan yang Anda deskripsikan adalah Pendekatan Holistik, yang mengintegrasikan aspek kognitif, emosional, dan spiritual melalui pembelajaran bermakna (meaningful learning), sadar diri (mindful learning), dan menyenangkan (joyful learning) dengan menghubungkan materi ke konteks nyata siswa, bertujuan membentuk manusia utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual. Ini melampaui sekadar pemahaman kognitif, menekankan pemahaman mendalam, penerapan, dan refleksi untuk membangun karakter kuat dan relevansi pembelajaran.Elemen Utama Pendekatan Holistik:- Integrasi Dimensi Pembelajaran: Menggabungkan kecerdasan (kognitif), perasaan (emosional), dan nilai-nilai (spiritual) secara seimbang.
- Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Materi dihubungkan dengan pengalaman hidup siswa sehingga memiliki relevansi nyata.
- Pembelajaran Sadar Diri (Mindful Learning): Menekankan kesadaran penuh dan refleksi atas proses belajar, membangun koneksi spiritual dan emosional yang lebih dalam.
- Pembelajaran Menyenangkan (Joyful Learning): Menciptakan suasana kelas yang positif, memotivasi, dan membuat siswa bahagia dalam belajar.
- Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning): Mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan penerapannya sehari-hari.
-
Pengertian
- Pendekatan yang menekankan pemahaman, penerapan, dan refleksi, bukan hanya kognitif, untuk menciptakan siswa yang utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual.
- Materi dihubungkan dengan konteks nyata dan relevan dalam kehidupan siswa.
Pendekatan yang Anda deskripsikan adalah Pendekatan Holistik, yang mengintegrasikan aspek kognitif, emosional, dan spiritual melalui pembelajaran bermakna (meaningful learning), sadar diri (mindful learning), dan menyenangkan (joyful learning) dengan menghubungkan materi ke konteks nyata siswa, bertujuan membentuk manusia utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual. Ini melampaui sekadar pemahaman kognitif, menekankan pemahaman mendalam, penerapan, dan refleksi untuk membangun karakter kuat dan relevansi pembelajaran.Elemen Utama Pendekatan Holistik:- Integrasi Dimensi Pembelajaran: Menggabungkan kecerdasan (kognitif), perasaan (emosional), dan nilai-nilai (spiritual) secara seimbang.
- Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Materi dihubungkan dengan pengalaman hidup siswa sehingga memiliki relevansi nyata.
- Pembelajaran Sadar Diri (Mindful Learning): Menekankan kesadaran penuh dan refleksi atas proses belajar, membangun koneksi spiritual dan emosional yang lebih dalam.
- Pembelajaran Menyenangkan (Joyful Learning): Menciptakan suasana kelas yang positif, memotivasi, dan membuat siswa bahagia dalam belajar.
- Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning): Mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan penerapannya sehari-hari.
Tujuan Utama:- Menciptakan peserta didik yang utuh (whole person).
- Pembelajaran yang lebih bermakna dan transformatif.
- Peningkatan karakter dan motivasi siswa.
Contoh Implementasi:- Menggunakan metode Project-Based Learning atau Problem-Based Learning (PBL) untuk memecahkan masalah nyata.
- Mengintegrasikan diskusi, kolaborasi, dan role-playing.
- Mengaitkan konsep matematika dengan kegiatan ekonomi sehari-hari, atau sejarah dengan isu sosial terkini yang relevan bagi siswa.
Pendekatan ini menjawab tantangan pendidikan abad 21 yang membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan dan karakter yang kuat.Show allDive deeper in AI ModeDokumen ini membahas tiga pendekatan pembelajaran yaitu Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, yang saling melengkapi untuk menciptakan ...People also askPendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari adalah?Pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada aktivitas guru dalam suatu proses pembelajaran disebut?Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi adalah? -
Ruang lingkup; pengertian umum dan kerangkan serta implementasi
-
-
-
KERANGKA KERJA PEMBELAJARAN MENDALAM:ΓÇóApa itu kerangka kerja pembelajaran mendalam?ΓÇóPembelajaran mendalam dalam kerangka kerja pembelajaran mendalam didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Pembelajaran mendalam dalam kerangka kerja pembelajaran mendalam didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Kerangka kerja pembelajaran mendalam terdiri atas empat komponen, yaitu (1) dimensi profil lulusan, (2) prinsip pembelajaran, (3) pengalaman belajar, dan (4) kerangka pembelajaran.
Perlengkapan sekolahA. Dimensi Profil Lulusan
Pembelajaran mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi profil lulusan, yaitu (1) keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, (2) kewargaan, (3) penalaran kritis, (4) kreativitas, (5) kolaborasi, (6) kemandirian, (7) kesehatan, dan (8) komunikasi. Dimensi profil lulusan merupakan kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh setiap murid setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan. Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Di samping itu, delapan dimensi profil lulusan menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif.
B. Prinsip Pembelajaran
Prinsip pembelajaran menjadi landasan penting yang memastikan proses belajar berjalan efektif. Tiga prinsip utama yang mendukung pembelajaran mendalam adalah berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiga prinsip ini saling melengkapi dalam membangun pembelajaran mendalam bagi murid. Ketiga prinsip pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, keempat upaya tersebut adalah bagian integral dari pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya.
Berkesadaran
Berkesadaran merupakan pengalaman belajar murid yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Murid memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan. Ketika murid memiliki kesadaran belajar, mereka akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan sebagai pelajar sepanjang hayat.
-
-
-
Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) adalah pendekatan pedagogis yang fokus pada pemahaman konseptual, keterampilan berpikir kritis, dan aplikasi nyata melalui kegiatan autentik seperti Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, penggunaan strategi inovatif (mindful, meaningful, joyful learning), dan pemanfaatan teknologi, mendorong siswa berpikir abstrak ke pemahaman yang bermakna dan kontekstual, bukan sekadar hafalan. Ini melibatkan guru sebagai motivator, menciptakan lingkungan belajar kolaboratif, dan mengintegrasikan empat komponen: pedagogis, lingkungan, teknologi, dan kemitraan.Prinsip Utama Implementasi- Mindful Learning (Berkesadaran): Siswa sadar penuh tujuan, proses, dan alur berpikirnya, terlibat dalam penentuan strategi belajar dan terbuka pada perspektif baru.
- Meaningful Learning (Bermakna): Menghubungkan pengetahuan baru dengan yang sudah ada dan mengaplikasikannya dalam konteks nyata.
- Joyful Learning (Menggembirakan): Menciptakan suasana nyaman, fokus, dan konsentrasi yang tinggi.
Strategi Implementasi- Proyek Kontekstual: Menggunakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk pengalaman belajar interdisipliner dan aplikatif.
- Pembelajaran Aktif: Mendorong eksplorasi, kreasi, dan kolaborasi, dengan guru sebagai fasilitator.
- Pengembangan Keterampilan Abad 21: Fokus pada berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan komunikasi.
- Integrasi Teknologi: Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi.
Komponen Pendukung- Praktik Pedagogis: Strategi pembelajaran inovatif yang mendorong pemahaman konseptual dan HOTS (Higher Order Thinking Skills).
- Lingkungan Pembelajaran: Menciptakan suasana yang mendukung eksplorasi dan refleksi.
- Pemanfaatan Teknologi Digital: Mendukung pembelajaran yang partisipatif dan inklusif.
- Kemitraan: Memperkuat hubungan guru, siswa, dan masyarakat.
Manfaat- Meningkatkan pemahaman konsep siswa secara mendalam.
- Mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS).
- Meningkatkan partisipasi aktif dan motivasi siswa.
- Menghasilkan pembelajaran yang lebih autentik dan rele
-
-
-
Kognisi dalam perencanaan pembelajaran adalah penerapan proses mental (berpikir, memahami, mengingat, memecahkan masalah) untuk merancang pengalaman belajar yang bermakna, di mana perencana pembelajaran (guru) memfasilitasi siswa aktif membangun pemahaman dengan mengintegrasikan informasi baru ke pengetahuan lama, bukan sekadar menghafal, sehingga pembelajaran lebih efektif dan relevan dengan teori belajar kognitif.Konsep Kognisi dalam Pembelajaran
- Proses Mental: Kognisi mencakup kegiatan seperti mengamati, menganalisis, menilai, bernalar, dan membayangkan untuk memperoleh pengetahuan.
- Perubahan Pemahaman: Pembelajaran kognitif adalah perubahan dalam persepsi dan pemahaman, bukan hanya perilaku yang terlihat.
- Peran Siswa Aktif: Siswa dianggap sebagai pemroses informasi aktif yang membangun struktur kognitifnya sendiri.
Perencanaan Pembelajaran Berbasis Kognitif- Identifikasi Tujuan: Menentukan tujuan yang mendorong pemikiran kritis dan pemahaman konsep mendalam.
- Analisis Siswa: Memahami struktur kognitif (pengetahuan dan pengalaman) siswa untuk menyesuaikan materi.
- Pemilihan Materi & Metode: Memilih strategi yang menuntun siswa menganalisis, menghubungkan, dan memecahkan masalah (misal: diskusi, studi kasus).
- Aktivitas Instruksional: Merancang kegiatan yang memicu proses kognitif, seperti diskusi kelompok atau pemecahan masalah berbasis permainan.
- Evaluasi: Menilai pemahaman konseptual dan aplikasi, bukan sekadar hafalan.
Contoh Penerapan- Bahasa: Mengajak siswa memahami pola gramatikal (nahwu) daripada hanya menghafal aturan, sehingga lebih fleksibel.
- Matematika: Mendorong siswa berpikir analitis untuk memecahkan soal, bukan sekadar mengikuti rumus.
- Diskusi: Memberi ruang siswa berdiskusi dan saling menjelaskan, memperkuat pemahaman bersama.
-
-
-
Bab 6 Kurikulum seringkali membahas penyusunan, implementasi, fungsi, atau komponen kurikulum dalam konteks tertentu, seperti Kurikulum Merdeka, KTSP, atau kurikulum khusus (agama/daerah), fokusnya bisa pada tujuan, materi, strategi, evaluasi, atau pengembangan model pembelajaran kontekstual untuk mencapai kompetensi siswa. Secara umum, bab ini menjelaskan bagaimana kurikulum diadaptasi dan diterapkan di satuan pendidikan sebagai pedoman pembelajaran dan pengembangan peserta didik.Topik Umum yang Dibahas di Bab 6 Kurikulum:
- Implementasi Kurikulum Merdeka: Pedoman pembelajaran, capaian pembelajaran siswa, dan penyesuaian dengan karakteristik sekolah.
- Model dan Kurikulum Kontekstual: Pengembangan model pendidikan yang relevan dengan konteks lokal, misalnya Pendidikan Kristiani di Maluku.
- Fungsi Kurikulum: Penyesuaian, integrasi, diferensiasi, persiapan, pemilihan, dan diagnostik bagi siswa.
- Komponen Kurikulum: Tujuan, materi/isi, strategi pembelajaran, organisasi kurikulum, dan evaluasi.
- Penyempurnaan Kurikulum: Evaluasi hasil belajar untuk perbaikan kurikulum tahun berikutnya.
Contoh Spesifik:- Di SD Merdeka, Bab 6 bisa menjelaskan kurikulum operasional sekolah (KOS) yang mengacu pada pemerintah pusat dan karakteristik daerah untuk kelas I-VI.
- Untuk SMP kelas 9, Bab 6 bisa merangkum materi "Merencanakan Masa Depan" dalam Kurikulum Merdeka.
-
-
-
Panduan lengkap ini menjelaskan perencanaan pembelajaran dalam dua tingkatan. Perencanaan jangka menengah (unit/topik) bertujuan menyusun peta jalan koheren untuk serangkaian pelajaran dalam beberapa minggu, mencakup analisis kompetensi, tujuan unit, alur pembelajaran, dan penilaian sumatif. Sementara perencanaan jangka pendek (RPP) berfokus pada detail satu pertemuan, dengan komponen seperti tujuan pembelajaran spesifik, langkah kegiatan (pendahuluan, inti, penutup), dan instrumen penilaian formatif. Keduanya saling melengkapi; perencanaan unit sebagai kerangka besar dan RPP sebagai pelaksanaan praktis, dengan prinsip berpusat pada siswa, kesesuaian, dan refleksi untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pencapaian siswa.Complete Guide to Lesson Planning and Preparation
Planning in the medium and short term
Consider a complete novice ΓÇô say, someone on day 1 of a pre- service training course. Asked what a lesson plan should consist of, the novice might well say it should specify the subject matter to be covered in the lesson ΓÇô and probably also the activities that pupils would be expected to do. And even complete novices fairly rapidly learn that a little more is needed. Say:
A specification of the aim of the lesson ΓÇô what itΓÇÖs designed to achieve.
A list of the resources needed.A specification of how the pupilsΓÇÖ work will be assessed.
This gives us a five-point plan:
1. Aim.
2. Content.
3. Methods.
4. Resources. 5. Assessment.This type of plan will actually get us quite a long way. It is workable. But from a professional teacher we should certainly expect more.
-
-
-
Ruang lingkup mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Bahan Ujian mencakup konsep dasar, komponen (tujuan, materi, metode, media, evaluasi), analisis kurikulum, pengembangan perangkat pembelajaran (RPP, bahan ajar, instrumen penilaian/ujian), serta integrasi model pembelajaran inovatif dan teknologi, bertujuan membekali mahasiswa merancang pembelajaran efektif berbasis standar dan karakteristik peserta didik untuk mencapai hasil belajar optimal.Komponen Utama
- Tujuan Pembelajaran: Merumuskan tujuan yang spesifik, terukur, dan relevan sesuai kurikulum.
- Materi Pembelajaran: Seleksi dan organisasi isi pelajaran yang sesuai kebutuhan siswa.
- Metode & Strategi: Pemilihan pendekatan, model (saintifik, dll.), dan metode mengajar yang efektif.
- Media & Sumber Belajar: Pengembangan atau pemilihan alat bantu dan bahan ajar (termasuk bahan ujian) yang mendukung proses.
- Evaluasi/Penilaian: Pengembangan instrumen penilaian (ujian, tugas, observasi) yang autentik dan sahih.
Fokus Pembahasan- Analisis Kurikulum: Memahami tuntutan kurikulum untuk landasan perencanaan.
- Perangkat Pembelajaran: Penyusunan RPP, Modul, LKPD, dan instrumen penilaian.
- Bahan Ujian: Merancang butir soal ujian, rubrik, dan penilaian formatif/sumatif yang valid.
- Model Pembelajaran: Penerapan model seperti ADDIE, ASSURE, berbasis masalah, dll..
- Integrasi Teknologi: Pemanfaatan TIK dalam perencanaan dan penilaian.
-
-
-
Complete Guide to Lesson Planning and Preparation
Resources
Throughout this book we have been developing the image of the work of planning and preparation in terms of a three storey building. The first, second and third storeys consist, respectively, of long-, medium- and short-term planning. To this image we may now add a set of windows, representing educational resources ΓÇô the thinking being that resources enable pupils to look out at the world, whilst also helping to shed light.
This chapter, then, is concerned with the key questions con- cerning resources at the stage of planning and preparing to teach. Which resources, of what type, should we use? How should we select or create them? What should we plan to do with them?
Resources and their use
LetΓÇÖs switch metaphors for a moment and think of resources as levers. Just as one can gain mechanical advantage through leverage ΓÇô itΓÇÖs easier to open a door by pushing at the side farther from the hinge, for example ΓÇô so resources can make teaching more powerful. To gain the most leverage, however, we need to select resources well and to use them effectively. This requires careful planning and preparation.
Here we can make use of a simple model. Think of a triangle. At one point we have the teacher. Teachers here have a dual role: they are both resources in themselves and users of resources.
-
-
-
Complete Guide to Lesson Planning and Preparation
Time
Time is a key variable in teaching. It is, however, more often com- mented on than properly discussed. To be effective, we need to consider at least three time scales, namely:
1. Time across the year.
2. Time within the week. 3. Time within the lesson.In school, time clearly does not proceed in undifferentiated fashion throughout the year. Different times of year work in different ways. Various events shape the rhythm of the academic year ΓÇô exams, vacations, activity days, school visits, report- writing, work experience projects, public events such as public holidays and festivals and even changes in weather and light. Many of these are known about in advance and need, therefore, to be planned around. ItΓÇÖs no good complaining, for example, about the sports day ΓÇÿinterruptingΓÇÖ oneΓÇÖs schemes of work when in fact the day was listed on the calendar at the start of the year: being interrupted by a known event is simply a sign of poor planning.
It is important to avoid the temptation of allowing seasonal changes to slow the pace of learning. It is very easy, for example, to allow the thought that ΓÇÿitΓÇÖs nearly the holidaysΓÇÖ to become a
-
-
-
Complete Guide to Lesson Planning and Preparation:
11 Language
Language is involved, one way or another, in most ΓÇô arguably all ΓÇô teaching and learning activities. Teachers talk to their classes, pupils read worksheets, discuss DVDs and so on. And the same is true of assessment activities: pupils complete exercises, give talks, write answers to examination questions and so on. This is true not only of the obviously linguistic subjects, such as English and Modern Foreign Languages, but also of subjects elsewhere in the curriculum ΓÇô Science, Art and Physical Education, for example.
That all curriculum subjects inter-relate with language may seem obvious, even banal, when stated. Yet itΓÇÖs frequently for- gotten ΓÇô or not even recognized in the first place. The damage done by failing either to recognize or to remember this point can be quite severe. Consider the implications of the fact that most learning is mediated by language. For example, if a pupil does not learn a topic very effectively, there might be several causes. There might be a problem with the topic or the pupil ΓÇô or it might just be that there is a problem with the language being used to mediate between the two. Before we rush to the conclusion that the topic is too difficult or that the pupil is too ΓÇÿdimΓÇÖ, or has special needs, or whatever, we need to consider whether linguistic changes would do the trick.
A similar point applies to assessment. One science teacher asked me to review the written assignments that he gave his pupils. I asked him whether heΓÇÖd ever tried doing any of the
-
-
-
Complete Guide to Lesson Planning and Preparation
Progression and differentiation
In the introduction to this book I suggested that the planning and preparation stage of teaching could be thought of in terms of a building. First we put in place the four cornerstones ΓÇô our understanding of:
Educational aims.
The needs of stakeholders, especially pupils. The context in which we are teaching.The cognitive structure of what we teach.
These cornerstones both delimit and support what we do.
Next we construct the first storey ΓÇô the curriculum. This pro- vides the basis on which we can add the second storey, medium- term planning and the third ΓÇô short-term planning, including three rooms of particular importance: time, space and language.
Now we need to put a roof on the building. This entails putting two concepts into place: (a) progression and (b) differentiation. I figure these in terms of the buildingΓÇÖs roof because they are over- arching concepts. They apply throughout and across the curriculum, in every class at every stage.
To understand these two concepts, it may help now to switch metaphors. Think, for a moment, of teaching as an activity that has two dimensions.
-
-
-
Berkenaan dengan Perencanaan, William H. Newman dalam bukunya Administrate Action Techniques of Organization and Management: mengemukakan bahwa ΓÇ£Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan.
Terry (1993:17) menyatakan bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Perencanaan mencakup kegiatan pengambilan keputusan. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola tindakan untuk masa mendatang.
Banghart dan Trull, (1973) mengemukakan bahwa perencanaan adalah awal dari semua proses yang rasional dan mengandung sifat optimisme yang didasarkan atas kepercayaan bahwa berbagai macam permasalahan dapat diatasi. Sudjana (2000:61) mengatakan bahwa perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan apa yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.
Konsep dasar perencanaan pembelajaran adalah proses sistematis untuk menentukan tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi pembelajaran agar terarah dan efektif, berpusat pada siswa, serta selaras dengan standar pendidikan, yang melibatkan perancangan skenario pembelajaran dari makro (silabus) hingga mikro (RPP) untuk memandu guru dan pengalaman siswa secara optimal.
-
-
-
Pelaksanaan kurikulum pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.
1.Permulaan Waktu Pelajaran. Permulaan waktu pelajaran di setiap satuan pendidikan dimulai pada setiap awal tahun pelajaran.2.Pengaturan Waktu Belajar Efektif.a.Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran di luar waktu libur untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.b.Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu yang meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal (kurikulum tingkat daerah), ditambah jumlah jam untuk kegiatan lain yang dianggap penting oleh satuan pendidikan.
-
-
-
Dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran guru terlebih dulu memprogramkan waktu baik dalam pengalokasian waktu kompetensi dasar maupun waktu kegiatan belajar mengajar. Pengalokasian waktu dimaksud dapat disusun dalam bentuk format program tahunan (Prota).
Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai Standar Kompetensi/Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang telah ditetapkan. Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum dapat dicapai oleh siswa. Penentuan alokasi waktu ditentukan pula jumlah jam pelajaran sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku serta keluasan materi yang harus dikuasai oleh siswa.
Program Tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, berisi tentang garis-garis besar yang hendak dicapai dalam satu tahun dan dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran dimulai, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-progran berikutnya, yakni program semester, mingguan, dan harian serta pembuatan silabus dan sistem penilaian.
-
-
-
PENGEMBANGAN PROGRAM SEMESTER:
Program semester adalah Program semester adalah rancangan kegiatan belajar mengajar secara garis besar yang dibuat dalam jangka waktu satu semester dengan memperhatikan program tahunan dan alokasi waktu tiap minggu. Dengan rancangan promes yang harus dicapai selama satu semester, selama periode ini diharapkan para siswa menguasai pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai satu kesatuan utuh. Semester adalah satuan waktu yang digunakan untuk penyelenggaraan program pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam semester itu ialah kegiatan tatap muka, praktikum, keraja lapangan, mid semester, ujian semester dan berbagai kegiatan lainya yang diberi penilaian keberhasilan.
Dalam program pendidikan semester dipakai satuan waktu terkecil, yaitu satuan semester untuk menyatakan lamanya satu program pendidikan. Masing-masing program semester sifatnya lengkap dan merupakan satu kebulatan dan berdiri sendiri. Pada setiap akhir semester segenap bahan kegiatan program semester yang disajikan harus sudah selesai dilaksanakan dan mahasiswa yang mengambil program tersebut sudah dapat ditentukan lulus atau tidak.
Bab 16 Pengembangan Program Semester (Promes) membahas penyusunan jadwal pembelajaran dalam satu semester, yang mencakup penentuan alokasi waktu, materi pokok (pokok bahasan), kompetensi dasar (KD), dan kegiatan pembelajaran berdasarkan Program Tahunan (Prota). Langkah-langkah utamanya meliputi memetakan KD ke dalam kolom bulan, menentukan jam efektif, mengalokasikan waktu, serta menambahkan keterangan penting, demi mencapai target kompetensi secara terstruktur dan efisien sepanjang semester.
-